Donny A. Wiguna, ST, MA, CFP® QWP® AEPP® QFE. Perencana Keuangan Profesional. Pengajar Keuangan. Pengikut Kristus.
Cari Blog Ini
17 Maret 2006
Persembahan Yang Sejati
Apa yang diharapkan dari seseorang yang baru lahir dalam Kristus? Yang pertama, biarlah dia menjadi anggota gereja. Ikut pelajaran, kemudian dibaptis. Yang kedua, biarlah dia boleh ikut dalam berbagai aktivitas gereja. Yang ketiga, biarlah dia boleh setia memberikan persembahan.
Persembahan apa? Tentu saja, uang persembahan. Kolekte di hari Minggu.
Persembahan bulanan. Persepuluhan.
Yang keempat, jika memang dia mau dan mampu, biarlah dia juga mengambil bagian dalam pekerjaan Gereja: jadi aktivis komisi, bagian dari panitia, jadi diaken atau kalau sudah cukup senior, menjadi majelis atau penatua.
Yang kelima, kalau memang dia mendapat panggilan, mungkin dia bisa menjadi penginjil atau jadi hamba Tuhan alias pendeta.
Begini, mungkin ada yang merasa bahwa bukan seperti ini yang diajarkan di Gereja. Dan tentu saja, hal-hal ini pun bukan sesuatu yang diajarkan berdasarkan doktrin tertentu, sama sekali bukan. Tetapi setelah mengamati dan mengalami, rasanya inilah yang terjadi di berbagai gereja dan menjadi seperti yang di atas. Marilah kita merenungkan hal-hal ini untuk sejenak.
Apakah terjadi dalam kehidupan kita dalam berjemaat dan bergereja?
Yang pertama, (hampir) seluruh gereja memikirkan tentang jumlah anggotanya.
Kita kagum dengan gereja yang jumlah anggotanya bertumbuh dengan pesat, dengan pembukaan pos dan bakal jemaat dan cabang di mana-mana. Kita belajar dan bertanya-tanya: bagaimana caranya? Walaupun mungkin kita sendiri tidak memikirkan secara sungguh-sungguh untuk menambahkan anggota gereja, tetap saja kita berpikir bahwa ini adalah hal yang penting. Dan jika ada seorang lahir baru, kita mengharapkannya untuk menjadi anggota gereja KITA.
Rasanya jarang sekali (atau tidak pernah?) kita menemukan ada pelayan Tuhan dari gereja A yang melayani seorang jemaat hingga ia lahir baru, lantas mengajurkannya untuk menjadi anggota gereja B yang letaknya lebih dekat dari rumah jemaat tersebut. Oh tidak, jika pendeta dari gereja A melayani seseorang, ia akan memintanya menjadi anggota jemaat gerejanya, betapa pun jauh jaraknya (dan betapa sukar memelihara hubungan dan pembinaan baginya).
Solusi dari hal ini adalah: bangunlah pos dan cabang di mana-mana, agar siapa pun senantiasa dekat untuk dilayani.
Tak heran, kita bisa menemukan adanya beberapa pos dan cabang dari beberapa gereja di SATU wilayah yang sama. Dan tak jarang pula kita jumpai adanya rasa kesal dan sebal karena jemaat berpindah gereja. "Dasar, pencuri domba orang!" bisik hati yang kesal. Mengapa marah melihat seseorang dapat dilayani dengan lebih baik dan bertumbuh di sana?
Yang kedua, hampir semua gereja juga memikirkan tentang jumlah peserta dari setiap program yang dilaksanakannya. Jika ada program pembinaan atau seminar, pertanyaan yang umum terlontar adalah "berapa pesertanya?" Bahkan tak urung, kesuksesan sebuah program atau acara ditentukan berdasarkan kehadiran. Jika pesertanya banyak, berarti acaranya sukses. Kalau sedikit, ada yang salah dengan kepanitiaan.
Karena hal ini, tak jarang gereja mengalokasikan waktu dan dana serta tenaga untuk publikasi, bahkan sampai memiliki penerbitan sendiri. Ilmu pemasaran bukan saja berguna untuk menjual produk dan jasa sekuler, tetapi juga penting untuk memasarkan suatu acara. Dibutuhkan banyak pemikiran dan upaya yang serius untuk melakukannya; bagaimana pun, ini adalah usaha untuk membagikan berkat dan berita dari Tuhan, bukan?
Tak ada yang salah dengan upaya publikasi yang baik, kecuali ketika jumlah kehadiran peserta menjadi lebih penting dari pesan yang mau disampaikan.
Ketika jumlah peserta sedemikian penting, sehingga acara gereja dengan sengaja di desain untuk menjadi populer, kalau perlu mengorbankan prinsip-prinsip penting. Pernahkah kita dengar ucapan seperti, "oh, kalau mau acaranya sukses, tidak usahlah membahas soal dosa. Bahas saja tentang prinsip-prinsip kemakmuran..."
Apakah gereja sedang mengajar jemaatnya, atau sedang memuaskan telinga mereka dengan memberi apa yang ingin mereka dengar?
Yang ketiga, inilah yang seringkali diharapkan oleh gereja: berikanlah persembahan. "Berikan yang terbaik," kata pengkhotbah dari atas mimbar, yang dapat ditafsirkan dengan "berikanlah lebih banyak uang." Urusan pemberian ini telah menjadi faktor umum di berbagai gereja, dan sepertinya uang telah menjadi alat persembahan yang paling disukai. Sampai ayat yang berbunyi, "siapa yang menabur, dia akan menuai" dikorelasikan secara langsung dengan
uang: siapa yang memberi banyak, akan menerima banyak.
Bukankah hal ini membuat gereja terdengar seperti mesin uang? Tetapi, tak sedikit orang yang 'menanamkan' uangnya di gereja dengan harapan Tuhan akan melimpahkan berkat berlipat kali ganda. Padahal, jika kita sungguh-sungguh mempelajari Alkitab, tak pernah ada bagian yang menyatakan Tuhan menjadi mesin uang bagi umat-Nya. Hidup yang berkelimpahan dalam Tuhan bukan berarti menjadi orang yang kaya raya oleh harta dunia.
Mungkin banyak di antara kita yang akan segera berkata, bahwa bukan begitu yang terjadi di gerejanya. Benar, bukan itu yang diajarkan dalam gereja, karena bukan itu satu-satunya motivasi dalam hal uang persembahan. Tetapi coba perhatikan pokok-pokok doa atas masalah dalam gereja; bukankah ujungnya seringkali mengharapkan dana? Dan lihatlah juga bagaimana upaya ekstra telah dilakukan agar jemaat bisa ikut ambil bagian dalam program misi dan penginjilan, yaitu, dengan cara memberi uang persembahan. Dengan motivasi yang berbeda, bukankah ujung dari berbagai upaya gereja bermuara pada hal yang sama: menerima persembahan berupa uang? Dan betapa pusingnya pengelola gereja jika uang persembahan semakin kecil!
Sekali lagi, tak ada yang salah dengan uang persembahan, kecuali ketika upaya nyata yang bisa dilakukan orang untuk memberi persembahan adalah hanya dengan uangnya. Memberi persembahan uang adalah baik dan benar --tak perlu
diragukan-- kecuali ketika SATU-SATUNYA bentuk persembahan yang diberikan adalah uang, dinilai dari seberapa besar jumlah yang bisa diberikan.
Apakah kita melihat masalahnya? Pokok persembahan yang sejati tidak mungkin uang, karena berapa pun jumlah uang diberikan bagi persembahan, jumlahnya senantiasa KECIL bagi Tuhan. Ia mau kita memberi persembahan yang hidup, yaitu tubuh kita, keberadaan kita, bukan hanya sepersekian uang yang kita miliki. Atau, kalau memang sungguh-sungguh ingin memberi harta kekayaan, maka berikanlah SEMUANYA. Inilah yang diajarkan Tuhan Yesus kepada anak muda yang kaya itu, bukan? Persembahan uang tidak bisa menggantikan persembahan diri kepada Tuhan. Uang hanya menjadi tanda, suatu simbol, dari kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah. Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus, yang hidup, dan yang berkenan kepada Allah?
Yang keempat, setelah seorang menjadi senior cukup lama, diharapkan dia juga mulai menjadi pelayan bagi orang lain. Tentang hal ini pun kita bisa merenungkan beberapa hal, antara lain kenyataan yang sering terjadi di mana seseorang menjadi penatua atau aktivis komisi atau jabatan gerejawi lain karena hubungan sosial yang dimilikinya. Ukuran diterimanya seseorang sebagai pejabat gereja bukan lagi berdasarkan seperti apa kekudusan hidupnya, sejauh mana pengenalannya akan Tuhan, seberapa besar ketaatannya dan hatinya bagi Tuhan, serta seberapa jauh keterampilan dan pengetahuannya.
Tak sedikit orang menjadi penatua karena ia supel, karena banyak temannya, atau karena ia senang dan pandai berbicara. Atau, sering juga terjadi, ia adalah seorang yang berpengaruh, menjadi seorang yang kaya sebagai seorang pengusaha... Sampai-sampai pernah ada kesan, bahwa jabatan 'majelis gereja'
adalah bagian eksklusif yang tersedia bagi para pemilik perusahaan besar yang cukup kaya, untuk meluangkan waktu mereka. Jika seseorang tidak punya status sosial yang cukup tinggi, agak malu juga jadi majelis. "Kamu apa, kok jadi majelis?" "Ah, saya hanya seorang guru..." *malu*
Setidaknya, penampilan seorang majelis harus lebih baik: gantilah mobil dan belilah setelan jas yang baru. Dan ubah juga gaya berjalan dan berkata-kata, kini harus tampil lebih 'resmi' dong! (Oops, jangan pakai kata 'dong' kalau jadi mj ya?)
Tentu, tak ada salahnya seorang pemilik perusahaan besar menjadi majelis, apalagi ia sungguh-sungguh punya hati bagi Tuhan. Tak ada yang keliru menerima seorang yang pandai dan kaya dan berpengaruh menjadi majelis, kecuali ketika jabatan itu tidak lagi menjadi pelayan, melainkan posisi yang harus dilayani oleh orang lain, bahkan oleh pendeta. Akan juga menjadi salah jika sikap kepemilikan yang kuat melekat turut ditabur dalam kemajelisan, serta membuat gereja tak ubahnya menjadi salah satu perusahaan lain yang dikelola, dan majelislah tuannya. TUHAN tidak lagi jadi Kepala, melainkan hanya jadi pelanggan yang disuruh duduk saja di kursi empuk dan menunggu layanan disediakan.
Yang kelima, semoga ada orang yang menjadi hamba Tuhan. INILAH yang penting, inilah yang terutama, sehingga seperti kata Paulus, "celakalah aku bila tidak bisa memberitakan Injil!" Inilah bagian yang diamanatkan oleh Kristus, menjadi pokok yang diutamakan oleh jemaat pada gereja awal, hingga berkembang seperti hari ini, dua ribu tahun kemudian.
Tahu masalahnya apa? Masalahnya, yang terpenting ini telah menjadi yang kelima. Dan bukan itu saja, bahkan di banyak gereja, menjadi pemberita Injil dan pengkhotbah bukan lagi sesuatu yang diharapkan untuk dilakukan oleh jemaat, karena itu adalah tugas pendeta. Jemaat diharapkan ambil bagian dalam kepanitiaan, dalam komisi, dalam majelis, dalam persekutan doa, dalam banyak hal, kecuali untuk turut memberitakan Injil kepada dunia. Jangan ambil alih pekerjaan pendeta, yah!
Pemberitaan Injil telah direduksi, menjadi wilayahnya "hamba-hamba Tuhan"
saja, yang ditafsirkan dengan jabatan pendeta. Apakah kita yang lain, yang bukan pendeta, bukanlah "hamba-hamba Tuhan" juga?
"Tidak," kata sebagian orang. Maka, semakin hari semakin banyak orang Kristen berkerumun untuk mendengarkan berita Injil dari pendeta ini atau pendeta itu, dan berbondong-bondong menghadiri kebaktian yang dipimpin pendeta yang besar dan terkenal. Setelah mendapat siraman berkat Firman Tuhan, jemaat lantas pulang dan merasa puas dan menyimpan berita itu sendiri dalam hatinya.
Membagikan berita itu? Yah, ada juga yang melakukannya, tetapi berapa banyak?
SUDAH WAKTUNYA kita memulai persembahan yang sejati, yang benar. Bukan uang yang diharapkan, walau uang memang penting. Bukan aktivitas dalam kepanitiaan yang disebutkan Tuhan, walau menjadi panitia acara juga diperlukan. Tetapi inilah yang diamanatkan oleh Kristus kepada kita:
beritakan dan ajarkan Injil! Jadikan semua bangsa menjadi murid-Nya, dan baptiskanlah mereka! Inilah agenda Tuhan, misi yang diberikan Tuhan, bukan hanya kepada pengurus gereja, bukan hanya pada pendeta, melainkan pada kita SEMUA. Termasuk saya. Termasuk Anda juga.
Seharusnya, hal ini juga menjadi misi kita, agenda kita. Pemberitaan Injil adalah bagian yang KITA semua harus lakukan, harus upayakan. Untuk itu, kita semua harus mau belajar dan berkorban, mau bersusah payah untuk belajar Injil -- karena bila kita sendiri tidak belajar, lantas apa yang mau kita sampaikan? Belajar sekarang, beritakan besok, dan mudah-mudahan lusa kita bisa bersorak sorai karena satu lagi jiwa dimenangkan bagi Tuhan. ITU adalah hal yang penting: tak pernah Sorga bersorak sorai karena ada persembahan uang yang bermilyar-milyar jumlahnya, tetapi seisi Sorga bersukacita karena seseorang tidak lagi celaka.
Tentu, tidak mudah untuk belajar Alkitab. Ada harga yang harus dibayar, ada tubuh yang harus dipersembahkan. Namun bila hal ini memang penting dan berharga di mata Allah, mengapa tidak dilakukan? Seharusnya gereja lebih banyak mengalokasikan waktu dan dana dan tenaganya untuk menyampaikan berita kepada lebih banyak orang. Ini sama sekali tidak mudah, apalagi di tengah kuasa kegelapan yang membenci Kristus dan terang-Nya. Kita sudah lihat bagaimana orang berdemonstrasi menutup gereja, bahkan merusakkannya. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya menjangkau orang-orang yang berdemonstrasi itu, untuk memberitahu mereka bahwa jika mereka hari ini tidak bertobat dan percaya kepada Kristus, mereka tidak akan selamat. Aduh sulitnya!
JUSTRU karena sulit, maka dibutuhkan lebih banyak persiapan, lebih banyak pelatihan dan sarana dan waktu dan tenaga. Apakah kita sudah memberi diri kita dipersiapkan, agar kita sendiri memiliki berita dan pengetahuan, serta memiliki hubungan dengan Tuhan? Berapa banyak kita mengalokasikan sumber daya kita untuk penginjilan? Berapa banyak waktu yang telah kita berikan untuk memberitakan kebenaran, dengan cara yang baik dan dapat diterima, kepada teman dan saudara kita yang belum percaya?
Jangan salah paham: jika kita bisa mengambil bagian dalam penginjilan, bahkan jika kita bisa berhasil memberitakan Injil dan mendapatkan seorang lagi saudara dalam iman kepada Kristus, semua itu BUKAN jasa dan hasil pekerjaan kita. Itu adalah karya Roh Kudus yang beranugerah dalam kehidupan kita. Kita menerima anugerah Tuhan bila boleh mengambil bagian dalam pemberitaan Injil, dan teman atau saudara kita menerima anugerah Tuhan karena ia boleh mendengar dan menjadi percaya. Jangan salah mengerti, jika kita memperbaiki fokus kita, hal itu bukan karena pekerjaan Tuhan tergantung pada keputusan dan pekerjaan kita sekarang. Bukan sama sekali.
Kita perlu memperbaiki fokus dalam persembahan yang sejati, agar kita tidak menolak anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Ingatkah kita pada perumpamaan tentang talenta yang dikisahkan Kristus? Lihatlah orang yang menerima satu talenta itu: ia tidak berfokus pada talenta yang diterimanya.
Ia berfokus pada pikirannya sendiri, pada kesimpulannya sendiri. Ia memikirkan dirinya sendiri; serta segala 'ketidakadilan' yang dialaminya karena hanya satu talenta saja yang ada di tangannya. Upayanya adalah upaya pemenuhan diri, memuaskan diri, menjadikan diri semakin nyaman, semakin kaya, dan semakin 'diberkati'.
Dengan melakukan hal itu, orang yang menerima talenta itu telah menolak anugerah tuannya, dan ia mengingkari tugas untuk memakai talenta itu demi kepentingan tuan yang telah memberikannya. Kita pun telah menerima talenta itu, berupa berita Injil yang kita miliki, walau pun mungkin kadarnya tidaklah besar. Apakah karena kita hanya memiliki sedikit saja pengetahuan tentang berita Injil, lantas kita berpikir lebih baik hal itu disimpan saja sendiri?
Seperti pagi atau malam ini mungkin, di mana kita telah bersaat teduh dan menerima sesuatu; tidakkah kita menerima sesuatu dari Tuhan? Apakah kita hanya menyimpannya saja sendiri, merasa bahwa hal itu hanya sebuah talenta kecil yang tidak akan mendatangkan hal besar bagi Tuhan, sebaliknya hanya menyusahkan diri sendiri saja? Kita lupa, talenta itu -- walau hanya satu -- adalah anugerah dari Tuhan, kesempatan dari Tuhan. Dia tidak membutuhkan satu talenta kita, tetapi Ia memberi karunia agar kita bisa mengambil bagian di dalam-Nya.
Tidakkah kita sekarang perlu bertanggung jawab kepada Dia yang telah beranugerah? Tuhan memberkati kita dengan berlimpah-limpah.
Terpujilah TUHAN! Amin.
31 Desember 2005
Ngobrol Akhir Tahun
Psst... Dengar! Ada yang ngobrol di akhir tahun 2005. Apa kata mereka?
"Sudah dengar berita buruk?"
"Belum! Tapi kamu sudah dengar yang lebih jelek lagi nggak?"
"Lho, kamu belum dengar, tapi kok sudah tahu itu lebih jelek?"
"Oh, karena sejelek-jeleknya beritamu, pasti lebih jelek beritaku."
"Nggak mungkin!"
"Oke deh. Nah, coba, apa berita burukmu itu?"
"Pendidikan di negeri ini berantakan! Ternyata, Presiden dan jajaran
pemerintahan melanggar konstitusi! Sudah jelas, dalam amandemen UUD
disyaratkan anggaran 20%, tapi kenyataannya? Ini pelanggaran serius!
Bukankah ini buruk sekali? Kalau dibiarkan, pendidikan kita berantakan.
Tetapi kalau mau ditindak, mosok Presiden taon depan mau diturunkan lagi?"
"Oh, itu belum terlalu buruk! Memang betul, bahkan Wapres naik pitam
gara-gara mendengar puisi yang bilang kalau sekolah lebih jelek daripada
kandang ayam. Tetapi itu belum seberapa! Yang lebih buruk lagi adalah
kenyataan bahwa semua dana itu dikorupsi! Tuh, kemarin waktu ulang tahun
ke-2 KPK, ketuanya bilang kalau di Indonesia ini belum pernah ada niat
sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi. Tidak ada yang bersungguh-sungguh
membenahi sistem. Kalau KPK hari ini menggebrak dan merantai koruptor ke
penjara, besok ada orang lain yang menggantikan posisi menjadi koruptor yang
sama saja buruknya!"
"Tapi itu bukan berita yang benar-benar buruk. Kenyataannya, saat ini
kesenjangan gaji di antara pegawai negeri dan petinggi-petingginya adalah
begitu besarnya, itulah berita yang amat buruk! Karena dengan demikian,
pemerintahan didominasi oleh dua kelompok orang. Yang pertama adalah
sebagian besar orang-orang kecil yang harus kongkalikong untuk menyiasati
gajinya yang kecil, lalu menjadi koruptor jabatan. Yang kedua adalah
sebagian kecil orang-orang di posisi strategis yang walaupun dapat gaji
edan-edanan, masih juga berusaha jadi raja kecil yang ingin lebih kaya lagi!
Mereka yang sedikit ini punya tameng politik, punya tameng hukum. Bahkan,
KPK sendiri pun tidak bisa menyentuh mereka! Tuh, lihat saja kasus KPK
membongkar korupsi di KPU. Yang dua masuk bui, tapi yang dua lagi?"
"Korupsi itu di saat terjadinya tidaklah terlalu buruk! Yang lebih buruk
lagi adalah akibatnya. Sudah puluhan tahun negeri ini digerogoti korupsi,
selama itu pula semua kekayaan dan pembangunan bangsa ini habis tak
berbekas. Kalau semua daya hanya untuk membuat apa yang kelihatan di luarnya
saja, apa yang tersisa untuk membangun yang di dalam? Sekarang, setelah
semuanya habis, apa yang tersisa bagi negeri ini? Ini berita yang amat
buruk! Ekonomi kita rusak berat! Utangnya banyak, daya saingnya rendah, dan
industrinya tergantung pada subsidi dan proteksi! Tak heran kalau banyak
yang tumbang karena harga BBM naik, perusahaan tutup dan ratusan ribu
karyawan kena PHK!"
"Lebih buruk lagi, karena hidup sulit, semua orang menjadi tidak peduli! Mau
tahu apa yang amat buruk? Produsen dan distributor makanan yang tidak mau
rugi memakai formalin untuk mengawetkan barangnya! Para nelayan yang melaut
memakai formalin untuk mengawetkan ikan-ikan! Tahu, mi, baso, ikan, ayam,
dan segala macam bahan makanan lain sudah diberi formalin yang merusak
badan! Ini benar-benar berita buruk: kehidupan di negeri ini semakin buruk,
dan tahu-tahu kita bisa mati kena kanker!"
"Aah, ini belum teramat buruk! Kena kanker itu matinya perlahan-lahan!
Sekarang ini, banyak teror dan bom. Dan bahkan pada hari ini, bom meledak
lagi di Palu! Nyawa tidak ada nilainya. Orang bisa mati begitu saja di
jalanan! Bukankah ini yang teramat sangat buruk?"
"Ya, ada yang lebih buruk lagi...."
Heiii!! Stop, stop, stop!
STOP!
Ini akhir tahun, dan kita sedemikian bersemangatnya membahas tentang kabar
buruk! Tidakkah cukup semua berita-berita buruk itu menghiasi koran-koran
dan laporan akhir tahun? Tidakkah mata menjadi merah karena setiap kali
melihat surat kabar atau berita televisi, selalu saja ada kemalangan dan
kegagalan dan kejahatan yang ditampilkan?
Seperti kata-kata seorang temanku, "Aku takut hidup di Indonesia." Kenapa?
Karena nampaknya orang akan mati dengan lebih cepat bila tinggal di negeri
yang tercemar dan mencemarkan ini. Dan bukan hanya kita saja yang sudah
mulai beruban; bahaya itu mengancam anak-anak kita, membahayakan keturunan
kita. Apakah lebih baik tinggal di luar negeri saja?
Tapi, salah besar bila beranggapan bahwa tinggal di luar negeri selalu lebih
sehat, senantiasa lebih aman, atau pasti lebih sejahtera. Coba saja; ada
berapa banyak orang yang mati kedinginan di musim dingin yang semakin parah
di negara-negara sub-tropis? Di bumi ini tinggal di mana pun begitu juga,
selalu ada masalahnya.
Kalau kita mau bicara kabar buruk, tidak akan ada habisnya. Dan kalau kita
melihat sejarah, akan nyata bahwa manusia itu begitu bodoh karena
mengulang-ulang kesalahan sejarah. Mungkin sebabnya adalah tak banyak yang
suka belajar sejarah, atau tidak banyak yang peduli bahwa apa yang
dilakukannya hari ini sama dengan apa yang orang lain telah lakukan dahulu
dengan akibat kebinasaan bangsa. Dari jaman ke jaman, manusia meratap karena
kesulitannya, dan seringkali penyebabnya itu itu juga. Perang. Penyakit.
Kemiskinan. Kejahatan.
Belajarlah sejarah, dan kita akan temukan bahwa di saat populasi manusia
menjadi terlalu besar, teori yang dikatakan Thomas R. Malthus barangkali
benar: populasi berlebih akan dibatasi oleh kelaparan, penyakit, dan perang.
Atau kasarnya: untung ada kelaparan, ada penyakit, dan ada perang, sehingga
populasi manusia tidak terlalu banyak dan masih tersedia cukup sumberdaya
untuk orang-orang yang tersisa. Atau kalau tidak mau perang dan penyakit,
mulai dari sekarang mulailah membatasi keturunan! Pesimis? Coba saja lihat
statistik demografi. Dan penduduk negeri ini sudah lebih dari 220 juta,
sehingga nampaknya tidak banyak yang terlalu memikirkan jika sejuta atau dua
juta orang berkurang karena kena penyakit flu burung, keracunan formalin,
atau mati kelaparan karena miskin.
Sedemikian menyedihkannya? Mungkin. Bisa jadi. Tak heran, ada banyak nada
pesimis di akhir tahun ini. Dan mungkin, para pembaca tulisan ini pun
merasakan kepesimisan yang sama. Itulah nada dari dunia, suara dari planet
bumi yang semakin tua dan sengsara, nada kesedihan dari Indonesia. Tetapi,
ada baiknya kita mendengar suara lain, nada yang lain. Suara yang bergema
sejak jaman dahulu kala, yang sarat dengan kuasa Ilahi:
Hab 3:16-19
"Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya,
menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku
gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari
kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon
zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan
makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi
dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat
kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."
Hari susah menakutkan? Ya. Siapa yang tidak gemetar karena kehilangan
pekerjaan, karena kehilangan pelanggan, karena kehilangan kesejahteraan?
Siapa yang bibirnya tidak menggigil menghadapi hari-hari kesusahan, ketika
dinyatakan bahwa negeri ini akan menarik pajak lebih besar lagi,
tertatih-tatih untuk tetap berjalan, sementara pembayaran utang luar negeri
yang jatuh tempo akan tetap dilaksanakan?
Tetapi, siapa yang sanggup beria-ria sekarang? Siapa yang sanggup menatap
masa depan, walaupun segala asetnya tidak menghasilkan, segala kekayaannya
hilang tercuri orang, dan modalnya habis ditelan biaya? Itulah anak-anak
TUHAN, yang bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang
menyelamatkan!
Siapa yang bersama-sama nabi Habakuk dapat menyerukan: ALLAH Tuhanku itu
kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak
di bukit-bukitku. Siapa?
Wahai, kalian yang sedang berkeluh kesah tentang tahun yang gagal dan penuh
kesulitan! Di manakah iman, ketika tiada lagi jaminan keamanan penghasilan,
sudah berhenti kekayaan dan kemudahan? Pohon ara kini tidak berbunga, pohon
anggur tidak berbuah. Apa yang semula mendatangkan kemakmuran, kini tidak
lagi. Hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan
bahan makanan. Apa yang semula menjamin kehidupan, kini tidak lagi. Apa yang
semula menjadi kekayaan dan harta dunia, kini habis sudah.
Tetapi kita akan beria-ria, akan bersorak-sorak dalam Tuhan yang
menyelamatkan kita. Dia akan memenuhi kebutuhan kita, mencukupkan. Bagian
kita adalah berada di dalam-Nya. Porsi kita adalah melakukan kehendak-Nya.
Apa yang Ia kehendaki tidaklah banyak atau rumit; Ia menghendaki kita
percaya kepada Kristus, mengasihi Allah dan sesama, hidup dalam terang
kebenaran dan keadilan serta kesetiaan.
Menyongsong tahun 2006, apa yang dapat kita katakan? Apa yang hendak kita
harapkan?
Marilah berharap, bahwa kita dapat benar-benar melakukan kehendak-Nya.
Keadaan boleh buruk, situasi boleh sukar, tetapi ingatlah bahwa kita
memiliki dan telah dimiliki Tuhan. Mungkin pikiran dan analisa kita
mengatakan 'buruk' dan 'buruk', namun Tuhan lebih besar dari masalah kita.
Kita memang tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menuntun kita melewati
lorong-lorong gelap di Indonesia, di antara penyakit dan kemiskinan dan
kejahatan serta korupsi yang kronis. Tetapi kita tahu betul, bahwa Ia
menuntun kita. Ia membawa kita.
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Salam kasih,
Donny
18 Desember 2005
Pilihan & Perubahan
"I need Thee, o I need Thee; ev'ry hour I need Thee; o bless me now my
Saviour, I come to Thee"
Lirik lagu ini terngiang-ngiang. Berulang-ulang. Ada saatnya, ketika jalan
kehidupan membelok dengan tajam, rasanya seperti mau terlempar keluar. Saat
itu yang paling dibutuhkan adalah pegangan yang kuat, yang tidak bergeser
atau berderik-derik, yang tetap menempel pada jalan walau lajunya cepat pada
tikungan tajam. Kita semua mungkin sudah merasakannya, bukan?
Tetapi, saya bukan sedang berbicara tentang pengalaman mengendarai mobil.
Ini adalah tentang perjalanan hidup, dalam realitas di mana ada kesempatan
dan masalah, ada dorongan dan hambatan yang harus kita hadapi setiap hari,
setiap jam. Tidakkah kita semua merasakannya? Coba baca koran hari ini, dan
lihat bagaimana ulasan ekonom terhadap perekonomian Indonesia dalam 6 bulan
ke depan. Coba baca tentang masalah PHK yang terjadi pada lebih dari seratus
ribu orang, itu pun hanya yang tercatat. Coba baca tentang kenaikan suku
bunga kredit dan tekanan neraca pembayaran. Itu yang bisa dibaca di koran.
Dalam realitasnya, kekacauan nilai-nilai terjadi lebih jauh, bukan hanya
masalah ekonomi. Dalam keadaan yang sulit seperti ini, masih banyak orang
yang cukup kaya untuk membuat sebuah masalah yang rasanya terlalu
mengada-ada, tetapi nyatanya ada. Oh ya, hal ini saya alami sendiri
akhir-akhir ini. Tiap orang dalam sistem yang (katanya) merdeka memiliki hak
dan kesempatan untuk memilih dan berubah, namun dalam beberapa situasi
ternyata sistem itu jadinya tidak masuk akal. Bingung? Coba baca sedikit
gambaran yang umum berikut ini.
Seperti banyak perusahaan di Indonesia, bayangkanlah ada sebuah perusahaan
tekstil (atau kayu, atau industri makanan, atau apa pun yang ingin
dibayangkan). Karena ini perusahaan keluarga, maka pendirinya adalah suami
istri, dengan modal warisan serta semangat wiraswasta yang besar. Setelah
beberapa tahun berlalu, akhirnya suami istri ini menurunkan usaha mereka
kepada anak-anak, mungkin ada dua orang, atau tiga orang, atau lima orang.
Bukan untuk dipecah, melainkan untuk dikelola bersama.
Bayangkan pula, dalam satu keluarga selalu saja ada perbedaan karakter dari
anak-anak. Yang tertua menjadi seorang yang strategis, berpikiran manajerial
dan jauh ke depan, dan tentu saja otoriter terhadap adik-adiknya. Yang lebih
muda, ada yang menjadi orang yang supel, suka bermain dan serba praktis.
Yang lebih muda lagi memfokuskan dirinya untuk menggali ilmu pengetahuan,
karena toh ia tidak bisa menjadi manajer seperti kakaknya yang sulung atau
menjadi anak gaul seperti kakaknya nomor dua. Jadilah si bungsu menjadi ahli
dalam bidang teknik dan akademik.
Ketika perusahaan itu berpindah tangan dari orang tua kepada anak-anak,
dengan sendirinya kakak tertua menjadi Presiden Direktur. Anak kedua menjadi
Direktur Marketing, sebab secara alami ia menjadi salesman yang hebat dan
tahu bagaimana caranya menghadapi segala macam orang. Anak ketiga menjadi
Direktur Produksi, sebab ia memang menguasai segala macam teknik industri
dan seluk beluknya. Tiga bersaudara bekerja sama, menjadikan perusahaan
orang tua mereka dengan waktu tidak lama berkembang pesat dan cepat dan
mereka pun menjadi orang-orang kaya. Apalagi dalam masa-masa 'gelembung
sabun' Indonesia, yang dimulai sejak Pakto 1988 yang membuat bank-bank di
mana-mana berdiri hingga pertengahan tahun 1997 dengan pertumbuhan ekonomi
hampir 7% setahun. Itulah saat di mana orang rasanya bisa menjual apa saja
dan mendapatkan untung cukup besar, sehingga seluruh dunia memandang dengan
kagum pada Indonesia yang kelihatannya dapat tinggal landas dengan sukses.
Sedikit lagi saja, akan jadi negara maju di kawasan Asia Tenggara.
Sayangnya, gelembung sabun itu pecah, dan kenyataannya negara ini berdiri di
atas hutang yang sekarang kelihatan seperti lumpur hisap yang mengerikan.
Ketika krisis moneter terjadi, barulah kita menyadari bahwa kita tidak ada
di atas tanah keras. Bahwa semua yang dibangun dan 'berhasil' itu adalah
hasil rekayasa dan proteksi, dan ternyata orang Indonesia tidak se-produktif
kelihatannya. Apa yang terjadi dengan ketiga bersaudara ini?
Sebentar. Jika ANDA yang menjadi salah satu dari ketiga bersaudara ini, apa
yang akan Anda lakukan di saat-saat sukar seperti krisis moneter? Kalau
membaca keadaan yang sukar, secara logis dan mudah, seperti dalam sebuah
keluarga yang kompak, semua saudara saling berpegang semakin erat satu sama
lain. Semakin terbuka, semakin berusaha bersama-sama menggali
kemungkinan-kemungkinan, memilih jalan keluar yang lebih baik untuk
menyelamatkan apa yang sudah dibangun bersama-sama. Begitu, bukan?
Namun nyatanya tidak demikian. Ini bukan peristiwa khusus yang terjadi di
satu perusahaan saja (dan karena itu, tidak perlu mencari-cari perusahaan
apa yang sedang disinggung dalam artikel ini), melainkan hal yang terjadi di
mana-mana. Kakak bertengkar dengan adik. Atau dengan paman. Atau dengan
sepupu. Bukannya semakin berjabat tangan erat, sebaliknya masing-masing
saling mengepalkan tangan. Si bungsu yang selama ini hanya menjadi 'anak
bawang' merasa tidak tahan lagi dengan sikap otoriter kakak tertuanya,
lantas ia dengan membawa keterampilan tekniknya terus pergi keluar dari
perusahaan keluarga, untuk mendirikan usahanya sendiri. Memang ia bisa
menjalankan industri, tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan sang kakak yang
--walaupun menyebalkan karena otoriter-- memang tajam dan tepat. Hanya
dibutuhkan satu konflik dan ledakan amarah untuk mendorongnya pergi
memisahkan diri.
Setelah ledakan masalah itu, dua saudara yang tersisa kini membagi tugas,
tetapi masalahnya tidak ada yang benar-benar menguasai teknik industri. Sang
kakak yang lebih menguasai manajemen kini memantau jalannya usaha melalui
laporan-laporan keuangan dan kontrol atas manajemen manusia. Sang adik yang
lebih menguasai pasar kini membenamkan diri menghadapi persaingan yang
semakin sengit. Tetapi, tiba pula waktunya di mana manajemen keuangan
berbenturan dengan manajemen pemasaran. Memang tidak sejalan, apalagi tanpa
pemahaman tentang teknik industri, yang membuat mereka bergantung pada
beberapa karyawan yang memang ahli di bidang teknik.
Kondisinya menjadi semakin tidak masuk akal, karena karyawan tetaplah
karyawan, dan di Indonesia ini ada budaya yang membuat para Direktur merasa
diri mereka tidak boleh dibantah oleh karyawannya. Tidak masuk akal
sebenarnya, karena para karyawan yang ahli ini dibayar untuk keahliannya
tapi kemudian pendapatnya harus disesuaikan dengan keinginan Direktur yang
memberikan direksi alias pengarahan. Kalau memang begitu, untuk apa lagi
mereka dibayar? Untuk apa ada General Manager, ada Marketing Manager, ada
Operational Manager, dan ada sederetan Manager lain, kalau akhirnya semua
pendapat, pilihan, dan keputusan yang diambil haruslah seperti yang
diinginkan Direktur, sementara mereka tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi?
Dan terjadi pula hal-hal yang semakin tidak masuk akal. Direktur Marketing
menaikkan target pemasaran, sementara Direktur Keuangan mengetatkan
pembelian dan memangkas budget biaya produksi. Direktur Operasional
menargetkan pembukaan cabang-cabang baru, sementara Direktur Personalia
memangkas jumlah karyawan di setiap bagian, termasuk di cabang-cabang.
Direktur Penjualan mengharuskan tiap salesman menjual dua kali lebih besar,
sementara Direktur Produksi menurunkan tingkat produksi dibandingkan
proyeksi tahun lalu -- padahal di tahun lalu pun masih banyak pesanan yang
tidak dipenuhi karena produksi kurang banyak!
Masalahnya, karena di dalam masa sukar ini pada akhirnya semua orang
menginginkan yang aman dan tepat untuk bagiannya sendiri saja, dan dengan
segala kekuatan dan kekuasaan akan menekan pihak lain. Tapi kalau para
Direktur adalah kerabat dalam satu keluarga, bisa dibayangkan bahwa
'pertarungan' yang terjadi adalah perang antara karyawan yang satu dengan
yang lain. Orang pemasaran berseteru dengan orang produksi. Orang keuangan
berseteru dengan staff operasional.
Apakah Anda mengalami hal-hal semacam ini? Jangan heran, karena sudah saya
katakan, ini bukan hal yang khusus. Ini hal menyedihkan yang terjadi di
mana-mana di Indonesia. Dan jika Anda adalah salah seorang dari saudara
Pimpinan, saya tidak bermaksud menjelekkan usaha keluarga. Sebaliknya, sudah
terbukti bahwa ada usaha keluarga yang dapat berdiri dengan solid, kuat,
tangguh, di Asia. Tetapi, mereka tidak mengambil pilihan dan perubahan
seperti yang digambarkan di atas.
Baiklah, lantas apa hubungannya dengan kekristenan? Mengapa saya menulis
artikel ini?
Mari kita bayangkan kembali, apa bedanya bila ketiga bersaudara di atas
adalah benar-benar orang yang mengikuti Kristus dan taat pada Firman-Nya.
Yang pertama, mereka akan menilai hubungan keluarga lebih tinggi daripada
usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, katakanlah bahwa nilai modal dan
aset sudah mencapai ratusan miliar rupiah, itu tidak lebih berarti
dibandingkan hubungan kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak, dan
kakak dan adik. Dasarnya adalah kasih, karena dalam kasih itu pula hubungan
seseorang dengan Tuhan diukur dan dinilai. Itulah sebabnya, maka Yohanes
menuliskan Firman Allah seperti ini:
1 Yoh 3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam
hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak
mengasihi, ia tetap di dalam maut.
Lihatlah, kasih itu menjadi tanda ukuran bahwa kita sudah berpindah dari
dalam maut ke dalam hidup. Dan jika dibandingkan dengan hidup (atau maut),
apalah arti dari segala kekayaan itu, yang tidak akan mengikuti manusia
keluar dari dunia yang fana ini? Orang bisa saja mendirikan perusahaan
multi-nasional, tetapi ketika ia meninggal, tak ada satu pun yang dibawanya
serta. Orang bahkan bisa saja menjadi raja diraja dunia, tetapi ketika ia
mati, ia masuk ke dalam sebuah peti. Tetapi anak-anak Tuhan mengasihi
saudaranya, menjadi tanda bahwa kehidupan telah dimilikinya.
Jadi, jika kita melihat seorang Direktur yang mengaku Kristen ternyata
sedang membenci saudaranya sendiri, jangan cepat-cepat percaya bahwa ia
telah memiliki hidup, telah berpindah dari maut.
Baiklah, jadi ketika orang berada dalam hidup, ia mengasihi saudaranya, dan
tidak perlu ada pertengkaran hebat yang begitu melukai dan memisahkan
mereka. Kasih senantiasa lebih besar daripada benci, walaupun orang lebih
mudah untuk membenci daripada mengasihi. Tetapi kasih itu, bila telah ada
dalam hati, sanggup untuk menutupi segala kesalahan dan dosa, mampu untuk
mengampuni semua perkataan dan perbuatan salah yang dilakukan. Bahkan bukan
hanya mengampuni, tetapi juga melupakan sama sekali, terlempar jauh ke dasar
lautan yang tidak akan lagi diingat orang.
Yang kedua, orang-orang dalam Kristus akan menilai kebenaran dan keadilan
lebih tinggi daripada usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, yang lebih
utama adalah apa yang memang benar dan adil dan patut untuk dilakukan.
Keuntungan bukanlah segala-galanya, karena pada akhirnya kita harus mengakui
bahwa semua keuntungan itu berasal dari luar manusia. Bisa dari Tuhan,
tetapi bisa juga dari iblis. Bedanya, Tuhan memberi keuntungan sebagai
berkat yang mendewasakan manusia, tetapi iblis memberi keuntungan yang
menjerumuskan orang dalam dosa. Bagi seorang Kristen, melakukan kebenaran
adalah suatu prinsip, suatu kewajiban. Orang yang mengaku berada dalam
Kristus, wajib menjalani hidupnya seperti Kristus. Mari kita membaca kembali
Firman melalui Yohanes:
1 Yoh 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup
sama seperti Kristus telah hidup.
Masalahnya, pernahkah kita memikirkan bagaimana Kristus telah hidup?
Jelaslah bahwa Tuhan Yesus pun mengasihi saudara-saudara-Nya, tetapi Ia
tidak mengkompromikan kebenaran karena kasih-Nya itu. Ia tidak menurunkan
standar-Nya karena hubungan saudara, tidak mengurangi kebenaran-Nya karena
mereka berkerabat dekat. Hal ini penting, bahkan dalam bisnis yang
sepenuhnya sekular. Tetapi, orang pada umumnya tidak memiliki kuasa atau
kemampuan untuk memilih kebenaran; orientasi pada profitabilitas seringkali
membutakan mata dari apa yang benar-benar penting dan berharga. Ini bukan
soal keinginan, melainkan memang tidak mampu untuk melakukan apa yang benar
dan yang adil, karena dengan begitu rasanya akan rugi, rugi, rugi.
Masalahnya pula, orang hanya mau benar dan adil kalau hal itu tidak
merugikan dirinya. Bukankah begitu?
Tapi dalam Kristus, tidak apa-apa mengalami kerugian. Atau mungkin lebih
tepat: tidak mendapatkan untung sebesar-besarnya, karena ada harga yang
harus dibayar pada waktunya. Tak apa-apa, karena lebih penting melakukan
kewajiban untuk hidup seperti Kristus, daripada mencari untung
sebesar-besarnya dan menjadi buruk dan bodoh di hadapan Allah. Mungkin ada
pula yang berkilah, kan Allah tidak melarang orang untuk menjadi kaya?
Betul, tetapi Allah melarang orang untuk berlaku curang, tidak benar, atau
tidak adil.
Dapatkah kita melihat benang merahnya? Sebelumnya sudah kita temukan
bagaimana perusahaan dijalankan dengan kebijakan yang aneh dan tidak masuk
akal. Tetapi yang lebih tepat lagi adalah, bahwa sebenarnya orang tidak
mampu untuk menjalankan usaha dengan benar dan masuk akal, jika ia hanya
mengandalkan dirinya sendiri. Hanya karena Tuhan campur tangan, maka orang
dimampukan untuk memilih dan berubah menjadi benar, menjadi baik.
Tanpa Tuhan, secara alami orang akan bertindak dan berlaku keliru, dan
secara wajar justru akan berpikir dengan tidak wajar, penuh ketakutan, dan
penuh lika liku. Jangan berpikir bahwa orang memiliki kehendak bebas; para
pelaku bisnis kawakan tentu tahu betul bagaimana pasar bisa mendikte setiap
pemain-pemain di dalamnya. Betapa absurd melakukan debat tentang kehendak
bebas secara teologis, sementara secara praktis orang tahu bahwa kehendak
bebas itu sudah lama tidak ada lagi.
Tetapi dalam Tuhan, ada kebenaran, dan kebenaran itu sungguh-sungguh
memerdekakan. Jika Anda berada dalam situasi di mana diri Anda terjepit di
antara pertentangan dua Direktur yang sama-sama memiliki Perusahaan, apa
yang Anda akan lakukan? Saya memilih untuk tidak lagi bekerja di sana.
Benar, dan sejak awal Desember 2005, saya tidak lagi berstatus karyawan.
Lalu mau apa sekarang? Bagaimana menyambung kehidupan? Mengapa begitu saja
meninggalkan keamanan penghasilan, keluar dari daftar gaji yang biasanya
diterima setiap bulan?
Namun pilihan saya adalah pilihan yang masuk akal, karena ada hal ketiga
yang ingin saya katakan di sini. Yang ketiga adalah bahwa orang-orang dalam
Kristus akan dipelihara oleh Tuhan, bukan oleh usaha keluarga atau usaha
bisnis apa pun. Betul, Tuhan akan memberkati bisnis yang kita lakukan,
tetapi ingatlah bahwa semua bisnis itu hanya alat di tangan Tuhan, alat
untuk memberkati hidup kita. Dan karena ini semua hanyalah alat, kita
harusnya selalu ingat bahwa di balik alat itu ada Pemakainya yang berkuasa.
Bisnis kita berada di tangan Allah, Dia akan menentukan ke mana
perjalanannya nanti.
Tuhan mempunyai cara untuk menyediakan segala yang kita butuhkan, termasuk
menyediakan bisnis yang bisa berjalan dan menopang kehidupan. Jika orang
belum mengenal Allah, akan terasa aneh dan tidak masuk akal. Tetapi bagi
kita yang mengenal-Nya, jaminan atas kehidupan ini adalah hal yang sangat
masuk akal, sangat wajar untuk dilakukan Allah yang mengasihi umat-Nya.
Hanya kita sendiri pun harus tahu, bahwa tidak semua yang kita inginkan
dapat terkabul, atau hidup akan senyaman yang kita mau. Tidak demikian,
bukan begitu.
Hidup akan berjalan terus, dan kita akan tetap dipelihara-Nya, sesuai
rencana dan rancangan-Nya.
Terpujilah TUHAN!
25 September 2005
Hukum Tidak Menyelamatkan
Hukum Tidak Menyelamatkan
Dunia ini mengenal banyak hukum. Agama-agama, pada umumnya memiliki hukum
dan aturan -- demikianlah agama menjadi petunjuk dalam kehidupan manusia.
Dan di antara banyak hukum, pada umumnya mengandung kebaikan seperti yang
dipahami manusia. Bahkan sesungguhnya, tanpa dinyatakan pun, manusia secara
alami mengerti aturan yang berlaku di segala tempat, di setiap jaman.
Ambillah contoh tentang berdusta... Di mana pun, manusia secara alami
mengerti bahwa berdusta itu salah. Itu pelanggaran. Orang di mana-mana suka
berdusta, tetapi siapa pun kalau ditanya "apakah dusta itu salah?" hampir
pasti akan mengatakan "ya, itu salah." Entah dia itu ada di asia, atau di
amerika, atau di benua afrika. Entah dia itu hidup 2000 tahun yang lalu,
atau 1000 tahun yang lalu, atau hidup di masa kini. Orang tahu berdusta itu
salah (walaupun nyatanya banyak orang terbiasa pula untuk berdusta). Tidak
ada yang suka didustai, walaupun banyak yang suka mendustai.
Bagaimana dengan Hukum Islam, atau Syaria' Islam? Ya, ini pun adalah hukum
yang baik. Jika tidak baik, tidak mungkin Hukum Islam bertahan, mulai dari
abad ke 7 hingga saat ini, abad ke 21. 14 abad. Ada pengaturan yang baik,
yang sesuai dengan apa yang tertanam dalam hati manusia, sehingga orang di
mana-mana rela untuk mentaati dan menjalankannya. Tetapi hal ini bukan
sesuatu yang hanya dimiliki oleh Hukum Islam, karena Hukum Taurat orang
Yahudi pun baik. Dan banyak hukum lainnya, dari berbagai agama dan
kepercayaan yang bertahan berabad-abad.
Baiklah, mengapa hukum-hukum itu baik? Kita lihat, bahwa setiap hukum agama
berdasar pada sosok Allah yang berkuasa untuk mengatur dan menetapkan.
Setiap hukum dapat terwujud, karena ada satu otoritas yang diakui manusia.
Karena orang menyembah Allah, maka orang mentaati hukum-hukum Allah. Karena
orang setia pada negara, maka orang mentaati Undang-Undang. Karena orang
tunduk kepada orang tua, maka orang mentaati aturan keluarga. Bukankah
demikian?
Maka, jika orang tidak takut pada Allah, baginya hukum agama tidak berarti.
Jika orang tidak setia kepada negara, maka Undang-Undang hanya untuk bahan
politikus saja. Jika orang memberontak terhadap orang tua, mereka menjadi
orang yang tidak tahu aturan di rumah. Hukum senantiasa terikat pada
otoritas yang ada di belakangnya; orang yang tidak selaras, tidak sepaham
dengan pemberi otoritas, tidak akan dapat mengikuti hukumnya walaupun ia
berusaha -- baginya hukum hanya menjadi seperangkat aturan yang harus
diikuti namun tidak dipahami.
Tetapi sekarang mari kita pikirkan: dapatkah hukum membentuk orang? Apakah
karena ada hukum, maka orang menjadi baik? Atau sebaliknya, justru karena
orang baik, maka hukum menjadi ada?
Ambil contoh. Coba lihat isi dompet, mungkin di situ ada SIM. Itu adalah
bagian dari hukum: orang harus punya SIM untuk menyetir kendaraan di jalan
raya. Tetapi, apakah orang akan menjadi baik di jalan karena memiliki SIM?
Tentu tidak! Sebaliknya, orang harus diuji (idealnya begitu) bahwa ia baik
di jalan, barulah ia bisa memperoleh SIM. Hukum selalu bersifat belakangan,
selalu berada SESUDAH orang memutuskan sesuatu. Hukum baik untuk mencegah
manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal dan bodoh, tetapi hukum
tidak membuat manusia melakukan hal-hal baik. Karena dalam hukum, kebaikan
yang paling tinggi adalah mentaati hukum itu; tidak ada tuntutan untuk
melebihi hukum yang dinyatakan.
Kita, misalnya, dituntut untuk mentaati rambu-rambu lalu lintas yang ada.
Tidak boleh berhenti di depan tanda S yg disilang. Tidak boleh masuk ke
jalan yang didepannya ada rambu "dilarang masuk". Tetapi tidak ada tuntutan
untuk tidak berhenti di tepi jalan yang tidak bertanda S disilang, sekalipun
dengan berhenti di situ mengakibatkan jalan jadi macet.
Bagaimana dengan hukum agama, seperti Hukum Islam? Sama saja. Kebaikan
tertinggi adalah mentaati semua Hukum Islam. Sholat lima waktu. Puasa. Naik
haji. Ada banyak sekali untuk dituliskan di sini, tetapi esensinya serupa.
Dalam hukum agama, ada faktor penafsiran, sehingga hukum yang dimaksud
mempunyai dimensi lebih luas, lebih lebar. Tetapi hakekatnya sama, yaitu
tuntutan untuk memenuhi apa yang sudah dinyatakan Allah. Itu adalah
tuntutannya... Apakah dengan demikian hukum itu membuat orang menjadi lebih
baik? Tidak.
Kenapa tidak? Karena, pada akhirnya orang melakukan kebaikan demi mentaati
hukum. Orang melakukan tindakan ini dan itu karena mengikuti suatu pola yang
telah dinyatakan pada mereka, bukan demi Allah yang menyatakannya. Ini
menjadi seperti mengikuti suatu aturan main dan sebab-akibatnya, bukan untuk
mencapai apa (atau SIAPA) yang telah menyatakannya.
Ambillah contoh lain. Dikatakan bahwa manusia harus membela Allah, itulah
hukumnya. Orang mematuhi hukum itu dengan menegakkan hukum islam dan
menyerbu pihak-pihak yang menista nama Allah. Pernahkan terpikir, Allah
macam apa yang harus dibela dengan cara demikian? Jika memang Allah itu
besar dan berkuasa, bukankah Ia mampu untuk menghukum semua pihak yang telah
menista nama-Nya? Apa perlunya umat mengangkat pedang dan mencurahkan darah
demi membela Allah?
Tetapi ini adalah tentang mentaati hukum, bukan? Bukan tentang memikirkan
sebab-sebab dibelakangnya. Tentu, boleh-boleh saja menafsirkan dan berusaha
memahami segala sebab-musabab dari aturan itu, tetapi itu dilakukan
belakangan setelah hukum itu sendiri ditaati. Taati dulu, baru bertanya!
Lalu, sampai seberapa jauh manusia harus mengikuti hukum? Kita lihat, ini
akan sesuai dengan otoritas yang ada di belakangnya. Jika aturan keluarga,
pelanggaran hanya mengakibatkan dimarahi orang tua. Jika orang melanggar
Undang-Undang, bisa masuk penjara dan bayar denda. Jika melanggar hukum dari
Allah? Masuk neraka selama-lamanya!
Sementara hukum tidak membuat orang menjadi baik, hukum itu sendiri JUSTRU
menegaskan kesalahan orang yang melanggarnya. Dan di hadapan Allah yang maha
besar dan maha kuasa, hukum-Nya adalah sempurna. Artinya: orang harus
sempurna pula mentaatinya. Manusia harus mengandalkan kekuatannya sendiri
yang tidak seberapa untuk mentaati hukum dari Allah yang MAHA besar, yang
MAHA kuasa.
Hukum itu, betapa pun baiknya, pada akhirnya hanya membuat orang menjadi
semakin bersalah. Anda mau mentaati hukum islam? Baik, itu perbuatan baik
tapi ingatlah bahwa Hukum itu JUSTRU menunjukkan betapa kelirunya Anda di
hadapan Allah. Hukum agama tidak menyelamatkan, sebaliknya hukum itu
membinasakan. Mungkin dalam pelaksanaannya, orang merasa aman karena "toh
nggak ada yang melihat?" Kita keliru kalau merasa aman, karena
sesungguhnyalah Allah itu MAHA tahu. Orang lain boleh saja tidak menyadari
kebusukan yang kita perbuat, tetapi tidak ada yang bisa lepas dari mata
Allah.
Lebih parah lagi, manusia yang lemah ini pada dasarnya tidak mampu untuk
berbuat setepat kehendak Allah. Bagaimana mungkin, sementara manusia ini
kecil di sini sedang Allah itu besar dan jauh di sana? Yang satu menafsirkan
bahwa Allah menghendaki semua umat kafir diperangi dan dilenyapkan,
sementara yang lain menafsirkan bahwa Allah menginginkan perdamaian. Apa
yang sebenarnya dikehendaki Allah, sementara dua-duanya berasal dari ajaran
islam yang sama alirannya? Bagaimana mentaati hukum islam, sementara APA
yang menjadi prioritas dalam hukum itu masih belum jelas?
Tidak heran, bangsa Indonesia terjebak dalam kesulitan, padahal bangsa ini
menyatakan diri sebagai bangsa yang beragama. Ya, hukum agamnya memang baik,
tetapi hukum itu sama sekali tidak membuat manusianya menjadi baik. Hukum
memang tidak menyelamatkan.
Lalu, bagaimana menyelamatkan bangsa ini sekarang?
Bandung, 25 Sept 2005
Donny
04 September 2005
Pekerjaan Baru
Tempat kerja adalah tempat di mana orang bisa membangun sesuatu. Di mana pun aku berada, aku berusaha untuk menyusun sesuatu, memperbaharui sesuatu, atau memperbaiki sesuatu. Kukira, itulah pokok yang kumiliki, untuk membangun. Bukannya aku tidak menghargai pekerjaan yang operasional dan berulang-ulang -- aku tahu, itu dibutuhkan. Tetapi it's just not me.
Tetapi tidak semua tempat kerja bisa dibangun terus menerus. Dengan keadaan yang tidak begitu baik belakangan ini, banyak hal lebih diprioritaskan untuk mempertahankan apa yang sudah ada, dan dalam beberapa hal tertentu (seperti di tempat kerjaku kemarin), itu berarti kembali ke cara-cara lama. Banyak juga pemilik perusahaan yang merasa nyaman dengan apa yang dilakukannya dahulu, dan sekarang ingin dilakukannya lagi.
Jadi, aku membutuhkan tempat kerja baru. Tenagaku sudah tidak begitu dibutuhkan lagi di sini.
Dan Tuhan menyediakannya. Oh ya, Dia menyediakannya dengan cara yang istimewa, yang tidak aku duga-duga. Aku tidak akan bercerita lengkap di sini sekarang, tetapi ketahuilah, aku bisa memberi kesaksian bahwa Allah senantiasa peduli, Ia mengerti segala persoalan yang kita hadapi -- bahkan lebih baik daripada kita sendiri. Karena itu, percayakanlah karir di dalam tangan Tuhan, dan kerjakanlah apa yang Ia sediakan untuk kita kerjakan dengan sukacita.
Terpujilah TUHAN!