Cari Blog Ini

06 November 2007

Mission

Kerja sih bekerja, tapi apa tujuan orang bekerja? Pertanyaan ini terasa janggal waktu pertama kali ditanyakan.

Tapi ini mungkin pertanyaan paling penting untuk ditanyakan, karena jawabannya adalah misi dari kerja. Apa misi pekerjaan saya? Bagaimana sebuah pekerjaan dapat berarti?

Ada orang yang bekerja untuk sesuatu di dunia. Beberapa memikirkannya secara fisik: sejumlah uang tertentu, rumah, mobil, perhiasan... segala hal yang dapat diinginkan dan dibeli orang. Beberapa yang lain mengarah pada hal yang bersifat lebih filosofis, seperti memenuhi hormat kepada orang tua, mendapatkan penghargaan dari masyarakat, atau untuk mendapatkan rasa aman, baik untuk saat ini maupun di hari depan. Kita melihat bagaimana orang amat terdorong untuk hal-hal yang bisa diperolehnya, sehingga tidak sedikit yang dengan penuh sukacita menerima teori semacam "The Law of Attraction", yang katanya menjadi rahasia sejak jaman dahulu kala.

Kenyataannya, memang orang senang bila segala hal yang diinginkannya bergerak sendiri, tertarik kepada hal yang dipikirkannya. Hanya dengan memikirkan, lalu dapat!

Yang belum banyak terpikir oleh mereka yang menghendaki segala sesuatu tertarik pada dirinya adalah: apa arti atau makna dari itu semua? Kalau seseorang mendapatkan barang atau pengakuan yang diingkannya, lalu apa?

Seorang bisa memperoleh rumah baru, atau mobil baru, atau mendapatkan tempat yang diinginkan. Bahkan mungkin benar, ia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkannya... cukup benar-benar 'mengirim pesan' dan melihat hal itu tertarik dengan sendirinya. Katakanlah bahwa hal itu memang benar (sejujurnya, saya tidak percaya), lalu apa maknanya? Apa arti dari mendapatkan lebih banyak uang, memiliki rekening dengan banyak angka nol?

Jika ada yang berpikir bahwa uang saja dapat menjamin hidupnya, baru-baru ini saya berhitung dan menemukan bahwa nilai mata uang di dunia ini terus menerus merosot. Setiap negara berlomba-lomba mencetak uang, sedemikian rupa sehingga perbandingan kurs antara satu negara dengan negara lain tidak terpaut banyak. Kurs Rupiah dengan US Dollar relatif stabil, hanya naik turun beberapa basis poin saja. Tapi defisit anggaran Amerika menjadi semakin buruk, demikian juga dengan defisit APBN Indonesia. Musuh sebenarnya bukan perbedaan kurs, melainkan inflasi -- atau lebih tepatnya: devaluasi mata uang. Semakin banyak uang dicetak, semakin turun pula nilai dari mata uang yang kita pegang.

Kenapa lebih banyak uang dicetak? Karena ada banyak hal yang harus dibayar oleh Pemerintah. Ada biaya pegawai, biaya proyek, biaya untuk dikorupsi...bahkan yang melakukan korupsi mungkin tidak mengerti bahwa uang yang diperoleh sebenarnya menjadi semakin tidak berharga. Kalau sekarang 1 keluarga orang Indonesia kelas menengah dapat hidup dengan Rp. 5 juta per bulan, maka 15 tahun lagi ia akan butuh hampir Rp. 16 juta per bulan, jika inflasi rata-rata selama 15 tahun itu hanya 8% saja.

Semakin banyak korupsi dan penyelewengan, semakin banyak kebutuhan pembiayaan. Cara cepat mengatasinya adalah dengan semakin banyak mencetak uang, dan berakhir dengan semakin rendahnya nilai mata uang. Tapi karena hal serupa dilakukan banyak negara lain, termasuk Amerika Serikat, banyak orang merasa baik-baik saja. Hanya sedikit analisa dapat menunjukkan seperti apa beban yang akan dihadapi negara pada saat beban masyarakat benar-benar harus ditanggungnya. Jadi, apa artinya uang yang banyak itu? Semakin lama semakin turun nilainya!

Hal ini mengembalikan kita kepada pertanyaan semula: untuk apa bekerja?

Satu jawaban yang saya dapatkan dari Peter Drucker, dari Michael Potter, dari beberapa ahli lain adalah: peningkatan nilai. Potter bahkan menunjukkan analisa yang terkenal: Value Chain Analysis untuk mengembangkan keunggulan kompetitif dari suatu bisnis. Sampai sekarang, pelajaran ini masih banyak dipakai untuk analisa bisnis perusahaan.

Eh, siapa bilang hanya untuk perusahaan?

Setiap orang yang bekerja sebenarnya sedang berbisnis, dan itu berarti juga menuntut peningkatan nilai. Tujuan bekerja adalah memberikan nilai tambah. Dengan begitu, posisi dari orang itu akan lebih unggul dalam kompetisi dengan orang-orang lain di sekitarnya, membuat hidupnya menjadi lebih baik -- suatu proses yang berkesinambungan.

Sebaliknya dari 'The Law of Attraction', saya justru menemukan bahwa aturan yang lebih tepat telah diberikan lama oleh Tuhan: "Berikanlah / lakukanlah kepada orang lain apa yang engkau ingin orang lain berikan / lakukan kepadamu" Hukum yang benar bukan tentang menarik segala hal kepada diri, melainkan tentang memberi diri kepada segala sesuatu.

Pertama-tama, orang harus memberi diri bagi Tuhan. Kedua, orang harus memberi diri sesuai tanggung jawab tertingginya: kepada bangsa dan negara, lalu kepada keluarga, lalu kepada lingkungan yang bergantung padanya. Ketiga, orang harus memberi diri sesuai posisinya di mana ia berada, entah di perusahaan atau sekolah atau lingkungan rukun warga. Ada banyak hal yang mungkin terjadi, tetapi Tuhan sudah memberi hukum yang terutama di atas segala hukum: Hukum Kasih.

Misi pekerjaan adalah memberi diri, atau lebih spesifik, memberikan nilai tambah. Nilai tambah akan membuat hal-hal di sekitarnya menjadi lebih bernilai, lebih berharga. Semakin banyak nilai tambah diberikan, semakin besar kesejahteraan, mengalahkan penurunan nilai mata uang. Melihat keadaan bangsa dan negara ini, saya berpikir bahwa hal ini menjadi semakin penting untuk diusahakan.

Begini: korupsi dan manipulasi dan penyelewengan adalah tindakan yang mengurangi nilai. Orang selama ini berusaha untuk memberantas korupsi, tetapi sejauh ini tidak banyak hasil. Kenapa? Karena sekalipun korupsi bisa dihentikan, tidak ada nilai yang ditambahkan. Padahal kehidupan berjalan terus, dan pada saatnya memaksa orang yang tadinya anti korupsi untuk turut melakukan korupsi.

Untuk melawan pengurangan nilai, orang harus bekerja memberikan nilai tambah. Hanya dengan memberikan nilai tambah saja maka penghentian korupsi menjadi bermakna, di mana orang bisa melihat bahwa kehidupan menjadi semakin baik. Tidak semua orang bisa mengatasi korupsi -- saya kira kebanyakan dari kita tidak dalam posisi apa pun untuk memaksa korupsi berhenti. Kita berharap kepada komite yang dibentuk, berharap kepada orang-orang yang berada dalam bidang hukum melakukannya.

Tetapi saya yakin bahwa usaha ini sia-sia, kalau seluruh bangsa ini tidak mulai bekerja untuk memberikan nilai tambah, di mana pun mereka berada. Tapi, ini mendatangkan masalah lain: bagaimana orang bisa memberi nilai tambah, kalau mereka bahkan tidak tahu apa-apa? Berapa banyak orang yang mengerti sesuatu tentang keuangan, tentang berinvestasi, tentang manajemen, dan seterusnya?

Maka nilai tambah yang perlu diberikan adalah dengan memberikan edukasi yang baik. Banyak orang yang belum melek finansial, sekalipun telah lulus sebagai sarjana ekonomi. Saya sendiri bukan lulusan ekonomi, betapa saya berharap orang yang sudah belajar ekonomi dapat tahu lebih baik! Tapi pengalaman saya selama hampir 2 tahun di bidang finansial ini menunjukkan sebaliknya. Kenapa ya?

Kita membutuhkan pengetahuan ekonomi dalam konteks meningkatkan kemampuan setiap orang memberi nilai tambah, dalam berbagai aspek. Yang paling mudah diukur adalah yang berhubungan dengan uang, tetapi bukan hanya uang yang jadi ukuran. Jika suatu saat nilai mata uang turun, peningkatan nilai tambah yang dinyatakan dengan antara lain peningkatan produksi akan mengembalikan apa yang hilang.

Apa faktor kuncinya?

Belum lama ini saya membaca kembali buku yang ditulis Ibu Dorothy I. Marx, "Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa". Saya percaya, ini adalah faktor kunci, karena kebenaran Allah menjadi sumber segala nilai tambah yang dapat diberikan manusia. Ibu mengupasnya mendalam dari berbagai aspek, yang tidak akan saya bahas...jujur, ndak sanggup.

Kembali kepada Anda, para pembaca, pertanyaan 'untuk apa bekerja?' telah menjadi 'bagaimana memberi nilai tambah?' Saya tidak tahu semua jawaban. Saya pikir, setiap orang harus mencari jawaban lengkapnya sendiri, sesuai dengan bidangnya. Apa nilai tambah sebagai seorang dokter? Apa nilai tambah sebagai seorang manajer HRD? Apa nilai tambah sebagai seorang Akuntan? Apa nilai tambah sebagai seorang konsultan finansial? ...demikian seterusnya.

Semoga, ini juga menjadi pertanyaan Anda. Terpujilah TUHAN!

25 Agustus 2007

The Law of Attraction? Nggak lah...

Sekarang ini, banyak orang yang kelihatannya begitu bergairah menonton dan membaca buku The Secret. Kenapa? Karena, dari permulaan film ini mempresentasikan sebuah keyakinan (karena, memang bukan hal yang ilmiah) tentang "The Law of Attraction". Disebutkan bahwa hukum ini adalah sebuah hukum alam, yang seperti hukum gravitasi akan terjadi pada siapa saja, di mana saja, kapan saja... Wow!


Caranya sederhana. Kalau Anda menyukai sesuatu, maka sesuatu itu akan menyukai Anda. Kalau Anda memberi pesan kepada alam semesta (universe) bahwa Anda suka sesuatu, maka universe akan memberikannya kepada Anda, sesuai dengan kesukaan itu. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal yang positif, maka yang positif itu akan datang pada Anda. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal negatif, maka yang negatif akan datang.


Jadi, manusia adalah bagian dari universe, yang sanggup mengkomando universe. Karena hanya manusia yang bisa mengkomando universe, maka manusia adalah tuhan di dalam universe, di mana tuhan ada pada setiap orang. Caranya, percayalah dan yakinkanlah bahwa sesuatu itu telah menjadi milik Anda!


Woooww!


Sayangnya, realitas objektif tidak pernah menyatakan hal itu. Seorang yang dengan yakin menyatakan telah sembuh dari penyakitnya -- dia kena hyperthyroid -- sehingga ia menolak minum obat setiap hari, pada akhirnya meninggal karena hyperthyroidnya. Kata-kata positif akhirnya menjadi delusi, "saya sukses!" tapi yang didapat adalah kegagalan. Orang yang berhasil justru orang yang berani memikirkan apa yang mungkin akan menghambat dan menimbulkan kegagalan, karena itu mengantisipasinya lebih dulu dibandingkan yang lain.


Realtias objektif yang paling nyata adalah dalam hal keuangan. Semua orang berinvestasi dengan keyakinan bahwa besok nilainya akan bertambah dan bertambah. Tapi hanya investor sejati yang tahu bahwa apapun bisa turun, dan oleh karena itu justru berpeluang untuk mendapatkan hasil lebih besar. Orang yang serba-yakin-dan-positif justru jatuh dan kalah dalam keyakinannya.... atau The Law of Attraction tidak berlaku di bursa modal?


Dikatakan, universe tidak tahu apa yang baik atau buruk... ia hanya memberikan apa yang disampaikan. Tapi, pemikiran ini salah dalam dasarnya... karena banyak hal dalam pemikiran manusia "membendakan" suatu ketidak-beradaan. Jika universe ini memberi, apakah lalu ia mengambil juga? Bingung?


Nah, coba pikirkan tentang, misalnya, panas dan dingin. Atau terang dan gelap. Jika kita ingin panas, apakah panas akan datang? Jika kita ingin dingin, apakah dingin akan datang? Sebentar: panas mungkin datang, tetapi dingin itu adalah kondisi di mana tidak ada panas. Terang mungkin datang, tetapi gelap adalah kondisi di mana tidak ada terang. Kekayaan mungkin datang, tetapi kemiskinan adalah kondisi di mana tidak ada kekayaan.


Jadi, yang benar adalah bahwa 'kekayaan' itu pergi, bukannya kemiskinan yang datang, karena kemiskinan itu hakekatnya tidak exist. Ada kekayaan, atau tidak ada kekayaan, itu saja. Lalu, jika segala sesuatu menarik segala sesuatu, apakah ketiadaan dapat menarik ketiadaan? Tidak mungkin, karena apa yang tiada itu tidak dapat melakukan apa-apa. Ketiadaan tidak bisa melakukan apa pun, karena tidak ada. Ruang hampa tidak pernah membuat sekitarnya menjadi hampa juga.


Semua orang menyukai kekayaan (kecuali, orang yang berkeyakinan harus hidup miskin). Jadi apapun juga yang dimilikinya menjadi kekayaan baginya... tapi kemudian ada yang mengambilnya. Mengapa? Kemiskinan tidak bisa mengambil, karena kemiskinan adalah keadaan setelah kekayaan itu diambil dari padanya. Lalu, siapa yang mengambil? The Law of Attraction sama sekali tidak menjelaskan hal ini.


Yang benar adalah: bahwa ada kekuatan lain yang mengendalikan universe. Ada Tuhan yang mencipta. Ada iblis yang merampas. Tuhan adalah Sumber, Dia menyediakan. Sebaliknya iblis adalah lubang hitam yang menghisap segala sesuatu bagi dirinya sendiri, mengambil kehidupan manusia -- atau dengan kata lain, membunuh manusia. Begitulah kata Tuhan, bahwa iblis adalah pembunuh manusia. Jika mau disebut "the law of attraction" sebenarnya iblis adalah perwujudan sempurna, karena ia menarik segala sesuatu bagi dirinya sendiri, dan membuat orang menarik segala sesuatu untuk dirinya sendiri juga. Pemenang akhirnya tentu si iblis yang merampas jiwa-jiwa manusia.


The Law of Attraction mengajarkan orang untuk memberi pesan pada universe untuk datang pada dirinya; dengan kata lain, menarik segalanya bagi dirinya sendiri. Kesehatannya sendiri, kekayaaannya sendiri, kemakmurannya sendiri, dst... manusia lantas jadi tuhan yang menarik apapun, bukan menjadi anak  Tuhan yang memberi. apakah ini benar?


Lihatlah alam. Alam itu memberi, tidak menarik. Matahari memberi cahayanya. Pohon memberi buahnya. Udara mengalir dari tekanan positif ke negatif. Muatan listrik mengalir dari positif ke negatif. Segala yang positif adalah segala yang memberi, menyediakan. Segala yang negatif adalah segala yang menarik, menghabiskan. Manusia yang positif memberi dirinya bagi Tuhan, memberi dirinya bagi sesama, dan memberi dirinya bagi alam untuk memeliharanya.


Lihatlah sejarah. Kehidupan manusia bisa menjadi baik karena orang-orang yang bersedia memberi, bahkan ketika ia tidak mendapat apa-apa. Kesuksesan orang datang karena ia menyediakan, bukan karena memberi pesan untuk meminta. Dan seseorang bisa menjadi kaya karena ada orang lain yang menyediakan, bukan karena diminta.


The Law of Atttraction? Nggak lah...


Powered by Qumana


04 Agustus 2007

sudah lama

Sudah lama yah... menunggu diisi, menunggu dibaca. Sesukar menulisnya, sesulit itu juga membacanya...

23 April 2007

Tanggung Jawab dan Kemenangan

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Setiap orang menginginkan hidup yang lebih baik. Kalau ditanya pada saya atau pada Anda, kita semua dengan spontan akan mengangguk mantap mengatakan, "ya, saya mau hidup lebih baik." Kebanyakan dari kita mengartikan bahwa kita ingin hidup lebih sejahtera, lebih makmur, atau lebih kaya. Sebagian orang lagi mengartikannya bahwa kita ingin memiliki hidup yang lebih bermakna, ada artinya.

Karena, mungkin saja selama ini kita bergumul dengan masalah keseharian: bagaimana mencari makan hari ini? Bagaimana cara membayar uang kontrakan, atau uang sekolah anak? Bagi sebagian orang lain, hal-hal itu bukan suatu beban yang terlalu sulit, tetapi hidupnya pun terasa begitu-begitu saja, seperti putaran roda sepeda yang dibalik. Berputar cepat, tetapi tidak melaju kemana-mana. Kita melalui masa-masa baik dan masa-masa buruk, mengerjakan sesuatu dengan mudah namun kemudian menjadi susah, atau sebaliknya. Kita bergumul dengan banyak masalah, tapi setelah semuanya berlalu, kita sampai di mana? Untuk sesaat kita menemukan ketenangan, lalu kemudian kembali lagi dalam persoalan dan kesulitan lain.

Setelah setahun atau dua tahun atau tiga tahun, semuanya lantas menjadi suatu rutinitas. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Pengkotbah. Yang sekarang ada dahulu pernah ada, dan nanti akan ada lagi. Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita benar-benar menginginkan hidup yang lebih baik? Jika pada akhirnya kita hanya melakukan sesuatu yang berulang, dengan hasil yang kurang lebih tidak banyak berbeda, lantas apa yang berubah?

Maka, kata-kata "saya ingin hidup lebih baik," tak lebih dari slogan belaka. Itu hanya ide dalam pikiran, suatu ekspresi yang kita ungkapkan bagi diri sendiri dan orang lain, tanpa pernah benar-benar kita inginkan, benar-benar kita usahakan. Karena pada dasarnya kita tidak ingin melakukan hal-hal yang lain atau berbeda, kita tidak berani melangkah keluar dari apa yang sudah biasa membatasi kita -- bahkan ketika pagarnya sudah dicabut dan bekasnya tidak ada lagi. Kita dibelenggu oleh pikiran kita sendiri, atas nama kebiasaan dan tradisi yang mungkin kita tidak tahu lagi apa artinya. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, seperti seorang Tuan yang pergi ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.

Bagaimana jika hamba-hambanya itu adalah kita? Mari renungkan. Jika kita adalah orang-orang yang biasa melakukan sesuatu sesuai tradisi, seperti kebiasaan, maka kita akan menjadi hamba yang terbiasa duduk menunggu perintah dari Tuan. Jika kita tidak diberi perintah, kita tidak bergerak. Jika kita tidak mendapat penegasan akan tugas dan wewenang, kita memilih untuk duduk diam. Itu kebiasaan kita. Itu kebiasaan banyak orang, bahkan di jaman Tuhan Yesus dahulu.

Kita, dari segala orang lain di atas muka bumi ini, mendapat karunia karena TUHAN berkenan memilih kita, mengaruniakan segala berkat dan kasih karunia. Kita memperoleh hadiah terbesar dan terbaik dan termahal yang dapat dibayangkan: menerima darah Kristus yang menyelamatkan kita. Oh, betapa mahalnya! Betapa besarnya! Betapa baiknya! Ini memungkinkan kita keluar dari penjara perbudakan dosa, menjadi orang yang benar-benar merdeka karena Anak telah memerdekakan kita.

Bukan itu saja, kita juga menerima berbagai karunia yang diperlukan untuk hidup dengan benar. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Ef 2:10). Ya, ini bagian kita. Kemerdekaan yang kita terima juga membawa beban tanggung jawab untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, bahkan untuk segala hal yang tidak biasa kita lakukan.

Sekarang, Tuhan Yesus telah memberikan darah-Nya, daging-Nya, dan nyawa-Nya bagi kita. Kita bebas. Kita menerima talenta, karunia yang diberikan-Nya tanpa kita minta. Apakah kita lantas bersikap diam? Apakah kita mengatakan, bahwa kita sudah biasa begini dan tidak ada yang memerintah, maka sebaiknya kita begini-begini saja, diam saja? Lalu, kita menyembunyikan talenta yang kita terima itu, sambil merasa marah terhadap Allah?

Berapa lama kita sudah merayakan Jumat Agung dan Paskah? Berapa banyak kita sudah membaca dan merenungkan tentang penderitaan Kristus, diikuti oleh kebangkitan-Nya yang luar biasa? Tidakkah kita setiap tahun diingatkan, bahwa kita menerima talenta yang LUAR BIASA berharga, secara cuma-cuma?

Namun, kita duduk saja. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Belajarlah dari hamba-hamba sang Tuan! Ketika ia menerima talenta itu, ia tidak menerima visi atau target yang harus ia capai. Ia hanya tahu, bahwa ia bertanggung jawab atas harta yang dipercayakan kepadanya. Maka, ia melakukan sesuatu. Ia berusaha. Ia berpikir, merencanakan, mengerjakan, menghidupi. Ia mendapat 5 talenta, ia berusaha agar sedikitnya ia mendapat 5 talenta juga. Yang lain mendapat 2 talenta, berusaha agar sedikitnya mendapat 2 talenta juga. Perhatikan: tidak ada perintah di sana. Sang Tuan ada di luar negeri, tidak memberi instruksi spesifik tentang apa yang harus dicapai. Ini hanya masalah tanggung jawab, yang menimbulkan tekad untuk melakukan hal-hal yang lain, yang memberi hasil.

Kalau kita menerima yang luar biasa dari TUHAN, bukankah kita pun seharusnya mengerjakan keselamatan yang TUHAN sudah berikan? Atau kita lebih senang diam dalam kedamaian dan ketenteraman, bebas dari masalah dan hiruk pikuknya dunia? Tuhan sudah menyelamatkan kita sedemikian rupa, tidakkah kita pun seharusnya tergerak untuk sungguh-sungguh hidup dalam pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya?

Hidup yang lebih baik adalah hidup memenuhi cita-cita, hidup yang bertanggung jawab. Tuhan Yesus sudah memberikan KEMENANGAN atas dosa dan maut, dan seharusnya hidup kita berpadanan dengan kemenangan itu. Kita lebih besar dari dosa, lebih atas dari kuasa maut; siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?

Hidup ini bukan ban sepeda yang ditaruh terbalik, yang berputar cepat di udara. Bukan! Kita sedang menapaki suatu jalan, dan di sana ada tantangan, ada resiko, ada kesulitan. Pikirkanlah, bukankah hamba yang mengerjakan 5 dan 2 talenta itu dapat dengan mudah menghasilkan sejumlah yang sama? Tidak. Perhatikan jawaban hamba yang disebut jahat dan malas, bahwa ternyata hamba-hamba yang lain harus bersusah payah menabur dan menuai, menanam dan memungut. Bisakah kita bayangkan bagaimana resiko yang dihadapi hamba-hamba yang baik dan setia ini? Bisa saja, ladang mereka diserang hama, dimakan belalang. Bisa saja, ada banjir besar yang merusakkan ladang. Barangkali juga mereka harus rela menanggung kerugian-kerugian yang terjadi, karena usaha manusia ada jatuh dan bangunnya.

Pemberian hamba-hamba kepada Tuannya adalah saat-saat kemenangan, bahwa inilah hasil dari jerih payah kami, kesusahan kami, juga kerja keras kami. Inilah tanggung jawab yang kami berikan atas harta yang telah dititipkan, di mana semuanya berkembang 100%. Untuk itu mereka harus berani mengambil langkah, mengerjakan hal-hal baru, menghadapi tantangan baru. Itulah yang dihargai oleh Tuan. Itulah sebabnya, kata-kata Tuan itu terdengar penuh rasa haru, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Oh ya, betapa bahagianya Sang Tuan! Betapa bahagianya sang hamba!

Seperti para hamba, kita pun pada mulanya hanya orang yang tidak punya apa-apa, yang berputaran di bawah matahari dunia. Tapi Tuhan sudah memilih kita, mengangkat kita, memberi kita kepercayaan. Paskah kali ini, apa yang berbeda yang kita berikan?

Sudah waktunya kita melangkah keluar dengan penuh keberanian. Rakyat di negeri ini masih banyak yang buta dan tuli akan Tuhan, masihkah kita ragu mengetuk pintu dan memberitakan Kabar Baik? Rakyat di negeri ini masih banyak yang hidupnya kacau dan melarat, bahkan mereka tidak bisa mengelola harta mereka sendiri. Masihkah kita mau mendidik orang dan mengajarkan tentang kebenaran dan keadilan serta cara-cara yang lebih bijak untuk mengelola kehidupan? Masihkah kita peduli bahwa ada banyak anak bangsa yang jatuh dalam dosa, yang terbelenggu oleh kuasa-kuasa roh jahat dunia? Masihkah kita peduli bahwa TUHAN memberikan kita banyak karunia, bukan hanya untuk bersenang-senang di balik dinding-dinding gereja?

Besok kita merayakan Perjamuan Kudus, di hari Jumat Agung. Lusanya, kita merayakan Paskah, kebangkitan Kristus. Kemenangan kita. Kita merayakannya dengan meriah, dengan khidmat, dengan akbar, dengan megah. Kita mencari kebaikan bagi kita, kedamaian bagi kita, keselamatan bagi kita. Di luar itu, kita mengerjakan segala sesuatu seperti apa adanya. Yang bekerja dengan manipulasi, tetap memanipulasi. Yang melayani dengan tinggi hati, tetap tinggi hati. Kita mempersiapkan Paskah seperti juga tahun-tahun yang lalu, dengan Paduan Suara dan Drama dan kotbah yang menggetarkan, tapi kita masih saja tetap sama.

Saatnya, Paskah kali ini kita benar-benar berdiri, bergerak, karena ada banyak pekerjaan baik yang harus kita lakukan. Sudah waktunya kita berhenti dari kebiasaan kita, seperti kebiasaan meributkan urusan-urusan kecil dan soal tersinggung dan harga diri, agar kita bisa mengangkat wajah dan memandang ladang yang sudah menguning. Marilah kita bekerja, meninggalkan segala beban kita dengan pandangan dan tujuan yang terarah pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Selamat Paskah!


Powered by Qumana

19 Januari 2007

Adam Air

Peristiwa menghilangnya Adam Air menjadi misteri di awal tahun 2007. Mengapa pesawat itu bisa jatuh? Kenapa sampai sekarang masih belum juga ditemukan badan besarnya?



Sampai sekarang, yang ada hanyalah serpihan-serpihan. Mengapa jadi serpihan?