Cari Blog Ini

18 Juni 2009

Korupsi

Sekali lagi -- dan nampaknya selalu -- Pemilu mengangkat tema pemberantasan korupsi. Setiap calon mengemukakan betapa dirinya bersih dan anti-korupsi, tapi nyatanya data dari survei dan banyaknya kasus menunjukkan peningkatan jumlah koruptor. Memang tidak bisa disimpulkan jumlah korupsinya semakin banyak, karena bisa saja tindakan pemberantasan korupsi justru mengungkapkan para koruptor yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kerahasiaan instansi semacam DPR atau MA.
Satu hal yang jarang orang pikirkan, sebenarnya bukan pemberantasan korupsi yang harus diperjuangkan. Korupsi bisa diberantas jika dan hanya jika ada peraturan yang jelas dan tegas menyatakan kebenaran, serta orang-orang, baik Pemerintah maupun rakyat, yang bersedia menundukkan diri untuk melakukan peraturan itu.
Maka masalahnya adalah bagaimana peraturan dibuat. Peraturan yang benar adalah peraturan yang berelasi dengan kenyataan dan menegaskan keterbukaan tentang kepastian: ya adalah ya dan tidak adalah tidak. Hukum yang benar tidak membedakan orang, tidak melihat jabatan, tidak memandang muka. Kebenaran adalah kebenaran, tidak berubah oleh waktu, tidak berbeda karena situasi, dan tidak tergantung kepada keyakinan orang yang memegang kebenaran itu.
Masalahnya, banyak orang di Indonesia yang merelasikan hukum berdasarkan keyakinan agama, yang di dalamnya terkandung ajaran ketaatan sepenuhnya pada agama tanpa boleh mempertanyakannya lagi. Kritik dipandang sebagai penistaan yang diancam oleh hukuman penjara, dan hukum dibuat berdasarkan penegakan kekuasaan. Hal ini memungkinkan orang melakukan manipulasi, dengan membelokkan kebenaran sambil menyatakan diri sebagai orang yang saleh dalam memeluk agama.
Pada akhirnya, apa yang diatur adalah perbuatan yang dapat dilihat banyak orang. Pencuri disebut pencuri karena kedapatan mencuri. Orang dermawan disebut dermawan karena dilihat orang memberikan sedekah dalam jumlah besar. Orang saleh disebut orang saleh karena dilihat orang sudah pergi berziarah ke suatu tempat di luar negeri.
Maka, apa yang "dilihat" menjadi perkara penting, di mana banyak orang bisa merasa tersinggung jika seseorang melihatnya dari sisi buruk yang tidak diinginkan. Lantas akhirnya, demi terlihat baik, mereka yang berkuasa berusaha membungkam orang-orang yang melihat dan mewartakan keburukan. Kalau perlu, orang-orang itu dibungkam dengan pasal-pasal tentang pencemaran nama baik -- tanpa peduli bahwa tindakan itu sendiri sebenarnya merupakan upaya mencemarkan nama baik.
Mudah-mudahan, Prita Mulyasari menyadari hal ini dan berbalik menuntut orang yang sudah mencemarkan nama baiknya.
Selama kebenaran masih menjadi permainan kekuasaan, maka korupsi tidak akan hilang betapapun orang berusaha memberantas korupsi. Terlalu banyak kesulitan dan tekanan hidup, yang membuat para pemangku jabatan melirik cara untuk mendapatkan keuntungan ekstra dari jabatannya, asal saja tidak sampai dilihat orang.
Mengapa KPK bisa begitu berhasil menggetarkan hati orang? Karena, mereka mempunyai wewenang untuk membongkar apa yang tersembunyi. Mereka bisa menyadap dan merekam, sehingga bisik-bisik di telepon genggam menjadi rekaman yang diputar di sidang pengadilan, bahkan disiarkan melalui televisi serta dituliskan dalam media massa. Kita melihat bahwa kembali lagi, sekali lagi, pokoknya adalah keterbukaan akan kenyataan: apa yang tersembunyi kini diteriakkan dari gedung pencakar langit!
Sekarang, kembali lagi kepada pemilihan Presiden. Mereka bisa bicara banyak, tetapi kata-kata tidak mengerjakan sesuatu. Pertanyaannya adalah: apakah kita melihat kebenaran dalam segala perkara yang mereka sampaikan? Manusia hidup membuat sejarah, dan mereka yang sekarang berbicara di panggung kampanye juga mempunyai sejarah. Ibu Megawati, Pak Susilo, Pak Jusuf, semuanya pernah menjadi orang nomor satu dan dua di negeri ini. Seperti apa mereka menunjukkan keterbukaan tentang masa lalu mereka, dibandingkan dengan apa yang dikampanyekan hari ini?
Dalam kampanye, ada klaim-klaim tentang keberhasilan. Tetapi, publik juga mempunyai catatan tentang apa yang sudah mereka nyatakan, sikap yang mereka ambil, dan perbuatan yang terungkap serta menjadi pemahaman umum. Apakah semua hal ini benar dan saling mendukung? Ataukah, justru ada kontradiksi dan inkonsistensi?
Sayangnya, kelihatannya tidak ada satupun yang lepas dari kontradiksi dan inkonsistensi. Maka pertanyaannya menjadi, separah apakah kontradiksi yang terjadi? Barangkali kita terpaksa harus memilih yang paling bagus dari antara yang jelek.
Kerepotan kita bertambah karena dalam permainan kekuasaan, bukan hanya capres-cawapres yang berkepentingan. Partai-partai juga memiliki kepentingan, termasuk mereka yang sudah merasa kalah di pileg, sehingga berusaha merapat kepada "kaum pemenang" dan berusaha memberi jasa dengan memastikan kemenangan kaum pemenang ini. Belum apa-apa partai-partai ini sudah sesumbar akan mendapatkan jabatan Menteri Utama, karena sudah mempunyai kontrak dengan kaum pemenang.
Kontrak yang tidak pernah ada pengumumannya, tidak pernah ada pernyataan kedua belah pihak. Yang ada malah pengingkaran, penolakan terhadap klaim semacam itu. Di mana kebenaran dari pernyataan yang diberikan?
Yang terakhir, kesulitan kita juga timbul dari kenyataan bahwa media massa, entah itu televisi atau media cetak atau radio, dan juga para penulis di internet, di milis atau blog, pada dirinya sendiri terkandung subjektivitas yang mengemuka. Informasi yang disampaikan adalah informasi yang sudah dipilih, disaring, dan mungkin juga dimanipulasi, untuk mendukung pasangan tertentu. Jarang melihat ada opini yang benar-benar netral, dan kelihatannya masing-masing mempunyai kebenarannya sendiri dalam politik.
Ini juga, sebenarnya, adalah sebuah bentuk korupsi. Kalau kita semua bersama-sama melakukan korupsi di negara ini.... siapakah koruptornya?

16 Juni 2009

Ekonomi

Sekarang ini orang meributkan tentang ekonomi. Yang satu mengatakan, "anti neoliberal!!!" yang lain menyerukan "ekonomi kerakyatan!!!" Rasanya aneh mendengarnya, karena seolah-olah ekonomi sudah berevolusi menjadi spesies-spesies yang berbeda. Sepertinya, ada mahluk "neoliberal" sedangkan yang lain adalah "kerakyatan". Apakah yang kerakyatan tidak neoliberal? Apakah yang neoliberal tidak merakyat?

Tanpa memahami sejarah munculnya istilah-istilah itu, pengungkapan istilah begini kelihatannya hanya berguna untuk menunjukkan identitas yang berbeda. Manfaatnya, sekarang ini pemilu sedang diselenggarakan dan sekarang capres-capres sedang berjuang merebut 'hati rakyat'. Di sisi lain, rakyatnya juga mendadak menjadi penuh perhatian dan ingin memperoleh kursi terbaik di panggung pemilu, agar bisa turut berpartisipasi dalam komentar dan diskusi.

Masalahnya, banyak hal tidak bisa dipandang terpisah, terisolasi, seperti yang didengar dalam banyak berita seperti sekarang. Misalnya tentang kerakyatan, apa yang bisa dikatakan tentang ekonomi yang merakyat? Semua ini disimbolkan dengan sikap 'berpihak' kepada rakyat yang secara tidak langsung mengatakan bahwa selama ini Pemerintah tidak berpihak pada rakyat. Tetapi kalau Pemerintah yang dipilih rakyat tidak berpihak kepada rakyat, bukankah seharusnya Dewan Perwakilan Rakyat sudah bertindak jauh-jauh hari, bukan hanya menjelang kampanye pemilu ini saja?

Lebih parah lagi, kenyataannya adalah DPR juga yang turut mengambil keputusan atas berbagai kebijakan, yang belakangan disebut tidak memihak rakyat. Nah, bagaimana menjelaskan ada perwakilan rakyat yang tidak memihak mereka yang diwakilinya? Inilah Indonesia yang membingungkan. Lantas seperti apa ekonomi yang merakyat itu?

Yang digambarkan kemudian adalah hal-hal yang populer di mata rakyat. Bukankah enak sekali kalau sekolah bisa betul-betul gratis, kalau harga bahan pokok tidak naik lagi, harga BBM tidak pernah naik lagi, dan segala hal yang diatur oleh PEMERINTAH, di mana pasar tidak lagi menjadi penentu atau penguasa, serta Indonesia berdiri sendiri untuk menentukan sendiri apa yang baik bagi rakyatnya.

Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, tentunya harus ada orang-orang yang berani, yang bisa membabat habis korupsi, yang bijaksana untuk mengendalikan pasar dan harga-harga, yang bisa... seperti manusia yang serba-hebat dan serba-bisa, begitulah.

Kita semua setuju bahwa sudah waktunya korupsi sekarang juga dienyahkan dari bumi Indonesia. Tetapi, bagaimana mau menghilangkan korupsi jika kekuasaan untuk mengendalikan jatuh ke tangan sekelompok orang saja? Jika memang mau bebas korupsi, caranya adalah transparansi dan pembagian kekuasaan, bukan pemusatan kekuasaan.

Bayangkan ada sebuah pasar, di mana para penjual dan pembeli bertemu. Mereka semua asyik bertransaksi, dan tentunya ada kompetisi yang terjadi. Yang bawa barang paling bagus dan harga paling 'pas' menikmati proses dagang yang baik sampai barang bawaannya habis semua. Yang bawa barang jelek dan mau menjual dengan harga mahal, terpaksa gigit jari melihat pesaingnya laku berjualan sementara ia sendiri hanya duduk-duduk saja.

Tetapi kemudian, karena yang duduk-duduk itu jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang berdiri dan berseru-seru dan laku jualan, maka Penguasa Pasar datang dan membuat peraturan bahwa semua penjual harus bergiliran jualan dan semua pembeli harus menerima apa saja yang dijual dengan sebuah harga yang sama, walaupun kualitasnya berbeda. Dasarnya adalah tidak boleh ada orang yang menjadi miskin, sementara yang lain ada yang menjadi kaya.

Tentu saja pengaturan itu kelihatan bagus di awalnya, tetapi karena Penguasa itu manusia juga, maka ada orang yang berbisik-bisik dan menawarkan keuntungan ekstra bagi Penguasa supaya bisa mengatur transaksi yang lebih besar bagi dirinya sendiri. Maka Penguasa membuat peraturan baru dan tambahan baru, yang diam-diam menguntungkan sebagian orang dan merugikan orang yang lain. Siapa yang peduli? Yang dirugikan juga tidak mau ambil jalan konfrontasi, sebaliknya mengendap-endap mencari kesempatan untuk bisik-bisik lagi mencari celah dan jalan keuntungan...

Seperti itukah jenis ekonomi yang kita inginkan?

Atau, kita lebih suka melihat semua orang dipacu untuk memberikan yang terbaik dengan harga yang paling murah, sehingga para pembeli mendapatkan keuntungan yang terbesar? Sayangnya, cara seperti ini sudah kadung dicap sebagai "neoliberal", suatu produk yang dianggap jahat dan tidak pantas dijalankan di negeri ini. Masalahnya 80 persen pelaku bisnis ternyata tidak bisa memberikan yang terbaik dengan harga murah, karena tidak terbiasa berdisiplin dalam manajemen strategi, manajemen operasional, dan manajemen keuangan. Daripada susah-susah membangun pelaku usaha untuk kerja lebih baik, lebih mudah menerapkan prinsip kekuasaan untuk mengendalikan pasar, yang disukai dengan istilah "ekonomi kerakyatan" karena disebut-sebut membela rakyat kecil yang banyak jumlahnya.

Jika Indonesia hanya sebuah negara yang tidak berhubungan dengan dunia, barangkali kita bisa menerima (dengan rasa waswas) cara seperti ini. Kenyataannya, Indonesia tidak sendirian, karena negeri ini juga bertransaksi dengan dunia melalui ekspor dan impor. Dalam banyak hal seperti produk obat-obatan dan teknologi dan komunikasi, Indonesia masih bergantung kepada negara lain.

Masalahnya, tidak semua yang ada di negara ini berhasil bekerja dengan baik, dan kita harus menanggung 'kekalahan' transaksi dagang dengan banyak pihak lain. Indonesia bukannya tidak berusaha keras; karena akhirnya pelan-pelan cadangan devisa bisa bertambah juga sampai cukup untuk membiayai impor kurang lebih selama 4 bulan. Tetapi dana yang tersedia jumlahnya terbatas untuk wilayah dan penduduk yang begini luas dan banyak. Kalau sekarang Pemerintah harus memilih antara membayar utang luar negeri atau membayari kebutuhan rakyat yang miskin, yang manakah yang harus diprioritaskan?

Sebenarnya, kenyataan tentang kemiskinan rakyat tidak bisa dijawab dengan "keberpihakan" yang diartikan memberi BLT dan subsidi-subsidi serta peraturan yang mengecualikan mereka dari tuntutan untuk bekerja keras. Jika Pemerintah mengobral sekolah gratis dan subsidi yang meningkat terus -- seperti yang dinyatakan oleh sejumlah juru kampanye dalam pemilu -- maka yang diperoleh adalah ekonomi manja, bukan ekonomi kerakyatan.

Yang kita butuhkan adalah peraturan yang melindungi kesempatan yang adil bagi semua orang untuk berkembang, bukan pembatasan. Yang kita perlukan adalah kepastian bahwa tidak ada orang yang bisa memaksakan kehendak sehingga yang lebih maju harus berhenti atau mundur, demi membela yang tidak bekerja keras kelihatan maju. Yang kita perlukan adalah jaminan ada kesempatan yang sama bagi semua orang untuk bekerja, dan tidak perlu meminta izin melalui berbagai-bagai meja yang diisi oleh preman-preman dan perampok-perampok berbaju seragam.

Apakah seruan ini terbaca sebagai corak "neoliberal"? Ini bukan neoliberal, tetapi bisa saja orang memandangnya demikian. Tetapi kalau memang harus demikian, saya akan memilih orang yang masih memakai akal sehatnya dan melihat kebutuhan kita dalam jangka panjang, daripada mendengarkan mereka yang membujuk-bujuk dengan kenikmatan sesaat serta mengabaikan kerusakan jangka panjang.

31 Mei 2009

Mengetahui Kehendak Tuhan

Kol 1:9-12 Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah, dan dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar, dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang.

Orang-orang di Kolose pada waktu itu tidak lebih mudah hidupnya. Di antara penduduk yang menyembah dewa-dewi, dengan cara hidup yang campur baur antara yunani dan romawi, juga budaya asia, orang yang hidupnya mengikuti Kristus adalah minoritas yang unik. Mereka menjadi keunikan yang lain di samping orang-orang Yahudi yang sudah lebih dahulu tinggal di sana, di mana tidak semua orang Yahudi bersikap ramah dan bersahabat. Tetapi orang-orang Kristen di Kolose bertahan, di tengah berbagai konflik dan hasutan, antara lain oleh orang yang meninggikan diri oleh 'penglihatan' dan beribadah kepada malaikat.

Paulus barangkali tidak pernah menjejakkan kaki sendiri di Kolose, karena yang mengembangkan gereja di sana adalah Epafras. Tetapi Rasul ini tahu apa yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh jemaat di Kolose, yaitu segala hikmat dan pengertian yang benar. Dengan hikmat dan pengertian yang benar, orang Kristen dapat mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna. Secara lengkap, kita dapat melihat demikianlah urutannya:

1. Menerima segala hikmat dan pengertian yang benar --> adalah untuk:
2. Mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna --> sehingga
3a. Hidup layak di hadapan-Nya
3b. Berkenan kepada-Nya dalam segala hal
3c. Memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik
4. Bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah
5. Dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya --> untuk
6a. Menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar
6b. Mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa -->
7. Melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang

Semua ini dimulai oleh hikmat dan pengertian yang benar. Ini adalah hal yang penting; tetapi betapa sering kita melewatkan hal ini! Untuk mengetahui kehendak Tuhan, orang membutuhkan pemahaman, bukan sekedar perasaan senang, bahkan bukan sekedar pengalaman yang ajaib bersama Roh Kudus. Ada yang merasa bahwa dirinya sudah mengetahui "kehendak Tuhan" karena semalam mendapatkan sesuatu di dalam mimpinya, atau mendengar suatu suara berbicara di dalam hatinya, tetapi secara keseluruhan ia tidak memahami garis besarnya.

Ada juga yang mengatakan, kita manusia tidak perlu tahu atau mengerti bagaimana rancangan Tuhan yang besar dan mulia, yang penting taat saja setiap saat untuk segala hal yang muncul sekarang. Nah, tentu saja kita tidak dapat mengerti segala rancangan Allah, dan pasti kita harus bersikap taat setiap saat, namun tidak pernah dikatakan bahwa kita tidak perlu mengerti dengan benar mengenai apa yang Tuhan inginkan. Kita perlu menerima hikmat dan pengertian yang benar, adalah untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna! Bukan hanya sepotong. Bukan cuma sekedarnya, atau sambil lalu -- seperti prajurit yang bergerak hanya berdasarkan komando, tanpa mengerti seperti apa jalannya pertempuran.

Tuhan mau kita juga mengerti garis besar rancangan-Nya, dan kita bukan hanya hidup serta melakukan segala sesuatu bagi Tuhan di hari ini, melainkan juga untuk masa depan. Sayangnya, orang masih banyak yang melihat 'ketaatan' sebagai persyaratan untuk 'hidup yang berlimpah' dalam waktu dekat, membuat tindakan religius sebagai sebab dari kehidupan yang lebih sehat, lebih makmur, lebih menyenangkan -- secepatnya. Ini adalah akibat dalam jangka pendek, di mana yang dapat diperhatikan sifatnya terbatas yaitu di sekitar kehidupannya sendiri saja.

Perhatikanlah, pengetahuan akan kehendak Tuhan adalah untuk menjadikan kehidupan orang Kristen layak dihadapan-Nya, berkenan kepada-Nya dalam segala hal, memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik. Ini bukan sesuatu tentang apa yang terjadi pada diri orang Kristen, bukan berbicara tentang apa 'berkat' yang kita terima, melainkan tentang bagaimana kita bekerja, mengambil keputusan-keputusan, dan menjadikan diri kita nampak baik di hadapan TUHAN. Apakah kita kelihatan oke di hadapan TUHAN karena kite mempunyai rumah atau mobil atau kesenangan seperti yang kita mau? Apakah kita akan diterima-Nya karena kita bisa mendapat posisi yang terhormat di Gereja, mendapatkan kekaguman dari orang lain untuk kedermawanan kita, atau karena kita bisa beraktivitas 4 hari dalam seminggu di Rumah Tuhan?

Pada akhirnya, yang penting bukanlah apa yang kita konsumsi dan bukan apa yang kita terima, melainkan apa yang kita produksi, apa yang kita hasilkan. TUHAN itu baik; Dia memberikan harta yang kita butuhkan, kesempatan untuk melayani di Gereja, kemampuan dan kapasitas, bahkan karunia untuk melakukan hal-hal yang besar. Itu adalah apa yang TUHAN berikan, dan Dia tidak terkesan karena kita menerimanya. Mungkin rasanya sama seperti kalau kita baru saja memberikan hadiah yang bagus sekali kepada anak, mungkin baru saja memberikan padanya sebuah netbook baru (laptop yang ukurannya mini) kepada anak kita yang baru naik kelas. Kenyataan bahwa anak itu sekarang mempunyai barang yang canggih dan mahal tidak akan mengesankan kita -- toh itu adalah hasil dari apa yang kita perbuat, bukan? Tetapi, ketika anak kita melakukan sesuatu dengan netbooknya, kita bisa terkesan. Ketika anak itu membuat hal-hal yang baik, yang berguna, itulah yang kita hargai.

Bagi Tuhan, hasil yang mengesankan-Nya adalah ketika kita bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang-Nya. Kata 'bertumbuh' di sini berarti berubah, menjadi makin banyak, makin akurat, dan semakin mampu membedakan apa yang sungguh-sungguh dikehendaki Allah. TUHAN mempunyai karakteristik tertentu yang konsisten dan unik, yang tidak dapat langsung dipahami manusia, tetapi bisa dipelajari. Orang yang sungguh-sungguh dapat mulai mengerti bahwa Tuhan itu begini dan tidak begitu, tentang apa yang Dia kehendaki dan tidak kehendaki.

Bagaimana dengan prestasi-prestasi? Kita barangkali lebih menyukai kalau Tuhan melihat, "TUHAN, lihat aku sudah membangun Gereja ini!" Tapi, kalau kita mengatakan demikian, maka kita tidak sungguh-sungguh mengenal-Nya, juga tidak benar-benar mengenal dunia di mana kita tinggal. Siapa di dunia ini yang dapat mengklaim sesuatu adalah sepenuhnya merupakan hasil karyanya sendiri? Dan sekalipun ada orang yang bisa membuat sesuatu yang mengesankan, darimanakah dia mendapatkan kemampuan untuk melakukan hal-hal yang luar biasa itu? Seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus, segala kesanggupan kita pun merupakan karya Allah.

Demikianlah, jika ada sesuatu yang benar-benar kita hasilkan, itu adalah pengenalan yang benar tentang-Nya, karena kita sungguh-sungguh memang menginginkannya. Jika kita mengenal-Nya, maka kita pun akan memahami tentang kuasa-Nya. Maka kita pun bisa turut ada dalam situasi dimana kita dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya. Ini hasil karya Roh Kudus -- bukan kita yang berkuasa. Tetapi turunnya Roh Kudus menyertai kita telah membuat kita dapat menanggung situasi-situasi yang lebih sulit, karena pada kita kini ada cara-cara penyelesaian yang supranatural, tidak terpikirkan.

Beberapa orang berpikir bahwa kuasa itu berpindah kepada "orang-orang kudus", dan mereka sepertinya mempunyai kuasa untuk melakukan apa saja. Maka, orang membuat acara untuk mendemonstrasikan kuasa itu: kesembuhan, bebas hutang, bebas masalah -- acara demikian dipromosikan besar-besaran, dihadiri oleh banyak orang yang menginginkan solusi dari semua kesulitannya, tanpa merasa perlu untuk lebih dalam mempelajari tentang Tuhan dan hidup sesuai dengan-Nya. Di sisi lain, aspek ketaatan dari hidup direduksi dengan hal-hal yang lebih sederhana seperti ketaatan memberikan perpuluhan, mengikuti kebaktian doa, dan tentu saja kebaktian minggu.

Hari ini kita merayakan hari Pentakosta. Sekarang Roh Kudus menyertai kita -- apakah Dia akan puas hanya oleh perpuluhan kita, doa kita yang minta berkat dan memberkati (bahkan, untuk memberkati orang tidak melakukannya sendiri, sebaliknya mereka berdoa dan minta Tuhan yang melakukannya), dan berbagai aktivitas yang penuh hormat itu? Kita suka Roh Kudus ada di sini, hadir di sini, dan kita pikir Dia senang kalau kita menyanyikan lagu-lagu pujian, tanpa berusaha untuk sungguh-sungguh mengenal-Nya.

Pikirkanlah. Jika kita tidak sungguh-sungguh mengenal seseorang, lantas memberi banyak pujian kepada orang itu, bukankah semua pujian itu hampa belaka? Demikian juga dengan TUHAN, dengan Allah Roh Kudus. Kita mungkin bernyanyi hanya karena ada lagu, karena kita bisa terhanyut oleh lagu itu secara emosional, namun kesadaran kita sendiri masih mencari-cari apa yang dimaksud oleh nyanyian itu di dalam kehidupan kita. Seperti apakah "korban puji-pujian" yang kita persembahkan?

Lebih jauh lagi, bagaimana seandainya masalah-masalah itu tidak lenyap, masihkah kita mengakui bahwa kita dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya? Kekuatan bukan sekedar menunjukkan kemampuan menyelesaikan masalah, tetapi juga kemampuan untuk menanggung masalah itu dalam jangka panjang.

Itulah yang dikatakan: kuasa itu adalah untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Beban tidak serta merta diangkat, masalah tidak serta merta hilang. Tetapi dalam hikmat dan pengertian, kita mampu menempatkan beban hidup dalam tempatnya yang benar. Kita mampu tetap sabar -- artinya, masalah itu masih ada di sana. Orang yang sabar seperti orang yang sedang menunggu sementara segala sesuatu masih terjadi diluar harapan. Betapa kita ingin penyelesaian yang instan! Tetapi, Tuhan memampukan kita tetap waras dan tetap ada di sini, menanggungnya.

Kemampuan menanggung ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk dengan tulus bersukacita dan bersyukur. Kita mampu melihat hal-hal yang baik di antara sampah, di antara penyakit, di antara segala keburukan dunia. Kita mengerti betapa Kristus sudah lebih dahulu hadir di sini, dan sekarang Roh Kudus hadir -- itu saja menjadi alasan besar untuk bersukatica dan bersyukur. Orang yang bersyukur mempunyai kesanggupan untuk memberi lebih, mengerjakan lebih, hingga banyak buah yang dapat dinikmati serta mempengaruhi orang-orang lain di sekitarnya.

Dalam prosesnya, kita yang mempengaruhi orang lain juga turut diubahkan. Pengetahuan yang benar tentang kehendak Tuhan membuat kita berubah dari hari ke hari, dari satu masalah ke masalah, dari satu berkat ke berkat lain. Itulah yang dibawa oleh Roh Kudus: kita menjadi layak untuk masuk dalam Kerajaan-Nya. Kita layak untuk menerima bagian yang telah ditentukan -- suatu bagian yang mulia, yang tidak dapat hancur, yang kekal.

Selamat hari Pentakosta, marilah kita mengenal TUHAN lebih sempurna, oleh hikmat dan pengertian yang diberikan-Nya!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

PS: Satu baris terakhir: bagian ini sebenarnya adalah doa. Saya suka heran sendiri, mengapa isi doa dituliskan di dalam surat? Jika memang mau minta hikmat dan pengertian, bukankah itu cukup dimintakan saja -- dan TUHAN memberikannya? Tetapi rupanya Rasul Paulus mengerti bahwa doa kepada Tuhan untuk meminta hikmat dan pengertian bersifat dua arah. Satu, kepada TUHAN yang memberikannya. Dua, kepada manusia untuk menerimanya. Karena TUHAN tidak memaksakan hikmat-Nya kepada orang yang tidak bersedia memikirkan tentang diri-Nya. Jadi doa ini dituliskan dalam surat lengkap dengan tujuannya, agar jemaat Kolose bersedia untuk menerimanya. Apakah kita bersedia menerimanya juga?

11 April 2009

Paskah dan Pemilu

Hari ini adalah hari pemilihan umum. Besok orang Kristen di seluruh dunia akan memperingati Jumat Agung, Good Friday, dan sebenarnya kita mengingat tentang saat-saat penyaliban Kristus. Malam ini di mana-mana orang mengingat malam Getsemani, seperti kembali mendengarkan rintihan-Nya, "biarlah cawan ini berlalu..."

Tetapi hari ini banyak orang yang menunggu dipilih, sementara mereka telah mengeluarkan amat sangat banyak uang, waktu, tenaga, bahkan prinsip-prinsip moral, sedang berharap cawan itu mampir dibibirnya, untuk seteguk kenikmatan politik di negeri ini. Apa yang sebenarnya sedang mereka harapkan? Ini adalah pemilihan legislatif, yaitu satu badan dari trias politica yang mengatur kesepakatan atas bagaimana negara ini akan berjalan, melalui pengaturan hukum dan undang-undang, mulai dari perancangannya, evaluasi pelaksanaannya, hingga pertanggungjawabannya.

Mereka yang berharap terpilih, dalam realita akan menduduki sebuah tempat di Dewan Perwakilan, entah di pusat atau di daerah. Entah mewakili partai atau mewakili daerah. Pilihan kita pada mereka adalah pilihan berdasarkan partai karena pada kenyataannya, para anggota Dewan Perwakilan harus mentaati ketentuan partai tempat di mana mereka beraktivitas. Tetapi orang-orang ini berkampanye seolah-olah mereka menjadi pemimpin, hingga akhirnya ketika kita memilih, ada harapan bahwa pilihan ini akan membuat sesuatu yang benar-benar berbeda. Dan betapa keras para caleg berusaha agar orang-orang memilih dirinya!

Demikianlah kita melihat bahwa mereka yang tidak dalam posisi untuk langsung membuat perubahan, justru menawarkan janji perubahan sementara mereka sendiri tidak membawa sesuatu perubahan yang nyata sebelumnya. Itulah karakter manusia: jabatan dahulu, prestasi menyusul. Salah satu motivasinya adalah imbalan besar bagi setiap orang yang berhasil menduduki kursi dewan perwakilan. Itulah cawan yang manis dan menyenangkan.

Tetapi Tuhan Yesus gentar dengan cawan-Nya sendiri. Bukan karena perubahan yang dibuat oleh Yesus, melainkan bagaimana perubahan itu akan menghampiri diri-Nya sendiri. Ini adalah reaksi yang wajar, suatu hal yang benar, karena Tuhan Yesus sungguh-sungguh menghargai dan memuliakan hubungan-Nya dengan Bapa. Perubahan memang dibutuhkan, tetapi Yesus harus membayar dengan amat mahal. Sebenarnya, itulah harga yang harus dibayar oleh setiap pemimpin perubahan.

Dengan kegentaran-Nya, justru Tuhan Yesus menjadi seorang yang sangat berani. Keberanian bukan berarti tidak merasa takut atau gentar, melainkan justru di tengah rasa takut, Ia tetap memilih untuk maju terus melakukan karya yang harus diselesaikan-Nya. Apakah dengan demikian, Tuhan Yesus mendapatkan sesuatu atau mengharapkan imbalan? Tidak, yang diberikan-Nya adalah anugerah bagi manusia! Ini adalah pemberian satu arah dari kasih agape yang sejati dari Tuhan. Kasih yang menimbulkan keberanian, sehingga Yesus tetap menyongsong murid yang mengkhianati-Nya, membiarkan para prajurit itu menangkap-Nya, bahkan mengobati yang terluka.

Dalam satu sudut pandang, perubahan yang ditawarkan Tuhan menjadi sebuah pilihan yang boleh diambil manusia. Berita kabar baik kini telah disiarkan ke seluruh penjuru dunia, dan manusia bisa "menggunakan hak pilihnya" atas kabar baik ini, atau memilih banyak tawaran kepercayaan dan keyakinan agama lain yang jumlahnya tidak terhitung. Seperti pemilu, pilihan yang diambil juga membawa sebuah konsekuensi. Semua manusia memiliki hak untuk memilih, tetapi tidak bisa menolak konsekuensinya.

Sayangnya, orang seringkali tidak memikirkan konsekuensi, apalagi yang berjangka panjang. Asal hari ini ada keramaian, kehebohan, kemudian bisa makan gratis, hiburan gratis, cukuplah. Inilah wakil rakyat yang dipilih: yang menyenangkan. Tetapi, ketika mereka menelurkan UU yang menekan dan mengacaukan, apa yang dapat dilakukan selain kembali berdemonstrasi? Sayangnya, banyak orang tidak lagi mengingat apa yang mereka pilih, tidak sadar yang dipilih itulah yang sedang mengacaukan negara ini. Itulah konsekuensi.

Demikian pula dengan pilihan manusia atas keyakinan. Orang bisa memilih suatu agama karena teman, karena keramaian, kehebohan, dan mungkin hiburan gratis, makan gratis. Untuk sesaat, mungkin orang mendambakan kegembiraan saat ini juga karena berkat dan rejeki dan teman-teman yang menyenangkan. Tetapi dalam jangka panjang, apa yang orang pilih itu belum tentu memberikan konsekuensi yang kita butuhkan; saat itu kita tidak dapat berbuat apa-apa atas salah pilih yang dilakukan. Malah orang juga bisa menjadi golput, yang dalam istilah lain adalah "atheis" namun itu pun tetap merupakan suatu pilihan dengan konsekuensinya.

Perbedaannya, kita kembali memandang ke atas salib, di mana Tuhan Yesus memberikan pilihan ini dengan memberi nyawa-Nya sendiri. Tidak ada pemimpin di dunia yang memberi sebesar Tuhan Yesus Kristus, baik pemimpin politik maupun pemimpin agama, yaitu menyerahkan nyawa sebagai tebusan atas kehidupan kita. Penyerahan yang diberikan dengan kegentaran, sama sekali tidak mudah, tetapi toh tetap diberikan juga hingga menghembuskan nafas terakhir.

Dari penebusan, Tuhan Yesus memberikan perubahan yang pasti bagi orang percaya yang memilih untuk menerima-Nya. Kita sudah, atau mungkin sudah, memilih dalam politik – rakyat Indonesia sudah melaksanakan pemilu. Tetapi apakah rakyat Indonesia sudah memilih dalam menentukan kehidupan dalam kekekalan?

Nyatanya, berbagai analisa dan perhitungan cepat menunjukkan, orang Indonesia juga sudah memilih agama ketika memilih partai, sebagaimana kita lihat koalisi yang terbentuk berangkat dari agama mayoritas di negara ini. Dalam tahun-tahun yang akan datang, pilihan ini akan membawa Undang Undang dan peraturan yang sesuai dengan keyakinan agama; sukar mengharapkan kebhinekaan atau keterbukaan terhadap agama dan kepercayaan lain, termasuk kekristenan.

Konsekuensinya akan timbul, mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebenarnya kita bisa melihat Amerika yang baru memilih presidennya, setelah sebelumnya kongres dikuasai oleh partai yang sama. Kita dapat melihat betapa pilihan itu membawa konsekuensi, suatu kehidupan yang berbeda, situasi berbeda, suatu kehidupan yang semakin dijauhkan dari Kristus beserta Kerajaan Allah. Akan menjadi seperti apakah kehidupan di atas dunia ini?

Satu hal yang pasti, TUHAN tetap memiliki otoritas tertinggi; bahkan ketika seluruh dunia melawan-Nya di Armageddon, tentara dunia terbakar habis dihadapan-Nya. Inilah hal-hal yang telah dinyatakan melalui Wahyu, yang kita bisa memilih untuk percaya atau tidak percaya. Di sana, pilihan untuk menerima Paskah atau menolaknya, menjadi suatu konsekuensi.

Selamat hari Paskah, kiranya kita sekalian teguh dalam pilihan kita bagi Kristus.

Terpujilah TUHAN!

08 April 2009

Profesional Yang Memberkati

Kol 3:23  Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Gal 2:20  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

IDE Yang Salah

Berapa kali kita mendengar kata-kata ‘bijak’ seperti ini: “Kita harus menyeimbangkan antara hidup untuk Tuhan dan pekerjaan atau karir kita.”

Lalu berapa kali kita pernah mendengar permohonan maaf seperti ini: “Maaf ya, saya tidak ikut pelayanan persekutuan doa karena kemarin saya harus bekerja.”

Dan, kalau kita sendiri yang memohon maaf, berapa kali kita mendengar teguran seperti ini: “Bagaimana sih? Apakah kamu lebih mendahulukan pekerjaan daripada Tuhan?”

Ide-ide ini berangkat dari sebuah pemikiran yang sangat tua, bahwa tubuh ini merupakan penjara jiwa. Apa yang ‘rohani’ berbeda dari apa yang ‘daging’, dan orang harus berusaha untuk memenuhi rohaninya lebih dulu daripada tubuhnya. Salah satu penegasan tentang hal ini ‘dibuktikan’ dengan penjelasan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh (trikotomi) walau kalau melihat teologi bapa-bapa gereja, mereka hanya membagi berdasarkan tubuh dan roh (dikotomi).

Yang tidak orang sadari adalah, ide bahwa tubuh sebagai hal yang buruk bukan berasal dari Firman, melainkan dari budaya hellenis, Platonism.  Mereka percaya bahwa Allah adalah sebuah sumber roh, di mana roh manusia merupakan pecahan dari roh Allah karena itu roh bersifat mulia dan kudus. Tetapi tubuh fisik merupakan bagian dari semesta yang lebih ‘rendah’, karena itu harus didisiplinkan untuk menampung roh. Pemikiran ini membuat orang tidak menikah dan bahkan mengebiri dirinya, seperti yang dilakukan oleh Origen, salah seorang bapa gereja awal (185-254AD?) yang berpengaruh di Alexandria. Pemikiran ini juga jelas mempengaruhi Augustinus dan Aquinas, serta mempengaruhi kekristenan di Abad Pertengahan.

Alkitab sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa tubuh buruk. Dikotomi memang menjelaskan bahwa manusia dapat dilihat terdiri dari dua elemen, namun kedua-duanya jatuh dalam dosa dan harus dibinasakan. Hanya karena anugerah dan kasih Tuhan Yesus Kristus, maka manusia diselamatkan. Roh-Nya membawa kelahiran baru roh kita, sedangkan tubuh kita masih tetap sama. Tetapi, tidak berarti tubuh menjadi penjara jiwa, atau membagi kemanusiaan menjadi dua. Nyatanya, tubuh ini juga yang dipakai oleh Tuhan untuk memuliakan-Nya.

Alkitab juga tidak pernah mengajarkan untuk “menyeimbangkan” antara rohani dan pekerjaan. Apapun yang kamu perbuat secara tegas meliputi segala aspek perilaku di semua tempat setiap saat, dilakukan dengan segenap hati bagi Tuhan. Hidupku yang kuhidupi sekarang merujuk kepada seluruh kehidupan dari bangun sampai tidur, semuanya.

Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan: segala buah-buah roh merupakan sesuatu yang dipahami dalam tindakan dan relasinya dengan orang lain. Inilah yang ditegaskan oleh rasul Paulus mengenai buah-buah roh: Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Tentu saja, hukum berlaku mengatur tindakan masyarakat.

Tindakan Yang Memuliakan: Yang Memberi

Bagaimana kita bisa menilai sebuah tindakan sebagai sesuatu yang memuliakan Tuhan, bagi Tuhan? Pertama-tama, kita perlu mengerti apa yang disebut ‘mulia’. Semua yang mulia adalah yang berharga. Logam yang mulia adalah logam yang sangat tinggi harganya. Batu mulia menjadi salah satu instrumen investasi yang nilainya tidak pernah turun. Manusia menilai sesuatu ‘mulia’ karena dua hal: karakteristik yang khusus dan dampak yang diberikannya bagi manusia.

Logam mulia mempunyai karakteristik tidak berubah dipengaruhi waktu. Emas tidak pernah berkarat, kehilangan kilaunya, atau larut dalam asam. Emas memberikan kestabilan; orang  yang memiliki 1 ons emas hari ini dapat tetap memiliki 1 ons emas 10 tahun lagi (tentunya jika kalau emas itu tidak dicuri atau dijual).

Seorang raja mempunyai karakteristik kepribadian yang berkharisma; demikianlah seorang pangeran sejak kecil dididik untuk menjadi raja. Segala hal yang diputuskan oleh sang raja akan mempengaruhi kehidupan semua orang, damai atau perang, sejahtera atau kelaparan.

Manusia tidak bisa membuat emas menjadi emas. Ada orang yang tidak punya karakter raja, akhirnya menghancurkan kerajaannya seperti Rehobeam, anak raja Salomo yang penuh hikmat. Yang dapat manusia lakukan adalah menemukan apa yang mulia. Istilah ‘memuliakan’ berarti memberitahu, menyadarkan orang lain tentang sesuatu sebagai hal yang mulia.

Untuk memberitahu orang lain, maka harus ada dampak yang terjadi pada orang lain itu. Bagaimana seseorang dapat menimbulkan sesuatu bagi orang lain secara positif? Cara yang dikenal manusia adalah dengan memberi. Ketika kita memberi sesuatu, ada perubahan yang terjadi pada diri penerima – paling sedikit dari kondisi tidak memiliki menjadi memiliki. Namun dampaknya bisa lebih luas: mungkin kita membuat orang menjadi lebih sehat, lebih senang, lebih sejahtera, mempunyai kesempatan dan harapan, mengeluarkan orang dari situasi putus asa.

Inilah yang diingat dari perkataan Tuhan Yesus: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima[1]. Kebahagiaan muncul dalam relasi, ketika kita melihat orang-orang yang kita kasihi berubah secara positif karena pemberian kita. Mereka kemudian akan bertanya-tanya, apa yang menjadi alasan dari pemberian itu?

Ketika orang mengerti bahwa alasan pemberian adalah karena kita telah memiliki Tuhan, maka kita memberitakan bahwa Tuhan sebagai sumber yang mengubah hidup kita sendiri, sehingga kita disanggupkan untuk memberi. Hal ini mengundang orang untuk turut memahami Tuhan sebagai sesuatu yang mulia – demikianlah kita memuliakan Tuhan.

Jadi tindakan yang memuliakan adalah tindakan memberi. Pertanyaannya, di masa yang penuh dengan kompetisi seperti saat ini, bagaimana kita dapat memberi secara signifikan?

Profesional: Memberi Yang Terbaik

Dalam sebuah pertandingan, ada dua macam pemenang. Pemenang yang amatir adalah mereka yang menang karena kesalahan lawan. Pemenang yang profesional adalah mereka yang menang karena lebih baik daripada lawan.

Profesional adalah sikap menjunjung profesi, artinya menguasai segala aspek untuk memberikan secara utuh dan sempurna. Gerakan terbaik dalam olahraga dilakukan para pemain profesional; siapa yang tidak tahu Michael Jordan dalam basket? Dia terkenal dengan “berjalan di udara”, melakukan gerakan yang spektakuler. Banyak orang berusaha menirunya, tetapi sedikit saja yang berhasil.

Apakah para profesional mendapatkan kemampuannya begitu saja? Tidak, mereka menempa diri dengan cara yang lain dibandingkan orang awam. Rasul Paulus juga mengajar orang untuk menjadi profesional, karena dia menggambarkan dirinya “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.[2]

Latihan yang dilakukan Michael Jordan adalah setiap hari melemparkan bola beratus-ratus kali, dan ia tetap melakukannya sekalipun telah menjadi NBA Superstar. Dia tidak mengatakan, “oh saya sudah bisa, jadi sekarang saya mau duduk dan nonton televisi.” Itu adalah hal yang dilakukan oleh orang awam, bukan profesional.

Dengan menjadi profesional, seseorang memberikan yang terbaik dan mempengaruhi banyak orang. Michael Jordan telah menginspirasi banyak orang dan mempengaruhi – bahkan orang-orang yang ada diluar gelanggang basket. Dia memberikan lebih dari sekedar pertandingan yang indah dipandang dan enak diikuti; dia menunjukkan bagaimana seorang manusia bisa memberikan yang terbaik pada dirinya.

Jika kita berniat untuk memberi yang terbaik, apalagi yang terbaik itu adalah bagi Tuhan seperti yang kita nyanyikan, sebaiknya kita mulai melangkah dalam jalan seorang profesional. Ini bukan jalan yang mudah atau sederhana. Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan saja. Namun pikirkanlah, perbuatlah dengan segenap hati sebagai sesuatu bagi Tuhan, bukan manusia.

Setiap anak Tuhan dipanggil untuk menjadi hamba-Nya dalam bidang yang Tuhan berikan. Memang, ada hamba Tuhan yang melayani pemberitaan Firman. Tetapi ada juga hamba Tuhan yang melayani bidang kesehatan. Ada yang melayani perdagangan. Ada yang melayani keuangan. Atau pendidikan. Atau perumahan. Di bidang apa kita hendak menjadi profesional?

Menjadi profesional bukan berarti menjadi orang yang menomor-satukan pekerjaan dan melupakan Tuhan. Kalau orang memang mau melupakan Tuhan, tidak perlu beralasan karena pekerjaan, atau mencari kambing hitam yang bernama ‘kesibukan’!

Menjadi profesional berarti menaruh semua konsentrasi dan usaha untuk menguasai sepenuhnya, untuk memberi yang terbaik kepada masyarakat, melakukannya bagi Tuhan. Bukankah dikatakan demikian oleh Firman: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya[3]. Apapun yang kita kerjakan dengan baik, bukan karena kita sanggup sendiri, melainkan karena Allah sudah mempersiapkannya.

Tuhan sudah mempersiapkan. Tinggal kita sekarang: apakah kita mau melakukannya dengan profesional atau hanya amatiran saja? Dan apakah kita melakukannya untuk memuliakan Tuhan?

Terpujilah TUHAN!



[1] Kis 20:35

[2] 1 Kor 9:26

[3] Ef. 2:10