Cari Blog Ini

11 April 2009

Paskah dan Pemilu

Hari ini adalah hari pemilihan umum. Besok orang Kristen di seluruh dunia akan memperingati Jumat Agung, Good Friday, dan sebenarnya kita mengingat tentang saat-saat penyaliban Kristus. Malam ini di mana-mana orang mengingat malam Getsemani, seperti kembali mendengarkan rintihan-Nya, "biarlah cawan ini berlalu..."

Tetapi hari ini banyak orang yang menunggu dipilih, sementara mereka telah mengeluarkan amat sangat banyak uang, waktu, tenaga, bahkan prinsip-prinsip moral, sedang berharap cawan itu mampir dibibirnya, untuk seteguk kenikmatan politik di negeri ini. Apa yang sebenarnya sedang mereka harapkan? Ini adalah pemilihan legislatif, yaitu satu badan dari trias politica yang mengatur kesepakatan atas bagaimana negara ini akan berjalan, melalui pengaturan hukum dan undang-undang, mulai dari perancangannya, evaluasi pelaksanaannya, hingga pertanggungjawabannya.

Mereka yang berharap terpilih, dalam realita akan menduduki sebuah tempat di Dewan Perwakilan, entah di pusat atau di daerah. Entah mewakili partai atau mewakili daerah. Pilihan kita pada mereka adalah pilihan berdasarkan partai karena pada kenyataannya, para anggota Dewan Perwakilan harus mentaati ketentuan partai tempat di mana mereka beraktivitas. Tetapi orang-orang ini berkampanye seolah-olah mereka menjadi pemimpin, hingga akhirnya ketika kita memilih, ada harapan bahwa pilihan ini akan membuat sesuatu yang benar-benar berbeda. Dan betapa keras para caleg berusaha agar orang-orang memilih dirinya!

Demikianlah kita melihat bahwa mereka yang tidak dalam posisi untuk langsung membuat perubahan, justru menawarkan janji perubahan sementara mereka sendiri tidak membawa sesuatu perubahan yang nyata sebelumnya. Itulah karakter manusia: jabatan dahulu, prestasi menyusul. Salah satu motivasinya adalah imbalan besar bagi setiap orang yang berhasil menduduki kursi dewan perwakilan. Itulah cawan yang manis dan menyenangkan.

Tetapi Tuhan Yesus gentar dengan cawan-Nya sendiri. Bukan karena perubahan yang dibuat oleh Yesus, melainkan bagaimana perubahan itu akan menghampiri diri-Nya sendiri. Ini adalah reaksi yang wajar, suatu hal yang benar, karena Tuhan Yesus sungguh-sungguh menghargai dan memuliakan hubungan-Nya dengan Bapa. Perubahan memang dibutuhkan, tetapi Yesus harus membayar dengan amat mahal. Sebenarnya, itulah harga yang harus dibayar oleh setiap pemimpin perubahan.

Dengan kegentaran-Nya, justru Tuhan Yesus menjadi seorang yang sangat berani. Keberanian bukan berarti tidak merasa takut atau gentar, melainkan justru di tengah rasa takut, Ia tetap memilih untuk maju terus melakukan karya yang harus diselesaikan-Nya. Apakah dengan demikian, Tuhan Yesus mendapatkan sesuatu atau mengharapkan imbalan? Tidak, yang diberikan-Nya adalah anugerah bagi manusia! Ini adalah pemberian satu arah dari kasih agape yang sejati dari Tuhan. Kasih yang menimbulkan keberanian, sehingga Yesus tetap menyongsong murid yang mengkhianati-Nya, membiarkan para prajurit itu menangkap-Nya, bahkan mengobati yang terluka.

Dalam satu sudut pandang, perubahan yang ditawarkan Tuhan menjadi sebuah pilihan yang boleh diambil manusia. Berita kabar baik kini telah disiarkan ke seluruh penjuru dunia, dan manusia bisa "menggunakan hak pilihnya" atas kabar baik ini, atau memilih banyak tawaran kepercayaan dan keyakinan agama lain yang jumlahnya tidak terhitung. Seperti pemilu, pilihan yang diambil juga membawa sebuah konsekuensi. Semua manusia memiliki hak untuk memilih, tetapi tidak bisa menolak konsekuensinya.

Sayangnya, orang seringkali tidak memikirkan konsekuensi, apalagi yang berjangka panjang. Asal hari ini ada keramaian, kehebohan, kemudian bisa makan gratis, hiburan gratis, cukuplah. Inilah wakil rakyat yang dipilih: yang menyenangkan. Tetapi, ketika mereka menelurkan UU yang menekan dan mengacaukan, apa yang dapat dilakukan selain kembali berdemonstrasi? Sayangnya, banyak orang tidak lagi mengingat apa yang mereka pilih, tidak sadar yang dipilih itulah yang sedang mengacaukan negara ini. Itulah konsekuensi.

Demikian pula dengan pilihan manusia atas keyakinan. Orang bisa memilih suatu agama karena teman, karena keramaian, kehebohan, dan mungkin hiburan gratis, makan gratis. Untuk sesaat, mungkin orang mendambakan kegembiraan saat ini juga karena berkat dan rejeki dan teman-teman yang menyenangkan. Tetapi dalam jangka panjang, apa yang orang pilih itu belum tentu memberikan konsekuensi yang kita butuhkan; saat itu kita tidak dapat berbuat apa-apa atas salah pilih yang dilakukan. Malah orang juga bisa menjadi golput, yang dalam istilah lain adalah "atheis" namun itu pun tetap merupakan suatu pilihan dengan konsekuensinya.

Perbedaannya, kita kembali memandang ke atas salib, di mana Tuhan Yesus memberikan pilihan ini dengan memberi nyawa-Nya sendiri. Tidak ada pemimpin di dunia yang memberi sebesar Tuhan Yesus Kristus, baik pemimpin politik maupun pemimpin agama, yaitu menyerahkan nyawa sebagai tebusan atas kehidupan kita. Penyerahan yang diberikan dengan kegentaran, sama sekali tidak mudah, tetapi toh tetap diberikan juga hingga menghembuskan nafas terakhir.

Dari penebusan, Tuhan Yesus memberikan perubahan yang pasti bagi orang percaya yang memilih untuk menerima-Nya. Kita sudah, atau mungkin sudah, memilih dalam politik – rakyat Indonesia sudah melaksanakan pemilu. Tetapi apakah rakyat Indonesia sudah memilih dalam menentukan kehidupan dalam kekekalan?

Nyatanya, berbagai analisa dan perhitungan cepat menunjukkan, orang Indonesia juga sudah memilih agama ketika memilih partai, sebagaimana kita lihat koalisi yang terbentuk berangkat dari agama mayoritas di negara ini. Dalam tahun-tahun yang akan datang, pilihan ini akan membawa Undang Undang dan peraturan yang sesuai dengan keyakinan agama; sukar mengharapkan kebhinekaan atau keterbukaan terhadap agama dan kepercayaan lain, termasuk kekristenan.

Konsekuensinya akan timbul, mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama. Sebenarnya kita bisa melihat Amerika yang baru memilih presidennya, setelah sebelumnya kongres dikuasai oleh partai yang sama. Kita dapat melihat betapa pilihan itu membawa konsekuensi, suatu kehidupan yang berbeda, situasi berbeda, suatu kehidupan yang semakin dijauhkan dari Kristus beserta Kerajaan Allah. Akan menjadi seperti apakah kehidupan di atas dunia ini?

Satu hal yang pasti, TUHAN tetap memiliki otoritas tertinggi; bahkan ketika seluruh dunia melawan-Nya di Armageddon, tentara dunia terbakar habis dihadapan-Nya. Inilah hal-hal yang telah dinyatakan melalui Wahyu, yang kita bisa memilih untuk percaya atau tidak percaya. Di sana, pilihan untuk menerima Paskah atau menolaknya, menjadi suatu konsekuensi.

Selamat hari Paskah, kiranya kita sekalian teguh dalam pilihan kita bagi Kristus.

Terpujilah TUHAN!

08 April 2009

Profesional Yang Memberkati

Kol 3:23  Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

Gal 2:20  namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

IDE Yang Salah

Berapa kali kita mendengar kata-kata ‘bijak’ seperti ini: “Kita harus menyeimbangkan antara hidup untuk Tuhan dan pekerjaan atau karir kita.”

Lalu berapa kali kita pernah mendengar permohonan maaf seperti ini: “Maaf ya, saya tidak ikut pelayanan persekutuan doa karena kemarin saya harus bekerja.”

Dan, kalau kita sendiri yang memohon maaf, berapa kali kita mendengar teguran seperti ini: “Bagaimana sih? Apakah kamu lebih mendahulukan pekerjaan daripada Tuhan?”

Ide-ide ini berangkat dari sebuah pemikiran yang sangat tua, bahwa tubuh ini merupakan penjara jiwa. Apa yang ‘rohani’ berbeda dari apa yang ‘daging’, dan orang harus berusaha untuk memenuhi rohaninya lebih dulu daripada tubuhnya. Salah satu penegasan tentang hal ini ‘dibuktikan’ dengan penjelasan bahwa manusia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh (trikotomi) walau kalau melihat teologi bapa-bapa gereja, mereka hanya membagi berdasarkan tubuh dan roh (dikotomi).

Yang tidak orang sadari adalah, ide bahwa tubuh sebagai hal yang buruk bukan berasal dari Firman, melainkan dari budaya hellenis, Platonism.  Mereka percaya bahwa Allah adalah sebuah sumber roh, di mana roh manusia merupakan pecahan dari roh Allah karena itu roh bersifat mulia dan kudus. Tetapi tubuh fisik merupakan bagian dari semesta yang lebih ‘rendah’, karena itu harus didisiplinkan untuk menampung roh. Pemikiran ini membuat orang tidak menikah dan bahkan mengebiri dirinya, seperti yang dilakukan oleh Origen, salah seorang bapa gereja awal (185-254AD?) yang berpengaruh di Alexandria. Pemikiran ini juga jelas mempengaruhi Augustinus dan Aquinas, serta mempengaruhi kekristenan di Abad Pertengahan.

Alkitab sendiri tidak pernah mengajarkan bahwa tubuh buruk. Dikotomi memang menjelaskan bahwa manusia dapat dilihat terdiri dari dua elemen, namun kedua-duanya jatuh dalam dosa dan harus dibinasakan. Hanya karena anugerah dan kasih Tuhan Yesus Kristus, maka manusia diselamatkan. Roh-Nya membawa kelahiran baru roh kita, sedangkan tubuh kita masih tetap sama. Tetapi, tidak berarti tubuh menjadi penjara jiwa, atau membagi kemanusiaan menjadi dua. Nyatanya, tubuh ini juga yang dipakai oleh Tuhan untuk memuliakan-Nya.

Alkitab juga tidak pernah mengajarkan untuk “menyeimbangkan” antara rohani dan pekerjaan. Apapun yang kamu perbuat secara tegas meliputi segala aspek perilaku di semua tempat setiap saat, dilakukan dengan segenap hati bagi Tuhan. Hidupku yang kuhidupi sekarang merujuk kepada seluruh kehidupan dari bangun sampai tidur, semuanya.

Satu hal lagi yang perlu kita perhatikan: segala buah-buah roh merupakan sesuatu yang dipahami dalam tindakan dan relasinya dengan orang lain. Inilah yang ditegaskan oleh rasul Paulus mengenai buah-buah roh: Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Tentu saja, hukum berlaku mengatur tindakan masyarakat.

Tindakan Yang Memuliakan: Yang Memberi

Bagaimana kita bisa menilai sebuah tindakan sebagai sesuatu yang memuliakan Tuhan, bagi Tuhan? Pertama-tama, kita perlu mengerti apa yang disebut ‘mulia’. Semua yang mulia adalah yang berharga. Logam yang mulia adalah logam yang sangat tinggi harganya. Batu mulia menjadi salah satu instrumen investasi yang nilainya tidak pernah turun. Manusia menilai sesuatu ‘mulia’ karena dua hal: karakteristik yang khusus dan dampak yang diberikannya bagi manusia.

Logam mulia mempunyai karakteristik tidak berubah dipengaruhi waktu. Emas tidak pernah berkarat, kehilangan kilaunya, atau larut dalam asam. Emas memberikan kestabilan; orang  yang memiliki 1 ons emas hari ini dapat tetap memiliki 1 ons emas 10 tahun lagi (tentunya jika kalau emas itu tidak dicuri atau dijual).

Seorang raja mempunyai karakteristik kepribadian yang berkharisma; demikianlah seorang pangeran sejak kecil dididik untuk menjadi raja. Segala hal yang diputuskan oleh sang raja akan mempengaruhi kehidupan semua orang, damai atau perang, sejahtera atau kelaparan.

Manusia tidak bisa membuat emas menjadi emas. Ada orang yang tidak punya karakter raja, akhirnya menghancurkan kerajaannya seperti Rehobeam, anak raja Salomo yang penuh hikmat. Yang dapat manusia lakukan adalah menemukan apa yang mulia. Istilah ‘memuliakan’ berarti memberitahu, menyadarkan orang lain tentang sesuatu sebagai hal yang mulia.

Untuk memberitahu orang lain, maka harus ada dampak yang terjadi pada orang lain itu. Bagaimana seseorang dapat menimbulkan sesuatu bagi orang lain secara positif? Cara yang dikenal manusia adalah dengan memberi. Ketika kita memberi sesuatu, ada perubahan yang terjadi pada diri penerima – paling sedikit dari kondisi tidak memiliki menjadi memiliki. Namun dampaknya bisa lebih luas: mungkin kita membuat orang menjadi lebih sehat, lebih senang, lebih sejahtera, mempunyai kesempatan dan harapan, mengeluarkan orang dari situasi putus asa.

Inilah yang diingat dari perkataan Tuhan Yesus: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima[1]. Kebahagiaan muncul dalam relasi, ketika kita melihat orang-orang yang kita kasihi berubah secara positif karena pemberian kita. Mereka kemudian akan bertanya-tanya, apa yang menjadi alasan dari pemberian itu?

Ketika orang mengerti bahwa alasan pemberian adalah karena kita telah memiliki Tuhan, maka kita memberitakan bahwa Tuhan sebagai sumber yang mengubah hidup kita sendiri, sehingga kita disanggupkan untuk memberi. Hal ini mengundang orang untuk turut memahami Tuhan sebagai sesuatu yang mulia – demikianlah kita memuliakan Tuhan.

Jadi tindakan yang memuliakan adalah tindakan memberi. Pertanyaannya, di masa yang penuh dengan kompetisi seperti saat ini, bagaimana kita dapat memberi secara signifikan?

Profesional: Memberi Yang Terbaik

Dalam sebuah pertandingan, ada dua macam pemenang. Pemenang yang amatir adalah mereka yang menang karena kesalahan lawan. Pemenang yang profesional adalah mereka yang menang karena lebih baik daripada lawan.

Profesional adalah sikap menjunjung profesi, artinya menguasai segala aspek untuk memberikan secara utuh dan sempurna. Gerakan terbaik dalam olahraga dilakukan para pemain profesional; siapa yang tidak tahu Michael Jordan dalam basket? Dia terkenal dengan “berjalan di udara”, melakukan gerakan yang spektakuler. Banyak orang berusaha menirunya, tetapi sedikit saja yang berhasil.

Apakah para profesional mendapatkan kemampuannya begitu saja? Tidak, mereka menempa diri dengan cara yang lain dibandingkan orang awam. Rasul Paulus juga mengajar orang untuk menjadi profesional, karena dia menggambarkan dirinya “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.[2]

Latihan yang dilakukan Michael Jordan adalah setiap hari melemparkan bola beratus-ratus kali, dan ia tetap melakukannya sekalipun telah menjadi NBA Superstar. Dia tidak mengatakan, “oh saya sudah bisa, jadi sekarang saya mau duduk dan nonton televisi.” Itu adalah hal yang dilakukan oleh orang awam, bukan profesional.

Dengan menjadi profesional, seseorang memberikan yang terbaik dan mempengaruhi banyak orang. Michael Jordan telah menginspirasi banyak orang dan mempengaruhi – bahkan orang-orang yang ada diluar gelanggang basket. Dia memberikan lebih dari sekedar pertandingan yang indah dipandang dan enak diikuti; dia menunjukkan bagaimana seorang manusia bisa memberikan yang terbaik pada dirinya.

Jika kita berniat untuk memberi yang terbaik, apalagi yang terbaik itu adalah bagi Tuhan seperti yang kita nyanyikan, sebaiknya kita mulai melangkah dalam jalan seorang profesional. Ini bukan jalan yang mudah atau sederhana. Ini bukan sesuatu yang bisa dilakukan sembarangan saja. Namun pikirkanlah, perbuatlah dengan segenap hati sebagai sesuatu bagi Tuhan, bukan manusia.

Setiap anak Tuhan dipanggil untuk menjadi hamba-Nya dalam bidang yang Tuhan berikan. Memang, ada hamba Tuhan yang melayani pemberitaan Firman. Tetapi ada juga hamba Tuhan yang melayani bidang kesehatan. Ada yang melayani perdagangan. Ada yang melayani keuangan. Atau pendidikan. Atau perumahan. Di bidang apa kita hendak menjadi profesional?

Menjadi profesional bukan berarti menjadi orang yang menomor-satukan pekerjaan dan melupakan Tuhan. Kalau orang memang mau melupakan Tuhan, tidak perlu beralasan karena pekerjaan, atau mencari kambing hitam yang bernama ‘kesibukan’!

Menjadi profesional berarti menaruh semua konsentrasi dan usaha untuk menguasai sepenuhnya, untuk memberi yang terbaik kepada masyarakat, melakukannya bagi Tuhan. Bukankah dikatakan demikian oleh Firman: Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya[3]. Apapun yang kita kerjakan dengan baik, bukan karena kita sanggup sendiri, melainkan karena Allah sudah mempersiapkannya.

Tuhan sudah mempersiapkan. Tinggal kita sekarang: apakah kita mau melakukannya dengan profesional atau hanya amatiran saja? Dan apakah kita melakukannya untuk memuliakan Tuhan?

Terpujilah TUHAN!



[1] Kis 20:35

[2] 1 Kor 9:26

[3] Ef. 2:10

20 Maret 2009

Asuransi Paling Baik...

Dalam kondisi krisis seperti sekarang, kebutuhan Asuransi makin terasa perlu. Masalahnya, Asuransi apa yang paling baik sebenarnya? Ada beberapa pertimbangan, yang dapat kita perhatikan.

Yang pertama, orang membutuhkan proteksi atas nilai ekonominya. Ketika ada resiko terjadi penurunan nilai ekonomi, ada 2 hal yang harus dipikirkan, yaitu bagaimana kelangsungan kehidupan keluarga pada saat terjadi musibah DAN bagaimana kesejahteraan dapat diwariskan dengan nilai yang setara dengan saat ini atau lebih. Di satu sisi, jika terjadi musibah maka kehidupan keluarga akan menjadi lebih sukar di masa resesi seperti sekarang. Betapa berat meneruskan hidup dalam standar yang sama, jika keluarga mendadak ditinggalkan oleh sumber nafkah. Di sisi lain, resesi itu sendiri dapat menggerus nilai kekayaan, sehingga pada akhirnya tidak ada warisan yang dapat meneruskan kesejahteraan keluarga. Bayangkan, semua jerih payah dan hasil kerja keras sepanjang hidup menghilang dalam krisis ekonomi.

Jadi, kebutuhan proteksi adalah hal yang semakin nyata dalam krisis. Proteksi finansial diberikan sebagai skema Asuransi. Dengan kata lain, Asuransi menjadi hal yang semakin nyata dibutuhkan sekarang ini.

Yang kedua, karena keadaan krisis maka tidak ada kepastian untuk melakukan rencana pembayaran Asuransi dengan masa pembayaran yang panjang. Kita tidak tahu, apakah tahun depan atau 2 tahun lagi masih bisa membayar premi, jika ternyata usaha atau pekerjaan yang ada tiba-tiba lenyap. Masalahnya, jika pembayaran Asuransi terhenti, maka proteksinya pun berakhir, justru di saat kita membutuhkan!

Ketidakpastian masa depan dapat diantisipasi dengan memastikan bahwa saat ini juga, seluruh premi yang harus dibayarkan dilunasi selagi masih ada sejumlah dana yang dapat disisihkan. Dalam Asuransi, pilihan ini disebut sebagai Premi Tunggal, atau Single Premium. Dengan sekali menempatkan dana, ada kepastian Asuransi yang terus berlangsung hingga akhir kontrak, dan bisa menjadi suatu kontrak seumur hidup.

Tetapi, ada sisi lain dari Asuransi Premi Tunggal ini. Dalam skema asuransi seumur hidup, Nasabah sebenarnya harus membayar preminya sepanjang waktu polis, setiap tahun. Membayarkan Premi Tunggal sebenarnya mengumpulkan semua premi yang harus dibayarkan sampai akhir, lantas dibayar dimuka sekaligus. Di sinilah kita menemukan satu kondisi, dimana timbul apa yang disebut Cadangan Premi. Dari cadangan premi ini, perusahaan Asuransi menginvestasikan pada instrumen investasi yang beresiko rendah, kemudian mengembalikan sebagian hasil investasi kepada Nasabah sebagai Nilai Tunai. Jadi, kalau orang mengambil Asuransi Premi Tunggal, maka cadangan preminya menjadi maksimum.

Karena perusahaan Asuransi Jiwa berinvestasi hanya pada instrumen yang beresiko rendah dan juga hanya mengembalikan sebagian dengan memberikan jaminan (garansi) atas Nilai Tunai, maka Nasabah mungkin dapat mengalami kerugian dari kesempatan keuntungan investasi. Bagi beberapa orang yang sudah mempunyai portofolio investasi yang baik, hal ini mungkin bukan masalah. Tetapi bagi mereka dengan dana yang lebih terbatas, kesempatan yang hilang ini nilainya dapat cukup berarti.

Pilihan yang ketiga adalah memanfaatkan Asuransi Unit Link. Selama ini, kita melihat U-Link sebagai sarana berinvestasi, yang memang merupakan alternatif yang istimewa. Terlebih lagi, Sequislife menyalurkan 100% investasinya di Schroders, sehingga kita mempunyai portofolio yang terbaik di Indonesia untuk jangka panjang (versi Majalah Investor). Dalam krisis kali ini, jelas bahwa posisi investasi Schroders masih lebih baik daripada posisi unit link lainnya.

Tetapi dalam iklim investasi yang menurun, banyak juga yang merasa kuatir dengan polis Asuransi/Investasinya. Dalam hal ini, kita harus memperhatikan bahwa:

(1) Dalam keadaan apapun, perlindungan ASURANSI yang diberikan oleh polis Asuransi U-Link tidak mengalami pengurangan atau penurunan sama sekali selama polis masih tetap berlaku / in-force. Kalau terjadi penurunan investasi, resikonya adalah hasil investasi lebih kecil daripada biaya asuransi, sehingga unit yang dicairkan untuk menutupi biaya menjadi lebih banyak. Bukan pengurangan dari perlindungan yang diberikan.

(2) Setiap saat Nasabah dapat menambahkan dana untuk menutupi kekurangan. Jadi, ketika memang terjadi penurunan hasil investasi, terutama di masa-masa awal berinvestasi, selalu bisa menambahkan jumlah unit yang dibutuhkan agar hasil investasinya berimbang dengan biaya.

(3) Secara statistik, tahun-tahun yang negatif lebih sedikit jumlahnya daripada tahun-tahun yang positif. Walaupun saat ini terjadi penurunan, dalam jangka panjang bisa diharapkan hasil investasi yang positif. Jadi, pada akhirnya tetap ada pertambahan dari hasil investasi sehingga Nasabah tidak perlu menyediakan seluruh dana yang dibutuhkan seperti pada asuransi premi tunggal.

Dibandingkan dengan Asuransi Premi Tunggal, polis unit link memungkinkan total investasi yang lebih kecil karena nasabah terbantu oleh hasil investasi jangka panjangnya. Hal ini lebih terasa ketika ada biaya yang tinggi, yang dalam Asuransi seringkali timbul oleh Manfaat Tambahan / Rider pada polis. Rider kesehatan seperti penanggungan biaya rumah sakit membebani polis dengan biaya yang jauh lebih besar daripada manfaat dasar Uang Pertanggungan.

Asuransi unit link juga mengambil biaya asuransi pada saat biaya itu muncul, jadi seperti asuransi berjangka. Kelebihannya, kalau dalam asuransi berjangka tidak ada jaminan bahwa untuk masa berikutnya asuransi dapat diperpanjang. Dalam unit link, asuransi berlangsung terus dalam jangka waktu yang panjang hingga usia 75 tahun. Dalam statistik mortalitas Indonesia, ini adalah batas harapan hidup orang, jadi usia 75 secara umum sudah mencukupi.

Dengan demikian, jika memang menginginkan asuransi dengan perlindungan tambahan, ambillah polis unit link. Jika mau aman, anggaplah Nasabah membayar preminya sepanjang mereka membutuhkan; maka dalam kondisi krisis pun asuransi yang mereka peroleh tidak akan terhenti. Ketika kondisi perekonomian membaik -- sesuatu yang kita yakini pasti akan terjadi -- hasil investasinya membuat beban menjadi ringan, bahkan Nasabah kita bisa memperoleh pengembalian yang baik.

Bagaimana dengan melakukan investasi premi tunggal dalam unit link? Dalam kondisi krisis, tentu ada resiko dimana nilai aktiva bersih turun dan menimbulkan potential loss yang tidak diinginkan. Tetapi dalam keadaan tidak pasti, melakukan investasi sekaligus merupakan pilihan yang bisa diterima, asal kita mengelola investasi dengan melakukan diversifikasi sesuai karakter Nasabah.

Asuransi yang paling baik saat ini bukanlah asuransi yang tunggal, hanya satu macam. Jika Nasabah menginginkan perlindungan atas kekayaan yang bersifat pasti, lebih baik mengambil Asuransi seumur hidup dengan premi tunggal. Untuk perlindungan tambahan dan hasil investasi, lebih baik mengambil Asuransi unit link. Jadi, paling baik Nasabah mengambil kedua jenis, yang whole life memaksimalkan Uang Pertanggungan dan yang unit link memaksimalkan manfaat tambahan serta pertambahan investasi.

Salam asuransi,
Donny

18 Maret 2009

Sekarang Membaik, Apakah Terus Demikian?

Dalam beberapa hari terakhir, nampaknya keadaan ekonomi dunia mulai 'siuman' setelah terpukul keras. Akhirnya, Wall Street di bulan Maret ini mulai nampak bergerak naik, ditunjukkan oleh indeks Dow Jones Composite Average. Di satu sisi, orang-orang mulai berupaya untuk menjalankan lagi usahanya walaupun harus dengan susah payah. Di sisi lain, pemerintahan Obama memulai programnya untuk memberikan stimulus, yang konon dapat membuat pemulihan terjadi di akhir masa pemerintahan Barack Obama. Begitulah katanya.

Tetapi yang kita lihat sebenarnya, hari ini Amerika melakukan intervensi yang dalam atas sistem ekonominya. Pemerintah AS kini bergerak mengatur pasar, mengatur bagaimana perusahaan-perusahaan seharusnya bekerja. Memang, sebagian disebabkan oleh sikap tidak bertanggung jawab yang ditunjukkan, seperti ketika para petinggi AIG masih menerima bonus yang bernilai jutaan dollar. Sedemikian tidak bertanggung jawabnya, sehingga Presiden Obama sendiri berusaha menghentikan kekacauan dalam perusahaan yang baru-baru ini kembali menerima persetujuan dana talangan US$ 30 milyar. Total, AIG sudah menerima US$ 173 milyar dalam kurun waktu 6 bulan. Tetapi rupanya para eksekutif itu masih merasa bahwa mereka berhak atas bonus sebagaimana kontrak, sekalipun pembayarannya adalah dari dana talangan! Nyatanya, mereka sendiri sebagai eksekutif bekerja dengan kecerobohan dan keserakahan.

Jadi, dalam kasus ini kita mengerti dan bisa membenarkan kemarahan dari Presiden Obama. Kita bisa mengerti bagaimana Pemerintah mulai masuk dan membuat lebih banyak peraturan. The Fed juga dibuat untuk lebih banyak mengawasi, diberi lebih banyak kewenangan. The Fed kini dapat mendirikan pusat eksekusi dan pengawasan produk derivatif yang dilakukan melalui kontrak atas produk yang berasal dari saham, obligasi, nilai tukar, dan komoditas. Perbaikan kini mulai menunjukkan hasil, dan kita lihat bagaimana raksasa Citigroup bisa mulai mengatasi problemnya. Hal-hal inilah yang mendorong Wall Street mengalami peningkatan, yang diikuti oleh peningkatan di berbagai belahan dunia termasuk Asia, Indonesia.

Sayangnya, perbaikan di pasar saham tidak menunjukkan perbaikan yang lebih luas. Ukuran yang sesungguhnya harus dilihat dari pertukaran produktivitas dengan valuasi, suatu pertambahan nilai dari produksi atau jasa akan menimbulkan keuntungan dalam nilai uang. Mengalirkan uang tanpa meningkatkan produksi akan membuat ilusi, seolah-olah terjadi peningkatan produktivitas. Padahal, uang ini mengalir dari mesin cetak! Jika produktivitas tidak bertambah, pencetakan lebih banyak uang hanya membuat nilai uang semakin turun, atau inflasi. Bayangkan, bagaimana jika program stimulus sebesar US$ 2 Triliun benar-benar dikucurkan?

Hari-hari ini, realita produktivitas adalah penurunan. Di Amerika, orang masih di PHK di mana-mana, setiap bulan PHK mencapai 650.000 orang. Tingkat pengangguran mencapai 8.1%, dugaan yang mencemaskan adalah tahun ini tingkat pengangguran mencapai 10%. Angka yang kurang lebih sama juga terjadi di Eropa. Efeknya mulai terasa oleh sektor riil di Indonesia. Untuk kuartal I (Jan-Mar) 2009, Departemen Perindustrian memprediksi pertumbuhan industri hanya 2.5%. Kadin memprediksi kondisi ini lebih buruk lagi di kuartal II (Apr-Jun).

Stimulus yang dilakukan oleh Pemerintahan Obama memang besar, tetapi pertanyaan besarnya: apakah stimulus itu benar-benar meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek? Kalau programnya diteliti, sebagian masuk ke pendidikan, masuk ke infrastruktur, masuk ke proyek kemanusiaan -- tapi apakah hal-hal ini dapat segera meningkatkan produktivitas? Bagi warga Wall Street, program yang ada tidak menunjukkan keseriusan yang mendalam untuk meningkatkan ekonomi sekarang. Jadi, program stimulus memang membuat sejumlah laporan keuangan perusahaan yang bermasalah kelihatan bagus, tetapi tidak mengubah situasi fundamentalnya. Setelah dana talangan habis, seperti make-up yang luntur, nampak kembali keburukan dari industri yang sakit. Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah Indonesia memang membuat stimulus fiskal sebesar Rp 73,3 Triliun, tetapi kalau kita perhatikan ternyata lebih dari separoh adalah berupa pemotongan pajak. Belanja yang dilakukan dari angka ini hanya 14% saja, atau sekitar Rp 10,3 Triliun -- itupun dilakukan untuk proyek yang efeknya baru terasa dalam jangka panjang, seperti proyek infrastruktur. Bagaimana hal-hal jangka panjang ini dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% di tahun ini?

Berita yang lebih suram terdengar dari Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bapak Bambang Prijambodo. Melihat indikator yang ada, rupanya perekonomian Indonesia telah positif memasuki era resesi. Indikator seperti perlambatan sektor produksi, penurunan kredit pembiayaan, pelemahan konsumsi domestik, dan perlambatan kinerja ekspor menegaskan kesimpulan Bappenas ini. Dugaan sementara, perlambatan akan terjadi sampai Oktober 2009 -- itu jika Pemilu yang diadakan dapat tuntas dengan aman dan tenteram.

Bagi masyarakat Indonesia, saat-saat ini adalah saat yang krusial untuk melakukan 2 hal. Yang pertama adalah melakukan lindung nilai terhadap kekayaan dan aset yang ada, paling tidak untuk diteruskan kepada generasi berikutnya. Yang kedua adalah melakukan diversifikasi dan leverage untuk meningkatkan produktivitas.

Lindung nilai dibutuhkan untuk memastikan kesejahteraan tetap dapat dipertahankan dan diteruskan kepada keluarga dan generasi penerus. Misalnya, hari ini seseorang telah memiliki Rp. 5 Milyar. Kondisi saat ini masih baik, tetapi penurunan bisa terjadi dengan cepat sehingga mungkin tahun depan nilainya menurun dan menurun lagi. Jika kita memperhatikan sekeliling, mungkin kita akan mendapati orang yang semula memiliki kekayaan berakhir dengan keadaan jatuh miskin. Akibatnya, anak dan cucunya hidup dalam kekurangan!

Untuk mendapatkan lindung nilai yang memadai, semasa orang masih mempunyai kemampuan ia dapat mengambil asuransi jiwa sebesar nilai kekayaan bersihnya sekarang. Dalam contoh di atas, seseorang bisa mengambil dengan besaran uang pertanggungan Rp. 5 Milyar atau lebih. Karena sifatnya yang lindung nilai, perlindungan ini diperoleh dengan cara premi tunggal, sehingga tidak ada resiko gagal bayar atau berhentinya proteksi di kemudian hari. Bila kemudian orang mengalami kemunduran dalam kekayaan bersihnya karena krisis moneter, ada suatu kepastian bahwa ada warisan yang cukup besar yang ditinggalkan kepada keluarga sebagai ahli waris.

Diversifikasi dan leverage menuntut kita semua untuk memikirkan kembali di mana saja kita menaruh uang. Jika selama ini seluruh dana disimpan di bank -- walaupun di bank yang berbeda-beda -- pada prinsipnya kita tidak mempunyai daya ungkit (leverage) finansial sehingga masa depan seluruhnya tergantung pada produktivitas kita sendiri. Ketika kita mengalami krisis, beban seluruhnya harus dipikul sendiri pula, bagaimana kita dapat bertahan melalui masa resesi yang terjadi?

Padahal ada banyak instrumen investasi yang dapat kita peroleh. Diversifikasi dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara resiko dan hasil, antara jangka panjang dan jangka pendek. Sejumlah investasi jangka pendek bahkan dapat memberikan tingkat pengembalian yang cukup tinggi, walaupun tentunya menuntut pengendalian yang lebih besar. Untuk investasi jangka panjang, kita tidak perlu melakukan banyak pengendalian asal kita bisa memilih manajer investasi yang benar-benar kompeten.

Yang terakhir, di saat-saat begini ada suatu hal ironis yang terjadi, menyangkut kepercayaan. Sejumlah orang menjadi orang yang tidak percaya -- mereka maunya hanya melihat ada uang di sana sini, baru percaya. Sebagian lain, menjadi orang yang percaya betul tentang satu tempat sehingga tidak melihat bagaimana kinerja yang sesungguhnya.

Jika kita menjadi orang yang tidak percaya, maka pada akhirnya kita akan terjebak dengan nilai nominal uang, sementara daya beli sesungguhnya memudar dengan cepat. Kalau sudah demikian, apa gunanya sikap tidak percaya yang serba-melindungi-uang itu? Sebaliknya, jika kita menjadi orang yang percaya total (dan agak membabi buta), tidak ada lagi pengendalian yang dilakukan dan tiba-tiba saja kita terkejut oleh situasi yang terjadi.

Kiranya, kita tidak jatuh dalam situasi yang ironis ini, yang berakhir dengan tererosinya masa depan yang kita harapkan. Kini adalah kesempatan sebelum resesi benar-benar meledak dan membuat kita begitu sibuk serta tidak dapat berbuat apa-apa lagi.

11 Maret 2009

Mari Saling Berbagi

Sejak bertahun-tahun lamanya, orang belajar untuk menjadi pebisnis dengan cara mengalahkan para pesaingnya. Berbagai cara dilakukan, bahkan dengan saling sikut dan saling mematikan. Inilah lingkungan bisnis yang dog-eats-dog. Inilah yang dikatakan "realita bisnis" dan orang menganggap bahwa mereka yang berjiwa lemah dan berhati kecil tidak akan dapat memenangkan persaingan.

Dengan komunikasi dan transportasi yang baik, persaingan menjadi luas. Pengusaha di Jakarta bisa bersaing dengan Surabaya. Orang Bandung bersaing dengan orang Semarang. Orang Indonesia bersaing habis-habisan, sampai akhirnya mengulangi lagi kejadian yang membuat negeri ini terjajah. Persaingan dilakukan dengan menggandeng orang-orang asing.

Tidak ada yang salah dengan asing, sebenarnya, karena sekarang ini seluruh dunia sudah terhubung menjadi ekonomi global. Sudah bukan waktunya lagi orang hanya berpikir sempit dan lokal; ada banyak kesempatan dan penawaran yang tersedia di berbagai penjuru dunia. Tetapi masalahnya menjadi lain ketika untuk memenangkan persaingan, orang Indonesia memakai tangan orang asing untuk mematikan sesama orang Indonesia dalam bisnis. Yang menang, adalah orang asing yang bisa masuk.

Coba kita lihat. Perbankan kita sekarang didominasi kepemilikan asing. Toko raksasa kita adalah jaringan asing semua, yang menggeser peran pasar tradisional. Pendidikan kita yang dianggap hebat adalah yang asing. Kesehatan yang disediakan dan dianggap paling bagus, yaitu yang asing punya. Kita mau pengobatan modern dari Barat, atau sekarang ini mulai dengan pengobatan alternatif dari China. Pengobatan tradisional Indonesia?

Bedanya, kalau di China ilmu pengobatan menjadi aset yang dikelola dengan serius oleh Pemerintah China. Kalau di Indonesia, justru praktek tradisional dilihat dengan sebelah mata, menjadi incaran POM kalau ada yang 'menyimpang'. Tidak ada investasi, tidak ada regulasi yang serius untuk mengembangkan pengobatan tradisional. Untungnya masih ada pengusaha yang berjuang mengangkat jamu dari Indonesia.

Maka kita menemukan keganjilan Ponari. Di sisi yang lain, kita menemukan praktek-prakter yang merugikan dan memeras orang yang dilakukan oleh rumah sakit dan dokter yang berpraktek. Ini adalah suatu praktek yang benar secara medis, tetapi salah secara finansial. Alhasil, mungkin orangnya sembuh tetapi secara finansial terjadi kerugian, bahkan kerusakan. WHO menunjukkan, setiap tahun 100 juta orang menjadi miskin karena harus menebus biaya kesehatan.

Sayang, tidak ada survei yang lengkap tentang jumlah orang Indonesia yang jadi miskin setiap tahun karena harus menebus biaya kesehatan.

Ketika terjadi krisis global, tiba-tiba saja semua keunggulan lenyap. Apa yang semula dilihat sebagai kemampuan bersaing -- competitive advantage -- tidak lagi berarti. Dan tiba-tiba juga, kita bersaing dengan pasar global, di mana orang Indonesia harus bertemu dengan pemain-pemain kelas dunia dan permodalan yang jauh lebih besar dan kuat.

Kita tidak punya banyak kesempatan jika hanya bergerak sendiri. Maka, satu-satunya cara adalah dengan bekerja sama secara kolektif. Itu berarti membuka diri, membagikan kekuatan dan daya saing kita kepada orang-orang lain sebangsa dan setanah air. Itu berarti bersedia merangkul sesama saudara Indonesia, bukan merangkul orang asing.

Lihatlah, saat ini seluruh dunia berusaha keluar dari kemelut krisis global. Pemerintah melakukan penalangan (bailout) bagi perusahaan-perusahaan, untuk menopang daya saing. Pemerintah Indonesia memberi dana talangan untuk membuat orang tetap konsumtif. Apakah program stimulus dari Pemerintah kita membuat pengusaha kita menjadi lebih tangguh?

Kalau memang benar-benar mau berhasil, kita harus saling berbagi dan saling memperkuat produktivitas kita. Pemerintah juga harus menolong rakyat untuk menjadi lebih produktif, bukan sekedar lebih senang atau berterima kasih agar nanti memilih dalam Pemilu 2009.

Ayo, mari saling berbagi....