Cari Blog Ini

20 Desember 2011

Para Majus

Mat 2:2 ...dan bertanya-tanya: "Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia."

Orang majus bukan orang Yahudi. Mereka dari kalangan kasdim, yang dahulu berpusat di babilon, yang di masa Nebukadnezar telah menawan orang Yahudi. Dipikir demikian, sebenarnya orang Yahudi lebih lemah daripada orang kasdim, di bawah kebanggan jadi orang majus. Tetapi orang kasdim juga tidak pernah lupa Daniel dan Ratu Ester, karenanya sejak dahulu orang kasdim tahu soal keistimewaan Allah orang Yahudi.

Saat Yesus lahir, Babel sudah ditaklukkan Yunani, dan Yunani sudah ditaklukkan Romawi. Orang majus menjadi kaum elite istimewa, yang tetap dihormati melewati abad2 peperangan. Sementara itu, orang Yahudi tidak pernah menjadi besar walaupun sudah kembali dari pembuangan di masa Ezra dan Nehemia. Setelah 4 abad, mereka tetap menjadi kaum eksklusif, tertutup, dan berpusat di Yerusalem. Sejak jaman Ezra, mereka tidak lagi bergaul, menikah, atau menyesuaikan dengan cara hidup orang lain, apalagi dengan para majus yang jauh.

Karena itu, bayangkan betapa terkejutnya Herodes. Kaum elite dari Timur, menempuh perjalanan jauh, untuk menyembah raja orang Yahudi yang baru dilahirkan. Ada tiga hal yang mengherankan di sini.

Yang pertama, kelahiran itu ditegaskan oleh tanda alam. Bintang yang diamati orang majus menyatakan keistimewaan Raja orang Yahudi -- tapi hanya orang majus saja yang bisa memahami tanda alam, karena mereka mengamati. Apakah pengamatan ini mudah? Tidak. Mereka belajar mengamati langit malam sejak kecil. Harus membedakan berbagai susunan dan gerak benda langit yang rumit.Soal bintang penunjuk, pastilah bukan bintang yang sangat mencolok, karena jika begitu maka kegemparannya mungkin melanda seluruh dunia! Lagipula perjalanan mereka jauh dan panjang, jadi pasti bukan mengikuti satu tanda di langit semacam komet atau sejenisnya yang hanya muncul sebentar. Sungguh sukar! Pelajaran: apakah kita mempelajari tanda alam, tentang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya? Atau kita seperti banyak orang lain yang tidak mengerti melihat bintang, karena terlalu sibuk mengurusi kepentingan kita sendiri?

Yang kedua, mereka memahami bahwa raja itu baru dilahirkan. Masih anak-anak. Tetapi, ada keyakinan dan kepastian bahwa anak ini yang akan menjadi Raja, bukan anak yang lain, dan bukan dari bangsa lain. Pikirkanlah: orang majus sendiri punya agama dan keyakinan berdasar bintang-bintang. Mereka tidak pernah jadi orang Yahudi, atau ikut kepercayaan Yahudi. Kalau mengikuti logika, susah diterima. Tapi, bagi mereka yang melihat langit, keyakinannya melebihi logika dan 'masuk akal'. Pelajarannya: bagi kita yang sudah sering diajar untuk serba ilmiah, butuh penelitian mendalam dan rasional, apakah keyakinan itu masuk akal? Bagi banyak orang modern, keberadaan Yesus sebagai Tuhan adalah tidak masuk akal. Sekalipun dibesarkan dalam keluarga Kristen, tokoh2 teologi kontemporer tidak percaya bahwa Yesus adalah Kristus, TUHAN. Apakah kita sungguh percaya Yesus adalah Tuhan, Tuan bagi hidup kita? Kita bisa saja aktif di gereja, namun kepercayaan itu haruslah berasal dari diri kita masing2.

Yang ketiga, para majus itu bukan sekedar ingin tahu, melainkan mereka datang untuk menyembah-Nya. Mereka, yang bukan Yahudi, datang dari jauh untuk menyembah anak yang diyakini jadi Raja -- itu berarti mereka mengakui bahwa Raja orang Yahudi bukan hanya jadi Raja bagi orang Yahudi, melainkan jadi RAJA bagi segenap umat manusia! Mereka datang dan bertemu Herodes, raja bagi orang Yahudi saat itu, namun mereka tidak menyembahnya, bukan? Bahkan, mereka tidak takut kepada Herodes, yang bertanya dengan detil... Sampai Herodes sendiri berpura-pura mau menyembahnya padahal raja gila itu membunuh anak kandungnya sendiri karena dicurigai mau merebut tahta! Hanya keyakinan akan ke-Allah-an dari Raja orang Yahudi yang membuat para majus bersikap demikian. Bagi Dia yang kedatangannya ditandai bintang, hanya ada kemuliaan yang lebih besar daripada segala bintang!

Pelajaran terpenting: apakah kita memiliki sikap hati menyembah secara demikian, seperti orang majus? Jika kita mencari-Nya, siapkah kita untuk menyembah-Nya?

Lebih hebat lagi: bukan kita yang menemukan Tuhan, sebaliknya kitalah yang ditangkap oleh-Nya, di beri anugerah untuk menjadi satu dengan Kristus. Jadi, apakah sikap kita dalam kehidupan... Apakah kita bisa mengabaikannya, atau menganggap-Nya sebagai sampingan saja dalam hidup kita yang sibuk dengan segala macam urusan?

Marilah, bersama-sama para majus, kita menyembah Tuhan Yesus Kristus, yang kelahiran-Nya kita rayakan!

Selamat Natal!

Donny, des 2011

Published with Blogger-droid v2.0.2

03 Desember 2011

The LIGHT Financial Planners Consultancy Group


Perencana keuangan profesional adalah orang-orang yang telah terdidik, teruji, dan berkomitmen untuk mengikuti standar etika dan standar kerja berdasarkan FPSB (Financial Planning Standard Boards). Kami telah mendapatkan sertifikasi CFP® dan siap melayani masyarakat secara independen. Perhatian utama kami adalah kepentingan klien, bukan kepentingan provider atau penyedia jasa produk keuangan.



The Light memiliki Visi sebagai berikut:
Di Tahun 2014 menjadi Penyedia Perencanaan Finansial Terbaik di Indonesia, Menjadi Konsultan Pilihan dan Pemimpin Pasar Di Bidang Perencanaan Finansial

The Light memiliki Misi sebagai berikut:
Memberikan Pencerahan dalam Pemahaman Finansial, membuat Perencanaan Keuangan yang Bertanggungjawab bagi Individu dan Usaha Kecil Menengah

Nilai-nilai utama dari The Light adalah sebagai berikut:

Love, kasih. Kami percaya bahwa hukum utama dan pertama adalah melakukan segala sesuatu atas dasar kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kasih kepada sesama manusia seperti mengasihi diri sendiri. Prinsip kasih menjadi dasar dari prinsip keutamaan nasabah – kami mengasihi nasabah kami sehingga mengutamakan mereka lebih daripada mencari keuntungan bagi diri sendiri dan/atau perusahaan penyedia jasa dan produk keuangan.

Integrity, integritas. Kami mengutamakan keutuhan dan kesatuan dari segala hal yang dipikirkan, diucapkan, dan dikerjakan bagi nasabah kami. Kami senantiasa berusaha mengutamakan kejujuran dalam komunikasi, sedapatnya berusaha menghindari kesalahpahaman dengan cara menjelaskan seutuhnya sebelum memberikan rekomendasi.

Goal oriented, berorientasi pada sasaran. Kami memahami bahwa ada masalah dan harapan dalam diri setiap nasabah kami, oleh karena itu kami merencanakan dengan orientasi sasaran yang hendak dicapai. Setiap langkah haruslah memiliki makna dan membawa perubahan dalam kehidupan nasabah, bukan sekedar keinginan memiliki suatu produk keuangan atau ingin mendapatkan hadiah promosi pemasaran.

Hope, harapan. Kami percaya bahwa semua orang memiliki harapan bagi masa depannya, apapun masa lalu yang telah terjadi, asal orang itu mempercayai bahwa harapan masih ada baginya. Harapan menyediakan tujuan untuk dicapai dan menuntut perubahan perilaku dalam kehidupan nasabah kami, di mana kami berperan sebagai konsultan.

Team based, berdasarkan kerja tim. Kami menyadari bahwa tidak ada orang yang memiliki semua kompetensi pada dirinya sendiri, karena itu untuk memberikan hasil yang terbaik dibutuhkan kerja sama. Nasabah kami tidak dilayani oleh satu orang saja, melainkan oleh seluruh The Light berdasarkan kompetensi profesional masing-masing.

02 Desember 2011

Kaya

Siapa yang kaya? Kita menilai dari nilai aset, yang diukur secara tertib dalam sistem akuntansi, menjadi neraca dan laporan laba rugi. Yang orang sering lupakan, akuntansi sekalu membuat penilaian berdasarkan apa yang sudah berlalu. Sistem akuntansi tidak bisa memberikan gambaran tentang apa yang kelak harus dibayar.


Sederhananya, kaya berarti selalu dapat membayar apapun, kapanpun, dan dimanapun, segala sesuatu yang harus dibayar.


Published with Blogger-droid v2.0.1

17 Oktober 2011

Occupy

Saat ini di berbagai tempat di dunia dilangsungkan demo pemrotes dengan titel "Occupy". Intinya adalah, mereka memprotes ketidak-adilan pendapatan, memprotes "kekayaan berlimpah" yang diperoleh para kapitalis, sedangkan banyak orang yang menjadi miskin dalam iklim ekonomi saat ini. Gerakan ini juga diresponi oleh hampir semua pengamat ekonomi, termasuk di Indonesia. Pengamat ekonomi Didik J. Rachbini dalam tulisannya di Media Indonesia edisi Senin, 17 Oktober 2011, menyatakan "praktek pasar modal tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat secara luas. Bahkan, pasar modal maupun pasar finansial secara umum kerap mendatangkan kesengsaraan rakyat."

Mungkin pernyataan ini disalin dari kata-kata orator di depan bursa efek di jalan Wallstreet -- tetapi agak mengherankan jika seorang pengamat seperti Rachbini turut menyatakannya juga. Walaupun terdengar populer, pernyataan ini lebih bersifat sosialis -- bahkan komunis -- dan tidak menunjukkan pemahaman yang menyeluruh tentang pasar modal dan cara kerjanya, serta kaitannya dengan kesejahteraan secara keseluruhan.

Pertama-tama, pasar modal adalah tempat di mana para pengusaha bisa mendapatkan modal dengan menerbitkan sahamnya. Melalui pasar modal, pengusaha dapat membuka kesempatan bagi rakyat luas untuk memperoleh bagian dari bisnis yang dikerjakan, sekaligus memperoleh keuntungan melalui pembagian dividen setiap tahun. Praktek pasar modal membagikan kesejahteraan bagi orang banyak melalui tiga hal:

Pertama, pengusaha bisa mendapatkan modal, bukan hutang, untuk memperluas usahanya. Permodalan ini memberi kekuatan finansial untuk meningkatkan produktivitas, yang juga berarti membuka lapangan pekerjaan lebih besar. Tanpa pasar modal, perusahaan-perusahaan harus berhutang atau mengumpulkan modal sendiri, membuat pertumbuhan terhambat, dan itu juga berarti lapangan kerja lebih sedikit. Pertumbuhan yang terhambat juga berpengaruh pada hubungan permintaan dan penawaran, yang dapat mengakibatkan kenaikan harga yang lebih tinggi. Contohnya adalah Telkom; setelah BUMN ini melakukan IPO, ada modal yang cukup untuk memperluas bisnisnya dan hasilnya saat ini banyak yang menikmati pelayanan Telkom yang luas.

Kedua, rakyat yang menjadi investor dapat turut menikmati keuntungan perusahaan melalui dua cara. Setahun sekali investor mendapatkan dividen dari bagian laba perusahaan, lalu di tengah-tengahnya investor juga bisa memperoleh pendapatan dari peningkatan harga saham, atau disebut Capital Gain. Peningkatan capital gain tidak menyebabkan peningkatan harga di sektor riil, karena memang tidak berhubungan secara langsung. Sebaliknya, perusahaan yang harga sahamnya tinggi, akan memperoleh dana lebih banyak saat menerbitkan saham berikutnya, membuatnya menjadi lebih produktif, dan bisa menjual dengan harga lebih murah.

Ketiga, pasar modal membawa investor asing ke Indonesia, dana asing yang dikonversi menjadi rupiah, sehingga menambah uang yang beredar. Dengan masuknya dana dari luar negeri, banyak investor dalam negeri yang turut menikmati keuntungan. Mereka dapat memakai dana itu untuk membangun rumah, membeli barang-barang, dan meningkatkan perekonomian. Sayangnya, saat ini rakyat Indonesia yang membeli saham masih belum banyak sehingga jumlah investor asing masih lebih banyak dibandingkan investor domestik. Akibatnya, keuntungan dari peningkatan pasar modal kita terbawa keluar dari Indonesia.

Lalu, mengapa kesusahan ekonomi terjadi? Kerusakan ekonomi saat ini lebih banyak ditimbulkan oleh hutang yang besar yang dilakukan oleh Pemerintah, juga oleh rakyat. Melakukan "occupy" terhadap pasar modal sebenarnya tidak tepat, juga secara keliru menuding pasar derivatif sebagai sumber masalah. Orang seringkali lupa, mereka yang mendapatkan keuntungan besar di pasar modal dan pasar berjangka, adalah orang-orang yang juga menghadapi resiko yang besar. Tidak sedikit orang yang tumbang dan menjadi miskin karena bermain judi -- yaitu berinvestasi tanpa pemahaman -- di pasar yang sangat dinamis ini.

Kesalahan anggaran pemerintah, yang ingin menyenangkan rakyat dengan kebijakan populer yang boros dan tidak produktif, adalah pokok utama kekacauan ekonomi. Lihat saja contohnya Yunani: jelaslah bahwa gaya hidup negara itu tidak sesuai dengan produktivitas mereka. Tetapi ketika Pemerintah ingin melakukan pengetatan dan pemangkasan, mereka yang tidak produktif justru turun ke jalan dan melakukan demonstrasi besar-besaran, menolak pemangkasan segala subsidi dan kemudahan yang mahal dan membebani itu.

Hal yang sama juga berlaku di Indonesia: bukankah kita juga terus menerus menikmati subsidi BBM yang memboroskan anggaran? Tetapi kita tidak memikirkan untuk lebih produktif dan lebih mampu membeli BBM dengan harga sebenarnya, sebaliknya terus menikmati bantuan subsidi. Saat kita mau turut memprotes pasar modal, tanpa memandang gaya hidup kita sendiri, pertanyaan yang muncul adalah: "apakah kita mempunyai hak dan wewenang untuk protes?"

26 Juni 2011

Tidak Kenal

Orang Yunani mengenal banyak dewa. Ada awalnya adalah para titan, yang terbesar adalah kronos. Titan ini membawa kekacauan, dan ada anak-anak yang keluar darinya, yaitu para dewa, zeus, poseidon, dan hades adalah yang terbesar. Anak-anak kronos berperang melawan ayah mereka sendiri karena membela manusia. Para dewa menang, dan manusia jadi penyembah para dewa.

Tetapi, ketika para titan diperangi para dewa di panggung alam semesta, dari manakah dan siapakah yang menciptakan panggungnya? Bagaimana asal mulanya para titan, yang melahirkan para dewa? Ada Allah, tapi tidak dikenal! Maka, orang Yunani menaruh mezbah untuk Allah yang tidak mereka kenal. Untuk Allah yang lebih besar daripada para titan dan dewa, yang membuat langit dan bumi dan kegelapan jurang tartarus yang menjadi penjara kronos. Siapakah yang dapat membuat jurang penjara yang tidak dapat diatasi oleh kronos yang melahirkan para dewa? Tidak tahu....

Ada yang mengatakan bahwa mustahil manusia bisa tahu Allah seperti ini; mereka inilah yang disebut kaum agnostik. Ada yang bilang bahwa Allah ini sudah menciptakan lalu meninggalkan ciptaannya, yaitu kaum deistik, pengikut deisme. Ada juga yang berusaha mencari Allah yang misterius, walau ada juga yang mengatakan bahwa manusia tidak dapat melihat-Nya karena manusia berada di dalam-Nya.

Kebutuhan manusia untuk menjumpai Allah sedemikian besar, namun yang dapat manusia pikirkan adalah para dewa dan para titan, mahluk yang hebat dan luar biasa tapi masih dalam keterbatasan. Kronos yang hebat itu bisa ditaklukkan oleh kerjasama zeus dan saudara-saudaranya. Artinya mahluk-mahluk ini masih ada dalam keterbatasan, sedangkan manusia mencari yang lebih besar, Allah yang sejati. Hanya Allah sejati saja yang dapat menjawab tuntutan kehidupan manusia.

Bagaimana manusia dapat menjumpai Allah yang sedemikian besar? Jika manusia memikirkannya, maka yang ada merupakan rasa takut yang dalam dan tak terlukiskan. Allah telah menaruh hukum-Nya dalam diri manusia, yaitu segala sesuatu yang didefinisikan sebagai hal 'baik' dan 'benar' oleh umat manusia di segala abad dan tempat. Segala hal yang, diakui oleh manusia sendiri, gagal untuk dipenuhi. Orang jahat mengakui bahwa perbuatannya jahat -- mereka mencoba mencari alasan untuk perbuatan jahat, tapi tidak dapat memutihkan apa yang hitam bernoda. Ketika manusia menjumpai Allah yang menaruh standar kebenaran, tidakkah manusia akan dihakimi menurut perbuatannya sendiri? Siapakah yang dapat membenarkan dirinya di hadapan Allah yang menghakimi dengan adil?

Maka, pencarian Allah yang secara fundamental menjadi kerinduan manusia, akan menjadi kehancuran dan kebinasaan bagi manusia itu sendiri. Allah yang dicari dan diharapkan, menjadi hakim yang memberi hukuman mati -- hukuman yang pantas dan adil bagi manusia yang telah berbuat jahat.

Karena itu, manusia membutuhkan keselamatan, sama seperti manusia membutuhkan Allah. Manusia membutuhkan jalan keselamatan, yang tantangannya harus melampaui kematian.

Itulah berita Injil, seperti yang disampaikan Paulus kepada masyarakat Athena di sidang Areopagus. Orang harus bertobat, selagi masih ada kesempatan. Jika seluruh manusia di muka bumi ini telah mendapat kesempatan mengetahui Injil, maka akan tiba hari penghakiman itu.

Kita sekarang hidup di mana informasi tersebar dengan luas dan mendalam. Berita Injil tersebar dengan kecepatan yang tidak pernah ada dalam sejarah sebelumnya. Semua ini mempercepat hari penghakiman, dan kesempatan bertobat menjadi terbatas.

Carilah Allah dan kebenaran-Nya segera! Tuhan Yesus telah datang dan membuka jalan keselamatan, bergegaslah menerima-Nya!

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.8

13 Juni 2011

Turunnya Roh Kudus

Berkumpullah murid murid Yesus di suatu tempat dengan pintu pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang Yahudi. (Yoh 20:19-23)

Tanpa Roh Kudus, ada ketakutan. Coba pikirkan: mereka ini, murid-murid Tuhan Yesus, adalah orang Yahudi. Mereka tidak melakukan sesuatu yang salah yang layak membuat mereka dihukum. Satu-satunya yang bisa dianggap "salah" adalah, karena mereka mengikuti ajaran Tuhan Yesus.

Kalau diperhatikan, Tuhan Yesus juga tidak pernah melanggar esensi dari Hukum Taurat. Orang Farisi dan ahli Taurat berkali-kali berupaya untuk menjatuhkan, mencobai Yesus, dan mereka tidak berhasil sampai akhirnya mereka menunjuk pada satu pernyataan Yesus: Aku dan Bapa adalah satu. Itulah "kesalahan" yang tidak pernah disangkal Yesus. Mereka yang menyalibkan-Nya berpegang pada ketidakpercayaan, mengubah orang baik menjadi monster menakutkan. Itulah yang membuat takut para murid!

Namun, bukankah para murid juga sudah mengetahui kebangkitan Tuhan Yesus? Bukankah mereka sudah melihat-Nya terangkat naik ke Surga? Apakah semua itu tidak cukup untuk membuat para murid percaya dan bersemangat serta menjadi termotivasi dan berani? Ternyata, tidak!

Keberadaan para murid, keberadaan kita juga, ditentukan oleh turunnya Roh Kudus dan pengakuan kita atas kuasa-Nya. Roh Tuhan saja yang membuat para murid menjadi berani. Roh Tuhan juga yang membuat kita bergerak, memberitakan Injil, dan membuat perbedaan.

Hari ini, akuilah Kuasa dari Roh Kudus. Kita tidak dapat memberitakan Injil atau melayani tempat jauh, atau menjadi cukup berani untuk perubahan, jika kita tidak disertai Roh Kudus. Bukan program, atau kesadaran kita, atau kekayaan dan pengetahuan atau pengaruh, yang membuat kita berhasil. Gereja yang sukses bukan gereja yang paling ramah atau bagus pelayanannya, bukan gereja yang paling bagus nyanyian dan alat musik dan gedungnya. Gereja yang sukses adalah gereja yg merindukan Tuhan, merindukan melihat karya-Nya, dan berharap agar Roh Kudus bekerja dalam diri setiap umat.

Terpujilah TUHAN!
Salam kasih,
Donny
Published with Blogger-droid v1.6.8

22 Mei 2011

Akulah Pintu

Yohanes 10:7-10

Hal pertama tentang pintu adalah: ada dua tempat yang terpisah. Ketika Tuhan Yesus menyebutkan mengenai pintu, Ia menyiratkan bahwa ada dua tempat yang terpisah oleh dinding yang tidak dapat diterobos penghuninya, kecuali melalui pintu. Keterpisahan adalah kondisi pertama dari makna pintu; jika tidak ada pemisah, maka pintu tidak berarti atau bermakna. Jika Tuhan Yesus memakai perumpamaan pintu, Ia juga memberitahu tentang pemisahan, suatu pembatas yang tidak dapat dilalui manusia.

Di satu tempat isinya adalah domba. Ini adalah binatang ternak yang perlu digembalakan, mereka bergerak mengikuti tuan mereka. Domba berbeda dari kambing, karena kambing seringkali liar dan suka semaunya sendiri. Kambing harus diikat lehernya, domba tidak. Domba adalah anak-anak Tuhan, dimana kita berkumpul di dunia ini. Dunia terdiri dari berbagai macam manusia, yang tidak semuanya serupa dengan domba. Mungkin ada yang lebih tepat digambarkan dengan kambing, atau kerbau, atau sapi perah. Inilah tempat manusia tinggal, planet bumi yang hanya satu dan tua.

Renungkanlah: Tuhan tidak mengatakan bahwa padang rumput berada di tempat domba-domba berada. Kesejahteraan sejati tidak berada di atas muka bumi ini. Domba harus keluar melalui pintu, baru mendapatkan padang rumput hijau. Keliru kalau mengharapkan rumput hijau ada di dunia, karena letaknya ada di luar sana. Ada di tempat darimana Tuhan Yesus datang, suatu tempat yang kita sebut Sorga.

Tempat atau sisi lain dari dinding tidak hanya satu saja. Tuhan Yesus memberi peringatan: ada pencuri yang dapat meloncat melalui tembok. Nah, para pencuri ini pasti tidak datang dari tempat asal Tuhan. Para penjahat datang dari sisi lain, pasti bukan dari Sorga,untuk mencuri dan membinasakan. Dari sisi itu tidak ada pintu, jadi domba-domba dibunuh di tempatnya berada, disembelih, dikuliti, dan diambil dagingnya... Pernahkah menjumpai anak Tuhan yang dijerumuskan di dunia? Penjahatnya tidak berasal dari dunia ini. Mereka datang dari sisi yang berlawanan dari Sorga, dari neraka. Itulah iblis dan setan yang membunuhi manusia, membantai domba dan kambing serta segala jenis manusia lain sesuka hatinya.

Jadi, bagi domba ada dua urusan: menghindar dari penjahat, dan mengikuti suara Sang Gembala untuk keluar melalui pintu, ke padang berumput hijau. Keluar dan masuk lagi. Itu adalah kondisi istimewa yang dimiliki domba Tuhan yang mengikuti suara-Nya, bisa keluar dari dunia untuk menikmati pemeliharaan Tuhan, lalu kembali ke dalam dunia. Kita semua sama, bisa mengalami penderitaan dan kesedihan, tapi saat mengikuti Tuhan Yesus, kita mendapatkan istirahat dan kekuatan baru.

Tuhan Yesus adalah pintu. Tuhan Yesus adalah gembala. Ikutilah Dia, maka banyak hal selesai dengan sendirinya, meskipun bumi ini masih tetap sama dan menuju kehancuran. Dari saat ini pun, bersama Kriatus kita masuk ke Kerajaan Sorga!

Terpujilah Tuhan!
Published with Blogger-droid v1.6.8

15 Mei 2011

Pembawa Harapan

2 Raja-Raja 5:1-14

Anak perempuan di jaman dahulu kala adalah manusia yang tidak dianggap berarti. Tidak ada harapan, mereka akan menjadi istri dan menjadi milik suaminya. Atau, jika pada suatu ketika sampai tertawan, mereka menjadi budak pelayan.

Apa yang dapat diharapkan dari seorang budak perempuan israel yang tak bernama, yang ditawan dari suatu penyerangan, yang menjadi pelayan di sebuah rumah panglima besar Raja Aram?

Anak perempuan ini bahkan tidak disebut namanya. Tidak dapat kita bayangkan, seperti apa sosoknya. Tetapi ada tiga hal yang kita tahu.

Yang pertama, anak perempuan ini tahu mengenai adanya Nabi Allah di Israel. Secara menakjubkan, anak ini mempercayai bahwa ada Allah yang menyertai Israel, sekalipun kondisinya sendiri tidak cukup baik. Kepercayaan yang menakjubkan, karena raja israel sekalipun tidak mengetahui adanya sang Nabi Allah. Anak perempuan ini tahu pasti.

Yang kedua, kita tahu bahwa anak perempuan ini luar biasa beraninya, berani menceritakan kepada tuannya. Ini bukan hal yang sederhana, pertimbangkanlah. Naaman, sang panglima besar, sakit kusta. Jika hal ini diketahui rakyat Aram, masyarakat pasti gempar! Jika diketahui musuh-musuh Aram, mereka akan melihat penyakit ini memberi kesempatan untuk menyerang. Karena itu, penyakit Naaman berkaitan dengan keamanan negerinya. Jika seorang budak perempuan sampai mengetahuinya, budak ini mungkin akan dibunuh untuk menjaga rahasia. Toh hanya seorang anak perempuan! Jadi, memberi saran tentang penyakit Naaman sama dengan membawa celaka pada diri sendiri. Sungguh, betapa beraninya anak peremuan ini!

Yang ketiga, anak perempuan ini bersedia berbuat baik untuk orang Aram. Ia mengatakan dengan sungguh-sungguh sehingga Naaman bersedia memikirkannya, bahkan membahasnya dengan raja Aram. Bagi anak perempuan ini, kehidupannya hancur. Masa depannya hancur. Namun ia membela kehidupan Naaman, memberinya kesempatan baru.

Berapa banyak dari kita bersedia membawa harapan bagi kehidupan orang lain, bahkan orang yang merusak kehidupan kita sendiri? Mungkin kita memilih untuk menghindar. Kita merasa jadi pengkhianat bangsa karena membantu musuh. Bagi orang Israel, anak perempuan itu bisa dilihat sebagai pengkhianat yang menjijikkan. Mengapa repot memberitahu panglima musuh, sedang kusta itu jelas merupakan hukuman kutuk dari Allah?

Tetapi itulah yang dilakukan anak perempuan tak bernama ini. Dia yang tidak berpengharapan, justru memberi harapan bagi orang yang sudah merenggut harapan.

Pada akhirnya, harapan yang sejati datangnya dari Tuhan. Ketika seseorang mengenal Tuhan yang hidup, tidak ada yang dapat merampas kehidupan -- sekalipun orang lain mendatangkan situasi yang sukar, melelahkan, dan sangat tidak enak, tidak nyaman.

Kita tidak tahu bagaimana akhir dari anak itu, tetapi kita tahu bahwa Naaman menjadi orang percaya. Panglima ini tidak pernah menjumpai Elisa, Sang Nabi itu, tetapi ia selalu dapat menemukan anak perempuan Israel di rumahnya, yang mengingatkannya pada Allah Israel yang sungguh hidup dan berkuasa.

Dapatkah kita belajar untuk melakukan itu? Menjadi pemberi harapan, walaupun saat ini kita sendiri masih dalam kesulitan? Jika anak perempuan ini bisa, maka anak-anak Tuhan yang hidupnya disertai Roh Kudus pasti juga bisa, bukan karena kekuatan sendiri melainkan pekerjaan Allah melalui kita.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.8

03 April 2011

Makan

Hidup perlu makan, tapi apakah yang diberikan oleh sepotong pizza di siang hari? Makanan? Rasa? Kesenangan? Persahabatan?

Tanda bahwa di jaman sekarang ini, banyak hal tidak lagi nampak seperti apa adanya. Kalau makan sudah jadi berteman, lantas apa arti hidup kita sekarang?
Published with Blogger-droid v1.6.7

Takut Akan Manusia

"Rupapun tidak, sehingga kita memandangnya." Inilah yang dinubuatkan oleh kitab nabi Yesaya. Kita tahu bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang Tuhan Yesus, hanya apakah kita terganggu jika kenyataannya Tuhan Yesus bukan seorang yang gagah tampan rupawan, seperti model yang biasa nampak dalam lukisan?

Jika kita terganggu, barangkali kita mengalami perasaan takut akan manusia, fear of men. Kita tidak lagi takut akan Allah, fear of God, karena satu alasan: manusia terlihat di depan mata sedangkan Allah tidak terlihat. Sudah lama Allah tidak menampakkan kekudusan-Nya kepada manusia, karena jika hal itu dilakukan-Nya pastilah banyak manusia yang binasa seketika di tempat. Tapi, kita mungkin lebih banyak belajar takut akan manusia daripada takut akan Allah.

Takut akan manusia berakar pada dua hal: yang pertama adalah menghindari penderitaan, yang kedua adalah mendapatkan posisi di masyarakat, karena jika seorang tidak mendapatkan tempat dalam masyarakat, ia menderita serta mengalami alasan yang pertama.

Karena itu, melihat Yesus buruk rupa adalah sebuah masalah yang sekaligus memenuhi alasan takut akan manusia. Yang pertama, buruk rupa berkaitan dengan "biasa menderita kesakitan" yaitu penderitaan. Bagaimana kita menempatkan Yesus yang menderita sebagai Pemimpin? Kalau Pemimpin menderita, bukankah pengikutnya patut mengalami yang sama?

Yang kedua, buruk rupa tidak menempatkan orang dalam masyarakat, sekalipun di dalam gereja. Yang tampil di depan haruslah yang kaya, pandai, berpenampilan baik. Pendeta sekarang banyak yang tampil terawat, gemuk, berpakaian bagus, dan bepergian dengan mobil bagus. Tuhan memberkatinya! Kita menginginkannya!

Tapi, mungkin kita tidak menginginkan Tuhan Yesus. Dia saja yang menderita, jangan kita. Kita mau berkat anugerah karunia, tapi tidak mau memikul salib...karena kita takut orang-orang mengata-ngatai. Sebaliknya, demi memenuhi harapan orang agar mendapatkan pengakuan, kita bersedia jungkir balik dalam kesusahan. Kita takut dipandang buruk rupa di hadapan manusia. Kita tidak takut dipandang buruk di hadapan Allah.

Apakah kita masih mau mengikuti Tuhan Yesus, yang penampilannya tidak diinginkan orang?

Jika YA, berhentilah takut akan manusia. Mulailah hidup takut akan Allah, dan turut memikul salib dan memakai kuk yang sudah seharusnya kita pikul, muliakanlah TUHAN!

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny
Published with Blogger-droid v1.6.7

06 Maret 2011

Satu Orang

Markus 5:2 Baru saja Yesus turun dari perahu, datanglah seorang yang kerasukan roh jahat dari pekuburan menemui Dia.

Seberapa banyak orang yang perlu ditolong Yesus, sehingga Ia mau menempuh perjalanan jauh? Satu orang. Yesus menyeberangi danau ke Gerasa, menemui orang ini, mengusir legion, lalu kembali lagi. Hanya satu.

Berapa banyak orang yang kita kasihi, sehingga kita bersedia melakukan sesuatu yang sukar? Mungkin, kita membuat batasan. Kalau ada 10 orang, bolehlah. Kalau ada 5, kali ini saja ya? Kalau hanya 1, maaf tidak bisa.

Semakin tinggi dan besar pengaruh yang dimiliki seseorang, biasanya batasan akan bertambah. Setelah menjadi orang terkenal, jangankan mau berlayar untuk menemui orang, bahkan menyediakan waktu bertemu saja sukar. Orang datang untuk bertanya, mencari jawaban masalah, dan mereka ditolak karena orang terkenal ini tidak punya waktu.

Perkecualian adalah ketika yang datang adalah orang yang juga terkenal dan berpengaruh. Apalagi, jika lebih berkuasa dibandingkan yang mau ditemui, semua bisa ditinggalkan.

Dalam keadaan ekstrim, persis itulah yang terjadi. Legion - banyak iblis - merasuki orang ini dan menunjukkan kekuatan supranatural. Sudah pasti ia mengganggu orang-orang dan mereka semua tidak berdaya menghadapinya. Orang ini menjadi begitu kuat, rantai diputuskan dan belenggu dimusnahkan. Satu orang yang dirasuk banyak setan, siapa yang dapat menghadapinya?

Tuhan Yesua jelas bisa, namun ia berada di tempat jauh. Lagipula Gerasa bukan bagian dari tanah orang Yahudi, ada di luar sana. Sedang di Yudea dan Galilea, masih banyak yang mengelu-elukan Yesua, mereka yang mau berjalan mengikuti-Nya dan mendengarkan-Nya. Masih banyak orang Israel yang berharap disembuhkan-Nya. Jadi apa pula urusannya sampai Yesus harus memikirkan orang yang kerasukan ini? Bukankah waktu-Nya habis untuk begitu banyak orang?

Tapi Tuhan Yesus tahu gawatnya keadaan orang di seberang sana. Ia pergi bertolak ke seberang. Dia jelas lebih besar daripada segala setan yang ketakutan di hadapan-Nya. Pernyataan-Nya tegas dan langsung: keluar dari orang ini!

Ini adalah peperangan, di mana Tuhan tidak mengijinkan iblis berkuasa atas manusia, sekalipun hanya satu orang, di tempat yang jauh. Paling sedikit, Yesus melakukan itu untuk tiga alasan.

Alasan pertama adalah bagi murid-murid-Nya, termasuk kita. Inilah penyataan diri Yesus sebagai Tuhan yang berkuasa, dimana Ia diakui oleh musuh-musuh-Nya, yang takluk dibawah Tuhan Yesus. Tidak ada bantah membantah mengenai keluar dari manusia, mahluk-mahluk itu hanya bisa memohon untuk pindah ke babi. Seluruh murid yang menyertai Tuhan Yesus tahu dengan pasti, Dia berkuasa atas iblis yang paling kuat dan banyak.

Alasan kedua adalah bagi penduduk di Gerasa. Jelaslah orang yang kerasukan ini menjadi mimpi buruk orang-orang di sana. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, selain berharap tidak didatangi orang yang menjadi iblis ini. Mereka tidak dapat membunuhnya, mengikatnya pun tidak bisa! Tuhan datang ke sana, sekalipun orang-orang Gerasa tidak percaya pada-Nya, bahkan mereka tidak menghendaki Yesus berlama-lama di tanah mereka. Pertolongan Tuhan tidak ditentukan oleh respon masyarakat.

Alasan ketiga adalah tentang orang itu sendiri. Mungkin sebelumnya ia sudah melakukan hal bodoh. Mungkin ia sendiri yang mengundang iblis yang banyak untuk mengisi dirinya sendiri, sampai ia bisa kerasukan seperti itu. Ketika iblis menguasai, semua telah terlambat. Kita tidak tahu bagaimana akhir orang ini, apakah dia terus dihukum oleh penduduk? Apakah ia terus melarikan diri? Yang jelas Tuhan Yesus memberinya kesempatan kedua untuk hidup lebih baik, jika memang masih bisa hidup baik.

Mungkin kita juga sebodoh orang itu. Kita mengundang iblis agar bisa kuat, kaya, berkuasa, dan tanpa sadar kini iblislah yang menguasai kita. Kita kaya dengan cara mengambil dan merampas milik orang lain, kesempatan orang lain. Kita menjadi iblis dan mimpi buruk orang di sekitar kita.

Tuhan mau datang untuk satu orang seperti ini. Jika kita tidak punya harapan, Tuhan Yesus adalah harapan.

Jika kita menjadi murid Tuhan, kita juga harus siap untuk bertemu satu saja orang seperti ini. Karena Tuhan mengasihi, maka kita juga harus mengasihinya, walau hanya seorang.

Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny
Published with Blogger-droid v1.6.7

20 Februari 2011

Rukun

Mazmur 133:3 Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya.

Kalau ada beragam orang berkumpul dalam satu tempat, apa yang baik? Dengarkanlah pandangan modern tentang ini.

Dalam dunia modern dan post-modern, pertama-tama harus diakui pluralitas alias kemajemukan. Perbedaan adalah indah, setiap individu hendaknya memiliki hak untuk menjadi dirinya sendiri. Jika mengikuti orang lain atau pikiran lain, sampai menyangkali diri sendiri -- itu hal yang BURUK. Dunia modern mengagungkan individu, menganggap bahwa itulah yang terbaik, yaitu setiap individu bertanggung jawab untuk mengembangkan diri sendiri. Pernah dengar kata-kata motivasi seperti, "kesuksesan tergantung pada diri kita sendiri" dan "success is MY right"?

Tentu saja, dunia berbohong tentang kata-kata itu, karena kenyataannya yang berkembang di dunia adalah networking dan interdependency. Net artinya jala dan work artinya kerja. Persaingan yang terjadi adalah, bagaimana menggerakkan orang-orang lain untuk bekerja sama demi kesuksesan individual. Kesuksesan adalah milik individual yang berhasil membuat orang-orang lain bersatu. Jika kerja, sama-sama. Jika terima uang, seorang demi seorang. Itulah dunia!

Masalah tentang keberagaman adalah mengenai kepentingan. Satu individu berkepentingan pluralistis bagi dirinya sendiri, sebaliknya berkepentingan kesatuan bagi orang lain. Orang yang "kuat" menonjolkan dirinya, sementara mengajar dan memaksa orang lain untuk bersatu.

Tuhan menempatkan standar yang berbeda. Setiap kali umat Israel hendak memasuki Bait Allah, mereka menyanyikan mazmur ini, yang membawa pesan kesatuan. Tuhan tidak memisahkan orang berdasarkan kepentingan individual; yang hadir di hadapan Tuhan harus mengangkat dan memenuhi satu kepentingan, yaitu kepentingan Tuhan.

Lalu, apa bedanya dengan seorang Pemimpin yang menyuruh pengikutnya untuk bersatu demi dirinya sendiri? Ada tiga perbedaan besar.

Yang pertama, Tuhan adalah yang menciptakan dan paling mampu membuat penilaian, sebagai Pencipta manusia. Dialah yang berhak menentukan apa yang terbaik, secara absolut. Tidak ada manusia yang dapat mengambil posisi-Nya, walaupun iblis dan manusia ingin menjadi seperti Tuhan.

Yang kedua, kenyataannya seluruh mahluk hidup bergantung pada Allah. Kita pada hakekatnya dipersatukan dalam kehidupan oleh Tuhan yang memberikannya. Sekalipun Tuhan menciptakan beragam manusia, tapi esensinya satu dan sama karena Satu yang membuatnya.

Yang ketiga, kesatuan itu memang dalam kepentingan Tuhan, namun bukan untuk Diri-Nya sendiri, melainkan kesanalah berkat diperintahkan. Manusia menyatukan manusia lain drmi mengambil bagi dirinya, dan menyebut hal itu "sukses". Tuhan menyatukan dan memberi berkat, sehingga setiap orang yang bersatu di dalam Dia memperoleh kesuksesan yang sejati, yaitu hidup kekal bersama-Nya.

Terpujilah TUHAN!

Kebaktian Minggu, 20 Feb 2011 di GII BAYON GATSU, Bandung
Published with Blogger-droid v1.6.7

23 Januari 2011

Cari Sekarang

Yes 55:6 Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!

Pada masanya, orang Israel memiliki Allah yang sangat dekat. Sangat dekat, sehingga bisa melihat tiang awan di waktu siang dan tiang api di waktu malam. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, seluruh pengalaman orang Israel menjadi sekedar cerita yang diteruskan dari mulut ke mulut.

Satu hal yang dipahami dan dipegang oleh orang Israel adalah kekhususan keberadaan mereka di hadapan Allah. Mereka berbeda dari semua bangsa lainnya, menjadi bangsa yang kudus. Dalam satu sisi, mereka melihat pembedaan itu sebagai hak istimewa. Mereka memandang diri lebih tinggi, karena memiliki janji Allah kepada Abraham, Ishak, Yakub, dan terutama Daud -- karena kepada Daud, Allah menjanjikan Penguasa yang tertinggi, yang tahta-Nya tidak pernah berakhir. Bisa dibayangkan, betapa bangga memiliki kerabat satu penguasa yang kekuasaannya mutlak dan abadi!

Kesombongan ini membawa kejatuhan, karena menganggap diri lebih baik daripada bangsa lain, dan oleh sebab itu justru berperilaku lebih buruk. Berapa banyak dari antara orang Kristen yang berperilaku seperti itu? Merasa diri 'bagus' sedang orang lain 'jelek'. Yang lain tidak sepadan karena derajatnya lebih rendah. Pandangan semacam ini telah membenarkan perbudakan terhadap orang negro selama berabad-abad oleh mereka yang menyebut diri pengikut Kristus. Persis seperti keangkuhan orang Ibrani dahulu.

Kesalahan ini membawa dua akibat yang ironis. Yang pertama, sebaliknya dari bersikap bijaksana, umat Allah berperilaku sembarangan, lebih ceroboh dan bodoh dibandingkan bangsa lain yang tidak kenal Tuhan. Mereka sebut bangsa lain atau penganut agama lain adalah orang fasik, tapi perilakunya lebih buruk daripada mereka. Yang kedua, karena merasa istimewa, jadinya tidak lagi mencari Tuhan yang kehadiran-Nya ada begitu dekat. Tuhan jadi sumber berkat, pelindung, dan pemecah masalah, di mana puji-pujian dan penyembahan adalah untuk memperoleh segala kelimpahan dalam hidup. Bandingkan dengan ritual agama lain yang menyiksa diri untuk meredakan amarah dewa, yang membuat pengikutnya hidup berhati-hati dalam kesalehan, serta segala upaya memperoleh pahala. Siapa yang hidup lebih tertib dan bijaksana?

Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui! Allah tidak dapat dipermainkan; kasih karunia-Nya tidak boleh dianggap enteng. TUHAN memanggil semua orang yang haus untuk datang pada-Nya, termasuk orang fasik dan jahat, karena bagi mereka, juga bagi kita, tersedia janji Allah pada Daud. Seruan yang diberikan adalah untuk bergegas, segera mencari Tuhan!

Bagi bangsa Israel, mereka gagal memahami seruan ini, sebaliknya jatuh dalam kesesatan yang lebih dalam, sampai mereka dibuang ke Babel. Bagi kita sekarang, banyak juga yang terlahir di keluarga Kristen turun temurun, sehingga sejak kecil telah menjadi orang Kristen yang aktif di gereja.

Apakah karena aktif, serta merta otomatis tahu untuk mencari Tuhan? Apakah karena ada seseorang mengajak kita ke gereja, lantas kita beroleh keselamatan?

Dengarlah panggilan-Nya. Jika hari ini kita bisa ke gereja, boleh beribadah, itu bukan kebetulan. Jika kita bisa sedekat ini dengan Tuhan, itu adalah kesempatan. Mari, manfaatkanlah kesempatan ini! Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.5

16 Januari 2011

Di Mana Pekerja Itu?

Kalau Yesus menjadi anggota sebuah gereja, barangkali Ia bukan anggota yang 'baik' dalam standar gereja masa kini. Ia bukan orang yang kaya, tidak punya jabatan atau kedudukan, dan Ia suka berjalan-jalan dari satu kota ke kota lainnya.

Apakah kita juga suka jalan-jalan? Orang yang suka berjalan-jalan, biasanya tidak terlibat di dalam pelayanan. Mereka tidak ikut bernyanyi di paduan suara, tidak menyalami sebagai usher, bukan petugas kolektan, dan pasti tidak bermain musik. Di gereja ada banyak orang yang datang dan pulang, begitu saja, sementara sebagian kecil lainnya menjadi superman karena hadir di berbagai kebaktian, bahkan sepanjang minggu aktif di gereja. Orangnya itu lagi, itu lagi, dan itu lagi.

Karena itulah, barangkali Yesus tidak menjadi anggota yang disukai gereja ketika Ia memilih untuk berkeliling. Masalahnya, gereja sekarang banyak yang tidak mau berkeliling, tidak mengerjakan apa-apa di luar pagar gereja. Tuhan tidak menunggu gereja yang sibuk dengan kegiatan sosialnya sendiri saja, Ia bekerja menurut kehendak-Nya dan rencana-Nya sendiri.

Bagi Tuhan, ladang-Nya adalah dunia. Dia akan berjalan dari satu pojok ke pojok lainnya. Urusan-Nya adalah membawa Injil Kerajaan Sorga -- Injil berarti 'kabar baik' sedang Kerajaan merepresentasikan kekuasaan, wilayah, dan pemerintahan dari Sorga, yaitu tempat di mana Allah bertahta.

Kabar baik ini merupakan berita pembebasan bagi orang-orang yang tertindas di kerajaan dunia, di mana penguasa angkasa memerintah dengan tangan besi dan menuntut dengan ketidakadilan. Pernahkah kita mendengar ungkapan, "hidup memang tidak adil"? Yang berkuasa menjadi kaya dan panjang umurnya. Yang miskin ditindas dan diperas, sampai mereka tinggal tulang dan mati tanpa tanah. Ketika orang miskin memberontak demi perubahan, yang mereka ringkus dan aniaya adalah orang-orang kaya yang baik hati dan jujur bekerja keras. Orang kaya yang dahulu jahat, bisa melarikan diri dengan harta yang banyak untuk hidup enak di negara lain, yang diam-diam senang juga menerima dana bawaan para penjahat itu. Hidup memang tidak adil!

Kabar baiknya, Kerajaan Sorga hadir di dunia. Tuhan memandang kehidupan begitu banyak orang yang terjajah, di mana Ia berbelas kasihan amat sangat. Kepada mereka Yesus menyampaikan kabar baik pembebasan, di mana akan datang Kerajaan yang penjajahnya dan penindasnya tidak ada lagi. Tidak ada lagi maut dan kematian, karena TUHAN adalah sumber kehidupan. Tuhan Yesus membawa kesembuhan dan kekuatan bagi mereka yang menjadi umat-Nya, karena mereka menerima-Nya dan percaya pada-Nya.

Satu kenyataan, kabar baik yang dibawakan oleh satu orang mempunyai keterbatasan. Ada begitu banyak tempat, di mana pembebasan dirindukan. Ada banyak tuaian, jiwa yang ditetapkan menjadi milik Allah, yang perlu mendengar Injil.

Pertanyaannya, di mana para pekerja? Jangan meminta agar Tuhan membuat kita jadi superman dengan kekuatan sejuta orang. Mintalah agar ada sejuta orang biasa, seperti saya dan Anda, untuk menjadi pekerja yang menggarap seluruh ladang yang dipercayakan Allah.

Bergereja bukan sekedar beraktivitas sosial. Ini adalah ungkapan hasrat dan belas kasih kepada banyak orang lain di dunia. Apakah kita telah memenuhi panggilan-Nya untuk bekerja di ladang-Nya?

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.5

09 Januari 2011

Menghakimi

Betapa mudahnya melempar kesalahan. Di dalam sebuah komunitas, asal ada orang yang bisa disalahkan, tidak perlu takut berbuat salah. Mau mencuri, mau korupsi, bisa saja. Yang penting, selalu ada orang atau pihak yang bisa dituding bersalah. Tunjuk orang lain sebagai pihak yang bersalah, dan nikmati semua hasil "kreativitas" selama ini.

Mengapa orang bisa sebebas itu? Semua urusan salah-menyalahkan bisa terjadi jika dan hanya jika ada yang menghakimi di sana. Kalau sang boss begitu senang menjadi hakim, anak buah yang lalim dengan senang hati akan membawa seseorang untuk dihakimi. Dalam realita, jarang ada peristiwa yang hanya di sebabkan satu orang; setiap orang memiliki suatu andil di dalamnya. Kalau mau menyalahkan, yang perlu dilakukan hanya menyorot dan membuat kesalahan terlihat jelas, sehingga kesalahan orang lain terlupakan.

Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. (Rm 2:1)

Pernahkah dengar tentang seorang boss yang tidak bijaksana? Pada suatu ketika, dari para salesman diperoleh beberapa order besar. Tentu si boss senang, dan memuji serta menyuruh agar order segera dipenuhi. Untuk memenuhinya, barang-barang pesanan harus diproduksi. Biasa saja, bukan?

Tapi, untuk memproduksi barang dibutuhkan bahan baku. Untuk memenuhi kebutuhan itu, bagian pembelian harus memesan barang dan bagian keuangan harus membayar uang muka. Ketika bagian keuangan meminta tanda tangan giro kepada boss, ia hanya bilang, "nanti ya."

Akibatnya, bahan baku tidak dikirim. Bagian produksi tidak bisa bekerja. Barang jadi tidak tersedia. Order tidak dipenuhi, pelanggan jadi marah dan kecewa. Krisis ini membuat ribut dan semua dikumpulkan.

Boss menghakimi kepala gudang barang karena tidak menyisihkan barang yang ada dari order lain yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Boss menghakimi bagian produksi yang tidak mengerjakan produksi memakai bahan yang ada -- bukankah standar produksi bisa diubah? Boss menghakimi bagian pembelian yang tidak bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar uang muka, sekalipun reputasi perusahaan sudah buruk karena terkenal telat membayar. Semua salah, kecuali si boss sendiri.

Sekalipun boss marah dan naik pitam sampai wajahnya terlihat ungu, semua tahu bahwa sebenarnya ini salah si boss sendiri. Dia hanya dapat marah karena para pegawainya masih berharap menerima gaji bulan ini. Walaupun secara aktual ia dapat bersikap lebih tinggi, kebenaran tidak ditentukan oleh kekuasaan. Kata-kata tidak membuat kebenaran, sebaliknya realita menyatakan bahwa ada kesalahan dan si boss ini harus menanggung akibatnya. Jika ia tidak bersedia, misalnya dengan membebankan kesalahan kepada anak buahnya, pada akhirnya ia harus menanggung akibat yang lebih besar ketika ditinggalkan para anak buahnya. Si boss harus mencari lagi orang baru, menanggung kesalahan yang dibuat orang baru, dan secara keseluruhan membuat bisnisnya tidak dapat dipercaya baik oleh pelanggan maupun oleh supplier.

Tuhan juga tidak menyukai si boss yang menghakimi, sementara ia sendiri melakukan kesalahan. Orang yang menghakimi akan dihakimi oleh ukuran yang dibuatnya sendiri; setiap perkataan si boss yang dijatuhkan pada orang lain akan jatuh pada dirinya, karena ia juga dalam kenyataannya tidak ideal seperti tuntutannya.

Apa yang ada pada manusia sekarang adalah kesempatan untuk berubah, waktu yang diberikan oleh kemurahan Tuhan. Kita semua berubah, dan kalau ada satu yang bisa sepenuhnya dituntut dalam hidup, itu adalah menuntut diri sendiri untuk berubah menjadi lebih baik. Agar menjadi lebih baik, kita tentu bisa membantu orang lain untuk berubah, karena manusia saling berhubungan dan kemajuan yang seorang membawa kemajuan bagi orang lain. Inilah kemurahan Tuhan -- bukan kesempatan bagi manusia untuk menghakimi sesamanya dengan semena-mena.

Bagaimana dengan hakim di dunia? Ingatlah, bahwa hakim tidak bekerja berdasarkan pandangan pribadinya. Seorang hakim hanya bisa menilai berdasarkan undang-undang, yaitu suatu pengaturan dalam negara, yang menjadi kesepakatan untuk hidup di negara itu. Pelanggar undang-undang tidak mengganggu sang hakim secara pribadi, atau melanggar aturan moral pada pribadi hakim, melainkan melanggar aturan yang telah ditetapkan negara.

Sayangnya, sikap menghakimi telah menjadi bagian dari masyarakat. Lihat saja, misalnya, kasus Ariel dan sidang pengadilannya. Secara moral ia bersalah, tetapi secara hukum negara ia tidak melanggar apa-apa. Namun ada orang-orang yang menghakimi dan mencela -- dan sikap mereka tidak jauh berbeda dari si boss yang merasa punya kekuasaan untuk menghakimi orang lain, sementara mereka sendiri jatuh di dalam banyak dosa. Siapa yang punya hak untuk melempar batu terlebih dahulu?

Tidak ada. Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani.

Sebab Allah tidak memandang bulu.

Terpujilah TUHAN!
Published with Blogger-droid v1.6.5