Cari Blog Ini

13 Juli 2013

Kisah Natal Yang Terlupakan -- Natal 2007

Kisah Natal Yang Terlupakan

2007, Donny A. Wiguna

Pemuda itu berlari-lari menelusuri jalan yang berbatu. Dengan lincah ia melompati batu-batu, di sepanjang jalur yang menanjak menuju Yerusalem. Dahinya berkeringat, dengan kulit berwarna tembaga karena lama berada di bawah terik matahari. Tetapi waktu itu udaranya tidak terlalu panas, karena hari-hari semakin mendekati musim dingin. Hujan lebat lebih sering turun belakangan ini, membuat rumput-rumput terlihat sedikit lebih hijau, sementara pohon-pohon mulai menggugurkan daunnya. Tetapi pemuda ini nampaknya tidak terpengaruh dengan jalanan yang licin, walau kasutnya nampak sudah lusuh. Ia juga tidak terganggu oleh angin dingin, walau hanya mengenakan jubah gembala yang murah dan tipis.

Seandainya saja kita bisa mengenal namanya! Karena ia sendiri nyaris tidak pernah menyebut namanya sendiri -- bukankah ia hanya seorang gembala yang hari-harinya lebih banyak bertemu dengan domba daripada manusia? Ia biasa dipanggil Doeg, seperti nama leluhurnya, orang Edom, yang konon pernah menjadi pelayan raja Saul. Tetapi, hanya itu saja yang dapat dilakukannya karena pada saat itu orang yang bukan Yahudi hanya dapat menempati tempat pinggiran dan melakukan pekerjaan yang tidak diinginkan. Seperti pekerjaan menggembalakan domba di Bethlehem, di sebelah selatan Yerusalem.

Doeg melihat langit, matahari semakin condong ke Barat sementara awan kelihatan semakin besar menggumpal. Nampaknya sudah mau hujan lagi, sehingga ia mempercepat langkahnya. Dalam hati, diam-diam Doeg semakin berdebar-debar memikirkan apa yang harus dilakukannya. Ia sudah cukup susah sebagai gembala, tidak disangkanya bahwa kemarin malam ia kejatuhan undian untuk pergi ke Yerusalem dan memberi kabar kepada imam-imam di Hieron (artinya: Bait Allah). Bayangkan, seorang peranakan Edom mendatangi Hieron! Bagaimana mungkin! Lagipula ia membawa sebuah berita yang tidak masuk akal. Seandainya ia menjadi orang lain, lantas mendengar penuturan tentang berita yang dibawanya, maka ia pun pasti tidak percaya. Apalagi oleh para imam atau ahli Taurat! Doeg mengeluh dalam hati. Apakah sekarang ia dapat kembali dengan selamat? Jangan-jangan, para imam itu akan menghukumnya dengan pukulan penyesahan! Waktu itu memang para imam dan orang Farisi mempunyai kuasa untuk menegakkan hukum Taurat, sehingga mempunyai pasukan sendiri -- seperti polisi -- yang akan menindak pelanggar hukum. Orang-orang Romawi yang menjajah tanah Yudea nampak tidak keberatan dengan cara itu, selama para imam itu hanya menangkapi sesama orang Yahudi.

Tak lama kemudian, Doeg melihat tembok kota Yerusalem, benteng tinggi yang mengesankan. Doeg menghela nafas. Bagaimana caranya sekarang? Ah, jika saja Tuhan mau menolongnya! Bukankah ia baru saja menyaksikan sendiri kemegahan bala tentara Sorgawi, yang dalam mimpi pun tidak pernah terlintas? Tentu tidak sukar untuk menolongnya menyampaikan berita penting ini pada orang yang tepat!

Seperti mendapat jawaban langsung, setelah satu belokan Doeg menemukan kerumunan di tepi jalan. Ada apa gerangan? Doeg menghentikan larinya untuk melihat. Di sana ada seorang tua duduk di atas batu. Di depannya seorang pemuda duduk bersimpuh, menunduk, mengangguk-angguk. Samar-samar Doeg mendengar pemuda itu berkata lirih, "baik Rabbi, saya mengerti.... ya Rabbi, itu memang salah.... terima kasih Rabbi..." Mungkin ia adalah pemuda yang terakhir, sebab tidak ada lagi antrian di belakangnya. Lagipula, Rabbi (artinya: Guru) tua itu nampak sudah lelah. Melihat dari kerut-kerut di wajahnya, pasti ia sudah tua sekali. Dia pasti mengenal para imam di Hieron. Mungkin dia bisa melakukan sesuatu? Doeg membelokkan jalannya. Ia menanti pemuda di depannya berdiri pergi, lalu bergegas menghadap orang tua ini.

"Shalom, Rabbi," salam Doeg. Ia berusaha menenangkan debar jantungnya. Apakah ia cukup sopan? Apakah ia benar menundukkan diri? Doeg menyesali kebodohannya. Ia tidak tahu apa-apa tentang sopan santun saat bertemu dengan seorang Guru di pinggir jalan!

"Shalom," suara orang tua itu begitu lirih. Mungkin ia sudah mulai kehabisan suaranya, "apakah perkara yang mau engkau bawa hari ini?"

"Rabbi, er...., hambamu ini mau memohon sesuatu. Apakah Rabbi mengenal beberapa imam di Hieron?"

Untuk sejenak, Rabbi tua itu tercengang. Biasanya orang muda datang meminta nasehat tentang berbagai hal sehari-hari, tentang hidup kudus dan takut akan Elohim. Ada juga yang meminta nasehat tentang persahabatan yang retak, atau tentang nafsu birahi yang tidak terkendali. Tetapi, bagaimana gembala ini bertanya tentang apakah ia mengenal imam di Hieron?

"Hohoho, anakku, aku si tua Simeon sudah berumur tua sekali, lebih dari semua orang yang ada di tanah Yudea! Tapi rupanya Tuhan masih menyuruh aku tinggal, hingga pemuda yang tadinya seusiamu kini telah turut menjadi tua serta menjadi imam di Hieron. Mereka menjadi semakin tua, tetapi aku ini masih sehat saja. Jadi, tentu saja aku mengenal mereka. Ada apakah gerangan, sehingga engkau menanyakannya?"

Doeg terkejut. Sudah lama beredar pembicaraan di antara para gembala, bahwa ada seorang tua yang sangat bijaksana, yang betul-betul tahu apa artinya hidup saleh dan takut akan Tuhan, yang suka duduk di luar pintu gerbang Yerusalem, sehingga semua orang dari berbagai suku bangsa bisa datang menghadap untuk bertanya dan meminta nasehat. Konon, dahulu ada yang bertanya mengapa ia duduk di luar dan Rabbi Simeon ini mengatakan, bahwa dengan duduk di luar barangkali ia dapat menjumpai Mesias. Karena suara dari Sorga pernah menyatakan, bahwa Rabbi Simeon tidak akan meninggal sebelum matanya melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Doeg menelan ludahnya. Bukankah ia sedang membawa kabar tentang kelahiran Juruselamat?

"Rabbi, saya adalah seorang gembala dari padang di dekat Bethlehem."

"Ooh, Bethlehem.... kota Daud, ya...."

"Benar, Rabbi. Dua malam yang lalu, saya dan teman-teman berkumpul, kami sedang memindahkan domba-domba dari kandang di padang ke kandang di desa, karena sebentar lagi musim dingin tiba. Waktu itu kami masih bekerja di padang, lalu tiba-tiba..." Doeg tidak dapat meneruskan kata-katanya. Tenggorokannya seperti tercekik. Dapatkah ia mengatakannya?

"Kenapa, anakku? Apa yang kalian lakukan? Kalian berkelahi? Melakukan dosa?"

"Oh, tidak, tidak seperti itu, Rabbi. Kami... kami mengalami sesuatu. Ah, biarlah kiranya Tuhan menjadi saksi! Sungguh, saya berkata benar! Malam itu, kami sedang menjaga kawanan ternak di padang. Tiba-tiba ada seorang malaikat berdiri di dekat kami, sinarnya menerangi kami semua! Rabbi, kami sangat ketakutan!"

Simeon memicingkan matanya. "Malaikat menjumpai kalian? Bukan main! Lalu?"

"Rabbi, malaikat itu berkata, 'Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.'

Kami.... saya tidak akan melupakan kata-kata itu!

Dan bukan itu saja, Rabbi. Kami tidak melihat bagaimana mulainya, tiba-tiba saja bukan hanya seorang malaikat, tetapi ada banyak sekali malaikat... seperti tentara dari Sorga yang muncul dari udara. Kami melihat seluruh padang dipenuhi oleh malaikat, lalu mereka memuji Elohim Adonai! Mereka berkata,

'Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.'

Suaranya begitu jelas, Rabbi. Begitu merdu! Begitu.... ah, ini sangat penting, Rabbi!"

Simeon menegakkan punggungnya. Tiba-tiba saja ia seperti mendapatkan semangat baru. Bukankah baru satu purnama lalu ia mendapat suara, sekali lagi, bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias, atau dalam bahasa Yunani disebut juga dengan Kristus? Apakah ini merupakan akhir dari penantiannya? Ia harus tahu. Tetapi pertama-tama, ia harus yakin bahwa gembala ini tidak sedang mencari muka dengan membual kisah ajaib. Banyak gembala yang melakukan hal semacam itu. Maka, Simeon meninggikan suaranya dan berseru dengan tegas.

"Kau tahu, pendusta harus dihukum! Dan jika dustamu dilakukan terhadap Tuhan, engkau harus mati! Karena itu jangan main-main!"

Doeg mendadak menjadi pucat pasi. "Tidak.... sungguh Rabbi, hambamu ini tidak berdusta! Jika Rabbi tidak... tidak percaya, ada teman-teman yang bisa Rabbi perintahkan untuk memberi kesaksian."

"Dan apakah kalian yakin bahwa yang datang itu sungguh adalah malaikat?"

"Benar, Rabbi.... itu juga yang pertama kali terlintas dalam pikiran kami! Sebenarnya kami merencanakan akan ke Bethlehem ketika matahari sudah terbit. Namun karena mengalami perjumpaan dengan malaikat, kami semua memutuskan pergi ke Bethlehem malam itu juga. Pemimpin  kami berkata, 'Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.' Ketika hampir sampai, di sana, di kandang domba yang sudah ditinggalkan kosong, kami menemukan satu keluarga di dalamnya. Seorang ibu muda baru saja melahirkan. Anaknya masih merah, dibungkus dengan kain lampin, terbaring di palungan.... persis kata-kata malaikat itu!

Rabbi... ini benar, sungguh-sungguh benar! Kami, para gembala.... memang kadang-kadang kami bicara sembarangan. Mungkin ada teman kami yang sering berdusta. Tapi, kami sendiri sudah melihat seperti apa besarnya kuasa Tuhan! Saya tidak dapat berdusta tentang hal ini, karena saya tahu sekarang bahwa kuasa Tuhan sungguh nyata! Satu saja perkataan malaikat itu salah disampaikan, seumur hidup saya harus menanggungnya!

Saya berkata apa adanya! Kami semua merasa bahwa hal ini harus diberitakan, karena inilah yang bangsa kita nantikan, bukan? Jadi kami memberitakan kepada semua orang di Bethlehem. Tapi pemimpin kami mengatakan bahwa berita ini juga harus disampaikan ke Yerusalem, kepada para imam di Hieron. Kami membuang undi, dan ternyata sayalah yang harus membawa berita ini. Walau sebenarnya saya tidak ingin karena takut... tapi saya tidak bisa menunda-nunda... namun, terpujilah Tuhan, karena saya bertemu dengan Rabbi!"

Simeon sukar menahan senyumnya. Ia tahu sekarang, bahwa nubuat dari nabi Mikha telah terjadi. Sejak ia menerima nubuat dari Roh Allah, ia telah berulang kali mempelajari kembali bagian itu: "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." Bethlehem memang kota kecil, lebih tepat disebut desa, dengan padang luas di sekitarnya, seperti Daud yang juga adalah seorang gembala di masa mudanya.

"Jika engkau berkata benar, anakku... lantas apakah ini yang mau engkau sampaikan kepada imam-imam di Hieron?"

"Benar, Rabbi. Kami memutuskan bahwa tempat terpenting untuk dikabari tentang malaikat dan bayi itu adalah Yerusalem, ke Hieron."

"Nah, kalau begitu tenangkanlah dirimu. Kini engkau dapat kembali ke Bethlehem, biarlah aku yang menyampaikan beritamu ini kepada mereka. Tentu saja, harus kami selidiki terlebih dahulu..."

Doeg untuk pertama kalinya tersenyum lebar. Bagus sekali, pikirnya. Dengan demikian ia tidak perlu pergi ke dalam Yerusalem, dengan resiko dirajam batu karena salah melangkah di Hieron -- tentu saja sebenarnya Doeg hanya gembala biasa yang tidak tahu hukum, ia lebih banyak ditakut-takuti ketimbang mengetahui aturan sebenarnya.

Simeon tersenyum kecut melihat kegembiraan gembala muda ini, yang mengangguk cepat kemudian berbalik arah. Seandainya saja Doeg tahu, bahwa saat itu para imam dan orang Farisi terpecah-pecah dalam berbagai kelompok. Ada kelompok yang mau mencari aman di bawah pemerintahan Romawi. Ada kelompok yang ingin memurnikan ajaran Taurat sambil menyerukan perjuangan demi kebebasan. Ada lagi kelompok yang ingin agar orang Yahudi mengikuti arus pemikiran Yunani, seperti kumpulan orang-orang Saduki yang lebih banyak memakai akalnya daripada imannya. Jika ke tengah-tengah kelompok ini diberitakan tentang kelahiran Mesias, siapa yang bisa membayangkan apa akibatnya?

Tidak, berita kelahiran ini terlalu dini untuk diberitakan. Melihat raja Herodes (dikenal juga dengan Herodes the Great, yang saking jahat dan curiganya menjadi tega membunuh anak kandung sendiri, Aristobulus, yang dicurigai mau mengkudeta) siapa yang tidak merasa ngeri? Lagipula, raja yang kejam dan agak gila ini juga pandai mengatur orang. Herodes mengambil Mariamne, anak Simon sebagai istri ketiga, dengan menjadikan Simon sebagai imam kepala. Itulah sebabnya, sebagian imam lain menganggapnya sebagai 'imam boneka' tapi mereka tidak bisa terang-terangan menentang kekuasaan Herodes. Jika sampai Herodes tahu tentang kelahiran Mesias, pastilah anak ini dibunuh!

Simeon menghela nafasnya. Telah lama ia menyelidiki segala kitab suci dan menemukan banyak nubuatan tentang kelahiran Mesias. Ada empat hal bisa disimpulkan dari berbagai-bagai nubuat itu: Yang pertama, kedatangan Mesias adalah berarti kedatangan Elohim sendiri. Kedua, kedatangan Mesias berkaitan dengan perubahan sikap dan hati orang Israel, menjadi orang-orang yang lebih baik dan setia. Ketiga, kedatangannya membawa pembebasan. Keempat, beserta Mesias ada kuasa yang besar. Semua ini dengan mudah dapat ditafsirkan sebagai ancaman langsung terhadap penguasa Romawi yang haus darah seperti Herodes. Tidak terbayangkan apa  yang akan terjadi ketika Herodes berupaya melenyapkan ancaman atasnya!

Ia memutuskan, bahwa berita tentang kelahiran Mesias tidak perlu didengar oleh orang-orang yang tidak dapat menerimanya. Saat ini, Mesias masih merupakan sesosok bayi yang lemah. Tidak perlu menambah kesulitan dengan menyatakan keberadaan Anak itu sebelum waktunya. Simeon telah cukup banyak mempelajari kitab suci dan menemukan betapa hebat kedatangan Mesias beserta segala yang dilakukan-Nya! Karena pada akhirnya semua bangsa akan bertekuk lutut di hadapan Mesias, seorang Raja  yang datang memasuki kota dengan mengendarai seekor keledai.... Simeon tersenyum lagi. Kalau lahirnya saja di kandang, hanya dibungkus lampin dan dibaringkan di atas palungan, tidak terlalu aneh jika Raja ini datang dengan mengendarai keledai. Tak ada yang terlalu ajaib bagi rancangan Tuhan!

Namun Simeon tidak dapat menahan hatinya, ketika Roh Tuhan berbisik padanya untuk segera ke Yerusalem, ke Bait Allah. Ia mentaati dorongan ini, walau dirinya belum tahu seperti apa rupa Anak itu, seperti apa ayah dan ibunya, atau bilamana mereka akan ke Yerusalem. Seumur hidupnya Simeon selalu mentaati kebenaran. Ia selalu mengharapkan penghiburan bagi Israel. Betapa Simeon ingin menemui Anak itu! Inilah puncak dari segala kebenaran yang ditaatinya. Inilah hal terbaik dari semua kesalehan yang telah dijalaninya. Satu kali saja matanya bisa memandang Mesias, semua kesusahan hidupnya, semua jerih payahnya, semua pengorbanannya terbayarkan, bahkan berlebih!

Selama beberapa hari, Simeon dengan setia menanti di pelataran dalam Hieron. Seperti biasa, ia menyibukkan dirinya dengan melayani orang-orang yang bertanya kepadanya. Tetapi hari itu terasa lebih cerah dari biasanya, walaupun awan-awan hujan masih nampak bergulungan di kaki langit. Dari sudut matanya, Simeon melihat ke arah pintu gerbang masuk. Sepasang lelaki dan perempuan muda melangkah masuk, mereka nampak sederhana... dan lihatlah apa yang mereka bawa. Yang pria berjalan di depan, membawa persembahan sepasang burung tekukur. Yang perempuan menggendong seorang anak yang masih sangat kecil.

Deg.

Di antara semua orang yang berbisik-bisik mendengung di Hieron yang luas, Simeon seperti mendengar Roh berseru-seru memuliakan Tuhan, menyambut kedatangan Anak itu. Suara Roh begitu keras, hingga terasa menulikan telinga Simeon. Ia segera bangkit dari duduknya, lalu menyongsong pasangan muda yang begitu sederhana.  itu. Orang-orang di sekitarnya tentu saja menjadi heran dan terkejut, mereka lantas mengikuti Simeon menghampiri keluarga muda itu.

Deg.

Simeon tidak bisa menahan air matanya memandang mereka. Inilah dia! Penantian berakhir! Simeon hampir berlutut di hadapan mereka, tetapi ia masih bisa menguasai dirinya. Dengan tertatih-tatih ia menghampiri ibu muda itu, memandang kepada seorang anak yang lucu tertidur di pangkuan ibunya. Seluruh kerumunan orang memandang kepada mereka. Lelaki muda di hadapannya menyingkir, memberi jalan. Simeon terus melangkah hingga berhadapan dengan perempuan itu dan bayinya. Maria dan Yesus.

"Boleh?" tanya Simeon. Tangan tuanya terulur. Maria, sejenak ragu-ragu tetapi melihat kesungguhan Simeon, ia memberikan juga gendongannya. Simeon tidak bisa menahan air matanya turun melintasi pipinya yang keriput. Simeon lantas mengangkat Anak itu tinggi-tinggi sambil memuji Tuhan, katanya,

"Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel."

Karuan saja semua orang yang ada di sekitar tempat itu menjadi kaget, terutama ayah dan ibu muda yang baru tiba ini. Sudah gilakah orang tua ini? Tetapi Simeon terkekeh-kekeh senang, seperti seorang yang sudah siap untuk berangkat pulang. Dengan mata yang penuh sukacita ia memandang kepada ibu muda itu, sambil menyerahkan kembali Anaknya. Simeon lalu berkata, "Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan  --dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri--, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang."

Simeon seperti melihat segala hal yang diketahuinya terbuka di depannya. Luar biasa! Semua tulisan, mulai dari kitab Musa hingga kitab para nabi, semua yang begitu diingat dan dipahaminya, kini terlihat sebagai satu rangkaian. Semuanya adalah pintu dan jalan yang tersusun secara luar biasa, ditulis dalam waktu beratus tahun oleh berpuluh penulis -- nabi, pemazmur, pengkhotbah, imam dan raja -- yang membuat dasar bagi kehadiran Mesias. Walaupun ditulis oleh beragam orang dalam berbagai jaman, berita yang disampaikan saling terangkai dalam jalinan yang erat. Semuanya adalah bagian dari rancangan Allah untuk menyelamatkan Israel, bahkan menyelamatkan segala bangsa di atas muka bumi!

Namun sebagai seorang yang benar, Simeon juga tahu benar seperti apa kacaunya keadaan manusia saat itu. Perjalanan Mesias bukan hal yang mudah, dia bisa membayangkan bagaimana kehadiran Anak ini membawa perpecahan di antara orang Yahudi. Dengan kedatangan Mesias, orang tidak lagi bisa mengambil jalan tengah. Entah orang Yahudi harus mengikuti Dia, atau sebaliknya memerangi Dia. Simeon tidak bisa membayangkan apa yang kelak harus dilalui Mesias... tapi ia tahu pasti, apapun itu pastilah terlaksana sesuai kehendak Tuhan. Keselamatan tidak akan gagal diberikan, penghiburan sejati akhirnya bisa dinikmati oleh orang Yahudi!

Ah, seandainya saja Simeon tahu, bahwa penghiburan tersedia bukan hanya bagi orang Yahudi, melainkan atas seluruh dunia! Simeon adalah orang pertama yang menyadari kehadiran Kristus di dunia, yang paham apa arti kedatangan-Nya. Sebagai orang benar dan saleh, Simeon terlepas dari segala beban politik dan kepentingan yang menekan banyak ahli Taurat dan para imam. Seandainya saja mereka seperti Simeon! Karena sesungguhnya berita tentang kelahiran Mesias telah tercantum dalam Kitab Suci.

Kegemparan tempat itu bertambah, ketika seorang nabiah tua bernama Hana muncul. Ia sebenarnya berasal dari suku Asyer, anak Fenuel yang sudah lama menetap di Yerusalem. Nabiah Hana bukanlah seorang yang mendalami Kitab Suci seperti Simeon, tetapi ia telah sering mendapatkan nubuat dari Tuhan. Setiap hari Hana  berada di Bait Allah, dan demi melihat bayi Yesus diangkat oleh Simeon, ia memberi seruan pujian yang sama. "Terpujilah Tuhan! Lihat, Anak itulah yang memberi kelepasan bagi Yerusalem! Keselamatan bagi Israel!" Demikian perempuan tua berusia 84 tahun ini berseru-seru gembira. Tak pernah orang melihatnya demikian; ia yang biasa beribadah dengan berpuasa dan berdoa, kini bersorak-sorai bersukacita, penuh ucapan syukur kepada Allah.

Satu saja pandangan melihat Mesias, maka segala beban hidup terangkat sudah!

Kita tidak lagi menemukan Simeon dan Hana. Jauh sebelum Yesus menjadi besar, mereka sudah meninggalkan dunia ini dengan jiwa yang terpuaskan. Tetapi peristiwa yang dituturkan oleh para gembala, yang disaksikan oleh banyak orang hari itu di Bait Allah, tetap membekas. Kisah ini diteruskan dari ayah kepada anak, dari generasi ke generasi, hingga bertahun-tahun kemudian kehadiran Tuhan Yesus menimbulkan kegemparan hebat di langit dan bumi. Seperti yang dikatakan Kitab Suci, di atas bangsa yang berada dalam kegelapan, Terang itu telah bersinar!

Peristiwa Natal bukan sekedar mengingat bagaimana gembala di padang dijumpai oleh malaikat, atau bagaimana orang Majus yang bijaksana datang dari tempat jauh mengikuti bintang. Kita mungkin lupa kisah ini, bahwa Natal juga merupakan penggenapan dari Firman Allah, yang telah lama diberitakan kepada manusia. Inilah permulaan dari penggenapan Perjanjian, yang membawa kepada sebuah Perjanjian Baru bagi manusia, sehingga kita bisa mengambil bagian di dalamnya. Demikianlah kita kini merayakan Natal dengan penuh sukacita!

Selamat Hari Natal 2007, Tuhan memberkati kita sekalian. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,

Donny

Powered by Qumana

Manajemen Masa Sulit

Akhir dari bulan Januari 2009 ditutup dengan berita dari BPS, bahwa di bulan ini terjadi deflasi sebesar 0.07%. Ini adalah angka yang lebih besar daripada deflasi Desember, sebesar 0.04%. Beberapa orang bersorak karena deflasi berarti harga-harga turun. Akhirnya! Penurunan harga ini tentunya juga akan menurunkan BI Rate lebih lanjut lagi, sehingga suku bunga kredit turun. Berita baik untuk mereka yang sedang mencicil rumah atau mobil, atau mereka yang ingin mengambil kredit untuk biaya pendidikan. Lebih bagus, karena dengan tingkat suku bunga yang menurun, tentunya lebih mudah dan murah mendapatkan apa yang kita inginkan.

Di sisi lain, berita-berita tentang pemutusan hubungan kerja mulai menjadi perhatian. Di Amerika, Wall Street turun setelah diungkapkan ada lebih dari 500 ribu orang di PHK, dengan estimasi tahun ini lebih dari 3 juta orang kehilangan pekerjaan. Kita dengar perusahaan yang semula sangat kuat seperti Microsoft pun memangkas 5000 orang tenaga kerjanya. Di Eropa, tingkat pengangguran mencapai 8%. Di Jepang, perusahaan NEC dan Hitachi memutuskan 27000 karyawan, menambah deretan panjang penganggur -- sekarang ini orang Jepang mulai mencari pekerjaan di Cina. Namun di Cina pun terjadi penutupan banyak -- puluhan ribu -- perusahaan yang tutup karena tidak lagi mendapatkan order dari AS dan Eropa. Banyak perusahaan di Cina mempunyai masalah dengan kapasitas besar yang tidak terpakai di industri mereka.

Semua hal ini berkaitan dengan penurunan Produk Domestik Bruto (GDP) dari AS yang sangat parah, demikian juga Jepang, Uni Eropa, Singapura, New Zealand, dan sejumlah negara lain. Di balik angka-angka ini, yang kita lihat adalah menghilangnya produktivitas dari masyarakat negara maju. Hal ini terjadi karena tidak ada lagi 'pengungkit' (leverage) yang selama ini tinggi dan berlebihan atas produk dan jasa. Segala sesuatu yang semula bisa dijual dengan harga premium dengan margin keuntungan tinggi, sekarang harus menerima kenyataan bahwa harga wajar tidaklah setinggi itu. Artinya harus ada pemangkasan margin, sehingga nilai produktivitas usaha menurun.

Masalahnya, dalam banyak hal perencanaan keuangan dibuat dengan asumsi margin tertentu dan perputaran tertentu. Ketika harga turun, biaya-biaya tidak bisa serta merta diturunkan. Gaji pegawai, biaya sewa, dan biaya jasa tidak bisa langsung dipangkas. Langkah pengurangan biaya dengan memangkas biaya dan tenaga kerja akan menghilangkan banyak keunggulan inti, yang mengurangi kemampuan usaha untuk kembali bangkit di masa depan. Tetapi toh nyatanya pemutusan hubungan kerja masih terus terjadi. Untuk sementara, memang tindakan ini membuat posisi neraca dan rugi laba perusahaan menjadi lebih baik dan berakibat kenaikan sahamnya. Kita melihat efek-efek ini terjadi di hari-hari ini.

Sementara itu, pukulan kepada sektor riil menjadi lebih keras dan sukar untuk diatasi. Bagi para pelaku usaha yang konvensional dan tidak memiliki keunggulan yang spesifik, terutama yang berorientasi ekspor, krisis global kali ini terasa sangat berat. Pasar kita masih terselamatkan dengan adanya konsumsi domestik yang besar, walaupun sekarang ini mengalami penurunan daya beli. Bagaimana kita dapat memanajemen bisnis selama masa sulit seperti sekarang ini?

Pertama-tama, kita melihat bahwa di antara berbagai pasar dunia, pasar komoditas masih tetap aktif. Produk komoditas merupakan produk fundamental yang tetap dibutuhkan, walaupun keadaan finansial buruk. Indonesia menerima anugerah dengan banyaknya komoditas yang dihasilkan, sehingga memungkinkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik. Dari produk komoditas pertanian dan pertambangan, kita masih bisa mengharapkan pertumbuhan PDB di tahun 2009. Selain itu, kegiatan pembangunan juga masih sangat banyak -- justru masalahnya adalah daerah yang terlambat membangun, sehingga dana pembangunan bertumpuk di SBI. Jika pengelolaannya diperbaiki, pembangunan yang dilakukan akan meningkatkan perputaran ekonomi. Masih ada peluang pengembangan domestik yang besar.

Yang kedua, untuk mendorong pertumbuhan usaha domestik, Bank Indonesia telah melonggarkan kebijakan pemberian kredit. Sinyal yang diberikan adalah agar orang kembali mengambil kredit usaha untuk menggerakkan perekonomian - walaupun di sisi lain bank sekarang sangat berhati-hati menyalurkan kreditnya. Dalam usaha menengah - kecil, seringkali yang dijadikan jaminan adalah diri pribadi pemilik beserta kekayaannya. Dari sini kita dapat lihat bahwa kebutuhan pengelolaan resiko menjadi semakin penting, karena menentukan bagaimana dana dapat diperoleh dari sumber-sumber finansial.

Yang ketiga, dengan UU Pajak yang baru, kini semua pihak perlu memikirkan pengelolaan kekayaannya dan menghindari pungutan pajak yang berlebihan, terutama untuk masa depannya. Untuk jangka panjang yang pasti, sarana yang diberikan asuransi memungkinkan orang untuk menabung demi masa depan dengan tidak dikenai pajak, sehingga dapat melebihi inflasi yang mungkin terjadi. Manajemen di masa sulit kini tidak bisa terlepas dari produk asuransi yang memberikan perlindungan dan kebebasan dari pajak, dengan cara yang sah dan diijinkan.

Manajemen masa sulit membawa kita pada berbagai potensi-potensi yang ada di wilayah, dan mungkin mulai dari sekarang kita perlu memperhatikan pertumbuhan ekonomi di sentra-sentra produksi komoditas. Pertumbuhan ini akan dipacu lebih cepat dengan aliran dana kredit usaha dan dana pembangunan daerah. Orang-orang akan semakin membutuhkan produk asuransi dan investasi untuk menyeimbangkan hasil dan resiko usahanya.

Selain itu, bisnis juga membutuhkan jaringan kerja sama yang lebih luas, di mana usaha harus dikerjakan dengan kerja tim. Semakin besar wilayahnya, semakin banyak pula orang yang harus terlibat. Itu berarti dibutuhkan komunikasi yang baik, yang dimungkinkan oleh teknologi. Kondisi sulit membutuhkan juga produk yang memberikan jaminan dan kepastian -- berarti lebih banyak produk asuransi whole life. Jika orang masih menginginkan juga pertumbuhan yang baik, produk ini bisa dikombinasi dengan unit link yang preminya tunggal (misalnya, dalam Sequislife ada Smart Investor dan Investor Plus).

Kita perlu secara aktif melihat kebutuhan-kebutuhan para investor di Indonesia dan orang-orang yang mulai mengelola perusahaan mereka. Dengan memberikan perlindungan yang baik, mereka dapat berusaha lebih baik melalui masa sulit. Sebaliknya, jika mereka tidak mempunyai perencanaan yang memadai serta proteksi untuk menghadapi musibah yang mendadak terjadi, justru orang-orang yang memulai usaha akan menjadi semakin sukar karena tidak mempunyai banyak cadangan yang bisa menanggung beban kehidupan mereka. Dengan kebijakan pemerintah, kita melihat kesempatan yang justru semakin besar di tahun 2009 ini.

Pertanyaannya: apakah dengan adanya krisis ini kita melihat segala sesuatu dengan kacamata pesimis, atau justru kita bisa memandang terbukanya kesempatan-kesempatan yang tidak pernah muncul dalam situasi biasa?

Bersyukur

Di akhir tahun ini, kita sepatutnya bersyukur. Mari kita bersyukur oleh kenyataan bahwa Indonesia menjadi negara dengan pasar modal yang terbaik di dunia. Sementara pasar di mana-mana mengalami penurunan yang signifikan, pasar modal Indonesia dengan cepat menjadi pulih kembali dan memberikan pertumbuhan lebih dari 80%. Sangat mengesankan!

Kita juga bersyukur karena tingkat inflasi Indonesia sangat rendah, bahkan ada beberapa bulan yang mengalami deflasi. Ada kestabilan harga, paling sedikit dari kebutuhan pokok. Walaupun beberapa komoditi harganya sempat naik, kini telah kembali normal. Ini menolong banyak keluarga yang pendapatannya pas-pasan.

Selain itu, kita menemukan bahwa cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mencapai angka di atas 60 milliar USD. Ini memastikan keamanan neraca pembayaran paling sedikit selama 5 bulan. Tentunya ini membuat Indonesia mempunyai rating keamanan secara global.
Kita juga jangan melupakan kekuatan mata uang Rupiah, yang menguat dengan cepat setelah sempat melorot dalam periode pendek. Penguatan Rupiah membuat perubahan akibat kenaikan harga minyak menjadi tidak terlalu terasa, dan di dalam negeri kita mendapatkan kestabilan harga BBM -- padahal sekarang ini harga minyak mentah naik lagi.

Secara umum, ini adalah hal-hal baik di tingkat nasional dan global, walaupun dunia sedang mengalami krisis ekonomi global tapi bagi banyak rakyat Indonesia, segala sesuatu berjalan seperti apa adanya.
Itu adalah apa yang sudah berlalu. Bagaimana dengan apa yang akan datang?

Soal bunga tabungan dan pinjaman, kita menemukan bahwa BI Rate tetap bertahan di 6,5 % pada akhir tahun ini. Proyeksinya, ke depan angka ini tidak membesar, sebaliknya mungkin akan mengecil. Kalau bunga tabungan diperkecil maka orang cenderung tidak menyimpan uangnya lama-lama di bank, sebaliknya memasukkan ke dalam bisnis. Ini ditopang oleh bunga pinjaman yang semakin kecil, membuatnya lebih terjangkau orang. Seharusnya, orang lebih banyak berusaha -- pasti untung sekali.
Seharusnya untung…seandainya orang memang benar-benar bisa berusaha. Tapi, mari kita lihat beberapa angka.

Salah satu indikator adalah pendidikan. Data dari BPS menunjukkan 73% angkatan kerja produktif berpendidikan SMP atau lebih rendah. 23% antara SMA dan Diploma. 4% saja yang pendidikan S1 atau lebih tinggi. Kenyataannya, menjadi Pengusaha yang bisa memanfaatkan fasilitas yang ada membutuhkan prasyarat -- karena ada sejumlah hambatan untuk berusaha di negeri ini. Ada urusan perpajakan yang perlu diselesaikan, urusan perijinan yang harus diurus, belum lagi keterampilan untuk membuat pembukuan dan pengendalian operasional yang baik.

Ada yang bilang, bukankah sekarang ini buktinya ada orang-orang yang hanya lulus SD bisa menjadi pengusaha yang sukses? Memang betul, tapi harus dilihat juga bagaimana mereka bisa menjadi sukses. Apakah kesuksesan itu benar-benar muncul dari kemampuannya, atau hanya ekses dari pertumbuhan ekonomi yang mengesankan selama tahun-tahun 1990-an? Jika memang menguasai dan berjiwa wirausaha, tentunya di segala masa dia akan berhasil. Tapi, kalau dia mengambil kesempatan dari perubahan jaman, belum tentu kesuksesannya bisa diulang.

Apakah semua yang dahulu sukses sekarang masih tetap sukses? Kita melihat sejumlah industri mengalami kemunduran. Beberapa pengusaha yang dahulu bermodalkan kerja keras, kini kebingungan karena perubahan yang cepat dan tidak kenal ampun. Pengusaha dalam negeri sempat gentar melihat Cina masuk ke WTO dan tak lama kemudian membanjiri dunia dengan produk yang murah dan berkualitas. Coba lihat, sekarang ini berapa banyak barang yang dibawahnya bertuliskan "Made in China"?

Jadi, untuk sukses berusaha sekarang ini tidak cukup hanya bisa memproduksi sesuatu, atau mengerti suatu produk. Orang harus mempunyai kemampuan manajemen yang bagus untuk usaha yang lebih efisien, diikuti pengelolaan sumber daya manusia untuk meningkatkan potensi perusahaan dalam jangka panjang, serta tentunya sistem informasi yang bagus, baik eksternal maupun internal, dalam membuat analisa dan mengambil keputusan. Soal informasi ini, sekarang kebanyakan informasi yang penting tersedia dalam bahasa Inggris, jadi menuntut kemampuan berkomunikasi yang lebih beragam.

Intinya, dibutuhkan kompetensi yang lebih besar untuk menghadapi persaingan usaha, yang berarti butuh pendidikan lebih tinggi. Repotnya, kalau 73% angkatan kerja produktif berpendidikan SMP atau lebih rendah -- sampai tidak bersekolah, bagaimana kita menghadapi masa depan? Bagi para pengusaha, kesulitannya adalah bagaimana mengembangkan bisnis. Ini juga masalah: ada begitu banyak orang mencari kerja, ada begitu banyak orang yang bekerja, tetapi berapa banyak orang yang benar-benar kompeten untuk mengerjakan tugasnya?

Melihat angka-angka pendidikan, kita mungkin membayangkan bahwa kebutuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi sangatlah besar, jadi seharusnya semua lulusan Sarjana menempati posisi yang baik. Sayangnya, hal ini bukan kenyataan, karena buktinya sekarang ini banyak juga lulusan Sarjana yang tidak cukup kompeten, bahkan banyak juga Sarjana yang menganggur! Sedemikian parahnya, sampai orang mulai kehilangan kepercayaan diri kalau hanya lulus sarjana strata-1 -- sekarang orang mulai mengutamakan ijazah S2 sebagai tanda kompetensinya.

Orang kadang lupa, Sarjana Strata-2 itu lebih ahli dalam bidang yang semakin sempit -- sama sekali tidak bisa dianggap bahwa ia mempunyai kemampuan bisnis yang lebih baik (bahkan jika lulus Master dari perguruan tinggi di bidang manajemen bisnis). Kalau ia menghadapi hal-hal yang tidak dipelajarinya di bangku kuliah, walaupun titel namanya disebut "Master", ia tetap saja sama dengan semua orang lainnya: tidak tahu dan tidak menguasai.

Ini mengerikan. Jadi, sebenarnya apa kompetensi orang Indonesia? Kalau orang hanya bekerja ala kadarnya, tidak  mampu berinovasi dan berkompetisi -- apapun keadaannya sekarang, dia terancam mengalami kemunduran di masa yang akan datang. Jika ia berasal dari kelas menengah, ancamannya adalah penurunan kelas dan status sosial -- mungkin ia harus menerima kenyataan menjadi kelas bawah dan gaya hidup yang lebih keras dan berat.

Bersyukurlah kalau kita mempunyai kompetensi yang tetap bertahan di saat sukar. Bersyukurlah kalau sekarang kita telah memiliki perlindungan-perlindungan -- baik secara produktivitas, secara finansial, dan perlindungan terhadap mentalitas. Tapi, kalau belum ada perlindungan yang cukup -- buatlah sekarang. Dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, kesanggupan orang menanggung resiko sebenarnya mengalami penurunan, terkikis habis. Kalau resiko terjadi, akibatnya sangat merusak kehidupan.

Bersyukur adalah hal yang penting. Orang yang bersyukur menghargai apa yang ada padanya, dan bukan sekedar bertahan dalam dunia yang berubah. Inilah kompetensi yang kita miliki, kesempatan kita untuk menjadi berkat di dunia yang tua ini.