Semoga, mulai sekarang Pikiran Donny bisa lebih banyak terisi. Dan mungkin juga sudah waktunya merenung lebih banyak tentang berbagai macam hal.
Salam kasih,
Donny
powered by performancing firefox
Donny A. Wiguna, ST, MA, CFP® QWP® AEPP® QFE. Perencana Keuangan Profesional. Pengajar Keuangan. Pengikut Kristus.
powered by performancing firefox
Salam dalam kasih Kristus,
Di ibadah hari Minggu yang cerah ini, saya mendapatkan sesuatu yang
mengesankan. Ya, kotbah hari ini dipimpin oleh Pdt. Caleb Tong, dan seperti
biasanya beliau penuh ketajaman dalam menyampaikan pesan. Kotbahnya sendiri
memang mengesankan, berbicara tentang kemurahan hati dan bagaimana Gereja
yang Injili juga dapat memberi sumbangan besar bagi korban bencana,
bagaimana hati yang digerakkan Injil bukan hanya berbicara tentang doktrin
tetapi lebih dari itu: melakukannya. Tapi, selain pemberitaan Firman yang
menggugah ini, ada hal lain yang mengesankan.
Hal yang terasa berkesan itu adalah: bahwa sebenarnya, tadi pagi darah masih
mengucur dari hidung Pak Caleb. Beliau mengalami musibah beberapa hari lalu,
dan kalau mengikuti saran dokter seharusnya Pak Caleb tidak berkotbah.
Matanya masih belum fokus, bicaranya pun masih terganggu. Tetapi hatinya
lebih mengutamakan pemberitaan Firman, kepentingannya lebih condong pada
melayani Tuhan, maka pagi-pagi ia sudah mempersiapkan diri. Dan Pak Caleb
tidak setengah-setengah dalam menyampaikan kotbah; ia menyampaikannya dengan
penuh, lengkap, tanpa dikurangi. Waktunya bahkan lebih lama daripada
pengkotbah lain, yang lebih muda dan sehat, untuk suatu bahasan yang
menyeluruh.
Saya menemukan kesiapan semacam ini merupakan hal yang mengesankan, satu
pelajaran sendiri yang saya terima pagi ini. Dan sikap seperti ini bukan
pertama kali saya jumpai dalam diri para pemimpin Gereja. Saya sebelum ini
menemukannya pada diri Ibu Dorothy I. Marx, pada diri Pak Joseph Tong, dan
juga --walau tidak secara langsung-- pada diri Pak Stephen Tong. Sikap untuk
memberikan diri secara total, dan menunjukkan diri sebagai teladan. Dan
sikap ini bukan baru sekarang, karena Alkitab sudah menunjukkan sikap ini
sejak lama, dalam diri Rasul Paulus. Coba simak suratnya kepada jemaat di
Korintus:
~~~~~~~~~~~
1 Kor 4:9:16 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para
rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah
dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi
malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi
kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi
kami hina.
Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup
mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki,
kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami
tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia,
sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini
kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai
anak-anakku yang kukasihi.
Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu
tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah
menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku
menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
~~~~~~~~~~~
Jemaat di Korintus mungkin membanggakan diri dengan kemegahan dan kemakmuran
mereka, segala kemuliaan yang dapat dibayangkan orang. Tetapi jika
kesejahteraan menjadi ukuran, maka para rasul tidak mempunyai tempat! Bagi
para rasul, keberadaan mereka bahkan "telah menjadi sama dengan sampah
dunia," yang sama sekali tidak berarti bagi dunia. Tetapi oleh para rasul,
kekristenan disemai dan bertumbuh, bahkan hingga menjadi besar saat ini.
Tentu saja, keadaan Pak Caleb Tong tidaklah separah para rasul. Kita tidak
dapat mensejajarkannya dengan para rasul. Ia tidak perlu lapar, haus,
telanjang, dipukul dan hidup mengembara, dan seterusnya. Ia masih bisa
menikmati keberadaannya sebagai pemimpin gereja yang besar, masih menikmati
pelayanan dari banyak orang. Namun kita tidak perlu memikirkan
perbandingan-perbandingan kesusahan atau 'kebesaran' mereka, tetapi lihatlah
pokok utama yang mereka tunjukkan: "Turutilah teladanku!"
Ini adalah kepemimpinan spiritual, sebuah kepemimpinan yang menggerakkan
orang lain secara spiritual. Pokoknya bukanlah perilaku apa yang harus
diikuti, tidak seperti keteladanan moral dan sikap yang pada umumnya dibahas
orang. Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan,
bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat
spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa
dengan teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang
berbeda.
Maka, pada pagi hari ini saya tergerak untuk mengikuti teladan spiritual
dari Pak Caleb, dalam konteks yang saya hadapi. Saya tergerak untuk
menyisihkan kesusahan sendiri, agar bisa membagikan kemurahan pada orang
lain. Saya tergerak untuk menyangkali kemalasan sendiri, agar bisa
menuliskan hal-hal ini dan menggerakkan orang lain juga. Tentu saya tidak
mempunyai konteks kehidupan Pak Caleb, tetapi saya bisa melakukan hal-hal
yang secara esensial serupa dalam konteks saya, misalnya melalui internet
dan milis, seperti yang Anda baca ini. Karena, saya sebenarnya tidak dalam
keadaan cukup baik. Saya masih harus mengusahakan agar beban-beban finansial
keluarga kami terpenuhi. Saya masih harus memikirkan bagaimana bisnis kami,
agar besok kami masih bisa makan. Dan saya masih harus mengerjakan beberapa
hal yang cukup mendesak di pertengahan bulan Juni 2006 ini.
Spiritual leadership yang saya alami selama ini telah mendorong saya untuk
mengambil sikap. Bukan hal yang mudah, karena di mata sebagian orang, apa
yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Begini, saya
telah berhenti bekerja di akhir tahun lalu, dan sejak itu saya berusaha
sendiri. Tetapi keadaan ekonomi memang tidak begitu baik, jadi usaha baru
yang dirintis juga tidak selancar yang dibutuhkan. Akibatnya, kami mengalami
tekanan finansial yang cukup besar belakangan ini. Kalau saya bilang "no
problem" maka tentu saya berdusta, karena hal itu menjadi masalah nyata
sekarang.
Dalam keadaan bermasalah di keuangan ini, saya dan istri menemukan peran
baru, sebagai konsultan keuangan. Heran? Sebenarnya, itu adalah istilah bagi
agen asuransi -- disebut "Financial Consultant" karena kami dibekali
sejumlah produk yang mampu membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah
finansial mereka di masa depan. Produk itu adalah kombinasi antara asuransi
dan investasi, dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan menguntungkan
nasabah.
Masalahnya dengan produk asuransi: komisi yang diterima oleh agen dihitung
dari besarnya premi dasar asuransi yang diterima, bukan dari besaran
investasinya. Jadi, kalau kami menginginkan komisi lebih besar, kami harus
mengatur agar premi dasar asuransi diperoleh sebesar-besarnya. Tapi hal ini
berarti memperkecil investasi, dan ujung-ujungnya merugikan nasabah.
Sekarang bagaimana? Masalah finansial seharusnya telah mendorong kami untuk
mengusahakan sebesar-besarnya premi dasar asuransi, dengan demikian kami
memperoleh komisi lebih besar dan selamat dari tekanan finansial ini. Namun
bukan itu yang kami lakukan. Pada akhirnya kami tetap menghitung
sebesar-besarnya investasi, agar memberikan keuntungan maksimum kepada
nasabah. Itulah yang terjadi dengan polis-polis yang kami hasilkan.
Di ujungnya, kami memenuhi apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh asuransi:
keuntungan nasabah. Bodohkah, kalau lantas kami sendiri masih tertekan
secara finansial?
Saya tidak merasa bodoh, karena inilah kepemimpinan spiritual yang saya
ikuti. Nah, sampai sini mohon jangan keliru memahami; saya tidak sedang
menawarkan apa pun kepada teman-teman sekalian. Saya hanya ingin
menunjukkan, seperti itulah yang ada dalam konteks kehidupan saya sekarang.
Tentu, tiap orang dapat memiliki konteks yang berbeda, tetapi secara
esensial melakukan hal serupa. Membagikan kebaikan secara total. Hidup dalam
kebenaran dan keadilan. Menunjukkan kerendahan hati, belas kasihan, dan
kelemah-lembutan.
Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ada Spiritual Leadership di sana? Ada
gereja yang berdiri dengan fondasi yang terpancang di atas batu karang
legalisme. Philip Yancey dalam bukunya "Gereja: Mengapa Dirisaukan?"
(terjemahan dari "Church Why Bother?"), menuliskan tentang gereja masa
kecilnya: "Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka
hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya
mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian." Namun, bukankah deskripsi ini
dapat diterapkan juga dalam lingkungan-lingkungan kita? Bukankah kita pun
menemukan bagaimana orang-orang berseteru dalam gereja, bahkan sampai
membawanya ke pengadilan negeri?
Mengapa harus seperti itu? Coba hitung, berapa banyak orang Kristen yang
tidak lagi pergi ke gereja? Mereka di masa mudanya mendapatkan lingkungan
yang penuh disiplin dan aturan, mula-mula terasa baik dan melindungi, tetapi
kemudian menjadi hambar. Menyebalkan. Tidak ada kepemimpinan spiritual di
sana; yang ada hanyalah aturan dan hukuman bagi pelanggarnya. Kalau tidak
dihukum sekarang (dengan misalnya, 'siasat gerejawi'), kelak akan dihukum
masuk neraka. Dengan semua ancaman, tidak ada motivasi lain untuk melakukan
hal ini atau itu selain menghindari hukuman. Apa maknanya bersikap baik,
jika pendorong utamanya adalah agar tidak dicela orang lain?
Betul, orang bisa digerakkan oleh ancaman, tetapi tidak dalam waktu panjang.
Pada akhirnya ancaman itu akan kehilangan taringnya dan orang mulai bersikap
apatis. "Peduli amat!" "Emangnya gua pikirin?" Serta merta melanggar semua
aturan dan kekangan, apalagi jika ternyata "melanggar itu enak euy!"
Dibutuhkan motivasi lain untuk menggerakkan jemaat, untuk membuat orang
dapat melepaskan bajunya dan berkeringat membangun bersama-sama. Itulah
spiritual leadership yang ditunjukkan, yang diikuti dengan seruan "turutilah
teladanku!"
Sekarang, mengapa pula orang harus mengikuti suatu kepemimpinan dalam
bergereja? Pada kenyataannya, ada saja orang yang menyetarakan gereja dengan
hiburan. Apa bedanya pergi ke gereja dengan nonton di bioskop? Orang merasa
perlu terlayani di sana, menjadi penonton dari berbagai acara atau liturgi
gereja. Di gereja protestan, aktor utamanya adalah pendeta di atas mimbar.
Jemaat menjadi penonton dan pendengar; dan kalau pendetanya tidak menarik,
ada saja orang yang mendengkur. Bagi mereka yang hadir sebagai penonton,
tentu saja kepemimpinan tidak terlalu berarti. Toh orang hanya datang,
duduk, memberi duit, lalu pergi lagi.
Coba pikirkan lagi: dalam setiap ibadah, siapa yang sesungguhnya menjadi
pelaku, dan siapa penontonnya? Tuhan tidak menciptakan dunia ini agar Ia
menjadi Aktor sementara manusia-manusia bodoh menjadi penonton. Sebaliknya!
Tuhan mengawasi kita sekalian, dan kitalah yang menjadi pelaku-pelaku
kehidupan. Bisa dikatakan, urusan terpenting yang dihadapi manusia adalah
bagaimana tampil dengan baik di hadapan Sang Penonton, dan untuk itu kita
membutuhkan kepemimpinan. Di Gereja kita hadir untuk menyembah Dia yang
mengawasi kita, dengan sorot mata seperti seorang Bapa memandang
anak-anak-Nya.
Karena itu, urusan kita adalah mendengar Rasul Paulus berkata "Turutilah
teladanku!" maka kita memberkati ketika dimaki, sabar ketika dianiaya, dan
menjawab dengan ramah ketika difitnah. Dan Rasul Paulus sendiri malah
meneladani Tuhan Yesus, yang juga memberikan teladan-Nya bagi kita. Bukankah
tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk menjadi serupa seperti Kristus?
Baiklah kita hidup di dalam Dia yang menghidupkan. Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Psst... Dengar! Ada yang ngobrol di akhir tahun 2005. Apa kata mereka?
"Sudah dengar berita buruk?"
"Belum! Tapi kamu sudah dengar yang lebih jelek lagi nggak?"
"Lho, kamu belum dengar, tapi kok sudah tahu itu lebih jelek?"
"Oh, karena sejelek-jeleknya beritamu, pasti lebih jelek beritaku."
"Nggak mungkin!"
"Oke deh. Nah, coba, apa berita burukmu itu?"
"Pendidikan di negeri ini berantakan! Ternyata, Presiden dan jajaran
pemerintahan melanggar konstitusi! Sudah jelas, dalam amandemen UUD
disyaratkan anggaran 20%, tapi kenyataannya? Ini pelanggaran serius!
Bukankah ini buruk sekali? Kalau dibiarkan, pendidikan kita berantakan.
Tetapi kalau mau ditindak, mosok Presiden taon depan mau diturunkan lagi?"
"Oh, itu belum terlalu buruk! Memang betul, bahkan Wapres naik pitam
gara-gara mendengar puisi yang bilang kalau sekolah lebih jelek daripada
kandang ayam. Tetapi itu belum seberapa! Yang lebih buruk lagi adalah
kenyataan bahwa semua dana itu dikorupsi! Tuh, kemarin waktu ulang tahun
ke-2 KPK, ketuanya bilang kalau di Indonesia ini belum pernah ada niat
sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi. Tidak ada yang bersungguh-sungguh
membenahi sistem. Kalau KPK hari ini menggebrak dan merantai koruptor ke
penjara, besok ada orang lain yang menggantikan posisi menjadi koruptor yang
sama saja buruknya!"
"Tapi itu bukan berita yang benar-benar buruk. Kenyataannya, saat ini
kesenjangan gaji di antara pegawai negeri dan petinggi-petingginya adalah
begitu besarnya, itulah berita yang amat buruk! Karena dengan demikian,
pemerintahan didominasi oleh dua kelompok orang. Yang pertama adalah
sebagian besar orang-orang kecil yang harus kongkalikong untuk menyiasati
gajinya yang kecil, lalu menjadi koruptor jabatan. Yang kedua adalah
sebagian kecil orang-orang di posisi strategis yang walaupun dapat gaji
edan-edanan, masih juga berusaha jadi raja kecil yang ingin lebih kaya lagi!
Mereka yang sedikit ini punya tameng politik, punya tameng hukum. Bahkan,
KPK sendiri pun tidak bisa menyentuh mereka! Tuh, lihat saja kasus KPK
membongkar korupsi di KPU. Yang dua masuk bui, tapi yang dua lagi?"
"Korupsi itu di saat terjadinya tidaklah terlalu buruk! Yang lebih buruk
lagi adalah akibatnya. Sudah puluhan tahun negeri ini digerogoti korupsi,
selama itu pula semua kekayaan dan pembangunan bangsa ini habis tak
berbekas. Kalau semua daya hanya untuk membuat apa yang kelihatan di luarnya
saja, apa yang tersisa untuk membangun yang di dalam? Sekarang, setelah
semuanya habis, apa yang tersisa bagi negeri ini? Ini berita yang amat
buruk! Ekonomi kita rusak berat! Utangnya banyak, daya saingnya rendah, dan
industrinya tergantung pada subsidi dan proteksi! Tak heran kalau banyak
yang tumbang karena harga BBM naik, perusahaan tutup dan ratusan ribu
karyawan kena PHK!"
"Lebih buruk lagi, karena hidup sulit, semua orang menjadi tidak peduli! Mau
tahu apa yang amat buruk? Produsen dan distributor makanan yang tidak mau
rugi memakai formalin untuk mengawetkan barangnya! Para nelayan yang melaut
memakai formalin untuk mengawetkan ikan-ikan! Tahu, mi, baso, ikan, ayam,
dan segala macam bahan makanan lain sudah diberi formalin yang merusak
badan! Ini benar-benar berita buruk: kehidupan di negeri ini semakin buruk,
dan tahu-tahu kita bisa mati kena kanker!"
"Aah, ini belum teramat buruk! Kena kanker itu matinya perlahan-lahan!
Sekarang ini, banyak teror dan bom. Dan bahkan pada hari ini, bom meledak
lagi di Palu! Nyawa tidak ada nilainya. Orang bisa mati begitu saja di
jalanan! Bukankah ini yang teramat sangat buruk?"
"Ya, ada yang lebih buruk lagi...."
Heiii!! Stop, stop, stop!
STOP!
Ini akhir tahun, dan kita sedemikian bersemangatnya membahas tentang kabar
buruk! Tidakkah cukup semua berita-berita buruk itu menghiasi koran-koran
dan laporan akhir tahun? Tidakkah mata menjadi merah karena setiap kali
melihat surat kabar atau berita televisi, selalu saja ada kemalangan dan
kegagalan dan kejahatan yang ditampilkan?
Seperti kata-kata seorang temanku, "Aku takut hidup di Indonesia." Kenapa?
Karena nampaknya orang akan mati dengan lebih cepat bila tinggal di negeri
yang tercemar dan mencemarkan ini. Dan bukan hanya kita saja yang sudah
mulai beruban; bahaya itu mengancam anak-anak kita, membahayakan keturunan
kita. Apakah lebih baik tinggal di luar negeri saja?
Tapi, salah besar bila beranggapan bahwa tinggal di luar negeri selalu lebih
sehat, senantiasa lebih aman, atau pasti lebih sejahtera. Coba saja; ada
berapa banyak orang yang mati kedinginan di musim dingin yang semakin parah
di negara-negara sub-tropis? Di bumi ini tinggal di mana pun begitu juga,
selalu ada masalahnya.
Kalau kita mau bicara kabar buruk, tidak akan ada habisnya. Dan kalau kita
melihat sejarah, akan nyata bahwa manusia itu begitu bodoh karena
mengulang-ulang kesalahan sejarah. Mungkin sebabnya adalah tak banyak yang
suka belajar sejarah, atau tidak banyak yang peduli bahwa apa yang
dilakukannya hari ini sama dengan apa yang orang lain telah lakukan dahulu
dengan akibat kebinasaan bangsa. Dari jaman ke jaman, manusia meratap karena
kesulitannya, dan seringkali penyebabnya itu itu juga. Perang. Penyakit.
Kemiskinan. Kejahatan.
Belajarlah sejarah, dan kita akan temukan bahwa di saat populasi manusia
menjadi terlalu besar, teori yang dikatakan Thomas R. Malthus barangkali
benar: populasi berlebih akan dibatasi oleh kelaparan, penyakit, dan perang.
Atau kasarnya: untung ada kelaparan, ada penyakit, dan ada perang, sehingga
populasi manusia tidak terlalu banyak dan masih tersedia cukup sumberdaya
untuk orang-orang yang tersisa. Atau kalau tidak mau perang dan penyakit,
mulai dari sekarang mulailah membatasi keturunan! Pesimis? Coba saja lihat
statistik demografi. Dan penduduk negeri ini sudah lebih dari 220 juta,
sehingga nampaknya tidak banyak yang terlalu memikirkan jika sejuta atau dua
juta orang berkurang karena kena penyakit flu burung, keracunan formalin,
atau mati kelaparan karena miskin.
Sedemikian menyedihkannya? Mungkin. Bisa jadi. Tak heran, ada banyak nada
pesimis di akhir tahun ini. Dan mungkin, para pembaca tulisan ini pun
merasakan kepesimisan yang sama. Itulah nada dari dunia, suara dari planet
bumi yang semakin tua dan sengsara, nada kesedihan dari Indonesia. Tetapi,
ada baiknya kita mendengar suara lain, nada yang lain. Suara yang bergema
sejak jaman dahulu kala, yang sarat dengan kuasa Ilahi:
Hab 3:16-19
"Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya,
menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku
gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari
kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.
Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon
zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan
makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi
dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat
kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."
Hari susah menakutkan? Ya. Siapa yang tidak gemetar karena kehilangan
pekerjaan, karena kehilangan pelanggan, karena kehilangan kesejahteraan?
Siapa yang bibirnya tidak menggigil menghadapi hari-hari kesusahan, ketika
dinyatakan bahwa negeri ini akan menarik pajak lebih besar lagi,
tertatih-tatih untuk tetap berjalan, sementara pembayaran utang luar negeri
yang jatuh tempo akan tetap dilaksanakan?
Tetapi, siapa yang sanggup beria-ria sekarang? Siapa yang sanggup menatap
masa depan, walaupun segala asetnya tidak menghasilkan, segala kekayaannya
hilang tercuri orang, dan modalnya habis ditelan biaya? Itulah anak-anak
TUHAN, yang bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang
menyelamatkan!
Siapa yang bersama-sama nabi Habakuk dapat menyerukan: ALLAH Tuhanku itu
kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak
di bukit-bukitku. Siapa?
Wahai, kalian yang sedang berkeluh kesah tentang tahun yang gagal dan penuh
kesulitan! Di manakah iman, ketika tiada lagi jaminan keamanan penghasilan,
sudah berhenti kekayaan dan kemudahan? Pohon ara kini tidak berbunga, pohon
anggur tidak berbuah. Apa yang semula mendatangkan kemakmuran, kini tidak
lagi. Hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan
bahan makanan. Apa yang semula menjamin kehidupan, kini tidak lagi. Apa yang
semula menjadi kekayaan dan harta dunia, kini habis sudah.
Tetapi kita akan beria-ria, akan bersorak-sorak dalam Tuhan yang
menyelamatkan kita. Dia akan memenuhi kebutuhan kita, mencukupkan. Bagian
kita adalah berada di dalam-Nya. Porsi kita adalah melakukan kehendak-Nya.
Apa yang Ia kehendaki tidaklah banyak atau rumit; Ia menghendaki kita
percaya kepada Kristus, mengasihi Allah dan sesama, hidup dalam terang
kebenaran dan keadilan serta kesetiaan.
Menyongsong tahun 2006, apa yang dapat kita katakan? Apa yang hendak kita
harapkan?
Marilah berharap, bahwa kita dapat benar-benar melakukan kehendak-Nya.
Keadaan boleh buruk, situasi boleh sukar, tetapi ingatlah bahwa kita
memiliki dan telah dimiliki Tuhan. Mungkin pikiran dan analisa kita
mengatakan 'buruk' dan 'buruk', namun Tuhan lebih besar dari masalah kita.
Kita memang tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menuntun kita melewati
lorong-lorong gelap di Indonesia, di antara penyakit dan kemiskinan dan
kejahatan serta korupsi yang kronis. Tetapi kita tahu betul, bahwa Ia
menuntun kita. Ia membawa kita.
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.
Salam kasih,
Donny
"I need Thee, o I need Thee; ev'ry hour I need Thee; o bless me now my
Saviour, I come to Thee"
Lirik lagu ini terngiang-ngiang. Berulang-ulang. Ada saatnya, ketika jalan
kehidupan membelok dengan tajam, rasanya seperti mau terlempar keluar. Saat
itu yang paling dibutuhkan adalah pegangan yang kuat, yang tidak bergeser
atau berderik-derik, yang tetap menempel pada jalan walau lajunya cepat pada
tikungan tajam. Kita semua mungkin sudah merasakannya, bukan?
Tetapi, saya bukan sedang berbicara tentang pengalaman mengendarai mobil.
Ini adalah tentang perjalanan hidup, dalam realitas di mana ada kesempatan
dan masalah, ada dorongan dan hambatan yang harus kita hadapi setiap hari,
setiap jam. Tidakkah kita semua merasakannya? Coba baca koran hari ini, dan
lihat bagaimana ulasan ekonom terhadap perekonomian Indonesia dalam 6 bulan
ke depan. Coba baca tentang masalah PHK yang terjadi pada lebih dari seratus
ribu orang, itu pun hanya yang tercatat. Coba baca tentang kenaikan suku
bunga kredit dan tekanan neraca pembayaran. Itu yang bisa dibaca di koran.
Dalam realitasnya, kekacauan nilai-nilai terjadi lebih jauh, bukan hanya
masalah ekonomi. Dalam keadaan yang sulit seperti ini, masih banyak orang
yang cukup kaya untuk membuat sebuah masalah yang rasanya terlalu
mengada-ada, tetapi nyatanya ada. Oh ya, hal ini saya alami sendiri
akhir-akhir ini. Tiap orang dalam sistem yang (katanya) merdeka memiliki hak
dan kesempatan untuk memilih dan berubah, namun dalam beberapa situasi
ternyata sistem itu jadinya tidak masuk akal. Bingung? Coba baca sedikit
gambaran yang umum berikut ini.
Seperti banyak perusahaan di Indonesia, bayangkanlah ada sebuah perusahaan
tekstil (atau kayu, atau industri makanan, atau apa pun yang ingin
dibayangkan). Karena ini perusahaan keluarga, maka pendirinya adalah suami
istri, dengan modal warisan serta semangat wiraswasta yang besar. Setelah
beberapa tahun berlalu, akhirnya suami istri ini menurunkan usaha mereka
kepada anak-anak, mungkin ada dua orang, atau tiga orang, atau lima orang.
Bukan untuk dipecah, melainkan untuk dikelola bersama.
Bayangkan pula, dalam satu keluarga selalu saja ada perbedaan karakter dari
anak-anak. Yang tertua menjadi seorang yang strategis, berpikiran manajerial
dan jauh ke depan, dan tentu saja otoriter terhadap adik-adiknya. Yang lebih
muda, ada yang menjadi orang yang supel, suka bermain dan serba praktis.
Yang lebih muda lagi memfokuskan dirinya untuk menggali ilmu pengetahuan,
karena toh ia tidak bisa menjadi manajer seperti kakaknya yang sulung atau
menjadi anak gaul seperti kakaknya nomor dua. Jadilah si bungsu menjadi ahli
dalam bidang teknik dan akademik.
Ketika perusahaan itu berpindah tangan dari orang tua kepada anak-anak,
dengan sendirinya kakak tertua menjadi Presiden Direktur. Anak kedua menjadi
Direktur Marketing, sebab secara alami ia menjadi salesman yang hebat dan
tahu bagaimana caranya menghadapi segala macam orang. Anak ketiga menjadi
Direktur Produksi, sebab ia memang menguasai segala macam teknik industri
dan seluk beluknya. Tiga bersaudara bekerja sama, menjadikan perusahaan
orang tua mereka dengan waktu tidak lama berkembang pesat dan cepat dan
mereka pun menjadi orang-orang kaya. Apalagi dalam masa-masa 'gelembung
sabun' Indonesia, yang dimulai sejak Pakto 1988 yang membuat bank-bank di
mana-mana berdiri hingga pertengahan tahun 1997 dengan pertumbuhan ekonomi
hampir 7% setahun. Itulah saat di mana orang rasanya bisa menjual apa saja
dan mendapatkan untung cukup besar, sehingga seluruh dunia memandang dengan
kagum pada Indonesia yang kelihatannya dapat tinggal landas dengan sukses.
Sedikit lagi saja, akan jadi negara maju di kawasan Asia Tenggara.
Sayangnya, gelembung sabun itu pecah, dan kenyataannya negara ini berdiri di
atas hutang yang sekarang kelihatan seperti lumpur hisap yang mengerikan.
Ketika krisis moneter terjadi, barulah kita menyadari bahwa kita tidak ada
di atas tanah keras. Bahwa semua yang dibangun dan 'berhasil' itu adalah
hasil rekayasa dan proteksi, dan ternyata orang Indonesia tidak se-produktif
kelihatannya. Apa yang terjadi dengan ketiga bersaudara ini?
Sebentar. Jika ANDA yang menjadi salah satu dari ketiga bersaudara ini, apa
yang akan Anda lakukan di saat-saat sukar seperti krisis moneter? Kalau
membaca keadaan yang sukar, secara logis dan mudah, seperti dalam sebuah
keluarga yang kompak, semua saudara saling berpegang semakin erat satu sama
lain. Semakin terbuka, semakin berusaha bersama-sama menggali
kemungkinan-kemungkinan, memilih jalan keluar yang lebih baik untuk
menyelamatkan apa yang sudah dibangun bersama-sama. Begitu, bukan?
Namun nyatanya tidak demikian. Ini bukan peristiwa khusus yang terjadi di
satu perusahaan saja (dan karena itu, tidak perlu mencari-cari perusahaan
apa yang sedang disinggung dalam artikel ini), melainkan hal yang terjadi di
mana-mana. Kakak bertengkar dengan adik. Atau dengan paman. Atau dengan
sepupu. Bukannya semakin berjabat tangan erat, sebaliknya masing-masing
saling mengepalkan tangan. Si bungsu yang selama ini hanya menjadi 'anak
bawang' merasa tidak tahan lagi dengan sikap otoriter kakak tertuanya,
lantas ia dengan membawa keterampilan tekniknya terus pergi keluar dari
perusahaan keluarga, untuk mendirikan usahanya sendiri. Memang ia bisa
menjalankan industri, tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan sang kakak yang
--walaupun menyebalkan karena otoriter-- memang tajam dan tepat. Hanya
dibutuhkan satu konflik dan ledakan amarah untuk mendorongnya pergi
memisahkan diri.
Setelah ledakan masalah itu, dua saudara yang tersisa kini membagi tugas,
tetapi masalahnya tidak ada yang benar-benar menguasai teknik industri. Sang
kakak yang lebih menguasai manajemen kini memantau jalannya usaha melalui
laporan-laporan keuangan dan kontrol atas manajemen manusia. Sang adik yang
lebih menguasai pasar kini membenamkan diri menghadapi persaingan yang
semakin sengit. Tetapi, tiba pula waktunya di mana manajemen keuangan
berbenturan dengan manajemen pemasaran. Memang tidak sejalan, apalagi tanpa
pemahaman tentang teknik industri, yang membuat mereka bergantung pada
beberapa karyawan yang memang ahli di bidang teknik.
Kondisinya menjadi semakin tidak masuk akal, karena karyawan tetaplah
karyawan, dan di Indonesia ini ada budaya yang membuat para Direktur merasa
diri mereka tidak boleh dibantah oleh karyawannya. Tidak masuk akal
sebenarnya, karena para karyawan yang ahli ini dibayar untuk keahliannya
tapi kemudian pendapatnya harus disesuaikan dengan keinginan Direktur yang
memberikan direksi alias pengarahan. Kalau memang begitu, untuk apa lagi
mereka dibayar? Untuk apa ada General Manager, ada Marketing Manager, ada
Operational Manager, dan ada sederetan Manager lain, kalau akhirnya semua
pendapat, pilihan, dan keputusan yang diambil haruslah seperti yang
diinginkan Direktur, sementara mereka tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi?
Dan terjadi pula hal-hal yang semakin tidak masuk akal. Direktur Marketing
menaikkan target pemasaran, sementara Direktur Keuangan mengetatkan
pembelian dan memangkas budget biaya produksi. Direktur Operasional
menargetkan pembukaan cabang-cabang baru, sementara Direktur Personalia
memangkas jumlah karyawan di setiap bagian, termasuk di cabang-cabang.
Direktur Penjualan mengharuskan tiap salesman menjual dua kali lebih besar,
sementara Direktur Produksi menurunkan tingkat produksi dibandingkan
proyeksi tahun lalu -- padahal di tahun lalu pun masih banyak pesanan yang
tidak dipenuhi karena produksi kurang banyak!
Masalahnya, karena di dalam masa sukar ini pada akhirnya semua orang
menginginkan yang aman dan tepat untuk bagiannya sendiri saja, dan dengan
segala kekuatan dan kekuasaan akan menekan pihak lain. Tapi kalau para
Direktur adalah kerabat dalam satu keluarga, bisa dibayangkan bahwa
'pertarungan' yang terjadi adalah perang antara karyawan yang satu dengan
yang lain. Orang pemasaran berseteru dengan orang produksi. Orang keuangan
berseteru dengan staff operasional.
Apakah Anda mengalami hal-hal semacam ini? Jangan heran, karena sudah saya
katakan, ini bukan hal yang khusus. Ini hal menyedihkan yang terjadi di
mana-mana di Indonesia. Dan jika Anda adalah salah seorang dari saudara
Pimpinan, saya tidak bermaksud menjelekkan usaha keluarga. Sebaliknya, sudah
terbukti bahwa ada usaha keluarga yang dapat berdiri dengan solid, kuat,
tangguh, di Asia. Tetapi, mereka tidak mengambil pilihan dan perubahan
seperti yang digambarkan di atas.
Baiklah, lantas apa hubungannya dengan kekristenan? Mengapa saya menulis
artikel ini?
Mari kita bayangkan kembali, apa bedanya bila ketiga bersaudara di atas
adalah benar-benar orang yang mengikuti Kristus dan taat pada Firman-Nya.
Yang pertama, mereka akan menilai hubungan keluarga lebih tinggi daripada
usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, katakanlah bahwa nilai modal dan
aset sudah mencapai ratusan miliar rupiah, itu tidak lebih berarti
dibandingkan hubungan kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak, dan
kakak dan adik. Dasarnya adalah kasih, karena dalam kasih itu pula hubungan
seseorang dengan Tuhan diukur dan dinilai. Itulah sebabnya, maka Yohanes
menuliskan Firman Allah seperti ini:
1 Yoh 3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam
hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak
mengasihi, ia tetap di dalam maut.
Lihatlah, kasih itu menjadi tanda ukuran bahwa kita sudah berpindah dari
dalam maut ke dalam hidup. Dan jika dibandingkan dengan hidup (atau maut),
apalah arti dari segala kekayaan itu, yang tidak akan mengikuti manusia
keluar dari dunia yang fana ini? Orang bisa saja mendirikan perusahaan
multi-nasional, tetapi ketika ia meninggal, tak ada satu pun yang dibawanya
serta. Orang bahkan bisa saja menjadi raja diraja dunia, tetapi ketika ia
mati, ia masuk ke dalam sebuah peti. Tetapi anak-anak Tuhan mengasihi
saudaranya, menjadi tanda bahwa kehidupan telah dimilikinya.
Jadi, jika kita melihat seorang Direktur yang mengaku Kristen ternyata
sedang membenci saudaranya sendiri, jangan cepat-cepat percaya bahwa ia
telah memiliki hidup, telah berpindah dari maut.
Baiklah, jadi ketika orang berada dalam hidup, ia mengasihi saudaranya, dan
tidak perlu ada pertengkaran hebat yang begitu melukai dan memisahkan
mereka. Kasih senantiasa lebih besar daripada benci, walaupun orang lebih
mudah untuk membenci daripada mengasihi. Tetapi kasih itu, bila telah ada
dalam hati, sanggup untuk menutupi segala kesalahan dan dosa, mampu untuk
mengampuni semua perkataan dan perbuatan salah yang dilakukan. Bahkan bukan
hanya mengampuni, tetapi juga melupakan sama sekali, terlempar jauh ke dasar
lautan yang tidak akan lagi diingat orang.
Yang kedua, orang-orang dalam Kristus akan menilai kebenaran dan keadilan
lebih tinggi daripada usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, yang lebih
utama adalah apa yang memang benar dan adil dan patut untuk dilakukan.
Keuntungan bukanlah segala-galanya, karena pada akhirnya kita harus mengakui
bahwa semua keuntungan itu berasal dari luar manusia. Bisa dari Tuhan,
tetapi bisa juga dari iblis. Bedanya, Tuhan memberi keuntungan sebagai
berkat yang mendewasakan manusia, tetapi iblis memberi keuntungan yang
menjerumuskan orang dalam dosa. Bagi seorang Kristen, melakukan kebenaran
adalah suatu prinsip, suatu kewajiban. Orang yang mengaku berada dalam
Kristus, wajib menjalani hidupnya seperti Kristus. Mari kita membaca kembali
Firman melalui Yohanes:
1 Yoh 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup
sama seperti Kristus telah hidup.
Masalahnya, pernahkah kita memikirkan bagaimana Kristus telah hidup?
Jelaslah bahwa Tuhan Yesus pun mengasihi saudara-saudara-Nya, tetapi Ia
tidak mengkompromikan kebenaran karena kasih-Nya itu. Ia tidak menurunkan
standar-Nya karena hubungan saudara, tidak mengurangi kebenaran-Nya karena
mereka berkerabat dekat. Hal ini penting, bahkan dalam bisnis yang
sepenuhnya sekular. Tetapi, orang pada umumnya tidak memiliki kuasa atau
kemampuan untuk memilih kebenaran; orientasi pada profitabilitas seringkali
membutakan mata dari apa yang benar-benar penting dan berharga. Ini bukan
soal keinginan, melainkan memang tidak mampu untuk melakukan apa yang benar
dan yang adil, karena dengan begitu rasanya akan rugi, rugi, rugi.
Masalahnya pula, orang hanya mau benar dan adil kalau hal itu tidak
merugikan dirinya. Bukankah begitu?
Tapi dalam Kristus, tidak apa-apa mengalami kerugian. Atau mungkin lebih
tepat: tidak mendapatkan untung sebesar-besarnya, karena ada harga yang
harus dibayar pada waktunya. Tak apa-apa, karena lebih penting melakukan
kewajiban untuk hidup seperti Kristus, daripada mencari untung
sebesar-besarnya dan menjadi buruk dan bodoh di hadapan Allah. Mungkin ada
pula yang berkilah, kan Allah tidak melarang orang untuk menjadi kaya?
Betul, tetapi Allah melarang orang untuk berlaku curang, tidak benar, atau
tidak adil.
Dapatkah kita melihat benang merahnya? Sebelumnya sudah kita temukan
bagaimana perusahaan dijalankan dengan kebijakan yang aneh dan tidak masuk
akal. Tetapi yang lebih tepat lagi adalah, bahwa sebenarnya orang tidak
mampu untuk menjalankan usaha dengan benar dan masuk akal, jika ia hanya
mengandalkan dirinya sendiri. Hanya karena Tuhan campur tangan, maka orang
dimampukan untuk memilih dan berubah menjadi benar, menjadi baik.
Tanpa Tuhan, secara alami orang akan bertindak dan berlaku keliru, dan
secara wajar justru akan berpikir dengan tidak wajar, penuh ketakutan, dan
penuh lika liku. Jangan berpikir bahwa orang memiliki kehendak bebas; para
pelaku bisnis kawakan tentu tahu betul bagaimana pasar bisa mendikte setiap
pemain-pemain di dalamnya. Betapa absurd melakukan debat tentang kehendak
bebas secara teologis, sementara secara praktis orang tahu bahwa kehendak
bebas itu sudah lama tidak ada lagi.
Tetapi dalam Tuhan, ada kebenaran, dan kebenaran itu sungguh-sungguh
memerdekakan. Jika Anda berada dalam situasi di mana diri Anda terjepit di
antara pertentangan dua Direktur yang sama-sama memiliki Perusahaan, apa
yang Anda akan lakukan? Saya memilih untuk tidak lagi bekerja di sana.
Benar, dan sejak awal Desember 2005, saya tidak lagi berstatus karyawan.
Lalu mau apa sekarang? Bagaimana menyambung kehidupan? Mengapa begitu saja
meninggalkan keamanan penghasilan, keluar dari daftar gaji yang biasanya
diterima setiap bulan?
Namun pilihan saya adalah pilihan yang masuk akal, karena ada hal ketiga
yang ingin saya katakan di sini. Yang ketiga adalah bahwa orang-orang dalam
Kristus akan dipelihara oleh Tuhan, bukan oleh usaha keluarga atau usaha
bisnis apa pun. Betul, Tuhan akan memberkati bisnis yang kita lakukan,
tetapi ingatlah bahwa semua bisnis itu hanya alat di tangan Tuhan, alat
untuk memberkati hidup kita. Dan karena ini semua hanyalah alat, kita
harusnya selalu ingat bahwa di balik alat itu ada Pemakainya yang berkuasa.
Bisnis kita berada di tangan Allah, Dia akan menentukan ke mana
perjalanannya nanti.
Tuhan mempunyai cara untuk menyediakan segala yang kita butuhkan, termasuk
menyediakan bisnis yang bisa berjalan dan menopang kehidupan. Jika orang
belum mengenal Allah, akan terasa aneh dan tidak masuk akal. Tetapi bagi
kita yang mengenal-Nya, jaminan atas kehidupan ini adalah hal yang sangat
masuk akal, sangat wajar untuk dilakukan Allah yang mengasihi umat-Nya.
Hanya kita sendiri pun harus tahu, bahwa tidak semua yang kita inginkan
dapat terkabul, atau hidup akan senyaman yang kita mau. Tidak demikian,
bukan begitu.
Hidup akan berjalan terus, dan kita akan tetap dipelihara-Nya, sesuai
rencana dan rancangan-Nya.
Terpujilah TUHAN!