Cari Blog Ini

03 Januari 2008

HARAPAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN

Artikel ini merupakan bahan dari talkshow dalam acara Morning Coffee di radio Maestro FM 92.5 Bandung, pada tanggal 3 Januari 2008, pk 08:05 - 08:55

=======================

Setiap orang yang sudah dewasa memiliki dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari kedewasaannya, yaitu adanya HARAPAN serta TANGGUNG JAWAB dalam kehidupan.

Harapan
Dalam hal harapan --atau kita sebut IMPIAN-- inilah yang memotivasi orang untuk berusaha terus, berjuang terus. Kita mempunyai pengharapan di Sorga, impian untuk mendapatkan mahkota dari Tuhan. Kita mempunyai pengharapan untuk kehidupan yang baik di dunia. Semua ini tidak akan datang begitu saja, sebaliknya seperti kata penulis Ibrani,

Ibr 12:1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita.

Ada banyak orang yang menyaksikan kehidupan kita, seperti awan yang mengelilingi. Bagaimana kita melakukan perlombaan ini? Kita harus menujukan mata kita kepada Kristus, lalu kita berlari, jangan menjadi lemah dan putus asa. Pengharapan berkaitan dengan tahan uji, dengan ketekunan (Roma 5:4) -- ini semua adalah sesuatu yang diperjuangkan.

Harapan Berkaitan Dengan Uang
Lebih jauh lagi, mari kita lihat bagaimana kehidupan orang di masa sekarang. Aktivitas manusia senantiasa berkaitan dengan uang, sebagai alat tukar untuk segala hal. Semua perencanaan untuk sesuatu yang kelak diperoleh, diukur dengan sejumlah uang. Kita melihat pendidikan membutuhkan uang, kesehatan membutuhkan uang, transportasi membutuhkan uang, bahkan pelayanan gerejawi pun membutuhkan uang. Jangan keliru: bukan uangnya yang kita butuhkan, melainkan pendidikan, kesehatan, transportasi, dan berjalannya pelayanan, serta segala hal lainnya. Uang hanyalah alat tukar, sekaligus alat ukur dari usaha kita untuk mendapatkan dan memberikan segala hal baik selama kita hidup di dunia modern ini.

Jadi, harapan untuk masa depan dapat diukur dengan uang juga -- misalnya, orang tua menginginkan pendidikan anak yang baik, kuliah di luar negeri -- yang dijabarkan dengan sejumlah uang yang perlu disediakan di masa depan. Mungkin orang tua kelak harus menyediakan dana Rp 1 Milyar, agar harapannya terpenuhi. Inilah yang perlu diperjuangkannya mulai dari sekarang, karena mungkin orang tua tidak akan sanggup menyediakan uang sebanyak itu dalam waktu singkat.

Sekarang, apa yang kita harapkan di tahun 2008? Barangkali waktunya sudah terlalu singkat untuk mencapai sesuatu yang benar-benar besar. Namun, kita masih mempunyai banyak harapan di tahun-tahun yang akan datang, barangkali ketika anak kita masuk kuliah di tahun 2018, sepuluh tahun lagi. Maka kita bisa menaruh sebuah harapan lain, agar tahun ini menjadi awal dari pengelolaan keuangan yang mapan, yang benar, yang membuat kita memberi yang terbaik bagi keluarga kelak. Kita boleh berharap, tahun ini kita bisa melangkah untuk mendapatkan penghasilan lebih baik. Melakukan investasi yang lebih baik. Mengelola uang kita lebih baik. Hasilnya?

Bukankah indah sekali, memikirkan bagaimana anak-anak kita bisa mendapatkan pendidikan terbaik di negeri ini? Atau mungkin kita akhirnya bisa memperoleh rumah yang kita idam-idamkan? Atau kelak, di saat kita pensiun, kita bisa menghabiskan waktu keliling dunia, mendapatkan sarana pemeliharaan kesehatan yang baik selama bertahun-tahun, tanpa membebani siapa pun juga?

Tanggung Jawab
Tentu saja, beberapa dari kita mungkin tidak menginginkan anak kuliah ke luar negeri, karena berbagai alasan. Mungkin orang tua tidak berharap seperti demikian. Tetapi, kalau harapan itu diturunkan, kita menemukan bahwa ada TANGGUNG JAWAB yang mengharuskan kita memenuhi kebutuhan, baik diri kita sendiri, keluarga kita, gereja, atau masyarakat di sekitar kita. Bagi sebagian orang, harapan dapat diabaikan -- orang bisa berubah pikiran tentang apa yang diimpikannya, bukan? -- tetapi tanggung jawab tidak dapat dikurangi.

Orang yang sudah mempunyai anak, misalnya, bertanggung jawab untuk merawat, membesarkan, dan mendidik anaknya. Orang yang sudah dewasa bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Orang yang mempunyai talenta bertanggung jawab untuk memberikan hasil dari talentanya itu. Kita mengenal baik perumpamaan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus tentang majikan yang memberikan talenta kepada hamba-hambanya. Perhatikanlah: mengembalikan talenta bukan suatu pilihan, melainkan keharusan.

Bertanggung Jawab Mengembalikan Investasi Allah
Yang menarik disini, yang disebut 'talenta' sebenarnya adalah UANG; talenta bukanlah mata uang, tapi satuan nilai uang. Kalau dikonversikan dengan uang sekarang, nilainya kira-kira US$ 960, atau sekitar Rp 9.024.000 (1$ = Rp 9400). Dalam perumpamaan itu, setelah memberikan sejumlah talenta, maka sang majikan pergi untuk jangka waktu yang lama (Mat 25:19). Kita melihat, bahwa dengan jangka waktu yang lama, hamba-hamba yang baik dapat mengembalikan talenta beserta hasilnya 100%.

Kalau dibaca dengan pemahaman modern, perumpamaan ini berbicara tentang INVESTASI. Sang majikan berinvestasi pada hamba-hambanya, dengan suatu kewajiban untuk mengembalikan bunga 100%. Kalau kita yang bertanggung jawab sebagai hamba, apa yang kita lakukan? Perhatikan juga konteks di mana perumpamaan itu diberikan: Tuhan Yesus sedang berbicara tentang Kerajaan Sorga pada hari Dia kembali, saat akhir jaman. Kita juga HARUS berinvestasi atas segala hal yang telah kita miliki, yang harus kita pertanggungjawabkan.

Tanggung Jawab Mengelola Keuangan
Di sinilah kita melihat bahwa orang percaya bertanggung jawab untuk mengelola keuangannya. Kita harus merencanakan keuangan kita. Kita tidak bisa mengatakan, bahwa kita hanya perlu duduk diam dan melihat Tuhan memenuhi kebutuhan kehidupan kita. Rasul Paulus pun memperingatkan,

2 Tes 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.

Kita HARUS mengambil jalan terbaik dan benar untuk memenuhi tanggung jawab kita. Orang tidak bisa berharap untuk berjudi dan memperoleh apa yang dia butuhkan. Kita harus melakukan apa yang benar, berupaya memenuhi kebutuhan kita, baik di masa kini maupun masa depan. Untuk itu, kita perlu tahu apa yang harus kita hadapi, seberapa besar kebutuhan kita, seberapa besar uang yang kelak harus disediakan.

Lalu, bagaimana menyediakannya? Banyak orang Kristen yang menutup mata, tidak mau belajar, sebaliknya hanya berkutat dalam apa yang diketahuinya saja. Ini tidak bertanggung jawab, karena sikap ini serupa dengan hamba yang telah berpandangan negatif lalu menyimpan satu talentanya dalam lobang di tanah. Sikap bertanggung jawab menuntut orang untuk terus memahami berbagai fasilitas dan kemungkinan yang ada, mengerti bahwa ada resiko-resiko yang harus dihadapi dan kesempatan-kesempatan untuk digali.

Tanggung Jawab Memahami Investasi
Jika orang mau belajar, maka ia akan tahu bahwa sebenarnya setiap investasi mengandung resiko, dan tidak mungkin menjamin suatu hasil yang besar dalam jangka pendek. Sekarang ini banyak orang --termasuk orang Kristen-- yang terjebak dalam investasi yang dijanjikan akan mendapatkan pengembalian tinggi, 5%-10% per bulan, yang kemudian ternyata suatu modus penipuan, uangnya lantas hilang dibawa kabur. Banyak yang tidak tahu bahwa Pemerintah melalui Departemen Keuangan sebenarnya telah membuat larangan memberi jaminan bunga dalam suatu investasi. Kalau ada ilustrasi perhitungan hasil dalam investasi, itu bukan kontrak, tidak boleh dijamin. Sayang, masih banyak yang mencari tempat berinvestasi 'serba terjamin'.

Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak tahu bahwa dalam pasar modal yang tidak dijamin itu, tingkat pengembalian rata-rata selama 10 tahun terakhir ini lebih tinggi daripada inflasi, lebih tinggi daripada suku bunga bank. Ada investasi dalam bentuk yang sangat berfluktuasi seperti saham, justru secara statistik menunjukkan rata-rata peningkatan yang selalu positif dalam jangka panjang. Dalam bentuk yang lebih stabil, pasar obligasi di Indonesia tetap menunjukkan antusiasme tinggi. Sayang, banyak orang Indonesia yang tidak tahu!

Jadi, siapa pemain-pemain besar di pasar modal kita? Orang-orang asing! Mereka sanggup mengenali pasar modal yang mempunyai pertumbuhan tinggi dan baik di Indonesia, mereka mengusahakan agar dana mereka mendapatkan hasil di negeri ini. Sementara kita, yang menjadi rakyat Indonesia, justru banyak yang mencari investasi di negara asing, yang tidak kita pahami, yang sebenarnya tidak lagi bisa memberikan imbalan yang baik atas investasi yang dilakukan. Sekali lagi, ini bukan sikap yang bertanggung jawab. Jika kita berkutat dengan apa yang kita ketahui, menyembunyikan kemalasan dan ketakutan kita untuk belajar dan memahami, kita tidak bertanggung jawab.

Kalau kita bertanggung jawab, kita bisa mengetahui bahwa ternyata rata-rata reksadana saham di Indonesia selama 10 tahun terakhir memberi hasil rata-rata tidak kurang dari 40%. Ini angka yang besar, jauh di atas rata-rata reksadana saham di Amerika, misalnya, yang berkisar kira-kira 15% saja. Kita juga bisa mengetahui cara-cara yang lebih ringan dan terjangkau untuk memperolehnya -- karena banyak juga orang yang mundur dari berinvestasi ketika tahu bahwa modal awal yang diminta mencapai angka puluhan, ratusan juta rupiah. Padahal, tidak harus selalu demikian! Ada cara yang lebih mudah, lebih sederhana, dan terjangkau, yang bisa kita ketahui jika kita bersedia untuk mencari tahu, mendengarkan, meneliti, dan bersikap positif.

Dengan berinvestasi, orang bisa mendapatkan pengungkit (leverage) untuk memenuhi kebutuhannya. Kalau kelak ia membutuhkan Rp 1 Milyar, misalnya, ia tidak perlu menabung sebanyak itu. Dengan berinvestasi dan jangka waktu yang cukup panjang, dalam kedisiplinan diri, orang dapat mengatur agar ia menyediakan sepertiga saja, sisanya didapat dari hasil investasi. Ini jika orang dapat mengatur pengeluarannya, menjaga agar investasi tetap dipertahankan sesuai rencana. Sanggupkah kita melakukannya?

Tanggung Jawab Mengelola Arus Kas
Sekarang ini, masih banyak orang yang merasa tidak sanggup. Apa yang terjadi? Mereka mengatakan, bahwa keadaan hidup saat ini pun terlalu sukar untuk memenuhi kebutuhan. "Hard to make ends meet," begitulah istilahnya. Tapi, kalau di masa kini hidup terlalu sulit untuk dipenuhi, apakah lantas orang dibebaskan dari tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan di masa mendatang? Apakah karena sekarang hidup susah, kita tidak lagi perlu menyekolahkan anak, tidak perlu memberikan perawatan kesehatan, tidak perlu menyediakan dana yang diperlukan?

Ada orang yang berharap semua selesai dengan berdoa. Tetapi ia sendiri tidak berusaha untuk menemukan cara yang lebih baik mengelola keuangannya. Ia tidak berinvestasi, sebenarnya bukan karena tidak bisa, melainkan karena tidak mau belajar untuk mengatur pengeluaran. Kita lihat, sikap tidak bertanggung jawab sebenarnya memiskinkan orang, dan betapa sering kita melihat orang miskin justru membelanjakan uangnya dengan cara yang tidak bertanggung jawab! Ini seperti lingkaran setan, yang akan meminta korban anak-anak kita, generasi penerus kita.

Kesulitan keuangan bukanlah hal yang baru; ini sudah lama terjadi. Orang sudah menemukan berbagai macam cara untuk mengatasinya, ada petunjuk-petunjuk yang bisa dilakukan semua orang, asal orang itu disiplin dan tekun. Orang yang bertanggung jawab akan mengelola arus kasnya dengan baik, mereka menyehatkan keuangan keluarga, menyehatkan keuangan usaha. Siapa yang tidak ingin mempunyai keuangan yang sehat? Tapi, siapa yang telah melakukan upaya-upaya yang sepadan untuk hal itu? Ini adalah bagian yang harus orang lalui, membutuhkan ketekunan dan tahan uji.

Bereskan arus kas, maka kita dapat memenuhi tanggung jawab kita. Lebih jauh lagi, maka kita dapat mencapai harapan di masa depan. Siapa yang tidak menginginkan rumah yang lebih baik, melalui masa pensiun tanpa masalah keuangan -- sementara ada banyak sekali orang tua sekarang yang kehidupannya harus ditopang oleh anak-anaknya, padahal mereka sendiri masih bermasalah?

Tanggung Jawab Proteksi Keuangan
Dalam hubungan keluarga dan masyarakat, tanggung jawab keuangan tidak hanya pada diri sendiri saja. Ketika seseorang telah sanggup berproduksi, ia mula-mula menyediakan kebutuhan dirinya. Kemudian, ketika orang memperluas lingkup diri dengan berkeluarga, ia harus menyediakan kebutuhan keluarga: istri, anak-anak, dan segala kebutuhan rumah tangganya. Kita banyak memperhatikan masalah keluarga, berawal dari masalah keuangan. Tidak sedikit penyelesaian konflik suami istri harus melibatkan penasehat atau konselor yang memahami bagaimana mengatur uang. Tetapi dalam beberapa kasus, masalahnya timbul karena faktor resiko, yang tidak mungkin dihindari orang.

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa semua orang pasti ada dalam dua kemungkinan: yang pertama orang itu menjadi semakin tua, yang kedua orang itu meninggal. Menjadi semakin tua berarti timbulnya kebutuhan-kebutuhan di masa depan, yang berkaitan dengan usianya, kondisi tubuhnya, penyakit yang dideritanya, dan sebagainya. Tapi kalau orang itu meninggal, maka segala produktivitasnya berhenti. Sekarang pertimbangkanlah: siapa yang tahu kapan ia akan meninggal? Bagaimana pun juga, manusia yang hidup PASTI akan meninggal, tapi kapan waktunya terjadi? Orang bisa meninggal karena kecelakaan, karena penyakit, atau karena kejahatan. Siapa yang bisa memastikan bahwa hal-hal buruk tidak akan terjadi pada diri kita?

Sebagai anak-anak TUHAN, seharusnya kematian tidak menakutkan kita. Memang kita tidak perlu takut akan keselamatan jiwa -- ini sudah dijamin oleh Tuhan kita Yesus Kristus. Tetapi, kalau kita meninggal, bagaimana dengan kesejahteraan keluarga yang kita tinggalkan? Kalau kita meninggal di usia tua, kita bersyukur karena tidak ada lagi beban yang harus kita pikul. Tapi bagaimana kalau kita meninggal di saat kita masih produktif? Orang-orang yang bergantung secara keuangan pada kita tentu akan sangat terganggu. Kesejahteraan mereka terancam. Kita sudah melihat contohnya: janda harus menjual rumah, anak-anak berhenti sekolah, serta masalah keuangan terjadi karena meninggalnya sang ayah, sumber nafkah keluarga. Dapatkah orang yang sungguh mengasihi keluarganya bersikap tidak peduli dan hanya berkata, "biarlah Tuhan yang memelihara keluarga saya." Apakah ia sungguh-sungguh mencintai keluarganya?

Maka, sikap bertanggung jawab akan membuat orang mengadakan proteksi keuangan atas jiwanya. Dalam keadaan tertentu, orang juga memahami bahwa dia mempunyai resiko hidup -- resiko mengalami penyakit kritis, resiko masuk rumah sakit, resiko mengalami kecelakaan yang mengakibatkan cacat -- yang perlu ditanggungnya. Tentu saja, resiko dari satu orang ke orang lain akan berbeda, sesuai dengan kondisi dan situasinya masing-masing. Disinilah fungsi asuransi, yaitu untuk mengambil alih resiko finansial atas diri seseorang. Di masa kini, asuransi telah menjadi suatu hal yang umum, yang paling logis untuk dilakukan. Kalau kita perhatikan negara-negara maju, Amerika, Eropa, Jepang, semuanya sudah sadar pentingnya asuransi. Di Jepang, rata-rata orang dewasa mempunyai 6 polis asuransi. Mereka menambahkan polis baru setiap kali nilai ekonomi yang dimilikinya bertambah, karena perlindungan itu harusnya membesar sesuai dengan kemajuan yang dicapai oleh seseorang.

Sayangnya, kita masih menemukan sejumlah praktek yang tidak terpuji dalam dunia perasuransian di Indonesia. Masalahnya, orang Indonesia tidak cukup belajar seluk beluk asuransi, karena di sini tidak diajarkan di sekolah, tidak seperti di negara yang sudah maju. Karena tidak tahu, banyak orang salah paham, dan celakanya mereka tidak mencari tahu lebih dalam. Kita bisa lihat, ini pun suatu sikap yang tidak bertanggung jawab, di mana orang bisa jatuh dalam dua ekstrim yang sama buruknya: yang pertama adalah sikap anti-asuransi secara total, yang menyatakan "pokoknya TIDAK atas asuransi". Di sisi ekstrim lain adalah sikap total-berasuransi yang menerima apa saja yang ditawarkan oleh agen asuransi, tanpa sedikitpun berupaya memahami apa yang didapatkannya. Sikap bertanggung jawab akan menempatkan asuransi pada porsinya, yaitu sebagai proteksi keuangan atas keluarga kita. Kita tidak dapat melepaskan diri dari pertimbangan tentang keadaan kita sendiri, memahami resiko yang kita hadapi, dan mengambil sikap yang sesuai. Kalau kita tahu bahwa kita membutuhkan proteksi sebesar Rp 1 Milyar, kita tidak akan membuat proteksi yang nilainya hanya Rp 100 juta saja.

Belajar Bertanggung Jawab
Demikianlah, kita sudah melihat bahwa harapan dan tanggung jawab kita dalam bidang keuangan personal meliputi tiga hal: Investasi, Arus Kas, dan Asuransi. Hal-hal ini penting; tidak cukup kalau kita hanya menyebutkannya saja. Sebaliknya masing-masing membutuhkan proses belajar, dilanjutkan dengan keputusan-keputusan untuk bertindak sesuai. Di dalam hal inilah kita mengerti bahwa keputusan yang kita ambil berkaitan dengan iman Kristen. Karena untuk melakukan investasi yang benar, mengatur arus kas dengan benar, dan mengambil asuransi yang sesuai, orang sebenarnya membutuhkan iman, kepercayaan bahwa Tuhan memang memelihara dan mempersiapkan segala hal baik untuk kita kerjakan. Mengelola keuangan adalah bagian dari menjadi dewasa di dalam iman -- untuk orang yang baru percaya, Tuhan mungkin memberikan susu, segala berkat yang datang begitu saja. Tetapi ketika orang semakin dewasa, Tuhan semakin melepaskan dia, agar orang itu mengambil keputusan sendiri.

Apakah hal ini mudah? Akan berbeda untuk orang yang satu dibandingkan orang lain. Kita semua berangkat dari situasi yang berbeda, di mana harapan dan masalah kita berbeda. Tetapi ada satu hal yang sama: kita harus mempertanggungjawabkan talenta yang Tuhan sudah berikan. Talenta itu mencakup diri kita, bakat kita, keterampilan kita, dan...ya, uang kita juga. Dan kita bertanggung jawab untuk mencapai harapan kita sendiri, meraih cita-cita kita sendiri. Tuhan memang akan membantu kita, tetapi kita harus dalam posisi bergerak, berusaha. Tuhan tidak akan membantu orang yang tidak mau bergerak, yang tidak cukup berani untuk melangkah. Ia sudah menyerahkan Anak-Nya yang tunggal sebagai Juruselamat, menebus kita dengan darah-Nya yang mahal -- lalu apakah kita masih tetap terlalu takut untuk berupaya, mengerjakan segala sesuatu?

Jangan kuatir, Tuhan tidak menyuruh anak-anaknya untuk langsung berlari, sementara kita masih merangkak. Tapi dari merangkak kita akan belajar berdiri, walau ada resiko jatuh -- rasanya sakit. Ketika kita mulai belajar berjalan, lalu berlari, kalau jatuh akan lebih sakit lagi. Mengatur uang yang pas-pasan mungkin awalnya terasa sakit, demikian juga kerumitan yang harus dihadapi dalam mempelajari berbagai pilihan investasi. Tapi ini semua kita butuhkan untuk kemandirian kita, hingga kita sanggup bertanggung jawab dengan sepenuhnya sebagai orang dewasa. Di saat itu kita dapat dengan bangga mengatakan, bahwa kita sudah tahu. Sudah mengalami. Dan kita bisa melihat bahwa apa yang kita tabur kini dapat kita tuai, dengan hasil yang berlipat ganda, menjadi berkat bagi orang di sekitar kita, bagi masyarakat. Dan demikianlah, kita pun memuliakan TUHAN yang sudah memberikan semuanya!

21 Desember 2007

Globalisasi Di Tangan TUHAN

Di saat globalisasi telah menjadi kenyataan, pertanyaan penting yang sering ditanyakan adalah "apa sikap orang Kristen?" Di satu sisi, pertanyaan ini berkonotasi bahwa seharusnya orang-orang Kristen memberikan respon yang berbeda. Seharusnya orang yang mengaku "Tuhan beserta saya" dapat memiliki sikap yang lain dalam menghadapi globalisasi. Kalau sikapnya masih sama saja, lalu apa makna dari keberadaan Tuhan di sampingnya itu? Lagipula, seharusnya ada rejeki lebih, rahmat lebih, berkat lebih dimiliki oleh orang-orang Kristen -- semuanya menjadi alasan bagi orang Kristen untuk berperan lebih banyak. Maka, tidak sedikit orang yang menaruh harapan lebih tinggi kepada mereka yang mengaku Kristen, apalagi pernah membagikan Firman Tuhan atau menyampaikan renungan. Seharusnya orang Kristen menjadi sumber rejeki (baca: uang) yang menjadi jalan keluar kesulitan masyarakat.


Pandangan ini mempunyai dua kesalahan yang mendasar. Yang pertama, kekayaan material bukan alasan dari penyertaan Tuhan. Orang tidak menjadi Kristen agar mendapatkan kekayaan material -- dapat uang, mobil, rumah, kemajuan usaha, peningkatan laba -- sebaliknya justru ada tuntutan bagi pemilik kekayaan untuk memakainya demi Tuhan. Kita menemukan tuntutan ini ketika Tuhan Yesus bertemu dengan orang muda yang kaya raya:


Luk 18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."


Perhatikanlah, orang muda ini telah menjadi pemimpin dan kekayaannya luar biasa. Ia juga telah melakukan semua tuntutan religius, sehingga di mata kebanyakan orang Israel, ia adalah teladan yang baik. Tapi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kekayaan orang itu menghalanginya masuk Kerajaan Allah. Isu ini begitu mencemaskan para murid -- kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan? Jawaban Tuhan Yesus berdasarkan pada kekuasaan Allah: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah." Hanya oleh kuasa Allah, maka kekayaan tidak menghalangi orang mendapat hidup kekal, karena itu tidak mungkin kekayaan menjadi tujuan orang percaya.


Kesalahan yang kedua terletak pada penyebab perubahan: bukan orang Kristen yang membuat kehidupan lebih baik. Kalau ada sesuatu hal yang dihasilkan oleh seorang Kristen, maka hal itu membuktikan bahwa Tuhan berkuasa, Dia hidup dan berkarya. Orang Kristen itu sendiri tidak memiliki kemampuan lebih dari apa yang sudah diberikan, sebagai manusia ia tetap memiliki kelemahan dan melakukan kesalahan. Penyertaan Tuhan tidak membuat seseorang menjadi seperti Tuhan, atau mempunyai otoritas yang merupakan hak prerogatif Allah sendiri.


Kita perlu memahami bahwa rancangan Allah jauh ada di luar rancangan manusia. Allah bisa menolak orang muda yang kelihatannya begitu baik, teladan yang luarbiasa, hanya karena kekayaannya sangat banyak. Tetapi Allah juga bisa memilih orang yang berdosa, yang menyetujui kekerasan dan aniaya, bahkan menangkapi orang-orang Kristen sehingga namanya cukup untuk menterror orang yang mendengarnya. Orang jahat semacam ini pantasnya mati, tetapi seperti yang pernah dinubuatkan oleh nabi Yesaya:


Yes 55:7-9 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.


Saulus dahulu menjadi orang semacam itu, tetapi ia kemudian dipakai oleh TUHAN, selanjutnya berganti nama menjadi Paulus. Rasul Paulus. Pada diri orang ini ada semua ilmu, semua pengetahuan yang telah dipakai untuk menyiksa umat Tuhan. Tetapi dengan rancangan TUHAN, segala yang dipahaminya menjadi sesuatu  yang luarbiasa baik dalam mengembangkan Kerajaan Allah. Sekali lagi, bukan Paulus yang dapat menepuk dada atas segala kemampuannya. Ia sendiri menyatakannya demikian:


2 Kor 3:4-5 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.


Kalau Allah bisa memakai seorang Saulus menjadi Paulus, maka Ia juga dapat memakai segala hal yang semula nampak buruk, mengancam, menjadi suatu kebaikan. Yang penting adalah kita tidak melupakan apa yang paling penting: kita tidak mengejar kekayaan (dan memakai 'tangan Tuhan' sebagai alat untuk mendapatkannya) dan kita mengakui bahwa semua yang ada dapat dipakai oleh TUHAN untuk melaksanakan maksud-Nya. Kita tidak berotoritas untuk menentukan apa kehendak Tuhan -- kalau melakukan seperti demikian, apa bedanya kita dengan dukun-dukun mistik yang bisa memakai 'kekuatan gaib' untuk mewujudkan apa yang mereka kehendaki? Sebaliknya, kita mengikuti jalan yang terbuka di depan kita, sambil tetap berpegang kepada prinsip-prinsip yang Tuhan berikan, memakai ukuran kebenaran yang berasal dari Firman Allah untuk memutuskan.


Jadi, bagaimana kita melihat tangan Allah bekerja dalam globalisasi? Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya:


Mat 28:18-20 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Perintah ini berkaitan dengan globalisasi. Kata-kata "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" telah merobohkan tembok-tembok pembatas, tidak ada lagi satu pun bangsa yang tidak layak atau tidak berhak menjadi murid Kristus. Perintah ini telah membawa Injil ke seluruh dunia, hingga saat ini kira-kira sepertiga umat manusia di bumi adalah orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, walau ada banyak sekali denominasi dan aliran dan agama. Tetapi, ini baru satu bagian pertama dari pesan-Nya. Bagian kedua adalah tentang pembaptisan -- suatu pernyataan seseorang telah meninggalkan kehidupan lamanya dan memasuki hidup baru serta menjadi anggota gereja. Bagian ketiga adalah penerapan standar perilaku yang Tuhan Yesus berikan, "ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."


Dalam banyak aspek, kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi dalam globalisasi sebenarnya cocok dengan jalan Tuhan. Seperti dahulu orang Romawi telah membuat jaringan jalan yang baik sehingga memajukan penyebaran Injil di seluruh kekaisaran Romawi, demikianlah hubungan yang tercipta dalam globalisasi memungkinkan kerja sama dan pengerjaan yang dahulu tidak pernah terpikirkan. Bayangkan, sekarang ini orang-orang dari berbagai tempat yang sangat berjauhan dapat berkolaborasi untuk mengadakan proyek penginjilan bersama. Teknologi komunikasi dan informasi membuat orang dapat mengirimkan pengajaran Kristen kepada berjuta-juta orang, dalam bentuk berita elektronik yang disebarkan melalui mailing list. Kerja sama juga memudahkan koordinasi terjadi, menyelaraskan aktivitas di berbagai-bagai belahan dunia secara instan. Sangat cepat dan langsung, karena sekarang orang dapat saling berkirim sms dari satu hp ke hp lain di negara dan benua yang berbeda.


Dalam globalisasi, memang dapat muncul individu-individu yang mempunyai pengaruh yang secara ekstrim mempengaruhi dunia, terutama di bidang ekonomi. Sekali lagi, kita perlu mengingat bahwa TUHAN sanggup menyentuh orang-orang semacam itu dan memakai mereka sesuai kehendak-Nya. Jadi, ketika sebagian orang merasa ngeri memikirkan bahwa globalisasi telah membuat beberapa orang menjadi 'raja' yang besar, kita dapat dengan yakin berpegang bahwa Tuhan dapat memakai 'raja' itu untuk melakukan apa yang Dia mau. Ini bukan sesuatu yang baru, sebenarnya kita sudah melihat bagaimana Allah memakai raja-raja besar jaman dahulu.


Ezr 1:1 Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini:


Pikirkanlah keunikan dari pernyataan ini: betapa seorang Koresh (Cyrus) penguasa kerajaan Persia yang besar dipakai TUHAN untuk menggenapkan firman seorang nabi dari sebuah bangsa  yang kecil, yang tidak sampai sepersepuluh luas kerajaan Persia saat itu. Tidak ada alasan untuk meragukan kuasa Tuhan di atas semua penguasa-penguasa ini, maka Tuhan juga dapat diandalkan untuk mengendalikan para 'raja' di jaman sekarang, baik untuk memberkati maupun untuk mengutuki. Baik untuk memberi maupun untuk menghukum. Meninggikan atau merendahkan.


Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa Tuhan membiarkan manusia menjadi susah karena globalisasi? Tetapi untuk pertanyaan ini, dapat juga ditanyakan, "mengapa tidak?" Ketika globalisasi terjadi, prestasi satu bangsa dengan bangsa lain dipertandingkan. Bangsa yang satu telah berusaha dengan lebih keras, lebih disiplin, lebih kreatif, bersedia memberikan lebih banyak. Bangsa yang lain bekerja lebih malas, lebih kacau, bekerja 'asal bapak senang', dan bersikap pelit serta penuh hitung-hitungan. Wajar bukan, jika bangsa yang pertama lebih berhasil daripada bangsa yang terakhir disebut?


Kita tidak bisa mengatakan, "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung," karena kita tidak tahu hari esok. Kita tidak tahu, apakah kita masih dapat tetap hidup sehat serta berusaha sampai tahun depan. Kita tidak tahu, apakah kita dapat berdagang dan betul-betul menerima keuntungan. Bagaimana jika kita meninggal nanti malam? Bagaimana jika ternyata ada pesaing dari negara lain, yang mustahil kita lawan karena mempunyai struktur harga yang jauh berbeda? Tetapi satu hal yang dapat kita pegang adalah: tanggung jawab kita adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita harus melakukan perbuatan baik yang dapat kita lakukan, karena:


Yak 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.


Di saat kita menerapkan nilai-nilai yang Tuhan berikan, maka kita telah mempunyai kunci untuk menjangkau seluruh dunia karena di sanalah ada kuasa Tuhan, sesuai dengan perintah-Nya. Ambil saja contoh tentang kesetaraan, misalnya. Isu kesetaraan telah lama menjadi isu global, antara negara-negara utara dan negara-negara selatan, antara ras kulit putih dan ras kulit berwarna, dan kalau disarikan dari semuanya: antara si kaya (utara, kulit putih) dan si miskin (selatan, kulit berwarna).. Firman Tuhan melalui Yakobus menegaskan bahwa pemisahan seperti itu merupakan pelanggaran:


Yak 2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.


Kita lihat, Firman Tuhan sudah lebih dahulu memberikan prinsip untuk bersikap. Ketika sikap ini dilakukan dalam konteks global, maka banyak hal yang muncul. Saat ini hampir semua teori-teori kesuksesan yang benar-benar teruji ternyata berkaitan dengan prinsip Firman Tuhan. Dalam pemasaran misalnya, kita mengenal High Trust Selling, oleh Todd Duncan. Dengan mudah kita menghubungkan teorinya dengan prinsip-prinsip Alkitab. Tak heran jika tokoh Kristen seperti John C. Maxwell telah menjadi pengajar Pemimpin yang terkemuka di dunia, di mana caranya bukan saja dipakai oleh orang Kristen, melainkan oleh semua kalangan. Prinsip Firman Allah itu benar dan efektif, nilai-nilainya meningkatkan hakekat dari segala sesuatu yang berhubungan.


Saya percaya, untuk mengatasi efek buruk dari globalisasi, orang Kristen justru harus masuk dan memanfaatkan semua hal. Orang Kristen harus bersedia masuk dalam perdagangan global, memasuki politik global, turut menangani isu-isu global. Orang Kristen dapat melakukan banyak hal baik dalam globalisasi, dan sudah semestinya kita melakukan apa yang Tuhan mau! Mungkin ada yang berkata, bahwa dalam globalisasi ada banyak yang tidak melakukan hal-hal benar, sebaliknya penuh tipu muslihat dan kejahatan. Benar, tapi tidak ada yang mengharuskan orang bertindak buruk dalam globalisasi. Orang yang percaya dapat menerapkan standar nilainya sendiri! Tidak ada yang dapat memaksa kita untuk melakukan diskriminasi, misalnya, atau mengharuskan kita mengambil untung berlebihan, atau menyuruh kita melakukan dumping harga untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar. Semua adalah keputusan kita sendiri. Kita dapat berkawan dengan mereka yang menyimpang, tetapi kita pun dapat melawan mereka yang berbuat kejahatan.


Apakah mudah dan sederhana? Tidak, kompleksitas globalisasi membuat segala hal saling berhubungan secara rumit. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, tidak jarang yang terjadi adalah pilihan "yang terbaik di antara yang jelek-jelek". Namun, sekali lagi bukan kita yang menjadi penentu, bukan kita yang sanggup sendiri berjuang. Karena kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah, maka selama kita berkomitmen untuk memenuhi prinsip dan nilai dari Tuhan, Dia akan menyediakan segala yang kita perlukan, termasuk hikmat untuk mengatasi segala persoalan. Jadi, tidak ada masalah tentang kesanggupan -- dan dengan begitu, masalahnya tinggal ini: Apakah kita mau melakukannya?


Kalau mau, mari belajar bersama-sama, mari berjuang bersama-sama!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana


08 Desember 2007

Beban Globalisasi

Ketika seluruh dunia terhubung menjadi satu pasar yang sangat besar, ada beberapa hal yang terjadi. Yang pertama, arus uang semakin cepat berpindah. Dana dari satu benua dapat berpindah ke benua lain dalam hitungan detik, dan beberapa jam kemudian dapat terus berpindah lagi. Yang kedua, arus barang pun berpindah dengan cepat. Hasil tambang, hasil hutan, hasil perkebunan dari Indonesia berpindah ke negara lain, ke benua lain dalam hitungan hari. Barang produksi dari Cina, dari India, dari Amerika Selatan, sekarang memenuhi pasar-pasar di Indonesia.


Bukan hanya uang dan barang, tetapi manusia pun berpindah. Tenaga kerja dari Indonesia kini sudah dikirim ke berbagai penjuru -- sayangnya dengan status sebagai pembantu. Sebaliknya, banyak para ahli dari luar negeri, para expatriates, dibayar mahal untuk bekerja di Indonesia. Perusahaan - perusahaan di Indonesia semakin banyak yang dimanajemeni orang asing, karena kepemilikan asing bertambah. Seperti di dalam perbankan, hari ini agak susah menemukan bank besar yang masih secara mayoritas dimiliki orang Indonesia, dengan manajer puncak orang Indonesia.


Dengan segala pertukaran-pertukaran itu, kita melihat roda ekonomi yang lebih cepat berputar. Pabrik-pabrik bekerja dengan kapasitas yang lebih tinggi. Jumlah transaksi penjualan meningkat. GNP dan GDP tiap tahun bertambah, bahkan di negara-negara berkembang pertumbuhan ekonominya secara konstan selalu di atas 5%. Di Cina, dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan industrinya hampir mencapai 30%, sangat besar! Kita bisa melihat bagaimana pertumbuhan infrastruktur di Cina -- jalan tol, gedung pabrik, kantor pencakar langit -- bertumbuhan dengan kecepatan yang tidak terbayangkan.


Dengan semua pertumbuhan, apakah kesejahteraan juga dibagi semakin merata? Sayang sekali. Tidak.


Globalisasi bukan meningkatkan pemerataan kesejahteraan, sebaliknya dalam globalisasi terjadi individualisasi. Ketika orang saling terhubung satu sama lain, semakin hari semakin kentara bahwa hubungan yang terjadi bukan hubungan setara. Perlahan tapi pasti, sumber-sumber daya tertarik -- seperti oleh gravitasi -- ke individu-individu yang mempunyai kelebihan di atas mayoritas. Di dalam satu atau dua bidang, orang bisa mencapai suatu posisi yang tinggi sekali, sehingga banyak orang lain mengikutinya. Kelebihan mereka menjadi inspirasi bagi orang lain; mereka bilang, "cara paling cepat untuk sukses adalah mengikuti dan meniru orang sukses." Mereka menjadi raja jaman sekarang, menjadi idol yang diikuti banyak orang. Kita bisa membaca satu artikel tentang orang-orang ini dalam majalah Newsweek, 29 Oktober 2007, "Power Brokers" oleh Diana Farrell dan Susan Lund.


Sekarang, apa bedanya antara tokoh-tokoh tadi dengan raja-raja di jaman dahulu kala, yang selama berabad-abad mengatur kehidupan orang? Para raja jaman dahulu menjadi penguasa atas segala hal dalam kehidupan rakyatnya. Mereka harus peduli, harus memikirkan segala aspek -- sumber penghasilan, hubungan sosial, agama, politik, kekuatan militer, pendidikan, kesehatan, teknologi... semua. Seorang raja atau ratu yang baik harus menjaga keseimbangan dalam segala sesuatu yang diaturnya. Ia bertanggung jawab mengendalikan hidup rakyat. Maka rakyatnya akan datang dan menyerahkan segala urusan untuk diatur oleh sang penguasa.


Tidak demikian halnya dengan "raja" jaman sekarang, yang menjadi penguasa dalam bidang tertentu. Di saat posisi 'raja' secara tradisional tidak lagi populer, orang ingin menjadi 'raja' dalam bidang yang lebih sempit. Ada raja minyak. Raja kayu. Raja mobil. Raja pasar saham. Juga raja rock n' roll! Tentu saja, sebutan 'raja' di sini hanya figuratif, suatu gambaran, bahwa orang ini berkuasa dan punya sumber yang lebih besar daripada kebanyakan orang biasa. Sebagai tokoh di bidangnya, ia tidak dituntut untuk menguasai hal lain. Tidak bertanggung jawab untuk hidup 'rakyatnya', para penggemar yang secara fanatik mengidolakan, atau memimpikan, sesuatu yang mereka sampaikan. Bukankah orang jaman sekarang banyak dihidupi oleh mimpi?


Kekuasaan yang timbul di sekitar diri seseorang atau sekelompok tertentu membuat semua hal lain hanya menjadi alat, menjadi objek, yang kegunaannya adalah sebatas kesanggupan mereka memenuhi keinginan sang penguasa. Tentu, di luarnya tidak dinyatakan secara eksplisit demikian; sebaliknya yang disampaikan adalah 'kebaikan bagi semua pihak'. Ya, memang baik bila semua pihak membantu sang penguasa, bukan? Jadi, yang menjadi pekerja akan bekerja membanting tulang, seringkali dengan suatu impian yang besar, untuk memenuhi apa yang diharapkan sang tokoh yang diidolakannya. Si 'pekerja' di sini bisa diganti dengan orang lain. Mungkin, ia adalah seorang tenaga penjual. Atau buruh. Atau petani. Atau nelayan. Atau pekerja tambang.


Atau, saya dan Anda. Dan kemungkinan besar, orang tidak menyadarinya karena kita semua ada di dalam 'sistem'. Kita ada di dalam 'sistem' untuk mencapai impian kita, sesuatu yang dipercaya menghasilkan apa yang kita harapkan, walaupun dalam kenyataannya yang sungguh-sungguh diuntungkan adalah sekelompok kecil orang 'tokoh' yang mungkin tidak pernah kita kenal. Tokoh yang begitu hebat, begitu mendunia... dan mungkin ia bahkan tidak tinggal di Indonesia. Dan kita masih berpikir bahwa globalisasi itu baik dalam banyak segi!


Dalam globalisasi, golongan yang paling tertekan sebenarnya adalah golongan kelas menengah. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang "ke atas belum punya kuasa, di bawah tidak lagi punya massa". Sementara ini, kebanyakan kelompok kelas menengah berharap kepada sistem yang digambarkan akan memberi 'kebaikan bagi semua pihak'. Karena itu, golongan ini dengan senang hati membantu tokoh-tokoh kelas atas memenuhi segala yang mereka inginkan, bahkan dengan sukarela berkolaborasi untuk menekan golongan kelas bawah. Mereka menjadi perisai bagi tokoh-tokoh 'besar' ini, bersedia setia dan taat sampai habis-habisan, dengan harapan bahwa 'sistem' yang ada akan menjamin kehidupan mereka kelak.


Saya dengan berat hati mengatakan, bahwa sangat mungkin harapan itu sia-sia.


Itulah sebabnya, sampai hari ini rakyat Indonesia masih berjungkir balik membanting tulang, sementara kelihatannya sistem yang ada masih belum memihak mereka. Ya, karena golongan menengah, termasuk yang duduk dalam pemerintahan, masih dengan setia menjadi bagian dan alat bagi tokoh-tokoh di negeri ini, yang barangkali nyaris tidak pernah disebut namanya di koran. Ya, karena kita pun yang menjadi golongan menengah ternyata di saat yang sama mengkritik sekaligus mendukung kondisi yang ada. Kita sudah lihat orang-orang yang semula mengkritik, ternyata turut melakukan apa yang dikritiknya ketika ia memangku jabatan.


Maka, agak terlalu jauh jika kita membahas bagaimana menyelesaikan masalah orang-orang yang diperalat, yang menjadi objek, yaitu kaum marginal yang ada di bawah. Kebanyakan kita berbicara tentang memberi mereka pendidikan yang lebih tinggi, karakter yang lebih baik, agar mereka bisa naik kelas menjadi golongan menengah... yang kemudian menjadi pengikut tokoh di atas, lantas berbalik menekan kaumnya, seperti kacang lupa kulitnya. Ironi, ketika seorang anak desa setelah menjadi pejabat malah berbalik menekan orang desa, demi mematuhi seorang tokoh di ibu kota yang tidak pernah menginjakkan kaki di desanya (dan tentu saja, sebenarnya tidak pernah peduli pada nasib orang desa yang tidak pernah dilihatnya).


Lantas, apa solusinya?


Sejujurnya, saya tidak melihat adanya sebuah solusi sederhana bagi sebuah masalah yang kompleks. Tapi, kalau kita bisa lebih baik mendefinisikan masalah maka kita sudah ada dalam arah yang benar untuk memperbaiki keadaan. Kemudian, yang lebih mungkin adalah membuat pengkajian yang lebih detil tentang situasinya, sehingga kompleksitasnya bisa dikurangi dengan melihat dalam skala yang lebih kecil, dalam sebuah konteks yang terlihat batasannya. Dan faktor kuncinya adalah menerapkan prinsip-prinsip yang benar, kebenaran yang absolut.


Peran orang Kristen, saya yakin, adalah menjadi pembawa kebenaran mutlak ini, karena hanya kita yang memiliki kebenaran. Dan, kebenaran itu akan membebaskan kita... Tuhan memberkati!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana

12 November 2007

Kebenaran Dalam Arena Globalisasi

Ketika ekonomi dihubungkan dengan kekristenan, pertanyaan yang seringkali muncul adalah: "Apa konsep ekonomi yang paling sesuai dengan iman Kristen?" Ada begitu banyak pendapat, masing-masing berusaha menggali dari Alkitab, di mana kadang-kadang pendapat yang (katanya) berasal dari tafsir Alkitab itu ternyata saling bertolak belakang. Lagipula, jika diperhatikan ternyata banyak pendapat itu tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi banyak berisi tentang etika sosial dan lebih spesifik lagi, politik. Yang dikemukakan adalah berbagai peristiwa politik, berkaitan dengan banyak kepentingan dan kompetisi memanfaatkan kesempatan demi berbagai keuntungan -- termasuk keuntungan ekonomi.

Kenapa teori ekonomi -- teori ekonomi klasik, Keynesian, atau neo-klasik -- dikemukakan? Ketika Adam Smith meluncurkan Wealth of Nations di tahun 1776, ia merangkumkan apa yang mulai terjadi pada masanya. Ia melihat bagaimana industri bergerak, menyadari adanya upah, biaya sewa, dan kapital -- berbeda dengan sistem feodal yang berlaku sebelumnya. Teori Adam Smith menginspirasi banyak kawasan lain untuk mewujudkan pasar bebas, dengan tujuan lebih mensejahterakan masyarakat. Tapi apakah memang teori ini berlaku secara universal?

Keynes berusaha mengkoreksi dengan memakai analisa matematika ekonomi yang lebih lengkap. Sebaliknya dari pasar bebas, ia menganjurkan peran Pemerintah yang lebih besar. Tujuannya? Sama, yaitu agar lebih mensejahterakan masyarakat. Tapi Keynes pun mulai di "koreksi", lalu orang kembali ke teori pasar bebas namun dengan analisa matematika ekonomi. Kita mengenalnya sekarang dengan teori ekonomi neo-klasik, yang sekarang menjadi berbagai parameter untuk melihat perekonomian nasional. IMF dulu datang dan memakai parameter-parameter ini, berdasarkan teori neo-klasik, untuk membenahi perekonomian Indonesia. Hasilnya? Indonesia bercerai dari IMF karena tidak ada sesuatu perubahan nyata.

Jadi kita lihat, bahkan para ekonom pun tidak dapat memastikan hasil suatu perekonomian dari teori-teori ekonomi yang ada. Bagaimana orang Kristen dapat mengkaitkan Alkitab sebagai sebuah sumber teori ekonomi? Yang pertama, Alkitab jelaslah bukan buku sumber ilmu ekonomi modern. Tafsiranlah yang menghubungkan Alkitab dengan ekonomi, dan dalam hal ini ada kemungkinan besar sekali tafsiran itu diramu bukan hanya dari Alkitab, tetapi juga dari pemahaman penafsir tentang ekonomi, sosial, dan politik. Yang kedua, suatu teori ekonomi selalu terbatas pada keadaan tertentu dalam kerangka waktu dan tempat, karena manusia hidup dalam cara yang berbeda-beda. Begitu sebuah teori ekonomi dijadikan patokan universal, itulah permulaan dari kejatuhan teori ekonomi tersebut, karena gagal terlaksana di kondisi yang berbeda.

Keberbedaan ini semakin mengemuka, justru karena adanya globalisasi. Proses globalisasi telah menciptakan "benturan" di mana orang menyadari perbedaan-perbedaan. Sebaliknya dari berusaha bersikap "rasional" yang cenderung membuat hanya satu jawaban bisa diterima, justru kini perbedaan dirayakan, diterima sebagai hal yang menguntungkan. Dalam konteks perekonomian, ini berarti memudarnya otoritas teori ekonomi apapun, digantikan dengan hal-hal yang berlaku di waktu dan tempat, sesuai dengan orang-orang yang ada, untuk bersepakat bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat di situ. Semua ini cocok, pas dengan filosofi post modern yang masuk ke masyarakat sebagai pandangan hidup kontemporer. Bukan berarti bahwa semua peristiwa atau kondisi ini muncul karena adanya filsafat kontemporer; saya kira justru kedua hal ini muncul secara bersamaan dan saling memperkuat. Orang menemukan bahwa yang paling penting adalah "beradaptasi" di mana ia mengikuti lingkungan di mana ia berada. Perbedaan bukan lagi sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan ada dalam dirinya sendiri.

Apakah memang post modernisme memberikan suatu cara hidup yang terbaik, sehingga pada akhirnya kita pun selayaknya senantiasa beradaptasi? Apa salahnya menjadi konservatif di Gereja, sementara di kantor meluncurkan pemasaran yang amat liberalis ke pasar? Tapi, bagaimana dengan prinsip-prinsip Alkitab -- atau memang Alkitab sama sekali tidak relevan, seperti yang dinyatakan oleh sekularisme?

Dalam kenyataannya, ekonomi terjadi di pasar. Itu bisa berarti toko saya atau Anda, berarti penjual di mall atau shopping center, berarti transaksi antar-warga yang terjadi di rumah, berarti aktivitas produksi dan penjualannya di pusat-pusat grosir, distribution center, dan lain sebagainya. Ekonomi dibangun pada apa yang benar-benar terjadi antara penjual dan pembeli, dan dari sana berkembang ke berbagai hal -- dalam permodalan, ada pasar modal, dalam komoditi ada bursa komoditi, dan sebagainya. "Kecanggihan" sistem ekonomi seolah-olah dapat membuat adanya pemisahan, misalnya antara pasar riil dengan pasar modal, antara makro ekonomi dengan mikro ekonomi. Untuk sesaat nampaknya begitu, sampai kita melihat bahwa yang "makro" itu seperti gelembung sabun dan bisa pecah berderai ketika terjadi krisis moneter.

Herannya, orang masih tetap suka dengan gelembung. Hari ini dana di SBI (sertifikat Bank Indonesia) telah mencapai Rp 200 Triliun, dengan tingkat bunga yang besar, hari ini saja beban bunga BI mencapai Rp 17 Triliun. Ini sebuah masalah; entah kapan akan terjadi saat di mana gelembungnya menjadi besar, sampai mungkin mencapai Rp 1000 Triliun, lalu BI menyerah karena tidak sanggup membayar bunganya? Entah apa yang terjadi jika instrumen moneter seperti SBI mengalami default!

Yang sungguh-sungguh nyata ada dalam 2 hal. Yang pertama adalah PENYEDIAAN. Yang kedua adalah NILAI TAMBAH. Sebuah transaksi terjadi karena kedua hal ini: ada transaksi yang membeli barang atau jasa yang tersedia, ada juga transaksi karena nilai tambah. Suatu ketersediaan muncul dari kreativitas manusia yang menciptakan sesuatu yang diinginkan karena dibutuhkan manusia lain. Ini biasanya muncul sebagai "barang baru" -- penentu keberhasilannya adalah sejauh mana hal itu diinginkan banyak orang. Apakah barang tersebut mempunyai nilai tambah? Mungkin ya, mungkin tidak. Ada barang yang dibeli hanya karena ia baru, bukan karena nilai apa pun yang diberikannya. Ini mungkin telah menjadi pendorong besar ekonomi di era industri, di mana nampaknya sebagian besar barang yang muncul di pasar adalah barang baru.

Di dunia yang sudah serba-ada, transaksi lebih ditujukan kepada nilai tambah. Sekarang penentunya adalah informasi tentang nilai tambah apa yang disediakan, di mana disediakannya, dan bagaimana cara memperoleh nilai tambah itu. Dan di sini kita melihat adanya kebingungan tentang nilai. Kalau sesuatu dikatakan "bernilai tambah", bagaimana persisnya menentukan bahwa sesuatu itu benar-benar bernilai tambah? Apa cara mengukurnya?

Penentu dari nilai dalam segala sesuatu yang ditransaksikan, pada akhirnya, adalah manusia. Masalahnya, (1) manusia itu bermacam-macam dan (2) waktu dapat mengubah nilai-nilai yang dijadikan patokan mengukur. Post modernisme menerima segala nilai yang berlaku antara banyak orang di banyak waktu dan tempat, seraya menolak fondasionalisme yang mengabsolutkan suatu standar dasar penilaian. Manusia memang bertumbuh: dari lahir, bayi, remaja, dewasa, tua, dan renta hingga meninggal, di mana dapat muncul nilai-nilai berbeda sebagai hasil dari interaksi dalam seluruh kehidupannya. Sampai di sini, nampaknya kita memang harus mengakui bahwa filosofi post modern benar. Ada banyak nilai, dalam banyak situasi dan kondisi, yang dapat dipegang oleh seseorang selama hidupnya. Menolak untuk berubah adalah suatu kesalahan, demikian juga mengabsolutkan suatu nilai dapat mendatangkan "kerugian" -- walau yang disebut "kerugian" pun harus dilihat cara mengukurnya.

Namun, menurut saya post modern mempunyai dua kelemahan mendasar. Yang pertama, penilaian yang benar-benar bermakna adalah apa yang terjadi dalam jangka panjang, bukan jangka pendek. Penilaian post modern cenderung mengukur segala sesuatu dalam kurun waktu yang pendek, apa yang "baik" adalah yang bagus pada saat itu saja. Karena nilai-nilai dalam post modernisme selalu ada dalam relativitas, maka makna hanya diterima dalam satu periode waktu, yang biasanya singkat. Tapi manusia tidak hidup sependek itu, dan apa yang "baik" dalam waktu yang singkat dapat menjadi hal yang 'buruk" dalam jangka panjang, bahkan menjadi bencana dalam sekian tahun terakhir kehidupan orang. Kesenangan sesaat dapat menjadi kutukan yang menghantui orang di sepanjang sisa hidupnya, bahkan dalam kekekalan. Sesuatu yang bernilai tambah seharusnya memiliki nilai jangka panjang, bukan jangka pendek.

Yang kedua, manusia itu sendiri dalam keberadaannya tidak berubah, seperti yang dari semula telah diciptakan oleh Tuhan. Apa yang menjadi sifat manusia, kelemahannya dalam dosa dan kelebihannya dalam kemampuan, tidak berubah. Yang berubah adalah pengetahuannya, pengalamannya, dan kondisi yang melingkupinya. Sekarang orang mempunyai teknologi yang jauh-jauh-jauh lebih maju daripada seabad lalu. Sekarang orang mempunyai pengalaman globalisasi. Sekarang jumlah manusia di seluruh dunia ada begitu banyak, dan setiap tahun jumlahnya tidak berkurang. Tapi dahulu yang banyak adalah penduduk di negara maju, sekarang yang banyak adalah penduduk di negara berkembang. Semua ini saling mempengaruhi, tapi lihatlah bahwa manusia itu sendiri, pada dirinya sendiri, tidak berubah. Karena tidak berubah, maka tidak relatif. Jadi, teori postmodern tidak tepat, karena ada suatu kebenaran mutlak yang permanen tentang diri manusia.

Lihatlah. Apa yang dicari orang dunia masih soal uang, kekuasaan, dan seksualitas. Masalah orang masih tentang membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, menginginkan milik sesama, dan karakter buruk lainnya. Yang dihargai orang dan diterima masih tentang kasih, sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri. Kita lihat: ketika bicara tentang nilai yang manusia hargai, apa yang dahulu dan sekarang masih tetap sama. Masalahnya sama. Penyelesaiannya juga sama.

Saya berpendapat, Alkitab bukan bicara tentang ilmu ekonomi. Tetapi Alkitab menyatakan apa yang benar-benar bernilai, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, sesuai dengan apa yang Tuhan --Pencipta manusia-- nyatakan tentang ciptaan-Nya. Dan dalam hal ini, nilai-nilai dari Alkitab adalah nilai yang mutlak, absolut karena Tuhan tidak berubah dan hakekat manusia pun masih tetap sama. Maka, Alkitab memang tidak menjadi landasan hukum ekonomi, tetapi memberikan apa yang menjadi nilai tambah yang perlu diberikan. Kebenaran yang mutlak adalah benar di mana pun, kapan pun, dan bagi siapa pun adanya.

Demikianlah: nilai-nilai dari Firman Tuhan seharusnya menjadi nilai tambah dari segala aktivitas ekonomi orang Kristen, yang tidak diukur dalam jangka pendek saja tetapi juga dalam jangka panjang. Dengan begitu, kebenaran meningkatkan kehidupan orang -- karena itulah maksudnya menambah nilai -- yang mempengaruhi seluruh relasi dalam masyarakat. Sementara post modernisme menerima segala hal sebagai relatif sehingga nilai-nilai muncul dan musnah dalam berjalannya waktu, kebenaran dari Firman menetapkan nilai-nilai yang bersifat kekal.

Kebenaran tidak tergantung pada teori ekonomi yang digunakan untuk membentuk kemasyarakatan. Entah teori klasik atau Keynesian atau neo-klasik, apa yang benar-benar berharga tetap sama bagi manusia. Entah digunakan dalam lingkup domestik-lokal seperti wilayah terpencil di Indonesia atau dalam lingkup global yang melintasi berbagai negara, apa yang dimuliakan tetap sama mulia. Nilai-nilai ini mungkin tidak hanya muncul dari kekristenan; sebenarnya kita juga bisa menemukan nilai-nilai diberikan oleh banyak kepercayaan lain, agama lain. Mungkin dari sana kita menemukan notasi, "semua agama sama" ketika berbicara tentang kebaikan yang dapat dibuat manusia: kejujuran, kenyamanan, kedamaian...

Alkitab bicara tentang menguji roh, menguji nilai-nilai. Tidak semua yang dirasa baik itu benar serta tetap dirasa baik di masa depan. Pengujian juga mensyaratkan bahwa ada yang cocok dan tidak cocok, benar dan tidak benar dalam terang Firman Tuhan. Ketika nilai-nilai yang benar dibawakan dalam semua barang dan jasa yang diberikan -- dalam pengertian yang lebih luas: "pelanggan ada di proses berikutnya" -- dorongannya akan mempengaruhi bagian lain, bahkan menjadi suatu inspirasi global. Penilaiannya bukan dalam relativitas terhadap pandangan lain seperti pada post modern. Itulah kebenaran dalam arena globalisasi.

Seberapa jauh komunitas Kristen menyatakan identitas kekristenannya ketika meluncurkan suatu hal ke dunia global? Karena sekularisme, banyak hal yang berasal dari kekristenan kehilangan identitas kristennya. Namun dengan cepat kita bisa melihat dan memahami notasi-notasi kristen di dalamnya, bahkan ketika pembawanya sama sekali bukan orang kristen. Amerika adalah negara Kristen, banyak produk dan jasa dan metode yang diwarnai kekristenan, tapi sekarang dikatakan bahwa itu adalah hal-hal yang umum: kualitas, pelayanan lebih baik, pengorbanan, dedikasi, dan sebagainya. Amerika tidak dibangun oleh teori-teori ekonomi tertentu, melainkan produk dan jasa yang diberikannya!

Itulah yang membuat negara Amerika kuat. Saya percaya, itu juga yang dapat membangun negara ini. Bukan teori ekonomi ini atau itu, melainkan bagaimana orang Indonesia memberikan hasil dengan nilai tambah yang sesuai dengan kebenaran, yang bernilai dalam kekekalan. Semua hal yang sungguh riil, nyata, bukan hanya wacana dan diskusi melainkan diwujudkan. Nilai-nilai ini pula dapat menyembuhkan "penyakit" yang mendera bangsa dan negara ini, dan dengan pengaruhnya mengikis sifat korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah seperti kanker stadium akhir, merasuk di mana-mana.

Sayangnya, nilai tambah sesuai kebenaran mutlak ini hanya bisa diberikan oleh orang yang benar-benar memahaminya, artinya orang itu harus mau mempelajari Alkitab. Dan untuk mampu memahami Alkitab, ia harus berangkat dari satu landasan iman -- percaya Tuhan Yesus Kristus. Bukan filosofi post modern yang bisa menolong ekonomi yang dalam kesulitan, melainkan pemahaman iman Kristen yang diwujudkan dalam produktivitas riil, dalam semua produk dan jasa serta metode yang benar dan penuh hikmat. Post modernisme tidak bisa diperangi, tetapi bisa digantikan oleh sesuatu yang memang dalam hakekatnya lebih baik, lebih tepat, dan tetap berlaku di masa depan.

Pertanyaannya: apa yang telah kita berikan, sebagai umat Kristen?


Powered by Qumana

10 November 2007

Globalisasi

Liberalisasi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keadaan masyarakat dunia saat ini. Kalau dipikirkan, sebenarnya semua teori ekonomi adalah benar pada jamannya; teori klasik benar di saat mulainya jaman modern, dan Keynes benar saat dinyatakan pertama kali di paruh pertama abad ke-20. Tapi masyarakat berubah sesuai dengan cara orang berkomunikasi satu sama lain, di mana kemajuan terbesar dimulai dengan terhubungnya saluran telegraf yang dibuat oleh Bell.


Sejak waktu itu, kita melihat keterkaitan erat antara ekonomi dengan teknologi. Setiap kali sebuah temuan teknologi hadir, ekonomi didorong lebih cepat. Komunikasi pertama-tama terjadi antara orang dengan orang; pesan atau berita yang tadinya butuh waktu berminggu-minggu, kini bisa diterima dalam hitungan hari. Telepon merevolusi hubungan antar manusia sehingga orang di satu belahan dunia bisa secara langsung bicara dengan orang di belahan dunia lain. Peningkatan ekonomi yang tercipta adalah peningkatan eksponensial; globalisasi dimulai dengan terpasangnya kabel-kabel telekomunikasi bawah laut antar benua dan diluncurkannya satelit-satelit di orbit geostasioner mengelilingi bumi.


Itu baru permulaannya. Hubungan antar orang memang membuka banyak peluang, tetapi yang lebih perlu sebenarnya adalah komunikasi data. Di mulai dari proyek militer seperti ARPA, kini komunikasi terjadi antara komputer dengan komputer. Data dalam jumlah besar dapat dipindahkan dalam waktu nyata / real-time dan manusia dapat terhubung secara virtual. Saya dengan Anda dapat hadir dalam sebuah "ruang" yang sama tanpa harus secara fisik berada di sana. Ini meningkatkan ekonomi ke skala globalisasi, ketika Perusahan-Perusahaan memanfaatkan teknologi dan membangun basis-basis manufakturnya di lokasi-lokasi yang berbeda di seluruh dunia.


Kalau sudah begini, teori ekonomi apa yang masih berlaku? Sekarang produk dari Cina dipasarkan di lima benua. Hasil keringat tenaga kerja di Brazil dinikmati di Indonesia. Harga-harga kini ditentukan bukan dalam kondisi lokal, melainkan global. Itu bisa berarti harga yang semakin mahal, atau lebih mungkin lagi, harga yang jauh lebih murah karena ongkos produksi yang dapat ditekan. Perbedaan kemampuan antar negara juga menjadi sumber keuntungan Perusahaan; mereka memproduksi di negara yang mata uangnya lemah, untuk dipasarkan di negara yang mata uangnya tinggi. Pemerintah tidak lagi hanya perlu memperhatikan pasar tenaga kerja dalam negeri, tetapi juga harus berkompetisi dengan tenaga kerja di negara lain. Belanja Pemerintah tidak lagi menjadi pendorong terbesar, karena sekarang dana-dana swasta telah menyamai, atau bahkan melebihi, dana pemerintah.


Malangnya, negara seperti Indonesia terlalu lambat mendidik rakyatnya untuk berpartisipasi. Dalam globalisasi, suatu "nilai tambah" yang diberikan harus memenuhi standar-standar tertentu; kalau tidak maka nilai tambahnya itu tidak signifikan, tidak berarti. Misalnya saja, orang membuat sesuatu jasa, atau sebuah produk. Yang dihasilkan itu bagus, menarik, amat bernilai secara lokal. Tetapi tidak ada penjelasan dalam bahasa lain, tidak ada keterangan dalam bahasa Inggris dan Mandarin -- maka produk yang bagus itu tidak bernilai saat dibawa keluar, karena tidak komunikatif. Kita saat ini memiliki Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang mengharuskan setiap produk yang dijual di Indonesia mempunyai keterangan dalam Bahasa Indonesia. Tapi yang lebih penting sebenarnya: apakah setiap produk yang dibuat juga mempunyai keterangan dalam bahasa asing sesuai negara tujuan pemasaran?


Sekarang kita membeli produk buatan Malaysia, Thailand, dan Cina, yang dipajang di rak-rak toko raksasa yang merupakan jaringan raksasa global seperti Carrefour, Giant, atau Wal-Mart. Konsultan AC Nielsen mengatakan, saat ini lebih baik para peritel tradisional di Indonesia bergabung dengan jaringan retail seperti Alfamart, Indomaret, atau -mart lain untuk mendapatkan produk yang lebih kompetitif dengan harga lebih rendah. Ekonomi sekarang tidak lagi dapat dijabarkan dalam keputusan-keputusan individu, karena kekuatannya ada pada kelompok. Untuk berhasil, orang harus berkelompok, bekerja sama.


Kalau begitu, kenapa tidak dimulai segera? Untuk bekerja sama, pertama-tama orang harus berada di satu 'ruang' yang sama. Ini seperti mendayung perahu naga: orang harus mau duduk berderet-deret, memegang dayung dengan cara tertentu, dan mengayuh berdasarkan satu irama gendang. Orang tidak dapat mengayuh sendiri, atau tidak mengikuti irama, bahkan ketika irama itu salah. Konon, kecepatan sebuah perahu naga tidak tergantung kepada pengayuhnya, melainkan pada penabuh gendangnya. Jika iramanya terlalu cepat, para pengayuh akan segera kehabisan tenaga dan gagal mengikuti ritme. Jika iramanya terlalu lambat, perahu naganya akan ketinggalan. Itu sebuah perahu, dengan aktivitas fisik yang jelas dan nyata. Bagaimana dengan kegiatan ekonomi?


Nilai tambah yang diberikan harus mengikuti 'ritme' dari kelompoknya. Jika yang dilakukan adalah korupsi, maka setiap orang di kelompok itu harus berkorupsi. Jika yang dilakukan adalah kerja keras sampai malam, maka setiap orang di kelompok itu harus rela kerja keras sampai malam. Pertanyaannya: kita sekarang ini berada di kelompok apa, mengikuti ritme apa? Ada filosofi yang berbeda, motivasi yang berbeda, visi dan misi yang berbeda. Di Indonesia, banyak yang visi dan misinya berbunyi, "menjadi yang terbaik," dalam pengertian "yang paling banyak mendapatkan segalanya." Orang yang bekerja di Pemerintahan pun berlomba-lomba mendapatkan bagian terbesar, bahkan ketika mereka diharapkan berdedikasi untuk melayani dan memberikan segalanya. Ujung-ujungnya adalah nilai tambah apa --atau nilai kurang apa-- yang diberikan oleh  kelompok, entah di Pemerintahan atau di Swasta masyarakat. Globalisasi bercerita tentang nilai tambah yang diberikan suatu kelompok, yang juga mengurangi nilai tambah kelompok lain.


Di sisi individu, pikiran dan filosofi global ini memaksa orang untuk bersikap kompromistis, bahkan menjaga dirinya untuk selalu "politically correct". Perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan menjadi tidak relevan dibicarakan, malah dikatakan seharusnya tidak lagi ada pembedaan. Bahkan pemikiran modern yang mengutamakan rasionalisme pun tidak lagi mendapat tempat, karena dalam komunikasi dan hubungan antar manusia yang lebih berperan adalah emosi perasaan, di mana ada asumsi-asumsi berbeda tentang segala sesuatu. Pernahkah melihat iklan bank HSBC yang menunjukkan nilai-nilai lokal yang saling berbeda makna untuk satu hal yang sama? Di sini 'rasa kemanusiaan' lebih penting daripada penjelasan "rasional", karena perasaan itu bersifat universal sementara rasio tergantung pada asumsi lokal. Dalam dagang, misalnya, semua orang di segala belahan dunia menginginkan perdagangan yang rasanya "adil" dan "jujur", walau tentu ada perbedaan penafsiran dalam hal apa yang bisa disebut "adil" dan "jujur" itu.


Tak heran, pandangan yang muncul adalah yang menguniversalkan "perasaan manusia" sementara menolak semua standar yang mengklaim diri universal. Dalam pengertian ini, tidak ada lagi hal yang absolut, karena semuanya dilihat dalam konteks komunikasi budaya, semua adalah teks yang bisa didekonstruksi berdasarkan suatu budaya, yang berbeda dengan budaya lain. Globalisasi bergerak di dalam kabel-kabel saluran komunikasi, di mana semuanya, termasuk filosofi dan standar nilai, akan diterjemahkan sesuai nilai tambah dari kelompok. Kita mengenalnya dengan istilah "post modern" dan berusaha melokalisirnya sebagai salah satu moda berfilosofi dan berteologi, tapi sekarang ini saya yakin bahwa kaitannya jauh lebih luas.


Apakah kalau begitu, maka kita harus tunduk pada nilai kelompok, dalam bekerja, dan setuju atau tidak akhirnya mengikuti filosofi post modern, betapapun diri kita mungkin tidak setuju (atau malah tidak mengerti) filosofi ini?


Saya sudah melihat, bahwa orang Kristen pun dalam kehidupannya di pekerjaan tunduk pada nilai kelompok, betapa pun ia berusaha mengkompensasi dengan aktivitas gereja yang lebih giat. Jadinya orang seperti mempunyai standar ganda: ketika di pekerjaan ia mengikuti apa yang 'biasa' seperti memanipulasi data, menyuap pejabat, memakai bahan yang kualitas lebih rendah, dan menekan para buruh dengan keras (baca: kejam). Ketika di gereja ia menjadi majelis, menjadi penyumbang besar, dan orang datang padanya untuk meminta nasehat. Dualisme sikap ini sudah merupakan wujud dari post-modern, karena pada hakekatnya orang ini tidak menerima kemutlakan suatu nilai; ia bisa memakai nilai yang satu dan menggantinya dengan yang bertolak belakang!


Bagaimana dengan nilai-nilai kita sendiri? 


Powered by Qumana