Cari Blog Ini

27 Juni 2010

Kesempatan

Ada saatnya orang mendapat kesempatan. Sekarang ini, dimana-mana banyak reality show untuk mengadu bakat alias talenta. Di Inggris ada Britain Got Talent. Di Amerika ada America Got Talent. Di Indonesia ada Indonesia Mencari Bakat. Memang, kita tidak yakin bahwa Indonesia sudah diberi bakat-bakat, sehingga masih mencari.

Bagaimanapun, ada orang-orang yang mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya, menghibur banyak orang, dan memberikan keuntungan besar bagi penyelenggara. Yang naik panggung setengah mati cari inspirasi, yang jadi fans bayar banyak dengan sms, dan sponsor bayar mahal untuk prime time. Penyelenggaranya cukup membayar Juri, yang terus menyemangati, memberi kritik, dan mendorong peserta untuk lebih giat lagi. Benar-benar kesempatan yang hebat!

Dalam kehidupan, sebenarnya kita semua punya kesempatan serupa, yaitu hidup kita sendiri. Seperti dalam show, ada yang menonton. Ada yang berusaha mengambil keuntungan. Ada yang mendukung, juga ada yang mengkritik. Kita bisa memilih, apakah mau tampil sembarangan, atau mau hidup bertanggung jawab.

Diujung cerita, ada Hakim Agung yang menghakimi. Ini bukan penilaian berdasarkan sms, bukan popularity contest. Ini adalah keadilan berdasarkan kebenaran, seperti kisah Lazarus.

Di akhir pertunjukkan hidup kita, apa yang dapat kita jawab?

Published with Blogger-droid v1.3.5

18 Juni 2010

Ngomong

Salah satu kelebihan manusia seperti saya adalah ngomong. Salah satu kekurangan manusia seperti saya juga, adalah ngomong. Kita suka, atau tidak suka, berbicara. Kita menjadi kuat dan lemah secara bersamaan karena bicara. Ajaib ya!

Tampaknya, membingungkan karena saat bicara orang juga berharap untuk didengar, sekaligus tidak mau mendengarkan orang lain. Repotnya, ada juga orang-orang yang tidak suka ngomong, sebaliknya ia hanya mendengar dan mengikuti apa yang dia suka dengarkan. Para pembicara dan presenter berusaha keras untuk mendapatkan pengikut, yaitu orang yang mendengar. Lantas, peran pendengar ini jadi begitu penting sehingga mereka diberi hak untuk menafsirkan apa yang mereka dengar. Suatu hak istimewa, sebab orang dapat memahami sesukanya, sekalipun berbeda dari maksud si pembicara!

Jadi, apa yang benar untuk dilakukan? Kebenaran, itulah ukurannya. Bicaralah soal kebenaran dengan lantang. Berdiam dirilah dalam kepalsuan atau dusta. Untuk melakukan itu, kita harus menyelidiki tentang kebenaran, sesuatu yang belakangan ini malas dikerjakan orang.

Pernyataan ini pun perlu diselidiki, tapi jika Anda malas mencari tahu, maka pernyataan ini telah terbukti pada diri Anda sendiri.

Selamat ngomong, semoga kebenaran ada di mulut kita.l

Published with Blogger-droid v1.3.4

10 Juni 2010

Kerja Cerdas

Kata orang, jaman sekarang kita perlu kerja cerdas, bukan kerja keras. Kalau hanya keras, mana cukup untuk membiayai hidup? Lantas, ukurannya adalah berapa pendapatan yang diterima. Kadang, caranya apa saja, termasuk korupsi. Apakah korupsi adalah salah satu bentuk kerja cerdas?

Sebenarnya, berbohong adalah salah satu bentuk kebodohan. Hari ini saya menemukan bagaimana manipulasi telah merugikan orang. Bagi pelakunya, mungkin ia merasa cerdas karena bisa cepat menutup penjualan dan terima komisi lumayan. Tapi sekarang konsekuensinya tiba, namanya buruk dan entah berapa pelanggan yang hilang. Ini tidak cerdas!

Kerja cerdas menuntut lebih banyak pikiran dan pengetahuan. Sikap utamanya adalah integritas, kesesuaian antara perbuatan dan perkataan. Integritas menjadi landasan kepercayaan, yaitu komponen penting dalam bisnis di abad informasi. Sikap lain adalah sikap melayani dan sikap positif yang memberi. Sikap yang benar membuat kita terpilih, berbisnis lebih banyak dan menghasilkan lebih banyak.

Cara mudah adalah jalan orang yang tidak berpikir, sama sekali tidak cerdas bagi pelanggan. Siapa yang mau berbisnis dengan orang yang lihai meraup uang orang lain?

Kalau mau cerdas, belajarlah baik-baik dan temukanlah apa yang benar-benar diinginkan orang.

Selamat bekerja!

Published with Blogger-droid

07 Juni 2010

Israel

Firman Tuhan mengatakan bahwa israel akan jadi sumber pertikaian, membawa sakit kepala bagi bangsa-bangsa. Memang banyak yang jadi sakit kepala, dan sekarang semakin menjadi-jadi. Mau bagaimana menghadapi israel?

Jika memikirkannya, akhirnya kita menemukan bahwa tantangan sebenarnya adalah apakah kita taat pada ketetapan Allah. Kita tidak dapat memahami alasan atau pertimbangan Tuhan, juga tidak dapat mengubahnya. Manusia sedunia boleh membenci israel, entah gereja yang antisemit atau muslim yang memeranginya, tapi israel masih tetap ada.

Dapatkah kita menerima bahwa barangsiapa memberkati israel akan diberkati dan orang yang mengutuki israel akan dikutuk? Ini adalah sebuah ketetapan, yang tidak berubah, baik manusia menyukainya atau tidak.

Published with Blogger-droid