Cari Blog Ini

21 Desember 2007

Globalisasi Di Tangan TUHAN

Di saat globalisasi telah menjadi kenyataan, pertanyaan penting yang sering ditanyakan adalah "apa sikap orang Kristen?" Di satu sisi, pertanyaan ini berkonotasi bahwa seharusnya orang-orang Kristen memberikan respon yang berbeda. Seharusnya orang yang mengaku "Tuhan beserta saya" dapat memiliki sikap yang lain dalam menghadapi globalisasi. Kalau sikapnya masih sama saja, lalu apa makna dari keberadaan Tuhan di sampingnya itu? Lagipula, seharusnya ada rejeki lebih, rahmat lebih, berkat lebih dimiliki oleh orang-orang Kristen -- semuanya menjadi alasan bagi orang Kristen untuk berperan lebih banyak. Maka, tidak sedikit orang yang menaruh harapan lebih tinggi kepada mereka yang mengaku Kristen, apalagi pernah membagikan Firman Tuhan atau menyampaikan renungan. Seharusnya orang Kristen menjadi sumber rejeki (baca: uang) yang menjadi jalan keluar kesulitan masyarakat.


Pandangan ini mempunyai dua kesalahan yang mendasar. Yang pertama, kekayaan material bukan alasan dari penyertaan Tuhan. Orang tidak menjadi Kristen agar mendapatkan kekayaan material -- dapat uang, mobil, rumah, kemajuan usaha, peningkatan laba -- sebaliknya justru ada tuntutan bagi pemilik kekayaan untuk memakainya demi Tuhan. Kita menemukan tuntutan ini ketika Tuhan Yesus bertemu dengan orang muda yang kaya raya:


Luk 18:22 Mendengar itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: juallah segala yang kaumiliki dan bagi-bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."


Perhatikanlah, orang muda ini telah menjadi pemimpin dan kekayaannya luar biasa. Ia juga telah melakukan semua tuntutan religius, sehingga di mata kebanyakan orang Israel, ia adalah teladan yang baik. Tapi Tuhan Yesus menunjukkan bahwa kekayaan orang itu menghalanginya masuk Kerajaan Allah. Isu ini begitu mencemaskan para murid -- kalau begitu, siapa yang bisa diselamatkan? Jawaban Tuhan Yesus berdasarkan pada kekuasaan Allah: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah." Hanya oleh kuasa Allah, maka kekayaan tidak menghalangi orang mendapat hidup kekal, karena itu tidak mungkin kekayaan menjadi tujuan orang percaya.


Kesalahan yang kedua terletak pada penyebab perubahan: bukan orang Kristen yang membuat kehidupan lebih baik. Kalau ada sesuatu hal yang dihasilkan oleh seorang Kristen, maka hal itu membuktikan bahwa Tuhan berkuasa, Dia hidup dan berkarya. Orang Kristen itu sendiri tidak memiliki kemampuan lebih dari apa yang sudah diberikan, sebagai manusia ia tetap memiliki kelemahan dan melakukan kesalahan. Penyertaan Tuhan tidak membuat seseorang menjadi seperti Tuhan, atau mempunyai otoritas yang merupakan hak prerogatif Allah sendiri.


Kita perlu memahami bahwa rancangan Allah jauh ada di luar rancangan manusia. Allah bisa menolak orang muda yang kelihatannya begitu baik, teladan yang luarbiasa, hanya karena kekayaannya sangat banyak. Tetapi Allah juga bisa memilih orang yang berdosa, yang menyetujui kekerasan dan aniaya, bahkan menangkapi orang-orang Kristen sehingga namanya cukup untuk menterror orang yang mendengarnya. Orang jahat semacam ini pantasnya mati, tetapi seperti yang pernah dinubuatkan oleh nabi Yesaya:


Yes 55:7-9 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.


Saulus dahulu menjadi orang semacam itu, tetapi ia kemudian dipakai oleh TUHAN, selanjutnya berganti nama menjadi Paulus. Rasul Paulus. Pada diri orang ini ada semua ilmu, semua pengetahuan yang telah dipakai untuk menyiksa umat Tuhan. Tetapi dengan rancangan TUHAN, segala yang dipahaminya menjadi sesuatu  yang luarbiasa baik dalam mengembangkan Kerajaan Allah. Sekali lagi, bukan Paulus yang dapat menepuk dada atas segala kemampuannya. Ia sendiri menyatakannya demikian:


2 Kor 3:4-5 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.


Kalau Allah bisa memakai seorang Saulus menjadi Paulus, maka Ia juga dapat memakai segala hal yang semula nampak buruk, mengancam, menjadi suatu kebaikan. Yang penting adalah kita tidak melupakan apa yang paling penting: kita tidak mengejar kekayaan (dan memakai 'tangan Tuhan' sebagai alat untuk mendapatkannya) dan kita mengakui bahwa semua yang ada dapat dipakai oleh TUHAN untuk melaksanakan maksud-Nya. Kita tidak berotoritas untuk menentukan apa kehendak Tuhan -- kalau melakukan seperti demikian, apa bedanya kita dengan dukun-dukun mistik yang bisa memakai 'kekuatan gaib' untuk mewujudkan apa yang mereka kehendaki? Sebaliknya, kita mengikuti jalan yang terbuka di depan kita, sambil tetap berpegang kepada prinsip-prinsip yang Tuhan berikan, memakai ukuran kebenaran yang berasal dari Firman Allah untuk memutuskan.


Jadi, bagaimana kita melihat tangan Allah bekerja dalam globalisasi? Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah perintah Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya:


Mat 28:18-20 Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."


Perintah ini berkaitan dengan globalisasi. Kata-kata "jadikanlah semua bangsa murid-Ku" telah merobohkan tembok-tembok pembatas, tidak ada lagi satu pun bangsa yang tidak layak atau tidak berhak menjadi murid Kristus. Perintah ini telah membawa Injil ke seluruh dunia, hingga saat ini kira-kira sepertiga umat manusia di bumi adalah orang yang mengaku sebagai pengikut Kristus, walau ada banyak sekali denominasi dan aliran dan agama. Tetapi, ini baru satu bagian pertama dari pesan-Nya. Bagian kedua adalah tentang pembaptisan -- suatu pernyataan seseorang telah meninggalkan kehidupan lamanya dan memasuki hidup baru serta menjadi anggota gereja. Bagian ketiga adalah penerapan standar perilaku yang Tuhan Yesus berikan, "ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."


Dalam banyak aspek, kita bisa melihat bahwa apa yang terjadi dalam globalisasi sebenarnya cocok dengan jalan Tuhan. Seperti dahulu orang Romawi telah membuat jaringan jalan yang baik sehingga memajukan penyebaran Injil di seluruh kekaisaran Romawi, demikianlah hubungan yang tercipta dalam globalisasi memungkinkan kerja sama dan pengerjaan yang dahulu tidak pernah terpikirkan. Bayangkan, sekarang ini orang-orang dari berbagai tempat yang sangat berjauhan dapat berkolaborasi untuk mengadakan proyek penginjilan bersama. Teknologi komunikasi dan informasi membuat orang dapat mengirimkan pengajaran Kristen kepada berjuta-juta orang, dalam bentuk berita elektronik yang disebarkan melalui mailing list. Kerja sama juga memudahkan koordinasi terjadi, menyelaraskan aktivitas di berbagai-bagai belahan dunia secara instan. Sangat cepat dan langsung, karena sekarang orang dapat saling berkirim sms dari satu hp ke hp lain di negara dan benua yang berbeda.


Dalam globalisasi, memang dapat muncul individu-individu yang mempunyai pengaruh yang secara ekstrim mempengaruhi dunia, terutama di bidang ekonomi. Sekali lagi, kita perlu mengingat bahwa TUHAN sanggup menyentuh orang-orang semacam itu dan memakai mereka sesuai kehendak-Nya. Jadi, ketika sebagian orang merasa ngeri memikirkan bahwa globalisasi telah membuat beberapa orang menjadi 'raja' yang besar, kita dapat dengan yakin berpegang bahwa Tuhan dapat memakai 'raja' itu untuk melakukan apa yang Dia mau. Ini bukan sesuatu yang baru, sebenarnya kita sudah melihat bagaimana Allah memakai raja-raja besar jaman dahulu.


Ezr 1:1 Pada tahun pertama zaman Koresh, raja negeri Persia, TUHAN menggerakkan hati Koresh, raja Persia itu untuk menggenapkan firman yang diucapkan oleh Yeremia, sehingga disiarkan di seluruh kerajaan Koresh secara lisan dan tulisan pengumuman ini:


Pikirkanlah keunikan dari pernyataan ini: betapa seorang Koresh (Cyrus) penguasa kerajaan Persia yang besar dipakai TUHAN untuk menggenapkan firman seorang nabi dari sebuah bangsa  yang kecil, yang tidak sampai sepersepuluh luas kerajaan Persia saat itu. Tidak ada alasan untuk meragukan kuasa Tuhan di atas semua penguasa-penguasa ini, maka Tuhan juga dapat diandalkan untuk mengendalikan para 'raja' di jaman sekarang, baik untuk memberkati maupun untuk mengutuki. Baik untuk memberi maupun untuk menghukum. Meninggikan atau merendahkan.


Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa Tuhan membiarkan manusia menjadi susah karena globalisasi? Tetapi untuk pertanyaan ini, dapat juga ditanyakan, "mengapa tidak?" Ketika globalisasi terjadi, prestasi satu bangsa dengan bangsa lain dipertandingkan. Bangsa yang satu telah berusaha dengan lebih keras, lebih disiplin, lebih kreatif, bersedia memberikan lebih banyak. Bangsa yang lain bekerja lebih malas, lebih kacau, bekerja 'asal bapak senang', dan bersikap pelit serta penuh hitung-hitungan. Wajar bukan, jika bangsa yang pertama lebih berhasil daripada bangsa yang terakhir disebut?


Kita tidak bisa mengatakan, "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung," karena kita tidak tahu hari esok. Kita tidak tahu, apakah kita masih dapat tetap hidup sehat serta berusaha sampai tahun depan. Kita tidak tahu, apakah kita dapat berdagang dan betul-betul menerima keuntungan. Bagaimana jika kita meninggal nanti malam? Bagaimana jika ternyata ada pesaing dari negara lain, yang mustahil kita lawan karena mempunyai struktur harga yang jauh berbeda? Tetapi satu hal yang dapat kita pegang adalah: tanggung jawab kita adalah melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Kita harus melakukan perbuatan baik yang dapat kita lakukan, karena:


Yak 4:17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.


Di saat kita menerapkan nilai-nilai yang Tuhan berikan, maka kita telah mempunyai kunci untuk menjangkau seluruh dunia karena di sanalah ada kuasa Tuhan, sesuai dengan perintah-Nya. Ambil saja contoh tentang kesetaraan, misalnya. Isu kesetaraan telah lama menjadi isu global, antara negara-negara utara dan negara-negara selatan, antara ras kulit putih dan ras kulit berwarna, dan kalau disarikan dari semuanya: antara si kaya (utara, kulit putih) dan si miskin (selatan, kulit berwarna).. Firman Tuhan melalui Yakobus menegaskan bahwa pemisahan seperti itu merupakan pelanggaran:


Yak 2:9 Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.


Kita lihat, Firman Tuhan sudah lebih dahulu memberikan prinsip untuk bersikap. Ketika sikap ini dilakukan dalam konteks global, maka banyak hal yang muncul. Saat ini hampir semua teori-teori kesuksesan yang benar-benar teruji ternyata berkaitan dengan prinsip Firman Tuhan. Dalam pemasaran misalnya, kita mengenal High Trust Selling, oleh Todd Duncan. Dengan mudah kita menghubungkan teorinya dengan prinsip-prinsip Alkitab. Tak heran jika tokoh Kristen seperti John C. Maxwell telah menjadi pengajar Pemimpin yang terkemuka di dunia, di mana caranya bukan saja dipakai oleh orang Kristen, melainkan oleh semua kalangan. Prinsip Firman Allah itu benar dan efektif, nilai-nilainya meningkatkan hakekat dari segala sesuatu yang berhubungan.


Saya percaya, untuk mengatasi efek buruk dari globalisasi, orang Kristen justru harus masuk dan memanfaatkan semua hal. Orang Kristen harus bersedia masuk dalam perdagangan global, memasuki politik global, turut menangani isu-isu global. Orang Kristen dapat melakukan banyak hal baik dalam globalisasi, dan sudah semestinya kita melakukan apa yang Tuhan mau! Mungkin ada yang berkata, bahwa dalam globalisasi ada banyak yang tidak melakukan hal-hal benar, sebaliknya penuh tipu muslihat dan kejahatan. Benar, tapi tidak ada yang mengharuskan orang bertindak buruk dalam globalisasi. Orang yang percaya dapat menerapkan standar nilainya sendiri! Tidak ada yang dapat memaksa kita untuk melakukan diskriminasi, misalnya, atau mengharuskan kita mengambil untung berlebihan, atau menyuruh kita melakukan dumping harga untuk merebut pangsa pasar yang lebih besar. Semua adalah keputusan kita sendiri. Kita dapat berkawan dengan mereka yang menyimpang, tetapi kita pun dapat melawan mereka yang berbuat kejahatan.


Apakah mudah dan sederhana? Tidak, kompleksitas globalisasi membuat segala hal saling berhubungan secara rumit. Banyak pertimbangan yang harus dilakukan, tidak jarang yang terjadi adalah pilihan "yang terbaik di antara yang jelek-jelek". Namun, sekali lagi bukan kita yang menjadi penentu, bukan kita yang sanggup sendiri berjuang. Karena kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah, maka selama kita berkomitmen untuk memenuhi prinsip dan nilai dari Tuhan, Dia akan menyediakan segala yang kita perlukan, termasuk hikmat untuk mengatasi segala persoalan. Jadi, tidak ada masalah tentang kesanggupan -- dan dengan begitu, masalahnya tinggal ini: Apakah kita mau melakukannya?


Kalau mau, mari belajar bersama-sama, mari berjuang bersama-sama!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana


08 Desember 2007

Beban Globalisasi

Ketika seluruh dunia terhubung menjadi satu pasar yang sangat besar, ada beberapa hal yang terjadi. Yang pertama, arus uang semakin cepat berpindah. Dana dari satu benua dapat berpindah ke benua lain dalam hitungan detik, dan beberapa jam kemudian dapat terus berpindah lagi. Yang kedua, arus barang pun berpindah dengan cepat. Hasil tambang, hasil hutan, hasil perkebunan dari Indonesia berpindah ke negara lain, ke benua lain dalam hitungan hari. Barang produksi dari Cina, dari India, dari Amerika Selatan, sekarang memenuhi pasar-pasar di Indonesia.


Bukan hanya uang dan barang, tetapi manusia pun berpindah. Tenaga kerja dari Indonesia kini sudah dikirim ke berbagai penjuru -- sayangnya dengan status sebagai pembantu. Sebaliknya, banyak para ahli dari luar negeri, para expatriates, dibayar mahal untuk bekerja di Indonesia. Perusahaan - perusahaan di Indonesia semakin banyak yang dimanajemeni orang asing, karena kepemilikan asing bertambah. Seperti di dalam perbankan, hari ini agak susah menemukan bank besar yang masih secara mayoritas dimiliki orang Indonesia, dengan manajer puncak orang Indonesia.


Dengan segala pertukaran-pertukaran itu, kita melihat roda ekonomi yang lebih cepat berputar. Pabrik-pabrik bekerja dengan kapasitas yang lebih tinggi. Jumlah transaksi penjualan meningkat. GNP dan GDP tiap tahun bertambah, bahkan di negara-negara berkembang pertumbuhan ekonominya secara konstan selalu di atas 5%. Di Cina, dalam beberapa tahun terakhir ini pertumbuhan industrinya hampir mencapai 30%, sangat besar! Kita bisa melihat bagaimana pertumbuhan infrastruktur di Cina -- jalan tol, gedung pabrik, kantor pencakar langit -- bertumbuhan dengan kecepatan yang tidak terbayangkan.


Dengan semua pertumbuhan, apakah kesejahteraan juga dibagi semakin merata? Sayang sekali. Tidak.


Globalisasi bukan meningkatkan pemerataan kesejahteraan, sebaliknya dalam globalisasi terjadi individualisasi. Ketika orang saling terhubung satu sama lain, semakin hari semakin kentara bahwa hubungan yang terjadi bukan hubungan setara. Perlahan tapi pasti, sumber-sumber daya tertarik -- seperti oleh gravitasi -- ke individu-individu yang mempunyai kelebihan di atas mayoritas. Di dalam satu atau dua bidang, orang bisa mencapai suatu posisi yang tinggi sekali, sehingga banyak orang lain mengikutinya. Kelebihan mereka menjadi inspirasi bagi orang lain; mereka bilang, "cara paling cepat untuk sukses adalah mengikuti dan meniru orang sukses." Mereka menjadi raja jaman sekarang, menjadi idol yang diikuti banyak orang. Kita bisa membaca satu artikel tentang orang-orang ini dalam majalah Newsweek, 29 Oktober 2007, "Power Brokers" oleh Diana Farrell dan Susan Lund.


Sekarang, apa bedanya antara tokoh-tokoh tadi dengan raja-raja di jaman dahulu kala, yang selama berabad-abad mengatur kehidupan orang? Para raja jaman dahulu menjadi penguasa atas segala hal dalam kehidupan rakyatnya. Mereka harus peduli, harus memikirkan segala aspek -- sumber penghasilan, hubungan sosial, agama, politik, kekuatan militer, pendidikan, kesehatan, teknologi... semua. Seorang raja atau ratu yang baik harus menjaga keseimbangan dalam segala sesuatu yang diaturnya. Ia bertanggung jawab mengendalikan hidup rakyat. Maka rakyatnya akan datang dan menyerahkan segala urusan untuk diatur oleh sang penguasa.


Tidak demikian halnya dengan "raja" jaman sekarang, yang menjadi penguasa dalam bidang tertentu. Di saat posisi 'raja' secara tradisional tidak lagi populer, orang ingin menjadi 'raja' dalam bidang yang lebih sempit. Ada raja minyak. Raja kayu. Raja mobil. Raja pasar saham. Juga raja rock n' roll! Tentu saja, sebutan 'raja' di sini hanya figuratif, suatu gambaran, bahwa orang ini berkuasa dan punya sumber yang lebih besar daripada kebanyakan orang biasa. Sebagai tokoh di bidangnya, ia tidak dituntut untuk menguasai hal lain. Tidak bertanggung jawab untuk hidup 'rakyatnya', para penggemar yang secara fanatik mengidolakan, atau memimpikan, sesuatu yang mereka sampaikan. Bukankah orang jaman sekarang banyak dihidupi oleh mimpi?


Kekuasaan yang timbul di sekitar diri seseorang atau sekelompok tertentu membuat semua hal lain hanya menjadi alat, menjadi objek, yang kegunaannya adalah sebatas kesanggupan mereka memenuhi keinginan sang penguasa. Tentu, di luarnya tidak dinyatakan secara eksplisit demikian; sebaliknya yang disampaikan adalah 'kebaikan bagi semua pihak'. Ya, memang baik bila semua pihak membantu sang penguasa, bukan? Jadi, yang menjadi pekerja akan bekerja membanting tulang, seringkali dengan suatu impian yang besar, untuk memenuhi apa yang diharapkan sang tokoh yang diidolakannya. Si 'pekerja' di sini bisa diganti dengan orang lain. Mungkin, ia adalah seorang tenaga penjual. Atau buruh. Atau petani. Atau nelayan. Atau pekerja tambang.


Atau, saya dan Anda. Dan kemungkinan besar, orang tidak menyadarinya karena kita semua ada di dalam 'sistem'. Kita ada di dalam 'sistem' untuk mencapai impian kita, sesuatu yang dipercaya menghasilkan apa yang kita harapkan, walaupun dalam kenyataannya yang sungguh-sungguh diuntungkan adalah sekelompok kecil orang 'tokoh' yang mungkin tidak pernah kita kenal. Tokoh yang begitu hebat, begitu mendunia... dan mungkin ia bahkan tidak tinggal di Indonesia. Dan kita masih berpikir bahwa globalisasi itu baik dalam banyak segi!


Dalam globalisasi, golongan yang paling tertekan sebenarnya adalah golongan kelas menengah. Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang "ke atas belum punya kuasa, di bawah tidak lagi punya massa". Sementara ini, kebanyakan kelompok kelas menengah berharap kepada sistem yang digambarkan akan memberi 'kebaikan bagi semua pihak'. Karena itu, golongan ini dengan senang hati membantu tokoh-tokoh kelas atas memenuhi segala yang mereka inginkan, bahkan dengan sukarela berkolaborasi untuk menekan golongan kelas bawah. Mereka menjadi perisai bagi tokoh-tokoh 'besar' ini, bersedia setia dan taat sampai habis-habisan, dengan harapan bahwa 'sistem' yang ada akan menjamin kehidupan mereka kelak.


Saya dengan berat hati mengatakan, bahwa sangat mungkin harapan itu sia-sia.


Itulah sebabnya, sampai hari ini rakyat Indonesia masih berjungkir balik membanting tulang, sementara kelihatannya sistem yang ada masih belum memihak mereka. Ya, karena golongan menengah, termasuk yang duduk dalam pemerintahan, masih dengan setia menjadi bagian dan alat bagi tokoh-tokoh di negeri ini, yang barangkali nyaris tidak pernah disebut namanya di koran. Ya, karena kita pun yang menjadi golongan menengah ternyata di saat yang sama mengkritik sekaligus mendukung kondisi yang ada. Kita sudah lihat orang-orang yang semula mengkritik, ternyata turut melakukan apa yang dikritiknya ketika ia memangku jabatan.


Maka, agak terlalu jauh jika kita membahas bagaimana menyelesaikan masalah orang-orang yang diperalat, yang menjadi objek, yaitu kaum marginal yang ada di bawah. Kebanyakan kita berbicara tentang memberi mereka pendidikan yang lebih tinggi, karakter yang lebih baik, agar mereka bisa naik kelas menjadi golongan menengah... yang kemudian menjadi pengikut tokoh di atas, lantas berbalik menekan kaumnya, seperti kacang lupa kulitnya. Ironi, ketika seorang anak desa setelah menjadi pejabat malah berbalik menekan orang desa, demi mematuhi seorang tokoh di ibu kota yang tidak pernah menginjakkan kaki di desanya (dan tentu saja, sebenarnya tidak pernah peduli pada nasib orang desa yang tidak pernah dilihatnya).


Lantas, apa solusinya?


Sejujurnya, saya tidak melihat adanya sebuah solusi sederhana bagi sebuah masalah yang kompleks. Tapi, kalau kita bisa lebih baik mendefinisikan masalah maka kita sudah ada dalam arah yang benar untuk memperbaiki keadaan. Kemudian, yang lebih mungkin adalah membuat pengkajian yang lebih detil tentang situasinya, sehingga kompleksitasnya bisa dikurangi dengan melihat dalam skala yang lebih kecil, dalam sebuah konteks yang terlihat batasannya. Dan faktor kuncinya adalah menerapkan prinsip-prinsip yang benar, kebenaran yang absolut.


Peran orang Kristen, saya yakin, adalah menjadi pembawa kebenaran mutlak ini, karena hanya kita yang memiliki kebenaran. Dan, kebenaran itu akan membebaskan kita... Tuhan memberkati!


Salam kasih,


Donny


Powered by Qumana

12 November 2007

Kebenaran Dalam Arena Globalisasi

Ketika ekonomi dihubungkan dengan kekristenan, pertanyaan yang seringkali muncul adalah: "Apa konsep ekonomi yang paling sesuai dengan iman Kristen?" Ada begitu banyak pendapat, masing-masing berusaha menggali dari Alkitab, di mana kadang-kadang pendapat yang (katanya) berasal dari tafsir Alkitab itu ternyata saling bertolak belakang. Lagipula, jika diperhatikan ternyata banyak pendapat itu tidak hanya berkaitan dengan ekonomi, tetapi banyak berisi tentang etika sosial dan lebih spesifik lagi, politik. Yang dikemukakan adalah berbagai peristiwa politik, berkaitan dengan banyak kepentingan dan kompetisi memanfaatkan kesempatan demi berbagai keuntungan -- termasuk keuntungan ekonomi.

Kenapa teori ekonomi -- teori ekonomi klasik, Keynesian, atau neo-klasik -- dikemukakan? Ketika Adam Smith meluncurkan Wealth of Nations di tahun 1776, ia merangkumkan apa yang mulai terjadi pada masanya. Ia melihat bagaimana industri bergerak, menyadari adanya upah, biaya sewa, dan kapital -- berbeda dengan sistem feodal yang berlaku sebelumnya. Teori Adam Smith menginspirasi banyak kawasan lain untuk mewujudkan pasar bebas, dengan tujuan lebih mensejahterakan masyarakat. Tapi apakah memang teori ini berlaku secara universal?

Keynes berusaha mengkoreksi dengan memakai analisa matematika ekonomi yang lebih lengkap. Sebaliknya dari pasar bebas, ia menganjurkan peran Pemerintah yang lebih besar. Tujuannya? Sama, yaitu agar lebih mensejahterakan masyarakat. Tapi Keynes pun mulai di "koreksi", lalu orang kembali ke teori pasar bebas namun dengan analisa matematika ekonomi. Kita mengenalnya sekarang dengan teori ekonomi neo-klasik, yang sekarang menjadi berbagai parameter untuk melihat perekonomian nasional. IMF dulu datang dan memakai parameter-parameter ini, berdasarkan teori neo-klasik, untuk membenahi perekonomian Indonesia. Hasilnya? Indonesia bercerai dari IMF karena tidak ada sesuatu perubahan nyata.

Jadi kita lihat, bahkan para ekonom pun tidak dapat memastikan hasil suatu perekonomian dari teori-teori ekonomi yang ada. Bagaimana orang Kristen dapat mengkaitkan Alkitab sebagai sebuah sumber teori ekonomi? Yang pertama, Alkitab jelaslah bukan buku sumber ilmu ekonomi modern. Tafsiranlah yang menghubungkan Alkitab dengan ekonomi, dan dalam hal ini ada kemungkinan besar sekali tafsiran itu diramu bukan hanya dari Alkitab, tetapi juga dari pemahaman penafsir tentang ekonomi, sosial, dan politik. Yang kedua, suatu teori ekonomi selalu terbatas pada keadaan tertentu dalam kerangka waktu dan tempat, karena manusia hidup dalam cara yang berbeda-beda. Begitu sebuah teori ekonomi dijadikan patokan universal, itulah permulaan dari kejatuhan teori ekonomi tersebut, karena gagal terlaksana di kondisi yang berbeda.

Keberbedaan ini semakin mengemuka, justru karena adanya globalisasi. Proses globalisasi telah menciptakan "benturan" di mana orang menyadari perbedaan-perbedaan. Sebaliknya dari berusaha bersikap "rasional" yang cenderung membuat hanya satu jawaban bisa diterima, justru kini perbedaan dirayakan, diterima sebagai hal yang menguntungkan. Dalam konteks perekonomian, ini berarti memudarnya otoritas teori ekonomi apapun, digantikan dengan hal-hal yang berlaku di waktu dan tempat, sesuai dengan orang-orang yang ada, untuk bersepakat bersama-sama meningkatkan kesejahteraan masyarakat di situ. Semua ini cocok, pas dengan filosofi post modern yang masuk ke masyarakat sebagai pandangan hidup kontemporer. Bukan berarti bahwa semua peristiwa atau kondisi ini muncul karena adanya filsafat kontemporer; saya kira justru kedua hal ini muncul secara bersamaan dan saling memperkuat. Orang menemukan bahwa yang paling penting adalah "beradaptasi" di mana ia mengikuti lingkungan di mana ia berada. Perbedaan bukan lagi sesuatu yang berada di luar manusia, melainkan ada dalam dirinya sendiri.

Apakah memang post modernisme memberikan suatu cara hidup yang terbaik, sehingga pada akhirnya kita pun selayaknya senantiasa beradaptasi? Apa salahnya menjadi konservatif di Gereja, sementara di kantor meluncurkan pemasaran yang amat liberalis ke pasar? Tapi, bagaimana dengan prinsip-prinsip Alkitab -- atau memang Alkitab sama sekali tidak relevan, seperti yang dinyatakan oleh sekularisme?

Dalam kenyataannya, ekonomi terjadi di pasar. Itu bisa berarti toko saya atau Anda, berarti penjual di mall atau shopping center, berarti transaksi antar-warga yang terjadi di rumah, berarti aktivitas produksi dan penjualannya di pusat-pusat grosir, distribution center, dan lain sebagainya. Ekonomi dibangun pada apa yang benar-benar terjadi antara penjual dan pembeli, dan dari sana berkembang ke berbagai hal -- dalam permodalan, ada pasar modal, dalam komoditi ada bursa komoditi, dan sebagainya. "Kecanggihan" sistem ekonomi seolah-olah dapat membuat adanya pemisahan, misalnya antara pasar riil dengan pasar modal, antara makro ekonomi dengan mikro ekonomi. Untuk sesaat nampaknya begitu, sampai kita melihat bahwa yang "makro" itu seperti gelembung sabun dan bisa pecah berderai ketika terjadi krisis moneter.

Herannya, orang masih tetap suka dengan gelembung. Hari ini dana di SBI (sertifikat Bank Indonesia) telah mencapai Rp 200 Triliun, dengan tingkat bunga yang besar, hari ini saja beban bunga BI mencapai Rp 17 Triliun. Ini sebuah masalah; entah kapan akan terjadi saat di mana gelembungnya menjadi besar, sampai mungkin mencapai Rp 1000 Triliun, lalu BI menyerah karena tidak sanggup membayar bunganya? Entah apa yang terjadi jika instrumen moneter seperti SBI mengalami default!

Yang sungguh-sungguh nyata ada dalam 2 hal. Yang pertama adalah PENYEDIAAN. Yang kedua adalah NILAI TAMBAH. Sebuah transaksi terjadi karena kedua hal ini: ada transaksi yang membeli barang atau jasa yang tersedia, ada juga transaksi karena nilai tambah. Suatu ketersediaan muncul dari kreativitas manusia yang menciptakan sesuatu yang diinginkan karena dibutuhkan manusia lain. Ini biasanya muncul sebagai "barang baru" -- penentu keberhasilannya adalah sejauh mana hal itu diinginkan banyak orang. Apakah barang tersebut mempunyai nilai tambah? Mungkin ya, mungkin tidak. Ada barang yang dibeli hanya karena ia baru, bukan karena nilai apa pun yang diberikannya. Ini mungkin telah menjadi pendorong besar ekonomi di era industri, di mana nampaknya sebagian besar barang yang muncul di pasar adalah barang baru.

Di dunia yang sudah serba-ada, transaksi lebih ditujukan kepada nilai tambah. Sekarang penentunya adalah informasi tentang nilai tambah apa yang disediakan, di mana disediakannya, dan bagaimana cara memperoleh nilai tambah itu. Dan di sini kita melihat adanya kebingungan tentang nilai. Kalau sesuatu dikatakan "bernilai tambah", bagaimana persisnya menentukan bahwa sesuatu itu benar-benar bernilai tambah? Apa cara mengukurnya?

Penentu dari nilai dalam segala sesuatu yang ditransaksikan, pada akhirnya, adalah manusia. Masalahnya, (1) manusia itu bermacam-macam dan (2) waktu dapat mengubah nilai-nilai yang dijadikan patokan mengukur. Post modernisme menerima segala nilai yang berlaku antara banyak orang di banyak waktu dan tempat, seraya menolak fondasionalisme yang mengabsolutkan suatu standar dasar penilaian. Manusia memang bertumbuh: dari lahir, bayi, remaja, dewasa, tua, dan renta hingga meninggal, di mana dapat muncul nilai-nilai berbeda sebagai hasil dari interaksi dalam seluruh kehidupannya. Sampai di sini, nampaknya kita memang harus mengakui bahwa filosofi post modern benar. Ada banyak nilai, dalam banyak situasi dan kondisi, yang dapat dipegang oleh seseorang selama hidupnya. Menolak untuk berubah adalah suatu kesalahan, demikian juga mengabsolutkan suatu nilai dapat mendatangkan "kerugian" -- walau yang disebut "kerugian" pun harus dilihat cara mengukurnya.

Namun, menurut saya post modern mempunyai dua kelemahan mendasar. Yang pertama, penilaian yang benar-benar bermakna adalah apa yang terjadi dalam jangka panjang, bukan jangka pendek. Penilaian post modern cenderung mengukur segala sesuatu dalam kurun waktu yang pendek, apa yang "baik" adalah yang bagus pada saat itu saja. Karena nilai-nilai dalam post modernisme selalu ada dalam relativitas, maka makna hanya diterima dalam satu periode waktu, yang biasanya singkat. Tapi manusia tidak hidup sependek itu, dan apa yang "baik" dalam waktu yang singkat dapat menjadi hal yang 'buruk" dalam jangka panjang, bahkan menjadi bencana dalam sekian tahun terakhir kehidupan orang. Kesenangan sesaat dapat menjadi kutukan yang menghantui orang di sepanjang sisa hidupnya, bahkan dalam kekekalan. Sesuatu yang bernilai tambah seharusnya memiliki nilai jangka panjang, bukan jangka pendek.

Yang kedua, manusia itu sendiri dalam keberadaannya tidak berubah, seperti yang dari semula telah diciptakan oleh Tuhan. Apa yang menjadi sifat manusia, kelemahannya dalam dosa dan kelebihannya dalam kemampuan, tidak berubah. Yang berubah adalah pengetahuannya, pengalamannya, dan kondisi yang melingkupinya. Sekarang orang mempunyai teknologi yang jauh-jauh-jauh lebih maju daripada seabad lalu. Sekarang orang mempunyai pengalaman globalisasi. Sekarang jumlah manusia di seluruh dunia ada begitu banyak, dan setiap tahun jumlahnya tidak berkurang. Tapi dahulu yang banyak adalah penduduk di negara maju, sekarang yang banyak adalah penduduk di negara berkembang. Semua ini saling mempengaruhi, tapi lihatlah bahwa manusia itu sendiri, pada dirinya sendiri, tidak berubah. Karena tidak berubah, maka tidak relatif. Jadi, teori postmodern tidak tepat, karena ada suatu kebenaran mutlak yang permanen tentang diri manusia.

Lihatlah. Apa yang dicari orang dunia masih soal uang, kekuasaan, dan seksualitas. Masalah orang masih tentang membunuh, mencuri, berzinah, berdusta, menginginkan milik sesama, dan karakter buruk lainnya. Yang dihargai orang dan diterima masih tentang kasih, sukacita, damai sejahtera, kebaikan, kesabaran, kemurahan, kesetiaan, kelemah lembutan, dan penguasaan diri. Kita lihat: ketika bicara tentang nilai yang manusia hargai, apa yang dahulu dan sekarang masih tetap sama. Masalahnya sama. Penyelesaiannya juga sama.

Saya berpendapat, Alkitab bukan bicara tentang ilmu ekonomi. Tetapi Alkitab menyatakan apa yang benar-benar bernilai, baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, sesuai dengan apa yang Tuhan --Pencipta manusia-- nyatakan tentang ciptaan-Nya. Dan dalam hal ini, nilai-nilai dari Alkitab adalah nilai yang mutlak, absolut karena Tuhan tidak berubah dan hakekat manusia pun masih tetap sama. Maka, Alkitab memang tidak menjadi landasan hukum ekonomi, tetapi memberikan apa yang menjadi nilai tambah yang perlu diberikan. Kebenaran yang mutlak adalah benar di mana pun, kapan pun, dan bagi siapa pun adanya.

Demikianlah: nilai-nilai dari Firman Tuhan seharusnya menjadi nilai tambah dari segala aktivitas ekonomi orang Kristen, yang tidak diukur dalam jangka pendek saja tetapi juga dalam jangka panjang. Dengan begitu, kebenaran meningkatkan kehidupan orang -- karena itulah maksudnya menambah nilai -- yang mempengaruhi seluruh relasi dalam masyarakat. Sementara post modernisme menerima segala hal sebagai relatif sehingga nilai-nilai muncul dan musnah dalam berjalannya waktu, kebenaran dari Firman menetapkan nilai-nilai yang bersifat kekal.

Kebenaran tidak tergantung pada teori ekonomi yang digunakan untuk membentuk kemasyarakatan. Entah teori klasik atau Keynesian atau neo-klasik, apa yang benar-benar berharga tetap sama bagi manusia. Entah digunakan dalam lingkup domestik-lokal seperti wilayah terpencil di Indonesia atau dalam lingkup global yang melintasi berbagai negara, apa yang dimuliakan tetap sama mulia. Nilai-nilai ini mungkin tidak hanya muncul dari kekristenan; sebenarnya kita juga bisa menemukan nilai-nilai diberikan oleh banyak kepercayaan lain, agama lain. Mungkin dari sana kita menemukan notasi, "semua agama sama" ketika berbicara tentang kebaikan yang dapat dibuat manusia: kejujuran, kenyamanan, kedamaian...

Alkitab bicara tentang menguji roh, menguji nilai-nilai. Tidak semua yang dirasa baik itu benar serta tetap dirasa baik di masa depan. Pengujian juga mensyaratkan bahwa ada yang cocok dan tidak cocok, benar dan tidak benar dalam terang Firman Tuhan. Ketika nilai-nilai yang benar dibawakan dalam semua barang dan jasa yang diberikan -- dalam pengertian yang lebih luas: "pelanggan ada di proses berikutnya" -- dorongannya akan mempengaruhi bagian lain, bahkan menjadi suatu inspirasi global. Penilaiannya bukan dalam relativitas terhadap pandangan lain seperti pada post modern. Itulah kebenaran dalam arena globalisasi.

Seberapa jauh komunitas Kristen menyatakan identitas kekristenannya ketika meluncurkan suatu hal ke dunia global? Karena sekularisme, banyak hal yang berasal dari kekristenan kehilangan identitas kristennya. Namun dengan cepat kita bisa melihat dan memahami notasi-notasi kristen di dalamnya, bahkan ketika pembawanya sama sekali bukan orang kristen. Amerika adalah negara Kristen, banyak produk dan jasa dan metode yang diwarnai kekristenan, tapi sekarang dikatakan bahwa itu adalah hal-hal yang umum: kualitas, pelayanan lebih baik, pengorbanan, dedikasi, dan sebagainya. Amerika tidak dibangun oleh teori-teori ekonomi tertentu, melainkan produk dan jasa yang diberikannya!

Itulah yang membuat negara Amerika kuat. Saya percaya, itu juga yang dapat membangun negara ini. Bukan teori ekonomi ini atau itu, melainkan bagaimana orang Indonesia memberikan hasil dengan nilai tambah yang sesuai dengan kebenaran, yang bernilai dalam kekekalan. Semua hal yang sungguh riil, nyata, bukan hanya wacana dan diskusi melainkan diwujudkan. Nilai-nilai ini pula dapat menyembuhkan "penyakit" yang mendera bangsa dan negara ini, dan dengan pengaruhnya mengikis sifat korupsi, kolusi, dan nepotisme yang sudah seperti kanker stadium akhir, merasuk di mana-mana.

Sayangnya, nilai tambah sesuai kebenaran mutlak ini hanya bisa diberikan oleh orang yang benar-benar memahaminya, artinya orang itu harus mau mempelajari Alkitab. Dan untuk mampu memahami Alkitab, ia harus berangkat dari satu landasan iman -- percaya Tuhan Yesus Kristus. Bukan filosofi post modern yang bisa menolong ekonomi yang dalam kesulitan, melainkan pemahaman iman Kristen yang diwujudkan dalam produktivitas riil, dalam semua produk dan jasa serta metode yang benar dan penuh hikmat. Post modernisme tidak bisa diperangi, tetapi bisa digantikan oleh sesuatu yang memang dalam hakekatnya lebih baik, lebih tepat, dan tetap berlaku di masa depan.

Pertanyaannya: apa yang telah kita berikan, sebagai umat Kristen?


Powered by Qumana

10 November 2007

Globalisasi

Liberalisasi ekonomi tidak dapat dilepaskan dari keadaan masyarakat dunia saat ini. Kalau dipikirkan, sebenarnya semua teori ekonomi adalah benar pada jamannya; teori klasik benar di saat mulainya jaman modern, dan Keynes benar saat dinyatakan pertama kali di paruh pertama abad ke-20. Tapi masyarakat berubah sesuai dengan cara orang berkomunikasi satu sama lain, di mana kemajuan terbesar dimulai dengan terhubungnya saluran telegraf yang dibuat oleh Bell.


Sejak waktu itu, kita melihat keterkaitan erat antara ekonomi dengan teknologi. Setiap kali sebuah temuan teknologi hadir, ekonomi didorong lebih cepat. Komunikasi pertama-tama terjadi antara orang dengan orang; pesan atau berita yang tadinya butuh waktu berminggu-minggu, kini bisa diterima dalam hitungan hari. Telepon merevolusi hubungan antar manusia sehingga orang di satu belahan dunia bisa secara langsung bicara dengan orang di belahan dunia lain. Peningkatan ekonomi yang tercipta adalah peningkatan eksponensial; globalisasi dimulai dengan terpasangnya kabel-kabel telekomunikasi bawah laut antar benua dan diluncurkannya satelit-satelit di orbit geostasioner mengelilingi bumi.


Itu baru permulaannya. Hubungan antar orang memang membuka banyak peluang, tetapi yang lebih perlu sebenarnya adalah komunikasi data. Di mulai dari proyek militer seperti ARPA, kini komunikasi terjadi antara komputer dengan komputer. Data dalam jumlah besar dapat dipindahkan dalam waktu nyata / real-time dan manusia dapat terhubung secara virtual. Saya dengan Anda dapat hadir dalam sebuah "ruang" yang sama tanpa harus secara fisik berada di sana. Ini meningkatkan ekonomi ke skala globalisasi, ketika Perusahan-Perusahaan memanfaatkan teknologi dan membangun basis-basis manufakturnya di lokasi-lokasi yang berbeda di seluruh dunia.


Kalau sudah begini, teori ekonomi apa yang masih berlaku? Sekarang produk dari Cina dipasarkan di lima benua. Hasil keringat tenaga kerja di Brazil dinikmati di Indonesia. Harga-harga kini ditentukan bukan dalam kondisi lokal, melainkan global. Itu bisa berarti harga yang semakin mahal, atau lebih mungkin lagi, harga yang jauh lebih murah karena ongkos produksi yang dapat ditekan. Perbedaan kemampuan antar negara juga menjadi sumber keuntungan Perusahaan; mereka memproduksi di negara yang mata uangnya lemah, untuk dipasarkan di negara yang mata uangnya tinggi. Pemerintah tidak lagi hanya perlu memperhatikan pasar tenaga kerja dalam negeri, tetapi juga harus berkompetisi dengan tenaga kerja di negara lain. Belanja Pemerintah tidak lagi menjadi pendorong terbesar, karena sekarang dana-dana swasta telah menyamai, atau bahkan melebihi, dana pemerintah.


Malangnya, negara seperti Indonesia terlalu lambat mendidik rakyatnya untuk berpartisipasi. Dalam globalisasi, suatu "nilai tambah" yang diberikan harus memenuhi standar-standar tertentu; kalau tidak maka nilai tambahnya itu tidak signifikan, tidak berarti. Misalnya saja, orang membuat sesuatu jasa, atau sebuah produk. Yang dihasilkan itu bagus, menarik, amat bernilai secara lokal. Tetapi tidak ada penjelasan dalam bahasa lain, tidak ada keterangan dalam bahasa Inggris dan Mandarin -- maka produk yang bagus itu tidak bernilai saat dibawa keluar, karena tidak komunikatif. Kita saat ini memiliki Undang-Undang Perlindungan Konsumen yang mengharuskan setiap produk yang dijual di Indonesia mempunyai keterangan dalam Bahasa Indonesia. Tapi yang lebih penting sebenarnya: apakah setiap produk yang dibuat juga mempunyai keterangan dalam bahasa asing sesuai negara tujuan pemasaran?


Sekarang kita membeli produk buatan Malaysia, Thailand, dan Cina, yang dipajang di rak-rak toko raksasa yang merupakan jaringan raksasa global seperti Carrefour, Giant, atau Wal-Mart. Konsultan AC Nielsen mengatakan, saat ini lebih baik para peritel tradisional di Indonesia bergabung dengan jaringan retail seperti Alfamart, Indomaret, atau -mart lain untuk mendapatkan produk yang lebih kompetitif dengan harga lebih rendah. Ekonomi sekarang tidak lagi dapat dijabarkan dalam keputusan-keputusan individu, karena kekuatannya ada pada kelompok. Untuk berhasil, orang harus berkelompok, bekerja sama.


Kalau begitu, kenapa tidak dimulai segera? Untuk bekerja sama, pertama-tama orang harus berada di satu 'ruang' yang sama. Ini seperti mendayung perahu naga: orang harus mau duduk berderet-deret, memegang dayung dengan cara tertentu, dan mengayuh berdasarkan satu irama gendang. Orang tidak dapat mengayuh sendiri, atau tidak mengikuti irama, bahkan ketika irama itu salah. Konon, kecepatan sebuah perahu naga tidak tergantung kepada pengayuhnya, melainkan pada penabuh gendangnya. Jika iramanya terlalu cepat, para pengayuh akan segera kehabisan tenaga dan gagal mengikuti ritme. Jika iramanya terlalu lambat, perahu naganya akan ketinggalan. Itu sebuah perahu, dengan aktivitas fisik yang jelas dan nyata. Bagaimana dengan kegiatan ekonomi?


Nilai tambah yang diberikan harus mengikuti 'ritme' dari kelompoknya. Jika yang dilakukan adalah korupsi, maka setiap orang di kelompok itu harus berkorupsi. Jika yang dilakukan adalah kerja keras sampai malam, maka setiap orang di kelompok itu harus rela kerja keras sampai malam. Pertanyaannya: kita sekarang ini berada di kelompok apa, mengikuti ritme apa? Ada filosofi yang berbeda, motivasi yang berbeda, visi dan misi yang berbeda. Di Indonesia, banyak yang visi dan misinya berbunyi, "menjadi yang terbaik," dalam pengertian "yang paling banyak mendapatkan segalanya." Orang yang bekerja di Pemerintahan pun berlomba-lomba mendapatkan bagian terbesar, bahkan ketika mereka diharapkan berdedikasi untuk melayani dan memberikan segalanya. Ujung-ujungnya adalah nilai tambah apa --atau nilai kurang apa-- yang diberikan oleh  kelompok, entah di Pemerintahan atau di Swasta masyarakat. Globalisasi bercerita tentang nilai tambah yang diberikan suatu kelompok, yang juga mengurangi nilai tambah kelompok lain.


Di sisi individu, pikiran dan filosofi global ini memaksa orang untuk bersikap kompromistis, bahkan menjaga dirinya untuk selalu "politically correct". Perbedaan Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan menjadi tidak relevan dibicarakan, malah dikatakan seharusnya tidak lagi ada pembedaan. Bahkan pemikiran modern yang mengutamakan rasionalisme pun tidak lagi mendapat tempat, karena dalam komunikasi dan hubungan antar manusia yang lebih berperan adalah emosi perasaan, di mana ada asumsi-asumsi berbeda tentang segala sesuatu. Pernahkah melihat iklan bank HSBC yang menunjukkan nilai-nilai lokal yang saling berbeda makna untuk satu hal yang sama? Di sini 'rasa kemanusiaan' lebih penting daripada penjelasan "rasional", karena perasaan itu bersifat universal sementara rasio tergantung pada asumsi lokal. Dalam dagang, misalnya, semua orang di segala belahan dunia menginginkan perdagangan yang rasanya "adil" dan "jujur", walau tentu ada perbedaan penafsiran dalam hal apa yang bisa disebut "adil" dan "jujur" itu.


Tak heran, pandangan yang muncul adalah yang menguniversalkan "perasaan manusia" sementara menolak semua standar yang mengklaim diri universal. Dalam pengertian ini, tidak ada lagi hal yang absolut, karena semuanya dilihat dalam konteks komunikasi budaya, semua adalah teks yang bisa didekonstruksi berdasarkan suatu budaya, yang berbeda dengan budaya lain. Globalisasi bergerak di dalam kabel-kabel saluran komunikasi, di mana semuanya, termasuk filosofi dan standar nilai, akan diterjemahkan sesuai nilai tambah dari kelompok. Kita mengenalnya dengan istilah "post modern" dan berusaha melokalisirnya sebagai salah satu moda berfilosofi dan berteologi, tapi sekarang ini saya yakin bahwa kaitannya jauh lebih luas.


Apakah kalau begitu, maka kita harus tunduk pada nilai kelompok, dalam bekerja, dan setuju atau tidak akhirnya mengikuti filosofi post modern, betapapun diri kita mungkin tidak setuju (atau malah tidak mengerti) filosofi ini?


Saya sudah melihat, bahwa orang Kristen pun dalam kehidupannya di pekerjaan tunduk pada nilai kelompok, betapa pun ia berusaha mengkompensasi dengan aktivitas gereja yang lebih giat. Jadinya orang seperti mempunyai standar ganda: ketika di pekerjaan ia mengikuti apa yang 'biasa' seperti memanipulasi data, menyuap pejabat, memakai bahan yang kualitas lebih rendah, dan menekan para buruh dengan keras (baca: kejam). Ketika di gereja ia menjadi majelis, menjadi penyumbang besar, dan orang datang padanya untuk meminta nasehat. Dualisme sikap ini sudah merupakan wujud dari post-modern, karena pada hakekatnya orang ini tidak menerima kemutlakan suatu nilai; ia bisa memakai nilai yang satu dan menggantinya dengan yang bertolak belakang!


Bagaimana dengan nilai-nilai kita sendiri? 


Powered by Qumana


08 November 2007

Value Add

Apa yang orang pikirkan tentang 'memberi nilai tambah'? Biasanya, pertanyaan langsung adalah: "saya dapat apa?" Masalahnya, banyak orang berpikir sesuai dengan apa yang disebut 'maksud ekonomi' yaitu "dengan sumber sesedikit mungkin mendapatkan sebanyak mungkin." Ini, saya dapatkan dulu sekali, waktu di SMA. Betulkah?

Saya ingin memulai dengan teori ekonomi klasik, tentang pasar dan pekerjaan. Teorinya, selama tidak ada intervensi, masyarakat selalu bisa mendapatkan keadaan seimbang di mana setiap orang mendapatkan pekerjaan penuh. Bagaimana kalau ada pengangguran? Jika banyak orang menganggur, maka persaingan untuk pekerjaan akan menjadi tinggi. Karena itu, gaji dapat ditawarkan lebih rendah. Dengan rendahnya gaji, maka lebih banyak usaha yang bisa dibangun, sehingga membuka lebih banyak lowongan kerja. Akhirnya, yang tadinya menganggur bisa bekerja semua. Kalau masih ada yang menganggur, itu karena dia memilih untuk tetap menganggur (voluntary unemployment).

Teori klasik juga menunjukkan keseimbangan yang lain, seperti misalnya keseimbangan antara tabungan dengan investasi. Begini: kalau investasi naik, maka akan timbul kebutuhan lebih akan uang. Muncul ketertarikan alias interests akan uang, yaitu bunga yang diberikan kepada orang yang mau menabungkan uangnya. Akibatnya, bunga tabungan semakin tinggi dan investasi jadi tidak terlalu menarik, karena pasar masuk ke keseimbangan antara tabungan dan investasi.

Semua keseimbangan ini secara klasik dirumuskan oleh hukum Says, dibuat oleh Jean Baptiste Says, yang mengatakan bahwa setiap supply akan menciptakan permintaannya sendiri. Keseimbangan penawaran dan permintaan membuat selalu ada pekerjaan, selalu ada proses... itu kan teori klasik. Tidak salah ketika teori ini dirumuskan, di saat ekonomi di seluruh dunia bergairah karena modernisasi dan industrialisasi. Tapi sekarang?

Seorang ahli ekonomi bernama Keynes protes keras. Salah itu! Begitu katanya. Pengangguran dapat selalu terjadi di setiap tingkat gaji dan jumlah pekerjaan. Karena itu dibutuhkan Pemerintah yang secara aktif mengendalikan permintaan. Permintaan aktif paling banyak datangnya dari Perusahaan, waktu Pemerintah membelanjakan dana untuk barang dan jasa, ekonomi negara akan bangkit. Kalau Pemerintah tidak ikut campur, ekonomi tidak maju dan pengangguran tetap ada walaupun gaji menjadi turun.

Oh ya, urusan gaji turun inilah yang jadi pokok kesalahan teori klasik menurut Keynes. Sebab, mana ada orang yang mau gajinya turun? Jadi, walaupun tingkat pengangguran tinggi, gaji tidak akan turun. Mana ada perusahaan yang siap didemo oleh karyawannya sendiri, kecuali perusahaan itu sudah morat marit mau bangkrut? Singkat kata, tingkat pengangguran tidak akan turun karena pasar bebas. Lagipula orang akan terdorong untuk lebih banyak menabung ketika menghadapi keadaan sukar, karena perlu berjaga-jaga atas pengeluaran di masa depan. Akibatnya, orang lebih sedikit berbelanja, membatasi hanya barang-barang yang benar-benar perlu. Tingkat penjualan akan menjadi semakin turun, bagaimana mungkin perusahaan-perusahaan bisa terus berekspansi dan menyerap tenaga kerja?

Lain halnya kalau banyak orang yang mau berbelanja, secara keseluruhan (agregat) ada peningkatan transaksi. Karena barang-barang menjadi laku, perusahaan bisa berekspansi lebih banyak. Dibutuhkan lebih banyak tenaga kerja, yang berarti lebih banyak orang menerima gaji, dan kembali lagi mendatangkan lebih banyak lagi penjualan. Prosesnya akan lebih cepat kalau orang tidak banyak menabungkan uangnya, sebab seandainya mereka terus menabung, dana ekstra yang diperoleh segera menghilang dan tidak sempat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Apakah teori-teori ini benar? Asumsi bahwa perusahaan selalu membesarkan usaha ketika omzet bertambah adalah hal yang tidak selalu terjadi. Ketika perusahaan dikelola dengan buruk, peningkatan omzet membuat lebih banyak inefisiensi terjadi, termasuk yang timbul dari korupsi dan pencurian oleh karyawan sendiri. Akibatnya, walaupun omzet perusahaan naik, laba bersihnya tidak bertambah. Keberadaan pungutan liar, pungutan, retribusi, dan berbagai macam pajak juga dapat mengakibatkan kesulitan berusaha. Bahkan ketika sebuah perusahaan mau berinvestasi, hambatan yang timbul dapat membatalkan ekspansi. Globalisasi telah membuat jalan yang bagus untuk membangun industri di negara lain, membawa keluar dana yang semula akan digunakan untuk memperluas usaha di Indonesia.

Orang akhirnya kembali ke teori klasik, dengan sebuah rumusan teori yang disebut "The Quantity Theory of Money" Rumus dari teori ini adalah:

MV = PT

M = Jumlah uang beredar

V= Kecepatan perputaran uang

P = Harga

T = Jumlah transaksi yang terjadi

Jika jumlah uang beredar bertambah, maka harga secara keseluruhan akan naik, suatu inflasi. Orang jaman sekarang sudah lebih pandai, kita tahu bahwa inflasi dapat terjadi karena perubahan nyata atau atas sesuatu sebab lain yang lebih bersifat keyakinan, seperti ketika orang yakin bahwa permintaan akan melonjak di bulan puasa dan telah lebih dahulu menaikkan harga. Waktu Pemerintah menaikkan gaji pegawai negeri 10%, para pedagang sudah lebih dahulu menaikkan harga dagangannya 10%! Demikian juga halnya bila ada pertambahan uang yang beredar. Orang membuat relasi dalam persamaan ini menjadi:

^ M -> P ^

Perhatikanlah: baik jumlah uang beredar (M) maupun harga (P) adalah bilangan yang ditetapkan orang. Di mana usaha yang sebenarnya dapat kita lihat? Lihatlah V dan T! Ini adalah speedometer dari produktivitas sebuah negara, menunjukkan seberapa produktif bangsa dan negara itu adanya. Seberapa produktif kita adanya. Kuncinya adalah nilai tambah, karena ketika rakyat memberikan lebih banyak nilai tambah, maka akan terjadi lebih banyak transaksi serta perputaran uang lebih cepat. Sebaliknya dari berfokus pada jumlah uang beredar dan kenaikan harga, fokusnya adalah bagaimana membuat bisnis yang lebih sehat, transaksi yang lebih sering terjadi.

Ketika fokus terpusat pada V dan T, maka campur tangan Pemerintah menjadi irrelevan, karena Pemerintah tidak dapat secara langsung membuat perputaran lebih cepat atau transaksi lebih sering. Tidak mungkin memaksa orang melakukan jual beli lebih sering. Yang mungkin adalah memberikan insentif-insentif, misalnya insentif pajak, tetapi itu pun terbatas. Cara lain secara tidak langsung adalah dengan meningkatkan pendidikan bagi masyarakat, yang membuat penduduk lebih pandai memberikan nilai tambah, menciptakan permintaan-permintaan baru, dan meningkatkan pasar karena lebih banyak orang yang sejahtera.

Apakah pendidikan kita menuju ke arah sana? Pendidikan kita masih bicara tentang mendapatkan nilai tertentu, bukan memberi nilai tambah atau menciptakan nilai tambah. Ketika orang berpikir, "saya dapat apa?" ia tidak berpikir, "saya memberikan apa?" Di situlah masalahnya: ketika semua meminta, siapa yang akan memberi?

Andakah?

Powered by Qumana

06 November 2007

Mission

Kerja sih bekerja, tapi apa tujuan orang bekerja? Pertanyaan ini terasa janggal waktu pertama kali ditanyakan.

Tapi ini mungkin pertanyaan paling penting untuk ditanyakan, karena jawabannya adalah misi dari kerja. Apa misi pekerjaan saya? Bagaimana sebuah pekerjaan dapat berarti?

Ada orang yang bekerja untuk sesuatu di dunia. Beberapa memikirkannya secara fisik: sejumlah uang tertentu, rumah, mobil, perhiasan... segala hal yang dapat diinginkan dan dibeli orang. Beberapa yang lain mengarah pada hal yang bersifat lebih filosofis, seperti memenuhi hormat kepada orang tua, mendapatkan penghargaan dari masyarakat, atau untuk mendapatkan rasa aman, baik untuk saat ini maupun di hari depan. Kita melihat bagaimana orang amat terdorong untuk hal-hal yang bisa diperolehnya, sehingga tidak sedikit yang dengan penuh sukacita menerima teori semacam "The Law of Attraction", yang katanya menjadi rahasia sejak jaman dahulu kala.

Kenyataannya, memang orang senang bila segala hal yang diinginkannya bergerak sendiri, tertarik kepada hal yang dipikirkannya. Hanya dengan memikirkan, lalu dapat!

Yang belum banyak terpikir oleh mereka yang menghendaki segala sesuatu tertarik pada dirinya adalah: apa arti atau makna dari itu semua? Kalau seseorang mendapatkan barang atau pengakuan yang diingkannya, lalu apa?

Seorang bisa memperoleh rumah baru, atau mobil baru, atau mendapatkan tempat yang diinginkan. Bahkan mungkin benar, ia tidak perlu bekerja keras untuk mendapatkannya... cukup benar-benar 'mengirim pesan' dan melihat hal itu tertarik dengan sendirinya. Katakanlah bahwa hal itu memang benar (sejujurnya, saya tidak percaya), lalu apa maknanya? Apa arti dari mendapatkan lebih banyak uang, memiliki rekening dengan banyak angka nol?

Jika ada yang berpikir bahwa uang saja dapat menjamin hidupnya, baru-baru ini saya berhitung dan menemukan bahwa nilai mata uang di dunia ini terus menerus merosot. Setiap negara berlomba-lomba mencetak uang, sedemikian rupa sehingga perbandingan kurs antara satu negara dengan negara lain tidak terpaut banyak. Kurs Rupiah dengan US Dollar relatif stabil, hanya naik turun beberapa basis poin saja. Tapi defisit anggaran Amerika menjadi semakin buruk, demikian juga dengan defisit APBN Indonesia. Musuh sebenarnya bukan perbedaan kurs, melainkan inflasi -- atau lebih tepatnya: devaluasi mata uang. Semakin banyak uang dicetak, semakin turun pula nilai dari mata uang yang kita pegang.

Kenapa lebih banyak uang dicetak? Karena ada banyak hal yang harus dibayar oleh Pemerintah. Ada biaya pegawai, biaya proyek, biaya untuk dikorupsi...bahkan yang melakukan korupsi mungkin tidak mengerti bahwa uang yang diperoleh sebenarnya menjadi semakin tidak berharga. Kalau sekarang 1 keluarga orang Indonesia kelas menengah dapat hidup dengan Rp. 5 juta per bulan, maka 15 tahun lagi ia akan butuh hampir Rp. 16 juta per bulan, jika inflasi rata-rata selama 15 tahun itu hanya 8% saja.

Semakin banyak korupsi dan penyelewengan, semakin banyak kebutuhan pembiayaan. Cara cepat mengatasinya adalah dengan semakin banyak mencetak uang, dan berakhir dengan semakin rendahnya nilai mata uang. Tapi karena hal serupa dilakukan banyak negara lain, termasuk Amerika Serikat, banyak orang merasa baik-baik saja. Hanya sedikit analisa dapat menunjukkan seperti apa beban yang akan dihadapi negara pada saat beban masyarakat benar-benar harus ditanggungnya. Jadi, apa artinya uang yang banyak itu? Semakin lama semakin turun nilainya!

Hal ini mengembalikan kita kepada pertanyaan semula: untuk apa bekerja?

Satu jawaban yang saya dapatkan dari Peter Drucker, dari Michael Potter, dari beberapa ahli lain adalah: peningkatan nilai. Potter bahkan menunjukkan analisa yang terkenal: Value Chain Analysis untuk mengembangkan keunggulan kompetitif dari suatu bisnis. Sampai sekarang, pelajaran ini masih banyak dipakai untuk analisa bisnis perusahaan.

Eh, siapa bilang hanya untuk perusahaan?

Setiap orang yang bekerja sebenarnya sedang berbisnis, dan itu berarti juga menuntut peningkatan nilai. Tujuan bekerja adalah memberikan nilai tambah. Dengan begitu, posisi dari orang itu akan lebih unggul dalam kompetisi dengan orang-orang lain di sekitarnya, membuat hidupnya menjadi lebih baik -- suatu proses yang berkesinambungan.

Sebaliknya dari 'The Law of Attraction', saya justru menemukan bahwa aturan yang lebih tepat telah diberikan lama oleh Tuhan: "Berikanlah / lakukanlah kepada orang lain apa yang engkau ingin orang lain berikan / lakukan kepadamu" Hukum yang benar bukan tentang menarik segala hal kepada diri, melainkan tentang memberi diri kepada segala sesuatu.

Pertama-tama, orang harus memberi diri bagi Tuhan. Kedua, orang harus memberi diri sesuai tanggung jawab tertingginya: kepada bangsa dan negara, lalu kepada keluarga, lalu kepada lingkungan yang bergantung padanya. Ketiga, orang harus memberi diri sesuai posisinya di mana ia berada, entah di perusahaan atau sekolah atau lingkungan rukun warga. Ada banyak hal yang mungkin terjadi, tetapi Tuhan sudah memberi hukum yang terutama di atas segala hukum: Hukum Kasih.

Misi pekerjaan adalah memberi diri, atau lebih spesifik, memberikan nilai tambah. Nilai tambah akan membuat hal-hal di sekitarnya menjadi lebih bernilai, lebih berharga. Semakin banyak nilai tambah diberikan, semakin besar kesejahteraan, mengalahkan penurunan nilai mata uang. Melihat keadaan bangsa dan negara ini, saya berpikir bahwa hal ini menjadi semakin penting untuk diusahakan.

Begini: korupsi dan manipulasi dan penyelewengan adalah tindakan yang mengurangi nilai. Orang selama ini berusaha untuk memberantas korupsi, tetapi sejauh ini tidak banyak hasil. Kenapa? Karena sekalipun korupsi bisa dihentikan, tidak ada nilai yang ditambahkan. Padahal kehidupan berjalan terus, dan pada saatnya memaksa orang yang tadinya anti korupsi untuk turut melakukan korupsi.

Untuk melawan pengurangan nilai, orang harus bekerja memberikan nilai tambah. Hanya dengan memberikan nilai tambah saja maka penghentian korupsi menjadi bermakna, di mana orang bisa melihat bahwa kehidupan menjadi semakin baik. Tidak semua orang bisa mengatasi korupsi -- saya kira kebanyakan dari kita tidak dalam posisi apa pun untuk memaksa korupsi berhenti. Kita berharap kepada komite yang dibentuk, berharap kepada orang-orang yang berada dalam bidang hukum melakukannya.

Tetapi saya yakin bahwa usaha ini sia-sia, kalau seluruh bangsa ini tidak mulai bekerja untuk memberikan nilai tambah, di mana pun mereka berada. Tapi, ini mendatangkan masalah lain: bagaimana orang bisa memberi nilai tambah, kalau mereka bahkan tidak tahu apa-apa? Berapa banyak orang yang mengerti sesuatu tentang keuangan, tentang berinvestasi, tentang manajemen, dan seterusnya?

Maka nilai tambah yang perlu diberikan adalah dengan memberikan edukasi yang baik. Banyak orang yang belum melek finansial, sekalipun telah lulus sebagai sarjana ekonomi. Saya sendiri bukan lulusan ekonomi, betapa saya berharap orang yang sudah belajar ekonomi dapat tahu lebih baik! Tapi pengalaman saya selama hampir 2 tahun di bidang finansial ini menunjukkan sebaliknya. Kenapa ya?

Kita membutuhkan pengetahuan ekonomi dalam konteks meningkatkan kemampuan setiap orang memberi nilai tambah, dalam berbagai aspek. Yang paling mudah diukur adalah yang berhubungan dengan uang, tetapi bukan hanya uang yang jadi ukuran. Jika suatu saat nilai mata uang turun, peningkatan nilai tambah yang dinyatakan dengan antara lain peningkatan produksi akan mengembalikan apa yang hilang.

Apa faktor kuncinya?

Belum lama ini saya membaca kembali buku yang ditulis Ibu Dorothy I. Marx, "Kebenaran Meninggikan Derajat Bangsa". Saya percaya, ini adalah faktor kunci, karena kebenaran Allah menjadi sumber segala nilai tambah yang dapat diberikan manusia. Ibu mengupasnya mendalam dari berbagai aspek, yang tidak akan saya bahas...jujur, ndak sanggup.

Kembali kepada Anda, para pembaca, pertanyaan 'untuk apa bekerja?' telah menjadi 'bagaimana memberi nilai tambah?' Saya tidak tahu semua jawaban. Saya pikir, setiap orang harus mencari jawaban lengkapnya sendiri, sesuai dengan bidangnya. Apa nilai tambah sebagai seorang dokter? Apa nilai tambah sebagai seorang manajer HRD? Apa nilai tambah sebagai seorang Akuntan? Apa nilai tambah sebagai seorang konsultan finansial? ...demikian seterusnya.

Semoga, ini juga menjadi pertanyaan Anda. Terpujilah TUHAN!

25 Agustus 2007

The Law of Attraction? Nggak lah...

Sekarang ini, banyak orang yang kelihatannya begitu bergairah menonton dan membaca buku The Secret. Kenapa? Karena, dari permulaan film ini mempresentasikan sebuah keyakinan (karena, memang bukan hal yang ilmiah) tentang "The Law of Attraction". Disebutkan bahwa hukum ini adalah sebuah hukum alam, yang seperti hukum gravitasi akan terjadi pada siapa saja, di mana saja, kapan saja... Wow!


Caranya sederhana. Kalau Anda menyukai sesuatu, maka sesuatu itu akan menyukai Anda. Kalau Anda memberi pesan kepada alam semesta (universe) bahwa Anda suka sesuatu, maka universe akan memberikannya kepada Anda, sesuai dengan kesukaan itu. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal yang positif, maka yang positif itu akan datang pada Anda. Kalau Anda berpikir dan menyatakan hal-hal negatif, maka yang negatif akan datang.


Jadi, manusia adalah bagian dari universe, yang sanggup mengkomando universe. Karena hanya manusia yang bisa mengkomando universe, maka manusia adalah tuhan di dalam universe, di mana tuhan ada pada setiap orang. Caranya, percayalah dan yakinkanlah bahwa sesuatu itu telah menjadi milik Anda!


Woooww!


Sayangnya, realitas objektif tidak pernah menyatakan hal itu. Seorang yang dengan yakin menyatakan telah sembuh dari penyakitnya -- dia kena hyperthyroid -- sehingga ia menolak minum obat setiap hari, pada akhirnya meninggal karena hyperthyroidnya. Kata-kata positif akhirnya menjadi delusi, "saya sukses!" tapi yang didapat adalah kegagalan. Orang yang berhasil justru orang yang berani memikirkan apa yang mungkin akan menghambat dan menimbulkan kegagalan, karena itu mengantisipasinya lebih dulu dibandingkan yang lain.


Realtias objektif yang paling nyata adalah dalam hal keuangan. Semua orang berinvestasi dengan keyakinan bahwa besok nilainya akan bertambah dan bertambah. Tapi hanya investor sejati yang tahu bahwa apapun bisa turun, dan oleh karena itu justru berpeluang untuk mendapatkan hasil lebih besar. Orang yang serba-yakin-dan-positif justru jatuh dan kalah dalam keyakinannya.... atau The Law of Attraction tidak berlaku di bursa modal?


Dikatakan, universe tidak tahu apa yang baik atau buruk... ia hanya memberikan apa yang disampaikan. Tapi, pemikiran ini salah dalam dasarnya... karena banyak hal dalam pemikiran manusia "membendakan" suatu ketidak-beradaan. Jika universe ini memberi, apakah lalu ia mengambil juga? Bingung?


Nah, coba pikirkan tentang, misalnya, panas dan dingin. Atau terang dan gelap. Jika kita ingin panas, apakah panas akan datang? Jika kita ingin dingin, apakah dingin akan datang? Sebentar: panas mungkin datang, tetapi dingin itu adalah kondisi di mana tidak ada panas. Terang mungkin datang, tetapi gelap adalah kondisi di mana tidak ada terang. Kekayaan mungkin datang, tetapi kemiskinan adalah kondisi di mana tidak ada kekayaan.


Jadi, yang benar adalah bahwa 'kekayaan' itu pergi, bukannya kemiskinan yang datang, karena kemiskinan itu hakekatnya tidak exist. Ada kekayaan, atau tidak ada kekayaan, itu saja. Lalu, jika segala sesuatu menarik segala sesuatu, apakah ketiadaan dapat menarik ketiadaan? Tidak mungkin, karena apa yang tiada itu tidak dapat melakukan apa-apa. Ketiadaan tidak bisa melakukan apa pun, karena tidak ada. Ruang hampa tidak pernah membuat sekitarnya menjadi hampa juga.


Semua orang menyukai kekayaan (kecuali, orang yang berkeyakinan harus hidup miskin). Jadi apapun juga yang dimilikinya menjadi kekayaan baginya... tapi kemudian ada yang mengambilnya. Mengapa? Kemiskinan tidak bisa mengambil, karena kemiskinan adalah keadaan setelah kekayaan itu diambil dari padanya. Lalu, siapa yang mengambil? The Law of Attraction sama sekali tidak menjelaskan hal ini.


Yang benar adalah: bahwa ada kekuatan lain yang mengendalikan universe. Ada Tuhan yang mencipta. Ada iblis yang merampas. Tuhan adalah Sumber, Dia menyediakan. Sebaliknya iblis adalah lubang hitam yang menghisap segala sesuatu bagi dirinya sendiri, mengambil kehidupan manusia -- atau dengan kata lain, membunuh manusia. Begitulah kata Tuhan, bahwa iblis adalah pembunuh manusia. Jika mau disebut "the law of attraction" sebenarnya iblis adalah perwujudan sempurna, karena ia menarik segala sesuatu bagi dirinya sendiri, dan membuat orang menarik segala sesuatu untuk dirinya sendiri juga. Pemenang akhirnya tentu si iblis yang merampas jiwa-jiwa manusia.


The Law of Attraction mengajarkan orang untuk memberi pesan pada universe untuk datang pada dirinya; dengan kata lain, menarik segalanya bagi dirinya sendiri. Kesehatannya sendiri, kekayaaannya sendiri, kemakmurannya sendiri, dst... manusia lantas jadi tuhan yang menarik apapun, bukan menjadi anak  Tuhan yang memberi. apakah ini benar?


Lihatlah alam. Alam itu memberi, tidak menarik. Matahari memberi cahayanya. Pohon memberi buahnya. Udara mengalir dari tekanan positif ke negatif. Muatan listrik mengalir dari positif ke negatif. Segala yang positif adalah segala yang memberi, menyediakan. Segala yang negatif adalah segala yang menarik, menghabiskan. Manusia yang positif memberi dirinya bagi Tuhan, memberi dirinya bagi sesama, dan memberi dirinya bagi alam untuk memeliharanya.


Lihatlah sejarah. Kehidupan manusia bisa menjadi baik karena orang-orang yang bersedia memberi, bahkan ketika ia tidak mendapat apa-apa. Kesuksesan orang datang karena ia menyediakan, bukan karena memberi pesan untuk meminta. Dan seseorang bisa menjadi kaya karena ada orang lain yang menyediakan, bukan karena diminta.


The Law of Atttraction? Nggak lah...


Powered by Qumana


04 Agustus 2007

sudah lama

Sudah lama yah... menunggu diisi, menunggu dibaca. Sesukar menulisnya, sesulit itu juga membacanya...

23 April 2007

Tanggung Jawab dan Kemenangan

Mat 25:21 Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Setiap orang menginginkan hidup yang lebih baik. Kalau ditanya pada saya atau pada Anda, kita semua dengan spontan akan mengangguk mantap mengatakan, "ya, saya mau hidup lebih baik." Kebanyakan dari kita mengartikan bahwa kita ingin hidup lebih sejahtera, lebih makmur, atau lebih kaya. Sebagian orang lagi mengartikannya bahwa kita ingin memiliki hidup yang lebih bermakna, ada artinya.

Karena, mungkin saja selama ini kita bergumul dengan masalah keseharian: bagaimana mencari makan hari ini? Bagaimana cara membayar uang kontrakan, atau uang sekolah anak? Bagi sebagian orang lain, hal-hal itu bukan suatu beban yang terlalu sulit, tetapi hidupnya pun terasa begitu-begitu saja, seperti putaran roda sepeda yang dibalik. Berputar cepat, tetapi tidak melaju kemana-mana. Kita melalui masa-masa baik dan masa-masa buruk, mengerjakan sesuatu dengan mudah namun kemudian menjadi susah, atau sebaliknya. Kita bergumul dengan banyak masalah, tapi setelah semuanya berlalu, kita sampai di mana? Untuk sesaat kita menemukan ketenangan, lalu kemudian kembali lagi dalam persoalan dan kesulitan lain.

Setelah setahun atau dua tahun atau tiga tahun, semuanya lantas menjadi suatu rutinitas. Tak ada yang baru di bawah matahari, kata Pengkotbah. Yang sekarang ada dahulu pernah ada, dan nanti akan ada lagi. Kalau begitu, bagaimana kita dapat mengatakan bahwa kita benar-benar menginginkan hidup yang lebih baik? Jika pada akhirnya kita hanya melakukan sesuatu yang berulang, dengan hasil yang kurang lebih tidak banyak berbeda, lantas apa yang berubah?

Maka, kata-kata "saya ingin hidup lebih baik," tak lebih dari slogan belaka. Itu hanya ide dalam pikiran, suatu ekspresi yang kita ungkapkan bagi diri sendiri dan orang lain, tanpa pernah benar-benar kita inginkan, benar-benar kita usahakan. Karena pada dasarnya kita tidak ingin melakukan hal-hal yang lain atau berbeda, kita tidak berani melangkah keluar dari apa yang sudah biasa membatasi kita -- bahkan ketika pagarnya sudah dicabut dan bekasnya tidak ada lagi. Kita dibelenggu oleh pikiran kita sendiri, atas nama kebiasaan dan tradisi yang mungkin kita tidak tahu lagi apa artinya. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, seperti seorang Tuan yang pergi ke luar negeri dan mempercayakan hartanya kepada hamba-hambanya.

Bagaimana jika hamba-hambanya itu adalah kita? Mari renungkan. Jika kita adalah orang-orang yang biasa melakukan sesuatu sesuai tradisi, seperti kebiasaan, maka kita akan menjadi hamba yang terbiasa duduk menunggu perintah dari Tuan. Jika kita tidak diberi perintah, kita tidak bergerak. Jika kita tidak mendapat penegasan akan tugas dan wewenang, kita memilih untuk duduk diam. Itu kebiasaan kita. Itu kebiasaan banyak orang, bahkan di jaman Tuhan Yesus dahulu.

Kita, dari segala orang lain di atas muka bumi ini, mendapat karunia karena TUHAN berkenan memilih kita, mengaruniakan segala berkat dan kasih karunia. Kita memperoleh hadiah terbesar dan terbaik dan termahal yang dapat dibayangkan: menerima darah Kristus yang menyelamatkan kita. Oh, betapa mahalnya! Betapa besarnya! Betapa baiknya! Ini memungkinkan kita keluar dari penjara perbudakan dosa, menjadi orang yang benar-benar merdeka karena Anak telah memerdekakan kita.

Bukan itu saja, kita juga menerima berbagai karunia yang diperlukan untuk hidup dengan benar. Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Ef 2:10). Ya, ini bagian kita. Kemerdekaan yang kita terima juga membawa beban tanggung jawab untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, bahkan untuk segala hal yang tidak biasa kita lakukan.

Sekarang, Tuhan Yesus telah memberikan darah-Nya, daging-Nya, dan nyawa-Nya bagi kita. Kita bebas. Kita menerima talenta, karunia yang diberikan-Nya tanpa kita minta. Apakah kita lantas bersikap diam? Apakah kita mengatakan, bahwa kita sudah biasa begini dan tidak ada yang memerintah, maka sebaiknya kita begini-begini saja, diam saja? Lalu, kita menyembunyikan talenta yang kita terima itu, sambil merasa marah terhadap Allah?

Berapa lama kita sudah merayakan Jumat Agung dan Paskah? Berapa banyak kita sudah membaca dan merenungkan tentang penderitaan Kristus, diikuti oleh kebangkitan-Nya yang luar biasa? Tidakkah kita setiap tahun diingatkan, bahwa kita menerima talenta yang LUAR BIASA berharga, secara cuma-cuma?

Namun, kita duduk saja. Kita hanya melakukan hal-hal yang biasanya kita lakukan. Itu saja.

Belajarlah dari hamba-hamba sang Tuan! Ketika ia menerima talenta itu, ia tidak menerima visi atau target yang harus ia capai. Ia hanya tahu, bahwa ia bertanggung jawab atas harta yang dipercayakan kepadanya. Maka, ia melakukan sesuatu. Ia berusaha. Ia berpikir, merencanakan, mengerjakan, menghidupi. Ia mendapat 5 talenta, ia berusaha agar sedikitnya ia mendapat 5 talenta juga. Yang lain mendapat 2 talenta, berusaha agar sedikitnya mendapat 2 talenta juga. Perhatikan: tidak ada perintah di sana. Sang Tuan ada di luar negeri, tidak memberi instruksi spesifik tentang apa yang harus dicapai. Ini hanya masalah tanggung jawab, yang menimbulkan tekad untuk melakukan hal-hal yang lain, yang memberi hasil.

Kalau kita menerima yang luar biasa dari TUHAN, bukankah kita pun seharusnya mengerjakan keselamatan yang TUHAN sudah berikan? Atau kita lebih senang diam dalam kedamaian dan ketenteraman, bebas dari masalah dan hiruk pikuknya dunia? Tuhan sudah menyelamatkan kita sedemikian rupa, tidakkah kita pun seharusnya tergerak untuk sungguh-sungguh hidup dalam pekerjaan baik yang telah Allah persiapkan sebelumnya?

Hidup yang lebih baik adalah hidup memenuhi cita-cita, hidup yang bertanggung jawab. Tuhan Yesus sudah memberikan KEMENANGAN atas dosa dan maut, dan seharusnya hidup kita berpadanan dengan kemenangan itu. Kita lebih besar dari dosa, lebih atas dari kuasa maut; siapa yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?

Hidup ini bukan ban sepeda yang ditaruh terbalik, yang berputar cepat di udara. Bukan! Kita sedang menapaki suatu jalan, dan di sana ada tantangan, ada resiko, ada kesulitan. Pikirkanlah, bukankah hamba yang mengerjakan 5 dan 2 talenta itu dapat dengan mudah menghasilkan sejumlah yang sama? Tidak. Perhatikan jawaban hamba yang disebut jahat dan malas, bahwa ternyata hamba-hamba yang lain harus bersusah payah menabur dan menuai, menanam dan memungut. Bisakah kita bayangkan bagaimana resiko yang dihadapi hamba-hamba yang baik dan setia ini? Bisa saja, ladang mereka diserang hama, dimakan belalang. Bisa saja, ada banjir besar yang merusakkan ladang. Barangkali juga mereka harus rela menanggung kerugian-kerugian yang terjadi, karena usaha manusia ada jatuh dan bangunnya.

Pemberian hamba-hamba kepada Tuannya adalah saat-saat kemenangan, bahwa inilah hasil dari jerih payah kami, kesusahan kami, juga kerja keras kami. Inilah tanggung jawab yang kami berikan atas harta yang telah dititipkan, di mana semuanya berkembang 100%. Untuk itu mereka harus berani mengambil langkah, mengerjakan hal-hal baru, menghadapi tantangan baru. Itulah yang dihargai oleh Tuan. Itulah sebabnya, kata-kata Tuan itu terdengar penuh rasa haru, "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu." Oh ya, betapa bahagianya Sang Tuan! Betapa bahagianya sang hamba!

Seperti para hamba, kita pun pada mulanya hanya orang yang tidak punya apa-apa, yang berputaran di bawah matahari dunia. Tapi Tuhan sudah memilih kita, mengangkat kita, memberi kita kepercayaan. Paskah kali ini, apa yang berbeda yang kita berikan?

Sudah waktunya kita melangkah keluar dengan penuh keberanian. Rakyat di negeri ini masih banyak yang buta dan tuli akan Tuhan, masihkah kita ragu mengetuk pintu dan memberitakan Kabar Baik? Rakyat di negeri ini masih banyak yang hidupnya kacau dan melarat, bahkan mereka tidak bisa mengelola harta mereka sendiri. Masihkah kita mau mendidik orang dan mengajarkan tentang kebenaran dan keadilan serta cara-cara yang lebih bijak untuk mengelola kehidupan? Masihkah kita peduli bahwa ada banyak anak bangsa yang jatuh dalam dosa, yang terbelenggu oleh kuasa-kuasa roh jahat dunia? Masihkah kita peduli bahwa TUHAN memberikan kita banyak karunia, bukan hanya untuk bersenang-senang di balik dinding-dinding gereja?

Besok kita merayakan Perjamuan Kudus, di hari Jumat Agung. Lusanya, kita merayakan Paskah, kebangkitan Kristus. Kemenangan kita. Kita merayakannya dengan meriah, dengan khidmat, dengan akbar, dengan megah. Kita mencari kebaikan bagi kita, kedamaian bagi kita, keselamatan bagi kita. Di luar itu, kita mengerjakan segala sesuatu seperti apa adanya. Yang bekerja dengan manipulasi, tetap memanipulasi. Yang melayani dengan tinggi hati, tetap tinggi hati. Kita mempersiapkan Paskah seperti juga tahun-tahun yang lalu, dengan Paduan Suara dan Drama dan kotbah yang menggetarkan, tapi kita masih saja tetap sama.

Saatnya, Paskah kali ini kita benar-benar berdiri, bergerak, karena ada banyak pekerjaan baik yang harus kita lakukan. Sudah waktunya kita berhenti dari kebiasaan kita, seperti kebiasaan meributkan urusan-urusan kecil dan soal tersinggung dan harga diri, agar kita bisa mengangkat wajah dan memandang ladang yang sudah menguning. Marilah kita bekerja, meninggalkan segala beban kita dengan pandangan dan tujuan yang terarah pada Kristus Yesus, Tuhan kita.

Selamat Paskah!


Powered by Qumana

19 Januari 2007

Adam Air

Peristiwa menghilangnya Adam Air menjadi misteri di awal tahun 2007. Mengapa pesawat itu bisa jatuh? Kenapa sampai sekarang masih belum juga ditemukan badan besarnya?



Sampai sekarang, yang ada hanyalah serpihan-serpihan. Mengapa jadi serpihan?