Cari Blog Ini

31 Desember 2005

Ngobrol Akhir Tahun

Psst... Dengar! Ada yang ngobrol di akhir tahun 2005. Apa kata mereka?

"Sudah dengar berita buruk?"
"Belum! Tapi kamu sudah dengar yang lebih jelek lagi nggak?"
"Lho, kamu belum dengar, tapi kok sudah tahu itu lebih jelek?"
"Oh, karena sejelek-jeleknya beritamu, pasti lebih jelek beritaku."
"Nggak mungkin!"
"Oke deh. Nah, coba, apa berita burukmu itu?"

"Pendidikan di negeri ini berantakan! Ternyata, Presiden dan jajaran
pemerintahan melanggar konstitusi! Sudah jelas, dalam amandemen UUD
disyaratkan anggaran 20%, tapi kenyataannya? Ini pelanggaran serius!
Bukankah ini buruk sekali? Kalau dibiarkan, pendidikan kita berantakan.
Tetapi kalau mau ditindak, mosok Presiden taon depan mau diturunkan lagi?"

"Oh, itu belum terlalu buruk! Memang betul, bahkan Wapres naik pitam
gara-gara mendengar puisi yang bilang kalau sekolah lebih jelek daripada
kandang ayam. Tetapi itu belum seberapa! Yang lebih buruk lagi adalah
kenyataan bahwa semua dana itu dikorupsi! Tuh, kemarin waktu ulang tahun
ke-2 KPK, ketuanya bilang kalau di Indonesia ini belum pernah ada niat
sungguh-sungguh untuk memberantas korupsi. Tidak ada yang bersungguh-sungguh
membenahi sistem. Kalau KPK hari ini menggebrak dan merantai koruptor ke
penjara, besok ada orang lain yang menggantikan posisi menjadi koruptor yang
sama saja buruknya!"

"Tapi itu bukan berita yang benar-benar buruk. Kenyataannya, saat ini
kesenjangan gaji di antara pegawai negeri dan petinggi-petingginya adalah
begitu besarnya, itulah berita yang amat buruk! Karena dengan demikian,
pemerintahan didominasi oleh dua kelompok orang. Yang pertama adalah
sebagian besar orang-orang kecil yang harus kongkalikong untuk menyiasati
gajinya yang kecil, lalu menjadi koruptor jabatan. Yang kedua adalah
sebagian kecil orang-orang di posisi strategis yang walaupun dapat gaji
edan-edanan, masih juga berusaha jadi raja kecil yang ingin lebih kaya lagi!
Mereka yang sedikit ini punya tameng politik, punya tameng hukum. Bahkan,
KPK sendiri pun tidak bisa menyentuh mereka! Tuh, lihat saja kasus KPK
membongkar korupsi di KPU. Yang dua masuk bui, tapi yang dua lagi?"

"Korupsi itu di saat terjadinya tidaklah terlalu buruk! Yang lebih buruk
lagi adalah akibatnya. Sudah puluhan tahun negeri ini digerogoti korupsi,
selama itu pula semua kekayaan dan pembangunan bangsa ini habis tak
berbekas. Kalau semua daya hanya untuk membuat apa yang kelihatan di luarnya
saja, apa yang tersisa untuk membangun yang di dalam? Sekarang, setelah
semuanya habis, apa yang tersisa bagi negeri ini? Ini berita yang amat
buruk! Ekonomi kita rusak berat! Utangnya banyak, daya saingnya rendah, dan
industrinya tergantung pada subsidi dan proteksi! Tak heran kalau banyak
yang tumbang karena harga BBM naik, perusahaan tutup dan ratusan ribu
karyawan kena PHK!"

"Lebih buruk lagi, karena hidup sulit, semua orang menjadi tidak peduli! Mau
tahu apa yang amat buruk? Produsen dan distributor makanan yang tidak mau
rugi memakai formalin untuk mengawetkan barangnya! Para nelayan yang melaut
memakai formalin untuk mengawetkan ikan-ikan! Tahu, mi, baso, ikan, ayam,
dan segala macam bahan makanan lain sudah diberi formalin yang merusak
badan! Ini benar-benar berita buruk: kehidupan di negeri ini semakin buruk,
dan tahu-tahu kita bisa mati kena kanker!"

"Aah, ini belum teramat buruk! Kena kanker itu matinya perlahan-lahan!
Sekarang ini, banyak teror dan bom. Dan bahkan pada hari ini, bom meledak
lagi di Palu! Nyawa tidak ada nilainya. Orang bisa mati begitu saja di
jalanan! Bukankah ini yang teramat sangat buruk?"

"Ya, ada yang lebih buruk lagi...."

Heiii!! Stop, stop, stop!

STOP!

Ini akhir tahun, dan kita sedemikian bersemangatnya membahas tentang kabar
buruk! Tidakkah cukup semua berita-berita buruk itu menghiasi koran-koran
dan laporan akhir tahun? Tidakkah mata menjadi merah karena setiap kali
melihat surat kabar atau berita televisi, selalu saja ada kemalangan dan
kegagalan dan kejahatan yang ditampilkan?

Seperti kata-kata seorang temanku, "Aku takut hidup di Indonesia." Kenapa?
Karena nampaknya orang akan mati dengan lebih cepat bila tinggal di negeri
yang tercemar dan mencemarkan ini. Dan bukan hanya kita saja yang sudah
mulai beruban; bahaya itu mengancam anak-anak kita, membahayakan keturunan
kita. Apakah lebih baik tinggal di luar negeri saja?

Tapi, salah besar bila beranggapan bahwa tinggal di luar negeri selalu lebih
sehat, senantiasa lebih aman, atau pasti lebih sejahtera. Coba saja; ada
berapa banyak orang yang mati kedinginan di musim dingin yang semakin parah
di negara-negara sub-tropis? Di bumi ini tinggal di mana pun begitu juga,
selalu ada masalahnya.

Kalau kita mau bicara kabar buruk, tidak akan ada habisnya. Dan kalau kita
melihat sejarah, akan nyata bahwa manusia itu begitu bodoh karena
mengulang-ulang kesalahan sejarah. Mungkin sebabnya adalah tak banyak yang
suka belajar sejarah, atau tidak banyak yang peduli bahwa apa yang
dilakukannya hari ini sama dengan apa yang orang lain telah lakukan dahulu
dengan akibat kebinasaan bangsa. Dari jaman ke jaman, manusia meratap karena
kesulitannya, dan seringkali penyebabnya itu itu juga. Perang. Penyakit.
Kemiskinan. Kejahatan.

Belajarlah sejarah, dan kita akan temukan bahwa di saat populasi manusia
menjadi terlalu besar, teori yang dikatakan Thomas R. Malthus barangkali
benar: populasi berlebih akan dibatasi oleh kelaparan, penyakit, dan perang.
Atau kasarnya: untung ada kelaparan, ada penyakit, dan ada perang, sehingga
populasi manusia tidak terlalu banyak dan masih tersedia cukup sumberdaya
untuk orang-orang yang tersisa. Atau kalau tidak mau perang dan penyakit,
mulai dari sekarang mulailah membatasi keturunan! Pesimis? Coba saja lihat
statistik demografi. Dan penduduk negeri ini sudah lebih dari 220 juta,
sehingga nampaknya tidak banyak yang terlalu memikirkan jika sejuta atau dua
juta orang berkurang karena kena penyakit flu burung, keracunan formalin,
atau mati kelaparan karena miskin.

Sedemikian menyedihkannya? Mungkin. Bisa jadi. Tak heran, ada banyak nada
pesimis di akhir tahun ini. Dan mungkin, para pembaca tulisan ini pun
merasakan kepesimisan yang sama. Itulah nada dari dunia, suara dari planet
bumi yang semakin tua dan sengsara, nada kesedihan dari Indonesia. Tetapi,
ada baiknya kita mendengar suara lain, nada yang lain. Suara yang bergema
sejak jaman dahulu kala, yang sarat dengan kuasa Ilahi:

Hab 3:16-19
"Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya,
menggigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku
gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari
kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami.

Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon
zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan
makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi
dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di
dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat
kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku."

Hari susah menakutkan? Ya. Siapa yang tidak gemetar karena kehilangan
pekerjaan, karena kehilangan pelanggan, karena kehilangan kesejahteraan?
Siapa yang bibirnya tidak menggigil menghadapi hari-hari kesusahan, ketika
dinyatakan bahwa negeri ini akan menarik pajak lebih besar lagi,
tertatih-tatih untuk tetap berjalan, sementara pembayaran utang luar negeri
yang jatuh tempo akan tetap dilaksanakan?

Tetapi, siapa yang sanggup beria-ria sekarang? Siapa yang sanggup menatap
masa depan, walaupun segala asetnya tidak menghasilkan, segala kekayaannya
hilang tercuri orang, dan modalnya habis ditelan biaya? Itulah anak-anak
TUHAN, yang bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang
menyelamatkan!

Siapa yang bersama-sama nabi Habakuk dapat menyerukan: ALLAH Tuhanku itu
kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak
di bukit-bukitku. Siapa?

Wahai, kalian yang sedang berkeluh kesah tentang tahun yang gagal dan penuh
kesulitan! Di manakah iman, ketika tiada lagi jaminan keamanan penghasilan,
sudah berhenti kekayaan dan kemudahan? Pohon ara kini tidak berbunga, pohon
anggur tidak berbuah. Apa yang semula mendatangkan kemakmuran, kini tidak
lagi. Hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan
bahan makanan. Apa yang semula menjamin kehidupan, kini tidak lagi. Apa yang
semula menjadi kekayaan dan harta dunia, kini habis sudah.

Tetapi kita akan beria-ria, akan bersorak-sorak dalam Tuhan yang
menyelamatkan kita. Dia akan memenuhi kebutuhan kita, mencukupkan. Bagian
kita adalah berada di dalam-Nya. Porsi kita adalah melakukan kehendak-Nya.
Apa yang Ia kehendaki tidaklah banyak atau rumit; Ia menghendaki kita
percaya kepada Kristus, mengasihi Allah dan sesama, hidup dalam terang
kebenaran dan keadilan serta kesetiaan.

Menyongsong tahun 2006, apa yang dapat kita katakan? Apa yang hendak kita
harapkan?

Marilah berharap, bahwa kita dapat benar-benar melakukan kehendak-Nya.
Keadaan boleh buruk, situasi boleh sukar, tetapi ingatlah bahwa kita
memiliki dan telah dimiliki Tuhan. Mungkin pikiran dan analisa kita
mengatakan 'buruk' dan 'buruk', namun Tuhan lebih besar dari masalah kita.
Kita memang tidak tahu, bagaimana Tuhan akan menuntun kita melewati
lorong-lorong gelap di Indonesia, di antara penyakit dan kemiskinan dan
kejahatan serta korupsi yang kronis. Tetapi kita tahu betul, bahwa Ia
menuntun kita. Ia membawa kita.

TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku.
Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman,
aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;
gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku;
Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku;
dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Salam kasih,
Donny

18 Desember 2005

Pilihan & Perubahan

"I need Thee, o I need Thee; ev'ry hour I need Thee; o bless me now my
Saviour, I come to Thee"

Lirik lagu ini terngiang-ngiang. Berulang-ulang. Ada saatnya, ketika jalan
kehidupan membelok dengan tajam, rasanya seperti mau terlempar keluar. Saat
itu yang paling dibutuhkan adalah pegangan yang kuat, yang tidak bergeser
atau berderik-derik, yang tetap menempel pada jalan walau lajunya cepat pada
tikungan tajam. Kita semua mungkin sudah merasakannya, bukan?

Tetapi, saya bukan sedang berbicara tentang pengalaman mengendarai mobil.
Ini adalah tentang perjalanan hidup, dalam realitas di mana ada kesempatan
dan masalah, ada dorongan dan hambatan yang harus kita hadapi setiap hari,
setiap jam. Tidakkah kita semua merasakannya? Coba baca koran hari ini, dan
lihat bagaimana ulasan ekonom terhadap perekonomian Indonesia dalam 6 bulan
ke depan. Coba baca tentang masalah PHK yang terjadi pada lebih dari seratus
ribu orang, itu pun hanya yang tercatat. Coba baca tentang kenaikan suku
bunga kredit dan tekanan neraca pembayaran. Itu yang bisa dibaca di koran.

Dalam realitasnya, kekacauan nilai-nilai terjadi lebih jauh, bukan hanya
masalah ekonomi. Dalam keadaan yang sulit seperti ini, masih banyak orang
yang cukup kaya untuk membuat sebuah masalah yang rasanya terlalu
mengada-ada, tetapi nyatanya ada. Oh ya, hal ini saya alami sendiri
akhir-akhir ini. Tiap orang dalam sistem yang (katanya) merdeka memiliki hak
dan kesempatan untuk memilih dan berubah, namun dalam beberapa situasi
ternyata sistem itu jadinya tidak masuk akal. Bingung? Coba baca sedikit
gambaran yang umum berikut ini.

Seperti banyak perusahaan di Indonesia, bayangkanlah ada sebuah perusahaan
tekstil (atau kayu, atau industri makanan, atau apa pun yang ingin
dibayangkan). Karena ini perusahaan keluarga, maka pendirinya adalah suami
istri, dengan modal warisan serta semangat wiraswasta yang besar. Setelah
beberapa tahun berlalu, akhirnya suami istri ini menurunkan usaha mereka
kepada anak-anak, mungkin ada dua orang, atau tiga orang, atau lima orang.
Bukan untuk dipecah, melainkan untuk dikelola bersama.

Bayangkan pula, dalam satu keluarga selalu saja ada perbedaan karakter dari
anak-anak. Yang tertua menjadi seorang yang strategis, berpikiran manajerial
dan jauh ke depan, dan tentu saja otoriter terhadap adik-adiknya. Yang lebih
muda, ada yang menjadi orang yang supel, suka bermain dan serba praktis.
Yang lebih muda lagi memfokuskan dirinya untuk menggali ilmu pengetahuan,
karena toh ia tidak bisa menjadi manajer seperti kakaknya yang sulung atau
menjadi anak gaul seperti kakaknya nomor dua. Jadilah si bungsu menjadi ahli
dalam bidang teknik dan akademik.

Ketika perusahaan itu berpindah tangan dari orang tua kepada anak-anak,
dengan sendirinya kakak tertua menjadi Presiden Direktur. Anak kedua menjadi
Direktur Marketing, sebab secara alami ia menjadi salesman yang hebat dan
tahu bagaimana caranya menghadapi segala macam orang. Anak ketiga menjadi
Direktur Produksi, sebab ia memang menguasai segala macam teknik industri
dan seluk beluknya. Tiga bersaudara bekerja sama, menjadikan perusahaan
orang tua mereka dengan waktu tidak lama berkembang pesat dan cepat dan
mereka pun menjadi orang-orang kaya. Apalagi dalam masa-masa 'gelembung
sabun' Indonesia, yang dimulai sejak Pakto 1988 yang membuat bank-bank di
mana-mana berdiri hingga pertengahan tahun 1997 dengan pertumbuhan ekonomi
hampir 7% setahun. Itulah saat di mana orang rasanya bisa menjual apa saja
dan mendapatkan untung cukup besar, sehingga seluruh dunia memandang dengan
kagum pada Indonesia yang kelihatannya dapat tinggal landas dengan sukses.
Sedikit lagi saja, akan jadi negara maju di kawasan Asia Tenggara.

Sayangnya, gelembung sabun itu pecah, dan kenyataannya negara ini berdiri di
atas hutang yang sekarang kelihatan seperti lumpur hisap yang mengerikan.
Ketika krisis moneter terjadi, barulah kita menyadari bahwa kita tidak ada
di atas tanah keras. Bahwa semua yang dibangun dan 'berhasil' itu adalah
hasil rekayasa dan proteksi, dan ternyata orang Indonesia tidak se-produktif
kelihatannya. Apa yang terjadi dengan ketiga bersaudara ini?

Sebentar. Jika ANDA yang menjadi salah satu dari ketiga bersaudara ini, apa
yang akan Anda lakukan di saat-saat sukar seperti krisis moneter? Kalau
membaca keadaan yang sukar, secara logis dan mudah, seperti dalam sebuah
keluarga yang kompak, semua saudara saling berpegang semakin erat satu sama
lain. Semakin terbuka, semakin berusaha bersama-sama menggali
kemungkinan-kemungkinan, memilih jalan keluar yang lebih baik untuk
menyelamatkan apa yang sudah dibangun bersama-sama. Begitu, bukan?

Namun nyatanya tidak demikian. Ini bukan peristiwa khusus yang terjadi di
satu perusahaan saja (dan karena itu, tidak perlu mencari-cari perusahaan
apa yang sedang disinggung dalam artikel ini), melainkan hal yang terjadi di
mana-mana. Kakak bertengkar dengan adik. Atau dengan paman. Atau dengan
sepupu. Bukannya semakin berjabat tangan erat, sebaliknya masing-masing
saling mengepalkan tangan. Si bungsu yang selama ini hanya menjadi 'anak
bawang' merasa tidak tahan lagi dengan sikap otoriter kakak tertuanya,
lantas ia dengan membawa keterampilan tekniknya terus pergi keluar dari
perusahaan keluarga, untuk mendirikan usahanya sendiri. Memang ia bisa
menjalankan industri, tetapi ia tidak memiliki kebijaksanaan sang kakak yang
--walaupun menyebalkan karena otoriter-- memang tajam dan tepat. Hanya
dibutuhkan satu konflik dan ledakan amarah untuk mendorongnya pergi
memisahkan diri.

Setelah ledakan masalah itu, dua saudara yang tersisa kini membagi tugas,
tetapi masalahnya tidak ada yang benar-benar menguasai teknik industri. Sang
kakak yang lebih menguasai manajemen kini memantau jalannya usaha melalui
laporan-laporan keuangan dan kontrol atas manajemen manusia. Sang adik yang
lebih menguasai pasar kini membenamkan diri menghadapi persaingan yang
semakin sengit. Tetapi, tiba pula waktunya di mana manajemen keuangan
berbenturan dengan manajemen pemasaran. Memang tidak sejalan, apalagi tanpa
pemahaman tentang teknik industri, yang membuat mereka bergantung pada
beberapa karyawan yang memang ahli di bidang teknik.

Kondisinya menjadi semakin tidak masuk akal, karena karyawan tetaplah
karyawan, dan di Indonesia ini ada budaya yang membuat para Direktur merasa
diri mereka tidak boleh dibantah oleh karyawannya. Tidak masuk akal
sebenarnya, karena para karyawan yang ahli ini dibayar untuk keahliannya
tapi kemudian pendapatnya harus disesuaikan dengan keinginan Direktur yang
memberikan direksi alias pengarahan. Kalau memang begitu, untuk apa lagi
mereka dibayar? Untuk apa ada General Manager, ada Marketing Manager, ada
Operational Manager, dan ada sederetan Manager lain, kalau akhirnya semua
pendapat, pilihan, dan keputusan yang diambil haruslah seperti yang
diinginkan Direktur, sementara mereka tidak tahu apa yang sebenarnya
terjadi?

Dan terjadi pula hal-hal yang semakin tidak masuk akal. Direktur Marketing
menaikkan target pemasaran, sementara Direktur Keuangan mengetatkan
pembelian dan memangkas budget biaya produksi. Direktur Operasional
menargetkan pembukaan cabang-cabang baru, sementara Direktur Personalia
memangkas jumlah karyawan di setiap bagian, termasuk di cabang-cabang.
Direktur Penjualan mengharuskan tiap salesman menjual dua kali lebih besar,
sementara Direktur Produksi menurunkan tingkat produksi dibandingkan
proyeksi tahun lalu -- padahal di tahun lalu pun masih banyak pesanan yang
tidak dipenuhi karena produksi kurang banyak!

Masalahnya, karena di dalam masa sukar ini pada akhirnya semua orang
menginginkan yang aman dan tepat untuk bagiannya sendiri saja, dan dengan
segala kekuatan dan kekuasaan akan menekan pihak lain. Tapi kalau para
Direktur adalah kerabat dalam satu keluarga, bisa dibayangkan bahwa
'pertarungan' yang terjadi adalah perang antara karyawan yang satu dengan
yang lain. Orang pemasaran berseteru dengan orang produksi. Orang keuangan
berseteru dengan staff operasional.

Apakah Anda mengalami hal-hal semacam ini? Jangan heran, karena sudah saya
katakan, ini bukan hal yang khusus. Ini hal menyedihkan yang terjadi di
mana-mana di Indonesia. Dan jika Anda adalah salah seorang dari saudara
Pimpinan, saya tidak bermaksud menjelekkan usaha keluarga. Sebaliknya, sudah
terbukti bahwa ada usaha keluarga yang dapat berdiri dengan solid, kuat,
tangguh, di Asia. Tetapi, mereka tidak mengambil pilihan dan perubahan
seperti yang digambarkan di atas.

Baiklah, lantas apa hubungannya dengan kekristenan? Mengapa saya menulis
artikel ini?

Mari kita bayangkan kembali, apa bedanya bila ketiga bersaudara di atas
adalah benar-benar orang yang mengikuti Kristus dan taat pada Firman-Nya.
Yang pertama, mereka akan menilai hubungan keluarga lebih tinggi daripada
usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, katakanlah bahwa nilai modal dan
aset sudah mencapai ratusan miliar rupiah, itu tidak lebih berarti
dibandingkan hubungan kasih antara suami dan istri, orang tua dan anak, dan
kakak dan adik. Dasarnya adalah kasih, karena dalam kasih itu pula hubungan
seseorang dengan Tuhan diukur dan dinilai. Itulah sebabnya, maka Yohanes
menuliskan Firman Allah seperti ini:

1 Yoh 3:14 Kita tahu, bahwa kita sudah berpindah dari dalam maut ke dalam
hidup, yaitu karena kita mengasihi saudara kita. Barangsiapa tidak
mengasihi, ia tetap di dalam maut.

Lihatlah, kasih itu menjadi tanda ukuran bahwa kita sudah berpindah dari
dalam maut ke dalam hidup. Dan jika dibandingkan dengan hidup (atau maut),
apalah arti dari segala kekayaan itu, yang tidak akan mengikuti manusia
keluar dari dunia yang fana ini? Orang bisa saja mendirikan perusahaan
multi-nasional, tetapi ketika ia meninggal, tak ada satu pun yang dibawanya
serta. Orang bahkan bisa saja menjadi raja diraja dunia, tetapi ketika ia
mati, ia masuk ke dalam sebuah peti. Tetapi anak-anak Tuhan mengasihi
saudaranya, menjadi tanda bahwa kehidupan telah dimilikinya.

Jadi, jika kita melihat seorang Direktur yang mengaku Kristen ternyata
sedang membenci saudaranya sendiri, jangan cepat-cepat percaya bahwa ia
telah memiliki hidup, telah berpindah dari maut.

Baiklah, jadi ketika orang berada dalam hidup, ia mengasihi saudaranya, dan
tidak perlu ada pertengkaran hebat yang begitu melukai dan memisahkan
mereka. Kasih senantiasa lebih besar daripada benci, walaupun orang lebih
mudah untuk membenci daripada mengasihi. Tetapi kasih itu, bila telah ada
dalam hati, sanggup untuk menutupi segala kesalahan dan dosa, mampu untuk
mengampuni semua perkataan dan perbuatan salah yang dilakukan. Bahkan bukan
hanya mengampuni, tetapi juga melupakan sama sekali, terlempar jauh ke dasar
lautan yang tidak akan lagi diingat orang.

Yang kedua, orang-orang dalam Kristus akan menilai kebenaran dan keadilan
lebih tinggi daripada usaha keluarga. Sebesar-besarnya usaha, yang lebih
utama adalah apa yang memang benar dan adil dan patut untuk dilakukan.
Keuntungan bukanlah segala-galanya, karena pada akhirnya kita harus mengakui
bahwa semua keuntungan itu berasal dari luar manusia. Bisa dari Tuhan,
tetapi bisa juga dari iblis. Bedanya, Tuhan memberi keuntungan sebagai
berkat yang mendewasakan manusia, tetapi iblis memberi keuntungan yang
menjerumuskan orang dalam dosa. Bagi seorang Kristen, melakukan kebenaran
adalah suatu prinsip, suatu kewajiban. Orang yang mengaku berada dalam
Kristus, wajib menjalani hidupnya seperti Kristus. Mari kita membaca kembali
Firman melalui Yohanes:

1 Yoh 2:6 Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup
sama seperti Kristus telah hidup.

Masalahnya, pernahkah kita memikirkan bagaimana Kristus telah hidup?
Jelaslah bahwa Tuhan Yesus pun mengasihi saudara-saudara-Nya, tetapi Ia
tidak mengkompromikan kebenaran karena kasih-Nya itu. Ia tidak menurunkan
standar-Nya karena hubungan saudara, tidak mengurangi kebenaran-Nya karena
mereka berkerabat dekat. Hal ini penting, bahkan dalam bisnis yang
sepenuhnya sekular. Tetapi, orang pada umumnya tidak memiliki kuasa atau
kemampuan untuk memilih kebenaran; orientasi pada profitabilitas seringkali
membutakan mata dari apa yang benar-benar penting dan berharga. Ini bukan
soal keinginan, melainkan memang tidak mampu untuk melakukan apa yang benar
dan yang adil, karena dengan begitu rasanya akan rugi, rugi, rugi.

Masalahnya pula, orang hanya mau benar dan adil kalau hal itu tidak
merugikan dirinya. Bukankah begitu?

Tapi dalam Kristus, tidak apa-apa mengalami kerugian. Atau mungkin lebih
tepat: tidak mendapatkan untung sebesar-besarnya, karena ada harga yang
harus dibayar pada waktunya. Tak apa-apa, karena lebih penting melakukan
kewajiban untuk hidup seperti Kristus, daripada mencari untung
sebesar-besarnya dan menjadi buruk dan bodoh di hadapan Allah. Mungkin ada
pula yang berkilah, kan Allah tidak melarang orang untuk menjadi kaya?
Betul, tetapi Allah melarang orang untuk berlaku curang, tidak benar, atau
tidak adil.

Dapatkah kita melihat benang merahnya? Sebelumnya sudah kita temukan
bagaimana perusahaan dijalankan dengan kebijakan yang aneh dan tidak masuk
akal. Tetapi yang lebih tepat lagi adalah, bahwa sebenarnya orang tidak
mampu untuk menjalankan usaha dengan benar dan masuk akal, jika ia hanya
mengandalkan dirinya sendiri. Hanya karena Tuhan campur tangan, maka orang
dimampukan untuk memilih dan berubah menjadi benar, menjadi baik.

Tanpa Tuhan, secara alami orang akan bertindak dan berlaku keliru, dan
secara wajar justru akan berpikir dengan tidak wajar, penuh ketakutan, dan
penuh lika liku. Jangan berpikir bahwa orang memiliki kehendak bebas; para
pelaku bisnis kawakan tentu tahu betul bagaimana pasar bisa mendikte setiap
pemain-pemain di dalamnya. Betapa absurd melakukan debat tentang kehendak
bebas secara teologis, sementara secara praktis orang tahu bahwa kehendak
bebas itu sudah lama tidak ada lagi.

Tetapi dalam Tuhan, ada kebenaran, dan kebenaran itu sungguh-sungguh
memerdekakan. Jika Anda berada dalam situasi di mana diri Anda terjepit di
antara pertentangan dua Direktur yang sama-sama memiliki Perusahaan, apa
yang Anda akan lakukan? Saya memilih untuk tidak lagi bekerja di sana.

Benar, dan sejak awal Desember 2005, saya tidak lagi berstatus karyawan.
Lalu mau apa sekarang? Bagaimana menyambung kehidupan? Mengapa begitu saja
meninggalkan keamanan penghasilan, keluar dari daftar gaji yang biasanya
diterima setiap bulan?

Namun pilihan saya adalah pilihan yang masuk akal, karena ada hal ketiga
yang ingin saya katakan di sini. Yang ketiga adalah bahwa orang-orang dalam
Kristus akan dipelihara oleh Tuhan, bukan oleh usaha keluarga atau usaha
bisnis apa pun. Betul, Tuhan akan memberkati bisnis yang kita lakukan,
tetapi ingatlah bahwa semua bisnis itu hanya alat di tangan Tuhan, alat
untuk memberkati hidup kita. Dan karena ini semua hanyalah alat, kita
harusnya selalu ingat bahwa di balik alat itu ada Pemakainya yang berkuasa.
Bisnis kita berada di tangan Allah, Dia akan menentukan ke mana
perjalanannya nanti.

Tuhan mempunyai cara untuk menyediakan segala yang kita butuhkan, termasuk
menyediakan bisnis yang bisa berjalan dan menopang kehidupan. Jika orang
belum mengenal Allah, akan terasa aneh dan tidak masuk akal. Tetapi bagi
kita yang mengenal-Nya, jaminan atas kehidupan ini adalah hal yang sangat
masuk akal, sangat wajar untuk dilakukan Allah yang mengasihi umat-Nya.
Hanya kita sendiri pun harus tahu, bahwa tidak semua yang kita inginkan
dapat terkabul, atau hidup akan senyaman yang kita mau. Tidak demikian,
bukan begitu.

Hidup akan berjalan terus, dan kita akan tetap dipelihara-Nya, sesuai
rencana dan rancangan-Nya.

Terpujilah TUHAN!

25 September 2005

Hukum Tidak Menyelamatkan

Hukum Tidak Menyelamatkan

Dunia ini mengenal banyak hukum. Agama-agama, pada umumnya memiliki hukum
dan aturan -- demikianlah agama menjadi petunjuk dalam kehidupan manusia.
Dan di antara banyak hukum, pada umumnya mengandung kebaikan seperti yang
dipahami manusia. Bahkan sesungguhnya, tanpa dinyatakan pun, manusia secara
alami mengerti aturan yang berlaku di segala tempat, di setiap jaman.

Ambillah contoh tentang berdusta... Di mana pun, manusia secara alami
mengerti bahwa berdusta itu salah. Itu pelanggaran. Orang di mana-mana suka
berdusta, tetapi siapa pun kalau ditanya "apakah dusta itu salah?" hampir
pasti akan mengatakan "ya, itu salah." Entah dia itu ada di asia, atau di
amerika, atau di benua afrika. Entah dia itu hidup 2000 tahun yang lalu,
atau 1000 tahun yang lalu, atau hidup di masa kini. Orang tahu berdusta itu
salah (walaupun nyatanya banyak orang terbiasa pula untuk berdusta). Tidak
ada yang suka didustai, walaupun banyak yang suka mendustai.

Bagaimana dengan Hukum Islam, atau Syaria' Islam? Ya, ini pun adalah hukum
yang baik. Jika tidak baik, tidak mungkin Hukum Islam bertahan, mulai dari
abad ke 7 hingga saat ini, abad ke 21. 14 abad. Ada pengaturan yang baik,
yang sesuai dengan apa yang tertanam dalam hati manusia, sehingga orang di
mana-mana rela untuk mentaati dan menjalankannya. Tetapi hal ini bukan
sesuatu yang hanya dimiliki oleh Hukum Islam, karena Hukum Taurat orang
Yahudi pun baik. Dan banyak hukum lainnya, dari berbagai agama dan
kepercayaan yang bertahan berabad-abad.

Baiklah, mengapa hukum-hukum itu baik? Kita lihat, bahwa setiap hukum agama
berdasar pada sosok Allah yang berkuasa untuk mengatur dan menetapkan.
Setiap hukum dapat terwujud, karena ada satu otoritas yang diakui manusia.
Karena orang menyembah Allah, maka orang mentaati hukum-hukum Allah. Karena
orang setia pada negara, maka orang mentaati Undang-Undang. Karena orang
tunduk kepada orang tua, maka orang mentaati aturan keluarga. Bukankah
demikian?

Maka, jika orang tidak takut pada Allah, baginya hukum agama tidak berarti.
Jika orang tidak setia kepada negara, maka Undang-Undang hanya untuk bahan
politikus saja. Jika orang memberontak terhadap orang tua, mereka menjadi
orang yang tidak tahu aturan di rumah. Hukum senantiasa terikat pada
otoritas yang ada di belakangnya; orang yang tidak selaras, tidak sepaham
dengan pemberi otoritas, tidak akan dapat mengikuti hukumnya walaupun ia
berusaha -- baginya hukum hanya menjadi seperangkat aturan yang harus
diikuti namun tidak dipahami.

Tetapi sekarang mari kita pikirkan: dapatkah hukum membentuk orang? Apakah
karena ada hukum, maka orang menjadi baik? Atau sebaliknya, justru karena
orang baik, maka hukum menjadi ada?

Ambil contoh. Coba lihat isi dompet, mungkin di situ ada SIM. Itu adalah
bagian dari hukum: orang harus punya SIM untuk menyetir kendaraan di jalan
raya. Tetapi, apakah orang akan menjadi baik di jalan karena memiliki SIM?
Tentu tidak! Sebaliknya, orang harus diuji (idealnya begitu) bahwa ia baik
di jalan, barulah ia bisa memperoleh SIM. Hukum selalu bersifat belakangan,
selalu berada SESUDAH orang memutuskan sesuatu. Hukum baik untuk mencegah
manusia melakukan kesalahan-kesalahan yang fatal dan bodoh, tetapi hukum
tidak membuat manusia melakukan hal-hal baik. Karena dalam hukum, kebaikan
yang paling tinggi adalah mentaati hukum itu; tidak ada tuntutan untuk
melebihi hukum yang dinyatakan.

Kita, misalnya, dituntut untuk mentaati rambu-rambu lalu lintas yang ada.
Tidak boleh berhenti di depan tanda S yg disilang. Tidak boleh masuk ke
jalan yang didepannya ada rambu "dilarang masuk". Tetapi tidak ada tuntutan
untuk tidak berhenti di tepi jalan yang tidak bertanda S disilang, sekalipun
dengan berhenti di situ mengakibatkan jalan jadi macet.

Bagaimana dengan hukum agama, seperti Hukum Islam? Sama saja. Kebaikan
tertinggi adalah mentaati semua Hukum Islam. Sholat lima waktu. Puasa. Naik
haji. Ada banyak sekali untuk dituliskan di sini, tetapi esensinya serupa.
Dalam hukum agama, ada faktor penafsiran, sehingga hukum yang dimaksud
mempunyai dimensi lebih luas, lebih lebar. Tetapi hakekatnya sama, yaitu
tuntutan untuk memenuhi apa yang sudah dinyatakan Allah. Itu adalah
tuntutannya... Apakah dengan demikian hukum itu membuat orang menjadi lebih
baik? Tidak.

Kenapa tidak? Karena, pada akhirnya orang melakukan kebaikan demi mentaati
hukum. Orang melakukan tindakan ini dan itu karena mengikuti suatu pola yang
telah dinyatakan pada mereka, bukan demi Allah yang menyatakannya. Ini
menjadi seperti mengikuti suatu aturan main dan sebab-akibatnya, bukan untuk
mencapai apa (atau SIAPA) yang telah menyatakannya.

Ambillah contoh lain. Dikatakan bahwa manusia harus membela Allah, itulah
hukumnya. Orang mematuhi hukum itu dengan menegakkan hukum islam dan
menyerbu pihak-pihak yang menista nama Allah. Pernahkan terpikir, Allah
macam apa yang harus dibela dengan cara demikian? Jika memang Allah itu
besar dan berkuasa, bukankah Ia mampu untuk menghukum semua pihak yang telah
menista nama-Nya? Apa perlunya umat mengangkat pedang dan mencurahkan darah
demi membela Allah?

Tetapi ini adalah tentang mentaati hukum, bukan? Bukan tentang memikirkan
sebab-sebab dibelakangnya. Tentu, boleh-boleh saja menafsirkan dan berusaha
memahami segala sebab-musabab dari aturan itu, tetapi itu dilakukan
belakangan setelah hukum itu sendiri ditaati. Taati dulu, baru bertanya!

Lalu, sampai seberapa jauh manusia harus mengikuti hukum? Kita lihat, ini
akan sesuai dengan otoritas yang ada di belakangnya. Jika aturan keluarga,
pelanggaran hanya mengakibatkan dimarahi orang tua. Jika orang melanggar
Undang-Undang, bisa masuk penjara dan bayar denda. Jika melanggar hukum dari
Allah? Masuk neraka selama-lamanya!

Sementara hukum tidak membuat orang menjadi baik, hukum itu sendiri JUSTRU
menegaskan kesalahan orang yang melanggarnya. Dan di hadapan Allah yang maha
besar dan maha kuasa, hukum-Nya adalah sempurna. Artinya: orang harus
sempurna pula mentaatinya. Manusia harus mengandalkan kekuatannya sendiri
yang tidak seberapa untuk mentaati hukum dari Allah yang MAHA besar, yang
MAHA kuasa.

Hukum itu, betapa pun baiknya, pada akhirnya hanya membuat orang menjadi
semakin bersalah. Anda mau mentaati hukum islam? Baik, itu perbuatan baik
tapi ingatlah bahwa Hukum itu JUSTRU menunjukkan betapa kelirunya Anda di
hadapan Allah. Hukum agama tidak menyelamatkan, sebaliknya hukum itu
membinasakan. Mungkin dalam pelaksanaannya, orang merasa aman karena "toh
nggak ada yang melihat?" Kita keliru kalau merasa aman, karena
sesungguhnyalah Allah itu MAHA tahu. Orang lain boleh saja tidak menyadari
kebusukan yang kita perbuat, tetapi tidak ada yang bisa lepas dari mata
Allah.

Lebih parah lagi, manusia yang lemah ini pada dasarnya tidak mampu untuk
berbuat setepat kehendak Allah. Bagaimana mungkin, sementara manusia ini
kecil di sini sedang Allah itu besar dan jauh di sana? Yang satu menafsirkan
bahwa Allah menghendaki semua umat kafir diperangi dan dilenyapkan,
sementara yang lain menafsirkan bahwa Allah menginginkan perdamaian. Apa
yang sebenarnya dikehendaki Allah, sementara dua-duanya berasal dari ajaran
islam yang sama alirannya? Bagaimana mentaati hukum islam, sementara APA
yang menjadi prioritas dalam hukum itu masih belum jelas?

Tidak heran, bangsa Indonesia terjebak dalam kesulitan, padahal bangsa ini
menyatakan diri sebagai bangsa yang beragama. Ya, hukum agamnya memang baik,
tetapi hukum itu sama sekali tidak membuat manusianya menjadi baik. Hukum
memang tidak menyelamatkan.

Lalu, bagaimana menyelamatkan bangsa ini sekarang?

Bandung, 25 Sept 2005
Donny

04 September 2005

Pekerjaan Baru

Ini kisahku lagi dalam pekerjaan.

Tempat kerja adalah tempat di mana orang bisa membangun sesuatu. Di mana pun aku berada, aku berusaha untuk menyusun sesuatu, memperbaharui sesuatu, atau memperbaiki sesuatu. Kukira, itulah pokok yang kumiliki, untuk membangun. Bukannya aku tidak menghargai pekerjaan yang operasional dan berulang-ulang -- aku tahu, itu dibutuhkan. Tetapi it's just not me.

Tetapi tidak semua tempat kerja bisa dibangun terus menerus. Dengan keadaan yang tidak begitu baik belakangan ini, banyak hal lebih diprioritaskan untuk mempertahankan apa yang sudah ada, dan dalam beberapa hal tertentu (seperti di tempat kerjaku kemarin), itu berarti kembali ke cara-cara lama. Banyak juga pemilik perusahaan yang merasa nyaman dengan apa yang dilakukannya dahulu, dan sekarang ingin dilakukannya lagi.

Jadi, aku membutuhkan tempat kerja baru. Tenagaku sudah tidak begitu dibutuhkan lagi di sini.

Dan Tuhan menyediakannya. Oh ya, Dia menyediakannya dengan cara yang istimewa, yang tidak aku duga-duga. Aku tidak akan bercerita lengkap di sini sekarang, tetapi ketahuilah, aku bisa memberi kesaksian bahwa Allah senantiasa peduli, Ia mengerti segala persoalan yang kita hadapi -- bahkan lebih baik daripada kita sendiri. Karena itu, percayakanlah karir di dalam tangan Tuhan, dan kerjakanlah apa yang Ia sediakan untuk kita kerjakan dengan sukacita.

Terpujilah TUHAN!

21 Agustus 2005

Masalah Dengan Islam

Salam dalam kasih Kristus,

Membaca diskusi yang heboh tentang Islam, saya jadi ingin menulis. Dan jangan kuatir, tulisan ini boleh diforward kemana saja, termasuk ke milis islam. Silakan. Nama saya Donny Adi Wiguna, dan saya menulis apa adanya.Kiranya Tuhan yang menolong saya!

Bicara tentang Islam, nampaknya ada pemisahan antara dua hal: orang dan agama. Ada yang mengatakan (Ali Sina misalnya), bahwa masalahnya adalah ajaran Islam. Yang lain lagi mengatakan bahwa ini bukan tentang ajaran, melainkan pelaku-pelakunya, orang-orangnya yang salah menafsirkan, sehingga menunjukkan wajah yang bukan islami. Nah, menurut saya ada masalah dengan kedua-duanya. Tetapi sebelumnya saya ingin mengatakan, bahwa menjadi muslim adalah hak setiap orang. Itu pilihan bebas manusia, hak asasi manusia, lengkap dengan segala konsekuensinya. Tak ada yang dapat melarang orang untuk menjadi islam, atau mencap seseorang hakekatnya buruk hanya karena ia beragama islam, sehingga tidak lagi pantas untuk diselamatkan dan dikasihi. Itu adalah hak prerogatifnya TUHAN yang menciptakan manusia, yang kelak akanmembalas setiap orang sesuai dengan standar-Nya sendiri.

Nah, inilah dua masalah yang ingin saya kemukakan:

Yang pertama, tentang orang. Saya melihat ada banyak macam ragam orang islam, seperti juga banyaknya denominasi Kristen. Dari sikapnya, dari yang amat liberal, yang moderat, sampai yang radikal fanatik. Dari pahamnya, setidaknya ada Islam Sunni dan Islam Syiah. Dan di dalamnya juga ada berbagai variasi kepercayaan, seperti aliran Ahmadiyah. Semuanya mengklaim diri sebagai Islam, dan ini bukan hal yang aneh karena rasanya semua agama
juga pengikutnya begitu.

Dan juga bukan hal yang mengherankan, bila setiap orang mengklaim diri sebagai pengikut islam yang benar. Ini sudah sewajarnya, karena seseorang tentu berusaha untuk menjalankan suatu ajaran yang diterimanya sebagai kebenaran tertinggi. Mungkin hanya beberapa kelompok pantheisme (yang suka disalah-mengertikan dengan pluralisme) yang memandang bahwa Allah ada di segala macam ajaran, sehingga semua ajaran sama benarnya walaupun bertentangan. Sebagian besar orang akan memegang kepercayaannya sebagai kebenaran yang mutlak, yang dipercayainya sebagai jawaban atas maknahidupnya.

Tetapi, dalam orang-orang Islam nampaknya ada satu masalah besar dan mendasar: satu sikap untuk mengatakan bahwa kepercayaannya (dan sektenya) adalah yang paling benar, paling tepat, paling islam, SEHINGGA harus menyingkirkan pihak lain, kalau perlu dengan kekerasan (tentu saja, tergantung dari denominasi islam apa). Menurut saya, menganggap diri paling tepat bukan hal yang salah, justru sewajarnya kalau memang konsekuen dengan kepercayaan. Tetapi ketika keyakinan itu diwujudkan dengan menindas oranglain, di situ ada masalah besar dan mendasar.

Lihat apa yang terjadi dengan aliran Ahmadiyah di Indonesia. Coba perhatikan bagaimana Jaringan Islam Liberal bersiap-siap menghadapi massa yang konon mau menyerbu. Itu sesama muslim, tetapi kebringasan yang ditunjukkan benar-benar mengerikan. Dengan orang Kristen, coba perhatikan bagaimana mereka merubuhkan gereja-gereja, menutup sekolah, dan membawa ibu-ibu ke pengadilan! Ini adalah kenyataan, dan tidak ada tindakan nyata untuk menanggulanginya. Yang keluar dari para tokoh islam hanya sebatas pandangan "oh, seharusnya tidak begitu!" -- tetapi tidak ada tindakan untukmengkoreksi pihak-pihak yang mengumpulkan massa dan memaksakan kehendak.

Lantas bagaimana? Pihak seperti Ulil yang sering mengkritik perilaku anarkis, justru menerima ancaman juga. Dan reaksinya, pihak islam liberal juga bersiap-siap untuk membela diri, kalau perlu berkelahi. Belum lama ini saya baca tentang adanya kecemasan terjadi bentrokan, antara kubu yang fanatik dengan yang moderat. Dan nampaknya, memang kecemasan itu valid. Waktu terjadi penembokan dan penutupan sekolah Sang Timur di Tangerang, Gus Dur sempat melontarkan perintah bagi laskan NU untuk turut menjaga sekolah, kalau perlu berhadapan dengan massa yang mau menutup sekolah itu. Untung tidak terus terjadi bentrokan.

Di sini ada satu hal yang jelas: banyak orang islam lebih mengandalkan ototnya daripada otaknya. Saya ragu, apakah dari sekian banyak orang yang berdemo itu, siap dengan pentungan di tangan, adalah orang-orang yang benar-benar memahami islam dan ajarannya. Apakah mereka mengerti benar? Atau, mereka hanya bergerak karena komando dari para kyai yang fanatik? Atau -- lebih menyedihkan lagi -- mereka bergerak karena menerima bayaran dari kelompok-kelompok tertentu? Jika benar, maka ini bukan masalah ajaran islam, melainkan permainan politik agama belaka. Ini adalah tentang sekelompok kecil orang yang menggerakkan kelompok besar pengikut yang tidak mengerti,dan memang dibuat tidak mengerti.

Nah, ini adalah masalah yang kedua.

Yang kedua, tentang ajaran. Di mana-mana juga, agama adalah sesuatu untuk diajarkan, untuk memberi pengertian sehingga menimbulkan suatu keyakinan. Ini adalah suatu hal yang wajar, orang harus mengerti apa yang diyakininya, walaupun orang itu tidak mengerti apa sebabnya atau bagaimana caranya. Misalnya dalam kekristenan, kita harus mengerti kalimat "Kristus telah bangkit dari antara orang mati" barulah kita bisa meyakininya. Kalau ada orang yang tidak mengerti apa artinya "bangkit dari antara orang mati" -- misalnya dia beranggapan bahwa maksudnya ada orang tidur di antara mayat, lantas bangun dari tidur -- maka dia tidak bisa meyakininya, apalagi menaruh iman atas pengertian itu. Hanya oleh pengertian saja orang bisa menjadi yakin, walaupun ia tidak mengerti mengapa dan bagaimana caranya Kristusbangkit dari antara orang mati.

Nah, untuk mendatangkan pengertian, ajaran atau doktrin harus dirumuskan dan disampaikan. Ajaran bukan hanya hal-hal menyangkut Allah dan orang-orang-Nya -- para nabi, imam, rasul -- saja, melainkan juga segala aspek dalam kehidupan manusia. Umat perlu diajari tentang apa yang mereka percayai, untuk memberi nilai dalam setiap pilihan hidup mereka. Ini tidak cukup hanya dengan menghafalkan kitab suci, tidak bisa hanya dengan memberi hukum-hukumsaja.

Tetapi nampaknya, itulah yang terjadi dengan 'ajaran' islam. Dalam banyak kesempatan, isinya bukan pengertian tentang APA yang dipercaya, melainkan BAGAIMANA menjalankan kepercayaan itu. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa islam tidak memiliki ajaran, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa kenyataannya orang islam di Indonesia tidak diberi pengertian tentangajaran, selain dari fatwa yang intinya "harus-begini-tidak-boleh-begitu".

Coba lihat saja, misalnya, fatwa MUI baru-baru ini yang kontroversial dan ramai itu. Apakah di dalamnya terkandung pokok-pokok ajaran? Tidak. Apakah ada sesuatu penjelasan tentang apa yang harus dipercayai dan menjadi bagian dari iman? Tidak. Bahkan jika diperhatikan benar-benar, ada banyak kesimpulan yang tidak jelas pokoknya sehingga hanya ujungnya saja yang diterima. Keadaan ini memungkinkan orang membuat kesimpulan sendiri sesuai dengan apa yang diinginkan, seperti yang kita lihat dengan terorisme yangdilakukan dalam nama islam.

Sebagai orang di luar islam, tentu saya juga tidak tahu apa pokok ajaran islam yang 'benar' (saya tidak tahu versi mana yang benar), jika teman saya yang islam juga tidak tahu. Kenyataannya ia hanya tahu bahwa harus begini dan begitu, sesuai syariat islam. Soal berpakaian, misalnya, kalau perempuan harus berjilbab. Bisa saja tidak berjilbab, tetapi itu tandanya tidak saleh, bukan muslimah yang baik. Sejauh mana tidak baiknya, atau sejauh mana baiknya, tidak tahu. Juga tidak dimengerti tentang apa yang diyakininya dengan berjilbab itu; ini adalah hukum yang harus dilakukan, kalau maudianggap 'baik'.

Jadi, apakah islam hanya tentang hukum? Jika ya, artinya hanya ada hukuman di sana. Jangan salahkan Franklin Graham dan Ali Sina yang mengatakan islam adalah agama kekerasan, walau mereka memang tidak tepat -- lebih tepat mengatakan bahwa "Islam adalah agama yang MENGHUKUM". Hukum dan hukuman memang tidak dapat dipisahkan, bukan? Masalah yang muncul kemudian adalahbagaimana menegakkan HUKUM itu, syariat islam, di atas muka bumi.

Di satu sisi, memang hukum dapat membawa damai bagi setiap orang, di mana hukum itu sendiri berlaku kepada SIAPA SAJA, terlepas dari apa yang ia percayai, sejauh berada di wilayah kekuasaan hukum tersebut. Entah dia itu muslim atau kristen atau buddhist, harus mentaati hukum yang diberlakukan, bukan? Di sisi lain, hukum mendatangkan hukuman bagi para pelanggarnya, bahkan dalam bentuk yang paling mengerikan seperti bom yang diledakkan di tempat umum. Hukum macam apa yang memberikan hukuman terhadap publik yang tidak menerima islam dengan bom di hotel atau di stasiun kereta api? Dan bagaimana dengan hak asasi manusia (tetapi, jika memang urusannya adalahhukuman, hak asasi tidak dianggap berlaku)?

Itulah sebabnya, maka pembahasan syariat islam menjadi ramai. Itu pula sebabnya, menjadi masalah ketika sekelompok politisi islam berusaha membuat undang-undang sesuai dengan syariat islam, di tengah bangsa indonesia yang beragam suku dan agamanya ini. Islam sebagai agama adalah wajar, tetapi sebagai hukum yang mengikat semua orang? Nanti dulu, kita tinggal di negara berdasarkan Pancasila, bukan islam. Jika islam hendak menjadi patokan untuk menghukum siapa saja yang dianggapnya menentang -- nah, di situ ada masalah BESAR dan mendasar dengan ajaran islam. Masihkah dapat menyebut islamsebagai ajaran yang al-salam?

Yang terakhir....saya menulis ini karena tergelitik dengan tulisannya Pak Joas:

> jadi pingin tahu, anda berani nggak menforward diskusi kita
> ke milis2 islam? kalau yg anda yakini ini benar ... mustinya
> berani dong ya ... kan murid kristus.
> atau boleh saya andaikan anda berani?

Saya tiba-tiba menyadari, bahwa Pak Joas JUGA mengakui bahwa memang ada ketakutan untuk menyatakan opini tentang islam. Kenapa harus takut? Tetapi, orang tidak begitu saja merasa takut tanpa alasan. Tidak ada seorang pun yang takut untuk menyatakan opini tentang Kristen, karena separah-parahnya opini miring dan negatif, yang dituainya paling banyak hanyalah teguran dan makian dan (kadang2) hinaan. Tetapi itu semua hanya kata-kata, bukan? Tidak ada yang perlu ditakutkan. Tetapi bagaimana dengan kritik terhadap duniaislam? Apakah saya atau bung Iskandar harus bersiap-siap menuai teror?

Jika memang begitu halnya, TUHAN akan menolong kami! Tetapi, jika memang begitu, saya kira tidak ada alasan bagi siapa pun untuk cengengesan membaca posting-posting ini. Jika Anda beragama islam dan membaca posting-posting di milis ini, ada pertanyaan penting yang harus dipikirkan tentang islam: apakah ini agama yang membawa kebaikan, atau hukum yang membawa hukuman? Dan jika hanya hukuman di sana...sebutkanlah satu saja alasan, bahwa Anda tidak akan menerima hukuman dari Allah swt yang memberikan hukum, sedang nabi muhammad saja tidak yakin akan keselamatan dirinya, sehingga sampai sekarangmasih terus didoakan...

Salam kasih,
Donny


18 Mei 2005

PREDESTINASI

Banyak orang Kristen yang bertanya-tanya tentang sebuah doktrin, yaitu
doktrin predestinasi. Apa maksudnya? Bagaimana akibatnya? Tidak
habis-habisnya pertanyaan diajukan, dengan berbagai jawaban yang sering
membingungkan. Sejarah perdebatan doktrin predestinasi telah dimulai
lama sekali, sejak jaman Augustinus berdebat dengan Pelagius. Augustinus
mengungkapkan bahwa predestinasi merupakan penetapan Allah bahwa ada
sebagian orang yang terpilih untuk diselamatkan dan sisanya dibinasakan,
sehingga disebut double-predestination (election & reprobation) absolut.
Pelagius tidak mempercayai hal ini, karena menurutnya manusia bebas
memilih jalan hidupnya, yang akan menentukan jalan hidupnya - bukan
merupakan keputusan Allah dari semula.

Baik Augustinus dan Pelagius membahas hal tentang pengetahuan tentang
masa depan (foreknowledge) dan penetapan sejak semula (foreordaination).
Bagi Augustinus, pada Allah ada penetapan sejak semula tentang apa yang
akan terjadi pada manusia, sedang Pelagius berpendapat bahwa Allah sudah
tahu tentang masa depan, tetapi Ia tidak menetapkan jalannya hidup
orang. Manusia bisa memilih jalan hidupnya dengan bebas, untuk menerima
atau menolak Tuhan.

Kedua pandangan ini bertahan selama berabad-abad, dalam satu masa
Pelagius (dan 'turunannya', Semi-Pelagianism) menjadi pokok utama
gereja, di masa lain pandangan Augustinus yang mengemuka. Di masa
reformasi, Martin Luther, Yohanes Calvin, dan tokoh reformasi lainnya
sepenuhnya menerima predestinasi absolut Augustinus. Di masa modern
pasca Schleiermacher, doktrin predestinasi sama sekali diabaikan,
dianggap pemikiran teologia yang semata-mata spekulasi. Tapi toh,
ternyata sampai saat ini pun predestinasi masih tetap menjadi pemikiran.

Benarkah Tuhan telah menetapkan segala sesuatu sebelum dunia dijadikan?
Kalau begitu, apa artinya kehendak bebas manusia? Untuk apa memberitakan
Injil, kalau semua sudah ditetapkan terlebih dahulu? Dan akibatnya,
bukankah berarti Tuhan juga yang menetapkan manusia jadi berdosa, lalu
dihukum?

Allah macam apa yang menetapkan manusia jadi berdosa, lalu dihukum?
Betapa sewenang-wenang! Tidak adil! Tapi, semua tahu bahwa Tuhan itu
baik dan adil. Jadi, banyak yang menyimpulkan bahwa doktrin predistinasi
absolut pasti salah. Teolog besar abad ke-20, Karl Barth memberi
definisi baru atas predestinasi: ini adalah keadaan krisis dari manusia:
yang menerima Allah merupakan orang yang dipredestinasikan terpilih,
sedang yang menolak akan dibinasakan. Karena hidup manusia terus menerus
berada dalam krisis, maka seseorang dalam hidupnya berkali-kali ada
dalam dua keadaan, selamat atau binasa. Kehidupan manusia bukanlah objek
dari predestinasi, melainkan suatu arena antara terpilih dengan
terhukum.

Masalahnya, doktrin ini dirumuskan secara eksplisit, seperti dalam
pembukaan surat ke Efesus:

Ef 1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia
dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

Apakah ayat ini keliru?

Sebelumnya, mari kita memikirkan tentang kebebasan. Anggap saja tidak
ada predestinasi. Apakah manusia benar-benar bebas?

Tidak. Ada kuasa kedagingan yang mengikat setiap orang, sehingga SEMUA
manusia pasti berbuat dosa. Tidak ada orang yang dapat memililih untuk
tidak berbuat salah, walau banyak yang menginginkannya. Solusi sebagian
orang adalah dengan menjadi pertapa yang bebas dari dunia. Tetapi
bertapa -- yang mematikan diri dari dunia -- juga merupakan perbuatan
dosa karena tidak lagi perduli pada kehidupan orang lain. Manusia, hanya
dalam dirinya sendiri, tidak punya kesempatan untuk sepenuhnya benar.
Dalam sikapnya, malah orang mendefinisikan ulang kebenaran, seraya
menolak kebenaran yang absolut. Kini dalam filosofi post-modern tiap
orang merasa 'bebas' memilih kebenarannya sendiri, yang juga merupakan
dosa karena menolak kebenaran Allah.

Prakteknya, orang tidak bisa memilih untuk selalu berbuat benar. Ada
yang terpaksa berdusta. Terpaksa mencuri. Terpaksa menyakiti. Semua
harus berkuasa, siapa yang rela menjadi hamba? Semua harus menyelamatkan
dirinya sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan orang lain. Dan
perhatikanlah, seperti apa manusia jatuh dalam candu. Ada yang kecanduan
merokok. Ada yang kecanduan obat. Ada yang menjadi budak nafsu, entah
itu nafsu sex atau nafsu makan. Ada juga yang kecanduan kekuasaan,
seperti Alexander Agung yang tak bisa berhenti memerangi dan menguasai.

Orang-orang ini menikmati keadaan mereka, sedemikian rupa sehingga tidak
bisa berhenti, walau mereka menginginkannya. Pada satu saat, mereka
merasa bebas menikmati apa yang mereka inginkan, walaupun tahu bahwa hal
itu buruk. Suatu saat mereka tiba pada satu kondisi di mana mereka tidak
bisa meninggalkan -- apakah kita pun mengalaminya? Pernahkah merasakan
ingin berhenti dari suatu kebiasaan buruk, tetapi ternyata tidak bisa
stop?

Rasul Paulus mengungkapkan hal ini dengan jelas:
Rom 7:18-19 Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku
sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada
di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa
yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa
yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Kenyataannya: kita tidak mempunyai kehendak bebas. Manusia tunduk pada
kuasa-kuasa di luar dirinya, diperbudak oleh hal-hal di atas bumi ini.
Orang menjadi jahat, mereka berbuat salah di mana-mana. Mungkin sebagian
akan berkilah, bukankah pada manusia ada hukum yang melarang orang
berbuat salah dan jahat? Tetapi, nyatanya keberadaan Hukum telah membuat
keadaan menjadi semakin buruk; orang cenderung untuk melanggar aturan.
Hukum ada bukan untuk menuntun orang menjadi baik, sebaliknya menjadi
acuan untuk memberikan hukuman. Coba saja perhatikan: tidak ada orang
yang menjadi baik karena KUHP; kitab hukum itu hanya berguna untuk
menjadi acuan dalam menentukan hukuman kepada pelanggarnya.

Karena orang tidak mempunyai kehendak bebas, maka pilihan-pilihan yang
diambil pun merupakan wujud keterpaksaan. Ketika tiba dalam keputusan
untuk memilih Allah atau dunia, manusia tidak bisa memilih-Nya. Orang
terikat pada dunia, mau tidak mau harus memilih dunia, bukan Allah.
Kehendak 'bebas' hanya ilusi belaka; siapa yang bisa lepas dari ikatan
diri sendiri? Bahkan di saat memilih untuk beragama, orang sebenarnya
terikat untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Mari saya jelaskan
sedikit tentang ini.

Perhatikanlah: mengapa orang menganut suatu agama tertentu? Ada tawaran
dalam agama. Tawarannya adalah kenikmatan surgawi, dilayani oleh
bidadari-bidadari yang penuh gairah dan selalu perawan. Tawarannya
adalah lepas dari lingkaran reinkarnasi dan karma, untuk menjadi
sempurna. Tawarannya adalah menjadi penguasa langit yang diberkati.
Ketika dicari pusat dari semua tawaran itu, kita menemukan di tengahnya
ada manusia, yang haus dan rindu akan kenikmatan, kenyamanan, keamanan,
serta kesempurnaan. Orang terikat untuk memuaskan dirinya sendiri;
itulah kuasa daging. Untuk itu, manusia rela untuk melakukan hal-hal
yang baik dengan penuh disiplin, bahkan bersedia untuk mati sebagai
'pahlawan iman'. Tetapi kedagingan yang sama juga membuat manusia
melakukan berbagai-bagai kejahatan, yang tidak ada batasnya.

Apakah agama Kristen tidak menawarkan hal yang sama? Nah, inilah tawaran
dari kekristenan: manusia selamat untuk masuk ke hadapan TUHAN, dan
selama-lamanya memuji, menyembah, dan melayani-Nya. Di Surga tidak ada
penderitaan, tetapi juga tidak ada kesempatan untuk memuaskan nafsu diri
dalam kekekalan, atau selamanya hidup seperti raja yang senantiasa
dilayani bidadari perawan. Pusatnya bukanlah manusia, melainkan TUHAN,
dan hanya TUHAN. Selamanya untuk kemuliaan-Nya, kesenangan-Nya, dan
kehendak-Nya. Adakah orang yang dapat bebas untuk memilih-Nya?

Predestinasi bukanlah dikenakan pada manusia yang memiliki kebebasan;
sebaliknya,

Rom 3:23-24 Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan
kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan
cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.

Kondisi awal predestinasi adalah semua sudah kehilangan kemuliaan Allah.
Ini bukan memilih sebagian orang untuk dimasukkan ke 'kotak kudus' dan
sisanya dimasukkan ke 'kotak dosa' -- bukan. Semuanya berangkat dari
dalam kotak dosa, di mana seharusnya SEMUA yang ada di dalamnya
dimusnahkan. Kita semua awalnya adalah bangkai, sampah yang sudah
selayaknya dibuang dan dibakar, dibinasakan. Kalau bangkai tidak
dihancurkan akan mendatangkan penyakit, bukan?

Jadi, bagaimana mungkin kita masih bisa terpilih? Karena kasih karunia,
sehingga dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus
Yesus. Dalam hal ini, TUHAN berotoritas untuk memilih siapa yang mau
dipilih-Nya, sementara meninggalkan sisanya di tempatnya semula. Inilah
yang dikatakan oleh Tuhan Yesus tentang orang yang tidak percaya
pada-Nya:

Yoh 3:18 Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum;
barangsiapa tidak percaya, ia TELAH berada di bawah hukuman, sebab ia
tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (huruf besar dari saya)

Yang tidak percaya sudah berada dalam kotak dosa, berada di bawah
hukuman, karena itulah tempat kita sejak semula. Dibutuhkan suatu
karunia, suatu usaha khusus dari Tuhan, untuk mengatasi kuasa dosa itu.
Dibutuhkan darah untuk memutuskan ikatan dosa, suatu kebangkitan bersama
dengan Kristus yang bangkit. Karena itu, keselamatan adalah sepenuhnya
karunia, sebuah anugerah.

Dan sebuah anugerah sepenuhnya ada dalam otoritas pihak yang
memberikannya. Tidak ada anugerah yang bisa dipaksakan, karena kalau
demikian bukan lagi merupakan anugerah. Predestinasi pada hakekatnya
adalah penetapan Allah terhadap manusia yang dipilih-Nya untuk menerima
anugerah untuk percaya; mengatasi ikatan kedagingan sehingga manusia
percaya pada-Nya. Di sini, iman bukanlah hasil pekerjaan kita, seperti
kata Rasul Paulus lagi:

Ef 2:8-9 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu
bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil
pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.

Ya, iman bukan hasil usaha kita, tetapi pemberian Allah. Orang tidak
bisa bermegah karena iman yang dimilikinya; iman bukan hasil keputusan
manusia, melainkan pemberian. Ketika manusia menerimanya, mereka menjadi
bebas. Orang yang di dalam Tuhan memiliki kebebasan yang sejati untuk
memilih; di dalam Tuhan orang kembali mampu untuk memilih dengan bebas.
Bahkan, orang di dalam-Nya bebas untuk memilih menyangkali-Nya atau
mengkhianati-Nya.

Sampai di sini, ada satu hal yang perlu dijelaskan terlebih dahulu,
karena mungkin sudah timbul dalam benak kita sejak tadi: bagaimana
dengan kondisi awal Allah menciptakan manusia? Jelaslah bahwa TUHAN
tidak menciptakan manusia yang ada di dalam kotak dosa. Di kitab
Kejadian dikatakan bahwa semua yang diciptakan oleh Allah adalah BAIK,
termasuk manusia -- bahkan AMAT BAIK. Dia tidak menciptakan sampah; lalu
bagaimana manusia bisa berdosa? Apakah Allah sudah mempredestinasikan
bahwa manusia akan berdosa? Apakah Allah menciptakan dosa?

Ada dua pandangan yang menjawab hal ini.

Yang pertama, pandangan yang disebut supralapsarianisme. Supralapsarian
mengatakan bahwa otoritas Allah meliputi segala hal, termasuk keberadaan
dosa yang membuat semua orang jatuh di dalamnya. Ketika Allah
merencanakan menciptakan manusia dengan kehendak bebas, Ia sudah
mempredestinasikan kejatuhan manusia. Maka, Tuhan juga sudah
mempredestinasikan jalan keselamatan oleh Kristus serta keberadaan
manusia yang akan dipilih-Nya untuk selamat.

Bukan artinya Allah menciptakan dosa; tidak, sebaliknya ia membuat
manusia yang sempurna, segambar dan serupa diri-Nya. Semua ciptaan
adalah amat baik, dengan akal budi serta kehendak bebas seperti yang
dimiliki Allah. Tetapi di saat Allah memberikan hal-hal baik itu, Ia
juga harus memberikan kondisi pilihan pada manusia karena kehendak bebas
selalu berkaitan dengan pilihan. Jika manusia tidak bisa memilih, apa
artinya kehendak bebas? Demikianlah Allah menaruh pohon pengetahuan
tentang yang baik dan yang jahat, yang buahnya akan mematikan manusia.
Manusia bebas berkehendak; ia bisa bebas menikmati seluruh Firdaus,
tetapi bisa juga bebas mengambil dan memakan buah pohon itu. Sempurna.

Disinilah supralasarian berpendapat, bahwa Allah telah
mempredestinasikan bahwa manusia akan gagal. Kesempurnaan pada manusia
akan menjadi penyebab kejatuhannya sendiri. Allah memang tidak
menciptakan dosa, tetapi pada saat Ia memberi kehendak bebas, Ia juga
memberi potensi berdosa pada manusia. Keadaannya mungkin seperti
seseorang yang memberikan seuntai kalung berlian yang amat sangat mahal
kepada seseorang. Pemberian itu amat baik dan menyenangkan, tetapi di
saat yang sama juga menimbulkan resiko mengalami kejahatan, karena
penjahat mengincar harta itu, seperti iblis yang mengincar kejatuhan
manusia. Di sini ada otoritas Allah sepenuhnya untuk memberi, walaupun
dengan demikian Allah juga menetapkan resikonya yang pasti terjadi.

Pandangan supralapsarian menjadi pandangan bapak-bapak reformasi seperti
Luther dan Calvin, menjadi salah satu paham mendasar teologi reformasi.
Bagaimana pandangan yang kedua?

Yang kedua, pandangan yang disebut infralapsarianisme. Infralapsarian
mengatakan bahwa Allah tidak mempredestinasikan atau menetapkan
kejatuhan, melainkan Ia sudah mengetahui lebih dahulu bahwa nantinya
manusia bisa jatuh dalam dosa. Pandangan ini awalnya muncul sebagai
reaksi terhadap teologi reformasi, dalam kurun waktu yang kurang lebih
bersamaan dengan munculnya pandangan Armenianisme. Dalam pandangan ini,
Allah tidak menetapkan kejatuhan manusia, melainkan manusia yang
mencelakakan dirinya sendiri, di luar rencana Allah.

Apakah Allah tidak tahu? Tentu saja, Allah sudah lebih dahulu mengetahui
hal itu. Allah tahu bahwa manusia akan jatuh dalam dosa, tetapi
sebenarnya Allah tidak menghendakinya, maka tentu Allah tidak menetapkan
keberdosaan manusia. Infralapsarian mengatakan bahwa dosa adalah
keputusan manusia, berdasarkan kehendak bebasnya. Dan berdasarkan
kehendak bebas itu pula manusia dapat meninggalkan dosa. Untuk itu orang
harus berusaha, bahkan berusaha keras. Allah menawarkan keselamatan,
tetapi manusia harus berjuang untuk memperolehnya.

Bagaimana pun juga, kita semua SUDAH berdosa, apa pun asal muasalnya.
Baik supralapsarian maupun infralapsarian tidak menjawab langsung
bagaimana dosa bisa diatasi. Kita semua juga tahu bahwa Allah tetap
memiliki otoritas atas kehidupan, Dia memiliki penilaian-Nya, yang
berbeda dari manusia. Kalau kita melihat ada orang baik, mungkin kita
akan berkata, "wah, orang itu baik sekali, pasti masuk Sorga!"
Sebaliknya, kalau kita melihat ada orang jahat, mungkin kita juga akan
berkata "aduh, orang ini jahat sekali, pasti masuk neraka!"

Kenyataannya, jika orang yang berkelakuan baik tadi ternyata tidak
menerima Kristus, tidak percaya kepada-Nya, serta kemudian melakukan
hal-hal yang jahat di mata Allah, maka ia (yang tadi dipuji-puji itu)
akan menerima hukuman Neraka. Sebaliknya, jika orang jahat tadi bertobat
dan berbalik dari jalannya yang jahat, serta percaya kepada Kristus, ia
akan diselamatkan.

Di sini kita melihat bahwa predestinasi itu sendiri adalah misteri, di
luar kemampuan manusia memahami. Kita hanya tahu bahwa Tuhan menetapkan,
tetapi tak seorang pun yang tahu apa isi ketetapan itu. Satu peringatan
bagi kita adalah agar kita jangan menghakimi, karena kita sama-sama
berada di muka Hakim Semesta. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup
seseorang, dan bagaimana kesudahannya. Bagi kita, bagian kita adalah
percaya Kristus dan memberitakan kepercayaan itu kepada segala bangsa.
Jika saat-Nya tiba dan kita memandang seseorang berlutut mengaku dosa
dan bertobat, serta menerima Kristus, kita boleh bersorak-sorai karena
ada satu lagi anak manusia yang selamat, berdasarkan anugerah TUHAN.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny A. Wiguna

30 April 2005

Renungan Sehari

Saya sudah beberapa bulan ini membuka milis Renungan Sehari. Bagi yang ingin mengikuti dan menikmati renungan dari saya, bisa subscribe ke milis ini. Keanggotaannya terbuka, jadi tidak membutuhkan proses approval dari moderator.

Pembaca bisa join melalui web, bisa juga dengan mengirimkan email kosong ke renungan-sehari-subscribe@yahoogroups.com

Salam kasih,
Donny

Perpuluhan: Apakah Harus?

Belum lama ini saya terlibat dengan pembicaraan yang menarik di kantor. Mula-mula pembicaraannya adalah tentang Hukum Taurat, serta apa bedanya dengan Kitab Taurat. Dengan mudah kami semua sama-sama memahami bahwa yang disebut dengan Kitab Taurat atau Torah adalah lima kitab Musa: Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Hukum Taurat terkandung di dalam Kitab Taurat, meliputi berbagai aturan tentang ibadah/ritual, aturan sosial, dan moralitas. Selain Hukum, Kitab Taurat juga berisi berbagai riwayat, informasi orang dan tempat, serta penjelasan tentang latar belakang sejarah Israel.

Kita bisa belajar dari Paulus tentang sasaran dari Hukum Taurat: 1 Tim 1:9 ...yakni dengan keinsafan bahwa hukum Taurat itu bukanlah bagi orang yang benar, melainkan bagi orang durhaka dan orang lalim, bagi orang fasik dan orang berdosa, bagi orang duniawi dan yang tak beragama, bagi pembunuh bapa dan pembunuh ibu, bagi pembunuh pada umumnya,...

Gal 3:24 Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.

Dari sini, dengan cepat kita bisa mengikuti pengajaran bahwa Kristus telah menggenapi Hukum Taurat, telah menyelesaikan Perjanjian Lama antara Allah dengan bangsa Israel. Kini adalah masa Perjanjian Baru, suatu tatanan baru yang tersedia bagi semua orang, segala bangsa, yang dengan tulus dan kesungguhan bersedia percaya kepada Kristus. Hukumnya bukan lagi Hukum Taurat yang justru membuat orang jadi berdosa, melainkan hukum Roh yang menyelamatkan manusia melalui iman. Tentang ini, saya dan teman-teman di kantor pun setuju dengan suara bulat.

Kemudian, kami membicarakan akibatnya. Apa akibat yang terjadi setelah ada Perjanjian Baru? Apa arti Kitab Taurat bagi orang Kristen?

Ketika kita membaca Kitab Taurat, di dalamnya kita menemukan penuturan tentang diri TUHAN, Allah pencipta. Kita belajar tentang karakter-Nya, tentang apa yang Ia suka dan tidak suka. Kita belajar tentang konsistensi-Nya, kekudusan-Nya, keadilan-Nya, juga belas kasih-Nya. Bukankah Allah yang membinasakan semua orang yang tidak menjaga kekudusan adalah juga Allah yang menyuruh orang Israel menolong keledai musuh yang masuk rebah karena terlalu banyak beban (Kel 23:5)?

Jadi, walaupun Hukum Taurat sudah digenapi dan tidak menjadi patokan lagi, karakter Allah yang dinyatakan melalui Hukum itu tetap berlaku. Ia tetap menginginkan kesungguhan hati, menjaga kekudusan, juga kesetiaan. Ia tetap menginginkan hubungan sosial yang saling menjaga dan memelihara, juga mempertahankan moralitas yang sempurna. Tentang hal-hal ini, Allah tidak berubah; Ia tetap sama, dahulu, sekarang, sampai selama-lamanya. Hanya, aturan ibadah yang berpusat pada korban sebagai penjaga hubungan antara manusia dengan Allah telah digantikan dan dipenuhi dengan sempurna oleh Tuhan Yesus Kristus, jadi tidak perlu lagi dilakukan. Jalan itu kini telah terbuka lebar, tirai penutup telah terkoyak besar, terbelah dari atas sampai ke bawah.

Karena itu, tidak lagi dibutuhkan para imam yang secara rutin mempersembahkan korban. Tidak lagi dibutuhkan orang-orang Lewi yang bergiliran bertugas di Bait Allah; kini KITA adalah Bait Allah. Dan kita adalah anak-anak Allah, karena kita kini bisa memanggil dengan sebutan Bapa kepada Allah kita di Surga. Bukankah sangat mengherankan, juga amat indah, bisa memanggil Bapa kepada-Nya?

Lalu, karena aturan korban tidak lagi dijalankan dan orang Lewi tidak lagi dibutuhkan, maka bagaimana tentang PERPULUHAN? Jika kita mempelajari Alkitab, kita dapat mengetahui bahwa perpuluhan adalah bagian dari Hukum Taurat yang menjamin kehidupan suku bangsa Lewi yang tidak memiliki tanah pusaka. Beginilah yang dituliskan dalam Kitab Bilangan:

Bil 18:21 Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan.

Bil 18:24 sebab persembahan persepuluhan yang dipersembahkan orang Israel kepada TUHAN sebagai persembahan khusus Kuberikan kepada orang Lewi sebagai milik pusakanya; itulah sebabnya Aku telah berfirman tentang mereka: Mereka tidak akan mendapat milik pusaka di tengah-tengah orang Israel."

Ketika bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian, persembahan persepuluhan itu menjadi sumber sukacita bagi mereka di hadapan TUHAN:

Ul 12:17-18 Di dalam tempatmu tidak boleh kaumakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, ataupun sesuatu dari korban yang akan kaunazarkan, ataupun dari korban sukarelamu, ataupun persembahan khususmu. Tetapi di hadapan TUHAN, Allahmu, haruslah engkau memakannya, di tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, engkau ini, anakmu laki-laki dan anakmu perempuan, hambamu laki-laki dan hambamu perempuan, dan orang Lewi yang di dalam tempatmu, dan haruslah engkau bersukaria di hadapan TUHAN, Allahmu, karena segala usahamu.

Kalau begini, jelas bahwa persepuluhan -- atau disingkat perpuluhan -- adalah bagian dari hukum Taurat. Dan, sebagaimana hukum itu telah digenapi dan berlalu, maka demikian pula aturan persepuluhan sudah berlalu. Tidak lagi berlaku.

Sampai di sini, teman-teman ada yang protes. "Mana bisa! Sudah jelas bukan, bahwa kita semua HARUS memberikan perpuluhan?" Dia membuka sebuah ayat, demikian:

Im 27:30 Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN.

Im 27:32 Mengenai segala persembahan persepuluhan dari lembu sapi atau kambing domba, maka dari segala yang lewat dari bawah tongkat gembala waktu dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi TUHAN.

Di sini jelas disebutkan, bahwa segala sepersepuluh hasil dari tanah dan ternak adalah milik TUHAN. Harus dipersembahkan kepada TUHAN, sebagai persembahan kudus. Tetapi kita bisa melihat bahwa semua ini adalah perintah TUHAN kepada Musa di Gunung Sinai untuk disampaikan kepada orang Israel. Di dalamnya terkandung pengertian yang kekal bahwa bumi dan segala isinya adalah milik TUHAN. Tetapi, peraturan persembahan itu sendiri adalah bagian dari hukum Taurat.

Dan hukum Taurat sudah digenapi, sudah selesai. Sudah finish. Tidak dibuka lagi, tidak diungkit lagi. Karena jika kita mau membuka kembali Perjanjian Lama, maka kita harus mengenakan tanda fisik dari Perjanjian Lama, yaitu tanda perjanjian antara Abraham dengan Allah: tanda sunat. Tetapi,

Gal 5:2 Sesungguhnya, aku, Paulus, berkata kepadamu: jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.

Artinya, kalau kita masih mempermasalahkan persepuluhan sebagai kewajiban dan syarat untuk berhubungan dengan Tuhan, maka Kristus sama sekali tidak akan berguna bagi kita! Apakah yang dapat dicapai oleh manusia dengan memberikan persepuluhan? Bagaimana mungkin kita masih terikat untuk persembahan persepuluhan, sama seperti orang Israel yang diikat Hukum Taurat?

Jadi, saya yakin 100%, bahwa aturan persepuluhan itu sudah berlalu. Tidak ada lagi keharusan untuk memberikan sepersepuluh, apalagi menjadi syarat untuk berhubungan dengan Allah. Kita adalah orang-orang yang sudah ditebus dan diangkat sebagai ANAK, dan di mana ada anak yang berkewajiban memberi sepersepuluh dari pendapatannya untuk tetap menjadi seorang anak? Sebaliknya, Tuhan sudah membayar kita lunas dari semua hutang dosa, dengan darah yang amat mahal! Masihkah memberi atau tidak memberi sepersepuluh penghasilan menjadi suatu urusan yang membatasi hubungan kita dengan TUHAN?

Sampai di sini, terjadilah sedikit kehebohan. Saya tidak tahu, apakah saudara sekalian juga sedikit merasa heboh? Ah, si donny ini macam-macam saja, kata temanku yang Batak itu. Pendeta di banyak gereja sudah begitu sering berkotbah dan menekankan keharusan memberi perpuluhan, apa si donny mau menantang Pendeta?

Ah, bukan menantang, Bang. Tetapi bagi saya Firman Allah berbicara dengan jelas dan tegas, dan tidak ada Pendeta atau siapa pun juga yang bisa bersuara lebih keras dari ayat-ayat ini. Lagipula, acapkali terjadi keributan karena uang perpuluhan itu begitu besar dan menggiurkan, sehingga diselewengkan oleh Pendeta dan pejabat gereja. Tidak sedikit gereja yang memasukkan semua uang perpuluhan ke dalam satu tangan Pendeta, tanpa ada audit atau laporan penerimaan dan pengeluaran. Dan akibatnya pula, tidak sedikit orang yang skeptis dan mencurigai setiap ajakan Pendeta untuk memberi persembahan perpuluhan, karena disangkanya Pak Pendeta sedang berusaha memperkaya dirinya sendiri(sampai sini, saya jadi ingat Mang Ucup yang jeli menyoroti hamba duit).

Lantas bagaimana? Kalau begitu, apakah persembahan tidak perlu lagi dilakukan? Wahai kawan, jangan begitu cepat merasa senang. Ingatlah, bahwa Kristus tidak membatalkan Taurat, melainkan Ia MENGGENAPInya. Membuatnya menjadi sempurna.

Jika kita belajar Injil baik-baik, kita menemukan bahwa Kristus sebenarnya MENINGKATKAN tuntutan-tuntutan Hukum Taurat. Coba lihat, misalnya:

Mat 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.

Siapa orang Farisi dan ahli Taurat? Mereka orang yang habis-habisan berusaha memenuhi hukum Taurat dengan sempurna. Tetapi, mereka tidak cukup baik. Orang harus LEBIH baik lagi. Hal ini diwujudkan dalam berbagai perbuatan, misalnya:

Mat 5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Mat 5:28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.

Mat 5:32 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.

Mat 5:34-37 Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Kalau sudut pandang kita masih seperti orang Farisi atau ahli Taurat, maka sebenarnya standar kita masih rendah di hadapan-Nya. Menjadi pengikut Kristus berarti mengenakan standar Kristus: standar ilahi yang sempurna. Kita harus melihat dari tempat yang lebih tinggi, memperhatikan lebih mendalam. Kalau kita masih berpikir tentang persembahan hanya berupa uang dan harta, nampaknya kita harus melangkah lebih jauh lagi.

Aturan perpuluhan sudah berlalu, sudah lewat. Sebagai gantinya adalah hukum yang lebih sempurna, menurut standarnya Allah. Inilah nasehat rasul Paulus tentang persembahan:

Rom 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Saya bisa mengatakan, bahwa TUHAN tidak mengharapkan persembahan persepuluhan. Yang Ia inginkan adalah persembahan SERATUS PERSEN. SELURUH TUBUH sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah. Kepemilikan diri kita bukanlah di tangan kita lagi, melainkan di tangan Tuhan yang sudah lunas membayar:

1 Kor 6:19-20 Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!

Kita bisa menemukan bahwa Tuhan Yesus secara konsisten mengajarkan bahwa tuntutan-Nya adalah SELURUH kehidupan, bukan hanya sepersepuluh dari penghasilan. Orang harus siap untuk melepaskan seluruh hartanya demi Kerajaan Sorga:

Mat 13:44 "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Mat 19:21 Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

Dan Tuhan jelas menghargai keseluruhan hidup, yang nilainya melebihi nilai dari persembahan itu sendiri. Kita menemukan hal tersebut ketika Tuhan Yesus mengamati seorang janda yang memberi persembahan:

Mar 12:43-44 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya."

Siapakah yang bersedia memberikan SELURUH NAFKAHNYA bagi Tuhan?

Ada kesaksian orang yang memberikan 90% pendapatannya bagi Tuhan, sedangkan ia sendiri hanya mengambil 10%; memang ia seorang yang berhasil sehingga jumlah 10% itu masih cukup untuk hidup dengan makmur dan sejahtera. Tetapi, rasanya tidak banyak yang sanggup melakukan hal seperti itu. Untuk memberikan persepuluhan saja orang merasa berat, apalagi semuanya!

Tetapi di saat yang sama, pemberian itu bisa berarti seluruh kehidupan. SELURUH KEHIDUPAN KITA adalah bagi Tuhan, di mana kita sepenuhnya menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan; semuanya ada dalam konteks penyerahan diri kepada Tuhan. Ia tidak menginginkan uang kita, tetapi Ia menginginkan keberadaan kita bagi-Nya. Dia ingin kita taat kepada-Nya, setia kepada-Nya. Dia ingin agar kita hidup dalam pekerjaan baik yang telah dipersiapkan-Nya:

Ef 2:10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Bapa yang di Surga telah memberikan kita hari ini makanan kita yang secukupnya; Ia yang memelihara kita, anak-anak-Nya. Yang diharapkan dari seorang anak adalah hormat dan taat kepada orang tuanya, bukan? Apakah kita menghormati Tuhan? Apakah kita tunduk kepada Tuhan? Apakah kita menaruh hal-hal yang penting bagi Bapa di tempat yang paling utama dalam kehidupan kita?

Persepuluhan tidak sepenting ketaatan kita untuk hidup mengikuti-Nya. Tidak ada artinya memberikan persepuluhan, jika kita memperoleh penghasilan kita melalui korupsi dan mencuri. Tidak ada artinya perpuluhan, bila kita tidak peduli dengan saudara sendiri yang sedang susah, menutup hati terhadap teman yang membutuhkan. Apa artinya persembahan, bila di luar gereja kita sedang berseteru berebut harta sampai ke pengadilan? Inilah yang diajarkan oleh Tuhan Yesus:

Mat 5:23-25 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.

TUHAN menghendaki kehidupan kita bagi-Nya. Untuk itu, kita bisa mulai belajar untuk memberi sepersepuluh penghasilan kita secara teratur, tetapi ini hanya suatu latihan kecil. Sebuah latihan untuk mengajar kita melepas harta, agar hati kita tidak jatuh cinta kepada uang. Tuhan sendiri tidak menginginkan uang, yang Ia inginkan adalah kasih:

Mat 22:37-39 Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Jadi, persepuluhan bukan keharusan. Bukan itu tuntutan bagi kita, melainkan kehidupan kita sekalian. Kehidupan yang sepenuhnya mengasihi Allah, kehidupan yang mengasihi sesama. Bila kita bisa memberi, jangan hanya memberi sepersepuluh kalau sanggup memberi lima persepuluh. Tetapi sebaliknya untuk memberi persepuluhan, kadang kehidupan begitu keras sehingga sukar dan berkekurangan. Akan menjadi sikap yang tidak mengasihi, bila demi memberi perpuluhan maka tetangga sebelah rumah tidak bisa dibantu untuk makan sehari lagi. Akan menjadi sikap yang tidak mengasihi, bila demi memberi perpuluhan maka saudara yang sedang sakit tidak dibantu berobat. Tetapi orang tidak pernah kekurangan kasih, kalau ia mau memberikannya dengan tulus. Kasih itu tidak akan pernah habis, tidak akan pernah mengering. Maukah kita memberikannya? TUHAN yang akan menyanggupkan kita, Dialah yang memelihara kita sekalian.

Terpujilah TUHAN!

22 April 2005

Menjadi Saksi Kristus

Kis 1:6-11 Maka bertanyalah mereka yang berkumpul di situ: "Tuhan,
maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Jawab-Nya:
"Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa
sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh
Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem
dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Sesudah Ia
mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan
menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke
langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian
putih dekat mereka, dan berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Galilea,
mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke
sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama
seperti kamu melihat Dia naik ke sorga."

Bahan bacaan di atas menjadi acuan ketika saya diminta berbicara di
antara teman-teman dalam persekutuan kami. Karena saat ini adalah
waktu-waktu menjelang peringatan kenaikan Tuhan Yesus Kristus, rasanya
memang sudah seharusnya kami membicarakan topik ini. Mulanya biasa saja,
bagian bahan yang rasanya tidak terlalu istimewa. Tapi, itu sebelum saya
benar-benar memperhatikannya.

Ternyata, setiap bagian dari Firman Tuhan sesungguhnya istimewa. Kita
saja yang belum tahu relevansinya.

Kami mulai membahasnya dengan mendiskusikan bagaimana kehidupan di jaman
sekarang ini. Seperti apa kualitas kehidupan? Apakah menjadi semakin
baik atau semakin buruk? Dan kami harus melihat bahwa ternyata dunia
tidaklah sebaik yang diinginkan. Memang benar, ada kemajuan di sana sini
tetapi kemerosotan nampaknya lebih cepat terjadi. Sementara sebagian
kecil orang menjadi semakin makmur, sebagian besar manusia di muka bumi
mengalami kesusahan yang besar. Masalah muncul dalam berbagai bentuk:
pertikaian politik, kemunduran ekonomi, masalah kesehatan, masalah
kemanusiaan, sampai datangnya bencana alam yang luar biasa.

Kehidupan naik turun seperti roller-coaster: mula-mula terasa naik
perlahan-lahan, lalu tiba-tiba meluncur dengan cepat ke bawah. Bedanya,
jika dalam permainan roller-coaster orang menjerit ngeri sambil merasa
senang, dalam peristiwa yang mengerikan seperti bencana gempa di Nias,
orang menjerit ngeri sambil memandang kematian. Kehancuran. Baru saja
rasanya aman, selamat dari bencana tsunami sehingga bisa mulai menata
hidup, tiba-tiba semuanya runtuh dalam guncangan yang amat keras di
malam hari.

Kehidupan orang Kristen tidak terluput dari kesukaran. Adakah yang
mendengar berita, pada tanggal 1 April yang lalu di desa Kerala, India?
Sekelompok muslim dan hindu baru saja membakar habis sebuah rumah doa
dan menyerang tiga anggota gerejanya. Dua hari kemudian, ketika
pendetanya -- Paul Ciniraj Mohammed, yang berlatar belakang muslim --
berbicara kepada orang desa tentang penyerangan tersebut, ia dan
asistennya turut mengalami penganiayaan.

Apa yang dilakukan oleh pendeta Paul? Ketika asistennya sedang dipukuli,
ia berlutut dan berdoa, memohon agar Tuhan menyelamatkan mereka dan juga
mengampuni para penyerang mereka itu. Seorang wanita desa menyaksikan
bagaimana pendeta Paul berdoa dan tersentuh oleh kerendah-hatiannya,
serta merta meminta kepada para penyerang untuk berhenti. Bukan saja
berhenti, tetapi juga meminta maaf kepada pendeta itu! Paul Ciniraj
Mohammed tidak mengadukan penyerangan ini kepada polisi karena mereka
telah meminta maaf. Rumah Doa itu sendiri habis oleh api, tidak
terselamatkan, tetapi orang-orang Kristen di desa itu tetap bertekad
untuk bersekutu dalam doa dan pemahaman Alkitab di rumah-rumah mereka.

Berita-berita semacam ini muncul dari segala penjuru dunia, termasuk
dari Indonesia di mana penganiayaan seakan-akan dilakukan bergilir di
seluruh tempat di negeri ini. Sementara itu, gerakan-gerakan
fundamentalis Islam bersuara semakin keras, menunjukkan kekuatannya.
Belum lama berselang, mereka menekan kalangan Islam Liberal dan
mengacungkan 'vonis' pemurtadan, sambil menyerukan sikap yang keras.
Sedemikian rupa kerasnya, sehingga tokoh-tokoh muslim sendiri merasa
khawatir. Nampaknya, semakin tepat kaum muslim mengikuti kebenaran kitab
sucinya, semakin keras sikap mereka terhadap orang-orang yang tidak
seiman.

Di luar urusan religius, kita juga dikejutkan dengan masalah moralitas.
Rupanya pornografi sudah begitu kuat mencengkram alam pikir anak-anak
kita, sehingga dua orang remaja bisa memperkosa seorang bocah berumur 6
tahun, membunuhnya, lalu membakarnya tanpa merasa bersalah. Setelah
melakukan kebejatan, mereka masih sempat main bola. Ketika kedua remaja
itu ditangkap, mereka sedang bersantai-santai, sama sekali tidak nampak
ketakutan atas perbuatan keji yang baru mereka lakukan. Kelihatannya,
kombinasi antara kecabulan dan kejahatan sudah membuat manusia lebih
jahat dari binatang buas, melampiaskan nafsu hanya demi nafsu.

Ada orang Kristen yang tidak peduli -- dan itulah masalah besarnya.
Bagaimana mungkin, seorang Kristen tidak peduli atas dunianya yang
semakin lama semakin memburuk? Tetapi dia hanya mengangkat bahu sambil
berkata, "biarlah terjadi apa yang akan terjadi, toh Tuhan pasti
menolong." Ya, Tuhan pasti menolong, tetapi orang Kristen ini sama
sekali tidak mau ikut campur. Ada orang Kristen yang ketakutan, lantas
berseru-seru dalam doa dan doa dan doa memohon pemulihan. Tetapi selain
berdoa, mereka juga tidak melakukan banyak hal lain, kecuali
mencari-cari jawaban atas masa dan waktu. Kita sudah menemukan kelompok
jemaat Pondok Nabi yang meyakini hari kedatangan Kristus, yang terbukti
keliru. Namun orang tidak berhenti mencari tahu kapan waktu
kedatangan-Nya, kapan waktu pemulihan itu.

Dan dipikir-pikir, mungkin beginilah kira-kira keadaan murid-murid
Kristus pada masa hidup mereka. Ada keresahan yang besar, penganiayaan
yang luar biasa. Penindasan oleh penjajah Romawi yang kejam, yang
sedemikian kejam sehingga memberi hukuman salib. Tidak sedikit orang
yang dihukum salib seperti Tuhan Yesus, bahkan jumlahnya menurut
sejarawan telah mencapai ribuan orang. Tangan Romawi adalah tangan besi,
yang menghancurkan Yerusalem di tahun 70 M karena mereka memberontak.
Nampaknya, orang Romawi bahkan lebih jahat daripada orang Babilonia yang
dahulu juga menyerbu Yerusalem dan menghancurkan Bait Allah.

Wajar saja, ketika murid-murid itu menyuarakan pertanyaan "Tuhan, maukah
Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?" Mereka telah tahu
bahwa Yesus adalah Tuhan, yang tidak diragukan lagi sanggup memulihkan
kerajaan bagi Israel. Itulah yang menjadi impian tiap orang Israel:
mendapatkan kerajaan mereka kembali, dalam pemulihan yang ilahi. Mereka
menginginkan kehidupan berjalan seperti semula, mendefinisikan "PULIH"
sebagaimana yang manusia pikirkan.

Tetapi apa jawab Tuhan? "Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu,
yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan
menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan
menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan
sampai ke ujung bumi."

ENGKAU TIDAK PERLU TAHU. Bukan urusan murid untuk mengetahui tentang
masa dan waktu. Bukan urusan kita untuk meributkan dan memusingkan kapan
pemulihan akan terjadi. Sebagai ganti dari jawaban atas masa dan waktu
pemulihan, Tuhan Yesus memberi suatu kepastian: KAMU AKAN MENERIMA
KUASA. Kuasa apa? Kuasa untuk menjadi saksi Tuhan di seluruh dunia.

Tuhan bukannya menghibur murid-murid-Nya dengan memberi penjelasan
tentang nubuat-nubuat dan peristiwa-peristiwa yang akan datang,
melainkan Ia menegaskan tentang pokok yang harus dilakukan, untuk
menjadi saksi-Nya mengabarkan Injil. Dalam kata-kata Matius, "Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam
nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala
sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai
kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

Inilah urusan kita, tugas kita. Keadaan mungkin nampak buruk, situasi
kelihatan buruk sehingga tak ada harapan lagi, tetapi urusan kita adalah
menjadi saksi Kristus, memberitakan Injil, dan menjadikan semua bangsa
murid Kristus. Bagian kita bukan hanya berdoa -- jangan salah, berdoa
adalah yang paling penting untuk dilakukan, tetapi bukan satu-satunya
yang bisa dikerjakan.

Dahulu ada seorang rekan segereja yang berkomentar, betapa konyolnya
membawa alkitab untuk menolong orang yang sedang susah. Sekarang keadaan
sedang terjepit, yang dibutuhkan adalah jalan keluar, solusi instan.
Cepat! Mana ada waktu untuk bicara tentang hal-hal seperti keselamatan
dalam Kristus? Lagipula, betapa tidak pantasnya. Beberapa teman di
mailing list mencela sikap orang-orang Kristen yang berusaha
memberitakan Injil kepada orang-orang Aceh yang baru terkena bencana
Tsunami. Kalau memberikan bantuan kemanusiaan, berikanlah tanpa
embel-embel Injil!

Tetapi, sebenarnya Injil adalah faktor utama yang dibawa untuk
menyelamatkan orang. Kebenaran Kristus yang datang menyelamatkan dunia
menjadi dasar bagi usaha untuk menolong siapa pun yang membutuhkan,
bahkan ketika keadaan menjadi sangat sukar dan tidak masuk akal untuk
memberikan pertolongan apa pun. Jika orang melakukan usaha kemanusiaan,
upaya itu dibatasi oleh sifat manusia. Jika terlalu sukar, atau terlalu
berbahaya, orang akan berhenti sambil mengangkat bahunya, "Tidak bisa."
Sebaliknya, upaya memberitakan Injil adalah komitmen untuk memenuhi
panggilan Tuhan, melakukan pekerjaan yang Allah berikan.

Amat keliru jika memikirkan pemberitaan Injil adalah kotbah atau memaksa
orang mendengar dan mengaku percaya demi mendapatkan sekotak makanan.
Berita Injil disampaikan terlebih dahulu melalui perbuatan, bukan
kata-kata. Tuhan Yesus melakukannya dengan menyembuhkan dan memulihkan
kehidupan orang-orang, bukan hanya bicara dan bicara.

Saya sangat tersentuh ketika membaca bukunya Franklin Graham, "Living
Beyond The Limits" (terjemahan Indonesia: Hidup Melampaui Batas-batas,
penerbit Nafiri Gabriel, Jakarta). Dia memberi kesaksian tentang
bagaimana dirinya serta orang-orang yang setia kepada Tuhan bekerja
dalam keadaan yang rusak di Angola, Bosnia, Libanon, dan juga kepada
narapidana di penjara. Kehidupan yang rusak dipulihkan oleh Firman
Allah, dan bantuan kemanusiaan adalah perangkat-perangkat-Nya. Ibaratnya
seperti peralatan medis, semua yang dibutuhkan untuk menolong seorang
pasien yang sakit. Peralatan-peralatan itu berguna sekali di tangan
seorang dokter, tetapi hanya menimbulkan kesulitan di tangan awam (walau
bukan berarti tidak bisa dipakai sama sekali). Yang menyembuhkan adalah
dokter, bukan peralatannya. Ia yang tahu apa kegunaan setiap alat,
bagaimana memakainya dengan efektif.

Untuk semua kesusahan, Graham membawa Firman Allah dengan
perangkat-perangkat yang disiapkan oleh Samaritan's Purse, organisasi
pelayanannya. Ia mendirikan atap-atap bagi orang di Bosnia, memberikan
seekor sapi yang menolong Panglima Mohammed melalui musim dingin yang
sukar. Tetapi semua itu menjadi bagian dari pemberitaan Injil: tindakan
pertolongan itulah yang menjadi Injil yang diberitakan. Pertolongan yang
dibutuhkan manusia bukan sekedar cara untuk makan hari ini saja,
melainkan pemulihan kehidupan secara utuh, secara menyeluruh. Orang
harus ditolong untuk melalui masa-masa yang sukar dan menjalani hidup
yang baru, yang kekal di dalam Tuhan.

Pemberitaan Injil menjadi usaha pertolongan yang dibutuhkan itu; isinya
bukan hanya sekedar membicarakan Firman, melainkan melakukannya. Orang
terlebih dahulu melihat apa yang dilakukan, bukan apa yang diucapkan.
Memang sangat penting untuk menjaga agar perilaku senantiasa sesuai
dengan ucapan, tetapi jika kita tidak bisa menjaga ucapan kita dari
kata-kata yang jahat dan kotor, sebaiknya kita tidak berkata apa-apa.

Apakah semua ini hanya perlu dilakukan tanpa suatu arah, tanpa suatu
tujuan akhir? Tidak begitu. Perhatikanlah kembali apa yang terjadi
setelah Tuhan Yesus naik ke Surga. Ia telah memberikan amanat-Nya untuk
memberitakan Injil. Murid-murid diharapkan untuk segera menyebar dan
mempersiapkan diri menerima kuasa seperti dijanjikan-Nya. Jadi, begitu
Kristus naik, sudah selesai, bukan? Tugas sudah diberikan. Briefing
sudah selesai. Sekarang, bubar!

Tetapi, Tuhan tidak berhenti di kenaikan. Ketika murid-murid masih
memandang ke langit, ada dua orang berpakaian putih memberi penjelasan
penting ini: "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat
ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan
datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke
sorga."

Setelah kenaikan-Nya, ada berita lain yang tak kalah pentingnya: Tuhan
akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kenaikan-Nya ke Sorga.
TUHAN AKAN DATANG KEMBALI. Ini perlu ditulis dengan huruf besar-besar,
agar kita semua ingat. Pemberitaan Injil bukan hanya suatu proses satu
arah, seperti yang dilakukan oleh banyak tokoh agama. Mereka semua
menuju ke satu titik puncak, setelah itu masuk ke alam surgawi dan tidak
pernah kembali lagi. Tetapi, Tuhan Yesus akan datang kembali. Memang
kita tidak tahu tentang waktu dan masa, tetapi kita tahu pasti akan
kedatangan-Nya.

Pemberitaan Injil mengarahkan orang untuk menghadapi masa itu, saat-saat
kedatangan-Nya. Entah kita masih hidup, atau kita sudah mati, kita semua
akan bangkit untuk menyongsong-Nya. Pemberitaan Injil bukan sekedar
mengajar orang untuk berbalik dari jalan hidup mereka yang menuju
kebinasaan, melainkan mempersiapkan orang bertemu dengan Tuhan dalam
kemuliaan-Nya. Orang belajar untuk mengenal Tuhan, merasakan kasih
karunia Tuhan, agar selanjutnya bisa membagikan kasih itu kepada orang
lain. Ini adalah proses yang bertumbuh, sehingga setiap orang dapat
menggunakan segala daya dan upayanya untuk menjangkau orang lain, dan
akhirnya kelak bersama-sama akan bertemu muka dengan Tuhan.

Karena sifatnya yang menyongsong ini, waktunya terbatas. Pilihannya pun
terbatas. Jika seseorang mau menerima Injil Yesus Kristus, dia akan
diselamatkan. Jika ia tidak mau menerima, orang ini tidak akan selamat
di hadapan Tuhan yang datang kelak. Dan waktunya tidak panjang: mungkin
kematian akan lebih dahulu mengambil kesempatan bertobat. Mungkin pula,
besok Tuhan datang dan tidak ada lagi kesempatan. Di tengah-tengah
bencana dan kesusahan, siapa yang tahu berapa lama lagi waktunya akan
habis?

Ketika saat-Nya tiba, bukankah mereka yang masih belum mengenal Dia akan
celaka? Karena itu, betapa pentingnya memberitakan Injil. Beritakanlah
dengan perbuatan kita pada dunia, beritakanlah dengan kesaksian kita
tentang Kristus dalam hidup kita, dan beritakanlah dengan ucapan kita
yang menjelaskan kasih karunia-Nya.

Satu hal, sebagai penutup: untuk memberitakan Injil, kita terlebih
dahulu harus mengetahui Injil. Kita harus belajar Firman, belajar dengan
tekun dan setia. Kalau tidak belajar, apa yang dapat kita sampaikan?
Jangan dengarkan orang-orang yang masih sibuk meributkan tentang
otoritas Alkitab, atau tentang kritik-kritik Alkitab. Mereka yang
meributkan itu tentu tidak akan menerima Alkitab sebagai Firman Allah
yang berotoritas yang harus segera diberitakan kepada banyak orang.
Kemanusiaan menjadi hal yang terpisah dari Firman, dan ketika
kemanusiaan dilaksanakan tanpa Tuhan, keadaannya seperti alat bedah di
tangan seorang awam. Bukannya menyembuhkan, sebaliknya bisa mematikan!

Belajar Firman hanya dapat dimulai dengan merendahkan diri di bawah
otoritas Allah, tunduk kepada Firman-Nya. Dibutuhkan dedikasi dan
komitmen untuk merenungkan Firman, menemukan kebenaran-kebenaran mutlak
yang dibutuhkan untuk kehidupan. Kita tidak bisa begitu saja membaca
Alkitab lalu mendapatkan semuanya, seperti memungut batu di pinggir
jalan. Dan dibutuhkan lebih banyak lagi upaya untuk menjadikan
kebenaran-Nya menjadi prinsip yang menghidupi kita, yang terwujud dalam
segala perkataan, perbuatan, bahkan pikiran kita. Semua ini adalah
proses yang terus menerus, pembaharuan budi yang terus menerus menjadi
manusia yang Allah inginkan, serta memberi kehidupan pada dunia.

Kiranya, kita mengerti bahwa kenaikan Tuhan Yesus Kristus adalah awal
dari pemberitaan Injil, yang mengajak kita sekalian untuk mengambil
bagian di dalamnya.

Terpujilah TUHAN!