Cari Blog Ini

21 Desember 2007

Globalisasi Di Tangan TUHAN

Di saat globalisasi telah menjadi kenyataan, pertanyaan penting yang sering ditanyakan adalah "apa sikap orang Kristen?" Di satu sisi, pertanyaan ini berkonotasi bahwa seharusnya orang-orang Kristen memberikan respon yang berbeda. Seharusnya orang yang mengaku "Tuhan beserta saya" dapat memiliki sikap yang lain dalam menghadapi globalisasi. Kalau sikapnya masih sama saja, lalu apa makna dari keberadaan Tuhan di sampingnya itu? Lagipula, seharusnya ada rejeki lebih, rahmat lebih, berkat lebih dimiliki oleh orang-orang Kristen -- semuanya menjadi alasan bagi orang Kristen untuk berperan lebih banyak. Maka, tidak sedikit orang yang menaruh harapan lebih tinggi kepada mereka yang mengaku Kristen, apalagi pernah membagikan Firman Tuhan atau menyampaikan renungan. Seharusnya orang Kristen menjadi sumber rejeki (baca: uang) yang menjadi jalan keluar kesulitan masyarakat.


Pandangan ini mempunyai dua kesalahan yang mendasar. Yang pertama, kekayaan material bukan alasan dari penyertaan Tuhan. Orang tidak menjadi Kristen agar mendapatkan kekayaan material -- dapat uang, mobil, rumah, kemajuan usaha, peningkatan laba -- sebaliknya justru ada tuntutan bagi pemilik kekayaan untuk memakainya demi Tuhan. Kita menemukan tuntutan ini ketika Tuhan Yesus bertemu dengan orang muda yang kaya raya:


Luk 18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."


Perhatikanlah, orang muda ini telah menjadi pemimpin dan kekayaannya luar biasa. Ia juga telah melakukan semua tuntutan religius, sehingga di mata kebanyakan orang Israel, ia adalah teladan yang baik. Tapi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kekayaan orang itu menghalanginya masuk Kerajaan Allah. Isu ini begitu mencemaskan para murid -- kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan? Jawaban Tuhan Yesus berdasarkan pada kekuasaan Allah: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah." Hanya oleh kuasa Allah, maka kekayaan tidak menghalangi orang mendapat hidup kekal, karena itu tidak mungkin kekayaan menjadi tujuan orang percaya.


Kesalahan yang kedua terletak pada penyebab perubahan: bukan orang Kristen yang membuat kehidupan lebih baik. Kalau ada sesuatu hal yang dihasilkan oleh seorang Kristen, maka hal itu membuktikan bahwa Tuhan berkuasa, Dia hidup dan berkarya. Orang Kristen itu sendiri tidak memiliki kemampuan lebih dari apa yang sudah diberikan, sebagai manusia ia tetap memiliki kelemahan dan melakukan kesalahan. Penyertaan Tuhan tidak membuat seseorang menjadi seperti Tuhan, atau mempunyai otoritas yang merupakan hak prerogatif Allah sendiri.


Kita perlu memahami bahwa rancangan Allah jauh ada di luar rancangan manusia. Allah bisa menolak orang muda yang kelihatannya begitu baik, teladan yang luarbiasa, hanya karena kekayaannya sangat banyak. Tetapi Allah juga bisa memilih orang yang berdosa, yang menyetujui kekerasan dan aniaya, bahkan menangkapi orang-orang Kristen sehingga namanya cukup untuk menterror orang yang mendengarnya. Orang jahat semacam ini pantasnya mati, tetapi seperti yang pernah dinubuatkan oleh nabi Yesaya:


Yes 55:7-9 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.


Saulus dahulu menjadi orang semacam itu, tetapi ia kemudian dipakai oleh TUHAN, selanjutnya berganti nama menjadi Paulus. Rasul Paulus. Pada diri orang ini ada semua ilmu, semua pengetahuan yang telah dipakai untuk menyiksa umat Tuhan. Tetapi dengan rancangan TUHAN, segala yang dipahaminya menjadi sesuatu  yang luarbiasa baik dalam mengembangkan Kerajaan Allah. Sekali lagi, bukan Paulus yang dapat menepuk dada atas segala kemampuannya. Ia sendiri menyatakannya demikian:


2 Kor 3:4-5 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.


Kalau Allah bisa memakai seorang Saulus menjadi Paulus, maka Ia juga dapat memakai segala hal yang semula nampak buruk, mengancam, menjadi suatu kebaikan. Yang penting adalah kita tidak melupakan apa yang paling penting: kita tidak mengejar kekayaan (dan memakai 'tangan Tuhan' sebagai alat untuk mendapatkannya) dan kita mengakui bahwa semua yang ada dapat dipakai oleh TUHAN untuk melaksanakan maksud-Nya. Kita tidak berotoritas untuk menentukan apa kehendak Tuhan -- kalau melakukan seperti demikian, apa bedanya kita dengan dukun-dukun mistik yang bisa memakai 'kekuatan gaib' untuk mewujudkan apa yang mereka kehendaki? Sebaliknya, kita mengikuti jalan yang terbuka di depan kita, sambil tetap berpegang kepada prinsip-prinsip yang Tuhan berikan, memakai ukuran kebenaran yang berasal dari Firman Allah untuk memutuskan.


Jadi, bagaimana kita melihat tangan Allah bekerja dalam globalisasi? Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya:


Mat 28:18-20 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Perintah ini berkaitan dengan globalisasi. Kata-kata "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" telah merobohkan tembok-tembok pembatas, tidak ada lagi satu pun bangsa yang tidak layak atau tidak berhak menjadi murid Kristus. Perintah ini telah membawa Injil ke seluruh dunia, hingga saat ini kira-kira sepertiga umat manusia di bumi adalah orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, walau ada banyak sekali denominasi dan aliran dan agama. Tetapi, ini baru satu bagian pertama dari pesan-Nya. Bagian kedua adalah tentang pembaptisan -- suatu pernyataan seseorang telah meninggalkan kehidupan lamanya dan memasuki hidup baru serta menjadi anggota gereja. Bagian ketiga adalah penerapan standar perilaku yang Tuhan Yesus berikan, "ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."


Dalam banyak aspek, kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi dalam globalisasi sebenarnya cocok dengan jalan Tuhan. Seperti dahulu orang Romawi telah membuat jaringan jalan yang baik sehingga memajukan penyebaran Injil di seluruh kekaisaran Romawi, demikianlah hubungan yang tercipta dalam globalisasi memungkinkan kerja sama dan pengerjaan yang dahulu tidak pernah terpikirkan. Bayangkan, sekarang ini orang-orang dari berbagai tempat yang sangat berjauhan dapat berkolaborasi untuk mengadakan proyek penginjilan bersama. Teknologi komunikasi dan informasi membuat orang dapat mengirimkan pengajaran Kristen kepada berjuta-juta orang, dalam bentuk berita elektronik yang disebarkan melalui mailing list. Kerja sama juga memudahkan koordinasi terjadi, menyelaraskan aktivitas di berbagai-bagai belahan dunia secara instan. Sangat cepat dan langsung, karena sekarang orang dapat saling berkirim sms dari satu hp ke hp lain di negara dan benua yang berbeda.


Dalam globalisasi, memang dapat muncul individu-individu yang mempunyai pengaruh yang secara ekstrim mempengaruhi dunia, terutama di bidang ekonomi. Sekali lagi, kita perlu mengingat bahwa TUHAN sanggup menyentuh orang-orang semacam itu dan memakai mereka sesuai kehendak-Nya. Jadi, ketika sebagian orang merasa ngeri memikirkan bahwa globalisasi telah membuat beberapa orang menjadi 'raja' yang besar, kita dapat dengan yakin berpegang bahwa Tuhan dapat memakai 'raja' itu untuk melakukan apa yang Dia mau. Ini bukan sesuatu yang baru, sebenarnya kita sudah melihat bagaimana Allah memakai raja-raja besar jaman dahulu.


Ezr 1:1 Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini:


Pikirkanlah keunikan dari pernyataan ini: betapa seorang Koresh (Cyrus) penguasa kerajaan Persia yang besar dipakai TUHAN untuk menggenapkan firman seorang nabi dari sebuah bangsa  yang kecil, yang tidak sampai sepersepuluh luas kerajaan Persia saat itu. Tidak ada alasan untuk meragukan kuasa Tuhan di atas semua penguasa-penguasa ini, maka Tuhan juga dapat diandalkan untuk mengendalikan para 'raja' di jaman sekarang, baik untuk memberkati maupun untuk mengutuki. Baik untuk memberi maupun untuk menghukum. Meninggikan atau merendahkan.


Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa Tuhan membiarkan manusia menjadi susah karena globalisasi? Tetapi untuk pertanyaan ini, dapat juga ditanyakan, "mengapa tidak?" Ketika globalisasi terjadi, prestasi satu bangsa dengan bangsa lain dipertandingkan. Bangsa yang satu telah berusaha dengan lebih keras, lebih disiplin, lebih kreatif, bersedia memberikan lebih banyak. Bangsa yang lain bekerja lebih malas, lebih kacau, bekerja 'asal bapak senang', dan bersikap pelit serta penuh hitung-hitungan. Wajar bukan, jika bangsa yang pertama lebih berhasil daripada bangsa yang terakhir disebut?


Kita tidak bisa mengatakan, "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung," karena kita tidak tahu hari esok. Kita tidak tahu, apakah kita masih dapat tetap hidup sehat serta berusaha sampai tahun depan. Kita tidak tahu, apakah kita dapat berdagang dan betul-betul menerima keuntungan. Bagaimana jika kita meninggal nanti malam? Bagaimana jika ternyata ada pesaing dari negara lain, yang mustahil kita lawan karena mempunyai struktur harga yang jauh berbeda? Tetapi satu hal yang dapat kita pegang adalah: tanggung jawab kita adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita harus melakukan perbuatan baik yang dapat kita lakukan, karena:


Yak 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.


Di saat kita menerapkan nilai-nilai yang Tuhan berikan, maka kita telah mempunyai kunci untuk menjangkau seluruh dunia karena di sanalah ada kuasa Tuhan, sesuai dengan perintah-Nya. Ambil saja contoh tentang kesetaraan, misalnya. Isu kesetaraan telah lama menjadi isu global, antara negara-negara utara dan negara-negara selatan, antara ras kulit putih dan ras kulit berwarna, dan kalau disarikan dari semuanya: antara si kaya (utara, kulit putih) dan si miskin (selatan, kulit berwarna).. Firman Tuhan melalui Yakobus menegaskan bahwa pemisahan seperti itu merupakan pelanggaran:


Yak 2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.


Kita lihat, Firman Tuhan sudah lebih dahulu memberikan prinsip untuk bersikap. Ketika sikap ini dilakukan dalam konteks global, maka banyak hal yang muncul. Saat ini hampir semua teori-teori kesuksesan yang benar-benar teruji ternyata berkaitan dengan prinsip Firman Tuhan. Dalam pemasaran misalnya, kita mengenal High Trust Selling, oleh Todd Duncan. Dengan mudah kita menghubungkan teorinya dengan prinsip-prinsip Alkitab. Tak heran jika tokoh Kristen seperti John C. Maxwell telah menjadi pengajar Pemimpin yang terkemuka di dunia, di mana caranya bukan saja dipakai oleh orang Kristen, melainkan oleh semua kalangan. Prinsip Firman Allah itu benar dan efektif, nilai-nilainya meningkatkan hakekat dari segala sesuatu yang berhubungan.


Saya percaya, untuk mengatasi efek buruk dari globalisasi, orang Kristen justru harus masuk dan memanfaatkan semua hal. Orang Kristen harus bersedia masuk dalam perdagangan global, memasuki politik global, turut menangani isu-isu global. Orang Kristen dapat melakukan banyak hal baik dalam globalisasi, dan sudah semestinya kita melakukan apa yang Tuhan mau! Mungkin ada yang berkata, bahwa dalam globalisasi ada banyak yang tidak melakukan hal-hal benar, sebaliknya penuh tipu muslihat dan kejahatan. Benar, tapi tidak ada yang mengharuskan orang bertindak buruk dalam globalisasi. Orang yang percaya dapat menerapkan standar nilainya sendiri! Tidak ada yang dapat memaksa kita untuk melakukan diskriminasi, misalnya, atau mengharuskan kita mengambil untung berlebihan, atau menyuruh kita melakukan dumping harga untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar. Semua adalah keputusan kita sendiri. Kita dapat berkawan dengan mereka yang menyimpang, tetapi kita pun dapat melawan mereka yang berbuat kejahatan.


Apakah mudah dan sederhana? Tidak, kompleksitas globalisasi membuat segala hal saling berhubungan secara rumit. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, tidak jarang yang terjadi adalah pilihan "yang terbaik di antara yang jelek-jelek". Namun, sekali lagi bukan kita yang menjadi penentu, bukan kita yang sanggup sendiri berjuang. Karena kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah, maka selama kita berkomitmen untuk memenuhi prinsip dan nilai dari Tuhan, Dia akan menyediakan segala yang kita perlukan, termasuk hikmat untuk mengatasi segala persoalan. Jadi, tidak ada masalah tentang kesanggupan -- dan dengan begitu, masalahnya tinggal ini: Apakah kita mau melakukannya?


Kalau mau, mari belajar bersama-sama, mari berjuang bersama-sama!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana


08 Desember 2007

Beban Globalisasi

Ketika seluruh dunia terhubung menjadi satu pasar yang sangat besar, ada beberapa hal yang terjadi. Yang pertama, arus uang semakin cepat berpindah. Dana dari satu benua dapat berpindah ke benua lain dalam hitungan detik, dan beberapa jam kemudian dapat terus berpindah lagi. Yang kedua, arus barang pun berpindah dengan cepat. Hasil tambang, hasil hutan, hasil perkebunan dari Indonesia berpindah ke negara lain, ke benua lain dalam hitungan hari. Barang produksi dari Cina, dari India, dari Amerika Selatan, sekarang memenuhi pasar-pasar di Indonesia.


Bukan hanya uang dan barang, tetapi manusia pun berpindah. Tenaga kerja dari Indonesia kini sudah dikirim ke berbagai penjuru -- sayangnya dengan status sebagai pembantu. Sebaliknya, banyak para ahli dari luar negeri, para expatriates, dibayar mahal untuk bekerja di Indonesia. Perusahaan - perusahaan di Indonesia semakin banyak yang dimanajemeni orang asing, karena kepemilikan asing bertambah. Seperti di dalam perbankan, hari ini agak susah menemukan bank besar yang masih secara mayoritas dimiliki orang Indonesia, dengan manajer puncak orang Indonesia.


Dengan segala pertukaran-pertukaran itu, kita melihat roda ekonomi yang lebih cepat berputar. Pabrik-pabrik bekerja dengan kapasitas yang lebih tinggi. Jumlah transaksi penjualan meningkat. GNP dan GDP tiap tahun bertambah, bahkan di negara-negara berkembang pertumbuhan ekonominya secara konstan selalu di atas 5%. Di Cina, dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan industrinya hampir mencapai 30%, sangat besar! Kita bisa melihat bagaimana pertumbuhan infrastruktur di Cina -- jalan tol, gedung pabrik, kantor pencakar langit -- bertumbuhan dengan kecepatan yang tidak terbayangkan.


Dengan semua pertumbuhan, apakah kesejahteraan juga dibagi semakin merata? Sayang sekali. Tidak.


Globalisasi bukan meningkatkan pemerataan kesejahteraan, sebaliknya dalam globalisasi terjadi individualisasi. Ketika orang saling terhubung satu sama lain, semakin hari semakin kentara bahwa hubungan yang terjadi bukan hubungan setara. Perlahan tapi pasti, sumber-sumber daya tertarik -- seperti oleh gravitasi -- ke individu-individu yang mempunyai kelebihan di atas mayoritas. Di dalam satu atau dua bidang, orang bisa mencapai suatu posisi yang tinggi sekali, sehingga banyak orang lain mengikutinya. Kelebihan mereka menjadi inspirasi bagi orang lain; mereka bilang, "cara paling cepat untuk sukses adalah mengikuti dan meniru orang sukses." Mereka menjadi raja jaman sekarang, menjadi idol yang diikuti banyak orang. Kita bisa membaca satu artikel tentang orang-orang ini dalam majalah Newsweek, 29 Oktober 2007, "Power Brokers" oleh Diana Farrell dan Susan Lund.


Sekarang, apa bedanya antara tokoh-tokoh tadi dengan raja-raja di jaman dahulu kala, yang selama berabad-abad mengatur kehidupan orang? Para raja jaman dahulu menjadi penguasa atas segala hal dalam kehidupan rakyatnya. Mereka harus peduli, harus memikirkan segala aspek -- sumber penghasilan, hubungan sosial, agama, politik, kekuatan militer, pendidikan, kesehatan, teknologi... semua. Seorang raja atau ratu yang baik harus menjaga keseimbangan dalam segala sesuatu yang diaturnya. Ia bertanggung jawab mengendalikan hidup rakyat. Maka rakyatnya akan datang dan menyerahkan segala urusan untuk diatur oleh sang penguasa.


Tidak demikian halnya dengan "raja" jaman sekarang, yang menjadi penguasa dalam bidang tertentu. Di saat posisi 'raja' secara tradisional tidak lagi populer, orang ingin menjadi 'raja' dalam bidang yang lebih sempit. Ada raja minyak. Raja kayu. Raja mobil. Raja pasar saham. Juga raja rock n' roll! Tentu saja, sebutan 'raja' di sini hanya figuratif, suatu gambaran, bahwa orang ini berkuasa dan punya sumber yang lebih besar daripada kebanyakan orang biasa. Sebagai tokoh di bidangnya, ia tidak dituntut untuk menguasai hal lain. Tidak bertanggung jawab untuk hidup 'rakyatnya', para penggemar yang secara fanatik mengidolakan, atau memimpikan, sesuatu yang mereka sampaikan. Bukankah orang jaman sekarang banyak dihidupi oleh mimpi?


Kekuasaan yang timbul di sekitar diri seseorang atau sekelompok tertentu membuat semua hal lain hanya menjadi alat, menjadi objek, yang kegunaannya adalah sebatas kesanggupan mereka memenuhi keinginan sang penguasa. Tentu, di luarnya tidak dinyatakan secara eksplisit demikian; sebaliknya yang disampaikan adalah 'kebaikan bagi semua pihak'. Ya, memang baik bila semua pihak membantu sang penguasa, bukan? Jadi, yang menjadi pekerja akan bekerja membanting tulang, seringkali dengan suatu impian yang besar, untuk memenuhi apa yang diharapkan sang tokoh yang diidolakannya. Si 'pekerja' di sini bisa diganti dengan orang lain. Mungkin, ia adalah seorang tenaga penjual. Atau buruh. Atau petani. Atau nelayan. Atau pekerja tambang.


Atau, saya dan Anda. Dan kemungkinan besar, orang tidak menyadarinya karena kita semua ada di dalam 'sistem'. Kita ada di dalam 'sistem' untuk mencapai impian kita, sesuatu yang dipercaya menghasilkan apa yang kita harapkan, walaupun dalam kenyataannya yang sungguh-sungguh diuntungkan adalah sekelompok kecil orang 'tokoh' yang mungkin tidak pernah kita kenal. Tokoh yang begitu hebat, begitu mendunia... dan mungkin ia bahkan tidak tinggal di Indonesia. Dan kita masih berpikir bahwa globalisasi itu baik dalam banyak segi!


Dalam globalisasi, golongan yang paling tertekan sebenarnya adalah golongan kelas menengah. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang "ke atas belum punya kuasa, di bawah tidak lagi punya massa". Sementara ini, kebanyakan kelompok kelas menengah berharap kepada sistem yang digambarkan akan memberi 'kebaikan bagi semua pihak'. Karena itu, golongan ini dengan senang hati membantu tokoh-tokoh kelas atas memenuhi segala yang mereka inginkan, bahkan dengan sukarela berkolaborasi untuk menekan golongan kelas bawah. Mereka menjadi perisai bagi tokoh-tokoh 'besar' ini, bersedia setia dan taat sampai habis-habisan, dengan harapan bahwa 'sistem' yang ada akan menjamin kehidupan mereka kelak.


Saya dengan berat hati mengatakan, bahwa sangat mungkin harapan itu sia-sia.


Itulah sebabnya, sampai hari ini rakyat Indonesia masih berjungkir balik membanting tulang, sementara kelihatannya sistem yang ada masih belum memihak mereka. Ya, karena golongan menengah, termasuk yang duduk dalam pemerintahan, masih dengan setia menjadi bagian dan alat bagi tokoh-tokoh di negeri ini, yang barangkali nyaris tidak pernah disebut namanya di koran. Ya, karena kita pun yang menjadi golongan menengah ternyata di saat yang sama mengkritik sekaligus mendukung kondisi yang ada. Kita sudah lihat orang-orang yang semula mengkritik, ternyata turut melakukan apa yang dikritiknya ketika ia memangku jabatan.


Maka, agak terlalu jauh jika kita membahas bagaimana menyelesaikan masalah orang-orang yang diperalat, yang menjadi objek, yaitu kaum marginal yang ada di bawah. Kebanyakan kita berbicara tentang memberi mereka pendidikan yang lebih tinggi, karakter yang lebih baik, agar mereka bisa naik kelas menjadi golongan menengah... yang kemudian menjadi pengikut tokoh di atas, lantas berbalik menekan kaumnya, seperti kacang lupa kulitnya. Ironi, ketika seorang anak desa setelah menjadi pejabat malah berbalik menekan orang desa, demi mematuhi seorang tokoh di ibu kota yang tidak pernah menginjakkan kaki di desanya (dan tentu saja, sebenarnya tidak pernah peduli pada nasib orang desa yang tidak pernah dilihatnya).


Lantas, apa solusinya?


Sejujurnya, saya tidak melihat adanya sebuah solusi sederhana bagi sebuah masalah yang kompleks. Tapi, kalau kita bisa lebih baik mendefinisikan masalah maka kita sudah ada dalam arah yang benar untuk memperbaiki keadaan. Kemudian, yang lebih mungkin adalah membuat pengkajian yang lebih detil tentang situasinya, sehingga kompleksitasnya bisa dikurangi dengan melihat dalam skala yang lebih kecil, dalam sebuah konteks yang terlihat batasannya. Dan faktor kuncinya adalah menerapkan prinsip-prinsip yang benar, kebenaran yang absolut.


Peran orang Kristen, saya yakin, adalah menjadi pembawa kebenaran mutlak ini, karena hanya kita yang memiliki kebenaran. Dan, kebenaran itu akan membebaskan kita... Tuhan memberkati!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana