Cari Blog Ini

04 Februari 2010

Kestabilan

Kestabilan adalah kunci keberhasilan di antara situasi ketidakstabilan. Bayangkan ada orang yang sedang berusaha menyalakan api di pinggir pantai. Usahanya hampir berhasil, api sudah menyala, tapi segera padam lagi karena angin bertiup kencang. Maka, orang akan berusaha melindungi api dengan badannya, dengan tangannya. Kemudian, api yang sedikit itu dipakai membakar ranting, kemudian menyalakan api unggun.

Kalau api unggun sudah menyala, angin yang datang justru membuat unggun menyala lebih besar. Angin yang tadinya mematikan, sekarang jadi menghidupkan lebih besar lagi.

Contoh lain adalah bermain layangan. Pernah mencoba menerbangkan layang-layang? Jika angin bertiup berubah-ubah arah pada saat pertama mau menaikkan layang-layang, maka usaha menerbangkan layangan itu menjadi sukar karena kita harus berputar mengikuti gerakan angin. Walaupun angin kencang, tapi kalau arahnya terus menerus berputar mungkin kita gagal menerbangkannya. Kita butuh kestabilan!

Sekali layangan itu terbang tinggi, perubahan arah angin tidak lagi menjadi masalah, sebaliknya ada kesenangan yang lebih besar.

Jadi, kita membutuhkan kestabilan, maka kita harus mencari atau mengupayakan kestabilan. Sekarang ini di dunia bisnis ada perubahan yang besar, yang ditakuti orang, bernama ASEAN China Free Trade Area. Bagi orang ASEAN, dimana-mana banyak yang khawatir. Bagi Tionghoa, ini adalah hal yang 'hidup' dan menyenangkan. Mungkin memang istilah itu benar: Tiong + Hoa, dimana Tiong = tengah dan Hoa = orang, membawa arti mereka menjadi orang yang hidup di tengah-tengah, di pusat dunia. Dan sekarang, China menjadi pusat segala harapan atas pertumbuhan ekonomi dunia.

Tapi, ini adalah angin yang besar, yang mungkin bisa memadamkan api-api di Indonesia yang redup dan kecil. Maksud saya bukanlah tentang modal atau kemampuan kerja, melainkan semangat dan nyali untuk menggerakkan diri menuju keberhasilan. Berhasil memenuhi tanggung jawab yang kita pikul. Berhasil mencapai impian di masa depan. Berapa banyak orang yang masih mempunyai semangat untuk berhasil?

Repotnya, untuk menjadi stabil juga membutuhkan semangat, jadi ini seperti lingkaran yang tak terputus. Semangat menimbulkan kestabilan, dan kestabilan menimbulkan semangat. Sebaliknya juga begitu: kegagalan untuk stabil menghilangkan semangat dan semangat yang hilang membuat kekacauan, ketidakstabilan. Pertanyaannya mana yang lebih dahulu: semangat atau stabil?

Kestabilan adalah hasil dari banyak situasi yang tidak seluruhnya dapat dikendalikan. Ini seperti pergerakan angin atau arus air; siapa yang tahu? Tiba-tiba saja, dari sepoi-sepoi angin menjadi badai. Kita bisa mengantisipasi, bisa meminimalisir, tetapi tidak mungkin dapat mengatur angin. Sebaliknya, semangat adalah pilihan yang dapat dibuat secara sadar. Kita bisa memilih untuk bersemangat, atau tidak bersemangat, tergantung dari apa yang kita pilih untuk dipikirkan.

Karena itu, kendali kita ada pada semangat, untuk menciptakan suatu kestabilan yang dikondisikan. Misalnya kita secara teratur melakukan presentasi dalam bisnis. Secara teratur kita memberikan nasehat agar orang-orang mempunyai kehidupan yang lebih baik. Secara teratur kita membagikan kebenaran, sesuai apa yang telah kita terima, yang dapat mengubah kehidupan orang lain yang bersentuhan dengan hidup kita. Orang-orang, kondisi sosial, bisa berubah-ubah tetapi kita tetap dalam kerja keras kita melangkah satu lagi, satu lagi setiap kali. Setiap hari. Setiap minggu dan bulan dan tahun, sampai akhirnya sampai di tujuan.

Kestabilan bukan sekedar memelihara sebuah kondisi, seperti menjaga status quo. Kestabilan juga berarti memelihara pertumbuhan, menjaga agar akselerasi senantiasa terjadi. Dapatkah kita secara teratur setiap hari memecahkan rekor terbaik hidup kita sendiri? Dalam kestabilan justru kita memelihara perubahan, yaitu perubahan yang kita kendalikan. Kita mau perubahan, kita memanajemeni perubahan, agar perubahan itu terus menerus terjadi sesuai harapan kita. Ini juga kestabilan, mirip seperti kestabilan dalam mengendarai sebuah mobil yang melaju kencang di jalan tol.

Adakah semangat untuk menjaga kestabilan? Pada mulanya, dibutuhkan energi yang besar. Tetapi seiring dengan waktu dan momentum yang terbentuk, muncul kebiasaan dari apa yang rutin kita lakukan. Kebiasaan ini membawa kestabilan dalam bisnis, dalam melayani, dalam segala sesuatu, sampai akhirnya kita bisa menyalakan unggun dan menikmati besarnya segala kebaikan yang sudah kita bina selama ini.

Selamat berjalan dengan stabil!