Cari Blog Ini

24 Desember 2010

Bergantung Pada Tuhan

Dalam pelayanan orang Kristen, hal yang sering disebutkan adalah, "mari bergantung pada Tuhan." Pemikiran ini nampak saleh, dan kalau diperhatikan benar-benar, ternyata bukan monopoli orang Kristen saja untuk mengatakan demikian. Sebaliknya, semua umat beragama mempunyai cara untuk mengatakan hal dengan maksud yang sama.

Pertanyaannya, apakah hal itu hanya sebuah pernyataan, ketika banyak orang Kristen sedang sibuk "melayani perayaan Natal"?

Kepada perempuan Samaria, Tuhan Yesua pernah mengatakan bahwa akan tiba saatnya orang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Di dalam kebenaran, tidak ada dusta, tidak ada kegelapan. Batu ujiannya adalah realita: apa yang ya adalah ya, tidak adalah tidak, karena diluar itu berasal dari si iblis. Kalau seseorang mengatakan ahwa ia bergantung kepada Tuhan, apakah ia menyatakan kebenaran?

Mari kita belajar dari Natal. Hal pertama yang kita lihat adalah, kebergantungan kepada Allah membuka diri bagi rencana Tuhan, yang bisa jadi sangat tidak terduga. Maria adalah gadis muda yang tidak menyangka akan didatangi malaikat, lantas menjadi hamil. Kehamilan diluar pernikahan bukan hal baik di jaman sekarang, terlebih lagi di jaman dahulu saat kehidupan Yahudi sangat religius. Berapa banyak orang yang bergantung kepada Tuhan, juga berserah kepada-Nya? Atau kita berkata bergantung pada Tuhan, dalam pengertian kita membuat rencana dan menggantungkannya pada Allah untuk melaksanakannya? Lihatlah dan pahamilah apa yang Tuhan kehendaki, dan katakan, "jadilah padaku seperti yang Engkau kehendaki."

Hal kedua adalah mengenai kesanggupan. Yusuf tidak sanggup menerima Maria sebagai istrinya. Ia orang yang tulus hati, namun tetap saja bermaksud menceraikannya dengan diam-diam, apapun penjelasan yang diberikan Maria. Ketika akhirnya Yusuf berubah, itu bukan karena kesanggupannya sendiri, melainkan karya Allah. Yusuf kemudian bergantung sepenuhnya kepada jalan Tuhan, menemani Maria sampai melahirkan, dan menamai bayi itu Yesus. Kalau kita bergantung kepada Allah, kita tidak dapat me epuk dada dan mengatakan bahwa semuanya adalah hasil dari kehebatan kita. Saat kita melihat bahwa kenyataannya kita memang hebat, yang harus dilakukan adalah memuji Allah.

Hal ketiga adalah sikap untuk memandang orang lain sebagai orang-orang yang juga menerima karunia, sekalipun mereka kecil, marginal, dan tidak berarti. Keadaan Yusuf dan Maria cukup berat, dan akhirnya Maria harus melahirkan di kandang. Itu adalah penolakan yang menyakitkan, dan pastinya melahirkan adalah proses yang lebih menyakitkan lagi. Tetapi kemudian, datanglah gembala. Yusuf dan Maria tidak menolak mereka, sebaliknya menerima kehadiran orang-orang yang dianggap pinggiran itu, untuk boleh melihat Bayi di dalam palungan.

Orang modern merayakan Natal dengan kemewahan, dimana ada penerimaan bagi mereka yang kecil? Orang Kristen mencari kesempurnaan, malah membuat standar profesionalisme, dan tanpa sadar hatunya menutup bagi mereka yang dipinggiran, karena mereka bukan yang terbaik, paling terampil, atau bisa menghasilkan sesuatu yang wah. Justru kepada para gembala inilah Bala Tentara Surga menampakkan diri!

Jika kita mengatakan bahwa kita bergantung kepada Allah, dapatkah kita juga menerima orang yang minus, cacat, lemah, sebagai bagian dari komunitas kita?

Yang keempat, apa yang hina di mata manusia: gadis hamil di luar nikah, tukang kayu di Nazaret, melahirkan di kandang -- semua itu buruk, kurang, cacat, itulah yang dipandang Allah berarti. Orang Kristen yang mengatakan bahwa bagi Tuhan haruslah yang terbesar, terbaik, terindah -- dapatkah melihat ke kedalaman hati manusia, dan mengakui bahwa ia sedang bergantung kepada Tuhan? Perhatikanlah, betapa banyak sakit hati akibat penolakan, karena tidak sanggup memenuhi tuntutan kesempurnaan. Di dalam gereja, justru kesabaran menjadi hal yang langka, dan betapa mudahnya kemarahan terlontar karena ada yang kurang di mata mereka yang pandai terhadap mereka yang bodoh, atau yang kaya terhadap yang miskin.

Gereja bukan perusahaan, yang menuntut kesempurnaan kerja profesi. Gereja adalah tempat belas kasih dicurahkan, sebagaimana dahulu belas kasih diberikan dalam Natal yang pertama, yang tidak berlangsung dengan panitia dan acara, melainkan isak tangis dan kesukaran.

Manusia tidak pernah dapat memberi yang terbaik bagi Allah. Manusia hanya bisa menerima yang terbaik dari Allah, kemudian meneruskannya sebagaimana Allah kehendaki.

Selamat hari Natal, selamat bergantung pada Allah!
Published with Blogger-droid v1.6.5

19 Desember 2010

Natal 2010

Yoh 3:16  Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Permulaannya adalah kasih, ketika Allah membuatnya berbeda. Allah menciptakan dunia dengan mata-Nya yang sempurna, sehingga apa yang dilihat-Nya baik merupakan dunia yang sempurna. Di alam semesta ini ada begitu banyak bintang, barangkali ada planet-planet lain, bahkan mungkin kehidupan lain. Tetapi Allah mengasihi dunia ini, Ia membedakannya.

Prinsip kasih memang membedakan. Jika kita mengasihi sesuatu, atau seseorang, kita akan memperlakukannya berbeda. Walaupun orang merasa tidak suka dan mengata-ngatai, "ah, kok pilih kasih sih?" Kenyataannya, kasih memang memilih yang satu dan menolak yang lain. Tanpa membedakan, kasih tidak memiliki arti; kalau orang berharap diperlakukan sama semuanya, mau "dikasihi semuanya", maka sebenarnya tidak ada yang dikasihi. Di dalam pilihan itu tidak ada syarat -- kasih bukanlah bagian dari hukum sebab - akibat. Kalau dipikirkan, bahkan kasih itu merupakan suatu hal yang bekerja satu arah. Kasih adalah tepukan sebelah tangan.

Orang bilang, cinta tidak bisa bertepuk sebelah tangan, karena dibutuhkan dua orang untuk saling mencintai. Namun kasih tidak membutuhkan respon dari pihak lain; kasih lebih besar daripada cinta, karena sanggup bertepuk sebelah tangan. Kasih Allah yang besar adalah bukti kerasnya tepukan sebelah tangan ini, karena sebaliknya dari berharap balasan, kasih Allah justru memberikan karunia.

Perhatikanlah bahwa di sini disebut "mengaruniakan". Karunia adalah pemberian tanpa pamrih, kepada orang yang sebenarnya tidak dalam posisi yang pantas untuk menerima. Istilah ini dipakai sejak jaman dahulu dalam konteks raja dengan hamba; ketika hati raja senang, ia begitu saja mengaruniakan sesuatu bagi hamba, entah tanah atau kambing domba. Raja tidak mengharapkan balasan dari hamba, karena sang hamba tidak akan sanggup membalasnya. Raja tidak mengharapkan hormat atau pujian oleh pemberian, karena sang hamba memang berkewajiban selalu menaruh hormat dan pujian kepada Raja, baik diberi atau tidak diberi.

Tuhan lebih daripada segala raja yang pernah ada atau yang akan ada. Manusia harus menyembah Tuhan, harus memuliakan Tuhan -- entah mendapat atau tidak mendapat apapun. Penyembahan kepada Tuhan adalah kewajiban, suatu kewajaran yang sudah seharusnya, bukan suatu sebab-akibat. Sikap yang benar bukan sekedar menempatkan Tuhan secara berbeda, melainkan kita harus menguduskan hidup bagi Tuhan.

Perbedaan antara Tuhan dan manusia adalah sedemikian jauhnya -- setinggi langit di atas bumi -- maka karunia yang Tuhan berikan mempunyai nilai yang tidak terhingga, karena Allah tidak memberi sesuatu yang dengan mudah dimiliki-Nya. Esensi dari pemberian adalah kehilangan, dan apa yang lebih hebat daripada kehilangan Anak Tunggal? Bagi manusia sekalipun, kehilangan anak adalah peristiwa mengerikan, membuat histeris. Rasanya tidak ada orang yang dengan sadar bersedia memberikan anaknya yang tunggal. Kalaupun hal itu terjadi, pasti ada alasan besar dan hebat, ada suatu penyebab yang tidak dapat diatasi dengan cara lain.

Tetapi di sini tidak ada alasan bagi Allah. Dia bukan memberikan karena desakan; Dia memberikan karunia! Direnungkan seperti ini, Natal adalah hal yang tidak masuk akal, kecuali dengan satu alasan: karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini. Satu-satunya cara untuk memahami seluruh karya Allah adalah karena kasih yang maha besar, hingga melampaui semua pikiran dan pertimbangan manusia.

Respon yang dapat manusia berikan adalah mempercayainya, dan satu-satunya cara untuk dapat melakukannya adalah dengan mengasihi Tuhan. Begini: kasih adalah hal yang membuat manusia mampu membedakan, menguduskan, dan di dalam keadaan itu baru orang bisa mempercayai dengan segenap hati. Kalau orang tidak menguduskan, maka kepercayaan kepada Tuhan akan diletakkan dalam konteks seperti di dunia ini, di mana ada sebab dan akibat, ada maksud-tujuan dalam segala hal. Orang percaya kepada Tuhan supaya... dapat berkat, dapat rejeki, memperoleh kesehatan, mendapat kelepasan dari masalah. Orang percaya bahwa Allah itu Maha Besar, percaya bahwa Allah itu Maha Pengampun, percaya bahwa segala hal yang baik berasal dari Allah, percaya untuk mengikuti semua ajaran agama -- tetapi tidak ada yang dapat cukup percaya untuk meletakkan finalitas kehidupan di dalam tangan Allah kecuali manusia menguduskan-Nya.

Dan satu-satunya cara manusia dapat menguduskan Allah, hanyalah dengan mengasihi-Nya dengan segenap hati, segenap akal budi, segenap kekuatan. Itulah hukum yang utama dan pertama.

Manusia yang percaya kepada Tuhan dengan segenap hatinya dibenarkan oleh Tuhan, seperti Abraham. Orang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah, yang mempercayai Natal dan dari sana mempercayai Tuhan Yesus Kristus, diselamatkan dari kebinasaan, berarti memperoleh hidup yang kekal. Mempercayai Natal bukan sekedar percaya bahwa ada bayi yang lahir di kandang dari seorang gadis perawan, bukan hanya percaya pada semua peristiwa di Bethlehem dua millenia yang lalu, melainkan menaruh kepercayaan kepada Tuhan akan finalitas hidup -- bahwa pada akhirnya, pada puncaknya, tidak peduli apapun yang terjadi di dalam jalan kehidupan kita di atas muka bumi ini, kita akan hidup kekal di dalam dan bersama dengan Kristus Yesus, yang telah lahir, hidup, mati, bangkit, dan naik ke Sorga. Semua karena kita mendapat karunia dan kita sungguh-sungguh mempercayai-Nya!

Selamat hari Natal!

05 Desember 2010

Bukan Hamba

Realita menunjukkan, manusia harus bekerja. Dahulu, mula-mula manusia mengambil segala hal yang disediakan alam. Kemudian orang belajar mengolah alam, membuat pertanian dan menambang. Beberapa abad terakhir manusia mengenal teknologi industri, dan manusia terbang, baik untuk perang maupun kemajuan. Sampai sekarang.

Semakin tinggi naiknya, semakin keras jatuhnya. Tiba-tiba kita mendapati bahwa kehidupan berputar lebih cepat, lebih menuntut, dan pastinya tidak lebih mudah. Manusia belajar untuk lebih mempercayai diri, tetapi di saat yang sama tantangannya juga lebih besar, karena orang bertindak berdasarkan kepercayaannya, bukan realita. Ketika apa yang dipercayai tidak sesuai kenyataan, konsekuensi yang harus ditanggung terasa amat sangat besar.

Dalam keadaan sukar, manusia mencari jalan. Di dalam kepercayaannya, orang percaya mengenai hari-hari baik, tentang benda-benda bertuah, dan kekuasaan alam. Ketika ilmu pengetahuan makin tinggi, orang percaya teknologi, pada komputer dan magnet, far infra red, dan gadgets. Orang percaya harus mempunyai ini, baru bisa sukses.

Realitanya, yang membeli dan memasang komputer tercanggih terbaru tetap bangkrut setahun berikutnya. Demikian juga dengan yang mendapat jimat dari makam di gunung, tetap mengalami musibah. Ada orang yang semula sangat percaya diri, mendapati realita kegagalan yang sedemikian hebat, sehingga tidak mampu bangkit dalam waktu yang lama.

Dengan semua realita itu, apakah yang dilakukan? Orang bilang bahwa dirinya berbuat salah, ia harus lebih mendalami, lebih percaya, dan lebih memperhatikan petunjuk-petunjuk dunia. Ia seperti hamba yang dicambuk majikannya, sehingga harus bersikap lebih taat dan patuh dengan setia.

Dunia seperti ular yang membelit mangsanya. Siapa yang dapat melepaskan? Dahulu, Allah sudah memberikan nubuat, sebuah pengungkapan: kelak kepalanya akan diremukkan Anak Manusia, sebaliknya si ular meremukkan tumitnya. Itulah yang terjadi, dan sekarang kita tahu si ular tua, penguasa dunia, tidak lagi berkuasa terhadap anak-anak Allah.

Kedatangan dan karya Kristus menyelamatkan kita, tetapi dunia tidak tinggal diam. Selama masih di dunia, kebenaran Kristus menghancurkan kekuasaan iblis, tetapi mahluk ini terus menerus menghantam tumit. Betapa sakitnya, betapa sukar untuk berdiri, apalagi berjalan dan berlari!

Selama kita belum menerima Perjanjian dengan Tuhan, kita diperhamba oleh kuasa jahat yang mengarahkan kita kepada kematian. Namun setelah kita akil balig, menerima Perjanjian melalui iman, kita menjadi anak, bukan hamba.

Apakah kita masih mau diikat aturan dunia? Percaya pada jimat, atau pada komputer? Adakah kita masih bergantung dan taat pada sistem ekonomi, yang semakin hari semakin terlihat kepalsuannya? Tidak! Tetapi, dunia membalas dengan menghantam tumit, sampai kita juga tidak sanggup berjalan.

Terpujilah Tuhan Yesus Kristus yang telah memanggul salib itu bagi kita. Dia menggendong kita saat kita tidak berdaya.

Selamat Natal, selamat karena Dia hadir bagi kita, yang percaya pada-Nya, bukan pada dunia.
Published with Blogger-droid v1.6.5

28 November 2010

Benar, Jujur, Berdosa

Mzm 32:11
Bersukacitalah dalam TUHAN
dan bersorak-soraklah,
hai orang-orang benar;
bersorak-sorailah,
hai orang-orang jujur!

Ada orang yang benar. Ada yang jujur. Sebaliknya ada juga orang yang tidak benar dan jujur. Semuanya berdosa.

Siapa yang tidak berdosa? Tetapi, kenyataan tentang dosa telah lama menjadi sasaran kritik oleh manusia. Orang tidak menyukai sebutan dosa, paling sedikit karena tiga alasan. Yang pertama, status 'berdosa' merupakan cacat pada reputasi, sehingga mengganggu kehidupan sosial. Yang kedua, status berdosa mengganggu idealisme personal, suatu perasaan 'tidak sempurna' yang tidak menyenangkan. Yang ketiga, status dosa mengganggu keyakinan rohani, karena menempatkan diri di bawah ancaman hukuman. Tidak ada orang yang menyukai ancaman, apalagi hukuman neraka berupa penderitaan kekal.

Respon manusia ada dua: yang satu benar dan jujur, mengakui dan menundukkan diri sebagai pertobatan. Yang lain, mengingkarinya. Mereka menipu diri sendiri dan orang lain, dengan mendefinisikan dan menyusun kata-kata.

Mulanya, orang meninggikan rasio dan menjadikan pengamatan atas pengalaman sebagai acuan. Ini disebut rasionalisme dan naturalisme, yang dengan tegas menolak apa yang tidak teramati atau terpikirkan. Orang belajar meragukan ketuhanan, kuasa supranatural, dan otoritas ilahi. Siapa yang bisa menunjukkan Surga? Siapa yang pernah melihat neraka? Berdasarkan rasio dan naturalisme, semua ini bisa diragukan. Kemudian orang meninggikan perasaan dalam gerakan romantisisme, mengembalikan cara hidup memuaskan kenikmatan, alias hedonisme. Kalau rasanya enak, pasti benar!

Semua pemikiran abad ke-19 ini disebut teologia liberal, dan umat manusia merasa baik dan tidak berdosa karena sudah menemukan "kebenaran", yang pada hakekatnya berupa pemikiran yang kompleks untuk menolak dosa, kecuali hal-hal yang jelas merugikan sesama manusia seperti pembunuhan atau pencurian. Tapi, dosa ada di sana, apapun kata orang, dan tetap merusak segala hal yang baik.

Perang dunia pertama dan kedua berakar pada akibat dosa, dan manusia kembali dipaksa melihat kenyataan bahwa "kebenaran" tentang keunggulan manusia adalah salah. Setelah PD I, orang mulai melihat pemikiran 'baru' bahwa cara lama ada benarnya dan Tuhan memang ada, walau Ia begitu jauh. Untuk beriman, orang harus melompat dan meninggalkan rasio. Inilah arah baru dimana teologi liberal runtuh, sebaliknya neo-ortodoksi berkembang. Tokoh utamanya, Karl Barth, disebut sebagai teolog terbesar abad ke-20 yang menjatuhkan bom di taman bermain para teolog liberal.

Hanya, pengakuan tentang Tuhan tidak dengan jujur mengakui status dosa dan masalahnya. Sebaliknya, neo-ortodoksi membuka jalan pada filosofi post-modernism yang serba relatif. Kebenaran menjadi relatif, kata-kata bisa didekonstruksi, dan kekuasaan jadi penentu apa yang benar.

Sekali lagi, kebohongan menguasai pikiran manusia. Orang mengerjakan karya yang tebal dan sukar dipahami, dan mengintimidasi orang untuk menerima pandangan tentang ketidakberdosaan manusia.

Siapa yang masih membaca Mazmur 51 dan 32 dengan keyakinan yang sama dengan Daud? Raja yang satu ini menyadari status dosanya, merasa tersiksa dan tidak tenteram karena kesalahannya, dan dengan itu juga bertobat serta mendapatkan pembenarannya.

Orang benar dan jujur bukannya tidak berdosa. Tetapi saat tangan dan tubuhnya menjadi kotor, ia mengakui kebenaran dan menghadap Tuhan agar dibasuh sampai bersih. Itulah sukacita besar yang dimiliki orang-orang benar dan jujur.

Haleluya! Terpujilah Tuhan!
Published with Blogger-droid v1.6.5

21 November 2010

Serius

Apa yang menjadi ukuran ketika kita mengambil keputusan keuangan? Jika ditanya demikian, maka kita mungkin menjawab tentang hasil yang diinginkan. Atau kita membahas soal keamanan dana, atau pertumbuhan, atau moralitas di balik produk keuangan. Itu kalau ditanya, menjadi jawaban yang disampaikan.

Tetapi, dalam prakteknya banyak orang yang mengutamakan kemudahan. Hal berikutnya yang mendorong orang adalah hadiah. Untuk semua produk keuangan, harus terlihat mudah dan akan sangat menarik jika ada hadiahnya. Untuk mempercayai, yang dicari adalah kesederhanaan.

Kenyataannya, apa yang terjadi tidaklah mudah atau sederhana. Orang yang mencari cara termudah di masa kini, seperti meminjam uang setiap kali ada kebutuhan, harus membayar lebih mahal di masa depan. Orang yang mencari kepastian dan keamanan yang mudah, akan mencari orang lain untuk memberi segala "kepastian dan keamanan" yang harus ditebus dengan kebebasannya, dibayar oleh masa depan yang hilang di tangan orang lain.

Kebenarannya adalah, tidak ada yang mudah. Jika kita memimpikan masa depan yang baik, maka kita harus siap dengan kesulitan dan kerumitan di masa kini. Kebenaran yang sejati tidak dapat dipahami tanpa kesediaan untuk berpikir dan merenungkan informasi yang ada. Bahkan informasi yang kita miliki juga perlu direnungkan, karena untuk sebuah kebenaran tunggal, ada banyak sekali kemungkinan informasi yang palsu dan menyesatkan. Jika orang sekedar mencari yang paling mudah, maka ia rentan untuk dimanipulasi dalam kepalsuan.

Pokok masalahnya adalah: manusia kini mempunyai kebebasan untuk menjadi yakin dan percaya tanpa merasa perlu memikirkannya. Memang ada banyak hal yang tidak dapat dipikirkan manusia, terutama hal-hal mengenai Tuhan. Namun, bersikap 'pokoknya percaya' tanpa merenungkan apa yang dipercaya, adalah kepercayaan yang palsu. Orang yang mempercayai tanpa memahami adalah orang yang tidak dapat bertindak sesuai dengan kepercayaannya, dan akhirnya sama saja dengan orang yang tidak percaya.

Jika kita yakin dan percaya bahwa hidup kita penting, maka kita harus memikirkannya, merenungkannya, dan mencari apa yang benar-benar kita butuhkan. Tidak ada yang mudah, karena seluruh keberadaan kita akan terpengaruhi. Kita tidak dapat berubah setengah-setengah. Ada harga yang harus dibayar.

Yang terutama adalah kehidupan itu sendiri. Selamatkah? Satu kepaatian dalam hidup adalah: orang pasti meninggalkan dunia, alias mati. Meninggalkan dunia untuk terus ke mana? Apa yang terjadi dengan kehidupan kita, setelah tidak berada di dunia ini? Lalu, bagaimana dengan yang ditinggalkan? Jika ada orang-orang yang bergantung pada kita, dapatkah mereka tetap mempertahankan kehidupan mereka?

Kebanyakan orang menjawab, itu adalah keyakinan iman bahwa keselamatan ada di tangan. Namun, inipun tidak mudah, karena orang harus merenungkannya, siang dan malam. Jika kita percaya Tuhan, apakah kita mengenal-Nya? Adakah kita melakukan apa yang dikehendaki-Nya?

Apa yang kita percaya?

Jelaskanlah.
Published with Blogger-droid v1.6.5

14 November 2010

Celebrity or Community?

Apa bedanya selebriti dengan komuniti? Tiap orang pasti memiliki sentuhan dari keduanya. Tetapi yang sebenarnya menjadi pertanyaan adalah, apakah kita memikirkan selebriti atau komunitas kita?

Komunitas adalah hal wajar yang kita alami sejak lahir. Komunitas pertama kita adalah ibu dan ayah, di mana kita makan bersama mereka (itulah arti commune, harafiahnya makan bersama). Seiring semakin luasnya pergaulan, komunitas kita juga membesar dan melibatkan lebih banyak orang.

Setiap komunitas menyukai perayaan, dan dalam sebuah perayaan biasanya ada bintangnya. Kalau acara ulang tahun, bintangnya adalah yang berulang tahun. Dalam acara yang lebih luas atau publik, bintangnya adalah orang yang dikenal semua orang -- walaupun dia sendiri tidak mengenal banyak orang. Itulah seorang celebrity, bintang dalam perayaan atau celebration. Selebriti menjadi pusat perhatian, kata-katanya diperhatikan orang, bajunya dilihat orang, dan tidak heran bila pendapatannya juga besar.

Selebriti bukan hal yang terjadi dengan sendirinya, karena tidak mudah seseorang dikenal banyak orang begitu saja. Namun orang jaman sekarang, berkat teknologi media komunikasi, berupaya menjadi selebriti. Mereka berpenampilan sebagai seorang selebriti, berkata-kata seperti selebriti, dan berperilaku seperti itu juga.

Bagaimana dengan komuniti? Semakin orang berfokus pada selebriti, semakin jauh orang dari komunitasnya. Komunitas adalah kelompok terbatas, mempunyai gaya dan corak tertentu, dan bukan sesuatu yang diperhatikan semua orang. Dengan berniat menjadi selebriti, seseorang menjadi semakin sadar akan dirinya sendiri, semakin individualis, dan mungkin juga jadi semakin egois. Tapi banyak orang mau jadi selebriti. Bagaimana dengan kita?

Rasul Paulus adalah selebriti di antara jemaat kristen mula-mula. Dia dikenal hampir semua orang kristen, bukan yahudi atau yahudi, sebagai tokoh yang dulu ditakuti dan kemudian disegani. Lihat dan perhatikan, apakah ia bersikap sebagai selebriti?

Dalam penutup surat kepada jemaat di Roma, Paulus memberi salam kepada lebih dari 20 orang. Beberapa disapa dengan keakraban yang luar biasa, seperti untuk Rufus dan ibunya, yang juga dianggap ibu sendiri. Bayangkan, berapa sering seseorang menyapa seorang dengan keintiman seperti itu?

Dan di dalam semuanya, saat itu Paulus tidak sempat ke Roma. Ia baru mengumpulkan dana untuk orang susah di Yerusalem, dan dalam perjalanan ke sana surat kepada jemaat Roma ini ditulis. Rencananya, setelah dari Yerusalem ia akan ke Roma. Tetapi rencana itu tidak pernah terwujud, karena Paulus ditangkap di Yerusalem oleh orang-orang Yahudi.

Paulus adalah selebriti, namun ia tidak bersikap demikian karena mengutamakan komunitinya. Bagaimana kita, yang saat ini memiliki komunitas, justru mengabaikan komunitas demi selebritas?

Lihat dan hargai dan kasihilah orang-orang dalam komunitas kita. Tuhan tidak membuat kita sekedar untuk dikenal semua orang, melainkan untuk melayani orang-orang, komunitas kita, lingkungan kita. Dalam kasih ini tangan Tuhan terulur dan bekerja, hingga Kerajaan Allah terwujud nyata. Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.5

31 Oktober 2010

Fondasi

Fondasi adalah yang pertama dibuat. Semua bangunan harus memperhatikan fondasi, kalau mau bertahan untuk jangka panjang. Ini pekerjaan yang tidak menyenangkan, karena berat dan kotor, harus menggali tanah dan batu. Tidak ada 'kesaksian' yang dapat diberikan mengenai fondasi, walaupun fondasi menentukan kapasitas bangunan, berapa tingkat yang dapat dibuat. Orang kagum saat melihat gedung tinggi, namun berapa yang terpesona oleh fondasinya? Tidak terlihat. Tidak terpahami.

Karena tidak terpahami, orang sering berpikir bahwa urusan membuat fondasi adalah kepandaian ahli bangunan, para insinyur sipil. Asal menggali, taruh batu, jadilah. Orang yang tidak paham, mungkin tidak mau menyediakan banyak dana. Uang yang ada lebih baik untuk dinding dan atap, betul?

Tidak, karena di kala musibah gempa, rumah tanpa fondasi kokoh akan runtuh. Dan tidak, orang tidak cukup hanya sekedar ahli membangun fondasi. Sebuah fondasi terkait kepada tanah di sekitarnya. Jika tanah berpasir, fondasi tidak kuat sehingga harus diperdalam, sampai ketemu batu keras. Itupun, jika tanahnya bergerak-gerak karena perubahan lempengan bumi, rumah yang didirikan tetap bisa rubuh.

Rumah kita adalah kehidupan kita, demikianlah kehidupan juga membutuhkan fondasi, dasar yang teguh. Tanpa dasar yang kokoh, guncangan hidup tidak tertanggungkan. Kematian tiba-tiba. Kecelakaan yang membuat cacat. Terkena penyakit yang sangat berat. Menjadi korban kejahatan. Tiba-tiba saja, harapan menghilang, lenyap. Apa yang masih tersisa untuk masa depan, jika seluruh dinding dan atap telah runtuh?

Fondasinya. Di atas dasar apa kehidupan kita dibangun?

Tuhan Yesus adalah batu karang yang teguh. Dia tidak bergeser, tidak berubah. Dia adalah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Orang bisa membangun dengan sebuah kepastian dan jaminan dalam kekekalan. Tidak akan ada gempa. Jika angin badai bertiup keras, kehidupan yang tertanam dalam Yesus akan bertahan.

Dalam kehidupan, saat pertamanya adalah kelahiran. Untuk memiliki Yesus Kristus sebagai dasar, orang harus dilahirkan kembali. Orang bisa mengganti atap, merubah dinding, tapi untuk mengganti fondasi, ia harus mulai lagi dari lahir. Dari titik awal kehidupan.

Orang bisa membangun kehidupan yang mempesona di atas dasar yang rapuh. Kita melihatnya, bahkan merasa iri seperti Asaf, sang pemazmur. Ia lihat orang jahat hidup senang, bisa mendapatkan apa saja yang ia mau, dan kelihatan bahagia. Semua nampak baik, sampai tiba guncangannya. Sekali terkena gempa, dan lihatlah bagaimana seluruhnya runtuh dalam seketika!

Di atas dasar ini, kita mengusahakan: ada yang menanam, ada yang menyiram, tapi hanya Tuhan yang memberi pertumbuhan. Kita dibangun oleh Tuhan, dan jalannya adalah lingkungan di sekitar kita. Istimewanya, Tuhan mengijinkan kita memakai bahan sesuai selera kita sendiri. Tentu saja kelak ada ujiannya, seperti saat kebakaran. Bagaimanapun juga, kita akan tetap selamat selama dasarnya tetap kokoh dalam Kristus.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.4

27 Oktober 2010

Cult in Marketplace

Ibu ini memelototkan matanya. Kami sedang berbincang-bincang mengenai perencanaan keuangan dan produknya, tentang cara kerja dan kinerjanya, dan akhirnya memunculkan perbandingan-perbandingan. Ketika pembahasan mulai menyinggung perusahaan tempat ia bergabung, emosinya naik tak terkendali.

"Pokoknya ini (ia menyebut nama perusahaannya) adalah yang paling bagus di dunia! Saya tidak mau dengar yang lain! Biar orang lain mengatakan saya pakai kacamata kuda, tapi saya memang tidak mau tahu yang lain. Semua yang lainnya tidak bagus! Hanya ini yang terbaik!

Pemimpin saya, adalah sahabat saya yang luar biasa! He's my best friend, dan dia sudah memberikan yang terbaik. Dia membuat saya mendapatkan penghasilan tambahan, dapat komisi yang lumayan. Sekarang saya mau kejar target, supaya bisa jalan-jalan ke luar negeri…"

Melihat emosinya, kami tidak berniat memanaskan suasana. Perbandingan tidak dilanjutkan, sebaliknya kami memberi kesempatan untuk Ibu ini menjelaskan produknya.

"Oh, saya tidak tahu bagaimana perhitungan atau cara kerjanya, pokoknya saya tahu ini adalah yang paling baik di dunia!"

Bertemu dengan pemikiran ini, mau tidak mau saya menjadi teringat dengan apa yang disebut Cult, atau kultus. Ada beberapa ciri kultus, antara lain:

  • Logika atau penalaran diikat, diganti oleh pengendalian pikiran (mind control)
  • Ada tokoh atau pemimpin yang dipandang kharismatik oleh pengikutnya
  • Ada pengajaran tentang superioritas, memandang kelompok atau pihak lain inferior
  • Ada ketaatan yang mendalam, di mana disiplin ditegakkan oleh anggota di dalam kelompok itu sendiri
  • Ada sikap 'siap berperang' karena merasa diancam, atau bahkan ditindas, oleh 'musuh'. Karena itu, harus terus menjaga persatuan
  • Membuat isolasi yang memisahkan anggota dari komunitas asalnya, bahkan sampai bersikap memusuhi teman-teman lama dan keluarganya sendiri, digantikan komunitas kultus
  • Orang yang meninggalkan komunitasnya dipandang sebagai pengkhianat terbesar, yang sangat dibenci dan dihujat – bahkan sampai dibunuh. Yang meninggalkan kultus disebut orang murtad, apostate

Biasanya orang mengenal sikap-sikap ini dalam kultus agama atau kepercayaan religius. Dalam dunia yang modern dan sekular, justru berkembang sikap anti-cult, anti kultus yang melihat praktek-praktek agama sebagai tindakan manipulatif dan mengikat pikiran manusia. Dalam perkembangannya, orang memisahkan antara kepercayaan dengan usaha, antara religius dengan bisnis. Semua hal yang agamawi dianggap bisa menyesatkan, manipulatif. Semua yang bisnis dianggap logis, strategis, dan tidak personal. Nothing personal, kata mereka.

Benarkah demikian? Hal-hal yang kita temui di dunia usaha menunjukkan hal sebaliknya. Sementara para teolog dan rohaniwan berusaha untuk mensistematiskan teologi, merumuskan bagaimana logika dan iman berjalan berdampingan, membuka pikiran yang tertutup, memisahkan antara tahayul dan realita – justru para pemasar dan pemimpin bisnis memasuki area kultus, tentu saja dengan istilah baru dan berbeda.

Peperangan rohani memasuki wilayah baru, yang celakanya, tidak disadari oleh para teolog dan rohaniwan yang terjebak dalam dikotomi rohani vs sekular.

Pertama-tama, kultus dalam dunia bisnis, apalagi mengenai perencanaan keuangan, adalah hal yang mengherankan. Berbeda dari agama dan kepercayaan yang berakar pada kitab suci dan keyakinan yang abstrak, banyak hal dalam bisnis adalah sesuatu yang terukur, memiliki spesifikasi, dan terbatas. Kultus dalam agama dan kepercayaan adalah penamaan, yang seringkali diberikan kepada kelompok lain yang dianggap sesat. Istilah 'kultus' atau 'cult' sendiri menjadi sensitif dan penuh kecurigaan, sedemikian rupa sampai menjadi hukuman terhadap orang yang dituduh sebagai pengikut atau pemimpinnya. Bagaimanapun, karena hal-hal yang bersifat rohani tidak dapat diperbandingkan secara objektif, pengertian mengenai kultus tetap melekat, sekalipun kata 'kultus' atau 'cult' tidak diucapkan.

Dalam dunia usaha, di pasar terbuka, istilah kultus sepertinya tidak relevan. Bagaimana mungkin membela suatu produk atau jasa sebagai 'yang terbaik' sementara ada angka-angka yang menunjukkan spesifikasinya? Jika sebuah produk keuangan memberi rata-rata pengembalian investasi 22% dan produk keuangan lain memberi 27%, maka semua dapat dengan tegas dan pasti mengatakan hasil yang pertama lebih kecil daripada yang kedua. Dalam perencanaan keuangan, angka-angka berperan sebagai indikator yang objektif, tegas, tidak emosional. Hal yang sama juga berlaku pada produk kesehatan, pada produk kecantikan, pada produk teknologi. Ada ukuran yang pasti, tegas, tidak emosional. Seharusnya, orang tidak bersikap emosional terhadap sesuatu produk yang terbatas, terukur.

Namun, nyatanya orang bersikap emosional untuk benda-benda. Ada yang membangun komunitas sebagai pemakai handphone tertentu, atau kelompok pemakai motor tertentu, atau kelompok dari asuransi jiwa tertentu. Mereka mengatakan bahwa produk atau jasa ini sebagai yang terbaik, dan bersikap sebagai suatu kultus, sekalipun mereka tidak memandangnya sebagai agama atau kepercayaan.

Yang kedua, para rohaniwan dan masyarakat umum – demikian juga dengan anggota kultus – terjebak karena paradoks dari informasi. Ini adalah situasi di mana orang justru tidak memiliki informasi ditengah-tengah banjir informasi. Orang tidak mempunyai teknologi di tengah-tengah teknologi tinggi. Penyebabnya adalah ketidakmampuan untuk membedakan dan mengerti apa yang terjadi, dan dengan demikin kehilangan kemampuan untuk memahami angka-angka yang menunjukkan batas-batasnya.

Misalnya saja, siapa yang memahami bagaimana handphone bekerja? Bagi mereka yang berlatar belakang pendidikan elektro, sebuah handphone hanyalah alat elektronik yang canggih, tetapi konsep-konsepnya dipahami, minimal diketahui. Namun bagi orang awam lainnya, benda kotak kecil ini menjadi alat yang ajaib. Ketika ada begitu banyak informasi yang dituangkan ke masyarakat oleh setiap produsen handphone, orang-orang yang terpesona oleh keajaibannya tidak mempunyai cukup informasi untuk memahami secara teknis. Itulah paradoks informasi: semakin banyak mencoba untuk menangkap informasi, semakin tidak mempunyai informasi yang dibutuhkannya. Handphone kini menjadi alat yang penting, karena mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Bagaimana dengan perencanaan keuangan, dengan produk lembaga keuangan? Dalam prakteknya, masyarakat modern sedemikian tergantung kepada sistem keuangan, sekaligus sedemikian tidak paham dan terjebak oleh berbagai informasi yang tidak jarang saling bertolak belakang. Jangankan rohaniwan yang tidak mempelajari keuangan; orang yang menjadi pelaku pemasaran produk keuangan pun belum tentu sepenuhnya mengetahui seluk beluknya. Jangan heran kalau ada agen yang tidak paham perencanaan keuangan, mampu memasarkan banyak polis asuransi jiwa kepada banyak nasabah, atas nama perencanaan keuangan.

Aktivitas transaksi jasa keuangan, baik asuransi maupun perbankan, seringkali didasarkan pada kepercayaan semata. Orang membeli bukan karena mengerti, melainkan percaya. Orang menjual bukan karena mengerti, melainkan mengejar target dan komisi, dan percaya kepada leadernya. Praktek seperti ini bukan dalam pertimbangan atau dalam penalaran, melainkan keyakinan, serupa dengan kultus. Istilah yang digunakan mungkin berbeda, tetapi esensinya serupa.

Pemakaian cara-cara kultus dalam bisnis menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Pertama, bisnis pada dasarnya tidak mempunyai orientasi ketuhanan, jadi di sini dapat bergabung semua orang dari semua latar belakang agama atau kepercayaan. Tetapi, ketika pengendalian pikiran dilakukan, tidak ada batasan antara kepercayaan religius dengan kepercayaan bisnis. Orang dibuat untuk percaya bahwa leadernya adalah yang paling baik, jalannya adalah yang paling baik. Orang dibuat untuk percaya perusahaan ini bisa diandalkan dengan kepastian, membawa keselamatan dan kesejahteraan yang sempurna.

Perilaku manusia tidak dapat dibagi-bagi, atau dibuat berbeda, karena hal itu menuntut keutuhan jiwa. Orang bisa berpura-pura dalam bersikap pada peran-peran yang berbeda, namun caranya menentukan benar dan salah, moralitasnya, etika yang dipakainya, menuntut kesatuan – selama orang itu masih mempunyai nurani yang utuh.

Ketika ia memilih untuk bertindak, acuan dasarnya mengenai kebenaran tidak dapat berubah. Waktu orang mengikuti kultus dalam bisnis, masihkah ia dapat mengikuti prinsip kebenaran menurut keyakinan agama? Mungkin tidak, tetapi hal itu tidak dapat diakuinya secara terbuka. Pemahaman manusia tidak mengenal 'tempat', ia menerima sesuatu atau tidak menerima sesuatu. Apa yang diterima, diterima. Apa yang ditolak, ditolak. Di luar dari itu, hanyalah kepura-puraan, pengingkaran. Manusia mempunyai kemampuan unik untuk mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang diingkarinya, demi mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Bisnis bukan agama, tetapi pemahaman tidak mengenal ini bisnis dan itu agama. Kalau keduanya sejalan, maka keduanya pastilah mempunyai keadaan yang sama. Kalau ada hal yang kontradiktif, maka orang harus memilih salah satu, dan berpura-pura di sisi lain. Memilih agama, lantas berpura-pura bisnis. Atau memilih bisnis, lantar berpura-pura beragama. Untuk melakukan itu, orang mencuci otaknya sampai bersih.

Sampai otaknya menjadi kosong. Mengerikan.

24 Oktober 2010

Kekar

Penjara pada awalnya tidak dikenal di Israel. Orang yang bersalah, entah dihukum mati atau dibuang, atau membuat perdamaian dengan Allah dan segera kembali ke komunitasnya. Juga tidak ada tahanan perang, karena musuh dibunuh atau diserap dalam komunitas sebagai budak. Semua ini berubah ketika Israel mengenal bentuk kerajaan, dan akhirnya menjadi seperti orang lainnya, jatuh dalam penaklukkan. Orang Israel tahu apa artinya ditawan.

Penjara pada awalnya adalah lambang penegakan kekuasaan. Tidak perlu ada pengadilan, karena tidak semua orang setara. Hanya di antara warga yang sederajat saja hakim datang untuk mengadili. Untuk para budak, untuk orang asing yang lemah, sebuah tuduhan atau tuntutan sudah cukup untuk menjebloskan orang dalam penjara. Kekuasaan menjadi penentu bagaimana nasib orang yang dipenjara. Kekuatan menjadi ukuran, dan kehidupan tidak bernilai lebih daripada kemampuan yang ditunjukkan.

Di tengah permainan kekuasaan, Kepala Penjara adalah wakil dari kekuasaan. Di satu sisi, ia harus menunjukkan diri dengan sempurna. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada kegagalan. Di sisi lain, tidak ada yang dapat menentang kepala penjara, karena itu berarti menentang kekuasaan yang diwakilinya.

Jadi, bayangkan sosok kekar Kepala Penjara. Tubuh yang besar kuat mengerikan. Kehadirannya mengancam, menakutkan. Para pengusaha berupaya nenariknya berpihak pada mereka, dan itu membuat kehidupan kepala penjara makmur. Namun ia tidak menjawab orang biasa atau kepala setempat,
karena Kepala Penjara hanya tunduk kepada Raja dan tanda kekuasaannya. Tidak jarang, Kepala Penjara juga harus menangkap jenderal atau gubernur pemberontak. Sungguh sosok kekar yang menakutkan!

Bagaimana menjelaskan kabar baik tentang keselamata. kepada orang yang tidak tersentuh oleh manusia lain di sekitarnya?

Jalan Tuhan dimulai dengan seorang perempuan muda yang kesurupan, serta dua orang rasul yang harus menghadapi gangguan menyebalkan darinya sepanjang jalan. Bayangkan jika kita yang menjadi kedua penginjil itu, betapa tersiksa rasanya!

Respon yang bisa diduga, sang rasul mengusir iblis dari perempuan itu. Tetapi akibatnya lebih menyusahkan: para pengusaha yang memakai kuasa iblis di si perempuan itu menjadi marah, dan menangkap serta menjebloskan kedua orang malang itu ke penjara. Bukan hanya ditangkap, mereka juga lebih dahulu disiksa habis-habisan. Sakitnya!

Apa reaksi kita jika berada dalam situasi serupa? Adakah kita menjadi marah dan kecewa dan putus asa? Berapa sering kita berniat baik memberitakan Injil, tapi malahan mendapati kemalangan terjadi atas kita, seperti baru kena kutuk neraka?

Rasul Paulua dan Silas bernyanyi di penjara. Mereka menunjukkan iman. Di sini kuasa yang lebih besar dinyatakan, sehingga terjadilah hal yang tidak mungkin. Pintu penjara terbuka. Pintu kepada si Kepala penjara turut terbuka.

Jalan Tuhan tidak dapat diduga. Jika kita mau memberitakan Injil, perhatikanlah. Barangkali jalan yang terbuka tidak nampak nyaman, tetapi ini perlu. Dan kita tetap menerimanya dengan sukacita.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.3

17 Oktober 2010

Terus

Terus. Artinya melanjutkan, tidak berhenti. Kalau mobil disuruh jalan terus oleh polisi, walaupun lampu lalulintas berwarna merah boleh tetap bergerak maju. Tidak berhenti. Kalau orang kerja terus, ia masih mengerjakan apapun yang diperlukan walaupun jam kantor telah berakhir.

Apa kita suka terus? Kita bayar tol agar bisa jalan terus. Sekarang ini, semakin banyak kantor yang tetap aktif sampai jauh malam. Jam kerja menjadi semakin tidak jelas, terutama untuk tingkat atas. Kita berjuang untuk terus, sekaligus kita tidak suka terus-menerus, kecuali kita memaksakan diri. Manusia mau sejahtera, dan untuk menikmatinya harus berhenti. Celakanya, ada kompetisi dan pertandingan yang memaksa untuk terus. Pendapatannya ada, tapi tidak dapat menikmatinya.

Jadi, kita dipaksa untuk terus dalam hal seperti kompetisi dan kerja, sambil kita juga berhenti untuk hal-hal lain. Kita berhenti melayani Tuhan. Kita berhenti melakukan hal-hal yang diajarkan kepada kita sewaktu masih kecil. Kita berhenti mengajarkan hal-hal yang perlu kepada anak-anak, karena kita memaksakan diri, atau dipaksa, untuk terus bekerja, terus berjuang. Kita berhenti bersikap jujur, karena kita terus bersaing mencari untung. Kita berhenti untuk alasan yang salah. Kita terus untuk alasan yang sama salahnya.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, supaya terus ada di jalan itu sampai tua; demikianlah sabda penulis Amsal. Jalan yang patut adalah jalan yang benar, juga jalan yang memberi kehormatan.

Kepatutan berbanding lurus dengan martabat, dengan status. Setelah kita menjadi anak-anak Allah, menjadi umat-Nya, ada status yang mengiringi martabat, kehormatan, dalam setiap jalan dan cara yang kita lakukan. Ini bukan sekedar ilmu, melainkan apa yang sesuai dengan keberadaan kita. Di luar sana ada banyak pilihan, banyak cara dan jalan yang bisa dipilih, tetapi pilihan kita dibatasi oleh martabat kita.

Sejak muda kita harus belajar, dan mengajari anak muda, mengenai status dan martabat keberadaan umat Tuhan. Mereka perlu tahu, bahwa status ini bukan diperoleh atau diusahakan, melainkan diberikan. Kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang memberikannya, sama seperti warganegara bertanggung jawab terhadap Rajanya. Ada banyak pilihan, namun tidak semuanya dapat diambil.

Kalau kita berpikir bahwa hal ini mengikat, memang menjadi ikatan. Tapi kita tidak punya pilihan, karena jika kita tidak mengikut Tuhan, maka kita akan ditaklukkan oleh iblis dan kerajaannya. Tidak ada pihak netral, kalau kita tidak tunduk pada Tuhan, maka kita harus tunduk pada iblis yang mengikat lebih kencang, sampai kita tidak punya pilihan selain pilihan sang iblis. Kalau kita tidak mengikuti jalan yang patut, kita akan diikat melalui jalan yang tidak kita ketahui.

Tidak banyak kesempatan, maka perjalanan ini harus dimulai sejak muda. Kita masih bisa memilih berbagai hal, karena jalan yang patut itu bukan hanya satu. Di sana ada kebebasan, ada kehendak yang dihormati, bahkan oleh Tuhan yang memberi kehendak bebas. Iblis tidak pernah menghormati hal itu.

Mari kita terus berjalan di jalan yang patut bagi kita!
Published with Blogger-droid v1.6.3

15 Oktober 2010

Diskusi Imaginer Dengan Ligwina Poerwo-Hananto

Bagian dari tulisan ini mengambil dari http://QMFinancial.com/content/view/140/36

Sebagaimana dilampirkan dalam buku Freddy Pieloor, "Jangan Beli Unit Link, bila Anda tidak paham benar!", hal 211

Ada teman-teman yg berbicara, dan menawarkan, tetapi sebagai Perencana Keuangan yang paham unit link, menarik untuk turut berdiskusi di sana.

Mbak, produk kami adalah produk unit link dari perusahaan ternama XYZ

Gak mau Mas, saya gak perlu unit link

Donny> Oh, memang betul, jarang orang merasa membutuhkan unit link. Produk ini bukan sesuatu yang dirasakan perlu, melainkan dipikirkan perlu.

Tapi kan perlu investasi Mbak

Sudah investasi dong Mas. Untuk investasi saya pakai beberapa reksa dana, beberapa bisnis, properti dan saham

Donny> Bagus sekali! Sebaiknya kita memang punya portofolio investasi dan asuransi. Unit link adalah produk unik yang menggabungkan investasi dengan asuransi, dengan cara yang tidak didapatkan pada produk lain. Tidak ada salahnya menambah diversifikasi dalam unit link, apalagi mengingat beberapa kelebihannya.

Tapi reksa dana kan ada risikonya Mbak.

Unit investasi dalam unit link itu kan reksa dana juga, Mas. Resiko investasinya sama saja, bergantung jenis instrumen di dalamnya.

Donny> Mbak, mungkin ada sedikit salah penjelasan. Yang jelas, produk reksa dana tidak dapat menanggung resiko hidup Mbak, bukan? Unit link menjadi investasi yang bukan saja memberi hasil, tetapi juga memberi perlindungan Asuransi Jiwa.

Unit link kan ada asuransinya dengan 1 juta/bulan. UP-nya besar loh Rp 280 juta.

No thank you. Rp. 280 juta gak cukup, Mas. Itu cuma seharga mobil suami saya. Masak nilainya suami saya disamain sama mobilnya? Kami sudah fully covered Mas, uang pertanggungannya Rp 1 M, cuma bayar Rp 4 juta/tahun. Uang Pertanggungan Rp 4 M, cuma bayar Rp 13 juta/tahun. Jauh, kan?

(FYI, asuransi jiwa term life 10 tahun untuk seseorang berusia sekitar 30 tahun, dengan uang pertanggungan di bawah Rp 400 juta, paling-paling preminya hanya Rp 750 ribu/tahun)

Donny> Nah, Mbak betul: memang Rp 280 juta nggak cukup. Kalau mobil Mbak Rp 280 juta, bisa diduga pendapatan per tahun sekitar Rp 400 juta, dan memang itu berarti butuh Asuransi Jiwa sebesar Rp 4 M. Unit link bisa memberikan Uang Pertanggungan sebesar itu lho, Mbak, bukan hanya Rp 280 juta.

FYI, sistem Asuransi dalam Unit Link sebenarnya serupa dengan Asuransi Jiwa Term Life. Bedanya, di sini Mbak tidak perlu bayar sendiri preminya yang Rp 13 juta/tahun, karena dana itu diambil dengan cara mencairkan unit di dalam investasinya – itulah sebabnya maka disebut unit link. Sementara itu, ada beberapa kelebihan lain Unit Link, yang bisa saya sebut minimal dua hal dibandingkan Asuransi Term Life.

Yang pertama, kalau orang berusia 30 tahun ambil Asuransi Term Life selama 10 tahun, di usia 40 tahun waktu perpanjangan, ia harus melakukan proses underwriting lagi. Kalau ia sudah tidak sehat, ia harus bayar premi jauh lebih mahal – bahkan mungkin ditolak. Lagipula, asuransi term life umumnya melindungi kurang dari usia 70 tahun.

Yang kedua, dalam asuransi unit link kita bisa menambahkan manfaat tambahan, seperti perlindungan terhadap penyakit kritis, atau perlindungan biaya rumah sakit – itu adalah hal-hal yang harus Mbak tambahkan sendiri kalau ambil Asuransi terpisah, lagipula berjangka pendek seperti Asuransi Umum lainnya. Begitu Nasabah kena penyakit berat seperti jantung atau kanker yang butuh banyak biaya RS, Asuransinya tidak dapat diperpanjang karena ditolak oleh Perusahaan Asuransi. Di Indonesia belum ada jaminan asuransi bisa diperpanjang.

Dalam unit link ada waiver dan rider yang sangat berguna loh, Mbak. Jadi kalau ada apa-apa dan tidak dapat membayarkan preminya lagi, perusahaan asuransi akan melanjutkan investasinya. Jadi di tahun ke-13, uang sekolah S1-nya dapat tetap tercapai.

UP Asuransi jiwa kami sudah sangat memadai. Jadi kalau ada apa-apa, justru UP ini yang harusnya langsung keluar, gak usah nunggu 13 tahun lagi dan kami investasikan kembali sekarang. (Money today is worth more than money 13 years from now!) Target dana S1 anak saya 13 tahun lagi Rp 1,5 M, kalau UP-nya 4 M artinya didepositokan juga sudah cukup.

Kalau sampai perusahaan asuransinya gak mau membayarkan klaim dengan UP jiwa ini pun, aset yang ada masih dapat dikelola agar menghasilkan nilai yang optimal.

Donny> Benar Mbak, seandainya "ada apa-apa" adalah meninggal dunia. Tetapi, resiko hidup ada yang lain, seperti mengalami cacat total tetap, atau menderita penyakit kritis. Asuransi Term Life memang besar dan bisa melindungi dari kematian dengan 'murah' (FYI, sebenarnya di Indonesia preminya masih tinggi, dibandingkan di negara maju), tetapi tidak melindungi dari resiko hidup.

Mbak pernah lihat orang yang tadinya makmur, lalu suaminya ternyata gagal ginjal dan tidak bisa bekerja lagi, sebaliknya tiap bulan harus cuci darah? Dalam waktu beberapa tahun, perawatannya menghabiskan seluruh tabungan dan aset keluarga. Dan celakanya, ia masih belum meninggal juga…sampai habis kontrak Asuransi Term Life-nya. Tentu saja perusahaan Asuransi tidak mau meneruskan perlindungan, dan akhirnya ia meninggalkan keluarga dalam keadaan sengsara.

Yang ini ada investasinya loh Mbak.

Unit investasi dalam unitlink itu sama saja dengan reksadana. Jadi investasinya langsung aja di reksadana Mas. Jadi kalau investasinya Rp 500ribu per bulan atau Rp 6 juta /tahun. Terus asuransinya dibeli terpisah dengan asuransi jiwa term life 10 thn (beserta asuransi kecelakaan), UP Rp 1 M, premi Rp 4 juta /tahun. Jadi dengan bayar Rp 10 juta / tahun saya dapat UP lebih besar, investasi saya di reksadana cuma dipotong 0% - 2% subscription fee. Tadi Mas kasih saya ilustrasi Rp 12 juta /tahun, UP cuma Rp 280 juta, unit investasi dipotong fee 5% dan tahun-tahun pertama gak langsung masuk ke unit investasinya.

Donny> Sebenarnya, ada dua perbedaan lho Mbak. Yang pertama, jika mau beli reksa dana, Mbak harus menyediakan dana awal yang cukup besar. Reksa dana kan bermacam-macam, ada yang baru sehingga resiko tinggi, ada juga yang dana kelolaannya sudah besar sehingga resiko lebih rendah. Reksa dana yang resikonya lebih rendah ini tidak dijual di semua bank, hanya di bank besar. Untuk mendapatkannya, Mbak harus menaruh dana puluhan juta. Kalau melalui unit link, Mbak bisa mendapatkan reksa dana yang sama, tetapi dengan dana setoran awal yang jauh lebih rendah, hanya ratusan ribu Rupiah saja.

Yang kedua, waktu masukin reksa dana memang hanya dipotong 0%-2% (dibandingkan 5% di unit link), tetapi untuk mencairkan reksa dana itu kelak, kena biaya 0,5% dari total dana yang dicairkan. Demikian juga kalau mau melakukan pemindahan dana (switching), di reksa dana dikenakan biaya 0,5% setiap kali melakukannya. Biaya penarikan dan pemindahan di unit link bisa gratis sampai batas tertentu.

Di tahun-tahun awal memang ada biaya pada unit link, tetapi itu bukan biaya investasi, melainkan biaya akuisisi asuransi. Biaya akuisisi selalu ada pada setiap produk asuransi; hanya dalam halnya unit link, seluruh biaya akuisisi asuransi dipungut di muka, setelah itu tidak ada biaya lagi. Kalau Mbak mengambil Asuransi Term Life, setiap kali Mbak membayar premi, setiap kali pula Mbak bayar biaya akuisisi, alias komisi agen.

Oh Term life, itu kan traditional Mbak. Kami udah gak jual itu.

Kenapa dong gak mau jual? Mau traditional atau modern gak masalah Mas. Yang penting produknya membuat Financial Plan saya efisien. Dengan mengeluarkan uang yang lebih sedikit, saya dapat lebih banyak coverage dan unit investasi yang saya dapatkan lebih banyak, gak dipotong-potong fee terlalu banyak. Ini belum ngomongin return lho.

Donny> Wah, sayang sekali kalau perusahaan Anda ngga jual itu lagi. Kalau perusahaan saya sih masih memasarkannya, sebagai bagian dari Perencanaan Keuangan yang baik. Soal fee, semua asuransi ada fee nya, yang besarnya kurang lebih sama saja. Hanya cara memungutnya yang berbeda, kalau Anda tahu bedanya…

Term life kan gak ada nilai tunainya Mbak? Terus kalau sudah tua, umur 55 misalnya, jadi mahal kan preminya Mbak.

Saya perlu asuransi jiwa untuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak beli asuransi untuk cari nilai tunai. Semua nilai tunai tercapai dengan investasi yang sistematik. Saya membuat Financial Plan keluarga saya lengkap dengan Dana Darurat dan investasi dibagi berdasarkan tujuan. Jadi keperluan asuransi pun harus direview tiap tahun.

Umur 55 tahun harusnya sudah siap dengan dana pensiun dong. Jadi gak perlu lagi asuransi jiwa. Kalau pun belum punya dana pensiun, anak-anak harusnya sudah besar-besar. They should take care of themselves, gak perlu lagi nilai tunai atau Uang Pertanggungan asuransi jiwa dari kami. Umur segitu yang saya perlukan jadinya asuransi kesehatan untuk pensiunan dan Dana Pensiun dalam jumlah besar.

Donny> Sebenarnya, masalah dengan Asuransi Term Life bukan soal nilai tunai, melainkan kepastian kelangsungannya. Sayang belum banyak Agen Asuransi Jiwa yang menyadari masalah ini: Asuransi Jiwa seharusnya dapat melindungi sampai seumur hidup, bukan berjangka (term). Jika orang sudah mengalami suatu penyakit pada waktu ia mengambil asuransi berjangka, ia tidak bisa meneruskan asuransinya dan tidak bisa meminta asuransi jiwa ke manapun juga. Kecuali, kalau ia mengambil produk Asuransi Term Life kami yang dalam kurun waktu 10 tahun bisa dilanjutkan menjadi Asuransi Jiwa seumur hidup, tanpa perlu underwriting lagi.

Dalam Financial Planning, selain mengumpulkan dan memproteksi kekayaan, juga ada bagian yang disebut Wealth Distribution. Memang usia 55 sudah pensiun, tetapi justru di saat ini adalah waktu yang tepat untuk merencanakan bagaimana kekayaan yang sudah dikumpulkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Cara terbaik masih tetap Asuransi Jiwa, karena sangat mudah untuk membagi warisan tanpa kena pajak.
Kalau mau ambil Asuransi Kesehatan, bagaimana mungkin bisa mendapatkannya dari Asuransi Umum? Batas usianya jarang yang lebih dari 65 tahun. Tetapi kalau dari Unit Link, sekarang perlindungan kesehatan mencapai 75 tahun. Di perusahaan saya, perlindungan kesehatannya bisa memberi Sesuai Tagihan.

Betul Mbak, kesehatan penting sekali. Yang ini ada untuk penyakit kritisnya Mbak. 40 penyakit kritis yang dicover.

Permisi ya... coba deh periksa di polis asuransi yang sudah jadi. Asuransi penyakit kritis ini gak akan langsung keluar begitu kena diagnosa. Fungsi asuransi penyakit kritis ini fungsinya seperti asuransi kecelakaan : untuk menggantikan hilangnya penghasilan karena ketika kena penyakit kritis kita gak bisa bekerja normal lagi. Bukan untuk mengobati. Jadi kalo kena diabetes, masih bisa hidup 7 tahun lagi, ya gak keluar tuh UP penyakit kritisnya. Gagal ginjal kedua-duanya dan tidak bisa transplan lagi, baru keluar UP penyakit kritisnya. Stroke, keluar UP nya. Kanker, stadium 4 baru keluar UP nya.

Donny> Betul Mbak, perlindungan terhadap Penyakit Kritis memang dimaksudkan memberi sejumlah dana yang besar saat seseorang mengalami penyakit kritis, yang membuat produktivitasnya hilang walaupun ia masih hidup. Kalau untuk kesehatan, di sini ada Asuransi biaya Rumah Sakit, bukan Penyakit Kritis. Kalau kena diabetes, dia kan masih bisa bekerja dan produktif? Tentunya, dia belum bisa melakukan klaim. Tetapi, dalam penyakit kritis ada perlindungan terhadap kelumpuhan, ada perlindungan terhadap stroke yang merusak otak secara permanen. Penderitanya masih hidup, tetapi secara total tidak bisa bekerja dan harus hidup dari bantuan orang lain. Perlindungan Penyakit Kritis memastikan ada dana yang tetap tersedia. Celakanya, jaman sekarang penyakit kritis semakin sering terjadi. Kecenderungannya meningkat, karena perubahan gaya hidup dan lingkungan yang terpolusi. Dapatkah Mbak yakin bahwa Mbak terbebas dari resiko kesehatan ini?

Jadi kalau kena penyakit kritis gimana dong Mbak?

Harusnya Dana Daruratnya ada tuh Mas kalo cuma mau Rp 280 juta. Kalau kuatir dengan bagaimana mengobati penyakit kritis, kita perlu asuransi kesehatan yang bagus banget – yang mau bayarin biaya berobat rutin untuk penyakit kronis. Terutama yang ada guarantee renewability nya. Nah di Indonesia belum ada aturan yang mengharuskan guarantee renewability, jadi mending ambil asuransi kesehatan yang premium, udah ada kok dari luar negeri. Tinggal dibandingkan mana yang prioritas, beli asuransi premium ini atau investasi. Premi asuransi kesehatan premium itu berkisar antara US$700-US$7000, dengan benefit pembayaran jika sakit yang aduhai juga.

Donny> Dalam asuransi kesehatan pada prinsipnya ada 3 macam. Yang pertama adalah menggantikan biaya Rumah Sakit. Yang kedua adalah menggantikan produktivitas yang hilang karena masuk rumah sakit, semacam dana tunai harian rumah sakit. Yang ketiga adalah memberi uang pertanggungan karena mengalami penyakit kritis yang menghilangkan seluruh kemampuan produksi.

Kalau kena stroke, atau lumpuh, orang kan tidak dirawat seterusnya di rumah sakit. Kalau mengambil Asuransi Kesehatan, perawat di rumah hanya bisa diklaim untuk jangka waktu tertentu saja. Jadi sebagian besar waktu perawatan di rumah tidak bisa ditutupi oleh Asuransi biaya Rumah Sakit. Bahkan sekalipun Mbak ambil Asuransi Kesehatan yang dari luar negeri, tetap saja Mbak tidak bisa mengklaim biaya perawatan di rumah dalam jangka panjang. Mbak tidak bisa menggantikan asuransi Penyakit Kritis dengan asuransi biaya Rumah Sakit.

Yang syariah juga ada lho Mbak

(may be it's the jilbab thing hehehe)
Mas, bukan soal syariah gak syariahnya. Tapi struktur produk unitlink nya ini yang gak nyambung sama sekali dengan Financial Plan saya. Kalau mau cari produk syariah, reksadana juga banyak yang syariah.

Donny> Iya Mas, tidak tepat membawa penawaran berdasarkan ibadah ke dalam Financial Plan.

Return unitlink tinggi lho Mbak.

Kalau mau return tinggi, justru jangan di unitlink Mas. Reksadana Saham tuh resiko tinggi, return juga sekarang lagi tinggi. Sama kan unitlink juga punya kok reksadana saham, disebutnya equity fund, padahal sama aja. Jadi tinggal liat, hayo berapa return equity fund nya?

Donny> Sekali ini saya setuju banget dengan Mbak. Sebenarnya, karena unit link itu investasi, maka ada manajer investasi. Siapa Manajer Investasi dari unit link yang Mas tawarkan? Kalau yang mengelola adalah perusahaan asuransi jiwa, maka kompetensinya diragukan. Tetapi, perusahaan asuransi jiwa seperti yang saya wakili memakai Manajer Investasi yang berlisensi dari Bapepam-LK untuk memasarkan Reksa Dana. Bahkan, sebenarnya return Equity Fund dari unit link kami persis sama dengan return reksa dana saham yang dipasarkan ke publik. Inilah reksa dana saham yang mempunyai dana kelolaan terbesar di Indonesia, dan selalu mendapatkan Award sebagai Reksa Dana Saham jangka panjang terbaik di Indonesia.

Itu kan cuma urusan MI mana yang lebih jago aja. Jadi siapa MI nya?

Schroders, Fortis, Manulife, Trimegah, Danareksa? MI-MI itu semua jual reksadananya sendiri lho, beli langsung atau lewat bank juga bisa, subscription fee nya juga lebih rendah 0%-2%, di unitlink 3%-5% kan? Coba deh cek siapa MI nya. Kalau MI ini gak jual reksadananya (baca: unit investasi dari unitlink) kecuali lewat asuransi yang sister companynya, malah gawat dong. Artinya distribusinya terbatas sekali. Ya simple aja, bandingin performance nya dengan MI lain. Kita mempercayakan dana kita dikelola oleh MI, ya harus mau membandingkan MI-MI ini dong. Tapi, ngapain saya beli reksadananya Schroders, Manulife, Fortis atau Danareksa lewat asuransi kalo saya bisa beli langsung ke mereka atau lewat bank?

(FYI periksa performance MI di unitlink dan reksadana. Harusnya dalam 3 tahun terakhir equity fund dari unitlink dan reksadana dapat menghasilkan return > 40% per tahun. Jadi kalau ada MI yang equity fund nya di tahun 2005 hanya menghasilkan 14%.... tanya kenapa! Yang bener aja, diputerin ke mana tuh uangnya, ngaku aja equity fund, jangan-jangan isinya bukan saham. Gawat gak tuh?)

Donny> Kebetulan Mbak menyebut Schroders, merekalah yang menjadi Manajer Investasi dalam unit link yang kami sampaikan. Sampai sekarang Mbak bisa membandingkan NAB dari reksa dana Schroders yang dijual ke publik, dengan NAB dari unit link kami. Sama persis sampai seluruh angka di belakang koma. Jadi berapapun hasil investasinya, Mbak bisa mengikuti dengan cara melihat kinerja reksa dananya, misalnya Schroder Dana Prestasi Plus untuk Equity Fund kami.

Sekali lagi, tentu saja Mbak bisa mendapatkan Asuransi Jiwa yang berjangka panjang, lebih daripada Asuransi Term Life, bisa mendapatkan manfaat tambahan, Mbak tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk berinvestasi di reksa dana top seperti Schroders via bank, dan Mbak bisa melakukan penarikan dan pemindahan dana secara gratis. Itu alasan-alasan yang bagus untuk berinvestasi di unit link, bukan?

Ya diversifikasi aja Mbak. Kalau punya uang lebih, bisa ditaro di unitlink.

Mas, unit investasi dalam unitlink itu sama aja dengan reksadana. Jadi kalau mau diversifikasi bukan lewat unitlink, tapi di jenis instrument nya. Money Market, Fixed Income, Balance or Equity. Jadi diversifikasi bukan liat di struktur asuransi yang digabungkan dengan unit investasi reksadana dong. It doesn't make sense.

Donny> Sebenarnya, ada berapa reksa dana yang Mbak ambil sebagai diversifikasi? Apakah hanya 1 reksa dana dalam setiap kelas aset? Beda manajer investasi, beda hasil investasi, beda resikonya lho, Mbak. Kita melakukan diversifikasi pada kelas aset yang berbeda, juga pada kategori yang berbeda. Mbak ambil Fortis yang lebih agresif, mungkin baiknya Mbak juga ambil Schroder yang lebih konservatif. Tapi kalau semuanya ambil lewat Bank, berapa banyak dana yang Mbak harus tanamkan? Dengan unit link, Mbak bisa menaruh dengan nilai yang lebih rendah, lalu melakukan investasi terjadwal, seperti strategi dollar cost averaging. Bukankah dengan begitu Mbak lebih untung?

Ya tapi kan gak semua orang seperti Mbak Wina…

Lho, kenapa gak? Tell me : Why not?

Coba kasih alasan yang bener.

Kenapa kita semua gak bisa bikin Financial Plan yang komprehensif – yang lengkap – yang betul-betul memperhatikan semua kebutuhan keluarga kita? Kenapa kita semua gak bisa membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk-produk investasi atau asuransi yang sedang ditawarkan di depan mata kita?

Kenapa kita semua gak bisa membeli produk keuangan dengan lebih efisien, sehingga gak bayar fee kebanyakan, gak beli produk yang underperforming, dan bisa mencapai lebih banyak tujuan finansial dengan lebih cepat?

Gak ada kan alasan supaya kita gak bisa begitu?

Donny> Hahaha… di dunia ini, memang Mbak Wina hanya ada seorang. Jelas dan pasti, nggak perlu dijelaskan lagi 'kan?
Tetapi, kalau untuk Financial Planning, ada baiknya kita mendalami segala sesuatu lebih teliti sebelum menilai. Kalau ada Agen yang belum menjelaskan dengan benar, tidak berarti produk yang dibawanya itu secara esensial tidak berguna, atau tidak mempunyai manfaat yang unik dan dibutuhkan oleh kita. Saya percaya, ini adalah bagian dari "membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk investasi atau asuransi"

Mbak, menerima dengan sembrono asal turut omongan agen adalah kekeliruan, demikian juga menolak dengan semberono asal menuruti emosi itu salah. Semua produk ada biayanya, ada manfaatnya. Semua produk ada kelebihannya, juga ada batasannya. Kita tidak bisa berharap ada orang mau menjual produk keuangan, apapun juga, di manapun juga, tanpa memperhitungkan komisi dan keuntungan. Kalau kita sedemikian berhati-hati terhadap biaya dan komisi di Asuransi, apakah kita juga berhati-hati terhadap biaya dan komisi yang dikenakan oleh perbankan?

Bener Mbak, gak ada alasan supaya kita gak bisa begitu.

Peace… ^.^

06 Oktober 2010

Janji Nikah

Di dunia, manusia membuat perjanjian antara satu dan lainnya atas banyak urusan. Kontrak dibuat, dilaksanakan, dan dihentikan. Ada yang sudah dihentikan sebelum waktunya, karena berbagai macam hal dan peristiwa. Bukan hal yang aneh untuk memutuskan suatu perjanjian, baik oleh kedua belah pihak secara damai, maupun melalui perseteruan di pengadilan perdata. Pada prinsipnya, perjanjian itu mengatur demikian: pihak pertama melakukan ini dan itu, sehingga berhak untuk mendapat ini dan itu. Pihak kedua, berkaitan dengan pihak pertama, melakukan ini dan itu, sehingga berhak mendapat ini dan itu. Masing-masih pihak menaruh kepentingannya, dan sebuah kontrak yang baik diharapkan dapat memuaskan kepentingan semua pihak.

Namun, sebenarnya ada satu perjanjian yang istimewa. Perjanjian ini disebut istimewa karena tiga hal: pertama, usahanya bukan memuaskan kepentingan sendiri, melainkan memenuhi kepentingan pihak lain. Kedua, perjanjian ini tidak memiliki batas waktu untuk dihentikan. Ketiga, tidak ada yang dapat menghentikan perjanjian ini di tengah jalan. Inilah Perjanjian Baru yang dibuat antara Tuhan Yesus Kristus dengan umat-Nya.

Perhatikanlah: dalam Perjanjian ini Tuhan Yesus memuaskan kepentingan orang percaya untuk memperoleh keselamatan, yaitu dengan cara memberikan Diri-Nya sendiri sampai mati di kayu salib. Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak dibatasi oleh waktu, orang yang percaya dan selamat memperoleh hidup kekal di dalam Dia. Dan tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan ketika kejahatan di dunia ini mendera orang percaya.

Perjanjian yang dibuat oleh Tuhan Yesus, juga digambarkan oleh perjanjian nikah antara laki-laki dan perempuan. Bukan berarti perjanjian nikah memiliki keistimewaan yang setara dengan Perjanjian Baru, tetapi sebagai gambaran atau rupa, perjanjian nikah mempunyai ciri yang serupa. Dalam perjanjian pernikahan, suami memuaskan kepentingan istri, dan istri memuaskan kepentingan suami. Selama masih tinggal di dalam dunia -- karena gambaran hanya berarti di dalam dunia -- perjanjian nikah tetap berlaku. Dan seharusnya, pernikahan tidak boleh diceraikan -- apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia. Tetapi, sekali ini hanya suatu gambaran, yang seringkali menjadi rusak dan jauh dari sempurna.

Dosa mengacaukan hakekat manusia sebagai gambar dan rupa Allah, demikian juga mengacaukan hakekat pernikahan sebagai gambar dan rupa Perjanjian Baru antara Kristus dengan umat-Nya. Tetapi jika orang benar-benar percaya dan tunduk kepada otoritas Tuhan, maka ia akan berusaha untuk menjadi seperti Kristus, demikian pula berusaha agar pernikahannya serupa dengan hubungan Kristus dan umat-Nya. Dia mengasihi umat-Nya sampai bersedia memberikan nyawa-Nya, sementara umat tunduk dan taat kepada Kristus sebagai Kepala Gereja.

Gambar tidak dapat mengagungkan dirinya sendiri. Gambar hanya menunjukkan yang asli, dan tidak memiliki kemuliaan yang sama. Berbahagialah pasangan yang kehidupannya menggambarkan janji Tuhan yang istimewa!

26 September 2010

Salomo

Pengkhotbah adalah raja Israel. Terlahir sebagai yang belakangan dari anak-anak raja Daud, ia mengenal semua perjuangan ayahnya. Ia tahu apa artinya penyertaan TUHAN, Allah semesta alam bagi kehidupan manusia. Ia tahu kisah tentang perjuangan, dan bahkan kegagalan ayahnya karena ibunya sendiri. Ia mengenal Tuhan.

Maka, ia memulai perannya sebagai raja Israel dengan sebuah karunia yang dimintanya sendiri: hikmat sebagai hakim, menerima kebijaksanaan yang terbesar di antara umat manusia. Hal lainnya datang menyertai hikmat: kekayaan, kedudukan dan penghormatan tinggi, kemewahan hidup, dan wanita. Sang raja di masa mudanya menulis kidung agung, tulisan yang indah tentang cinta dan birahi antara lelaki dan perempuan. Ia juga menulis amsal dan kata-kata hikmat, yang tetap bermakna dan mengajar manusia, bahkan hingga saat ini.

Apakah semua itu memuaskannya? Adakah segala hal yang dicapai itu sungguh-sungguh bermakna baginya, dia yang paling bijaksana di antara manusia?

Sang raja berkhotbah, dan isinya adalah kenyataan pahit atas hidup: kesia-siaan. Apa hal yang diupayakan manusia, yang sungguh berarti? Itu adalah usaha menjaring angin; Tuhan hanya memberi semua tugas itu untuk menyusahkan manusia!

Dalam hikmatnya, Pengkhotbah tahu bahwa ada hal yang salah, karena dalam akhir kehidupan justru manusia menghadapi pengadilan Allah.

Di saat itu, Tuhan berada jauh, di dalam ruang yang maha kudus dan terpisah. Manusia tidak dapat mendekat; ada kematian bagi dia yang berani menyentuh kekudusan Allah. Jadi hidup ini adalah beban, usaha menjaring angin, dan diujungnya ada pengadilan. Tidakkah itu berarti sia-sia, yang menimbulkan putus asa? Sekalipun berhikmat, Sang Pengkhotbah tidak menemukan jalan keluar. Dia berusaha menyenangkan dirinya, tapi itupun kesia-siaan.

Situasinya akan tetap demikian, jika manusia tidak takut akan Tuhan. Terpujilah TUHAN, karena Ia menyelesaikan masalah ini dengan melakukan apa yang tidak bisa dilakukan manusia: merobek tirai pemisah itu. Ada salib dan kematian sebagai penebusan dosa, suatu harga yang sangat mahal. Harga yang tidak bisa dibayar manusia.

Di dalam Tuhan, apa yang kita kerjakan tidak sia-sia. Ini bukan karena apa yang kita mampu lakukan, melainkan pekerjaan Allah dalam kehidupan kita. Ia tidak mengerjakan hal yang percuma belaka. Di dalam Tuhan, jerih payah tidak sia-sia. Terpujilah Tuhan!
Published with Blogger-droid v1.5.9

19 September 2010

Mampu

Kita semua mengalami kedua perasaan ini: perasaan mampu dan perasaan tidak mampu. Sedari kecil, kita merasa mampu merangkak, lalu berjalan, lalu berlari. Selagi merangkak, kita melihat yang berlari itu hebat. Selagi berjalan, kita lihat yang berlari sambil melompat itu hebat. Setelah besar dan bisa berlari sambil melompat, kita melihat yang main sepak bola piala dunia itu luar biasa. Kita merasa mampu berlari, tapi merasa tidak mampu bermain sepak bola sekelas piala dunia. Kalau hanya main di lapangan sebelah rumah, ya bisalah.

Bagaimana dengan pekerjaan? Orang sekolah bertahun-tahun untuk merasa mampu bekerja. Bukan berarti setiap orang yang punya ijazah pasti mampu bekerja, tapi bagi pemilik ijazah, kelulusan itu bermakna, memberi rasa mampu. Sebaliknya, banyak yang tidak berijazah merasa tidak mampu.

Bagaimana dengan pelayanan? Apa yang memungkinkan orang untuk memberitakan bahwa Yesus adalah Tuhan? Apakah kemampuan fisik? Kemampuan intelektual? Kemampuan finansial?

Tidak, tanpa Roh Tuhan, manusia tidak bisa mengakuinya. Bahkan, semua hal lain yang mengikuti pernyataan ini, hanya lahir dari Roh yang esa, Allah Roh Kudus.

Jangan bingung dengan bakat. Ada orang yang berbakat menyanyi. Dia bisa menyanyi di suatu reality show televisi, bahkan menjadi juara. Apakah dia juga sama baiknya dalam menyampaikan nyanyian tentang Tuhan? Kalau ukurannya adalah keindahan bernyanyi, semua lagu bisa dinyanyikan sama indahnya. Tetapi bagaimana lagu itu menyentuh jiwa yang terhilang, di sana hanya terjadi oleh Roh Tuhan. Satu Roh yang sama, entah kita bernyanyi atau menulis atau berkotbah.

Maka, jangan sombong. Jangan minder. Sebaliknya, layanilah Tuhan!
Published with Blogger-droid v1.5.9

05 September 2010

Pekerjaan

Yeremia yang masih muda ini tidak memilih sendiri pekerjaannya. Bukankah setiap orang muda pada satu saat harus memikirkan apa yang mau dikerjakannya? Beberapa mempunyai tekad yang cukup kuat untuk menjadi orang yang lebih besar. Beberapa yang lain tidak seteguh itu, sehingga mereka puas dengan apa saja yang ada. Lumayan, daripada jadi pengangguran. Tetapi, Yeremia menerima panggilan besar dari Tuhan, sedemikian hebatnya sehingga mendadak ia merasa tidak sanggup. Mana bisa?

Ada banyak hal yang rasanya mustahil dikerjakan. Kita memang tidak dalam situasi yang sama seperti Yeremia, tidak ada raja yang harus dilawan atau rakyat yang berkhianat pada Tuhan. Tetapi ada banyak masalah dalam masyarakat kita, yang bermula dari karakter yang buruk dan kebiasaan yang jelek. Sudah begitu lama, begitu banyak, mana bisa diubah? Lebih bqik mencari kesuksesan sendiri. Lebih baik memanfaatkan apa yang ada. Begitu, bukan?

Tapi, Tuhan masih memanggil dan mengutus ana-anak-Nya. Apakah yang mau kita katakan, bahwa kita terlalu muda dan kecil, tidak sanggup? Tuhan yang memberi kesanggupan! Tidak peduli apakah Yeremia masih muda dan tidak pandai, Tuhan mampu membuatnya berdiri dan menentang raja, imam, dan rakyat Yehuda yang menjadi sesat dan melanggar Perjanjian yang kudus. Tidak peduli apapun situasi kita, Tuhan bisa menempatkan kita dalam situasi yang mustahil, hanya karena Tuhan yang memberikannya.

Pertanyaannya, maukah kita? Apakah kita bersedia untuk dipakai Tuhan, melebihi pikiran kita tentang diri sendiri? Apakah kita cukup mempercayai-Nya dan sepenuhnya bergantung pada-Nya?

http://pikiran-donny.blogspot.com
Published with Blogger-droid v1.5.8

29 Agustus 2010

Doa bagi bangsa

Apa yang bisa diharapkan dari Penguasa dan Pemerintah? Kita mengharapkan mereka bertindak sesuai 'hukum-hukum Allah', walaupun kita juga berharap negara terpisah dari agama. Beberapa yang lain menginginkan negara dan agama menjadi satu, walaupun sudah jelas bahwa Indonesia didirikan bukan sebagai negara-agama, melainkan wadah dalam berbagai keberagaman yang satu - Bhinneka Tunggal Ika.

Kenyataan tentang korupsi dan kemiskinan dan kebodohan, walaupun saat ini masih ada pertumbuhan dan perbaikan, membuat kita mengidealkan satu bentuk pemerintahan. Apakah pemerintahan Kristen yang kita mau? Sejarah menunjukkan, ketika dahulu Kaisar Konstantin membuat Kristen jadi agama negara, justru penyimpangan yang terjadi. Ini membuat kekacauan iman, sampai terjadi reformasi di abad 16. Dari sana pun, kita melihat bahwa negara Kristen yang menjadi tempat lahir teolog besar, Jerman, justru menjadi penyebab Perang Dunia I dan II. Jadi apa yang kita harapkan dari pemerintah?

Rasul Paulus menasehatkan Timotius untuk mendoakan penguasa, agar orang bisa hidup dalam kesalehan dan kehormatan. Kita berharap agar kita boleh hidup saleh, hidup beribadah. Bisa berperilaku sesuai keyakinan iman tanpa perlu merasa takut. Kemudian, semoga kita bisa hidup terhormat -- ukan soal kaya atau terpandang, melainkan kita bisa menghormati kehidupan yang diberikan Tuhan.

Tanpa kemampuan untuk bisa hidup saleh atau terhormat, bagaimana mungkin orang dapat menerima keselamatan? Jika seorang terpaksa hidup menjadi pelacur, menjual prinsip kebenaran demi imbalan uang, bagaimana ia bisa bertobat selagi masih merasa terhina dan berdosa?

Karena itu berdoalah, karena tidak mudah untuk hidup saleh atau terhormat. Pada akhirnya, ini adalah pilihan-pilihan yang kita ambil berdasarkan karunia Tuhan, sampai kita juga turut mengambil bagian untuk membawa kemerdekaan bagi orang-orang di sekitar kita. Mari berdoa, dan bekerja!
Published with Blogger-droid v1.5.5.2

20 Agustus 2010

Direndahkan

Babilonia, Babel, adalah lambang dari puncak keberhasilan manusia. Babel pertama dibangun oleh Nimrod, yang menjadi legenda manusia perkasa di zaman para raja. Ia membuat menara yang menggapai langit, sampai Allah sendiri turun tangan dengan mengacaukan bahasa manusia.

Ribuan tahun kemudian, Babel menjadi besar di tangan Nebukadnezar, raja legendaris yang perkasa. Ia seperti titisan Nimrod, membangun segala kemegahan berbalutkan emas, di mana segala bangsa menemukan kerajaan besar yang memberi kesejahteraan dan kemakmuran, sekaligus rasa takut akan kedahsyatannya. Inilah kerajaan yang besarnya melebihi Asyur dan Mesir, yang termahsyur seperti Israel di masa Daud dan Salomo.

Bayangkan, bahwa semua ini dimulai oleh Nebukadnezar, dari sebuah kerajaan kecil orang Kasdim, sampai menjadi hebat seperti ini. Bayangkanlah betapa sang raja dipuja dan disembah oleh rakyatnya! Ia menyatakan diri menjadi dewa, membuat patung emas berdasarkan dirinya sendiri, dan memaklumkan semua untuk menyembah patung emas itu, dewanya, yaitu dirinya sendiri.

Jika kita ada di sana, apakah kita juga akan menyembahnya, sebagian karena takjub, sebagian lagi karena takut? Lalu, di manakah iman kita kepada Tuhan, Allah semesta alam?

Orang-orang seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk masuk ke dapur perapian yang panasnya membinasakan -- apalagi dicampakkan masuk ke dalamnya. Siapa yang mau mengikuti resiko serupa?

Kita diajari untuk memisahkan antara agama dan negara. Akhirnya, kita berpikir bahwa ada pemisahan yang jelas antara kekuasaan manusia dan kuasa Ilahi. Kekuasaan dunia berjalan sendiri, lepas dari campur tangan Allah. Apapun yang terjadi, itulah pilihan manusia yang menentukan sendiri nasibnya... itulah yang ingin kita percayai, bukan?

Apa yang dialami Nebukadnezar membuktikan sebaliknya. Dia yang meninggikan diri, direndahkan TUHAN, Allah semesta alam, sampai ia mengakui Yang Mahatinggi. Hanya sedikit manusia yang mencapai kemuliaan Nebukadnezar, tapi siapapun yang mengalaminya harus ingat bagaimana yang terbesar pun bisa dijatuhkan serendah binatang.

Dahulu begitu, sekarangpun demikian. Kuasa Allah selalu lebih dari manusia. Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.5.3.1

15 Agustus 2010

Tidak Najis

Manusia adalah mahluk yang memiliki kemampuan hebat untuk beradaptasi. Dari padang tundra es di kutub, sampai padang gurun panas di sahara, ada manusia. Kemampuan ini muncul dari fakta bahwa hanya manusia yang mampu memanfaatkan apa saja di sekitarnya untuk beradaptasi. Bahkan, kemampuan bertahan hidup menjadi kebanggaan.

Kehidupan Daniel adalah contoh yang ekstrim tentang adaptasi. Bayangkan, pada mulanya Daniel adalah kaum bangsawan di Israel. Kemudian Nebukadnezar datang dan menghancurkan semuanya. Daniel menjadi rampasan perang, sedangkan orang-orang dewasa lain dibunuh, binasa. Itulah nasib raja dari pihak yang kalah! Daniel selamat karena ia masih muda.

Apa yang diharapkan orang muda yang tiba-tiba hidupnya dihancurkan oleh perang? Dari hidup nyaman, sekarang sengsara luar biasa. Sedih luar biasa. Dan tiba-tiba pula, mereka direkrut menjadi pegawai raja. Suatu kesempatan untuk kembali hidup enak, malah lebih hebat lagi karena masuk istana raja Nebukadnezar yang mewah nan megah. Hebat!

Anak muda lain mungkin akan berusaha beradaptasi sebisanya. Tapi Daniel dan teman-temannya memilih untuk tidak najis, sekalipun itu berarti menolak makanan dan minuman raja.

Renungkanlah. Dalam perubahan yang sangat ekstrim, Daniel dan kawan-kawannya memilih untuk tetap kudus, tetap sama di hadapan Tuhan. Mereka bertaruh pada penyertaan Tuhan, sekalipun nyatanya saat itu orang Israel adalah tawanan. Mereka percaya, Tuhan tetap lebih besar.

Keyakinan ini terbukti - mereka hanya makan sayur, tapi lebih sehat dan gemuk. Mereka lebih pandai dan berhikmat dibandingkan semua orang lainnya. Mengikuti Firman Allah melalui nabi Yeremia, mereka mengusahakan kesejahteraan kerajaan tempat mereka dibuang. Mereka menjadi penasehat yang baik, penolong yang bijaksana, sampai tiba waktunya orang Israel kembali...

Dapatkah kita menjadi Daniel? Dapatkah kita tetap tidak najis, di tengah-tengah dunia yang memaksakan perubahan?

Dan, apakah kita tetap mengupayakan kesejahteraan kota tempat kita berada?
Published with Blogger-droid v1.5.2

08 Agustus 2010

Air Pahit

Pernah berjalan di tempat yang panas? Seperti, padang gurun misalnya? Di sana, air lebih berharga daripada emas. Rombongan manusia yang melintasi padang gurun membutuhkan banyak air, jadi bayangkan jika yang melintas bukan hanya sepuluh atau seratus manusia, melainkan lebih dari satu juta orang, laki, perempuan, orang tua-muda, termasuk anak-anak. Inilah perjalanan bangsa Israel. Inilah perjalanan kehidupan anak-anak Abraham, umat TUHAN, Allah semesta alam.

Kita juga berjalan dalam berbagai tantangan serta kesulitan. Kalau orang Israel dulu keluar dari Mesir, anak-anak Tuhan sekarang keluar dari kuasa dosa, lepas dari hukuman maut yang menjajah setiap manusia. Seperti orang Israel, anak-anak Tuhan sekarang juga membutuhkan berbagai macam hal: uang, kesehatan, pendidikan, kesempatan, keamanan -- semua yang memungkinkan kehidupan yang baik dapat berlangsung.

Tetapi, ada kalanya kehidupan nampak membingungkan. Orang Israel tiba di Mara, mula-mula senang karena di sana bertemu dengan sumber air. Tetapi kemudian bingung, karena bukan air segar yang didapat melainkan air pahit. Mungkin beracun. Yang jelas, tidak bisa dipakai, tidak bisa diminum, tidak memberikan kehidupan. Lihat, bukankah ini juga pengalaman kita? Mendapatkan pekerjaan, tetapi tidak menerima cukup untuk hidup. Menerima pasangan hidup, untuk mengalami penghinaan dan kecaman dari orang yang seharusnya melindungi dan menyayangi. Kehidupan menjadi pahit.

Kalau kita menjadi orang Israel, apa tindakan kita? Ingat, mereka ini baru saja keluar dari Mesir. Pengalaman melihat mujizat-mujizat, bahkan mengalami sendiri bagaimana Laut Merah terbelah -- itu adalah hal paling luar biasa yang seharusnya tidak terlupakan. Kita juga mungkin belum lama ini menerima pengalaman menakjubkan, karena ada kuasa iblis dipatahkan dan diusir, ada penyakit disembuhkan, patah hati dipulihkan, dan berbagai hal lain yang tidak masuk akal namun toh terjadi juga. Kita seperti orang Israel, mengalami TUHAN sebagai kenyataan dalam hidup.

Bagaimana jika kita sampai di Mara? Air itu pahit dan orang Israel bersungut-sungut. Kita juga bisa, bahkan telah, bersungut-sungut. Kita mulai meragukan kebaikan Allah. Kita bilang, Allah menyediakan tapi tidak semua, tidak tuntas. Mata air memang ada, tetapi pahit. Pekerjaan memang ada, tetapi jahat memeras. Orang yang seharusnya menjadi teladan karena telah mengemban tugas pelayanan -- entah dia itu majelis atau diaken atau penatua atau apalah -- ternyata adalah kaki tangan iblis di luar hari Minggu. Sandiwara yang menjijikan. Penipu ulung. Penyebab kepahitan hati yang rasanya tidak termaafkan. Apakah kita bersungut-sungut juga?

Musa disuruh untuk mengambil kayu, sekalipun ia mempunyai tongkat yang terbukti sakti mandraguna. Ia melemparkan tongkat kayu yang dibuang itu, hal kotor yang dilupakan dan diabaikan. Dan air itu menjadi manis. Bukankah salib juga kotor, terkutuk, dan tidak mau diingat-ingat orang? Yang disalib adalah orang yang tidak lagi diinginkan, tidak lagi diharapkan berada di antara manusia. Kayu kering yang boleh dimusnahkan begitu saja, kini dilemparkan ke pusat kesulitan dan membuat air pahit menjadi manis. Salib juga membuat hidup menjadi manis.

Kalau begitu, apa kesimpulannya? Apakah urusan air ini hanya itu saja? Tidak, karena di Mara inilah Allah memberikan peraturan, ketetapan, kepada bangsa Israel. Ketika kayu biasa telah mengubah keadaan pahit menjadi manis, ketika salib telah mengubah hidup pahit menjadi sukacita, di sanalah TUHAN memberikan ketetapan untuk diikuti. Pengalaman pahit mungkin terasa menjijikkan, namun di sanalah kita mendapatkan kebenaran Allah, prinsip-prinsip yang sekarang menjadi jelas bagi kita. Sesuatu yang tidak dapat dipahami oleh orang yang belum mengalami kepahitan -- di sanalah ada pertumbuhan.

Tuhan mengubah air pahit itu, demikian juga salib membersihkan kehidupan kita sendiri. Apa yang menjadi sikap kita selanjutnya?

Terpujilah TUHAN!

01 Agustus 2010

Rela Takut

Pada jamannya, Xerxes, raja Persia, dianggap sebagai manusia-dewa. Dia bertahta di Puri Susan yang megah, dengan pasukan disebut Immortal, yang menggentarkan seluruh Asia. Menakutkan, sekaligus menjadi sumber harapan. Orang-orang berbondong-bondong menyembahnya, sekaligus memohon sesuatu. Rejeki besar bagi yang diperkenan raja dan celaka ngeri bagi yang dimusuhinya.

Saat itu, Nehemia menjadi juru minuman raja. Ini posisi penting, suatu tempat terpercaya yang tinggi sekali karena berada di sisi sang dewa. Bisa dibayangkan, hidup Nehemia pasti makmur sentosa, aman tenteram, dan membuat iri banyak orang. Ia sudah mendapat apa yang diimpikan banyak orang. Apakah Nehemia puas?

Ia memikirkan tanah Israel. Ia bertanya tentang tembok dan gerbang Yerusalem. Ia menangis, berkabung, dan berdoa kepada TUHAN, Allah semesta alam. Ia rela takut kepada Allah, bahkan saat semua bangsa lain takut kepada Xerxes. Nehemia memilih kepada siapa ia takut, suatu sikap rela, bukan terpaksa.

Rasa takut itu sendiri membuat Nehemia lebih memikirkan Tanah Perjanjian, tempat yang dipilih TUHAN untuk hadir. Ia takut dan mengakui dosanya, perbuatan dosa yang dibuatnya setiap kali menghadap raja. Ia menyesal karena bangsanya tidak mentaati hukum-hukum Musa. Akhirnya, Nehemia memilih untuk bertindak karena takut akan TUHAN, daripada takut pada raja. Ia keluar dari kenyamanannya dan membangun kota.

Apa yang kita takuti? Kita semua dapat merasa sangat nyaman dengan situasi hidup, dan kita takut terhadap apapun yang dapat merenggut kenyamanan itu. Apakah kita rela takut kepada Tuhan, sebagai pilihan yang kita buat?

Jika kita memang takut, apakah kita bersedia untuk membangun Kerajaan Allah, berani keluar dari zona nyaman kita sekarang bagi-Nya? Atau kita terlalu takut nanti hidup susah?

Terpujilah TUHAN!

Published with Blogger-droid v1.4.8

25 Juli 2010

Surga

Kalau berbicara tentang Surga, atau membaca tentang Surga, apa yang menjadi niat, menjadi harapan kita? Kalau kita membayangkan Surga, apa hal yang mempesona kita? Manusia punya konsep tentang tempat ini, yang digambarkan dengan segala keindahan dan kenikmatannya, dibahas dalam berbagai agama dan kepercayaan. Dan apakah hal yang begitu kita inginkan saat berbicara tentang Surga?

Pertama-tama, mungkin kita berpikir tentang masuk Surga, karena alternatifnya adalah masuk neraka. Kita memikirkan soal indah, enak, nyaman, sehat, kekal -- dalam kontras dengan gelap, menderita, siksa, sakit, dan kematian kedua di neraka. Pastinya kita mau yang enak. Mau yang nyaman, selama-lamanya sejahtera dan bahagia. Tetapi, dalam pengertian yang paling mendasar, Surga didefinisikan dari apa yang kita dapat, kita terima, dan berpusat pada diri kita sendiri. Kita menjadi penentu, ini Surga dan itu neraka.

Yang kedua, kita memandangnya sebagai suatu transaksi. Kalau mau masuk resort hotel yang mewah, orang harus bayar mahal. Kalau mau masuk Surga, orang juga berpikir tentang membayar, yaitu dengan perbuatan baik. Makanya, kalau melihat orang bersikap baik dan dermawan, kita bilang dia ini pasti masuk Surga. Bukankah dia sudah bayar harganya dengan segala perbuatan baiknya? Adakah Surga memang seperti tempat tinggal yang bisa dibeli?

Firman Tuhan tidak bicara mengenai suatu tempat, atau petunjuk lokasi Surga. Tidak ada pengungkapan tentang 'jalan ke langit' atau '7 lapis langit' dalam Alkitab. Sebaliknya, Surga selalu berhubungan dengan kehadiran Tuhan. Di mana Tuhan hadir, disanalah Surga. Akibat dari keberadaan Tuhan adalah tiadanya kegelapan, sakit, gelap, atau kematian. Dia adalah sumber kehidupan. Dia adalah terang. Yang utama atau terpenting bukanlah akibat dari kehadiran-Nya, melainkan diri TUHAN sendiri.

Karena penentunya adalah Tuhan, maka kita juga harus siap untuk melayani Tuhan. Masuk Surga berarti siap untuk mematuhi-Nya dan memuliakan-Nya, siap memberi apa yang dikehendaki-Nya dan yang memang layak diterima-Nya: puji, hormat, dan kuasa atas diri kita. Surga bukanlah mengenai apa yang kita terima, melainkan apa yang kita berikan. Segala hal lain adalah akibat sampingan yang menyenangkan...

Firman Tuhan memberi gambaran yang hebat mengenai hal ini. Perhatikanlah bagaimana Surga dilukiskan, dengan jalan dari batu permata dan emas murni. Ini semuanya berharga di bumi, tapi hanya batu jalan di Surga. Yang utama adalah Tuhan, tidak ada yang lain!

Kehadiran Tuhan bersama kita adalah hal yang telah terjadi, dahulu, sekarang, dan sampai selamanya. Dahulu, Tuhan memanggil kita, bahkan di saat kita masih berdosa. Kita bisa menjawab-Nya karena Dia melawat kita, bukan? Sekarang kita hidup dengan penyertaan-Nya, oleh Allah Roh Kudus. Kelak, kta bersama Tuhan dan bisa bertemu muka dengan muka. Bukankah kita memiliki Surga saat ini juga, dengan derajat yang berbeda?

Hanya saja, ketika kita masih memakai ukuran kita sendiri, kita tidak menyadari, atau mengakui, bahwa kita berada di Surga. Karena kita mau dilayani dan menerima dan merasa enak... tapi, kalau demikian halnya, kita bisa jadi akan kecewa.

Ketika Tuhan menjadi penentu, tidak ada transaksi yang dapat membeli-Nya. Di bumi ini saja, seorang dermawan yang baik hati tetap harus masuk penjara karena satu perbuatan kriminalnya di masa muda. Segudang perbuatan baik tidak dapat menghapus satu perbuatan jahat. Bayangkan, bisakah orang nampak benar di hadapan Allah yang Maha Kudus?

Sebaliknya dari membayar, memasuki Surga adalah anugerah. Allah Bapa memberikan orang-orang kepada Kristus, dan semua yang diberikan tidak ada yang dibuang-Nya. Apa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus? Bukankah Roh Kudus telah menjadi meterai keselamatan kita?

Tidak ada satupun dari semua hal ajaib ini berasal dari perbuatan, atau upah, yang kita terima. Kita pada hakekatnya tidak layak untuk menerima, namun toh Tuhan memberikannya juga! Jadi, demikianlah kita dapat berada dalam Kristus, yaitu hanya karena anugerah. Satu-satunya yang membawa kita adalah iman, dipimpin dalam iman dan menuju iman. Dan hanya Alkitab, Firman Tuhan saja yang dibutuhkan sebagai pedomannya, petunjuk jalan, agar kita bisa berjalan dalam Kristus. Kita dimampukan oleh penyertaan Roh Kudus, diterangi oleh Kristus yaitu Firman Allah, dan menerima karunia dari Bapa di Sorga.

Inilah Surga, dan kita diberi hidup serta pekerjaan baik untuk kita lakukan. Adakah kita cukup bertanggung jawab untuk melakukan kehendak Bapa? Itulah Surga, yang beserta kita!

Sampai Maranatha!

Published with Blogger-droid v1.4.8

18 Juli 2010

Anti Kristus

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir.

Benar, sudah banyak! Tidak usah bayangkan orang itu harus sakti mandraguna, tidak mesti ajaib. Seorang anti kristus adalah dia yang anti kepada Kristus. Soal mujizat, itu hanyalah tentang penyesatan yang dilakukannya. Masalahnya, orang masih memakai mujizat sebagai legitimasi kebenaran. Asal orang bisa menunjukkan mujizat, lantas orang berpikir bahwa ia benar.

Anti Kristus adalah suatu sikap yang menolak Kristus. Sikap menolak segala kebenaran yang diungkapkan Firman Tuhan tentang Kristus. Jadi, pertama-tama si anti kristus bersikap anti Alkitab.

Kedua, si anti kristus menolak sejarah tentang Kristus. Kehadiran Kristus bukan hanya dicatat Alkitab, melainkan juga dicatat oleh sejarawan Yahudi seperti Josephus, yang tidak memihak kekristenan. Ada juga catatan-catatan romawi, bahkan dari para imam, yang memusuhi Yesus Kristus. Semua ini ditolak, dianggap keliru, dan perlu diperbaiki. Dapatkah manusia memperbaiki sejarah?

Yang ketiga, mereka yang anti kristus menolak prinsip hidup dari Kristus. Mereka menolak mengasihi tanpa pamrih. Menolak mengampuni. Menolak mentaati Allah Bapa. Dan pastinya, menolak Yesus adalah Tuhan, sehingga tidak bisa menerima doa dalam nama Yesus Kristus.

Pada awalnya, hanya orang Kristen yang menjadi anti Kristus, karena hanya orang Kristen yang tahu tentang Kristus. Kita tidak dapat bersikap anti terhadap yang tidak kita ketahui, bukan? Namun kini ada banyak anti kristus, bahkan melembaga menjadi agama baru, yang ajarannya anti kristus. Dan ada lebih banyak pemaksaan untuk anti terhadap kristus.

Dimanakah kita? Tentunya kita menerima Kristus, karena masih mau menulis dan membaca kata-kata artikel ini. Tapi, apa sikap hati kita? Jika kita mengabaikan Alkitab, tidak mau tahu sejarah, dan tidak peduli soal prinsip hidup seperti kristus, kita mungkin ada di tebing kesesatan. Awaslah, jangan sampai kita jatuh karena terpesona dan disesatkan, entah oleh tekanan kekuasaan atau daya tarik mujizat.

Published with Blogger-droid v1.3.9

11 Juli 2010

2012

Mengapa film 2012 begitu ramai ditonton orang? Sekarang, film itu sudah berlalu dari bioskop, tapi orang masih beli dvdnya. Ceritanya tidak terlalu dramatis, tapi visual effectnya hebat. Dalam hal ini toh kita tidak mencari drama. Kita butuh film itu untuk membayangkan kengeriannya. Dan mengapa kita menginginkannya?

Dalam diri kita ada suatu indra keenam, apa yang disebut dengan firasat. Jaman modern telah mengajar kita mengabaikan firasat, tetapi perasaan gelisah itu tidak hilang begitu saja. Kita memandang langit, mengamati bumi, dan mempelajari apa yang terjadi, serta merasa 'ada sesuatu di luar sana'. Adakah kita dapat abaikan, atas dasar rasionalisme dan logika?

Mari kita pelajari sesuatu tentang rasio, dimulai dari diri sendiri. Berapa banyak yang memakai rasionya untuk merencanakan masa depan yang diketahuinya? Orang pasti jadi makin tua, suatu saat akan pensiun. Sementara itu, inflasi terus terjadi tiap tahun dan semakin berat; baca saja berita tentang kenaikan tarif listrik dan kenaikan harga bahan makanan. Kalau mengikuti logika, seharusnya kita semua berusaha lebih keras dan menabung lebih banyak. Berapa banyak yang melakukan hal-hal ini?

Namun, kita menolak peringatan tentang akhir jaman karena itu rasanya tidak sesuai logika dan ilmu pengetahuan. Sekalipun bumi sudah berubah dan cuaca menjadi aneh, kebanyakan orang merasa semua masih baik-baik saja. Bekerja dan bersenang-senang seperti biasa.

Pada akhirnya, ini bukan soal rasio, melainkan keinginan manusia. Bukankah sejak pertama, manusia mati karena mau menjadi seperti Allah?

Di akhir jaman, keinginan ini akan mencapai puncaknya. Manusia meninggikan diri, sekalipun sebenarnya masih tetap sama lemah dan menyedihkan, seperti bunga rumput yang berlalu dalam semalam. Durhaka akan tiba, itulah tanda akhirnya. Firasat ini telah berteriak sedemikian kerasnya, tapi tidak didengarkan. Tidak semua mendengarkan.

Ingatlah akhir jaman. Hiduplah dengan suci dan saleh, percayalah kepada Tuhan!

Published with Blogger-droid v1.3.9

04 Juli 2010

Ingatlah Aku

Hari ini adalah hari Perjamuan Kudus. Sebagai sakramen yang secara khusus dititahkan oleh Tuhan Yesus, kita wajib mengingat-Nya setiap kali memakan roti dan minum dari cawan anggur itu. Tetapi, hari ini sedikit berbeda. Tuhan menunjukkan hal yang baru.

Sementara Pak Pendeta memimpin kebaktian, masuklah seorang wanita muda dan duduk di depan kami, diujung baris sebelah kiri. Usianya sekitar 20an, memakai sweater abu, cukup bersih, meski bukan yang bagus sekali. Dia duduk, menatap ke depan sebentar, lalu mengambil bolpen dan warta jemaat. Sementara Pendeta mulai berkhotbah, dia mulai menulis. Caranya, dia mengangkat warta itu cukup tinggi, sehingga kami yang di belakangnya bisa melihat apa yang ditulisnya. Mula-mula, terlihat seperti catatan khotbah...

Tapi dia tidak menulis catatan khotbah. Ia menulis terus, kata-kata yang tidak beraturan, dan model tulisan yang semakin kusut cakar ayam. Ah, saya dan istri saling berpandangan. Dia tidak waras...

Kebaktian jalan terus, lalu masuk ke prosesi Perjamuan Kudus. Seperti jemaat lain, ia mengambil roti, sambil tetap memegang kertas penuh tulisan itu. Begitu juga waktu cawan anggur dibagikan, diambil juga. Hanya, kami tidak melihat ia makan atau minum. Seharusnya, ia tidak ambil sama sekali, tapi siapa yang tahu atau bisa melarang?

Terbersit dalam pikiran, betapa Tuhan akan menghukum wanita muda ini! Namun, apakah Dia menghukum orang yang mengalami gangguan kejiwaan? Sebaliknya, barangkali kita yang menganggap diri waras, kita juga tidak jauh berbeda.

Kita memang tidak mencoret-coret kertas, tapi kita mengisi pikiran dengan kekacauan. Kita mengambil roti dan anggur, bahkan kita memakan dan meminumnya, tapi kita tidak mengingat, apalagi memberitakan karya Tuhan Yesus. Dimata Tuhan, apakah perbedaan antara kita dengan wanita yang tidak sehat ini?

Bacalah tulisan orang Kristen sekarang, atau cuma lihat judulnya saja. Berapa banyak yang mengingat dan memuliakan Kristus? Atau, judul dan isinya adalah tentang mensukseskan diri kita, memenuhi angan-angan kita, dengan memakai kuasa Allah?

Barangkali, kita lebih parah dari ketidakwarasan, karena kita masih bisa memilih. Wanita muda ini tidak bisa memilih sikapnya, karena ia tidak sehat. Tapi kita sehat, bisa memilih mau bersikap bagaimana. Kita bisa memilih untu mengingat dan memuliakan Kristus, bukan hanya hari ini, tapi di sepanjang hidup kita.
Published with Blogger-droid v1.3.8