Cari Blog Ini

29 Desember 2004

Derita tsunami: apa yang dapat kita lakukan?

Salam dalam kasih Kristus,

Berita tentang tsunami datang bergulung-gulung bagaikan tsunami. Mula-mula datangnya hanya sebagai berita singkat di radio, bahwa di laut sebelah barat Aceh telah terjadi gempa. Tidak terlalu menarik perhatian, karena pikiran masih dipenuhi berbagai macam urusan tutup tahun, sisa pekerjaan di kantor, dan juga diskusi di milis. Berita gempa hanya jadi informasi selewatan saja, dengan judul gempa di Asia Selatan.

Tetapi berselang satu hari, jumlah kematian tampil mengejutkan: di Aceh ada 1400 orang meninggal. Di Srilangka 2000. Juga di India, Somalia, Thailand... pagi itu, berita tsunami jadi pembicaraan hangat di kantor. Ada berita gempa, tapi informasi yang disediakan surat kabar tidak terlalu jelas. Antara satu media dengan media yang lain menampilkan jumlah korban yang berbeda.

Lalu, informasi tentang kematian datang bergulung-gulung, bagaikan tsunami itu sendiri. Dalam hitungan jam, informasi tentang kematian terus bertambah dengan cepat, tahu-tahu sudah 20.000, tahu-tahu sudah 33.000, tahu-tahu sudah 44.000 dan itu pun belum bisa mengumpulkan semua jenazah di Aceh. CNN.com terakhir memberitakan bahwa saat ini justru masalahnya adalah untuk mengevakuasi semua jenazah di jalanan, di bawah timbunan reruntuhan. Bencana yang ekstrim. Gempa ke-4 terbesar dalam kurun waktu seabad. Gempa terbesar dan korban terbanyak dalam millenium ketiga. Gempa yang tidak pernah terjadi sebelumnya, dan menimbulkan patahan baru; artinya dapat terjadi gempa susulan di suatu tempat lain sepanjang jalur patahan samudra indonesia.

Artinya, siap-siap saja menghadapi bencana berikutnya. Mudah-mudahan tidak terjadi, namun siaplah untuk hal yang lebih buruk lagi.

Menghadapi bencana semacam ini, bantuan kemanusiaan tidak cukup lagi dengan uang. Jika ada uang, banyak tikus korup yang lebih buas dari binatang, siap menerkam setiap sen dana untuk mengisi kantong sendiri. Juga tidak bisa berupa barang; masalahnya tidak ada yang tahu apa persisnya kebutuhan di lapangan. Mengumpulkan pakaian bekas, misalnya, mungkin tidak terlalu bermanfaat sekarang. Dan repotnya pula, jika barang yang diberikan adalah berupa sembako dan obat-obatan, itu pun bisa dikorupsi dengan cara dijual mahal. Banyak yang kehilangan segala-galanya, sehingga siap untuk menerkam apa saja demi kepentingannya sendiri. Penjarahan pun terjadi di banyak tempat di Aceh, menguras setiap tempat yang masih berdiri dan menyimpan makanan dan keperluan lain untuk hidup.

Pilihan yang lebih praktis mungkin dengan menjadi donor darah -- ribuan korban hidup saat ini membutuhkan banyak darah -- melalui PMI, atau mengumpulkan uang lantas dibelikan barang-barang yang nampaknya paling dibutuhkan: terpal untuk tenda, generator, selimut, dan obat-obatan. Tentu saja dibutuhkan kerjasama dengan pemerintah, namun sayangnya pemerintah tidak cukup tanggap untuk mengkoordinasikannya. Sampai saat ini tidak ada pengumuman yang lebih jelas tentang bantuan macam apa yang dibutuhkan, yang dapat disumbangkan oleh masyarakat lain di Indonesia.

Karena kekurangan pemerintah ini, pilihan yang lebih pelik adalah masuk sendiri ke wilayah bencana dan menjadi penolong di sana. Jika bantuan makanan, peralatan, dan obat-obatan datang, masih ada pekerjaan besar untuk menyalurkannya ke wilayah bencana. Dan melihat daerah barat Aceh, kesulitannya lebih tinggi karena jalan raya pada sisi barat Aceh terletak dekat dengan tepi pantai. Dahulu saya pernah melintasi jalan itu tiga kali, perjalanan yang indah sekaligus menyeramkan. Daerahnya juga bertebing-tebing, yang pernah beberapa kali longsor karena hujan deras. Jika diterjang tsunami, pasti jalan raya terputus sama sekali.

Alternatif darat lain harus melintasi perkebunan dan hutan yang sukar ditembus, apalagi oleh truk pengangkut. Perjalanan sukar karena bukit barisan yang memanjang dan curam, membuat jalan berkelok-kelok tajam. Tambahkan faktor bencana, maka kita dapatkan masalah keterisolasian area-area. Tambahkan faktor penyakit yang dapat timbul karena banyaknya mayat yang membusuk di jalan. Tambahkan faktor orang-orang kelaparan yang berjuang untuk hidup di tengah ketiadaan makanan dan air bersih untuk minum. Siapa yang dapat menolong dengan segera? Rasanya, korban masih akan terus berjatuhan, padahal yang ada saja sukar untuk dikuburkan.

Sampai di sini, terasa benar betapa rapuhnya manusia. Karena jika dipikir-pikir lagi, gempa yang menyebabkan tsunami tadi bukan hal yang amat aneh atau tidak terjelaskan. Daratan berada pada lempengan-lempengan kerak bumi yang bergerak, yang bisa saja patah atau bertumbukan. Dilihat dari skala bumi, gerakan-gerakan itu relatif kecil. Dilihat dari skala manusia, gerakan-gerakan itu berarti gempa dengan kekuatan 6, 7, 8, bahkan 9 skala Richter. Memikirkan bahwa guncangan sedikit saja bisa membinasakan banyak kehidupan, sebenarnya sungguh luar biasa bila hari ini masih ada kehidupan yang berlimpah di atas muka bumi.

Dalam iman kepada Allah, kita perlu menyadari bahwa Allah memberikan kebaikan-Nya sehingga manusia serta segala mahluk masih bisa hidup. Jika kita mengaku sebagai anak-anak Allah, maka kita pun seharusnya memiliki kebaikan yang sama untuk memelihara segala kehidupan, bagi segenap manusia dan mahluk tanpa memandang bulu. Panggilan kita adalah menjadi tangan-tangan Allah yang terulur dan menyembuhkan, memberi apa yang diperlukan.
Tetapi kenyataan ini pun memberi kesadaran, bahwa bumi ini bukan rumah kita yang sesungguhnya. Oleh dosa, bumi yang tua ini bukan lagi tempat terbaik untuk hidup. Di dalam Tuhan kita memiliki pengharapan dan penghiburan, bahwa rumah kita yang sesungguhnya serta hidup kekal ada di bumi yang baru, yang di atasnya berada tahta Allah. Jika kita masih hidup di bumi tua ini, adalah kesempatan untuk mengenal dan memperkenalkan Tuhan, supaya lebih banyak lagi orang yang benar-benar diselamatkan. Bukan hanya sekedar diselamatkan dari bencana, melainkan diselamatkan untuk beroleh hidup yang kekal.

Marilah kita teruskan pekerjaan Allah yang baik; marilah membantu sekuatnya kita bisa.

Terpujilah TUHAN!