Cari Blog Ini

25 Agustus 2007

The Law of Attraction? Nggak lah...

Sekarang ini, banyak orang yang kelihatannya begitu bergairah menonton dan membaca buku The Secret. Kenapa? Karena, dari permulaan film ini mempresentasikan sebuah keyakinan (karena, memang bukan hal yang ilmiah) tentang "The Law of Attraction". Disebutkan bahwa hukum ini adalah sebuah hukum alam, yang seperti hukum gravitasi akan terjadi pada siapa saja, di mana saja, kapan saja... Wow!


Caranya sederhana. Kalau Anda menyukai sesuatu, maka sesuatu itu akan menyukai Anda. Kalau Anda memberi pesan kepada alam semesta (universe) bahwa Anda suka sesuatu, maka universe akan memberikannya kepada Anda, sesuai dengan kesukaan itu. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal yang positif, maka yang positif itu akan datang pada Anda. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal negatif, maka yang negatif akan datang.


Jadi, manusia adalah bagian dari universe, yang sanggup mengkomando universe. Karena hanya manusia yang bisa mengkomando universe, maka manusia adalah tuhan di dalam universe, di mana tuhan ada pada setiap orang. Caranya, percayalah dan yakinkanlah bahwa sesuatu itu telah menjadi milik Anda!


Woooww!


Sayangnya, realitas objektif tidak pernah menyatakan hal itu. Seorang yang dengan yakin menyatakan telah sembuh dari penyakitnya -- dia kena hyperthyroid -- sehingga ia menolak minum obat setiap hari, pada akhirnya meninggal karena hyperthyroidnya. Kata-kata positif akhirnya menjadi delusi, "saya sukses!" tapi yang didapat adalah kegagalan. Orang yang berhasil justru orang yang berani memikirkan apa yang mungkin akan menghambat dan menimbulkan kegagalan, karena itu mengantisipasinya lebih dulu dibandingkan yang lain.


Realtias objektif yang paling nyata adalah dalam hal keuangan. Semua orang berinvestasi dengan keyakinan bahwa besok nilainya akan bertambah dan bertambah. Tapi hanya investor sejati yang tahu bahwa apapun bisa turun, dan oleh karena itu justru berpeluang untuk mendapatkan hasil lebih besar. Orang yang serba-yakin-dan-positif justru jatuh dan kalah dalam keyakinannya.... atau The Law of Attraction tidak berlaku di bursa modal?


Dikatakan, universe tidak tahu apa yang baik atau buruk... ia hanya memberikan apa yang disampaikan. Tapi, pemikiran ini salah dalam dasarnya... karena banyak hal dalam pemikiran manusia "membendakan" suatu ketidak-beradaan. Jika universe ini memberi, apakah lalu ia mengambil juga? Bingung?


Nah, coba pikirkan tentang, misalnya, panas dan dingin. Atau terang dan gelap. Jika kita ingin panas, apakah panas akan datang? Jika kita ingin dingin, apakah dingin akan datang? Sebentar: panas mungkin datang, tetapi dingin itu adalah kondisi di mana tidak ada panas. Terang mungkin datang, tetapi gelap adalah kondisi di mana tidak ada terang. Kekayaan mungkin datang, tetapi kemiskinan adalah kondisi di mana tidak ada kekayaan.


Jadi, yang benar adalah bahwa 'kekayaan' itu pergi, bukannya kemiskinan yang datang, karena kemiskinan itu hakekatnya tidak exist. Ada kekayaan, atau tidak ada kekayaan, itu saja. Lalu, jika segala sesuatu menarik segala sesuatu, apakah ketiadaan dapat menarik ketiadaan? Tidak mungkin, karena apa yang tiada itu tidak dapat melakukan apa-apa. Ketiadaan tidak bisa melakukan apa pun, karena tidak ada. Ruang hampa tidak pernah membuat sekitarnya menjadi hampa juga.


Semua orang menyukai kekayaan (kecuali, orang yang berkeyakinan harus hidup miskin). Jadi apapun juga yang dimilikinya menjadi kekayaan baginya... tapi kemudian ada yang mengambilnya. Mengapa? Kemiskinan tidak bisa mengambil, karena kemiskinan adalah keadaan setelah kekayaan itu diambil dari padanya. Lalu, siapa yang mengambil? The Law of Attraction sama sekali tidak menjelaskan hal ini.


Yang benar adalah: bahwa ada kekuatan lain yang mengendalikan universe. Ada Tuhan yang mencipta. Ada iblis yang merampas. Tuhan adalah Sumber, Dia menyediakan. Sebaliknya iblis adalah lubang hitam yang menghisap segala sesuatu bagi dirinya sendiri, mengambil kehidupan manusia -- atau dengan kata lain, membunuh manusia. Begitulah kata Tuhan, bahwa iblis adalah pembunuh manusia. Jika mau disebut "the law of attraction" sebenarnya iblis adalah perwujudan sempurna, karena ia menarik segala sesuatu bagi dirinya sendiri, dan membuat orang menarik segala sesuatu untuk dirinya sendiri juga. Pemenang akhirnya tentu si iblis yang merampas jiwa-jiwa manusia.


The Law of Attraction mengajarkan orang untuk memberi pesan pada universe untuk datang pada dirinya; dengan kata lain, menarik segalanya bagi dirinya sendiri. Kesehatannya sendiri, kekayaaannya sendiri, kemakmurannya sendiri, dst... manusia lantas jadi tuhan yang menarik apapun, bukan menjadi anak  Tuhan yang memberi. apakah ini benar?


Lihatlah alam. Alam itu memberi, tidak menarik. Matahari memberi cahayanya. Pohon memberi buahnya. Udara mengalir dari tekanan positif ke negatif. Muatan listrik mengalir dari positif ke negatif. Segala yang positif adalah segala yang memberi, menyediakan. Segala yang negatif adalah segala yang menarik, menghabiskan. Manusia yang positif memberi dirinya bagi Tuhan, memberi dirinya bagi sesama, dan memberi dirinya bagi alam untuk memeliharanya.


Lihatlah sejarah. Kehidupan manusia bisa menjadi baik karena orang-orang yang bersedia memberi, bahkan ketika ia tidak mendapat apa-apa. Kesuksesan orang datang karena ia menyediakan, bukan karena memberi pesan untuk meminta. Dan seseorang bisa menjadi kaya karena ada orang lain yang menyediakan, bukan karena diminta.


The Law of Atttraction? Nggak lah...


Powered by Qumana


04 Agustus 2007

sudah lama

Sudah lama yah... menunggu diisi, menunggu dibaca. Sesukar menulisnya, sesulit itu juga membacanya...

23 April 2007

Tanggung Jawab dan Kemenangan

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Setiap orang menginginkan hidup yang lebih baik. Kalau ditanya pada saya atau pada Anda, kita semua dengan spontan akan mengangguk mantap mengatakan, "ya, saya mau hidup lebih baik." Kebanyakan dari kita mengartikan bahwa kita ingin hidup lebih sejahtera, lebih makmur, atau lebih kaya. Sebagian orang lagi mengartikannya bahwa kita ingin memiliki hidup yang lebih bermakna, ada artinya.

Karena, mungkin saja selama ini kita bergumul dengan masalah keseharian: bagaimana mencari makan hari ini? Bagaimana cara membayar uang kontrakan, atau uang sekolah anak? Bagi sebagian orang lain, hal-hal itu bukan suatu beban yang terlalu sulit, tetapi hidupnya pun terasa begitu-begitu saja, seperti putaran roda sepeda yang dibalik. Berputar cepat, tetapi tidak melaju kemana-mana. Kita melalui masa-masa baik dan masa-masa buruk, mengerjakan sesuatu dengan mudah namun kemudian menjadi susah, atau sebaliknya. Kita bergumul dengan banyak masalah, tapi setelah semuanya berlalu, kita sampai di mana? Untuk sesaat kita menemukan ketenangan, lalu kemudian kembali lagi dalam persoalan dan kesulitan lain.

Setelah setahun atau dua tahun atau tiga tahun, semuanya lantas menjadi suatu rutinitas. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Pengkotbah. Yang sekarang ada dahulu pernah ada, dan nanti akan ada lagi. Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita benar-benar menginginkan hidup yang lebih baik? Jika pada akhirnya kita hanya melakukan sesuatu yang berulang, dengan hasil yang kurang lebih tidak banyak berbeda, lantas apa yang berubah?

Maka, kata-kata "saya ingin hidup lebih baik," tak lebih dari slogan belaka. Itu hanya ide dalam pikiran, suatu ekspresi yang kita ungkapkan bagi diri sendiri dan orang lain, tanpa pernah benar-benar kita inginkan, benar-benar kita usahakan. Karena pada dasarnya kita tidak ingin melakukan hal-hal yang lain atau berbeda, kita tidak berani melangkah keluar dari apa yang sudah biasa membatasi kita -- bahkan ketika pagarnya sudah dicabut dan bekasnya tidak ada lagi. Kita dibelenggu oleh pikiran kita sendiri, atas nama kebiasaan dan tradisi yang mungkin kita tidak tahu lagi apa artinya. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, seperti seorang Tuan yang pergi ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.

Bagaimana jika hamba-hambanya itu adalah kita? Mari renungkan. Jika kita adalah orang-orang yang biasa melakukan sesuatu sesuai tradisi, seperti kebiasaan, maka kita akan menjadi hamba yang terbiasa duduk menunggu perintah dari Tuan. Jika kita tidak diberi perintah, kita tidak bergerak. Jika kita tidak mendapat penegasan akan tugas dan wewenang, kita memilih untuk duduk diam. Itu kebiasaan kita. Itu kebiasaan banyak orang, bahkan di jaman Tuhan Yesus dahulu.

Kita, dari segala orang lain di atas muka bumi ini, mendapat karunia karena TUHAN berkenan memilih kita, mengaruniakan segala berkat dan kasih karunia. Kita memperoleh hadiah terbesar dan terbaik dan termahal yang dapat dibayangkan: menerima darah Kristus yang menyelamatkan kita. Oh, betapa mahalnya! Betapa besarnya! Betapa baiknya! Ini memungkinkan kita keluar dari penjara perbudakan dosa, menjadi orang yang benar-benar merdeka karena Anak telah memerdekakan kita.

Bukan itu saja, kita juga menerima berbagai karunia yang diperlukan untuk hidup dengan benar. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Ef 2:10). Ya, ini bagian kita. Kemerdekaan yang kita terima juga membawa beban tanggung jawab untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, bahkan untuk segala hal yang tidak biasa kita lakukan.

Sekarang, Tuhan Yesus telah memberikan darah-Nya, daging-Nya, dan nyawa-Nya bagi kita. Kita bebas. Kita menerima talenta, karunia yang diberikan-Nya tanpa kita minta. Apakah kita lantas bersikap diam? Apakah kita mengatakan, bahwa kita sudah biasa begini dan tidak ada yang memerintah, maka sebaiknya kita begini-begini saja, diam saja? Lalu, kita menyembunyikan talenta yang kita terima itu, sambil merasa marah terhadap Allah?

Berapa lama kita sudah merayakan Jumat Agung dan Paskah? Berapa banyak kita sudah membaca dan merenungkan tentang penderitaan Kristus, diikuti oleh kebangkitan-Nya yang luar biasa? Tidakkah kita setiap tahun diingatkan, bahwa kita menerima talenta yang LUAR BIASA berharga, secara cuma-cuma?

Namun, kita duduk saja. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Belajarlah dari hamba-hamba sang Tuan! Ketika ia menerima talenta itu, ia tidak menerima visi atau target yang harus ia capai. Ia hanya tahu, bahwa ia bertanggung jawab atas harta yang dipercayakan kepadanya. Maka, ia melakukan sesuatu. Ia berusaha. Ia berpikir, merencanakan, mengerjakan, menghidupi. Ia mendapat 5 talenta, ia berusaha agar sedikitnya ia mendapat 5 talenta juga. Yang lain mendapat 2 talenta, berusaha agar sedikitnya mendapat 2 talenta juga. Perhatikan: tidak ada perintah di sana. Sang Tuan ada di luar negeri, tidak memberi instruksi spesifik tentang apa yang harus dicapai. Ini hanya masalah tanggung jawab, yang menimbulkan tekad untuk melakukan hal-hal yang lain, yang memberi hasil.

Kalau kita menerima yang luar biasa dari TUHAN, bukankah kita pun seharusnya mengerjakan keselamatan yang TUHAN sudah berikan? Atau kita lebih senang diam dalam kedamaian dan ketenteraman, bebas dari masalah dan hiruk pikuknya dunia? Tuhan sudah menyelamatkan kita sedemikian rupa, tidakkah kita pun seharusnya tergerak untuk sungguh-sungguh hidup dalam pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya?

Hidup yang lebih baik adalah hidup memenuhi cita-cita, hidup yang bertanggung jawab. Tuhan Yesus sudah memberikan KEMENANGAN atas dosa dan maut, dan seharusnya hidup kita berpadanan dengan kemenangan itu. Kita lebih besar dari dosa, lebih atas dari kuasa maut; siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?

Hidup ini bukan ban sepeda yang ditaruh terbalik, yang berputar cepat di udara. Bukan! Kita sedang menapaki suatu jalan, dan di sana ada tantangan, ada resiko, ada kesulitan. Pikirkanlah, bukankah hamba yang mengerjakan 5 dan 2 talenta itu dapat dengan mudah menghasilkan sejumlah yang sama? Tidak. Perhatikan jawaban hamba yang disebut jahat dan malas, bahwa ternyata hamba-hamba yang lain harus bersusah payah menabur dan menuai, menanam dan memungut. Bisakah kita bayangkan bagaimana resiko yang dihadapi hamba-hamba yang baik dan setia ini? Bisa saja, ladang mereka diserang hama, dimakan belalang. Bisa saja, ada banjir besar yang merusakkan ladang. Barangkali juga mereka harus rela menanggung kerugian-kerugian yang terjadi, karena usaha manusia ada jatuh dan bangunnya.

Pemberian hamba-hamba kepada Tuannya adalah saat-saat kemenangan, bahwa inilah hasil dari jerih payah kami, kesusahan kami, juga kerja keras kami. Inilah tanggung jawab yang kami berikan atas harta yang telah dititipkan, di mana semuanya berkembang 100%. Untuk itu mereka harus berani mengambil langkah, mengerjakan hal-hal baru, menghadapi tantangan baru. Itulah yang dihargai oleh Tuan. Itulah sebabnya, kata-kata Tuan itu terdengar penuh rasa haru, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Oh ya, betapa bahagianya Sang Tuan! Betapa bahagianya sang hamba!

Seperti para hamba, kita pun pada mulanya hanya orang yang tidak punya apa-apa, yang berputaran di bawah matahari dunia. Tapi Tuhan sudah memilih kita, mengangkat kita, memberi kita kepercayaan. Paskah kali ini, apa yang berbeda yang kita berikan?

Sudah waktunya kita melangkah keluar dengan penuh keberanian. Rakyat di negeri ini masih banyak yang buta dan tuli akan Tuhan, masihkah kita ragu mengetuk pintu dan memberitakan Kabar Baik? Rakyat di negeri ini masih banyak yang hidupnya kacau dan melarat, bahkan mereka tidak bisa mengelola harta mereka sendiri. Masihkah kita mau mendidik orang dan mengajarkan tentang kebenaran dan keadilan serta cara-cara yang lebih bijak untuk mengelola kehidupan? Masihkah kita peduli bahwa ada banyak anak bangsa yang jatuh dalam dosa, yang terbelenggu oleh kuasa-kuasa roh jahat dunia? Masihkah kita peduli bahwa TUHAN memberikan kita banyak karunia, bukan hanya untuk bersenang-senang di balik dinding-dinding gereja?

Besok kita merayakan Perjamuan Kudus, di hari Jumat Agung. Lusanya, kita merayakan Paskah, kebangkitan Kristus. Kemenangan kita. Kita merayakannya dengan meriah, dengan khidmat, dengan akbar, dengan megah. Kita mencari kebaikan bagi kita, kedamaian bagi kita, keselamatan bagi kita. Di luar itu, kita mengerjakan segala sesuatu seperti apa adanya. Yang bekerja dengan manipulasi, tetap memanipulasi. Yang melayani dengan tinggi hati, tetap tinggi hati. Kita mempersiapkan Paskah seperti juga tahun-tahun yang lalu, dengan Paduan Suara dan Drama dan kotbah yang menggetarkan, tapi kita masih saja tetap sama.

Saatnya, Paskah kali ini kita benar-benar berdiri, bergerak, karena ada banyak pekerjaan baik yang harus kita lakukan. Sudah waktunya kita berhenti dari kebiasaan kita, seperti kebiasaan meributkan urusan-urusan kecil dan soal tersinggung dan harga diri, agar kita bisa mengangkat wajah dan memandang ladang yang sudah menguning. Marilah kita bekerja, meninggalkan segala beban kita dengan pandangan dan tujuan yang terarah pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Selamat Paskah!


Powered by Qumana

19 Januari 2007

Adam Air

Peristiwa menghilangnya Adam Air menjadi misteri di awal tahun 2007. Mengapa pesawat itu bisa jatuh? Kenapa sampai sekarang masih belum juga ditemukan badan besarnya?



Sampai sekarang, yang ada hanyalah serpihan-serpihan. Mengapa jadi serpihan?

24 Desember 2006

Selamat Natal

Salam dalam kasih Kristus,

/>SELAMAT NATAL

SELAMAT NATAL

SELAMAT NATAL

SELAMAT NATA

SELAMAT NAT

SELAMAT NA

SELAMAT N

SELAMAT



Benar, dengan setulusnya dan dengan segenap hati, saya mengucapkan selamat. Tentang Natalnya, tentu saya juga ucapkan, tetapi mungkin tidak semua teman mengerti apa maksudnya "Natal". Kalau kata "SELAMAT", semua orang mengerti. Semua orang tahu. Semua orang mau.



Siapa yang tidak mau selamat? Kata "selamat" berhubungan dengan keberuntungan, keamanan, kesehatan, kesejahteraan, serta segala hal baik lain yang diimpikan manusia. Kita tentu ingin semua damai, semua senang, semua bahagia; itulah selamat. Kita menginginkannya setiap waktu, itulah sebabnya kita mengucapkan "selamat pagi", "selamat siang", "selamat sore", dan "selamat malam". Sudah merupakan sopan santun dan kebiasaan kita, orang Indonesia, untuk mengucapkannya setiap saat, baik dalam perjumpaan maupun pembicaraan di telepon. Peristiwa Natal pun tidak jauh dari "selamat", dan kita mengharapkan apa yang baik di saat istimewa ini.



Berapa banyak yang memahami makna "NATAL" dalam ucapan "Selamat Natal"? Mari kita lihat.



Yang pertama, "Natal" artinya "kelahiran". Kelahiran siapa? Tentu saja, kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tetapi sampai di sini sudah timbul beberapa penyangkal, karena ternyata ada juga orang yang tidak mengakui kelahiran Yesus. Mereka ini bilang, mungkin ada orang yang namanya Yesus dan menjadi orang istimewa sekitar 2 millenium lalu, tetapi tentunya tidak lahir seperti yang digambarkan. Ibu-Nya bukan seorang anak gadis perawan, lahirnya tidak diiringi kehadiran malaikat di padang, dan orang-orang majus hanya rekaan belaka. Semua hanya legenda yang dikisahkan oleh orang-orang yang begitu ingin percaya, serupa dengan banyak kebudayaan lain pada waktu itu. Mereka menunjukkan berbagai cerita hikayat dari mesopotamia, dari yunani, dari entah mana lagi, yang menunjukkan cerita yang mirip. Kata mereka: bukan hanya Yesus yang lahir dari anak dara! Semuanya sama: hanya kisah belaka.



Nah, waktu mereka mengucapkan "Selamat Natal", kira-kira apa maksud "Natal" dalam ucapan selamat itu?



Pemahaman ini berbeda dengan apa yang saya maksudkan dengan SELAMAT NATAL. Karena saya mengucapkan Natal karena yakin dan percaya dengan sepenuh hati, bahwa 2 millenium lalu sungguh telah lahir seorang bayi dari anak dara Maria, yang bernama Yesus, dan menjadi Tuhan dan Kristus. Ini bukan rekaan, bukan kisah, melainkan sejarah -- serupa dengan sejarah kelahiran saya sendiri, atau sejarah kelahiran nenek moyang saya. Ini sejarah yang nyata dan menentukan keberadaan keluarga saya, sekalipun kami tidak tahu detil kelahiran nenek moyang kami -- hanya tanggal saja. Kita bahkan sebenarnya tidak tahu tanggal kelahiran Yesus Kristus, tetapi kita tahu bahwa kelahiran-Nya nyata dan bermakna.



Yang kedua, kelahiran dalam "Natal" merupakan kelahiran yang istimewa, karena inilah kelahiran Juru Selamat. THE Savior. Kelahiran-Nya bukan sesuatu yang biasa, seperti kelahiran milyaran manusia lainnya, melainkan reinkarnasi ALLAH yang menjadi manusia. Tetapi, bagian ini pun disangkali sejumlah orang. Mereka tidak menganggap kelahiran-Nya istimewa, atau ada sesuatu yang perlu diperhatikan dari keberadaan diri-Nya, karena Ia dianggap manusia saja. Orang yang istimewa, tetapi masih manusia biasa dengan segala kesalahan dan kekurangan. Mereka mengatakan, murid-murid-Nya membuat Dia menjadi seperti dewa dengan segala kuasa dan mujizat, tetapi semua itu mitos, a myth. Allah mungkin ada di luar sana, tetapi Ia tidak akan turun dan membatasi diri-Nya dengan menjadi manusia; untuk apa? Bukankah Allah bisa memperoleh apa pun yang dikehendaki-Nya, hanya dengan cara berfirman? Sebaliknya, Allah sudah membuat awal dunia ini, membiarkannya berevolusi, dan mungkin Allah tidak lagi peduli. Kini adalah bagian manusia untuk mengerti alam semesta ini dan memanfaatkannya, demikianlah keyakinan mereka. Jadi, kelahiran Yesus adalah kelahiran seorang besar yang ajarannya menjadi pedoman moral bagi banyak budaya di muka bumi, demikianlah mereka simpulkan.



Ini kesimpulan yang berbeda, karena saya yakin dan percaya bahwa Yesus adalah Allah dengan segala kemuliaan-Nya, yang mengosongkan diri-Nya dan lahir sebagai manusia, menjadi Anak Manusia. Maka, peristiwa Natal adalah kejadian yang amat luar biasa, karena itulah saat di mana Allah berada di tengah-tengah manusia, memancangkan batu pertama Kerajaan Allah di atas dunia dengan darah dan daging-Nya sendiri. Tuhan Yesus adalah Allah yang luar biasa, yang menyatakan diri dengan segala tanda dan mujizat yang jelas, nyata, dan disaksikan banyak orang. Tidak ada orang yang merekayasa segala mujizat itu, semuanya adalah apa yang terjadi, yang mempengaruhi hidup banyak orang, bahkan hingga hari ini.



Yang ketiga, kelahiran Tuhan Yesus ada tujuannya, yaitu untuk mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Perjalanan Yesus bukanlah perjalanan yang mudah, karena Ia menuju penderitaan, bahkan kematian di kayu salib di Golgotha, agar Ia bangkit kembali pada hari ketiga. Ah, namun hal ini pun tidak diterima semua orang. Sebaliknya, banyak orang menyangkali penderitaan Yesus, kematian Kristus, apalagi kebangkitan-Nya. Mereka mengatakan bahwa Yesus tidak mati disalib, karena sebenarnya ada yang menggantikan Dia; kalau Yesus diangkat naik ke Sorga, bukan Dia yang mengalami salib -- katanya, bagaimana mungkin orang suci dari Allah mengalami penistaan sehebat itu? Kelahiran Yesus adalah kelahiran nabi Allah yang besar, yang luar biasa mulia dan perkasa, dan tidak ada keburukan yang terjadi terhadap-Nya. Soal dosa manusia, urusannya adalah bagaimana manusia mencari pahala mengimbangi kesalahan yang dilakukannya. Maka mereka melakukan segala ritual dan puasa dan mengatur cara hidup serta masyarakatnya.



Tapi, mereka tidak mengerti bahwa makna tertinggi, yang membuat Kristus dimuliakan Allah, adalah pengorbanan-Nya di kayu salib. Kelahiran Yesus bukan hanya untuk menjadi "nabi Allah" atau orang besar, melainkan untuk menebus dosa manusia. Ia menggantikan kita menerima hukuman, menanggung salib yang seharusnya kita alami. Itu adalah tujuan yang amat mulia, yang diselesaikan-Nya dengan sempurna. Itulah sebabnya, kita sampai hari ini merayakan Perjamuan Kudus, seperti yang dikehendaki-Nya untuk selalu kita ingat. Ya, jangan pernah melupakan Paskah ketika merayakan Natal.



Maka, dengan begitu banyak orang yang memiliki keyakinan berbeda tentang NATAL, maka ijinkan saya sekali lagi mengucapkan SELAMAT. Karena, rasanya Tuhan Yesus pun datang untuk memberi keselamatan, bukan menjadi raja yang menguasai dunia (walaupun, sebenarnya DIA ADALAH RAJA). Maka semangat Natal adalah semangat untuk memberi "Selamat" kepada semua orang, apa pun yang ia yakini, bagaimana pun caranya ia percaya, bahkan sekalipun ia tidak percaya sama sekali pada Tuhan. Karena, tak peduli apa pun keyakinannya (atau ketidak-yakinannya), manusia membutuhkan selamat dalam segala hal yang dikerjakannya, dalam perjalanannya, dan dalam perang yang dilakukannya.



Mudah-mudahan, SELAMAT itu bisa dirasakan banyak orang, menyentuh hati mereka, mengubah hidup mereka. Mudah-mudahan, mereka bukan saja menikmati apa yang disampaikan dengan ucapan selamat, tetapi juga boleh mengerti NATAL, karena hanya dalam NATAL itu saja terkandung keselamatan yang sesungguhnya. Hanya dalam Nama Yesus saja orang diselamatkan, dan tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang olehnya manusia bisa memperoleh selamat. Karena kita mengasihi sesama manusia, seperti Allah mengasihi dunia.



Salam kasih,

Donny