Cari Blog Ini

31 Desember 2009

My Life

Di akhir tahun, konon baik untuk mengingat tahun-tahun yang sudah berlalu. Tentang apa yang sudah dikerjakan… apa yang sudah berjalan. Melihat apakah setiap tahun berjalan begitu saja, atau ada sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Untuk diingat. Dan tentu saja, dimulainya dari saat mulai memberikan hasil, memberikan produksi – sesuatu yang bernilai.

1993: Waktu itu kuliah sudah selesai, jadi mengerjakan skripsi. Sambil membuat skripsi, juga mulai bekerja jadi desainer grafis di sebuah percetakan. Pemiliknya adalah kakak dari teman baik semasa SMA, juga segereja. Waktu itu masih pakai CorelDraw versi 3, cukup untuk membuat segala macam bon dan formulir.

1994: Akhirnya kuliah selesai! Jadi mulai tahun ini menyandang gelar "Sarjana Teknik Elektro" dengan bidang utama sistem kontrol. Mau bagaimana lagi, memang waktu itu habis-habisan menyukai komputer, sampai membuat skripsinya juga dengan alat mikroprosessor Z80, lengkap dengan memori dan I/O nya. Dengan chip EPROM yang bisa diprogram ulang – waktu itu, untuk menghapusnya pakai lampu UV intensitas tinggi, lalu diprogram ulang dengan alat, hasilnya bisa dibuat untuk apa saja, asal tahu bikin program assemblernya. Untung ada makro assembler untuk Z80, jadi lebih mudah kompilasinya – saya beruntung karena teknologi semacam itu baru ada belakangan. Nah, setelah lulus, tentu saja pertama-tama melamar jadi teknisi. Tetapi kemudian perusahaan yang sama membuka lowongan kerja sebagai Sales Engineer, dan akhirnya saya beralih jadi Sales! Pandai di bidang teknik, tapi bodoh bodoh bodoh sekali di dalam pemasaran. Nyaris tidak bisa jualan apa-apa, tetapi tahun ini adalah tahun pembelajaran pertama di bidang marketing.

1995: Ternyata, menjadi sales itu ada dua cara. Cara pertama adalah cara yang 'lurus'. Cara kedua adalah cara yang 'bengkok', yaitu dengan koneksi dan bujuk dan sogok. Ini tidak menjadi sesuatu yang baik, dan TUHAN menolong dengan begitu saja memberikan sebuah tempat lain untuk bekerja. Ini adalah benar-benar pekerjaan Tuhan, karena bahkan saya sendiri tidak ingat kapan pernah mengirimkan surat lamaran – bukannya karena banyak kirim surat, sebaliknya rasanya saya jarang sekali mengirim! Tidak masuk akal! Bagaimana mungkin saya bisa dipanggil psikotest? Tetapi saya masuk dan lolos. Dan sebulan kemudian, saya dikirimkan ke kota Medan sebagai Representative Officer! Ini adalah masa-masa yang sukar, karena bukan saja harus menangani kota Medan, melainkan juga seluruh provinsi Sumatera Utara, Aceh, Riau, bahkan sampai Sumatera Selatan dan Jambi. Dari seluruh Sumatera, hanya Bengkulu dan Lampung yang tidak disinggahi. Aneh dan gila, tapi nyata… ada rookie yang ditugasi seperti ini.

1996: Sampai pertengahan tahun masih ada di Medan, tapi akhirnya berhasil juga membangun kantor baru plus merekrut Kepala Cabang yang baru. Leganya! Sekembali ke Jakarta, langsung minta untuk mengikuti pelatihan dasar. Jadi ikut batch no 68 dari AMDI, selama satu bulan. Kemudian, juga ditarik untuk masuk ke Direct Sales Department, sebagai Marketing Supervisor. Di sini belajar banyak tentang Total Quality Control, juga mengenai 7 Habits of Highly Effective People. Oh ya, waktu itu juga terlibat (dan masih bodoh juga, masih belajar keluar dari kebodohan) dalam acara ulang tahun korporasi yang besar sekali, yang acaranya diadakan di PRJ Kemayoran, Jakarta. Persiapannya lama, berbulan-bulan. Selama itu juga belajar tentang berjualan. Karena bersentuhan dengan korporasi, jadi belajar banyak hal juga, termasuk belajar Asuransi. Untuk pertama kalinya mengunjungi kantor Asuransi Kerugian, kemudian mendapatkan seminar dan pejelasan dari teman-teman Asuransi Jiwa. Tidak lupa, juga belajar soal perbankan (karena jualan Direct Sales sebagai hadiah Bank), juga pertama kali membuat kartu kredit – masih dipakai sampai sekarang.

1997: Selagi acara ulang tahun korporasi yang luar biasa besar ini berlangsung tanggal 20 Februari 1997, di kantor terjadi perselisihan karena kantor ini dinahkodai oleh dua pihak, yang satu Indonesia lainnya Korea. Kedua pihak melihat usaha ini sudah menjadi produsen televisi terbesar di Indonesia waktu itu, dan pertarungan internal pun memanas. Puncaknya, atasan saya diselamatkan – kata lain dari dipindahkan ke perusahaan lain di korporasi. Saya diajak ikut, sempat mengunjungi kantor yang waktu itu ada di gedung Setiabudi, di Kuningan – Jakarta. Tapi ini adalah perusahaan finance, yang tidak saya sukai. Saya masih terlalu suka dengan teknologi dan komputer, belum bersedia melepaskannya. Jadi, saya berhenti dan berpindah ke perusahaan vendor IT yang besar – saya waktu itu belum tahu, tetapi ternyata TUHAN membawa saya ke sebuah perusahaan lokal yang SANGAT besar, memasok teknologi informasi kepada puluhan bank lokal di Indonesia. Belajar langsung dari seminar-seminarnya IBM, mempelajari workflow system, belajar juga segala aspek tentang perbankan. Sambil jalan juga belajar mengenai Microsoft lebih dalam lagi – baru mengerti ada yang namanya sertifikasi MCSE – Microsoft Certified System Engineer. Ingin punya juga…tetapi waktu itu lebih fokus sebagai Liaison Officer. Sambil bekerja, kami dahulu prihatin dengan krisis moneter yang dimulai dari jatuhnya mata uang Baht Thailand. Oktober 1997, Bank Indonesia melepaskan Rupiah, yang langsung membumbung naik. Devaluasi dahsyat terjadi.

1998: Pekerjaan ini menyenangkan dan hasilnya lumayan. Ini saatnya mengenali dan mendalami IBM AS400, tapi keterampilan untuk membuat data, menjalankan proyek, dan membuat presentasi mengantar saya masuk dalam divisi Govermental Banks, menjadi Account Officer. Di tahun yang sama juga menjadi Internal Quality Auditor untuk ISO 9001, karena memang itulah waktu yang luar biasa ramai dikantor. Memenuhi compliance untuk ISO 9001 sama sekali tidak mudah, sekaligus juga mahal. Sambil menjalankan proyek – waktu itu ada proyek konsultasi bernilai milyaran dengan bank BRI – saya melihat pergolakan politik membawa korban. Berkantor di lantai 19 gedung BRI I, saya melihat anak-anak mahasiswa Atmajaya bergelimpangan. Dan siapa yang bisa lupa tentang begitu banyak orang di luar kantor yang mau menyerbu masuk? Mereka begitu liar, baru saja menghancurkan gerai Makro di Ciputat! Tapi, kami tetap menjalankan proyek. Juga berkesempatan bekerja sama dengan konsultan Ernst & Young Singapore… Ini adalah tahun di mana saya harus mempresentasikan kebutuhan proyek kepada vendor-vendor asing, dari Amerika, Kanada, Singapore, India… belajar presentasi dan meeting dalam bahasa Inggris. In IT world, everything communicated in English. Satu lagi… ini juga tahun kebahagiaan, karena di tahun ini juga saya menikah, walau dalam keprihatinan. Bayangkan, baru saja bulan Mei 1998 ada kerusuhan hebat, kami menikah tanggal 6 Juni.

1999: Ini tahun yang hebat, karena istri sudah hamil dan akan melahirkan di kuartal kedua. Pilihannya, saya tidak mungkin berpisah dari istri dan anak, jadi entah mereka ikut ke Jakarta atau saya pindah ke Bandung. Tetapi melihat situasi Jakarta yang tegang dan penuh isu, tidak mungkin mereka ke Jakarta. Jadi saya keluar kerja dan pindah ke Bandung. Saya bekerja di Cimahi, sebagai Staff Factory Manager, setingkat Kepala Bagian. Ini pengaturan yang aneh, karena waktu itu atasan saya yang jadi Factory Manager juga merangkap jadi General Manager di Distribusi. Alhasil, pabrik ini ada dalam pengaturan saya, mengurusi belasan mesin rajut. Ada Liropol, Malimo, Malipol…yang dibuat adalah kain rajut handuk yang lurus-lurus. Jadi, tahun ini adalah saat membenahi pabrik, membuat sistem komputernya (ternyata pengalaman IT di masa lalu sangat sangat sangat berguna), membuat sistem gudangnya, membuat dokumennya, membuat dokumen kualitas, bahkan membuat rencana penilaian kerja karyawan. Cukup banyak bagi orang yang sebelumnya jadi Account Officer di konsultan IT untuk bank. Tapi, hasilnya lumayan…

2000: Di tahun ini dimulai dengan kekecewaan, karena salah paham. Ini repotnya kerja dengan perusahaan keluarga, yang bukan berdasarkan manajemen, sebab tidak semua orang bisa memahami apa yang sudah dibuat, apalagi mereka tidak punya latar belakang pengalaman manajerial. Waktu itu sempat terpikir, apakah mau berhenti saja? Tetapi Tuhan menunjukkan saya masuk ke Sekolah Tinggi Teologia di Bandung. Saya tidak berhenti, sebaliknya mengambil posisi EDP Department Head, yang kemudian jadi MIS Department Head. Yang pertama-tama dikerjakan adalah mengkaji teknologi yang dipakai, waktu itu masih pakai Clipper, dengan jaringan komputer Novell. Karena itu, rencananya adalah melakukan perubahan, mula-mula mereprogram dengan Clipper 5 dan membuat sistem operasinya bekerja dengan Microsoft Small Business Server 2000. Belinya orisinal! Tetapi, harus mengajarkan dulu staff untuk melakukannya. Jadi tahun ini kami membuat rencana…dimulai dengan desain sistem baru.

2001: Pengkajian dituntaskan dengan dokumen tentang desain, yang mulai diimplementasikan. Waktu itu, ada program di Clipper 5, tetapi kami juga mulai membuat aplikasi dengan Visual Basic. Kami membuat databasenya dengan SQL Server 2000, dengan prinsip Client-Server. Kami membuat sistem informasinya dengan MS Exchange. Kami juga membuat intranet – aplikasi berbasis web yang hanya bisa diakses dari jaringan di dalam kantor. Hasilnya mulai terasa: untuk membuat laporan meeting tahunan yang biasanya butuh waktu bulanan, kini selesai dalam hitungan hari. Dengan SQL, untuk mencari data tinggal memasukkan perintah yang benar – hasilnya keluar dalam hitungan detik. Kami mengumpulkan semua data yang ada sejak tahun 1988, melakukan konversi, dan membuat data repository. Semua diprogram mulai dari tahun ini. Di akhir tahun, saya juga mendapatkan kebahagiaan atas kelahiran anak kedua kami, anak perempuan yang cantik dan lucu.

2002: Ini adalah waktu di mana semua yang dibuat mulai jadi kenyataan. Program mulai berjalan Maret 2002. Ada banyak detil teknis yang sekarang tidak diingat lagi, karena memang proyek ini kompleks. Yang pasti, ada tiga bagian besar yang harus ditangani: orang-orang, pembenahan cara kerja, dan teknologi informasi. Di saat yang sama, di tahun ini juga ada masalah dengan departemen pembelian (Merchandising Department). Jadi waktu ini saya diminta untuk merangkap sebagai MD Dept. Head, pejabat sementara. Karena sebelumnya pernah mengatur pabrik, jadi kurang lebih tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang akan terjadi.

2003: Sistem MIS mulai berjalan, sementara keterlibatan saya dalam MD juga menjadi semakin dalam. Kami mulai mengejar klien-klien besar seperti Alfa, Makro, Carrefour, dan Giant. Kami juga mengerjakan hal-hal baru dalam desain, mengembangkan lini produk bayi dan memasarkan ke outlet Department Store seperti Yogya di Bandung. Untuk produk baru bukan saja dibutuhkan salesman yang baik, melainkan juga program pemasaran – kami membuat foto, desain grafis, kemudian membuat cetakan untuk promosi. Ini berjalan terus di waktu-waktu berikutnya. Tahun ini juga saya lulus dari Teologia sebagai Master of Arts in Urban Ministry. Belajar ini membuka mata dan pikiran tentang teologi, biblika, dan tentang pelayanan bagi masyarakat. Ada banyak sudut pandang dan cara hidup yang tidak tepat dari masyarakat Indonesia, baik di bidang keuangan, pendidikan, maupun kesehatan. Sesuatu yang sangat serius…. Tapi saya waktu itu kan masih bekerja di pabrik. Jadi, apa jalan Tuhan?

2004: Sistem di dalam memang masih kurang di sana-sini, tetapi sekarang lebih diandalkan, lebih cepat, dan memungkinkan untuk melihat lebih banyak hal. Perubahan juga semakin besar dengan pola pemasaran yang lebih terstruktur, dengan promosi yang lebih baik. Sayangnya, hal ini tidak kelihatan selalu bagus, karena pasar juga turun naik, dan sekarang turun lagi, turun lagi. Sebenarnya kalau kami tidak melakukan perubahan, turunnya bisa lebih parah – hanya, di mata Direktur, ya terlihat tidak bagus. Sekali lagi terjadi guncangan, ketidakpuasan, dan kebingungan sampai akhir tahun. Bagi saya, permintaannya adalah untuk bukan hanya melayani satu perusahaan distribusi ini saja, tetapi juga mengerjakan perusahaan lainnya di dalam group. Saya pun pindah lagi, kini mengelola manajemen sistem informasi Group Perusahaan.

2005: Mengelola sesuatu adalah pekerjaan kerja sama – pelajaran pentingnya, tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermakna hanya dengan kepala dan tangan sendiri. Sekarang saya mengerjakan IT di berbagai perusahaan, sekaligus menyiapkan materi promosi dan desain grafis untuk beragam produk – tetapi saya lihat ini tidak menuju kemana-mana, walaupun hasilnya bagus. Yang tidak paham, tidak bisa memanfaatkan sebagus apapun hasilnya! Jadi, di tahun ini saya berhenti, apalagi waktu itu ada tawaran untuk mengambil posisi manajerial di perusahaan yang lebih besar. Saya pindah kerja ke sana, tetapi yang saya alami selama 3 bulan, sistem yang ada justru lebih kaku, sekalipun berniat untuk menjadi modern. Ada hal-hal seperti budaya dan karakter pemilik yang tidak selalu mendukung sistem dan pola kerja yang modern. Jadi pertemuan ini hanya berlangsung 3 bulan saja… dan saya berhenti, di akhir tahun.

2006: Awalnya, saya berniat untuk bekerja sendiri, berusaha sendiri. Saya bisa fotografi, bisa desain grafis di komputer, juga bisa buat program dan website. Saya tahu bikin proyek seperti apa, buat perencanaan bisnis seperti apa… jadi dimulailah usaha kecil yang kecil-kecilan itu, membuat kartu nama dan foto ini dan itu. Sementara nampak berjalan, tapi jelaslah bahwa hasilnya jauh dari memadai. Istri saya yang baik turut mendukung dengan masuk sebagai agen Asuransi Jiwa – itulah perkenalan pertama saya dengan industri ini secara utuh. Dahulu memang pernah belajar, juga waktu berhubungan dengan perbankan belajar keuangan juga, tetapi tidak seserius ini. Karena di tahun ini, dimulai dari mendukung istri akhirnya saya membuat paket produk Asuransi Jiwa yang diberi nama Life Jacket (saya buat namanya, terus buat brosurnya, mula-mula untuk dipasarkan istri) – dan akhirnya kami membuat apa yang disebut Savingplus, yang diluncurkan September 2006. Programnya adalah suatu network marketing di mana setiap nasabah dapat juga menjadi agen hanya dengan mengundang, untuk memperoleh Life Jacket yang memang menguntungkan.

2007: Saya menjadi presenter dan akhirnya juga memberikan training, untuk jaringan yang dibentuk oleh program Savingplus. Tentu saja, saya juga membuat presentasi pemasaran dan materi promosi yang dibutuhkan – itu keahlian yang berguna, bukan? Kami mempunyai tiga kompetensi inti: ada produk yang hebat, ada jaringan yang hebat, dan ada Business School yang hebat yang tidak dimiliki perusahaan lain atau agensi lain (maafkan kesombongan ini). Sepanjang 2007, saya memberikan training – ada puluhan angkatan dan ratusan orang terlibat, juga memberikan presentasi kepada siapa saja. Agen kami sepanjang 2007 ada lebih dari 800 orang. Kami punya cabang di lebih dari 20 kota. Kami memasarkan ini kepada ribuan orang – bahkan akhirnya Life Jacket dan Savingplus mempunyai nama di pasaran, melebihi nama perusahaan! Ini menurut Mark Plus forum… tetapi masalah terjadi. Agustus 2007, ada masalah Subprime Mortgage di Amerika. Setelah itu, dunia melihat kehancuran mulai terjadi…. Tapi, di Indonesia sendiri hasil investasi masih tetap mengagumkan, dengan imbal hasil setahun lebih dari 50%. Sementara itu, di tahun 2007 juga dimulai sertifikasi AAJI, sebagai pelaksanaan ketentuan pemerintah.

2008: Ini adalah tahun di mana segmen Livingplus di acara Morning Coffee Maestro FM, Bandung, dimulai. Isinya adalah edukasi perencanaan keuangan bagi masyarakat. Sementara itu, Savingplus mengalami masalah serius. Kombinasi ketentuan pemerintah yang mewajibkan sertifikasi plus membuat sikap perusahaan menjadi berbeda: kini agen haruslah profesional. Untuk itu harus ada produksi yang tetap, dan artinya tidak bisa lagi orang hanya sekedar jadi agen dengan mengundang, seperti teori Savingplus. Selain itu, kondisi ekonomi dunia juga dihancurkan oleh meningginya harga minyak. Bank-bank di Amerika dan Eropa bergelimpangan. Laporan kerugian akibat Subprime Mortgage nampak mengerikan. Kami bertahan dengan tetap memasarkan produk Asuransi Jiwa plus perlindungan atas biaya kesehatan rumah sakit, tetapi hasilnya tidak begitu baik. Orang yang kaya banyak yang menjerit, karena kehilangan order dari luar negeri. Orang yang miskin banyak yang menjerit, karena di PHK. Kami mengubah strategi dengan memberikan training yang lebih intensif, bahan-bahan yang lebih lengkap – tapi siapa yang bisa menahan kondisi yang ada? Maka, teman-teman mulai berpisahan dengan jalannya masing-masing.

2009: Apakah perjalanan ini berakhir? Tidak, hubungan tidak pernah terputus tetapi bisnis juga tidak berkembang penuh. Saya membantu orang untuk mengembangkan bisnis dalam bidang keuangan, sambil membantu istri yang juga kerja keras membangun usaha kursus kue. Puji Tuhan, selama masa-masa sukar di awal tahun, Tuhan tetap memelihara dengan memberikan pendapatan yang baik, cukup baik, sehingga keluarga kami tidak sampai jatuh miskin. Tetapi, ini juga menjadi tahun pembelajaran Financial Planning dengan lebih serius, sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan sertifikasi Registered Financial Planner Consultant. Ini juga tahun di mana saya bekerja sama memberikan seminar dan edukasi tentang Perencanaan Keuangan, termasuk juga menjadi narasumber untuk Bisnis Indonesia, selain masih tetap siaran Livingplus di radio. Sekitar Agustus-September, saya mulai dihubungi kembali dan membuat rencana untuk menjadi Vice President Agency. Jadi saya harus berani melepaskan diri dari beban lama, dari kenyamanan lama, untuk memulai sesuatu yang baru kembali.

Di akhir tahun ini, kami mulai dengan Januar Hadihardjo & Associate Financial Planner. Ini adalah rencana yang ambisius, tetapi masuk akal, untuk mengambil jalan yang sangat berbeda – menjadi profesional dalam bidang perencanaan keuangan, sesuai kebutuhan masyarakat. Di dalam waktu 5 tahun, kami ingin setiap orang yang sungguh-sungguh menjalankan program ini mendapatkan total penghasilan Rp 5 Milyar. Ini bukan program yang mudah atau jalan yang singkat – tetapi hasilnya jelas jauh lebih besar daripada pekerjaan lain yang dapat dipikirkan manusia. Yang dibutuhkan adalah keyakinan dan komitmen, serta konsistensi untuk berjuang…untuk masa depan yang lebih baik!

2010: – siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Ada banyak ketidakpastian. Ada orang-orang yang bisa berubah – ada yang semangat, ada juga yang undur semangatnya. Ada yang positif, ada yang negatif. Tetapi hidup ini memang tidak bisa digantungkan pada manusia, karena ujungnya pasti kekecewaan, kelemahan. Hanya TUHAN yang sungguh-sungguh dapat dipercaya, juga ditaati… Terpujilah TUHAN!

27 Desember 2009

Christmas, The Epilogue

Jelaslah ada yang berkeluh kesah menjelang Natal tahun 2009 ini. Dalam pemantauan singkat, tampak bahwa toko-toko tidak seramai dahulu dikunjungi orang yang berbelanja keperluan Natal. Sepertinya pengunjung tidak terlalu bergairah membeli pohon natal, entah yang plastik atau yang asli, demikian juga dengan segala hiasannya. Tapi bukan itu saja: yang jual baju, mainan anak-anak, sepeda, buku-buku, atau barangkali komputer baru – semua juga tidak mendapatkan peningkatan yang jauh berbeda. Memang masih ada peningkatan jumlah yang berbelanja, tapi hanya peningkatan sedikit, jauh berbeda dari harapan para produsen dan penjual.

Bukan hanya di toko. Dalam gereja-gereja pun, tidak semua bersorak-sorai dalam sukacita Natal. Beberapa topik yang diangkat adalah bahwa "Natal menjadi Harapan Umat-Nya" dan juga "Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah" serta "Setialah Melakukan Pelayanan, Sebagaimana Allah telah memberikan Anak-Nya". Ini topik-topik yang menarik, sampai kita melihat bahwa ada benang merah di sana: suatu seruan, bahkan suatu jeritan manusia kepada TUHAN karena hidup sekarang ini terasa sulit.

Jadi, Natal kali ini digunakan untuk mengingat bahwa TUHAN sudah memberikan Anak-Nya ke dalam dunia, dan karena itu seharusnya orang juga tidak perlu terlalu memikirkan kesulitan karena Dia pasti akan buka jalan. Masalahnya, jalan yang diharapkan terbuka secara ajaib itu tidak serta merta terbuka, apalagi dengan jelas dan mudah dapat dilalui oleh anak-anak Allah. Karena itu, siapa yang dapat tetap merasakan keajaiban Natal dengan segala kemeriahan dan hadiah-hadiah yang menyenangkan?

Akhirnya, komentar yang terdengar adalah, "eh, sekarang ini natalannya beda ya? Kok tidak terasa seperti natalan…" Yah, tidak terlalu jelas memang, apalagi sekarang ini nampaknya pemberitaan tentang Yusuf dan Maria dan bayi Yesus, dengan para gembala di padang, dengan orang-orang Majus, semua ini begitu 'rutin' dan biasa dan membosankan. Natal sekarang ini dipenuhi oleh berbagai cerita-cerita yang lebih kontemporer, mengisahkan kehidupan orang jaman sekarang, entah di kota atau di kampung. Dibutuhkan keahlian kotbah untuk menghubungkan cerita drama dan isi lagu dengan kisah kelahirang Yesus serta maknanya – itupun kalau masih ada kesesuaian makna. Dalam beberapa kesempatan, bahkan tidak terasa ada hubungan sama sekali.

Tidak ada bedanya menjelaskan tentang harapan yang diberikan TUHAN, antara hari-hari biasa dengan hari-hari Natal. Masalahnya, kita juga sudah semakin terbiasa dengan perayaan Natal yang tanpa kelahiran Yesus. Lihat saja di mall, atau di televisi, atau di rumah. Semua yang dipasang adalah tradisi: pohon Natal dan hiasannya, Santa Claus (atau Sinterklaas?) dan hadiah-hadiahnya, lengkap dengan Rudolf The Red Nose Reindeer, rusa-rusa kutub yang lucu. Orang bisa menyanyikan lagu Natal dan memasang sosok dengan baju merah itu, asal jangan menyebut Yesus atau Anak Dara Maria yang melahirkan-Nya. Apalagi kemudian membahas makna Natal dari kelahiran itu… Bosan, katanya.

Jujur sajalah, siapa yang mulai bosan mendengarkan lagu "Malam Kudus"? Bagaimana tidak bosan, lagu ini diputar di televisi, di radio, di mall – sepanjang pertokoan yang diberi sound system itu, terdengar melodi malam kudus sementara orang-orang melakukan hal-hal yang tidak kudus. Kalau dipikir-pikir, siapa yang memahami makna dari kata-kata lagu malam kudus, yang dianggap membosankan?

Malam kudus / sunyi senyap / bintang-Mu gemerlap / Juruselamat manusia / ada datang di dunia / Kristus Anak Daud / Kristus Anak Daud

Ayo siapa yang belum hafal lagu ini? Lebih penting lagi, siapa yang mengerti apa yang sedang dinyatakan oleh lagu ini? Kadang-kadang, orang menyanyikannya dengan merdu sekali, kemudian ternyata yang menyanyi itu sama sekali belum percaya kepada Kristus. Dan kalau lagu ini dimainkan di tempat umum, maka syairnya yang terdengar adalah dalam versi bahasa Inggris. Ini lebih-lebih lagi sukar untuk dipahami, jadi orang pada akhirnya memang hanya menikmati melodinya saja sebagai tanda dari Natal.

Menyedihkan ya, tanda dari Natal bukannya Tuhan Yesus, tetapi sebuah lagu. Yang membuat melodi lagu ini adalah Franz Xavier Gruber, dibuat agar terburu-buru karena waktu itu alat musik organ gereja rusak, sehingga musik pengiringnya hanya sebuah gitar. Kata-katanya sendiri adalah sebuah puisi yang dibuat Joseph Mohr tahun 1816. Tidak banyak yang masih menyimpan kata-kata lagu ini – tetapi sudah menjadi kesepakatan dunia bahwa lagu Silent Night diputar hanya di waktu Natal, melengkapi Christmas Tree dan Santa Claus.

Bagi orang bisnis, selama bertahun-tahun Natal adalah ajang penjualan yang ramai, tetapi sejak 2008 lalu krisis global telah membangkrutkan banyak orang dan usaha. Jadi, apalagi makna dari Natal? Seandainya saja di Indonesia orang kapok berbisnis menjelang Natal, sebaliknya hanya mempersiapkan stok dan diskon toko untuk hari raya Lebaran – barangkali, suatu waktu kelak Natal akan dilupakan. Atau hanya sedikit saja dirayakan, seperti perayaan Paskah yang juga tidak begitu meriah atau dipikirkan orang.

Bagi para aktivis gereja, Natal adalah waktu sibuk, yang tidak selalu mendatangkan sukacita. Seperti biasa, persiapan Natal berarti rapat dan rencana dan kadang konflik, yang ini tersinggung dan yang itu merasa terpinggirkan. Yang punya ide tapi tidak diterima idenya, menjadi tawar hati. Ada juga yang berusaha menikmati Natal dengan berkata kepada diri sendiri, "ini kan untuk melayani TUHAN, harus beri pengorbanan sebagai persembahan…" Tapi, kalau boleh memilih tanpa tekanan atau desakan, mungkin memilih untuk tidak melakukan apa-apa di Natal kali ini, karena sekarang pun masih pusing dengan pekerjaan dan usahanya.

Bagi para hamba Tuhan…nah, ini sukar untuk dikatakan. Beberapa hamba Tuhan dan Pendeta merasa perlu menaikkan semangat jemaat, beberapa yang lain memotivasi jemaat untuk memberi lebih banyak kontribusi, tapi barangkali tidak banyak yang masih terpesona dengan keajaiban kelahiran Yesus serta terdorong untuk mengabarkannya kepada jemaat. Soalnya, mereka yang menjadi hamba Tuhan kebanyakan sudah belajar Teologia, tepatnya belajar Kristologi, yang antara lain 'membedah' peristiwa kelahiran Yesus dari Anak Dara Maria itu melalui berbagai pandangan dan tafsiran. Belajar banyak memang penting, tapi mungkin orang dapat kehilangan 'rasa terpesona' atas kejadian itu.

Apalagi, kalau sudah mengkotbahkan Natal berkali-kali… puluhan kali… mungkin ratusan kali, karena setiap ada Natal, seorang Pendeta bisa kotbah berkali-kali selama satu bulan penuh. Masihkah Natal menjadi hal yang mempesona, yang menakjubkan, setelah hal-hal yang sama dibahas selama bertahun-tahun? Masihkah ia berkotbah dengan penuh kekaguman, atas kelahiran Juruselamat manusia yang ajaib?

Lantas, bagaimana dengan aspek-aspek kekristenan lainnya? Bagaimana dengan Paskah? Bagaimana dengan Kenaikan Tuhan Yesus? Bagaimana dengan hari raya Pentakosta? Orang mengingat Natal dari lagunya, dan Paskah dari telur-telurnya, namun tidak banyak tanda dari kenaikan Yesus. Tentang Pentakosta, beberapa orang dari gereja yang merasa diri bukan gereja Pentakosta, merasa hanya perlu membahas peristiwa hari itu secukupnya saja.

Kalau begitu, apa artinya kekristenan? Apa makna dari segala perayaan religius itu, bagi orang-orang Kristen modern? Beberapa melakukannya karena merasa harus melakukannya, lainnya karena jadwal gereja sudah diatur sedemikian rupa, lainnya merasa harusnya kekristenan juga punya hari-hari khusus sebagaimana semua agama lain di dunia. Tetapi, apa yang membuat semua perayaan-perayaan itu mempunyai suatu arti, suatu makna, sehingga penting untuk dirayakan?

Bisakah orang Kristen hidup dalam iman, jika tidak merayakan Natal? Masihkah ada eksekutif Kristen yang sekarang sedang berada di tengah proyek penting, sehingga tidak bisa merayakan Natal? Dan apa katanya? "Oh, ya Natal kali ini absen dululah. Proyek ini tidak bisa ditinggalkan…" Tetapi, bukan saja ia tidak ikut merayakan Natal di gereja, ia juga tidak memikirkan apapun tentang Natal. Ada atau tidak ada Natal, sama saja. Lebih banyak lagi yang sibuk di waktu Paskah (itu karena biasanya hari Natal berkaitan dengan liburan akhir tahun). Lebih banyak lagi yang tidak memperhatikan hari Kenaikan Tuhan Yesus (baca di kalender: Kenaikan Isa Almasih), selain dari tanggal merah untuk berlibur dan melakukan sesuatu yang menyenangkan, sesaat lepas dari tekanan pekerjaan.

Ketika hari-hari perayaan Natal berlalu, apa yang tersisa menunjukkan bagaimana makna Natal itu dipahami. Pemahaman ini bukan sekedar satu potongan yang disebut 'Natal' saja, melainkan suatu keyakinan iman yang bulat tentang karya penyelamatan Allah atas manusia. Jika kita memikirkannya dengan benar, bagaimana mungkin kita dapat berhenti dari kekaguman dan ketakjuban atas segala Rancangan TUHAN? Seumur hidupnya, Daud terpesona dengan Allah. Bagi kita sekarang, Anak Daud adalah Tuhan yang mengagumkan – yang tidak pernah berhenti menjadi sumber inspirasi, menjadi pusat puja puji dan penyembahan.

Kehidupan modern tidak lebih hebat atau lebih tinggi daripada kehidupan masa lampau, atau kehidupan manapun dalam sejarah manusia. Tidak ada apapun dalam hidup manusia yang lebih tinggi atau lebih mulia daripada TUHAN, Allah semesta alam. Jika kita belajar untuk mengenal Tuhan lebih mendalam, lebih berakar dalam Kristus, sesungguhnya hari Natal dari tahun ke tahun menjadi semakin menakjubkan. Semakin dipikirkan, semakin diketahui detil-detilnya, menjadi semakin hebat untuk diberitakan dengan sukacita. Hal ini begitu mulia, sehingga di dalam dunia ini tidak ada apapun yang dapat menyamainya; bagaimana TUHAN mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkannya!

Semoga, setelah Natal ini berlalu, hati kita menjadi semakin penuh terisi oleh kasih kepada Tuhan. Terpujilah TUHAN!

23 Desember 2009

Crisis Christmas

Mat 1:20-21 Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Situasinya sulit. Pekerjaan tidak mudah. Penjajah berkeliaran di sepanjang jalan di Galilea dan Yudea, dengan tombak terhunus. Mereka tidak perduli dengan segala macam tata cara dan aturan yang diikuti oleh bangsa Ibrani, sebaliknya melakukan apa saja yang mereka mau. Masa depan tidak jelas, bahkan untuk beribadah saja tidak nyaman. Padahal, ada banyak aturan untuk beribadah, bahkan sebenarnya ada banyak aturan untuk hidup dengan benar dihadapan Elohim Adonai. Mulai dari bangun tidur, melakukan pekerjaan, terus sampai nanti tidur lagi, semua ada aturannya.

Menjadi gadis yang cantik juga bukan hal mudah. Orang-orang Romawi itu kasar dan mereka menyukai gadis cantik – terutama yang belum mempunyai pasangan. Malanglah nasib mereka yang direnggut kegadisannya oleh para serdadu yang besar-besar, dijadikan bulan-bulanan nafsu laki-laki seperti nasibnya budak diseantero kekaisaran. Seperti dahulu kerajaan Yunani runtuh oleh rusaknya moralitas, begitulah kekaisaran Romawi juga jatuh dalam ketidakdisiplinan dan pertentangan politik, yang membuat penguasa seperti Herodes membiarkan para prajuritnya bersenang-senang dengan penduduk lokal, dalam kekejaman yang tiada tara.

Dan gadis-gadis yang sudah dinodai itu, mereka juga tidak bisa kembali ke dalam komunitas Yahudi. Mereka sudah menjadi najis, hanya belas kasihan saja yang menerima mereka tetap bertahan hidup – mungkin lebih baik kematian datang dengan cepat! Itu adalah kehidupan yang sukar bagi bangsa Israel. Karena itulah, bagi Yusuf yang mencintai Maria dengan segenap jiwa dan hatinya, ia tidak dapat membiarkan gadis cantik itu lepas dari perlindungannya. Ia menjagainya baik-baik, menyatakan bahwa inilah miliknya, tunangannya, yang pada waktunya akan menjadi istrinya. Serdadu-serdadu itu harus tahu, mereka akan mengalami masalah besar dengannya jika berani menyentuh Maria.

Bisakah dibayangkan apa yang terjadi ketika Yusuf mengetahui bahwa Maria hamil? Astaga, perempuan ini masih muda! Dalam hitungan orang Yahudi, bahkan dia belum cukup tua menjadi istri – bagaimana ia sampai hamil? Apakah para serdadu itu telah memperkosanya? Tetapi, inipun tidak mungkin berlalu tanpa diketahui Yusuf. Jadi siapa bajingan yang berani menyentuh dara miliknya, yang sudah didambakan begitu lama?

Manusia telah lama merayakan Natal – ini sudah menjadi tradisi yang 'indah', yang dirayakan dengan meriah pada waktu yang salah. Ayolah, siapa yang percaya bahwa bayi Yesus benar-benar lahir di penghujung bulan Desember? Penetapan tanggal Natal ini baru terjadi di abad ke-empat, menggantikan perayaan kuno kaum pagan dahulu kala. Isinya adalah keceriaan dan saling berbagi hadiah, suatu kegiatan saling memberi salam dan peluk cium dalam kehangatan keluarga yang sejahtera.

Bukan itu yang terjadi dengan batin Yusuf, tidak ada keindahan, tidak ada keceriaan. Ia tidak berkata-kata tentang kehamilan Maria kepada siapapun, tidak kepada para rabi di sinagoge, juga tidak kepada sahabatnya sendiri. Apalagi hadiah – sebaliknya, Yusuf merasa dunianya telah direnggut oleh ketidaksetiaan. Diam-diam, ia hendak mengakhiri semuanya, menceraikan kekasih hatinya. Ia sudah gagal, hadiahnya sudah direbut oleh pihak lain. Yusuf masih tidak tahu siapa yang telah melakukan ini kepada Maria – penjelasan kekasihnya begitu membingungkan dan tidak bisa dipercaya.

Siapa yang bisa percaya, kalau dikatakan bahwa perempuan begitu saja hamil tanpa disentuh laki-laki? Maria telah berusaha menjelaskan perkaranya kepada Yusuf, tapi sampai jungkir balik dan berurai air mata pun, pikiran Yusuf tidak dapat menerima penjelasan itu. Ia seorang beriman, seorang pria Yahudi yang taat beribadah, tetapi tidak pernah ia tahu bahwa hal kehamilan semacam ini pernah terjadi, atau dapat terjadi. Lagipula, Maria sepertinya tidak melawan, bukankah dia berkata "jadilah padaku menurut perkataanmu itu?" Terdengarnya seperti kata-kata rahasia tentang penyerahan diri dalam nafsu badani, ketika seorang perempuan menyingkapkan auratnya lebar-lebar bagi laki-laki asing.

Yusuf bukannya tidak mengetahui hal-hal seperti itu. Di banyak tempat, para perempuan dursila menjajakan dirinya dengan cara yang memalukan. Apakah yang Maria telah lakukan? Apakah ia telah menjadi seperti salah satu dari perempuan dursila itu, dalam kemudaannya mempersilakan orang memasuki tubuhnya begitu saja? Sampai hamil! Berapa kali Maria telah melakukan hubungan badan?

Jadi, dibutuhkan seorang malaikat Tuhan untuk datang dan menjelaskan apa yang terjadi. Kata-kata yang singkat namun langsung menjawab semua pertanyaan dan keraguan. "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka."

Lihatlah, bukan saja malaikat menjelaskan apa yang sudah terjadi, ia juga memberikan mandat untuk Yusuf lakukan. Yusuf harus tetap menerima Maria sebagai istri, karena ia yang bertanggung jawab untuk memberi nama Yesus. Ada sebab yang besar dalam penamaan ini: karena Yesus yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa. Itu artinya Yusuf bukan saja harus menerima Maria sebagai istri dan Yesus sebagai anaknya sendiri, namun ia juga harus memelihara dan menjaga Yesus baik-baik karena kehadiran-Nya sangat penting.

Natal menjadi ajang ketaatan dan merendahkan diri. Natal adalah keberanian untuk tetap mengikuti perintah TUHAN, Allah semesta alam, di kala kesulitan menghadang dan ancaman muncul di belokan jalan.

Dalam satu perbandingan, bukankah sekarang inipun terjadi demikian? Bagi kehidupan anak-anak Tuhan, keadaannya tidak mudah. Memang bukan serdadu yang membawa tombak, melainkan kesulitan ekonomi dan PHK yang menjadi ancaman. Orang-orang kehilangan masa depannya, dijajah oleh gelombang ekonomi yang kuat dan besar, yang tidak sanggup ditanggung oleh kebanyakan orang. Bagaimana mau hidup kudus dan mengikuti aturan, kalau dalam dunia usaha terjadi persaingan yang tidak segan mematikan lawan usaha?

Keruntuhan moral juga terjadi, dan para perempuan sekali lagi menyingkapkan auratnya dengan kebanggaan. Teknologi memungkinkan hal ini terjadi: mereka merekam bagaimana mereka disetubuhi oleh pacar-pacar mereka sambil bersenang-senang. Rekaman ini kemudian disalin dari satu handphone ke handphone lain melalui bluetooth, yang bisa melintas dari meja ke meja, dari kelas ke kelas, tanpa suara dan tanpa terlihat oleh guru-guru di SMA. Atau SMP. Langsung disimpan dalam microSD yang mudah dicopot, jadi kalau sampai ada razia tidak pernah dapat diungkap. Yang pasti, mereka yang menikmati seks bebas itu tidak memikirkan soal masa depan, karena mereka memang tidak tahu, tidak pasti, dan tidak punya keyakinan.

Coba katakan, bagi mereka yang masih serba berdisiplin dan menjaga 'aturan', dapatkah sikap disiplin dan menjaga aturan itu memastikan masa depan yang sedikit lebih cerah? Apakah anak yang dahulu patuh dan manis di masa SMA nya sekarang lebih sukses dibandingkan mereka yang nakal dan bermain-main api di sana dan sini? Malah sebaliknya! Yang dahulu serba patuh sekarang masih saja menjadi karyawan yang hidup pas-pasan, sedang yang dahulu ugal-ugalan sekarang malah jadi pengusaha yang punya koneksi luas, dan bisa mempekerjakan orang-orang yang serba patuh dan manis dan dulu jadi juara kelas.

Maka, ketika mereka yang nakal itu menginginkan Natal yang lebih mewah dan meriah, siapakah yang tidak turut merasa asyik dan keren? Natal menjadi ajang ekonomi, ketika orang-orang bisa menjual lebih banyak dan meraup lebih banyak daripada hari-hari biasa. Christmas Sale! Christmas Discount! Late Shopping Christmas! Natal menjadi hari untuk bebas – bahkan bebas berbuat dosa. Ouch!

Seandainya kasus Maria terjadi saat ini, tidak ada yang merasa susah. Ada banyak sekali gadis yang hamil di luar nikah sekarang – sebagian mengaborsi kehamilannya, sebagian lagi menyerahkan anak yang dilahirkan kepada orang tuanya – kakek dan nenek bayi itu – karena sang ibu masih mau meneruskan masa mudanya yang tertunda 10 bulan. Masih bagus daripada meninggalkan bayi itu begitu saja di pintu panti asuhan. Atau tong sampah.

Seandainya masih ada Yusuf saat ini, masihkah ada ketaatan yang sama?

Kalau direnungkan, mungkin terasa aneh tapi nyata: bahwa krisis di saat Natal adalah hal yang benar. Ini menjadi suatu masa di mana keyakinan diuji dan ketaatan dituntut. Mereka yang beriman diminta untuk tetap bersikap benar di tengah-tengah ancaman dan kemunduran. Apakah kita masih menjunjung kemuliaan TUHAN di dalam hidup? Apakah kita tetap memilih untuk meneruskan kebenaran dan kabar baik kepada dunia, melalui perbuatan dan kata-kata?

Atau, kita justru merintih dalam kesulitan, dan oleh karena itu kita menginginkan keberhasilan, kesuksesan, kesejahteraan diri kita sendiri? Masalah pribadi kita menjadi begitu besar sehingga tidak ada lagi hal yang lebih penting; bahkan kita menghendaki Tuhan memberikan segala berkat dan keajaiban Natal demi kepentingan kita. Ketika kita membawa emas, kemenyan, dan mur ke hadapan bayi Yesus, motivasi yang tersembunyi adalah agar kelak kita menerima pengembalian emas, kemenyan, dan mur itu berkali-kali lipat – suatu investasi yang menarik. Ketika ternyata 'investasi' itu tidak kembali sebagaimana diharapkan, maka seperti banyak investasi 'gagal' lainnya, banyak orang meninggalkan Tuhan. Tidak lagi beribadah. Tidak lagi mengikuti Firman-Nya – membacanya pun tidak. Menjadi Kristen menjadi seperti lelucon yang tidak lucu.

Krisis Natal adalah peristiwa yang terjadi sejak semula, dan berbahagialah orang yang bisa mengalaminya kembali dan mempertahankan iman. Yang pasti, Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang tulus hati, kalau mereka hendak berbuat keliru. Sebaliknya, di sini ada mandat untuk dilakukan, yang membutuhkan perhatian dan pengorbanan. Karena ada maksud yang sangat mulia: oleh Yesus, umat-Nya diselamatkan dari dosa mereka. Karena dengan demikian maka hidup menjadi bermakna, dan layak untuk dihidupi, dipersiapkan, direncanakan.

Selamat hari Natal, terimalah hidup yang bermakna dan marilah kita bertanggung jawab atas kehidupan yang kita terima.

Terpujilah TUHAN!

Kaca Mata Kuda

Beberapa minggu ini, tepatnya hampir dua bulan, berita di Indonesia dipenuhi oleh kasus Bank Century. Ini menjadi bagian yang saling tumpang tindih dengan heboh dan ramainya kasus Cicak vs Buaya, yang pemberitaannya dilakukan pagi-siang-malam. Televisi sekarang ini bukan sekedar meliput berita, lebih dari itu, di depan kamrea televisi orang mengambil sumpah di bawah kitab suci, memberi penjelasan dan bantahan, serta kehebohan lainnya. Publik juga dibawa untuk mencaci dan memuji, untuk mendukung dan memprotes. Ini sebuah reality show yang tidak main-main, karena benar-benar suatu reality yang tidak ada duanya.

Masalahnya dengan semua reality show adalah, semuanya menampilkan dari satu sudut pandang kamera. Ini seperti memasang kaca mata kuda, di mana pemirsa mengharapkan satu solusi, dalam satu tujuan. Setiap cerita mempunyai sebuah ending, entah itu adalah happy ending atau sad ending. Lantas, semua yang 'bermain' dalam politik dan hukum menjalankan perannya sebaik mungkin, karena kamera merekam dan memancarkan wajah dan kata-katanya ke jutaan orang diseluruh penjuru tanah air. Semua berharap penyelesaiannya berakhir dengan skenario yang diharapkan. Yang 'jahat' kalah, yang 'baik' menang. Pertanyaannya: siapa yang jahat dan siapa yang baik dalam kasus-kasus ini?

Apa yang tidak dilihat, justru itulah yang mencelakakan orang. Siapa yang mengikuti terjadinya kesepakatan Kopenhagen mengenai perubahan iklim dunia? Oleh Obama, akhirnya ada sebuah kesepakatan yang khas dia: ada sepotong hal manis untuk setiap pihak yang terlibat dan "satu langkah permulaan" bagi semua, sambil membiarkan tiap pihak menggerutu dan berniat mengambil keuntungannya sendiri… Di sana ada peran Bapak Presiden Susilo B. Yudhoyono, tapi rasanya sampai sekarang belum ada orang di Indonesia yang mengapresiasi keterlibatan Beliau, padahal itu penting.

Kenapa penting, karena nyatanya hari ini cuaca buruk telah melumpuhkan transportasi di seantero Eropa. Sudah tiga hari kereta bawah laut EuroStar yang menghubungkan Paris dan London tidak bisa berangkat. Sudah beberapa hari ini, ratusan penerbangan ditunda atau dibatalkan karena lapangan terbang ditutupi salju tebal. Jalanan juga penuh salju – suhu udara di Eropa ada jauh di bawah titik beku, membunuh puluhan orang akibat kedinginan.

Sementara itu di Australia Barat Laut ada siklon tropis Laurence (lihat di http://australiasevereweather.com/cyclones/) dan itu membuat Jawa Tengah mengalami kekeringan dan suhu udara yang panas. Indonesia mengalami masalah gagal tanam yang serius, dan siapa yang memikirkan akibatnya dalam jangka panjang terhadap harga-harga bahan makanan?

Masih di Asia, orang-orang di Filipina sekarang ini juga sedang khawatir dengan kondisi Gunung Mayon. Nampaknya, gunung berapi ini dapat meletus setiap saat – dalam waktu dekat. Jadi, bagaimana kalau gunung ini meletus kembali? Masalahnya, kita tidak tahu seberapa besar letusannya. Jika kecil, akibatnya tidak meluas. Tetapi jika besar, abunya bisa naik tinggi ke atmosfir dan mengganggu cuaca yang sudah terganggu. Apa yang akan terjadi, siapa yang tahu?

Ini bukan berita yang banyak diperhatikan orang, walaupun akibatnya juga dialami langsung. Sayangnya, orang masih asyik dengan kasus yang mencuat dan menginginkan reportase lengkap, dengan alasan demokrasi. Ini menjadi seperti demokrasi kacamata kuda, karena orang beramai-ramai diarahkan hanya melihat apa yang diperlihatkan. Siapa yang menyadari akibat-akibat ekonomi dari keadaan dunia saat ini, yang membutuhkan penanganan yang tepat?

Indonesia sebenarnya tidak dalam keadaan yang sangat bagus dan punya waktu untuk bermain-main dengan situasi yang ada. Kalau terlalu banyak energi dicurahkan untuk masalah yang diarahkan harus ada pemecahannya, pada akhirnya seluruh rakyat ini harus menderita karena diterpa situasi sulit yang tiba-tiba saja mengepung, baik dari hilangnya rasa aman dan percaya para investor, sampai munculnya situasi bencana yang meluas, seperti bencana kekeringan.

Secara ekonomi, kita bersama-sama membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, harus di atas 5% untuk mencegah pengangguran meluas. Kita membutuhkan kepemimpinan dan kepastian dalam ekonomi, di bawah seorang Menteri Keuangan yang dapat dipercaya dan diterima para pelaku bisnis. Di sini, kasus Bank Century menjadi membingungkan – karena di satu sisi pasar sudah menerima Ibu Sri dan Pak Boediono, tapi di sisi lain tuduhan ditujukan dengan keras terhadap mereka. Kacamata kuda sekali lagi membutakan orang melihat situasi yang utuh, karena hanya melihat satu tujuan, satu penyelesaian saja.

Huru hara dari DPR – yang sebelumnya sempat dicaci karena sikapnya dalam kasus KPK – menjadi konsumsi publik yang menina bobokan dan memanjakan pikiran pendengar dengan tim Pansus, melaksanakan hak Angket DPR. Tim yang sudah mulai membuat gerah karena lontaran komentar politis terlihat melampaui urusan yang ditangani, seperti "menghimbau" Menteri Keuangan dan Wakil Presiden non aktif. Astaga, apakah orang-orang ini mengerti implikasinya dengan perekonomian nasional?

Ingin mendapatkan sesuatu pencerahan tentang kebenaran, itu adalah satu hal. Demikian juga dengan mempertahankan jalannya roda ekonomi yang baik, itu hal lain. Keduanya berhubungan pada orang-orang yang sama, jadi kalau memang tidak mempunyai pemahaman dan kesiapan, sebaiknya kita menahan diri untuk hanya melihat pada satu arah, hanya memandang satu kepentingan… karena akhirnya ada banyak kepentingan yang bermain di sini, di mana kita perlu memahaminya. Mau tidak mau kita harus melihat ke semua arah.

16 Desember 2009

Bersyukur

Di akhir tahun ini, kita sepatutnya bersyukur. Mari kita bersyukur oleh kenyataan bahwa Indonesia menjadi negara dengan pasar modal yang terbaik di dunia. Sementara pasar di mana-mana mengalami penurunan yang signifikan, pasar modal Indonesia dengan cepat menjadi pulih kembali dan memberikan pertumbuhan lebih dari 80%. Sangat mengesankan!

Kita juga bersyukur karena tingkat inflasi Indonesia sangat rendah, bahkan ada beberapa bulan yang mengalami deflasi. Ada kestabilan harga, paling sedikit dari kebutuhan pokok. Walaupun beberapa komoditi harganya sempat naik, kini telah kembali normal. Ini menolong banyak keluarga yang pendapatannya pas-pasan.

Selain itu, kita menemukan bahwa cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mencapai angka di atas 60 milliar USD. Ini memastikan keamanan neraca pembayaran paling sedikit selama 5 bulan. Tentunya ini membuat Indonesia mempunyai rating keamanan secara global.
Kita juga jangan melupakan kekuatan mata uang Rupiah, yang menguat dengan cepat setelah sempat melorot dalam periode pendek. Penguatan Rupiah membuat perubahan akibat kenaikan harga minyak menjadi tidak terlalu terasa, dan di dalam negeri kita mendapatkan kestabilan harga BBM -- padahal sekarang ini harga minyak mentah naik lagi.

Secara umum, ini adalah hal-hal baik di tingkat nasional dan global, walaupun dunia sedang mengalami krisis ekonomi global tapi bagi banyak rakyat Indonesia, segala sesuatu berjalan seperti apa adanya.
Itu adalah apa yang sudah berlalu. Bagaimana dengan apa yang akan datang?

Soal bunga tabungan dan pinjaman, kita menemukan bahwa BI Rate tetap bertahan di 6,5 % pada akhir tahun ini. Proyeksinya, ke depan angka ini tidak membesar, sebaliknya mungkin akan mengecil. Kalau bunga tabungan diperkecil maka orang cenderung tidak menyimpan uangnya lama-lama di bank, sebaliknya memasukkan ke dalam bisnis. Ini ditopang oleh bunga pinjaman yang semakin kecil, membuatnya lebih terjangkau orang. Seharusnya, orang lebih banyak berusaha -- pasti untung sekali.
Seharusnya untung…seandainya orang memang benar-benar bisa berusaha. Tapi, mari kita lihat beberapa angka.

Salah satu indikator adalah pendidikan. Data dari BPS menunjukkan 73% angkatan kerja produktif berpendidikan SMP atau lebih rendah. 23% antara SMA dan Diploma. 4% saja yang pendidikan S1 atau lebih tinggi. Kenyataannya, menjadi Pengusaha yang bisa memanfaatkan fasilitas yang ada membutuhkan prasyarat -- karena ada sejumlah hambatan untuk berusaha di negeri ini. Ada urusan perpajakan yang perlu diselesaikan, urusan perijinan yang harus diurus, belum lagi keterampilan untuk membuat pembukuan dan pengendalian operasional yang baik.

Ada yang bilang, bukankah sekarang ini buktinya ada orang-orang yang hanya lulus SD bisa menjadi pengusaha yang sukses? Memang betul, tapi harus dilihat juga bagaimana mereka bisa menjadi sukses. Apakah kesuksesan itu benar-benar muncul dari kemampuannya, atau hanya ekses dari pertumbuhan ekonomi yang mengesankan selama tahun-tahun 1990-an? Jika memang menguasai dan berjiwa wirausaha, tentunya di segala masa dia akan berhasil. Tapi, kalau dia mengambil kesempatan dari perubahan jaman, belum tentu kesuksesannya bisa diulang.

Apakah semua yang dahulu sukses sekarang masih tetap sukses? Kita melihat sejumlah industri mengalami kemunduran. Beberapa pengusaha yang dahulu bermodalkan kerja keras, kini kebingungan karena perubahan yang cepat dan tidak kenal ampun. Pengusaha dalam negeri sempat gentar melihat Cina masuk ke WTO dan tak lama kemudian membanjiri dunia dengan produk yang murah dan berkualitas. Coba lihat, sekarang ini berapa banyak barang yang dibawahnya bertuliskan "Made in China"?

Jadi, untuk sukses berusaha sekarang ini tidak cukup hanya bisa memproduksi sesuatu, atau mengerti suatu produk. Orang harus mempunyai kemampuan manajemen yang bagus untuk usaha yang lebih efisien, diikuti pengelolaan sumber daya manusia untuk meningkatkan potensi perusahaan dalam jangka panjang, serta tentunya sistem informasi yang bagus, baik eksternal maupun internal, dalam membuat analisa dan mengambil keputusan. Soal informasi ini, sekarang kebanyakan informasi yang penting tersedia dalam bahasa Inggris, jadi menuntut kemampuan berkomunikasi yang lebih beragam.

Intinya, dibutuhkan kompetensi yang lebih besar untuk menghadapi persaingan usaha, yang berarti butuh pendidikan lebih tinggi. Repotnya, kalau 73% angkatan kerja produktif berpendidikan SMP atau lebih rendah -- sampai tidak bersekolah, bagaimana kita menghadapi masa depan? Bagi para pengusaha, kesulitannya adalah bagaimana mengembangkan bisnis. Ini juga masalah: ada begitu banyak orang mencari kerja, ada begitu banyak orang yang bekerja, tetapi berapa banyak orang yang benar-benar kompeten untuk mengerjakan tugasnya?

Melihat angka-angka pendidikan, kita mungkin membayangkan bahwa kebutuhan tenaga kerja berpendidikan tinggi sangatlah besar, jadi seharusnya semua lulusan Sarjana menempati posisi yang baik. Sayangnya, hal ini bukan kenyataan, karena buktinya sekarang ini banyak juga lulusan Sarjana yang tidak cukup kompeten, bahkan banyak juga Sarjana yang menganggur! Sedemikian parahnya, sampai orang mulai kehilangan kepercayaan diri kalau hanya lulus sarjana strata-1 -- sekarang orang mulai mengutamakan ijazah S2 sebagai tanda kompetensinya.

Orang kadang lupa, Sarjana Strata-2 itu lebih ahli dalam bidang yang semakin sempit -- sama sekali tidak bisa dianggap bahwa ia mempunyai kemampuan bisnis yang lebih baik (bahkan jika lulus Master dari perguruan tinggi di bidang manajemen bisnis). Kalau ia menghadapi hal-hal yang tidak dipelajarinya di bangku kuliah, walaupun titel namanya disebut "Master", ia tetap saja sama dengan semua orang lainnya: tidak tahu dan tidak menguasai.

Ini mengerikan. Jadi, sebenarnya apa kompetensi orang Indonesia? Kalau orang hanya bekerja ala kadarnya, tidak  mampu berinovasi dan berkompetisi -- apapun keadaannya sekarang, dia terancam mengalami kemunduran di masa yang akan datang. Jika ia berasal dari kelas menengah, ancamannya adalah penurunan kelas dan status sosial -- mungkin ia harus menerima kenyataan menjadi kelas bawah dan gaya hidup yang lebih keras dan berat.

Bersyukurlah kalau kita mempunyai kompetensi yang tetap bertahan di saat sukar. Bersyukurlah kalau sekarang kita telah memiliki perlindungan-perlindungan -- baik secara produktivitas, secara finansial, dan perlindungan terhadap mentalitas. Tapi, kalau belum ada perlindungan yang cukup -- buatlah sekarang. Dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi, kesanggupan orang menanggung resiko sebenarnya mengalami penurunan, terkikis habis. Kalau resiko terjadi, akibatnya sangat merusak kehidupan.

Bersyukur adalah hal yang penting. Orang yang bersyukur menghargai apa yang ada padanya, dan bukan sekedar bertahan dalam dunia yang berubah. Inilah kompetensi yang kita miliki, kesempatan kita untuk menjadi berkat di dunia yang tua ini.

21 November 2009

Perencana Keuangan

Pada mulanya tidak ada hal yang baru. Usaha-usaha dilakukan dalam cara dan kebiasaan yang sudah berjalan lama, diwariskan dari negeri seberang. Begitulah industri keuangan di Indonesia berjalan sebagaimana adanya. Sebagaimana di seluruh dunia hal itu dilakukan dengan berhasil, beginilah juga yang dilakukan di Indonesia.
Apakah lantas ada keberhasilan dalam hal keuangan? Dilihat dari satu sudut pandang, jika ukurannya adalah kekayaan yang diperoleh pelaku bisnis keuangan, jelaslah ada yang sukses dan berhasil. Ada yang menjadi milyuner, baik di bank atau asuransi jiwa atau sekuritas. Yang bekerja di dalam keuangan menikmati kompensasi yang lebih tinggi dibandingkan tempat lain.
Persoalannya menjadi berbeda ketika kita melihat perubahan di masyarakat sebagai hasil dari kinerja industri. Sampai sekarang, perbankan masih berusaha mengajarkan tentang memahami manfaat, mengerti resiko, dan mengetahui biaya, dalam sosialisasi tentang “Ayo ke Bank”. Berapa banyak persentase masyarakat yang mengerti, walaupun mereka sudah menjadi nasabah?
Dalam hal asuransi jiwa, situasinya tidak jauh berbeda. Persentase jumlah pemegang polis dan tertanggung adalah yang terendah di Asean, tidak sampai 10% jumlah penduduk. Dari jumlah yang sedikit itu, tidak semuanya benar-benar memahami manfaat produk keuangan ini. Parahnya, bahkan muncul suara yang cukup keras menentang Asuransi Jiwa, berdasarkan banyaknya pengalaman buruk yang terjadi di masyarakat.
Mengenai sekuritas; siapakah yang memahaminya? Fakta menunjukkan adanya keterpisahan antara sektor riil dengan pasar modal. Upaya mengamankan transaksi keuangan – itulah yang dilakukan sekuritas – menjadi hal yang ‘canggih;’ dan hanya diminati golongan tertentu. Bagi banyak orang lainnya, berinvestasi di pasar modal tidak beda jauh dengan berjudi.
Jadi, dalam 20 tahun terakhir, belum bisa dibilang bahwa industri keuangan di Indonesia benar-benar berhasil. Kasus Bank Century hanyalah lanjutan dari krisis perbankan yang muncul sejak tahun 1998. Itulah saat orang mulai menyadari bahwa ada resiko dalam segala produk keuangan, tanpa mengetahui bagaimana mengukur atau menyikapi resiko tersebut. Dalam prakteknya, hanya sedikit saja yang tahu soal manajemen resiko.
Apa yang dapat diusahakan oleh kita, sebagai bagian dari masyarakat? Situasi ini mirip dengan kasus pengobatan kaki gajah di Kabupaten Bandung, yang menghebohkan karena ada yang meninggal. Ini adalah situasi di mana obat sebagai produk tersedia, untuk diberikan secara bebas tanpa diagnosa. Dalam kasus terkontrol, obat yang diberikan cukup aman – tapi saat diberikan secara massal tanpa kendali, dapat membuat orang meninggal. Jadi bukan obatnya yang salah atau berbahaya atau kurang baik, melainkan cara memberikannya.
Begitu juga dengan keuangan. Produk keuangan sudah banyak, baik dari bank, asuransi, sekuritas, atau lembaga lain. Tetapi yang mampu memberikan diagnosa yang tepat belum banyak, sehingga akhirnya jatuh korban, seperti nasabah Bank Century. Produk dan hukum yang melandasinya sudah cukup, tapi dalam praktek dibutuhkan sikap cermat dan hati-hati. Kalau orang mau memperhatikan sejarah kinerja Bank ini, mereka akan tahu bahwa Century adalah hasil merger 3 bank yang tidak sehat, yang bahkan setelah itupun laporan keuangannya tetap tidak sehat. Ada resiko operasional yang serius di sini. Mengapa masih mau menitipkan uang milyaran rupiah di bank semacam itu?
Dalam hal asuransi jiwa, situasinya lebih pelik. Begini: Asuransi Jiwa pada dasarnya adalah produk yang mengambil alih resiko dari nasabah, yaitu kemungkinan meninggal dini, mengalami cacat tetap total, mengalami sakit yang berat, dan hidup terlalu lama. Karena mengambil resiko dari nasabah, seharusnya produk ini tidak membebani resiko kepada nasabah. Namun, hal ini berubah tatkala asuransi digabungkan dengan investasi, dimana resikonya sepenuhnya ditanggung nasabah. Penjelasan dari agen yang tidak memadai telah membuat orang berpikir bahwa produk unit link memberikan kepastian, sekaligus tingkat keamanan dan kepastian seperti produk asuransi jiwa sebelumnya. Berapa banyak agen asuransi yang memahami tingkat resiko dari investasi yang dipasarkannya?
Pemahaman yang benar dibutuhkan secara utuh. Dalam pilihan-pilihan investasi, ada yang mempunyai peringkat ‘A’ tapi juga ada yang berperingkat tidak layak sebagai wahana investasi. Perhitungannya bukan hanya melihat berapa besar hasil yang diberikan, melainkan bagaimana dana dikelola dalam jangka waktu yang cukup panjang.
Orang Indonesia gagal untuk memahami hal-hal ini, karena minimnya pendidikan yang memadai. Karena itu dibutuhkan peran Perencana Keuangan, sebagai pihak yang mampu mencocokkan antara profil nasabah dan pilihan yang ada. Sayangnya, di negara ini Perencana Keuangan masih sebatas retorika – siapa yang sungguh-sungguh memberikan Perencanaan Keuangan?
Sampai saat ini, jumlah pemegang sertifikat sebagai perencana keuangan masih sedikit, dibandingkan jumlah agen asuransi, pelayan nasabah bank, atau agen reksadana. Apalagi kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk, hitungannya sangat minim. Bagaimana kita dapat melihatnya sebagai hal yang vital untuk dilakukan?
Negara ini membutuhkan lebih banyak perencana keuangan, dengan kemampuan yang menyeluruh, bukan sekedar tahu tentang satu bidang saja. Bagi agen asuransi, terutama dengan investasi, kemampuan profesional ini sangat penting.
Di sisi lain, masyarakat juga perlu disadarkan tentang Perencanaan Keuangan dan mengapa mereka membutuhkannya. Bersama-sama, kita bisa membawa kesejahteraan. Mau?

19 November 2009

Kelas Menengah

Belakangan ini dalam Perencanaan Keuangan, ada hal-hal yang terlihat semakin jelas…dan semakin mengerikan. Tetapi untuk itu, kita perlu sama-sama menyepakati satu cara untuk melihat dan memilah masyarakat. Kita lihat bahwa masyarakat dibagi jadi tiga kelas: kelas atas, menengah, dan bawah.

Kelas bawah adalah golongan marginal, yang perjuangannya adalah mempertahankan produktivitas agar bisa bertahan hidup setiap hari. Karena mereka itu 'marginal', mereka hanya mempunyai daya yang terbatas. Sebagai akibatnya, mereka membutuhkan proteksi, dukungan, permodalan, dan sebagainya dari Pemerintah. Kita tahu, antara lain Pemerintah mengadakan BLT – yang terus habis dikonsumsi.

Kelas menengah sudah keluar dari garis kemiskinan, sudah bisa memelihara kehidupannya sehari demi sehari. Mereka sudah punya pendapatan yang rutin dan juga memenuhi kebutuhan sekunder dan tertier, bukan sekedar memenuhi kebutuhan primer. Kebanyakan adalah karyawan, selain tentunya cukup banyak pengusaha kelas menengah mulai dari pemilik toko kelontong di seberang jalan sampai pemilik pabrik menengah-kecil yang terima maklun dari pabrik besar.

Kelas atas sudah keluar dari tekanan 'rutinitas', mereka sudah mampu menciptakan nilai mereka sendiri. Pendapatan mereka jauh melebihi kebutuhan mereka. Mereka adalah orang-orang yang sudah sukses di dalam bisnis, membangun apa yang diikuti oleh orang-orang lainnya. Sayangnya, jumlah mereka ini terbatas.

Sampai beberapa tahun lalu, penggambaran ketiga kelas ini bisa ditunjukkan dengan segitiga sama kaki; kelas bawah ada di bagian bawah, lalu menengah, akhirnya kelas atas ada di puncak segitiga. Kalau luas segitiga mencerminkan jumlah masyarakat, kita lihat kelas bawah jumlahnya paling banyak, diikuti menengah, sampai kelas atas berjumlah paling sedikit. Itu dulu. Sekarang bagaimana?

Yang kita lihat, bagi orang kelas bawah situasinya tidak banyak berbeda. Hidup masih tetap susah, uang di dapat dari pinjam sana sini untuk membayar ke sana sini. Di kelas atas situasinya juga tidak berubah, hidup mereka masih tetap makmur dan menjadi semakin kaya, karena aliran uangnya lebih deras masuk daripada keluar. Mereka sudah terlibat dalam transaksi-transaksi global dan mempunyai akses yang istimewa.

Tidak demikian halnya dengan kelas menengah. Keadaan sekarang ini terasa benar perbedaannya. Ambil contoh, misalnya tentang rumah. Bagi kelas bawah, rumah tidak pernah jadi masalah karena mereka memang tidak sanggup dan tidak bermimpi untuk punya rumah sendiri. Bagi kelas atas, rumah juga tidak pernah jadi masalah karena mereka bisa mendapatkan semua rumah yang mereka inginkan – pertimbangannya kini adalah patokan-patokan investasi properti.

Bagi kelas menengah, perubahan pada pasar perumahan menjadi hal yang sangat berbeda. Ada kondisi suku bunga KPR yang berubah, mudah naik dan susah turun. Ada kenaikan harga rumah, berkaitan dengan kenaikan harga bahan bangunan. Perhitungan pengeluaran ini menjadi beban, karena di saat yang sama tidak terjadi kenaikan pendapatan. Mungkin akan menjadi lebih mudah bagi kelas menengah jika mereka tidak terlalu memikirkannya, namun kelas menengah telah mempunyai suatu gaya hidup dan mereka tidak bersedia mengubah gaya hidupnya.

Rumah hanya menjadi satu acuan, karena papan adalah salah satu dari tiga kebutuhan pokok disamping pangan dan sandang. Diam-diam, sebenarnya hal yang serupa terjadi dalam industri pakaian, ketika orang tidak lagi menjahit pakaiannya sendiri melainkan membeli buatan pabrik yang harganya bisa jauh lebih murah. Satu-satunya yang masih dipertahankan sesuai gaya hidup adalah soal makanan; baju boleh saja kumal tetapi selera mulut dan perut selalu harus dipenuhi.

Kelas menengah saat ini diancam dari berbagai sisi. Dalam bidang pendidikan, menurut laporan Depdiknas ada 35,65% lulusan SMA yang tidak meneruskan ke perguruan tinggi karena tingginya biaya. Satu perhitungan menunjukkan bahwa untuk menyelesaikan 4 tahun strata 1, total biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 100 juta. Angka ini akan menjadi semakin tinggi karena nyatanya tiap tahun terjadi kenaikan biaya pendidikan, baik dasar, menengah, maupun tinggi, dalam kisaran rata-rata 10%-15%. Dua dekade lalu, orang tua hanya membutuhkan waktu satu atau dua tahun saja mempersiapkan dana untuk kuliah di universitas yang cukup baik. Bagi kelas menengah, pada umumnya mereka dapat memberi pendidikan tinggi, bahkan sampai sekarang pun kelas menengah masih merencanakan anaknya menjadi sarjana. Sekarang masih ada yang bisa mengusahakan dana 100 juta untuk kuliah anak, meskipun ditempuh dengan cara menjual aset seperti mobil atau tanah.

Hal semacam ini dikhawatirkan tidak akan terjadi dalam dua dekade mendatang. Bagi pasangan muda dari kelas menengah yang baru menikah sekarang, mereka harus mempersiapkan waktu yang panjang untuk memenuhi kebutuhan biaya kuliah anak mereka kelak. Saat ini pun sudah mulai muncul kesadaran untuk memiliki lebih sedikit anak, saat ini tidak jarang pasangan muda hanya mau punya 1 atau 2 orang anak saja. Jika kita menghitung dengan peningkatan rata-rata 10% saja dan asumsi bahwa anak baru lahir tahun ini, dana kuliah yang dibutuhkan 18 tahun lagi menjadi Rp 556 juta. Dengan memperkirakan perbandingan inflasi umum dengan laju kenaikan pendapatan/gaji, dapat diduga bahwa kemampuan orang tua untuk menabung akan semakin menurun – artinya mereka akan kesulitan untuk menabung dana sebesar itu dalam jangka waktu singkat.

Dalam sisi kesehatan, juga terjadi hal serupa. Bagi kelas menengah, akses kepada layanan kesehatan saat ini sudah mulai terasa berat, orang mulai habis-habisan membayar tagihan rumah sakit. Tidak heran, kini semakin banyak orang yang mencari Asuransi Kesehatan untuk menyebar biaya kesehatan dalam bentuk premi bulanan. Tetapi biaya kesehatan terus menerus meningkat, didorong oleh tiga faktor: tingginya biaya pendidikan kesehatan, sehingga dokter juga mengenakan tarif yang tinggi; tingginya biaya obat-obatan karena kebanyakan masih impor, belum ada riset paten dalam negeri, dan tingginya biaya pemasaran obat; dan tingginya biaya peralatan medis mutakhir yang terus menerus diperbaharui sebagai bagian dari persaingan antar Rumah Sakit. Kenaikan biaya Rumah Sakit juga didorong oleh munculnya RS dengan tambahan 'internasional', yang 20%-30% lebih mahal. Secara umum biaya RS naik 10% per tahun.

Jika kenaikan terus terjadi, maka untuk biaya dokter, obat, dan bedah (plus alatnya) kelak menjadi sangat tinggi. Apakah Asuransi Kesehatan masih dapat menanggung biaya kesehatan di masa depan? Saat ini hampir semua Asuransi Kesehatan masih membatasi biaya dokter, obat, dan bedah. Memang ada beberapa Asuransi Kesehatan umum yang memberikan penggantian sesuai tagihan, namun umur polisnya berlaku hanya 1 tahun dan tidak ada garansi bahwa polis bisa terus diperpanjang bila nasabah menderita sakit berat. Orang kelas menengah yang hari ini merasa aman dengan polis Asuransi Jiwa dengan tambahan manfaat kesehatan yang berlaku sampai puluhan tahun mendatang, mungkin akan kecewa menemukan bahwa penggantian asuransinya kelak sama sekali tidak mencukupi biaya yang timbul.

Tekanan-tekanan ini membuat terjadi perubahan tatanan kemasyarakatan di kelas menengah. Beberapa dekade lalu, kelas menengah ditandai oleh kekeluargaan yang erat, dengan komunitas yang saling membantu. Kalau ada dua keluarga merayakan pernikahan anak-anak mereka, bantuan datang dari berbagai kerabat dan sahabat dalam sukacita bersama. Kalau ada satu keluarga dirundung malang, misalnya bapak meninggal dunia sehingga ibu menjadi janda yang mengurus dua atau tiga anak, maka selalu saja ada yang turun tangan mulai dari membantu proses pemakaman, menyokong kehidupan keluarga yang ditinggalkan, dan mungkin turut membantu mencarikan pekerjaan, atau mencarikan suami baru. Komunitas bukan saja terbentuk antara saudara, tetapi juga terbentuk antara majikan-karyawan yang membentuk komunitas serupa keluarga. Kelas menengah dahulu bekerja di satu tempat saja sampai puluhan tahun lamanya.

Kondisi ini berubah dengan adanya industrialisasi dan individualisme yang mengikutinya. Karena sekarang setiap keluarga harus menghadapi masalah keuangan yang berat: harus menabung untuk anak, untuk membeli aset, untuk menanggung biaya kesehatan, maka tidak banyak dana yang tersedia untuk menolong keluarga lain sekalipun itu adalah saudara kandungnya sendiri. Sekarang pernikahan umumnya ditangani oleh Event Organizer (EO). Biaya pernikahan menjadi tanggungan keluarga saja – tidak jarang hanya diusahakan oleh pasangan yang menikah saja. Karena mereka menikah oleh hasil usaha sendiri, maka pasangan muda juga lebih terpisah dari keluarga, membentuk keluarga baru yang hubungannya renggang satu sama lain.

Apa yang terjadi ketika muncul musibah atas kepala dalam keluarga? Karena hubungannya telah menjadi renggang, maka beban kehidupan sepenuhnya jatuh pada istri janda dan anak-anak yang ditinggalkan. Dalam hal inilah peran Asuransi Jiwa menjadi lebih penting; sayangnya masih banyak yang gagal memahami tujuan dan manfaat dari Asuransi Jiwa. Nyatanya, masih banyak orang yang mencari Asuransi Jiwa demi manfaat tabungan dan investasi, bukan proteksinya. Padahal, proteksi menjadi penting karena kelas menengah saat ini juga lebih mudah dan lebih banyak terlibat hutang, melalui upaya perbankan meningkatkan kredit konsumsi melalui kartu kredit, kredit tanpa agunan, KPM, dan KPR. Berhutang tanpa proteksi ibaratnya seperti mengikuti arung jeram tanpa mengenakan jaket pelampung / Life Jacket – sekali tercebur, bisa celaka kehilangan semuanya.

Kelas menengah saat ini semakin terjepit secara ekonomi, dan kemungkinannya ada dua: naik ke atas menjadi kaya dan lepas dari belitan masalah, atau jatuh ke bawah karena kalah terhadap masalah – mereka terpaksa melepaskan gaya hidup mapan dan turut menjadi kaum marginal. Kalau dalam negara ini lebih banyak yang jatuh ke bawah, bisa diduga bahwa pertumbuhan ekonomi ke depan akan suram karena negara terlalu berat dibebani rakyat yang tidak mampu. Dibutuhkan usaha yang keras dan berkesinambungan di antara kelas menengah untuk berusaha naik ke atas, demi kehidupannya sendiri dan demi kesejahteraan negara ini.

Bagaimana caranya? Dibutuhkan perubahan paradigma, merubah mindset dari hanya pengikut dan pekerja menjadi pemimpin dan pengusaha. Perubahan dimulai dalam pikiran; menjadi kaya dimulai dari hati yang kaya. Dari sana ada tekad untuk bekerja lebih baik, lebih cerdas, dan lebih produktif – belum tentu kerja yang lebih keras. Karena sulit, maka perencanaan keuangan dan karir adalah hal-hal yang penting walau tidak terlihat mendesak. Hanya dengan perencanaan keuangan yang baik, kelas menengah dapat melalui masa-masa sulit sampai akhirnya berhasil naik menjadi kelas atas yang mandiri dan sejahtera.

Pahamilah, menjadi kaya bukan berarti berkelebihan harta. Menjadi kaya berarti dapat membayar segala sesuatu yang menjadi bebannya untuk dibayar, di sepanjang hidupnya. Menjadi kaya memang berkorelasi dengan memiliki banyak uang, karena kelak apa yang harus dibayar juga sangat mahal harganya.

29 Oktober 2009

Scam

Kaisar Jiajing pada dinasti Ming menginginkan umur panjang, sehingga dia dengan senang hati meminum "Cairan Kehidupan". Apakah dia betul-betul berumur panjang? Sebaliknya, dia meracuni dirinya sendiri dengan logam berat merkuri. Tetapi, untuk waktu yang lama orang berpikir bahwa memang ada sebuah bahan, sebuah obat, yang dapat menyembuhkan dan memberi umur lebih panjang daripada yang seharusnya. Kalau hari ini orang disuruh minum "cairan kehidupan" semacam itu, apakah masih mau?

Jangan tertawa dulu. Kita lihat apa yang terjadi di abad ke-20 ketika orang memasarkan "penyembuh ajaib" berupa cairan dengan bahan radioaktif di dalamnya, dari Rusia. Entah berapa banyak orang yang mengalami keracunan radioaktif. Apa yang mereka pikirkan?

Tapi kemudian, kita menemukan ekstrim yang lainnya, dari Rusia juga. Mereka membuat air yang benar-benar 'murni' lalu mengklaimnya sebagai 'miracle water'. Astaga, untuk membuktikan hal-hal seperti ini, mereka melakukan percobaan dengan memakai air itu untuk…mencuci teko air. Hebat, bukan? Kalau teko air bisa menjadi bersih sekali, apalagi tubuh manusia…. Itu pikirannya 'scientist' yang hebat, menurut penjualnya.

Beberapa waktu terakhir, kita menemukan juga klaim tentang air heksagonal, lalu air dengan kandungan oksigen yang lebih banyak. Apakah bermanfaat? Lihatlah, di sini ada testimoni, di sana ada testimoni! Tetapi, siapa yang bisa menjelaskan tentang apa yang terjadi ketika air yang diminum itu masuk ke lambung, lantas bertemu dengan asam lambung di dalam sana? Semua oksigen terlarut hilang, karena pada dasarnya manusia tidak punya insang untuk mengambil oksigen dari air. Semua bentuk molekul air, entah teratur atau tidak teratur, menjadi tidak berarti di dalam perut.

Silakan tanya pada orang yang serius belajar biologi dan kimia di SMA. Tidak perlu jadi ilmuwan untuk mengerti hal-hal semacam ini.

Baru-baru ini ada lagi klaim yang hebat, seperti yang disebu "Miracle Mineral Supplement" di abad ke 21 (http://www.miraclemineral.org/). Yang menarik, di sebelah kanan atas ada tulisan dan gambar kimia dari Chlorine Dioxide Ion. Nampaknya canggih ya?

Bagaimana kalau kita tahu bahwa Chlorine Dioxide itu nama lainnya adalah kaporit, yang dipakai untuk menjernihkan dan membunuh kuman-kuman dalam air? Ini bahan yang dipakai untuk membersihkan kolam renang – yang suka berenang harusnya tahu bahwa air kolam mengandung banyak kaporit. Bahan ini bersifat racun, apalagi dalam jumlah besar. Memang bahan ini bagus untuk membunuh kuman, tapi sebenarnya bagus untuk membunuh apa saja. Sebuah racun, tepatnya.

Dengan kata lain, Miracle Mineral Supplement adalah racun, yang kalau diminum bisa menyebabkan keracunan, tetapi yang jual mengatakan bahwa itu adalah "efek detoksifikasi". Ah, detox apanya? Justru itu adalah efek toksifikasi, yang kalau badan tidak kuat bisa menyebabkan masalah serius!

Tetapi kita cenderung mengabaikan ilmu pengetahuan yang benar, sebaliknya lebih memperhatikan "bukti-bukti" – yang kebanyakan juga tidak bernilai ilmiah karena tidak terdokumentasi dengan tepat. Beberapa beralasan bahwa kita tidak bisa membatasi "ilmu pengetahuan" yang berkembang cepat, jadi siapa yang tahu penemuan paling mutakhir apa yang berguna bagi orang?

Kenyataannya, semua yang disebut sebagai penjual "cairan kehidupan" ini menunjukkan banyak sekali situs web dan tulisan dari para 'dokter' dan 'ahli' yang menyatakan bahwa cairan ini berguna, sangat bermanfaat, tanpa menjelaskan apa isinya. Cairan semacam ini dijual dengan harga tinggi, yang terasa menjadi semakin murah ketika disertai oleh testimoni alias kesaksian yang hebat tentang hasilnya.

Hanya saja, kalau diperhatikan ternyata kebanyakan "informasi" itu datang dari situs yang memang menjual produk. Apa bedanya dengan brosur dan katalog promosi yang dibagikan? Di sini ada banyak sekali upaya promosi, hingga ke tingkat yang tidak terbayangkan. Bisa jadi, biaya untuk promosi jauh lebih besar daripada biaya untuk produksi dan operasional. Kalau orang membeli produk, pada dasarnya dia bukan membeli barang melainkan membayar para salesmen dan iklan.

Di tengah abad informasi, ternyata semakin banyak penyimpangan informasi. Akhirnya semua tulisan berbicara bagi dirinya sendiri, dan kebenaran menjadi relatif tergantung pada keyakinan pembaca atau pendengar. Kata-kata bisa didekonstruksi, kebenaran tergantung kepada kekuasaan – entah dana, entah pengaruh. Inikah yang terjadi pada masa post-modern?

Kebenaran tidak relatif; kebenaran adalah benar di segala tempat, di setiap waktu. Kalau kaporit kemarin bersifat racun, hari ini juga bersifat racun – tidak peduli apapun testimoni yang diberikan atau klaim-klaim yang dilakukan. Kaporit tidak berubah jadi bahan yang aman, hanya karena ada yang mengatakan demikian. Orang mungkin tidak belajar kimia dengan baik, atau tidak punya cukup pengetahuan untuk mengenali tipu pemasaran, tetapi ketidak-tahuan itu tidak membuat apa yang berbahaya menjadi aman.

Hal serupa terjadi di segala bidang. Ada di bidang pendidikan – bayangkan bahwa ada yang bisa membuat orang 'biasa' menjadi 'genius' dalam hitungan bulan. Ada di bidang keuangan, bahkan banyak sekali di bidang keuangan, berbagai investasi yang 'hebat' tanpa resiko, yang justru akhirnya hilang dan kabur tak tentu rimbanya.

Berapa lama lagi orang masih memilih mengikuti 'bukti' dan bukannya mencari tahu apa yang benar? Ada juga yang bilang bahwa dirinya tidak mau repot, tidak mau pusing, karena hari ini yang dipikirkan sudah cukup banyak – tidak ada lagi sisa untuk memikirkan masa depan. Dan mereka yang tidak mau pusing ini sudah cukup puas dengan melihat bukti-bukti – dan siapa tahu akhirnya mereka sedang meracuni diri mereka sendiri, atau memiskinkan diri mereka sendiri.

Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya – yaitu kebenaran yang mutlak dan pasti tentang segala hal, di Surga dan di bumi – maka segalanya akan ditambahkan kepada kita.

15 Oktober 2009

Crisis On Hold

Di hari-hari ini, berita yang terdengar adalah beban bank sentral untuk menaikkan suku bunganya. Ben Bernanke sudah bilang, tidak mungkin The Fed terus-terusan menahan tingkat suku bunga mendekati 0%. Akan tiba saatnya suku bunga dinaikkan kembali untuk mencegah inflasi. Di Australia, bank sentralnya sudah menaikkan suku bunga dari 3% menjadi 3,25%.

Satu pemikiran yang diduga melandasi kenaikan suku bunga adalah kekhawatiran munculnya inflasi yang tidak terkendali. Bagaimanapun, sejumlah kucuran dana stimulus sudah masuk ke pasar, walaupun ternyata belum dapat sepenuhnya memulihkan ekonomi. Stimulus memang membantu naiknya pasar modal, tetapi di tempat kerja orang masih mengalami PHK. Order masih tetap sepi, belum seperti sediakala. Masalahnya, ada kapasitas-kapasitas produksi yang tidak terpakai, dan masih belum terlihat kapan akan digunakan.

Ketika orang mengalami PHK, sebenarnya Perusahaan bukan saja memutuskan hubungan dengan seseorang melainkan juga menghilangkan pengalaman dan kebijaksanaan. Penggantian orang tidak bisa menggantikan pengalaman dan kebijaksanaan yang muncul. Kesalahan-kesalahan lama mungkin terulangi lagi, dan kesalahan baru membuat situasi semakin membingungkan. Demikian juga dengan kapasitas yang tidak terpakai: masalahnya adalah kerusakan terjadi pada mesin-mesin yang menganggur, serta hilangnya dukungan yang dibutuhkan untuk menjalankan peralatan-peralatan. Ada sparepart yang tidak tersedia, teknisi yang sudah keluar kerja, dan material yang tidak lagi dipasok karena alasan ekonomi. Kalaupun ekonomi mulai pulih, ada masalah di setiap perusahaan dan pemerintah untuk memulihkan kapasitas manusia dan peralatan ke kondisi semula.

Secara keseluruhan, tingkat pengangguran di Amerika Serikat masih tetap tinggi – bahkan diperkirakan semakin besar sampai tahun 2010. Dalam harian Kompas 15 Oktober 2009, ada artikel berjudul "Pemulihan Masih Alot – Paul Krugman Berpesan soal Strategi Kebijakan Ekonomi." Pesannya: dalam keadaan seperti ini, diperlukan waktu bertahun-tahun hingga tingkat pengangguran di perekonomian negara-negara maju turun ke level lebih masuk akal. Kebijakan yang tidak standar harus tetap dipertahankan dalam periode yang lebih lama. Artinya, bank-bank sentral harus terus menjaga agar tingkat suku bunga tetap mendekati nol persen.

Pesan bagus dari Krugman, tapi jelaslah bahwa para pengelola bank sentral tidak sepakat. Kalau tingkat suku bunga mendekati nol, maka dana-dana berlimpah tidak terserap di dalam ekonomi yang tingkat pertumbuhannya rendah. Ada banyak yang pegang uang, artinya demand tinggi, tapi tidak ada penyedia, artinya supply rendah, yang berarti harga naik, naik, dan naik. Makin banyak orang tidak bisa membeli, artinya mereka juga tidak bisa menjual. Produksi domestik menurun – tidak bagus karena masih resesi. Logika sederhana ini membuat perekonomian Amerika menjadi tidak menarik dalam jangka panjang – dan kita lihat bahwa dolar Amerika terus melemah.

Jadi, tentunya dibutuhkan upaya untuk mengerem inflasi, yaitu dengan menaikkan suku bunga. Langkah ini juga bertujuan menyerap kembali uang yang semula dikucurkan dalam stimulus. Tapi, apa yang bisa terjadi? Kalau suku bunga dinaikkan, maka bunga kredit membesar kembali di tengah kondisi sukar. Mereka yang tadinya bernafas agak lega dengan tingkat bunga yang rendah, sekarang harus bekerja lebih keras lagi. Beberapa mungkin tidak sanggup lagi, sehingga ada resiko terjadi depresi.

Jadi, suku bunga dinaikkan atau tidak dinaikkan, resiko tetap ada di sana. Hanya sekarang, mana resiko yang lebih mungkin terjadi dan lebih berat akibatnya?

Bagaimana dengan Indonesia? Yang pertama, kondisi ekonomi yang lemah di Barat membuat banyak dana masuk Indonesia, menjadi aliran hot money yang mengangkat berbagai bursa Asia, termasuk Bursa Efek Indonesia, secara signifikan. Bukankah banyak ulasan analis, seperti dari Goldman Sachs yang menunjukkan bahwa pertumbuhan global akan ditarik oleh pertumbuhan Asia? Yang kedua, melemahnya dolar Amerika membuat hutang luar negeri lebih mudah dibayar dan impor lebih murah diperoleh. Masih ada pengamat yang justru merasa bahwa harusnya Rupiah bisa menjadi lebih kuat lagi, toh saat ini ekspor Indonesia ke Amerika dan Eropa telah menurun drastis.

Jadi di dalam negeri orang lebih terfokus dengan dua isu besar. Yang pertama adalah penyusunan pemerintahan yang baru akan diumumkan pada tanggal 21 Oktober mendatang, dan yang kedua adalah langkah-langkah memberantas korupsi di Indonesia, yang menjadi sorotan setelah pemimpin KPK justru dimejahijaukan dengan cara yang aneh sekali. Pemerintah baru Indonesia harus menghadapi tantangan global yang besar, sekaligus perlu membersihkan dalam negeri dari penyakit korupsi yang sekarang ini sudah mengakar-berurat di mana-mana.

Tetapi memikirkan bahwa Indonesia terlepas dari situasi global adalah pemikiran yang tidak tepat. Kalau ekonomi global mengalami depresi, aliran modal akan terhenti, mungkin berbalik keluar kembali untuk menutupi kerugian di negara asal dana. Seandainya mereka berinvestasi sejak awal 2009, bukankan sekarang ini keuntungan dari bursa saham sudah lebih dari 80%? Sebaliknya, Indonesia juga akan kesulitan untuk mengekspor hasil produksinya, sementara pasar dalam negeri belum sanggup menyerap produksi atau komoditas yang ada.

Repotnya, kita sekarang menemukan banyak orang masih berpikir pragmatis dan sektarian, apalagi dengan keramaian politik seperti munas Golkar yang baru lalu. Tidak banyak yang sungguh-sungguh memikirkan untuk bersama-sama memperkuat perekonomian Indonesia, menghilangkan ekonomi berbiaya tinggi, dan meningkatkan produktivitas dan pasar dalam negeri. Orang Indonesia sebenarnya perlu bersikap lebih bijaksana dan percaya diri, menggunakan produk dan jasa dari perusahaan swasta nasional – cintailah produk dalam negeri!

Di sisi masyarakat juga ada kebutuhan, suatu keharusan, untuk lebih baik mengelola keuangan, membuat perencanaan finansial yang benar. Masa depan adalah masa yang tidak terduga dan dihantui banyak masalah. Perencanaan keuangan yang baik, perlindungan finansial yang memadai, dan investasi yang tepat akan menolong setiap keluarga untuk mempunyai masa depan yang lebih baik. Ini menjadi tanggung jawab yang tidak dapat dielakkan – maksudnya, apapun pilihan orang saat ini dalam bersikap, masalah ekonomi yang muncul kelak tidak dapat dihindari hanya dengan kata-kata.

Sekarang ini, situasinya adalah "Crisis On Hold" – krisis sedang ditangguhkan. Apakah krisis benar-benar berlalu? Atau justru sebaliknya, terjangan krisis berikutnya justru lebih keras dan hebat? Tidak ada yang tahu. Tidak ada yang pasti. Karena ada banyak faktor di luar sana yang tidak pasti, maka buatlah agar diri kita mempunyai sejumlah kepastian sekarang, selagi masih ada kelegaan dan kebebasan untuk bersikap. Mungkin saja, kesempatan ini suatu saat akan berakhir…

09 Oktober 2009

Peran Kristen

Dengan perkembangan terkini di dalam ekonomi global, pertaruhan yang besar adalah apakah globalisasi akan terus berlanjut, atau terhenti di dalam proteksionisme. Secara populer, di saat krisis terjadi seperti sekarang tidak banyak yang menyukai ide untuk terus mengembangkan globalisasi. Para politikus memanfaatkan kesempatan ini untuk menegaskan kembali "jati diri bangsa" dan membuat batasan-batasan yang lebih ketat untuk membatasi "pengaruh global" yang berpotensi merugikan bangsa dan negara.

Satu hal yang perlu dicermati di sini adalah: apa peran orang-orang Kristen di dalam kekisruhan ekonomi? Jawaban yang diambil, antara lain, adalah sikap pasrah dan membiarkan apa yang terjadi, terjadilah – kita hanya berdoa dan "melakukan kehendak Tuhan", yaitu menyelesaikan tugas yang lebih mudah dikerjakan seperti memberi persepuluhan dengan disiplin. Nah, tentang memberi persembahan tidak ada hal yang salah mengenai memberi persepuluhan, tapi masalah sebenarnya adalah ketidak-pedulian terhadap situasi yang sedang berkembang. Itukah apa yang disebut "melakukan kehendak Tuhan"?

Pernahkah terpikir, mengapa globalisasi menjadi begitu penting? Kunci pemahaman atas hal ini adalah pengetahuan tentang produktivitas manusia. Perhatikanlah: setiap negara mempunyai pengukuran Produk Domestik Bruto alias PDB, tetapi bagaimana PDB itu muncul merupakan isu yang berbeda. Ada PDB yang muncul dari alam, produksi komoditas yang berlimpah karena alam yang kaya raya seperti Indonesia. Ada PDB yang muncul dari hasil manufaktur yang berkembang pesat, seperti di China yang rata-rata PDB nya di atas 9% dalam satu dekade terakhir. Ada juga PDB yang muncul dari sektor jasa, seperti yang terjadi di Amerika dan Eropa.

Berkaitan dengan globalisasi, kita lihat bahwa sektor-sektor yang berkaitan dengan produk agraria dan manufaktur cenderung diatur dan diawasi, termasuk diproteksi. Kalau kita bicara tentang proteksionisme, objek bahasannya adalah komoditi dan hasil manufaktur. Bagaimana dengan sektor jasa? Globalisasi dimulai dari jasa-jasa yang melintas negara, diikuti dengan permodalan. Sebenarnya, kalau tidak ada jasa finansial yang mengatur perpindahan modal lintas negara, tidak akan terjadi globalisasi. Kalau tidak ada jasa yang mengatur perdagangan, atau disebut trade broker, dari dulu pembeli dan penjual yang berbeda benua tidak akan pernah bertemu.

Seluruh sektor jasa bertumpu pada relasi yang terjadi antara orang yang satu dengan lainnya, berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh manusia untuk mempengaruhi manusia lain. Kita mengenal jasa seperti dunia hiburan dan film, yang bukan saja memberi kesenangan melainkan juga menciptakan trend tertentu di masyarakat. Kita mengenal jasa pendidikan, yang menyebar-luaskan pemikiran-pemikiran, filosofi, dan ideologi. Kita mengenal jasa pelayanan kesehatan. Dan secara global, kita menemukan jasa layanan finansial, yang memberikan globalisasi ekonomi dunia menjadi kenyataan.

Ketika sebuah negara mendasari PDB nya dari jasa, terutama jasa finansial, maka negara itu menjadi dominan dalam globalisasi. Itulah sebabnya kita temukan Amerika, Inggris, Jerman dan Swiss menjadi pemain besar dalam globalisasi dunia. Mereka selama beberapa dekade menikmati peningkatan kemakmuran yang tinggi dari globalisasi. Mereka menjadi tempat-tempat yang dipercaya sebagai pemberi jasa finansial terkemuka. Itulah sebabnya, ketika krisis subprime mortgage terjadi, sangat banyak pihak yang terkejut – bukan hanya karena runtuhnya nilai subprime mortgage, melainkan karena hilangnya kepercayaan kepada lembaga-lembaga keuangan dan akhirnya kepada negara yang mewadahi lembaga-lembaga tersebut.

Subprime mortgage adalah surat gadai yang dibawah prima, alias kelas dua. Tetapi para pengelola dana mengambil surat hutang itu, kemudian melakukan sekuritisasi dan memasukkannya dalam wahana investasi terstruktur kelas satu yang dianggap aman dengan asumsi bahwa aset tanah dan bangunan, biar bagaimanapun juga, tidak akan turun nilainya. Tentu saja ini adalah asumsi yang salah, tetapi menguntungkan mereka yang bekerja sebagai penyedia jasa finansial dalam bentuk komisi dan kompensasi biaya transaksi. Pertanyaannya: mengapa badan regulator dari Pemerintah seperti The Fed membiarkan hal serupa ini terjadi? Kalau orang bisa manipulasi dalam subprime mortgage, apakah mereka dapat melakukan manipulasi dalam hal lainnya, seperti Ponzi scheme yang dilakukan oleh Madoff? Apakah di kemudian hari, Pemerintah negara itu tetap akan membiarkan manipulasi dilakukan sampai dampaknya menjadi besar dan tidak terelakkan?

Masalah krisis global sebenarnya bukan soal produk yang cacat. Ini adalah masalah kepercayaan, soal integritas – karena sekarang orang menemukan bahwa ada banyak alasan bagi para pelaku ekonomi untuk tidak berintegritas. Apa alasan seseorang bersikap jujur, kalau ketidak-jujuran menghasilkan keuntungan cepat dan langsung? Toh perubahan begitu cepat terjadi, sehingga pembahasan mengenai jangka panjang tidak lagi relevan.

Sikap berintegritas akhirnya menjadi bagian dari karakter, yang dilandasi oleh nilai dan prinsip yang dianut seseorang. Darimana orang-orang mendapatkan nilai dan prinsip-prinsip dalam hidupnya? Apa yang menjadi sumber nilai dan prinsipnya?

Suka atau tidak suka, disinilah kita menemukan peran agama dalam diri manusia. Agama memberikan nilai dan prinsip, serta bagaimana karakter dibentuk. Secara fundamental, agama Kristen menjadi bagian dari budaya negara barat, termasuk Amerika, Inggris, Jerman, dan Swiss – sehingga walaupun sebagian penduduknya mungkin tidak memiliki kepercayaan yang mendasar kepada Kristus sebagai Juruselamat, mereka menerima nilai dan prinsip yang muncul dari kepercayaan itu. Agama Kristen menjadi landasan budaya yang mengutamakan keterbukaan dan kejujuran, serta kasih sebagai landasan dalam hubungan antar manusia. Hukum emasnya adalah "lakukanlah kepada orang lain apa yang engkau ingin orang lain lakukan kepadamu." Di sinilah inti dari integritas,

Sejarah agama Kristen dalam negara-negara Barat telah begitu lama, berabad-abad, sehingga menjadi tradisi dalam bersikap dan bermasyarakat. Sayangnya, dengan filosofi baru yang muncul sejak "abad pencerahan", baik itu rasionalisme dan naturalisme, kemudian liberalisme dan eksistensialisme, keyakinan masyarakat turut berubah, apalagi setelah trauma yang muncul dari perang dunia, PD 1 dan PD 2. Di satu sisi, usaha manusia menemui perkembangan yang menakjubkan dari teknologi dan kemajuan kemanusiaan – ditandai dihapusnya perbudakan dan pernyataan tentang kesetaraan. Di sisi lain, dasar keyakinan iman menjadi sesuatu yang kuno, yang tidak masuk akal. Agama Kristen menjadi sebuah petunjuk tentang hidup yang baik, namun bukan sesuatu untuk sepenuhnya dipercayai.

Yang banyak orang tidak sadari adalah hal ini: perilaku manusia diarahkan oleh tujuannya, yang muncul dari relasi yang dimiliki manusia itu. Relasi pribadi antara manusia dengan TUHAN melalui kepercayaan kepada Kristus menimbulkan tujuan yang jelas – hidup kekal bersama Tuhan – serta mendefinisikan perilaku yang sesuai, seperti menjaga kekudusan dan memelihara kesetiaan, dalam kebenaran dan keadilan.

Ketika kepercayaan itu ditolak, maka perilaku yang mengikuti tradisi sebenarnya hanya meniru contoh saja, mengikuti teladan dari orang tua. Saat orang tua terdahulu masih memegang kepercayaan dengan sepenuh hati, mereka mengajar anak-anak untuk berperilaku benar dan melihat bagaimana semua itu menciptakan masyarakat yang tertib dan baik. Namun saat anak-anak kehilangan kepercayaan, yang mereka lihat hanyalah suatu sebab-akibat antara perilaku dan kemasyarakatan. Orang memiliki tujuan-tujuan yang lebih pragmatis seperti menginginkan kekayaan dan kenikmatan, dan hidup yang bebas dari perang. Perlahan tapi pasti, kepentingan-kepentingan finansial dan politik membentuk sikap hidup yang sama sekali berbeda. Kini kebenaran menjadi sesuatu yang relatif, karena tidak lagi didasarkan pada keyakinan iman. Demikian juga dengan turunannya seperti integritas, yang kini mengalami pergeseran makna.

Haruskah kita benar-benar terkejut ketika menemui orang-orang yang telah lolos uji sebagai pengelola perbankan, yang memiliki segala integritas yang dibutuhkan, ternyata melakukan penipuan-penipuan? Ketika kebenaran menjadi relatif, orang tidak lagi tahu seberapa jauh sebenarnya mereka telah hanyut dalam manipulasi yang dibuat secara sistematis. Setiap orang melakukan satu penyimpangan kecil, yang kalau dilihat secara individual tidak berarti namun secara kolektif menjadi sangat berbeda. Skala permasalahan krisis finansial yang terjadi bukan dibentuk dalam satu atau dua bulan, melainkan telah ditanamkan selama bertahun-tahun.

Pada akhirnya, kita melihat bahwa peran Kristen dalam perekonomian telah memudar sedemikian rupa, digantikan oleh pertemuan berbagai kepentingan dan kekuasaan. Semula orang hidup dalam suatu ilusi bahwa integritas dan sifat dapat dipercayai, sesuatu yang dibangun dalam tradisi Kristen selama berabad-abad, masih tertanam dalam para pelaku ekonomi yang juga dapat dipercayai. Tetapi, krisis demi krisis menunjukkan hal yang sebaliknya – menimbulkan pertanyaan: saat ini siapa yang masih dapat dipercaya?

Bayangkan apa yang terjadi saat sifat dapat dipercaya menghilang dari usaha jasa, yang bertumpu pada kepercayaan. Orang meragukan keamanan dananya yang disimpan dan diinvestasikan di surat berharga di Amerika dan Eropa. Ketika G20 bertemu di Pittsburg, orang-orang berdemonstrasi dan menolak – yang berangkat dari ketidakpercayaan atas ketulusan niat dan tujuan pemerintah-pemerintah yang berunding. Apakah ketidakpercayaan hanya dalam hal keuangan saja? Tidak, kecurigaan muncul dalam urusan pendidikan (sekolah yang berbisnis), dalam urusan kesehatan (memeras orang), dan bahkan juga hiburan (awas propaganda terselubung). Peristiwa bangkrutnya Lehman Brothers menjadi contoh yang diulang-ulang oleh banyak orang untuk mengingatkan betapa perusahaan besar di Amerika tidak bisa dipercaya. Lalu, siapa yang bisa dipercaya? Apa yang bisa dipegang?

Berbagai Pemerintah berusaha mempertahankan kepercayaan dengan memberikan jaminan bagi sistem finansialnya, tetapi uang tidak bisa membeli sifat bisa dipercaya. Sebaliknya, justru kucuran uang mendatangkan para pengeduk keuntungan. Siapa yang bisa memastikan bahwa kucuran dana talangan (bail-out) seluruhnya sampai ke sasaran? Yang lebih menakutkan adalah kenyataan bahwa dana itu diperoleh dengan cara mencetak uang lebih banyak; saat ini ratusan miliar dollar telah dicetak dan disuntikkan untuk menyokong sistem finansial di Amerika dan Eropa. Dalam jangka panjang, hal ini menimbulkan resiko inflasi yang tinggi, yang justru menurunkan tingkat kepercayaan. Tidak heran, hari ini beberapa pihak mulai berpikir untuk melepaskan dolar Amerika. Tidak ada yang mau turut mengalami kerugian saat gelombang masalah kedua datang melanda negara Paman Sam ini.

Kekacauan dari ketidakpercayaan bukan hanya berhenti di Amerika, tetapi juga mempengaruhi seluruh tatanan globalisasi. Peran kekristenan yang tidak lagi signifikan dalam kehidupan digantikan oleh manipulasi dan permainan kekuasaan, kini mendatangkan akibat yang menakutkan orang untuk berelasi dengan orang lain. Kembali kepada awal dari tulisan ini, ketidakpercayaan telah membuat orang tidak lagi menyukai globalisasi, walaupun sejarah membuktikan globalisasi mendatangkan kemakmuran.

Kita kini masuk dalam alam finansial yang baru...dimana yang bisa dipercaya adalah mereka yang dekat, yang lokal, perusahaan-perusahaan swasta nasional (maaf, tapi saat ini perusahaan milik negara masih dicurigai penuh korupsi). Apakah orang-orang Kristen saat ini dapat membuat perbedaan? Tuhan yang memampukannya!