Cari Blog Ini

31 Oktober 2010

Fondasi

Fondasi adalah yang pertama dibuat. Semua bangunan harus memperhatikan fondasi, kalau mau bertahan untuk jangka panjang. Ini pekerjaan yang tidak menyenangkan, karena berat dan kotor, harus menggali tanah dan batu. Tidak ada 'kesaksian' yang dapat diberikan mengenai fondasi, walaupun fondasi menentukan kapasitas bangunan, berapa tingkat yang dapat dibuat. Orang kagum saat melihat gedung tinggi, namun berapa yang terpesona oleh fondasinya? Tidak terlihat. Tidak terpahami.

Karena tidak terpahami, orang sering berpikir bahwa urusan membuat fondasi adalah kepandaian ahli bangunan, para insinyur sipil. Asal menggali, taruh batu, jadilah. Orang yang tidak paham, mungkin tidak mau menyediakan banyak dana. Uang yang ada lebih baik untuk dinding dan atap, betul?

Tidak, karena di kala musibah gempa, rumah tanpa fondasi kokoh akan runtuh. Dan tidak, orang tidak cukup hanya sekedar ahli membangun fondasi. Sebuah fondasi terkait kepada tanah di sekitarnya. Jika tanah berpasir, fondasi tidak kuat sehingga harus diperdalam, sampai ketemu batu keras. Itupun, jika tanahnya bergerak-gerak karena perubahan lempengan bumi, rumah yang didirikan tetap bisa rubuh.

Rumah kita adalah kehidupan kita, demikianlah kehidupan juga membutuhkan fondasi, dasar yang teguh. Tanpa dasar yang kokoh, guncangan hidup tidak tertanggungkan. Kematian tiba-tiba. Kecelakaan yang membuat cacat. Terkena penyakit yang sangat berat. Menjadi korban kejahatan. Tiba-tiba saja, harapan menghilang, lenyap. Apa yang masih tersisa untuk masa depan, jika seluruh dinding dan atap telah runtuh?

Fondasinya. Di atas dasar apa kehidupan kita dibangun?

Tuhan Yesus adalah batu karang yang teguh. Dia tidak bergeser, tidak berubah. Dia adalah jalan, dan kebenaran, dan kehidupan. Orang bisa membangun dengan sebuah kepastian dan jaminan dalam kekekalan. Tidak akan ada gempa. Jika angin badai bertiup keras, kehidupan yang tertanam dalam Yesus akan bertahan.

Dalam kehidupan, saat pertamanya adalah kelahiran. Untuk memiliki Yesus Kristus sebagai dasar, orang harus dilahirkan kembali. Orang bisa mengganti atap, merubah dinding, tapi untuk mengganti fondasi, ia harus mulai lagi dari lahir. Dari titik awal kehidupan.

Orang bisa membangun kehidupan yang mempesona di atas dasar yang rapuh. Kita melihatnya, bahkan merasa iri seperti Asaf, sang pemazmur. Ia lihat orang jahat hidup senang, bisa mendapatkan apa saja yang ia mau, dan kelihatan bahagia. Semua nampak baik, sampai tiba guncangannya. Sekali terkena gempa, dan lihatlah bagaimana seluruhnya runtuh dalam seketika!

Di atas dasar ini, kita mengusahakan: ada yang menanam, ada yang menyiram, tapi hanya Tuhan yang memberi pertumbuhan. Kita dibangun oleh Tuhan, dan jalannya adalah lingkungan di sekitar kita. Istimewanya, Tuhan mengijinkan kita memakai bahan sesuai selera kita sendiri. Tentu saja kelak ada ujiannya, seperti saat kebakaran. Bagaimanapun juga, kita akan tetap selamat selama dasarnya tetap kokoh dalam Kristus.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.4

27 Oktober 2010

Cult in Marketplace

Ibu ini memelototkan matanya. Kami sedang berbincang-bincang mengenai perencanaan keuangan dan produknya, tentang cara kerja dan kinerjanya, dan akhirnya memunculkan perbandingan-perbandingan. Ketika pembahasan mulai menyinggung perusahaan tempat ia bergabung, emosinya naik tak terkendali.

"Pokoknya ini (ia menyebut nama perusahaannya) adalah yang paling bagus di dunia! Saya tidak mau dengar yang lain! Biar orang lain mengatakan saya pakai kacamata kuda, tapi saya memang tidak mau tahu yang lain. Semua yang lainnya tidak bagus! Hanya ini yang terbaik!

Pemimpin saya, adalah sahabat saya yang luar biasa! He's my best friend, dan dia sudah memberikan yang terbaik. Dia membuat saya mendapatkan penghasilan tambahan, dapat komisi yang lumayan. Sekarang saya mau kejar target, supaya bisa jalan-jalan ke luar negeri…"

Melihat emosinya, kami tidak berniat memanaskan suasana. Perbandingan tidak dilanjutkan, sebaliknya kami memberi kesempatan untuk Ibu ini menjelaskan produknya.

"Oh, saya tidak tahu bagaimana perhitungan atau cara kerjanya, pokoknya saya tahu ini adalah yang paling baik di dunia!"

Bertemu dengan pemikiran ini, mau tidak mau saya menjadi teringat dengan apa yang disebut Cult, atau kultus. Ada beberapa ciri kultus, antara lain:

  • Logika atau penalaran diikat, diganti oleh pengendalian pikiran (mind control)
  • Ada tokoh atau pemimpin yang dipandang kharismatik oleh pengikutnya
  • Ada pengajaran tentang superioritas, memandang kelompok atau pihak lain inferior
  • Ada ketaatan yang mendalam, di mana disiplin ditegakkan oleh anggota di dalam kelompok itu sendiri
  • Ada sikap 'siap berperang' karena merasa diancam, atau bahkan ditindas, oleh 'musuh'. Karena itu, harus terus menjaga persatuan
  • Membuat isolasi yang memisahkan anggota dari komunitas asalnya, bahkan sampai bersikap memusuhi teman-teman lama dan keluarganya sendiri, digantikan komunitas kultus
  • Orang yang meninggalkan komunitasnya dipandang sebagai pengkhianat terbesar, yang sangat dibenci dan dihujat – bahkan sampai dibunuh. Yang meninggalkan kultus disebut orang murtad, apostate

Biasanya orang mengenal sikap-sikap ini dalam kultus agama atau kepercayaan religius. Dalam dunia yang modern dan sekular, justru berkembang sikap anti-cult, anti kultus yang melihat praktek-praktek agama sebagai tindakan manipulatif dan mengikat pikiran manusia. Dalam perkembangannya, orang memisahkan antara kepercayaan dengan usaha, antara religius dengan bisnis. Semua hal yang agamawi dianggap bisa menyesatkan, manipulatif. Semua yang bisnis dianggap logis, strategis, dan tidak personal. Nothing personal, kata mereka.

Benarkah demikian? Hal-hal yang kita temui di dunia usaha menunjukkan hal sebaliknya. Sementara para teolog dan rohaniwan berusaha untuk mensistematiskan teologi, merumuskan bagaimana logika dan iman berjalan berdampingan, membuka pikiran yang tertutup, memisahkan antara tahayul dan realita – justru para pemasar dan pemimpin bisnis memasuki area kultus, tentu saja dengan istilah baru dan berbeda.

Peperangan rohani memasuki wilayah baru, yang celakanya, tidak disadari oleh para teolog dan rohaniwan yang terjebak dalam dikotomi rohani vs sekular.

Pertama-tama, kultus dalam dunia bisnis, apalagi mengenai perencanaan keuangan, adalah hal yang mengherankan. Berbeda dari agama dan kepercayaan yang berakar pada kitab suci dan keyakinan yang abstrak, banyak hal dalam bisnis adalah sesuatu yang terukur, memiliki spesifikasi, dan terbatas. Kultus dalam agama dan kepercayaan adalah penamaan, yang seringkali diberikan kepada kelompok lain yang dianggap sesat. Istilah 'kultus' atau 'cult' sendiri menjadi sensitif dan penuh kecurigaan, sedemikian rupa sampai menjadi hukuman terhadap orang yang dituduh sebagai pengikut atau pemimpinnya. Bagaimanapun, karena hal-hal yang bersifat rohani tidak dapat diperbandingkan secara objektif, pengertian mengenai kultus tetap melekat, sekalipun kata 'kultus' atau 'cult' tidak diucapkan.

Dalam dunia usaha, di pasar terbuka, istilah kultus sepertinya tidak relevan. Bagaimana mungkin membela suatu produk atau jasa sebagai 'yang terbaik' sementara ada angka-angka yang menunjukkan spesifikasinya? Jika sebuah produk keuangan memberi rata-rata pengembalian investasi 22% dan produk keuangan lain memberi 27%, maka semua dapat dengan tegas dan pasti mengatakan hasil yang pertama lebih kecil daripada yang kedua. Dalam perencanaan keuangan, angka-angka berperan sebagai indikator yang objektif, tegas, tidak emosional. Hal yang sama juga berlaku pada produk kesehatan, pada produk kecantikan, pada produk teknologi. Ada ukuran yang pasti, tegas, tidak emosional. Seharusnya, orang tidak bersikap emosional terhadap sesuatu produk yang terbatas, terukur.

Namun, nyatanya orang bersikap emosional untuk benda-benda. Ada yang membangun komunitas sebagai pemakai handphone tertentu, atau kelompok pemakai motor tertentu, atau kelompok dari asuransi jiwa tertentu. Mereka mengatakan bahwa produk atau jasa ini sebagai yang terbaik, dan bersikap sebagai suatu kultus, sekalipun mereka tidak memandangnya sebagai agama atau kepercayaan.

Yang kedua, para rohaniwan dan masyarakat umum – demikian juga dengan anggota kultus – terjebak karena paradoks dari informasi. Ini adalah situasi di mana orang justru tidak memiliki informasi ditengah-tengah banjir informasi. Orang tidak mempunyai teknologi di tengah-tengah teknologi tinggi. Penyebabnya adalah ketidakmampuan untuk membedakan dan mengerti apa yang terjadi, dan dengan demikin kehilangan kemampuan untuk memahami angka-angka yang menunjukkan batas-batasnya.

Misalnya saja, siapa yang memahami bagaimana handphone bekerja? Bagi mereka yang berlatar belakang pendidikan elektro, sebuah handphone hanyalah alat elektronik yang canggih, tetapi konsep-konsepnya dipahami, minimal diketahui. Namun bagi orang awam lainnya, benda kotak kecil ini menjadi alat yang ajaib. Ketika ada begitu banyak informasi yang dituangkan ke masyarakat oleh setiap produsen handphone, orang-orang yang terpesona oleh keajaibannya tidak mempunyai cukup informasi untuk memahami secara teknis. Itulah paradoks informasi: semakin banyak mencoba untuk menangkap informasi, semakin tidak mempunyai informasi yang dibutuhkannya. Handphone kini menjadi alat yang penting, karena mempengaruhi kehidupan banyak orang.

Bagaimana dengan perencanaan keuangan, dengan produk lembaga keuangan? Dalam prakteknya, masyarakat modern sedemikian tergantung kepada sistem keuangan, sekaligus sedemikian tidak paham dan terjebak oleh berbagai informasi yang tidak jarang saling bertolak belakang. Jangankan rohaniwan yang tidak mempelajari keuangan; orang yang menjadi pelaku pemasaran produk keuangan pun belum tentu sepenuhnya mengetahui seluk beluknya. Jangan heran kalau ada agen yang tidak paham perencanaan keuangan, mampu memasarkan banyak polis asuransi jiwa kepada banyak nasabah, atas nama perencanaan keuangan.

Aktivitas transaksi jasa keuangan, baik asuransi maupun perbankan, seringkali didasarkan pada kepercayaan semata. Orang membeli bukan karena mengerti, melainkan percaya. Orang menjual bukan karena mengerti, melainkan mengejar target dan komisi, dan percaya kepada leadernya. Praktek seperti ini bukan dalam pertimbangan atau dalam penalaran, melainkan keyakinan, serupa dengan kultus. Istilah yang digunakan mungkin berbeda, tetapi esensinya serupa.

Pemakaian cara-cara kultus dalam bisnis menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Pertama, bisnis pada dasarnya tidak mempunyai orientasi ketuhanan, jadi di sini dapat bergabung semua orang dari semua latar belakang agama atau kepercayaan. Tetapi, ketika pengendalian pikiran dilakukan, tidak ada batasan antara kepercayaan religius dengan kepercayaan bisnis. Orang dibuat untuk percaya bahwa leadernya adalah yang paling baik, jalannya adalah yang paling baik. Orang dibuat untuk percaya perusahaan ini bisa diandalkan dengan kepastian, membawa keselamatan dan kesejahteraan yang sempurna.

Perilaku manusia tidak dapat dibagi-bagi, atau dibuat berbeda, karena hal itu menuntut keutuhan jiwa. Orang bisa berpura-pura dalam bersikap pada peran-peran yang berbeda, namun caranya menentukan benar dan salah, moralitasnya, etika yang dipakainya, menuntut kesatuan – selama orang itu masih mempunyai nurani yang utuh.

Ketika ia memilih untuk bertindak, acuan dasarnya mengenai kebenaran tidak dapat berubah. Waktu orang mengikuti kultus dalam bisnis, masihkah ia dapat mengikuti prinsip kebenaran menurut keyakinan agama? Mungkin tidak, tetapi hal itu tidak dapat diakuinya secara terbuka. Pemahaman manusia tidak mengenal 'tempat', ia menerima sesuatu atau tidak menerima sesuatu. Apa yang diterima, diterima. Apa yang ditolak, ditolak. Di luar dari itu, hanyalah kepura-puraan, pengingkaran. Manusia mempunyai kemampuan unik untuk mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang diingkarinya, demi mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Bisnis bukan agama, tetapi pemahaman tidak mengenal ini bisnis dan itu agama. Kalau keduanya sejalan, maka keduanya pastilah mempunyai keadaan yang sama. Kalau ada hal yang kontradiktif, maka orang harus memilih salah satu, dan berpura-pura di sisi lain. Memilih agama, lantas berpura-pura bisnis. Atau memilih bisnis, lantar berpura-pura beragama. Untuk melakukan itu, orang mencuci otaknya sampai bersih.

Sampai otaknya menjadi kosong. Mengerikan.

24 Oktober 2010

Kekar

Penjara pada awalnya tidak dikenal di Israel. Orang yang bersalah, entah dihukum mati atau dibuang, atau membuat perdamaian dengan Allah dan segera kembali ke komunitasnya. Juga tidak ada tahanan perang, karena musuh dibunuh atau diserap dalam komunitas sebagai budak. Semua ini berubah ketika Israel mengenal bentuk kerajaan, dan akhirnya menjadi seperti orang lainnya, jatuh dalam penaklukkan. Orang Israel tahu apa artinya ditawan.

Penjara pada awalnya adalah lambang penegakan kekuasaan. Tidak perlu ada pengadilan, karena tidak semua orang setara. Hanya di antara warga yang sederajat saja hakim datang untuk mengadili. Untuk para budak, untuk orang asing yang lemah, sebuah tuduhan atau tuntutan sudah cukup untuk menjebloskan orang dalam penjara. Kekuasaan menjadi penentu bagaimana nasib orang yang dipenjara. Kekuatan menjadi ukuran, dan kehidupan tidak bernilai lebih daripada kemampuan yang ditunjukkan.

Di tengah permainan kekuasaan, Kepala Penjara adalah wakil dari kekuasaan. Di satu sisi, ia harus menunjukkan diri dengan sempurna. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada kegagalan. Di sisi lain, tidak ada yang dapat menentang kepala penjara, karena itu berarti menentang kekuasaan yang diwakilinya.

Jadi, bayangkan sosok kekar Kepala Penjara. Tubuh yang besar kuat mengerikan. Kehadirannya mengancam, menakutkan. Para pengusaha berupaya nenariknya berpihak pada mereka, dan itu membuat kehidupan kepala penjara makmur. Namun ia tidak menjawab orang biasa atau kepala setempat,
karena Kepala Penjara hanya tunduk kepada Raja dan tanda kekuasaannya. Tidak jarang, Kepala Penjara juga harus menangkap jenderal atau gubernur pemberontak. Sungguh sosok kekar yang menakutkan!

Bagaimana menjelaskan kabar baik tentang keselamata. kepada orang yang tidak tersentuh oleh manusia lain di sekitarnya?

Jalan Tuhan dimulai dengan seorang perempuan muda yang kesurupan, serta dua orang rasul yang harus menghadapi gangguan menyebalkan darinya sepanjang jalan. Bayangkan jika kita yang menjadi kedua penginjil itu, betapa tersiksa rasanya!

Respon yang bisa diduga, sang rasul mengusir iblis dari perempuan itu. Tetapi akibatnya lebih menyusahkan: para pengusaha yang memakai kuasa iblis di si perempuan itu menjadi marah, dan menangkap serta menjebloskan kedua orang malang itu ke penjara. Bukan hanya ditangkap, mereka juga lebih dahulu disiksa habis-habisan. Sakitnya!

Apa reaksi kita jika berada dalam situasi serupa? Adakah kita menjadi marah dan kecewa dan putus asa? Berapa sering kita berniat baik memberitakan Injil, tapi malahan mendapati kemalangan terjadi atas kita, seperti baru kena kutuk neraka?

Rasul Paulua dan Silas bernyanyi di penjara. Mereka menunjukkan iman. Di sini kuasa yang lebih besar dinyatakan, sehingga terjadilah hal yang tidak mungkin. Pintu penjara terbuka. Pintu kepada si Kepala penjara turut terbuka.

Jalan Tuhan tidak dapat diduga. Jika kita mau memberitakan Injil, perhatikanlah. Barangkali jalan yang terbuka tidak nampak nyaman, tetapi ini perlu. Dan kita tetap menerimanya dengan sukacita.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.3

17 Oktober 2010

Terus

Terus. Artinya melanjutkan, tidak berhenti. Kalau mobil disuruh jalan terus oleh polisi, walaupun lampu lalulintas berwarna merah boleh tetap bergerak maju. Tidak berhenti. Kalau orang kerja terus, ia masih mengerjakan apapun yang diperlukan walaupun jam kantor telah berakhir.

Apa kita suka terus? Kita bayar tol agar bisa jalan terus. Sekarang ini, semakin banyak kantor yang tetap aktif sampai jauh malam. Jam kerja menjadi semakin tidak jelas, terutama untuk tingkat atas. Kita berjuang untuk terus, sekaligus kita tidak suka terus-menerus, kecuali kita memaksakan diri. Manusia mau sejahtera, dan untuk menikmatinya harus berhenti. Celakanya, ada kompetisi dan pertandingan yang memaksa untuk terus. Pendapatannya ada, tapi tidak dapat menikmatinya.

Jadi, kita dipaksa untuk terus dalam hal seperti kompetisi dan kerja, sambil kita juga berhenti untuk hal-hal lain. Kita berhenti melayani Tuhan. Kita berhenti melakukan hal-hal yang diajarkan kepada kita sewaktu masih kecil. Kita berhenti mengajarkan hal-hal yang perlu kepada anak-anak, karena kita memaksakan diri, atau dipaksa, untuk terus bekerja, terus berjuang. Kita berhenti bersikap jujur, karena kita terus bersaing mencari untung. Kita berhenti untuk alasan yang salah. Kita terus untuk alasan yang sama salahnya.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, supaya terus ada di jalan itu sampai tua; demikianlah sabda penulis Amsal. Jalan yang patut adalah jalan yang benar, juga jalan yang memberi kehormatan.

Kepatutan berbanding lurus dengan martabat, dengan status. Setelah kita menjadi anak-anak Allah, menjadi umat-Nya, ada status yang mengiringi martabat, kehormatan, dalam setiap jalan dan cara yang kita lakukan. Ini bukan sekedar ilmu, melainkan apa yang sesuai dengan keberadaan kita. Di luar sana ada banyak pilihan, banyak cara dan jalan yang bisa dipilih, tetapi pilihan kita dibatasi oleh martabat kita.

Sejak muda kita harus belajar, dan mengajari anak muda, mengenai status dan martabat keberadaan umat Tuhan. Mereka perlu tahu, bahwa status ini bukan diperoleh atau diusahakan, melainkan diberikan. Kita harus bertanggung jawab kepada Tuhan yang memberikannya, sama seperti warganegara bertanggung jawab terhadap Rajanya. Ada banyak pilihan, namun tidak semuanya dapat diambil.

Kalau kita berpikir bahwa hal ini mengikat, memang menjadi ikatan. Tapi kita tidak punya pilihan, karena jika kita tidak mengikut Tuhan, maka kita akan ditaklukkan oleh iblis dan kerajaannya. Tidak ada pihak netral, kalau kita tidak tunduk pada Tuhan, maka kita harus tunduk pada iblis yang mengikat lebih kencang, sampai kita tidak punya pilihan selain pilihan sang iblis. Kalau kita tidak mengikuti jalan yang patut, kita akan diikat melalui jalan yang tidak kita ketahui.

Tidak banyak kesempatan, maka perjalanan ini harus dimulai sejak muda. Kita masih bisa memilih berbagai hal, karena jalan yang patut itu bukan hanya satu. Di sana ada kebebasan, ada kehendak yang dihormati, bahkan oleh Tuhan yang memberi kehendak bebas. Iblis tidak pernah menghormati hal itu.

Mari kita terus berjalan di jalan yang patut bagi kita!
Published with Blogger-droid v1.6.3

15 Oktober 2010

Diskusi Imaginer Dengan Ligwina Poerwo-Hananto

Bagian dari tulisan ini mengambil dari http://QMFinancial.com/content/view/140/36

Sebagaimana dilampirkan dalam buku Freddy Pieloor, "Jangan Beli Unit Link, bila Anda tidak paham benar!", hal 211

Ada teman-teman yg berbicara, dan menawarkan, tetapi sebagai Perencana Keuangan yang paham unit link, menarik untuk turut berdiskusi di sana.

Mbak, produk kami adalah produk unit link dari perusahaan ternama XYZ

Gak mau Mas, saya gak perlu unit link

Donny> Oh, memang betul, jarang orang merasa membutuhkan unit link. Produk ini bukan sesuatu yang dirasakan perlu, melainkan dipikirkan perlu.

Tapi kan perlu investasi Mbak

Sudah investasi dong Mas. Untuk investasi saya pakai beberapa reksa dana, beberapa bisnis, properti dan saham

Donny> Bagus sekali! Sebaiknya kita memang punya portofolio investasi dan asuransi. Unit link adalah produk unik yang menggabungkan investasi dengan asuransi, dengan cara yang tidak didapatkan pada produk lain. Tidak ada salahnya menambah diversifikasi dalam unit link, apalagi mengingat beberapa kelebihannya.

Tapi reksa dana kan ada risikonya Mbak.

Unit investasi dalam unit link itu kan reksa dana juga, Mas. Resiko investasinya sama saja, bergantung jenis instrumen di dalamnya.

Donny> Mbak, mungkin ada sedikit salah penjelasan. Yang jelas, produk reksa dana tidak dapat menanggung resiko hidup Mbak, bukan? Unit link menjadi investasi yang bukan saja memberi hasil, tetapi juga memberi perlindungan Asuransi Jiwa.

Unit link kan ada asuransinya dengan 1 juta/bulan. UP-nya besar loh Rp 280 juta.

No thank you. Rp. 280 juta gak cukup, Mas. Itu cuma seharga mobil suami saya. Masak nilainya suami saya disamain sama mobilnya? Kami sudah fully covered Mas, uang pertanggungannya Rp 1 M, cuma bayar Rp 4 juta/tahun. Uang Pertanggungan Rp 4 M, cuma bayar Rp 13 juta/tahun. Jauh, kan?

(FYI, asuransi jiwa term life 10 tahun untuk seseorang berusia sekitar 30 tahun, dengan uang pertanggungan di bawah Rp 400 juta, paling-paling preminya hanya Rp 750 ribu/tahun)

Donny> Nah, Mbak betul: memang Rp 280 juta nggak cukup. Kalau mobil Mbak Rp 280 juta, bisa diduga pendapatan per tahun sekitar Rp 400 juta, dan memang itu berarti butuh Asuransi Jiwa sebesar Rp 4 M. Unit link bisa memberikan Uang Pertanggungan sebesar itu lho, Mbak, bukan hanya Rp 280 juta.

FYI, sistem Asuransi dalam Unit Link sebenarnya serupa dengan Asuransi Jiwa Term Life. Bedanya, di sini Mbak tidak perlu bayar sendiri preminya yang Rp 13 juta/tahun, karena dana itu diambil dengan cara mencairkan unit di dalam investasinya – itulah sebabnya maka disebut unit link. Sementara itu, ada beberapa kelebihan lain Unit Link, yang bisa saya sebut minimal dua hal dibandingkan Asuransi Term Life.

Yang pertama, kalau orang berusia 30 tahun ambil Asuransi Term Life selama 10 tahun, di usia 40 tahun waktu perpanjangan, ia harus melakukan proses underwriting lagi. Kalau ia sudah tidak sehat, ia harus bayar premi jauh lebih mahal – bahkan mungkin ditolak. Lagipula, asuransi term life umumnya melindungi kurang dari usia 70 tahun.

Yang kedua, dalam asuransi unit link kita bisa menambahkan manfaat tambahan, seperti perlindungan terhadap penyakit kritis, atau perlindungan biaya rumah sakit – itu adalah hal-hal yang harus Mbak tambahkan sendiri kalau ambil Asuransi terpisah, lagipula berjangka pendek seperti Asuransi Umum lainnya. Begitu Nasabah kena penyakit berat seperti jantung atau kanker yang butuh banyak biaya RS, Asuransinya tidak dapat diperpanjang karena ditolak oleh Perusahaan Asuransi. Di Indonesia belum ada jaminan asuransi bisa diperpanjang.

Dalam unit link ada waiver dan rider yang sangat berguna loh, Mbak. Jadi kalau ada apa-apa dan tidak dapat membayarkan preminya lagi, perusahaan asuransi akan melanjutkan investasinya. Jadi di tahun ke-13, uang sekolah S1-nya dapat tetap tercapai.

UP Asuransi jiwa kami sudah sangat memadai. Jadi kalau ada apa-apa, justru UP ini yang harusnya langsung keluar, gak usah nunggu 13 tahun lagi dan kami investasikan kembali sekarang. (Money today is worth more than money 13 years from now!) Target dana S1 anak saya 13 tahun lagi Rp 1,5 M, kalau UP-nya 4 M artinya didepositokan juga sudah cukup.

Kalau sampai perusahaan asuransinya gak mau membayarkan klaim dengan UP jiwa ini pun, aset yang ada masih dapat dikelola agar menghasilkan nilai yang optimal.

Donny> Benar Mbak, seandainya "ada apa-apa" adalah meninggal dunia. Tetapi, resiko hidup ada yang lain, seperti mengalami cacat total tetap, atau menderita penyakit kritis. Asuransi Term Life memang besar dan bisa melindungi dari kematian dengan 'murah' (FYI, sebenarnya di Indonesia preminya masih tinggi, dibandingkan di negara maju), tetapi tidak melindungi dari resiko hidup.

Mbak pernah lihat orang yang tadinya makmur, lalu suaminya ternyata gagal ginjal dan tidak bisa bekerja lagi, sebaliknya tiap bulan harus cuci darah? Dalam waktu beberapa tahun, perawatannya menghabiskan seluruh tabungan dan aset keluarga. Dan celakanya, ia masih belum meninggal juga…sampai habis kontrak Asuransi Term Life-nya. Tentu saja perusahaan Asuransi tidak mau meneruskan perlindungan, dan akhirnya ia meninggalkan keluarga dalam keadaan sengsara.

Yang ini ada investasinya loh Mbak.

Unit investasi dalam unitlink itu sama saja dengan reksadana. Jadi investasinya langsung aja di reksadana Mas. Jadi kalau investasinya Rp 500ribu per bulan atau Rp 6 juta /tahun. Terus asuransinya dibeli terpisah dengan asuransi jiwa term life 10 thn (beserta asuransi kecelakaan), UP Rp 1 M, premi Rp 4 juta /tahun. Jadi dengan bayar Rp 10 juta / tahun saya dapat UP lebih besar, investasi saya di reksadana cuma dipotong 0% - 2% subscription fee. Tadi Mas kasih saya ilustrasi Rp 12 juta /tahun, UP cuma Rp 280 juta, unit investasi dipotong fee 5% dan tahun-tahun pertama gak langsung masuk ke unit investasinya.

Donny> Sebenarnya, ada dua perbedaan lho Mbak. Yang pertama, jika mau beli reksa dana, Mbak harus menyediakan dana awal yang cukup besar. Reksa dana kan bermacam-macam, ada yang baru sehingga resiko tinggi, ada juga yang dana kelolaannya sudah besar sehingga resiko lebih rendah. Reksa dana yang resikonya lebih rendah ini tidak dijual di semua bank, hanya di bank besar. Untuk mendapatkannya, Mbak harus menaruh dana puluhan juta. Kalau melalui unit link, Mbak bisa mendapatkan reksa dana yang sama, tetapi dengan dana setoran awal yang jauh lebih rendah, hanya ratusan ribu Rupiah saja.

Yang kedua, waktu masukin reksa dana memang hanya dipotong 0%-2% (dibandingkan 5% di unit link), tetapi untuk mencairkan reksa dana itu kelak, kena biaya 0,5% dari total dana yang dicairkan. Demikian juga kalau mau melakukan pemindahan dana (switching), di reksa dana dikenakan biaya 0,5% setiap kali melakukannya. Biaya penarikan dan pemindahan di unit link bisa gratis sampai batas tertentu.

Di tahun-tahun awal memang ada biaya pada unit link, tetapi itu bukan biaya investasi, melainkan biaya akuisisi asuransi. Biaya akuisisi selalu ada pada setiap produk asuransi; hanya dalam halnya unit link, seluruh biaya akuisisi asuransi dipungut di muka, setelah itu tidak ada biaya lagi. Kalau Mbak mengambil Asuransi Term Life, setiap kali Mbak membayar premi, setiap kali pula Mbak bayar biaya akuisisi, alias komisi agen.

Oh Term life, itu kan traditional Mbak. Kami udah gak jual itu.

Kenapa dong gak mau jual? Mau traditional atau modern gak masalah Mas. Yang penting produknya membuat Financial Plan saya efisien. Dengan mengeluarkan uang yang lebih sedikit, saya dapat lebih banyak coverage dan unit investasi yang saya dapatkan lebih banyak, gak dipotong-potong fee terlalu banyak. Ini belum ngomongin return lho.

Donny> Wah, sayang sekali kalau perusahaan Anda ngga jual itu lagi. Kalau perusahaan saya sih masih memasarkannya, sebagai bagian dari Perencanaan Keuangan yang baik. Soal fee, semua asuransi ada fee nya, yang besarnya kurang lebih sama saja. Hanya cara memungutnya yang berbeda, kalau Anda tahu bedanya…

Term life kan gak ada nilai tunainya Mbak? Terus kalau sudah tua, umur 55 misalnya, jadi mahal kan preminya Mbak.

Saya perlu asuransi jiwa untuk perlindungan jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Saya tidak beli asuransi untuk cari nilai tunai. Semua nilai tunai tercapai dengan investasi yang sistematik. Saya membuat Financial Plan keluarga saya lengkap dengan Dana Darurat dan investasi dibagi berdasarkan tujuan. Jadi keperluan asuransi pun harus direview tiap tahun.

Umur 55 tahun harusnya sudah siap dengan dana pensiun dong. Jadi gak perlu lagi asuransi jiwa. Kalau pun belum punya dana pensiun, anak-anak harusnya sudah besar-besar. They should take care of themselves, gak perlu lagi nilai tunai atau Uang Pertanggungan asuransi jiwa dari kami. Umur segitu yang saya perlukan jadinya asuransi kesehatan untuk pensiunan dan Dana Pensiun dalam jumlah besar.

Donny> Sebenarnya, masalah dengan Asuransi Term Life bukan soal nilai tunai, melainkan kepastian kelangsungannya. Sayang belum banyak Agen Asuransi Jiwa yang menyadari masalah ini: Asuransi Jiwa seharusnya dapat melindungi sampai seumur hidup, bukan berjangka (term). Jika orang sudah mengalami suatu penyakit pada waktu ia mengambil asuransi berjangka, ia tidak bisa meneruskan asuransinya dan tidak bisa meminta asuransi jiwa ke manapun juga. Kecuali, kalau ia mengambil produk Asuransi Term Life kami yang dalam kurun waktu 10 tahun bisa dilanjutkan menjadi Asuransi Jiwa seumur hidup, tanpa perlu underwriting lagi.

Dalam Financial Planning, selain mengumpulkan dan memproteksi kekayaan, juga ada bagian yang disebut Wealth Distribution. Memang usia 55 sudah pensiun, tetapi justru di saat ini adalah waktu yang tepat untuk merencanakan bagaimana kekayaan yang sudah dikumpulkan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Cara terbaik masih tetap Asuransi Jiwa, karena sangat mudah untuk membagi warisan tanpa kena pajak.
Kalau mau ambil Asuransi Kesehatan, bagaimana mungkin bisa mendapatkannya dari Asuransi Umum? Batas usianya jarang yang lebih dari 65 tahun. Tetapi kalau dari Unit Link, sekarang perlindungan kesehatan mencapai 75 tahun. Di perusahaan saya, perlindungan kesehatannya bisa memberi Sesuai Tagihan.

Betul Mbak, kesehatan penting sekali. Yang ini ada untuk penyakit kritisnya Mbak. 40 penyakit kritis yang dicover.

Permisi ya... coba deh periksa di polis asuransi yang sudah jadi. Asuransi penyakit kritis ini gak akan langsung keluar begitu kena diagnosa. Fungsi asuransi penyakit kritis ini fungsinya seperti asuransi kecelakaan : untuk menggantikan hilangnya penghasilan karena ketika kena penyakit kritis kita gak bisa bekerja normal lagi. Bukan untuk mengobati. Jadi kalo kena diabetes, masih bisa hidup 7 tahun lagi, ya gak keluar tuh UP penyakit kritisnya. Gagal ginjal kedua-duanya dan tidak bisa transplan lagi, baru keluar UP penyakit kritisnya. Stroke, keluar UP nya. Kanker, stadium 4 baru keluar UP nya.

Donny> Betul Mbak, perlindungan terhadap Penyakit Kritis memang dimaksudkan memberi sejumlah dana yang besar saat seseorang mengalami penyakit kritis, yang membuat produktivitasnya hilang walaupun ia masih hidup. Kalau untuk kesehatan, di sini ada Asuransi biaya Rumah Sakit, bukan Penyakit Kritis. Kalau kena diabetes, dia kan masih bisa bekerja dan produktif? Tentunya, dia belum bisa melakukan klaim. Tetapi, dalam penyakit kritis ada perlindungan terhadap kelumpuhan, ada perlindungan terhadap stroke yang merusak otak secara permanen. Penderitanya masih hidup, tetapi secara total tidak bisa bekerja dan harus hidup dari bantuan orang lain. Perlindungan Penyakit Kritis memastikan ada dana yang tetap tersedia. Celakanya, jaman sekarang penyakit kritis semakin sering terjadi. Kecenderungannya meningkat, karena perubahan gaya hidup dan lingkungan yang terpolusi. Dapatkah Mbak yakin bahwa Mbak terbebas dari resiko kesehatan ini?

Jadi kalau kena penyakit kritis gimana dong Mbak?

Harusnya Dana Daruratnya ada tuh Mas kalo cuma mau Rp 280 juta. Kalau kuatir dengan bagaimana mengobati penyakit kritis, kita perlu asuransi kesehatan yang bagus banget – yang mau bayarin biaya berobat rutin untuk penyakit kronis. Terutama yang ada guarantee renewability nya. Nah di Indonesia belum ada aturan yang mengharuskan guarantee renewability, jadi mending ambil asuransi kesehatan yang premium, udah ada kok dari luar negeri. Tinggal dibandingkan mana yang prioritas, beli asuransi premium ini atau investasi. Premi asuransi kesehatan premium itu berkisar antara US$700-US$7000, dengan benefit pembayaran jika sakit yang aduhai juga.

Donny> Dalam asuransi kesehatan pada prinsipnya ada 3 macam. Yang pertama adalah menggantikan biaya Rumah Sakit. Yang kedua adalah menggantikan produktivitas yang hilang karena masuk rumah sakit, semacam dana tunai harian rumah sakit. Yang ketiga adalah memberi uang pertanggungan karena mengalami penyakit kritis yang menghilangkan seluruh kemampuan produksi.

Kalau kena stroke, atau lumpuh, orang kan tidak dirawat seterusnya di rumah sakit. Kalau mengambil Asuransi Kesehatan, perawat di rumah hanya bisa diklaim untuk jangka waktu tertentu saja. Jadi sebagian besar waktu perawatan di rumah tidak bisa ditutupi oleh Asuransi biaya Rumah Sakit. Bahkan sekalipun Mbak ambil Asuransi Kesehatan yang dari luar negeri, tetap saja Mbak tidak bisa mengklaim biaya perawatan di rumah dalam jangka panjang. Mbak tidak bisa menggantikan asuransi Penyakit Kritis dengan asuransi biaya Rumah Sakit.

Yang syariah juga ada lho Mbak

(may be it's the jilbab thing hehehe)
Mas, bukan soal syariah gak syariahnya. Tapi struktur produk unitlink nya ini yang gak nyambung sama sekali dengan Financial Plan saya. Kalau mau cari produk syariah, reksadana juga banyak yang syariah.

Donny> Iya Mas, tidak tepat membawa penawaran berdasarkan ibadah ke dalam Financial Plan.

Return unitlink tinggi lho Mbak.

Kalau mau return tinggi, justru jangan di unitlink Mas. Reksadana Saham tuh resiko tinggi, return juga sekarang lagi tinggi. Sama kan unitlink juga punya kok reksadana saham, disebutnya equity fund, padahal sama aja. Jadi tinggal liat, hayo berapa return equity fund nya?

Donny> Sekali ini saya setuju banget dengan Mbak. Sebenarnya, karena unit link itu investasi, maka ada manajer investasi. Siapa Manajer Investasi dari unit link yang Mas tawarkan? Kalau yang mengelola adalah perusahaan asuransi jiwa, maka kompetensinya diragukan. Tetapi, perusahaan asuransi jiwa seperti yang saya wakili memakai Manajer Investasi yang berlisensi dari Bapepam-LK untuk memasarkan Reksa Dana. Bahkan, sebenarnya return Equity Fund dari unit link kami persis sama dengan return reksa dana saham yang dipasarkan ke publik. Inilah reksa dana saham yang mempunyai dana kelolaan terbesar di Indonesia, dan selalu mendapatkan Award sebagai Reksa Dana Saham jangka panjang terbaik di Indonesia.

Itu kan cuma urusan MI mana yang lebih jago aja. Jadi siapa MI nya?

Schroders, Fortis, Manulife, Trimegah, Danareksa? MI-MI itu semua jual reksadananya sendiri lho, beli langsung atau lewat bank juga bisa, subscription fee nya juga lebih rendah 0%-2%, di unitlink 3%-5% kan? Coba deh cek siapa MI nya. Kalau MI ini gak jual reksadananya (baca: unit investasi dari unitlink) kecuali lewat asuransi yang sister companynya, malah gawat dong. Artinya distribusinya terbatas sekali. Ya simple aja, bandingin performance nya dengan MI lain. Kita mempercayakan dana kita dikelola oleh MI, ya harus mau membandingkan MI-MI ini dong. Tapi, ngapain saya beli reksadananya Schroders, Manulife, Fortis atau Danareksa lewat asuransi kalo saya bisa beli langsung ke mereka atau lewat bank?

(FYI periksa performance MI di unitlink dan reksadana. Harusnya dalam 3 tahun terakhir equity fund dari unitlink dan reksadana dapat menghasilkan return > 40% per tahun. Jadi kalau ada MI yang equity fund nya di tahun 2005 hanya menghasilkan 14%.... tanya kenapa! Yang bener aja, diputerin ke mana tuh uangnya, ngaku aja equity fund, jangan-jangan isinya bukan saham. Gawat gak tuh?)

Donny> Kebetulan Mbak menyebut Schroders, merekalah yang menjadi Manajer Investasi dalam unit link yang kami sampaikan. Sampai sekarang Mbak bisa membandingkan NAB dari reksa dana Schroders yang dijual ke publik, dengan NAB dari unit link kami. Sama persis sampai seluruh angka di belakang koma. Jadi berapapun hasil investasinya, Mbak bisa mengikuti dengan cara melihat kinerja reksa dananya, misalnya Schroder Dana Prestasi Plus untuk Equity Fund kami.

Sekali lagi, tentu saja Mbak bisa mendapatkan Asuransi Jiwa yang berjangka panjang, lebih daripada Asuransi Term Life, bisa mendapatkan manfaat tambahan, Mbak tidak perlu mengeluarkan dana besar untuk berinvestasi di reksa dana top seperti Schroders via bank, dan Mbak bisa melakukan penarikan dan pemindahan dana secara gratis. Itu alasan-alasan yang bagus untuk berinvestasi di unit link, bukan?

Ya diversifikasi aja Mbak. Kalau punya uang lebih, bisa ditaro di unitlink.

Mas, unit investasi dalam unitlink itu sama aja dengan reksadana. Jadi kalau mau diversifikasi bukan lewat unitlink, tapi di jenis instrument nya. Money Market, Fixed Income, Balance or Equity. Jadi diversifikasi bukan liat di struktur asuransi yang digabungkan dengan unit investasi reksadana dong. It doesn't make sense.

Donny> Sebenarnya, ada berapa reksa dana yang Mbak ambil sebagai diversifikasi? Apakah hanya 1 reksa dana dalam setiap kelas aset? Beda manajer investasi, beda hasil investasi, beda resikonya lho, Mbak. Kita melakukan diversifikasi pada kelas aset yang berbeda, juga pada kategori yang berbeda. Mbak ambil Fortis yang lebih agresif, mungkin baiknya Mbak juga ambil Schroder yang lebih konservatif. Tapi kalau semuanya ambil lewat Bank, berapa banyak dana yang Mbak harus tanamkan? Dengan unit link, Mbak bisa menaruh dengan nilai yang lebih rendah, lalu melakukan investasi terjadwal, seperti strategi dollar cost averaging. Bukankah dengan begitu Mbak lebih untung?

Ya tapi kan gak semua orang seperti Mbak Wina…

Lho, kenapa gak? Tell me : Why not?

Coba kasih alasan yang bener.

Kenapa kita semua gak bisa bikin Financial Plan yang komprehensif – yang lengkap – yang betul-betul memperhatikan semua kebutuhan keluarga kita? Kenapa kita semua gak bisa membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk-produk investasi atau asuransi yang sedang ditawarkan di depan mata kita?

Kenapa kita semua gak bisa membeli produk keuangan dengan lebih efisien, sehingga gak bayar fee kebanyakan, gak beli produk yang underperforming, dan bisa mencapai lebih banyak tujuan finansial dengan lebih cepat?

Gak ada kan alasan supaya kita gak bisa begitu?

Donny> Hahaha… di dunia ini, memang Mbak Wina hanya ada seorang. Jelas dan pasti, nggak perlu dijelaskan lagi 'kan?
Tetapi, kalau untuk Financial Planning, ada baiknya kita mendalami segala sesuatu lebih teliti sebelum menilai. Kalau ada Agen yang belum menjelaskan dengan benar, tidak berarti produk yang dibawanya itu secara esensial tidak berguna, atau tidak mempunyai manfaat yang unik dan dibutuhkan oleh kita. Saya percaya, ini adalah bagian dari "membuat diri lebih pintar supaya bisa mengerti semua isi dagangan produk investasi atau asuransi"

Mbak, menerima dengan sembrono asal turut omongan agen adalah kekeliruan, demikian juga menolak dengan semberono asal menuruti emosi itu salah. Semua produk ada biayanya, ada manfaatnya. Semua produk ada kelebihannya, juga ada batasannya. Kita tidak bisa berharap ada orang mau menjual produk keuangan, apapun juga, di manapun juga, tanpa memperhitungkan komisi dan keuntungan. Kalau kita sedemikian berhati-hati terhadap biaya dan komisi di Asuransi, apakah kita juga berhati-hati terhadap biaya dan komisi yang dikenakan oleh perbankan?

Bener Mbak, gak ada alasan supaya kita gak bisa begitu.

Peace… ^.^

06 Oktober 2010

Janji Nikah

Di dunia, manusia membuat perjanjian antara satu dan lainnya atas banyak urusan. Kontrak dibuat, dilaksanakan, dan dihentikan. Ada yang sudah dihentikan sebelum waktunya, karena berbagai macam hal dan peristiwa. Bukan hal yang aneh untuk memutuskan suatu perjanjian, baik oleh kedua belah pihak secara damai, maupun melalui perseteruan di pengadilan perdata. Pada prinsipnya, perjanjian itu mengatur demikian: pihak pertama melakukan ini dan itu, sehingga berhak untuk mendapat ini dan itu. Pihak kedua, berkaitan dengan pihak pertama, melakukan ini dan itu, sehingga berhak mendapat ini dan itu. Masing-masih pihak menaruh kepentingannya, dan sebuah kontrak yang baik diharapkan dapat memuaskan kepentingan semua pihak.

Namun, sebenarnya ada satu perjanjian yang istimewa. Perjanjian ini disebut istimewa karena tiga hal: pertama, usahanya bukan memuaskan kepentingan sendiri, melainkan memenuhi kepentingan pihak lain. Kedua, perjanjian ini tidak memiliki batas waktu untuk dihentikan. Ketiga, tidak ada yang dapat menghentikan perjanjian ini di tengah jalan. Inilah Perjanjian Baru yang dibuat antara Tuhan Yesus Kristus dengan umat-Nya.

Perhatikanlah: dalam Perjanjian ini Tuhan Yesus memuaskan kepentingan orang percaya untuk memperoleh keselamatan, yaitu dengan cara memberikan Diri-Nya sendiri sampai mati di kayu salib. Keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yesus tidak dibatasi oleh waktu, orang yang percaya dan selamat memperoleh hidup kekal di dalam Dia. Dan tidak ada satupun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan ketika kejahatan di dunia ini mendera orang percaya.

Perjanjian yang dibuat oleh Tuhan Yesus, juga digambarkan oleh perjanjian nikah antara laki-laki dan perempuan. Bukan berarti perjanjian nikah memiliki keistimewaan yang setara dengan Perjanjian Baru, tetapi sebagai gambaran atau rupa, perjanjian nikah mempunyai ciri yang serupa. Dalam perjanjian pernikahan, suami memuaskan kepentingan istri, dan istri memuaskan kepentingan suami. Selama masih tinggal di dalam dunia -- karena gambaran hanya berarti di dalam dunia -- perjanjian nikah tetap berlaku. Dan seharusnya, pernikahan tidak boleh diceraikan -- apa yang dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan manusia. Tetapi, sekali ini hanya suatu gambaran, yang seringkali menjadi rusak dan jauh dari sempurna.

Dosa mengacaukan hakekat manusia sebagai gambar dan rupa Allah, demikian juga mengacaukan hakekat pernikahan sebagai gambar dan rupa Perjanjian Baru antara Kristus dengan umat-Nya. Tetapi jika orang benar-benar percaya dan tunduk kepada otoritas Tuhan, maka ia akan berusaha untuk menjadi seperti Kristus, demikian pula berusaha agar pernikahannya serupa dengan hubungan Kristus dan umat-Nya. Dia mengasihi umat-Nya sampai bersedia memberikan nyawa-Nya, sementara umat tunduk dan taat kepada Kristus sebagai Kepala Gereja.

Gambar tidak dapat mengagungkan dirinya sendiri. Gambar hanya menunjukkan yang asli, dan tidak memiliki kemuliaan yang sama. Berbahagialah pasangan yang kehidupannya menggambarkan janji Tuhan yang istimewa!