Cari Blog Ini

23 April 2008

Hari Bumi

Kej 2:3 Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

Beberapa hari terakhir, setiap pagi kota Bandung diguyur oleh hujan rintik-rintik. Di siang harinya, ada hujan besar, biasanya mengikuti panas terik yang bukan main. Dan dalam beberapa waktu lalu, malah ada banjir yang terjadi di beberapa daerah. Memang, daerah-daerah itu sudah terbiasa kebanjiran, karena terletak di tempat yang agak rendah dan dengan sistem aliran air yang buruk. Biasa banjir.

Tapi kali ini menjadi tidak biasa, karena terjadi di bulan April. Tidak pernah terjadi di bulan April, kata seorang tua yang sudah berpuluh tahun tinggal di sana.

Barangkali kita tidak terlalu memikirkannya, sampai melihat bagaimana daerah lain. Dan kalau kita beruntung, mungkin kita bisa melihat dalam jangka waktu yang lebih panjang, bukan hanya satu atau dua tahun terakhir, melainkan dalam rentang waktu yang luas. Dalam waktu 30 tahun terakhir, jumlah badai skala 4 dan 5 telah naik dua kali lipat. Nyamuk malaria kini ditemukan di pegunungan Andes, di Kolombia, pada ketinggian 7000 kaki di atas permukaan laut. Es di Greenland sudah meningkat dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Dan cuaca, seperti yang kita alami, nampaknya sudah tidak lagi mengikuti apa yang dahulu kita pelajari di Sekolah Dasar.

Itu adalah, tidak diragukan lagi, pemanasan global.

Orang mungkin berkata, "itu bukan urusan saya" terhadap pemanasan global. Beberapa merasa itu adalah urusannya pemerintah, dengan berbagai kepentingan politik dan ekonomi yang terlibat. Beberapa lagi di Indonesia mengatakan bahwa semua itu hanya akal-akalan untuk "jual beli karbon" belaka. Salah besar.

Sebagai seorang yang sekarang bekerja di bidang keuangan, asuransi dan investasi, saya harus memperhatikan lebih banyak lagi tentang situasi ekonomi, terutama yang berkaitan dengan apa yang mempengaruhi kehidupan keluarga. Kita semua menghadapi inflasi yang besar, yang mengancam struktur ekonomi di seluruh dunia. Utamanya, terjadi kenaikan harga-harga komoditas, termasuk bahan-bahan pokok seperti beras, gandum dan jagung. Kemarin ini Bulog menaikkan harga pembelian kepada petani, naik 10%. Ini harus dilakukan, karena sekarang pedagang besar beras banyak yang berburu beras langsung ke sentra-sentra produksi, untuk dikirim keluar pulau Jawa. Tidak sukar untuk ditebak, beras-beras kita akan diekspor karena mendatangkan untung besar, sementara Pemerintah nampaknya belum berhasil (atau berniat?) menghentikan penyelundupan.

Tapi, kenapa harga beras dunia begitu tinggi? Orang lain lagi bilang, itu akibat banyak uang masuk ke pasar komoditas, sebagai pelarian dari pasar modal yang memang sedang kacau balau. Sebagian memang benar, tapi kita juga harus melihat bahwa dalam 12 bulan terakhir, banyak berita kegagalan panen yang terjadi di seluruh dunia. Yang tadinya mengekspor, kini harus mengimpor karena bencana alam menghancurkan cadangan-cadangan pangan dan biji-bijian mereka. Di Indonesia sendiri, berita kegagalan panen kerap terdengar, ditambah lagi dengan berita tentang penyusutan lahan pertanian. Herannya kita masih tenang-tenang saja dan percaya bahwa Indonesia pasti siap untuk swasembada pangan.

Kondisi sebenarnya bisa dilihat dengan lebih mudah: perhatikan seperti apa reaksi Departemen Pertanian ketika mengetahui ada ijin ekspor beras dikeluarkan, walau itu hanya (katanya) Bulog saja. Departemen Pertanian lebih tahu seperti apa kondisi di lapangan, mengetahui bahwa estimasi-estimasi atas produksi pangan dibuat atas hitungan tertentu. Hitungan yang bisa jadi meleset, karena sekarang ini manusia menghadapi kondisi yang tidak pernah dikenal sebelumnya. Sekali lagi, pemanasan global.

Jadi, segala sesuatu berhubungan dengan erat, dan masalahnya ada pada bumi di mana manusia hidup. Pernahkah merenungkannya, memikirkannya dengan sungguh-sungguh?

Maksud saya, selama ini kita memperhatikan, prihatin, turut bersimpati, dan sungguh mengasihi manusia-manusia yang hidup di atas muka bumi. Kita menginginkan yang baik bagi mereka, dan untuk itu kepentingan bumi, tempat manusia berpijak, bukanlah sesuatu yang benar-benar jadi perhatian. Kalau kita kemudian mengusahakan bumi yang lebih baik, itu pun untuk kepentingan-kepentingan manusia.

Pertanyaannya, bagaimana jika suatu saat kita harus memilih, karena ada dua kepentingan yang berbenturan? Kepentingan bumi dan kepentingan manusia tidak lagi sejalan. Demi manusia, demi ekonomi dan kesejahteraan, bumi harus mengalah. Atau, demi bumi yang terjaga, justru manusia yang harus mengalah -- sampai titik di mana manusia mengalami kerugian? Tapi, siapa yang mau rugi! Perusahaan mengatakan, ada sekian banyak karyawan yang hidupnya bergantung dari pabrik. Pemerintah mengatakan, ada sekian besar potensi pajak yang bergantung dari omzet yang dihasilkan -- dan sekian banyak kerusakan yang terjadi. Toh ada amdal...sayangnya, tidak pernah dikatakan bagaimana pertanggung-jawaban pembuat kelayakan amdal, ketika ditemukan bahwa perusahaan itu sama sekali tidak memelihara lingkungan.

Repotnya, manusia masih memiliki ingatan yang pendek, meskipun sekarang ada internet dan kapasitas penyimpan informasi berjumlah terabytes dan lebih lagi. Kita lupa. Walaupun datanya ada di sana, grafiknya bisa kita lihat, kita tidak ingat. Yang kita utamakan adalah segala yang mendesak sekarang, tahun ini juga, bulan ini juga, hari ini juga. Jam ini juga, detik ini juga. Secara kolektif, manusia kehilangan kepekaan akan bahaya yang datang merayap perlahan-lahan.

Bagi yang suka masak, pasti tahu tentang katak di panci. Jika katak hidup dimasukkan ke air mendidih, ia langsung meloncat. Tapi kalau dimasukkan ke air dingin, dan perlahan-lahan dipanaskan, ia diam. Katak itu diam, sementara air menjadi semakin panas, semakin panas...dan ketika akhirnya sang katak tidak tahan lagi, ia sudah kehilangan tenaga untuk meloncat. Apakah umat manusia seperti itu?

Ketika pemanasan global sudah terlalu berat untuk ditanggung, manusia sudah kehabisan tenaga dan tidak bisa lagi apa-apa. Itu akan terjadi, kalau kita diam saja. Seperti katak. Tetapi syukurlah, kita bukan katak dan kita tidak diam saja selagi semuanya masih sanggup kita kerjakan. Kita masih bisa melakukan sesuatu, yang tidak terlalu drastis atau ekstrim, untuk mengatasi masalah ini. Dan kita punya kesanggupannya sekarang, kalau kita bersedia mengurangi kepentingan manusia dan mulai memperhatikan kepentingan dunia yang setiap hari kita injak.

Satu hal yang harus kita sadari: bahwa TUHAN pun ketika selesai menciptakan, Ia memberkati ciptaan-Nya, dunia ini. Jika TUHAN memberkatinya, bolehkah kita bersikap sembrono dan membiarkannya rusak? Jika masalah pemanasan global hanya berkaitan dengan pemerintah, itu hanya masalah politik. Barangkali, kita tidak perlu terlalu memusingkan hal itu. Namun sekarang kita tahu, demikian Firman Tuhan, bahwa Ia memberkati hari ketujuh dan menguduskannya. Hari ketujuh adalah puncak dari segala waktu penciptaan, mewakili keenam hari lainnya beserta segala yang diciptakan-Nya. Ini adalah hari yang dikuduskan, hari yang dipisahkan bagi TUHAN, karena Dia sudah memberi waktu-Nya selama 6 hari bagi bumi beserta isinya.

Bumi itulah yang menjadi tanggung jawab kita, sebagai satu-satunya mahluk yang berelasi khusus dengan TUHAN. Bumi yang diberikan TUHAN untuk dikelola manusia, dikuasai semuanya -- langit, darat, dan lautan. Dosa telah membuatnya terkutuk. Dosa telah membuat bumi mengeluarkan semak belukar, dan untuk sementara waktu menyusahkan hidup manusia. Tapi sekarang, manusia tidak lagi disusahkan oleh alam. Sekarang, alam yang dirusak oleh manusia, masih oleh karena dosanya.

Ketika anak-anak Tuhan telah mengalahkan kuasa dosa, seharusnya kita juga menang terhadap kuasa yang merusak bumi. Jangan lupa. Jangan tidak perduli. Ini bukan masalah politik, bukan sekedar urusan pemerintah, apalagi jika mereka bukan orang yang takut akan TUHAN! Ini adalah urusan kita, bagian kita. Hak kita, untuk memelihara bumi, untuk mengusahakannya. Kita bisa ambil bagian untuk menyelamatkan bumi, sesuai dengan kesanggupan yang Tuhan sudah berikan. Mungkin kita punya kapasitas besar untuk merumuskan kebijakan, untuk membuat keputusan di tingkat pemerintahan, atau tingkat korporasi. Tetapi, mungkin juga kita berada dalam lingkup yang lebih kecil, dengan cara yang lebih sederhana.

Seperti, mengganti bola lampu pijar yang menghamburkan daya dengan lampu hemat listrik yang sama terangnya. Atau mungkin kita bisa mengajak teman-teman kantor untuk berangkat bersama-sama dalam satu mobil, jika kita tinggal dalam satu kompleks perumahan yang sama. Kita bisa mematikan lampu yang tidak terpakai, televisi yang tidak ditonton, atau AC di ruangan yang kosong. Setiap orang bisa ambil bagian dengan caranya sendiri, bukan hanya sekedar ikut-ikutan, tetapi sebagai pewaris karunia Tuhan.

Selamat hari bumi, mari kita memenuhi tanggung jawab kita, supaya kita boleh mengangkat wajah di hadapan TUHAN yang telah menciptakannya. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny