Cari Blog Ini

18 Maret 2009

Sekarang Membaik, Apakah Terus Demikian?

Dalam beberapa hari terakhir, nampaknya keadaan ekonomi dunia mulai 'siuman' setelah terpukul keras. Akhirnya, Wall Street di bulan Maret ini mulai nampak bergerak naik, ditunjukkan oleh indeks Dow Jones Composite Average. Di satu sisi, orang-orang mulai berupaya untuk menjalankan lagi usahanya walaupun harus dengan susah payah. Di sisi lain, pemerintahan Obama memulai programnya untuk memberikan stimulus, yang konon dapat membuat pemulihan terjadi di akhir masa pemerintahan Barack Obama. Begitulah katanya.

Tetapi yang kita lihat sebenarnya, hari ini Amerika melakukan intervensi yang dalam atas sistem ekonominya. Pemerintah AS kini bergerak mengatur pasar, mengatur bagaimana perusahaan-perusahaan seharusnya bekerja. Memang, sebagian disebabkan oleh sikap tidak bertanggung jawab yang ditunjukkan, seperti ketika para petinggi AIG masih menerima bonus yang bernilai jutaan dollar. Sedemikian tidak bertanggung jawabnya, sehingga Presiden Obama sendiri berusaha menghentikan kekacauan dalam perusahaan yang baru-baru ini kembali menerima persetujuan dana talangan US$ 30 milyar. Total, AIG sudah menerima US$ 173 milyar dalam kurun waktu 6 bulan. Tetapi rupanya para eksekutif itu masih merasa bahwa mereka berhak atas bonus sebagaimana kontrak, sekalipun pembayarannya adalah dari dana talangan! Nyatanya, mereka sendiri sebagai eksekutif bekerja dengan kecerobohan dan keserakahan.

Jadi, dalam kasus ini kita mengerti dan bisa membenarkan kemarahan dari Presiden Obama. Kita bisa mengerti bagaimana Pemerintah mulai masuk dan membuat lebih banyak peraturan. The Fed juga dibuat untuk lebih banyak mengawasi, diberi lebih banyak kewenangan. The Fed kini dapat mendirikan pusat eksekusi dan pengawasan produk derivatif yang dilakukan melalui kontrak atas produk yang berasal dari saham, obligasi, nilai tukar, dan komoditas. Perbaikan kini mulai menunjukkan hasil, dan kita lihat bagaimana raksasa Citigroup bisa mulai mengatasi problemnya. Hal-hal inilah yang mendorong Wall Street mengalami peningkatan, yang diikuti oleh peningkatan di berbagai belahan dunia termasuk Asia, Indonesia.

Sayangnya, perbaikan di pasar saham tidak menunjukkan perbaikan yang lebih luas. Ukuran yang sesungguhnya harus dilihat dari pertukaran produktivitas dengan valuasi, suatu pertambahan nilai dari produksi atau jasa akan menimbulkan keuntungan dalam nilai uang. Mengalirkan uang tanpa meningkatkan produksi akan membuat ilusi, seolah-olah terjadi peningkatan produktivitas. Padahal, uang ini mengalir dari mesin cetak! Jika produktivitas tidak bertambah, pencetakan lebih banyak uang hanya membuat nilai uang semakin turun, atau inflasi. Bayangkan, bagaimana jika program stimulus sebesar US$ 2 Triliun benar-benar dikucurkan?

Hari-hari ini, realita produktivitas adalah penurunan. Di Amerika, orang masih di PHK di mana-mana, setiap bulan PHK mencapai 650.000 orang. Tingkat pengangguran mencapai 8.1%, dugaan yang mencemaskan adalah tahun ini tingkat pengangguran mencapai 10%. Angka yang kurang lebih sama juga terjadi di Eropa. Efeknya mulai terasa oleh sektor riil di Indonesia. Untuk kuartal I (Jan-Mar) 2009, Departemen Perindustrian memprediksi pertumbuhan industri hanya 2.5%. Kadin memprediksi kondisi ini lebih buruk lagi di kuartal II (Apr-Jun).

Stimulus yang dilakukan oleh Pemerintahan Obama memang besar, tetapi pertanyaan besarnya: apakah stimulus itu benar-benar meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek? Kalau programnya diteliti, sebagian masuk ke pendidikan, masuk ke infrastruktur, masuk ke proyek kemanusiaan -- tapi apakah hal-hal ini dapat segera meningkatkan produktivitas? Bagi warga Wall Street, program yang ada tidak menunjukkan keseriusan yang mendalam untuk meningkatkan ekonomi sekarang. Jadi, program stimulus memang membuat sejumlah laporan keuangan perusahaan yang bermasalah kelihatan bagus, tetapi tidak mengubah situasi fundamentalnya. Setelah dana talangan habis, seperti make-up yang luntur, nampak kembali keburukan dari industri yang sakit. Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah Indonesia memang membuat stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 Triliun, tetapi kalau kita perhatikan ternyata lebih dari separoh adalah berupa pemotongan pajak. Belanja yang dilakukan dari angka ini hanya 14% saja, atau sekitar Rp 10,3 Triliun -- itupun dilakukan untuk proyek yang efeknya baru terasa dalam jangka panjang, seperti proyek infrastruktur. Bagaimana hal-hal jangka panjang ini dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% di tahun ini?

Berita yang lebih suram terdengar dari Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bapak Bambang Prijambodo. Melihat indikator yang ada, rupanya perekonomian Indonesia telah positif memasuki era resesi. Indikator seperti perlambatan sektor produksi, penurunan kredit pembiayaan, pelemahan konsumsi domestik, dan perlambatan kinerja ekspor menegaskan kesimpulan Bappenas ini. Dugaan sementara, perlambatan akan terjadi sampai Oktober 2009 -- itu jika Pemilu yang diadakan dapat tuntas dengan aman dan tenteram.

Bagi masyarakat Indonesia, saat-saat ini adalah saat yang krusial untuk melakukan 2 hal. Yang pertama adalah melakukan lindung nilai terhadap kekayaan dan aset yang ada, paling tidak untuk diteruskan kepada generasi berikutnya. Yang kedua adalah melakukan diversifikasi dan leverage untuk meningkatkan produktivitas.

Lindung nilai dibutuhkan untuk memastikan kesejahteraan tetap dapat dipertahankan dan diteruskan kepada keluarga dan generasi penerus. Misalnya, hari ini seseorang telah memiliki Rp. 5 Milyar. Kondisi saat ini masih baik, tetapi penurunan bisa terjadi dengan cepat sehingga mungkin tahun depan nilainya menurun dan menurun lagi. Jika kita memperhatikan sekeliling, mungkin kita akan mendapati orang yang semula memiliki kekayaan berakhir dengan keadaan jatuh miskin. Akibatnya, anak dan cucunya hidup dalam kekurangan!

Untuk mendapatkan lindung nilai yang memadai, semasa orang masih mempunyai kemampuan ia dapat mengambil asuransi jiwa sebesar nilai kekayaan bersihnya sekarang. Dalam contoh di atas, seseorang bisa mengambil dengan besaran uang pertanggungan Rp. 5 Milyar atau lebih. Karena sifatnya yang lindung nilai, perlindungan ini diperoleh dengan cara premi tunggal, sehingga tidak ada resiko gagal bayar atau berhentinya proteksi di kemudian hari. Bila kemudian orang mengalami kemunduran dalam kekayaan bersihnya karena krisis moneter, ada suatu kepastian bahwa ada warisan yang cukup besar yang ditinggalkan kepada keluarga sebagai ahli waris.

Diversifikasi dan leverage menuntut kita semua untuk memikirkan kembali di mana saja kita menaruh uang. Jika selama ini seluruh dana disimpan di bank -- walaupun di bank yang berbeda-beda -- pada prinsipnya kita tidak mempunyai daya ungkit (leverage) finansial sehingga masa depan seluruhnya tergantung pada produktivitas kita sendiri. Ketika kita mengalami krisis, beban seluruhnya harus dipikul sendiri pula, bagaimana kita dapat bertahan melalui masa resesi yang terjadi?

Padahal ada banyak instrumen investasi yang dapat kita peroleh. Diversifikasi dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara resiko dan hasil, antara jangka panjang dan jangka pendek. Sejumlah investasi jangka pendek bahkan dapat memberikan tingkat pengembalian yang cukup tinggi, walaupun tentunya menuntut pengendalian yang lebih besar. Untuk investasi jangka panjang, kita tidak perlu melakukan banyak pengendalian asal kita bisa memilih manajer investasi yang benar-benar kompeten.

Yang terakhir, di saat-saat begini ada suatu hal ironis yang terjadi, menyangkut kepercayaan. Sejumlah orang menjadi orang yang tidak percaya -- mereka maunya hanya melihat ada uang di sana sini, baru percaya. Sebagian lain, menjadi orang yang percaya betul tentang satu tempat sehingga tidak melihat bagaimana kinerja yang sesungguhnya.

Jika kita menjadi orang yang tidak percaya, maka pada akhirnya kita akan terjebak dengan nilai nominal uang, sementara daya beli sesungguhnya memudar dengan cepat. Kalau sudah demikian, apa gunanya sikap tidak percaya yang serba-melindungi-uang itu? Sebaliknya, jika kita menjadi orang yang percaya total (dan agak membabi buta), tidak ada lagi pengendalian yang dilakukan dan tiba-tiba saja kita terkejut oleh situasi yang terjadi.

Kiranya, kita tidak jatuh dalam situasi yang ironis ini, yang berakhir dengan tererosinya masa depan yang kita harapkan. Kini adalah kesempatan sebelum resesi benar-benar meledak dan membuat kita begitu sibuk serta tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

11 Maret 2009

Mari Saling Berbagi

Sejak bertahun-tahun lamanya, orang belajar untuk menjadi pebisnis dengan cara mengalahkan para pesaingnya. Berbagai cara dilakukan, bahkan dengan saling sikut dan saling mematikan. Inilah lingkungan bisnis yang dog-eats-dog. Inilah yang dikatakan "realita bisnis" dan orang menganggap bahwa mereka yang berjiwa lemah dan berhati kecil tidak akan dapat memenangkan persaingan.

Dengan komunikasi dan transportasi yang baik, persaingan menjadi luas. Pengusaha di Jakarta bisa bersaing dengan Surabaya. Orang Bandung bersaing dengan orang Semarang. Orang Indonesia bersaing habis-habisan, sampai akhirnya mengulangi lagi kejadian yang membuat negeri ini terjajah. Persaingan dilakukan dengan menggandeng orang-orang asing.

Tidak ada yang salah dengan asing, sebenarnya, karena sekarang ini seluruh dunia sudah terhubung menjadi ekonomi global. Sudah bukan waktunya lagi orang hanya berpikir sempit dan lokal; ada banyak kesempatan dan penawaran yang tersedia di berbagai penjuru dunia. Tetapi masalahnya menjadi lain ketika untuk memenangkan persaingan, orang Indonesia memakai tangan orang asing untuk mematikan sesama orang Indonesia dalam bisnis. Yang menang, adalah orang asing yang bisa masuk.

Coba kita lihat. Perbankan kita sekarang didominasi kepemilikan asing. Toko raksasa kita adalah jaringan asing semua, yang menggeser peran pasar tradisional. Pendidikan kita yang dianggap hebat adalah yang asing. Kesehatan yang disediakan dan dianggap paling bagus, yaitu yang asing punya. Kita mau pengobatan modern dari Barat, atau sekarang ini mulai dengan pengobatan alternatif dari China. Pengobatan tradisional Indonesia?

Bedanya, kalau di China ilmu pengobatan menjadi aset yang dikelola dengan serius oleh Pemerintah China. Kalau di Indonesia, justru praktek tradisional dilihat dengan sebelah mata, menjadi incaran POM kalau ada yang 'menyimpang'. Tidak ada investasi, tidak ada regulasi yang serius untuk mengembangkan pengobatan tradisional. Untungnya masih ada pengusaha yang berjuang mengangkat jamu dari Indonesia.

Maka kita menemukan keganjilan Ponari. Di sisi yang lain, kita menemukan praktek-prakter yang merugikan dan memeras orang yang dilakukan oleh rumah sakit dan dokter yang berpraktek. Ini adalah suatu praktek yang benar secara medis, tetapi salah secara finansial. Alhasil, mungkin orangnya sembuh tetapi secara finansial terjadi kerugian, bahkan kerusakan. WHO menunjukkan, setiap tahun 100 juta orang menjadi miskin karena harus menebus biaya kesehatan.

Sayang, tidak ada survei yang lengkap tentang jumlah orang Indonesia yang jadi miskin setiap tahun karena harus menebus biaya kesehatan.

Ketika terjadi krisis global, tiba-tiba saja semua keunggulan lenyap. Apa yang semula dilihat sebagai kemampuan bersaing -- competitive advantage -- tidak lagi berarti. Dan tiba-tiba juga, kita bersaing dengan pasar global, di mana orang Indonesia harus bertemu dengan pemain-pemain kelas dunia dan permodalan yang jauh lebih besar dan kuat.

Kita tidak punya banyak kesempatan jika hanya bergerak sendiri. Maka, satu-satunya cara adalah dengan bekerja sama secara kolektif. Itu berarti membuka diri, membagikan kekuatan dan daya saing kita kepada orang-orang lain sebangsa dan setanah air. Itu berarti bersedia merangkul sesama saudara Indonesia, bukan merangkul orang asing.

Lihatlah, saat ini seluruh dunia berusaha keluar dari kemelut krisis global. Pemerintah melakukan penalangan (bailout) bagi perusahaan-perusahaan, untuk menopang daya saing. Pemerintah Indonesia memberi dana talangan untuk membuat orang tetap konsumtif. Apakah program stimulus dari Pemerintah kita membuat pengusaha kita menjadi lebih tangguh?

Kalau memang benar-benar mau berhasil, kita harus saling berbagi dan saling memperkuat produktivitas kita. Pemerintah juga harus menolong rakyat untuk menjadi lebih produktif, bukan sekedar lebih senang atau berterima kasih agar nanti memilih dalam Pemilu 2009.

Ayo, mari saling berbagi....

03 Maret 2009

Kesempatan

Sejak 6 bulan terakhir, kita menjumpai berita buruk. Dan banyak berita buruk. Tambah lagi berita buruk. Nampaknya, tiada hari tanpa suatu peringatan atau kesulitan, dan dengan sewajarnya banyak orang lantas menjadi ketakutan. Bagi orang-orang yang mengikuti berita, berita buruk yang konsisten selama setengah tahun adalah pertanda pasti bahwa semuanya akan menjadi semakin jelek. Bagi orang lain yang tidak baca berita, atau yang hanya sekali-sekali saja mendengarkan televisi, mereka sudah cukup kuatir dengan memperhatikan orang yang membaca dan berkomentar tentang betapa kacaunya dunia.

Dalam hal ini, saya harus mohon maaf karena ikut ambil bagian. Kemarin-kemarin, saya ikut menulis sesuatu yang menakutkan.

Di awal bulan Maret ini, tadinya saya ingin menulis sesuatu ulasan tentang kondisi sekarang -- dan apa yang tersusun sebagai bahan adalah keburukan dan krisis lain yang terjadi. Tapi, apa yang akan saya tuliskan, bukankah kembali mengulas tentang "Most Asian markets extend slump amid finance gloom"? Jadi, kembali yang muncul adalah berita buruk. Kenyataannya, hari ini memang segala usaha mengalami tekanan. Memang pasar Asia masih loyo. Namun, apakah kenyataan hari ini memutlakkan perkiraan tentang masa depan?

Justru di situ masalahnya. Kenyataan hari ini bukan sesuatu yang dapat diperdebatkan: yang terjadi benar-benar telah terjadi. Tetapi, peristiwa hari ini tidak memutlakkan pemahaman apapun tentang hari esok. Kenyataan bahwa masalah finansial di AIG dan HSBC membuat Wall Street turun ke rekor (kalau mau dibilang begitu) terendah dibawah 7000 dalam bertahun-tahun terakhir -- semua ini tidak memastikan bahwa perkiraan "hari besok yang suram" akan menjadi kenyataan.

Sebaliknya, kita bisa membaca bahwa transaksi di bursa efek Indonesia jumlahnya menyusut drastis. Saat ini banyak dana sedang parkir di suatu tempat, tidak lagi berputar karena pengelolanya dipenuhi kekhawatiran. Dari satu sudut pandang, dana yang berhenti berarti berhenti pula ekonomi, karena aset tidak berkembang. Tidak terjadi peningkatan. Tidak muncul kesempatan bisnis seperti biasa.

Tetapi di sisi lain, kita melihat bahwa saat ini ada MASALAH besar dari para pemilik dana, karena mereka tidak ingin asetnya tidak berkembang. Mereka tidak mau dananya mandek di satu tempat. Mereka ingin suatu kepastian, termasuk kepastian untuk mendapatkan suatu pengembalian. Masalahnya, di Indonesia saat ini tidak banyak pilihan. Hari ini Bisnis Indonesia memberitakan bahwa PT BNI Tbk mengisyaratkan akan menunda penerbitan obligasi subordinasi senilai US$ 300 juta mengingat situasi pasar finansial yang belum membaik. PT BNI Tbk tidak yakin bisa menandingi obligasi pemerintah yang kuponnya dibuat di atas 11%. Harga saham BNI sendiri turun melemah 7,14%.

Jika Anda menjadi pemilik dana yang besar, berita semacam ini membuat Anda tidak berani bergerak. Kalau obligasi korporasi dari PT Bank Negara Indonesia Tbk sudah diragukan, bagaimana dengan obligasi lain di Indonesia? Bagaimana dengan tempat berinvestasi lain yang kapitalisasinya di bawah BNI?

Dalam struktur perencanaan keuangan, proteksi asuransi menjadi dasar, menjadi fondasi. Menjadi tulang. Pertama-tama, asuransi memberikan KEPASTIAN mengatasi segala resiko finansial yang terjadi. Tetapi, asuransi juga menjadi sumber dana terakhir pada saat keadaan terlalu berat. Hanya asuransi yang satu-satunya memberikan jaminan atas suatu tingkat suku bunga dalam jangka waktu yang panjang, meskipun tentunya tingkat suku bunganya rendah dibandingkan dengan pilihan investasi lain. Apalagi, kalau kita melihat dalam mata uang keras seperti USD.

Ambil contoh, Guaranteed Plan. Ini adalah program sepanjang 8 tahun yang memberikan kepastian suku bunga majemuk 3,8% per tahun, atau 134,76% dari premi tunggal. Bandingkan dengan tingkat suku bunga The Fed yang 0% - 0,25% saja. Produk konvensional lain dari Sequis dalam USD memberikan tingkat pasti 2,75%, misalnya untuk Saver Plan atau Life Plan 100. Satu hal yang menyenangkan: yang DIJAMIN (Guaranteed) tidak tersedia dalam penawaran pesaing kita. Ayo, siapa yang mau?

Jika seseorang memiliki dana untuk dijaga, pilihan Guaranteed Plan menjadi pilihan yang menarik. Mau lebih menarik? Bagi dua dana yang ada. Yang satu bagian, masukkan ke guaranteed plan. Sebagian lagi, masukkan ke New Investor dalam USD. Pengembaliannya menjadi dua tingkat: terjamin dalam USD, juga bisa bertumbuh dalam investasi yang stabil dengan rata-rata pengembalian di atas 3,8%. Dana bisa disimpan selama 8 tahun saja, di mana kita harapkan kondisi telah membaik. Saat itu Nasabah bisa memilih untuk kembali mengambil produk dengan investasi yang lebih banyak.

Pada prinsipnya, dengan kondisi yang dipenuhi banyak ketidakpastian, kita perlu menyediakan alternatif-alternatif. Dengan cara begitu, resiko tidak terakumulasi di satu tempat. Tidak perlu mendengarkan berita buruk. Karena kita mempunyai SOLUSI untuk masalah, semakin banyak masalahnya, semakin baik karena banyak orang membutuhkan jalan keluar yang bisa mereka peroleh!

Jadi, mungkin berita buruk masih terdengar, terbaca, terlihat melalui berbagai media. Kita bisa turut pusing dengan semua "keburukan" situasi yang terjadi. Tetapi, kita juga bisa menjadi lebih kreatif dan justru mengambil posisi yang tepat untuk mengatasi masalah. Ada begitu banyak masalah. Ada begitu banyak kesempatan... asal kita bisa menjadi orang yang dipercaya.

20 Februari 2009

"Breaking" News - Siap-Siap Sajalah Dan Berdoa

Bulan Februari ini nampaknya ditutup dengan posisi yang tidak menggembirakan. Namun, kita harus bersiap diri, karena hari Kamis kemarin (19/02/2009), indeks Dow Jones di Wallstreet jatuh, bahkan melewati tingkat di bulan November 2008 yang oleh banyak orang diharapkan menjadi dasar alias bottom line dari pasar. Kejatuhan terendah dalam 6 tahun terakhir ini membuat guncangan secara psikologis, karena indeks Dow dipandang sebagai barometer perekonomian Amerika. Bagaimanapun, resesi Amerika telah berlangsung 14 bulan dan keadaan tidak nampak membaik, walaupun pemerintahan Obama sudah meluncurkan dua paket stimulus.

Di Indonesia sendiri, defisit APBN 2009 naik menjadi 2,6% (katanya "untuk menyelamatkan perekonomian nasional"). Asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia direvisi menjadi 4,5%. Nilai tukar Rupiah kini di kisaran Rp 11,900; meski pagi saat saya menulis ini sempat masuk ke angka Rp. 11,975. Bagusnya, cadangan devisa kita akhir januari 2009 masih US$ 50,87 Miliar. Sementara itu, pasar saham Indonesia masih bergerak menyamping, seperti terlihat pada chart berikut:

IHSG chart

Dari sini nampak bahwa investor di Indonesia masih bersikap menunggu, dengan nilai transaksi yang terbatas. Keadaan di Amerika dan Eropa yang tarik ulur antara resesi dengan paket stimulus membuat orang memilih untuk diam dan melihat hasil.

Dengan kondisi ini, secara umum segmen masyarakat bisa dikelompokkan dalam tiga bagian. Yang pertama adalah kelompok bawah yang tidak mempunyai sumber produktifitas dan cadangan dana, yang saat ini masih mengandalkan gaji bulanan untuk menunjang hidupnya. Bagi kelompok ini, sekalipun sekarang posisinya adalah manager, keamanan finansial mereka sangat terancam.

Yang kedua adalah kelompok yang masih punya dana dan masih tetap suka berinvestasi walaupun tingkat resiko tinggi. Tapi jumlah orang-orang seperti ini semakin sedikit. Terlihat transaksi di bursa forex belakangan semakin menurun.

Yang ketiga adalah kelompok masyarakat yang sekarang menahan dananya dan memilih untuk menunggu. Mereka mempunyai dana yang sekarang masih berdiam di perbankan (catatan akhir tahun BI: uang pihak ketiga di perbankan masih sekitar Rp. 1750 Triliun). Bank besar seperti Citibank baru-baru ini meluncurkan program obligasi dalam US$ untuk menjaring pelanggan semacam ini, dengan nominal minimal USD 50,000. Mungkin kelihatan besar, tapi nyatanya peminatnya ada juga, terutama dengan dasar "keamanan" karena obligasi pemerintah termasuk risk-free investment. Dengan tingkat yield mencapai 6%, tidak sedikit yang memilihnya -- apalagi produk ini jadi termasuk off-shore karena dilisting di luar negeri. Pilihan produk off-shore memang menarik. Pertanyaannya: apakah kita sendiri tidak lantas berusaha juga memperoleh bagian dari pasar ini?

Pasar seperti ini relatif lebih tertutup untuk kelas-kelas investasi semacam unit link yang unsur biayanya tinggi oleh premi asuransi. Pilihan yang lebih disukai saat ini adalah yang sepenuhnya asuransi; karena ada kebutuhan untuk mengamankan diri dari resiko. Di saat seperti ini, resiko harus dihadapi dengan lebih sukar tanpa pengamanan yang memadai. Bagi pemilik dana yang menginginkan tingkat keamanan lebih tinggi, pilihan seperti asuransi memberikan kepastian. Disamping itu, pengelola dana yang berkompeten seperti Schroders memberikan kenyamanan lebih baik daripada semua penawaran unit link lain yang masih dikelola perusahaan asuransi sendiri, dengan total aset kelolaan yang lebih kecil. Aset kelolaan yang kecil mempunyai tingkat resiko yang lebih tinggi, karena diversifikasi yang lebih terbatas.

Pilihan lainnya adalah membuat perencanaan jangka panjang. Kita mengenal teknik dasar dalam berinvestasi seperti pemerataan - unit averaging. Karena orang tidak tahu seperti apa keadaan besok, jadi lebih baik berinvestasi secara teratur untuk memperoleh jumlah unit lebih banyak jika terjadi penurunan NAB. Sementara, jika terjadi kenaikan NAB, orang tetap bisa mendapatkan keuntungan dari unit yang sudah diperoleh sebelumnya. Memang perhitungan itu nampaknya tidak menarik dalam situasi di mana NAB selalu naik, seperti yang terjadi dalam 5 tahun terakhir.

Dalam situasi seperti sekarang, di mana nilai unit turun, nampaknya strategi investasi ini lebih baik dan mudah diterima. Kita bisa menawarkan untuk menyajikan perhitungan dengan jumlah top-up terjadwal yang jauh lebih besar. Sayangnya, illustrasi yang ada tidak mungkin menggambarkan keadaan ini, karena illustrasi dibuat dengan asumsi kenaikan yang terus menerus dari hasil investasi, seperti perhitungan bunga bank. Illustrasi semacam ini sama sekali tidak mendekati realita investasi yang sebenarnya. Seperti yang sering saya katakan, hati-hatilah dengan illustrasi karena apa yang digambarkan di sana PASTI SALAH dan tidak sesuai kenyataan. Dalam kenyataannya, investasi sama sekali tidak menjanjikan tingkat bunga tertentu, bahkan yang paling stabil dari bank pun akan turun naik dalam kurun waktu yang panjang.

Ketika kita berinvestasi, atau mengajak nasabah berinvestasi, ingatlah bahwa jangka waktu investasi adalah jangka panjang. Untuk jangka pendek, kita bisa menawarkan pilihan-pilihan switching ke cash fund -- hanya dalam waktu singkat untuk mempertahankan nilai unit dalam periode terbatas terhadap penurunan drastis. Saat ini, kita mengharapkan tidak melihat lagi penurunan drastis nilai unit, karena itu berarti penurunan drastis IHSG yang sudah turun rendah. Hanya bagi orang yang sudah lama berinvestasi, jenis cash fund menjadi 'sekoci penyelamat' dari kehilangan nilai. Bagi orang yang baru berinvestasi, pilihan terbaik tetap ada di equity (kalau orangnya agresif) dan managed (kalau orangnya moderat-konservatif).

Kunci lain dari investasi adalah diversifikasi. Ada baiknya orang diberi pilihan untuk melakukan diversifikasi sendiri, mengambil beberapa jenis fund, bahkan mengambil dua polis; yang satu unit link dan yang lain asuransi yang konvensional. Pilihan-pilihan ini membagi resiko, sehingga terhindar dari kondisi yang fatal dari kesalahan investasi secara total di satu tempat.

Bagaimana ekonomi Indonesia beberapa waktu ke depan? Tidak ada yang tahu. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk bergegas meraih peluang, cepat-cepat memberikan penawaran -- sebelum nasabah jatuh dalam kepanikan ekonomi yang bisa terjadi jika terjadi pengelolaan keuangan yang keliru dari pemerintah. Sesuatu yang harus dipertimbangkan, berkaitan dengan pemilu yang menyita perhatian pengambil keputusan dari situasi global yang tidak menentu.

Dan yang penting, tetaplah berdoa.

04 Februari 2009

Manajemen Masa Sulit

Akhir dari bulan Januari 2009 ditutup dengan berita dari BPS, bahwa di bulan ini terjadi deflasi sebesar 0.07%. Ini adalah angka yang lebih besar daripada deflasi Desember, sebesar 0.04%. Beberapa orang bersorak karena deflasi berarti harga-harga turun. Akhirnya! Penurunan harga ini tentunya juga akan menurunkan BI Rate lebih lanjut lagi, sehingga suku bunga kredit turun. Berita baik untuk mereka yang sedang mencicil rumah atau mobil, atau mereka yang ingin mengambil kredit untuk biaya pendidikan. Lebih bagus, karena dengan tingkat suku bunga yang menurun, tentunya lebih mudah dan murah mendapatkan apa yang kita inginkan.

Di sisi lain, berita-berita tentang pemutusan hubungan kerja mulai menjadi perhatian. Di Amerika, Wall Street turun setelah diungkapkan ada lebih dari 500 ribu orang di PHK, dengan estimasi tahun ini lebih dari 3 juta orang kehilangan pekerjaan. Kita dengar perusahaan yang semula sangat kuat seperti Microsoft pun memangkas 5000 orang tenaga kerjanya. Di Eropa, tingkat pengangguran mencapai 8%. Di Jepang, perusahaan NEC dan Hitachi memutuskan 27000 karyawan, menambah deretan panjang penganggur -- sekarang ini orang Jepang mulai mencari pekerjaan di Cina. Namun di Cina pun terjadi penutupan banyak -- puluhan ribu -- perusahaan yang tutup karena tidak lagi mendapatkan order dari AS dan Eropa. Banyak perusahaan di Cina mempunyai masalah dengan kapasitas besar yang tidak terpakai di industri mereka.

Semua hal ini berkaitan dengan penurunan Produk Domestik Bruto (GDP) dari AS yang sangat parah, demikian juga Jepang, Uni Eropa, Singapura, New Zealand, dan sejumlah negara lain. Di balik angka-angka ini, yang kita lihat adalah menghilangnya produktivitas dari masyarakat negara maju. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi 'pengungkit' (leverage) yang selama ini tinggi dan berlebihan atas produk dan jasa. Segala sesuatu yang semula bisa dijual dengan harga premium dengan margin keuntungan tinggi, sekarang harus menerima kenyataan bahwa harga wajar tidaklah setinggi itu. Artinya harus ada pemangkasan margin, sehingga nilai produktivitas usaha menurun.

Masalahnya, dalam banyak hal perencanaan keuangan dibuat dengan asumsi margin tertentu dan perputaran tertentu. Ketika harga turun, biaya-biaya tidak bisa serta merta diturunkan. Gaji pegawai, biaya sewa, dan biaya jasa tidak bisa langsung dipangkas. Langkah pengurangan biaya dengan memangkas biaya dan tenaga kerja akan menghilangkan banyak keunggulan inti, yang mengurangi kemampuan usaha untuk kembali bangkit di masa depan. Tetapi toh nyatanya pemutusan hubungan kerja masih terus terjadi. Untuk sementara, memang tindakan ini membuat posisi neraca dan rugi laba perusahaan menjadi lebih baik dan berakibat kenaikan sahamnya. Kita melihat efek-efek ini terjadi di hari-hari ini.

Sementara itu, pukulan kepada sektor riil menjadi lebih keras dan sukar untuk diatasi. Bagi para pelaku usaha yang konvensional dan tidak memiliki keunggulan yang spesifik, terutama yang berorientasi ekspor, krisis global kali ini terasa sangat berat. Pasar kita masih terselamatkan dengan adanya konsumsi domestik yang besar, walaupun sekarang ini mengalami penurunan daya beli. Bagaimana kita dapat memanajemen bisnis selama masa sulit seperti sekarang ini?

Pertama-tama, kita melihat bahwa di antara berbagai pasar dunia, pasar komoditas masih tetap aktif. Produk komoditas merupakan produk fundamental yang tetap dibutuhkan, walaupun keadaan finansial buruk. Indonesia menerima anugerah dengan banyaknya komoditas yang dihasilkan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Dari produk komoditas pertanian dan pertambangan, kita masih bisa mengharapkan pertumbuhan PDB di tahun 2009. Selain itu, kegiatan pembangunan juga masih sangat banyak -- justru masalahnya adalah daerah yang terlambat membangun, sehingga dana pembangunan bertumpuk di SBI. Jika pengelolaannya diperbaiki, pembangunan yang dilakukan akan meningkatkan perputaran ekonomi. Masih ada peluang pengembangan domestik yang besar.

Yang kedua, untuk mendorong pertumbuhan usaha domestik, Bank Indonesia telah melonggarkan kebijakan pemberian kredit. Sinyal yang diberikan adalah agar orang kembali mengambil kredit usaha untuk menggerakkan perekonomian - walaupun di sisi lain bank sekarang sangat berhati-hati menyalurkan kreditnya. Dalam usaha menengah - kecil, seringkali yang dijadikan jaminan adalah diri pribadi pemilik beserta kekayaannya. Dari sini kita dapat lihat bahwa kebutuhan pengelolaan resiko menjadi semakin penting, karena menentukan bagaimana dana dapat diperoleh dari sumber-sumber finansial.

Yang ketiga, dengan UU Pajak yang baru, kini semua pihak perlu memikirkan pengelolaan kekayaannya dan menghindari pungutan pajak yang berlebihan, terutama untuk masa depannya. Untuk jangka panjang yang pasti, sarana yang diberikan asuransi memungkinkan orang untuk menabung demi masa depan dengan tidak dikenai pajak, sehingga dapat melebihi inflasi yang mungkin terjadi. Manajemen di masa sulit kini tidak bisa terlepas dari produk asuransi yang memberikan perlindungan dan kebebasan dari pajak, dengan cara yang sah dan diijinkan.

Manajemen masa sulit membawa kita pada berbagai potensi-potensi yang ada di wilayah, dan mungkin mulai dari sekarang kita perlu memperhatikan pertumbuhan ekonomi di sentra-sentra produksi komoditas. Pertumbuhan ini akan dipacu lebih cepat dengan aliran dana kredit usaha dan dana pembangunan daerah. Orang-orang akan semakin membutuhkan produk asuransi dan investasi untuk menyeimbangkan hasil dan resiko usahanya.

Selain itu, bisnis juga membutuhkan jaringan kerja sama yang lebih luas, di mana usaha harus dikerjakan dengan kerja tim. Semakin besar wilayahnya, semakin banyak pula orang yang harus terlibat. Itu berarti dibutuhkan komunikasi yang baik, yang dimungkinkan oleh teknologi. Kondisi sulit membutuhkan juga produk yang memberikan jaminan dan kepastian -- berarti lebih banyak produk asuransi whole life. Jika orang masih menginginkan juga pertumbuhan yang baik, produk ini bisa dikombinasi dengan unit link yang preminya tunggal (misalnya, dalam Sequislife ada Smart Investor dan Investor Plus).

Kita perlu secara aktif melihat kebutuhan-kebutuhan para investor di Indonesia dan orang-orang yang mulai mengelola perusahaan mereka. Dengan memberikan perlindungan yang baik, mereka dapat berusaha lebih baik melalui masa sulit. Sebaliknya, jika mereka tidak mempunyai perencanaan yang memadai serta proteksi untuk menghadapi musibah yang mendadak terjadi, justru orang-orang yang memulai usaha akan menjadi semakin sukar karena tidak mempunyai banyak cadangan yang bisa menanggung beban kehidupan mereka. Dengan kebijakan pemerintah, kita melihat kesempatan yang justru semakin besar di tahun 2009 ini.

Pertanyaannya: apakah dengan adanya krisis ini kita melihat segala sesuatu dengan kacamata pesimis, atau justru kita bisa memandang terbukanya kesempatan-kesempatan yang tidak pernah muncul dalam situasi biasa?