Cari Blog Ini

24 Desember 2006

Selamat Natal

Salam dalam kasih Kristus,

/>SELAMAT NATAL

SELAMAT NATAL

SELAMAT NATAL

SELAMAT NATA

SELAMAT NAT

SELAMAT NA

SELAMAT N

SELAMAT



Benar, dengan setulusnya dan dengan segenap hati, saya mengucapkan selamat. Tentang Natalnya, tentu saya juga ucapkan, tetapi mungkin tidak semua teman mengerti apa maksudnya "Natal". Kalau kata "SELAMAT", semua orang mengerti. Semua orang tahu. Semua orang mau.



Siapa yang tidak mau selamat? Kata "selamat" berhubungan dengan keberuntungan, keamanan, kesehatan, kesejahteraan, serta segala hal baik lain yang diimpikan manusia. Kita tentu ingin semua damai, semua senang, semua bahagia; itulah selamat. Kita menginginkannya setiap waktu, itulah sebabnya kita mengucapkan "selamat pagi", "selamat siang", "selamat sore", dan "selamat malam". Sudah merupakan sopan santun dan kebiasaan kita, orang Indonesia, untuk mengucapkannya setiap saat, baik dalam perjumpaan maupun pembicaraan di telepon. Peristiwa Natal pun tidak jauh dari "selamat", dan kita mengharapkan apa yang baik di saat istimewa ini.



Berapa banyak yang memahami makna "NATAL" dalam ucapan "Selamat Natal"? Mari kita lihat.



Yang pertama, "Natal" artinya "kelahiran". Kelahiran siapa? Tentu saja, kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Tetapi sampai di sini sudah timbul beberapa penyangkal, karena ternyata ada juga orang yang tidak mengakui kelahiran Yesus. Mereka ini bilang, mungkin ada orang yang namanya Yesus dan menjadi orang istimewa sekitar 2 millenium lalu, tetapi tentunya tidak lahir seperti yang digambarkan. Ibu-Nya bukan seorang anak gadis perawan, lahirnya tidak diiringi kehadiran malaikat di padang, dan orang-orang majus hanya rekaan belaka. Semua hanya legenda yang dikisahkan oleh orang-orang yang begitu ingin percaya, serupa dengan banyak kebudayaan lain pada waktu itu. Mereka menunjukkan berbagai cerita hikayat dari mesopotamia, dari yunani, dari entah mana lagi, yang menunjukkan cerita yang mirip. Kata mereka: bukan hanya Yesus yang lahir dari anak dara! Semuanya sama: hanya kisah belaka.



Nah, waktu mereka mengucapkan "Selamat Natal", kira-kira apa maksud "Natal" dalam ucapan selamat itu?



Pemahaman ini berbeda dengan apa yang saya maksudkan dengan SELAMAT NATAL. Karena saya mengucapkan Natal karena yakin dan percaya dengan sepenuh hati, bahwa 2 millenium lalu sungguh telah lahir seorang bayi dari anak dara Maria, yang bernama Yesus, dan menjadi Tuhan dan Kristus. Ini bukan rekaan, bukan kisah, melainkan sejarah -- serupa dengan sejarah kelahiran saya sendiri, atau sejarah kelahiran nenek moyang saya. Ini sejarah yang nyata dan menentukan keberadaan keluarga saya, sekalipun kami tidak tahu detil kelahiran nenek moyang kami -- hanya tanggal saja. Kita bahkan sebenarnya tidak tahu tanggal kelahiran Yesus Kristus, tetapi kita tahu bahwa kelahiran-Nya nyata dan bermakna.



Yang kedua, kelahiran dalam "Natal" merupakan kelahiran yang istimewa, karena inilah kelahiran Juru Selamat. THE Savior. Kelahiran-Nya bukan sesuatu yang biasa, seperti kelahiran milyaran manusia lainnya, melainkan reinkarnasi ALLAH yang menjadi manusia. Tetapi, bagian ini pun disangkali sejumlah orang. Mereka tidak menganggap kelahiran-Nya istimewa, atau ada sesuatu yang perlu diperhatikan dari keberadaan diri-Nya, karena Ia dianggap manusia saja. Orang yang istimewa, tetapi masih manusia biasa dengan segala kesalahan dan kekurangan. Mereka mengatakan, murid-murid-Nya membuat Dia menjadi seperti dewa dengan segala kuasa dan mujizat, tetapi semua itu mitos, a myth. Allah mungkin ada di luar sana, tetapi Ia tidak akan turun dan membatasi diri-Nya dengan menjadi manusia; untuk apa? Bukankah Allah bisa memperoleh apa pun yang dikehendaki-Nya, hanya dengan cara berfirman? Sebaliknya, Allah sudah membuat awal dunia ini, membiarkannya berevolusi, dan mungkin Allah tidak lagi peduli. Kini adalah bagian manusia untuk mengerti alam semesta ini dan memanfaatkannya, demikianlah keyakinan mereka. Jadi, kelahiran Yesus adalah kelahiran seorang besar yang ajarannya menjadi pedoman moral bagi banyak budaya di muka bumi, demikianlah mereka simpulkan.



Ini kesimpulan yang berbeda, karena saya yakin dan percaya bahwa Yesus adalah Allah dengan segala kemuliaan-Nya, yang mengosongkan diri-Nya dan lahir sebagai manusia, menjadi Anak Manusia. Maka, peristiwa Natal adalah kejadian yang amat luar biasa, karena itulah saat di mana Allah berada di tengah-tengah manusia, memancangkan batu pertama Kerajaan Allah di atas dunia dengan darah dan daging-Nya sendiri. Tuhan Yesus adalah Allah yang luar biasa, yang menyatakan diri dengan segala tanda dan mujizat yang jelas, nyata, dan disaksikan banyak orang. Tidak ada orang yang merekayasa segala mujizat itu, semuanya adalah apa yang terjadi, yang mempengaruhi hidup banyak orang, bahkan hingga hari ini.



Yang ketiga, kelahiran Tuhan Yesus ada tujuannya, yaitu untuk mendatangkan keselamatan bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya. Perjalanan Yesus bukanlah perjalanan yang mudah, karena Ia menuju penderitaan, bahkan kematian di kayu salib di Golgotha, agar Ia bangkit kembali pada hari ketiga. Ah, namun hal ini pun tidak diterima semua orang. Sebaliknya, banyak orang menyangkali penderitaan Yesus, kematian Kristus, apalagi kebangkitan-Nya. Mereka mengatakan bahwa Yesus tidak mati disalib, karena sebenarnya ada yang menggantikan Dia; kalau Yesus diangkat naik ke Sorga, bukan Dia yang mengalami salib -- katanya, bagaimana mungkin orang suci dari Allah mengalami penistaan sehebat itu? Kelahiran Yesus adalah kelahiran nabi Allah yang besar, yang luar biasa mulia dan perkasa, dan tidak ada keburukan yang terjadi terhadap-Nya. Soal dosa manusia, urusannya adalah bagaimana manusia mencari pahala mengimbangi kesalahan yang dilakukannya. Maka mereka melakukan segala ritual dan puasa dan mengatur cara hidup serta masyarakatnya.



Tapi, mereka tidak mengerti bahwa makna tertinggi, yang membuat Kristus dimuliakan Allah, adalah pengorbanan-Nya di kayu salib. Kelahiran Yesus bukan hanya untuk menjadi "nabi Allah" atau orang besar, melainkan untuk menebus dosa manusia. Ia menggantikan kita menerima hukuman, menanggung salib yang seharusnya kita alami. Itu adalah tujuan yang amat mulia, yang diselesaikan-Nya dengan sempurna. Itulah sebabnya, kita sampai hari ini merayakan Perjamuan Kudus, seperti yang dikehendaki-Nya untuk selalu kita ingat. Ya, jangan pernah melupakan Paskah ketika merayakan Natal.



Maka, dengan begitu banyak orang yang memiliki keyakinan berbeda tentang NATAL, maka ijinkan saya sekali lagi mengucapkan SELAMAT. Karena, rasanya Tuhan Yesus pun datang untuk memberi keselamatan, bukan menjadi raja yang menguasai dunia (walaupun, sebenarnya DIA ADALAH RAJA). Maka semangat Natal adalah semangat untuk memberi "Selamat" kepada semua orang, apa pun yang ia yakini, bagaimana pun caranya ia percaya, bahkan sekalipun ia tidak percaya sama sekali pada Tuhan. Karena, tak peduli apa pun keyakinannya (atau ketidak-yakinannya), manusia membutuhkan selamat dalam segala hal yang dikerjakannya, dalam perjalanannya, dan dalam perang yang dilakukannya.



Mudah-mudahan, SELAMAT itu bisa dirasakan banyak orang, menyentuh hati mereka, mengubah hidup mereka. Mudah-mudahan, mereka bukan saja menikmati apa yang disampaikan dengan ucapan selamat, tetapi juga boleh mengerti NATAL, karena hanya dalam NATAL itu saja terkandung keselamatan yang sesungguhnya. Hanya dalam Nama Yesus saja orang diselamatkan, dan tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang olehnya manusia bisa memperoleh selamat. Karena kita mengasihi sesama manusia, seperti Allah mengasihi dunia.



Salam kasih,

Donny



23 Desember 2006

Superman

Saya belakangan ini sering menonton film seri "Smallville". Oh ya, ini cerita tentang Superman muda, semasa ia masih baru 16 tahun dan dipanggil Clark Kent. Rasanya begitu menarik menontonnya, melihat bagaimana seorang remaja menghadapi masalah dalam hidupnya karena ia begitu istimewa.



Betul, memang dari kecil saya nge-fans pada Superman, selalu berkhayal bisa melayang kesana ke mari dan menyelamatkan orang-orang. Tetapi, seri ini memberi perspektif lain, karena para penulis dan sutradaranya cukup kreatif untuk menampilkan bagaimana seandainya ada Clark Kent, putra Kripton, yang bersekolah dan menghadapi keseharian yang aneh-aneh di Smallville.



Yang pertama, tentu saja ia tidak dapat menyatakan jati diri yang sebenarnya. Masalahnya, hal-hal akan terjadi berbeda atas dirinya; dia kan tidak akan mati kena peluru, kena api, atau harus bertahan menghadapi tornado. Tidak perlu. Clark Kent mempunyai tubuh dan kemampuan yang ajaib, yang membuatnya menjadi berbeda. Tapi justru disanalah masalahnya: ia berbeda. Ia ajaib.



Ini memang hanya tontonan, dari sebuah cerita yang sudah lama sekali (menurut ukuran jaman modern) tentang Superman -- yang masih digemari hingga saat ini.

Namun, ada hal lainnya.



Kadang-kadang, saya merenung bahwa kita dalam satu atau lain hal, serupa dengan Clark Kent. Coba lihat: Clark Kent mempunyai bapa di dunia ini, tetapi Bapa yang sebenarnya adalah Jor-El, dari Kripton. Ia meninggalkan dunianya yang musnah, meninggalkan segala keajaiban budaya dan teknologi yang amat maju, untuk hidup sebagai anak petani di kota yang kecil. Bukankah kita pun memiliki Bapa di Surga, namun tetap hidup di atas planet bumi ini?



Kita memang tidak mempunyai kekuatan fisik yang super, seperti yang dimiliki Clark Kent. Tetapi kita mempunyai Roh Kudus, yang jauh melebihi segala roh yang ada di muka bumi ini, dan memampukan kita menghadapi berbagai macam hal dengan cara yang berbeda.



Yang pertama, kita tidak lagi takut pada kematian. Ini sangat membedakan kita dari segala manusia lain. Bukan berarti kita tidak akan mati, tetapi kematian tubuh ini hanya sementara karena hidup kita yang sebenarnya adalah kekal.



Yang kedua, kita juga tidak takut pada penderitaan, selama kita berada dalam kebenaran dan keadilan karena Kristus. Jika kita menderita karena Kristus, itu adalah anugerah, suatu kesempatan yang luarbiasa untuk turut mengalami kesusahan Kristus. Bagi Rasul Paulus, itu adalah suatu karunia yang hebat.



Yang ketiga, kita pun tidak perlu takut pada kehilangan. Banyak orang merasa takut kehilangan sesuatu di atas bumi ini, kehilangan harta, kehilangan kesempatan berkuasa. Tetapi kita tahu bahwa harta kita berada di Surga, di mana ngengat dan karat tidak dapat merusakkannya dan pencuri tidak dapat mengambilnya. Kita yang berada dalam Kristus akan berkuasa untuk melayani, sedemikian rupa sehingga yang terbesar di antara kita adalah yang paling besar dalam melayani.



Bukankah karunia-karunia untuk beriman ini telah membuat kita menjadi super, dalam aspek tertentu? Tetapi itu bukan untuk disombongkan, sebaliknya kita hanya menjadi orang biasa yang menahan diri, merendahkan diri. Dan indahnya, kita tidak perlu menyembunyikan identitas kita, atau kemampuan kita di dalam Tuhan dengan cara berdusta seperti yang dilakukan Clark Kent (dan lama-lama jadi menyebalkan juga).



Tidak perlu berdusta, karena kita pun bisa mengajak orang yang kita kasihi untuk mengalami keajaiban menjadi anak-anak Tuhan. Bukan hanya kita, tetapi kepada mereka pun Tuhan memberikan karunia menjadi anak-anak-Nya, jika kita bersedia untuk memberitakannya.



Bukankah ini super? Terpujilah TUHAN!



Salam kasih,

Donny

22 Desember 2006

My Blog Bener-Bener kena banjir

Ternyata, setelah ditinggal cukup lama, Pikiran Donny dibanjiri oleh posting liar yang entah apa isinya.



Duh...membersihkannya lama juga yah.

Halo, Selamat Natal

Selamat Natal.



Semoga, mulai sekarang Pikiran Donny bisa lebih banyak terisi. Dan mungkin juga sudah waktunya merenung lebih banyak tentang berbagai macam hal.



Salam kasih,

Donny





powered by performancing firefox

11 Juni 2006

Intermezzo: Spiritual Leadership

Salam dalam kasih Kristus,

Di ibadah hari Minggu yang cerah ini, saya mendapatkan sesuatu yang
mengesankan. Ya, kotbah hari ini dipimpin oleh Pdt. Caleb Tong, dan seperti
biasanya beliau penuh ketajaman dalam menyampaikan pesan. Kotbahnya sendiri
memang mengesankan, berbicara tentang kemurahan hati dan bagaimana Gereja
yang Injili juga dapat memberi sumbangan besar bagi korban bencana,
bagaimana hati yang digerakkan Injil bukan hanya berbicara tentang doktrin
tetapi lebih dari itu: melakukannya. Tapi, selain pemberitaan Firman yang
menggugah ini, ada hal lain yang mengesankan.

Hal yang terasa berkesan itu adalah: bahwa sebenarnya, tadi pagi darah masih
mengucur dari hidung Pak Caleb. Beliau mengalami musibah beberapa hari lalu,
dan kalau mengikuti saran dokter seharusnya Pak Caleb tidak berkotbah.
Matanya masih belum fokus, bicaranya pun masih terganggu. Tetapi hatinya
lebih mengutamakan pemberitaan Firman, kepentingannya lebih condong pada
melayani Tuhan, maka pagi-pagi ia sudah mempersiapkan diri. Dan Pak Caleb
tidak setengah-setengah dalam menyampaikan kotbah; ia menyampaikannya dengan
penuh, lengkap, tanpa dikurangi. Waktunya bahkan lebih lama daripada
pengkotbah lain, yang lebih muda dan sehat, untuk suatu bahasan yang
menyeluruh.

Saya menemukan kesiapan semacam ini merupakan hal yang mengesankan, satu
pelajaran sendiri yang saya terima pagi ini. Dan sikap seperti ini bukan
pertama kali saya jumpai dalam diri para pemimpin Gereja. Saya sebelum ini
menemukannya pada diri Ibu Dorothy I. Marx, pada diri Pak Joseph Tong, dan
juga --walau tidak secara langsung-- pada diri Pak Stephen Tong. Sikap untuk
memberikan diri secara total, dan menunjukkan diri sebagai teladan. Dan
sikap ini bukan baru sekarang, karena Alkitab sudah menunjukkan sikap ini
sejak lama, dalam diri Rasul Paulus. Coba simak suratnya kepada jemaat di
Korintus:

~~~~~~~~~~~
1 Kor 4:9:16 Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para
rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah
dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi
malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi
kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi
kami hina.

Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup
mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki,
kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami
tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia,
sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini. Hal ini
kutuliskan bukan untuk memalukan kamu, tetapi untuk menegor kamu sebagai
anak-anakku yang kukasihi.

Sebab sekalipun kamu mempunyai beribu-ribu pendidik dalam Kristus, kamu
tidak mempunyai banyak bapa. Karena akulah yang dalam Kristus Yesus telah
menjadi bapamu oleh Injil yang kuberitakan kepadamu. Sebab itu aku
menasihatkan kamu: turutilah teladanku!
~~~~~~~~~~~

Jemaat di Korintus mungkin membanggakan diri dengan kemegahan dan kemakmuran
mereka, segala kemuliaan yang dapat dibayangkan orang. Tetapi jika
kesejahteraan menjadi ukuran, maka para rasul tidak mempunyai tempat! Bagi
para rasul, keberadaan mereka bahkan "telah menjadi sama dengan sampah
dunia," yang sama sekali tidak berarti bagi dunia. Tetapi oleh para rasul,
kekristenan disemai dan bertumbuh, bahkan hingga menjadi besar saat ini.

Tentu saja, keadaan Pak Caleb Tong tidaklah separah para rasul. Kita tidak
dapat mensejajarkannya dengan para rasul. Ia tidak perlu lapar, haus,
telanjang, dipukul dan hidup mengembara, dan seterusnya. Ia masih bisa
menikmati keberadaannya sebagai pemimpin gereja yang besar, masih menikmati
pelayanan dari banyak orang. Namun kita tidak perlu memikirkan
perbandingan-perbandingan kesusahan atau 'kebesaran' mereka, tetapi lihatlah
pokok utama yang mereka tunjukkan: "Turutilah teladanku!"

Ini adalah kepemimpinan spiritual, sebuah kepemimpinan yang menggerakkan
orang lain secara spiritual. Pokoknya bukanlah perilaku apa yang harus
diikuti, tidak seperti keteladanan moral dan sikap yang pada umumnya dibahas
orang. Di dalam kepemimpinan spiritual ini, ada ajakan, dorongan, himbauan,
bagi orang lain untuk mencapai tingkat spiritual yang serupa. Dengan tingkat
spiritual itu, orang dapat melakukan hal-hal yang secara esensial serupa
dengan teladan yang diberikan oleh sang pemimpin, walau dalam konteks yang
berbeda.

Maka, pada pagi hari ini saya tergerak untuk mengikuti teladan spiritual
dari Pak Caleb, dalam konteks yang saya hadapi. Saya tergerak untuk
menyisihkan kesusahan sendiri, agar bisa membagikan kemurahan pada orang
lain. Saya tergerak untuk menyangkali kemalasan sendiri, agar bisa
menuliskan hal-hal ini dan menggerakkan orang lain juga. Tentu saya tidak
mempunyai konteks kehidupan Pak Caleb, tetapi saya bisa melakukan hal-hal
yang secara esensial serupa dalam konteks saya, misalnya melalui internet
dan milis, seperti yang Anda baca ini. Karena, saya sebenarnya tidak dalam
keadaan cukup baik. Saya masih harus mengusahakan agar beban-beban finansial
keluarga kami terpenuhi. Saya masih harus memikirkan bagaimana bisnis kami,
agar besok kami masih bisa makan. Dan saya masih harus mengerjakan beberapa
hal yang cukup mendesak di pertengahan bulan Juni 2006 ini.

Spiritual leadership yang saya alami selama ini telah mendorong saya untuk
mengambil sikap. Bukan hal yang mudah, karena di mata sebagian orang, apa
yang saya lakukan bukanlah hal yang tepat untuk dilakukan. Begini, saya
telah berhenti bekerja di akhir tahun lalu, dan sejak itu saya berusaha
sendiri. Tetapi keadaan ekonomi memang tidak begitu baik, jadi usaha baru
yang dirintis juga tidak selancar yang dibutuhkan. Akibatnya, kami mengalami
tekanan finansial yang cukup besar belakangan ini. Kalau saya bilang "no
problem" maka tentu saya berdusta, karena hal itu menjadi masalah nyata
sekarang.

Dalam keadaan bermasalah di keuangan ini, saya dan istri menemukan peran
baru, sebagai konsultan keuangan. Heran? Sebenarnya, itu adalah istilah bagi
agen asuransi -- disebut "Financial Consultant" karena kami dibekali
sejumlah produk yang mampu membantu orang lain untuk menyelesaikan masalah
finansial mereka di masa depan. Produk itu adalah kombinasi antara asuransi
dan investasi, dengan tingkat pengembalian yang tinggi dan menguntungkan
nasabah.

Masalahnya dengan produk asuransi: komisi yang diterima oleh agen dihitung
dari besarnya premi dasar asuransi yang diterima, bukan dari besaran
investasinya. Jadi, kalau kami menginginkan komisi lebih besar, kami harus
mengatur agar premi dasar asuransi diperoleh sebesar-besarnya. Tapi hal ini
berarti memperkecil investasi, dan ujung-ujungnya merugikan nasabah.
Sekarang bagaimana? Masalah finansial seharusnya telah mendorong kami untuk
mengusahakan sebesar-besarnya premi dasar asuransi, dengan demikian kami
memperoleh komisi lebih besar dan selamat dari tekanan finansial ini. Namun
bukan itu yang kami lakukan. Pada akhirnya kami tetap menghitung
sebesar-besarnya investasi, agar memberikan keuntungan maksimum kepada
nasabah. Itulah yang terjadi dengan polis-polis yang kami hasilkan.

Di ujungnya, kami memenuhi apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh asuransi:
keuntungan nasabah. Bodohkah, kalau lantas kami sendiri masih tertekan
secara finansial?

Saya tidak merasa bodoh, karena inilah kepemimpinan spiritual yang saya
ikuti. Nah, sampai sini mohon jangan keliru memahami; saya tidak sedang
menawarkan apa pun kepada teman-teman sekalian. Saya hanya ingin
menunjukkan, seperti itulah yang ada dalam konteks kehidupan saya sekarang.
Tentu, tiap orang dapat memiliki konteks yang berbeda, tetapi secara
esensial melakukan hal serupa. Membagikan kebaikan secara total. Hidup dalam
kebenaran dan keadilan. Menunjukkan kerendahan hati, belas kasihan, dan
kelemah-lembutan.

Bagaimana dengan gereja kita? Apakah ada Spiritual Leadership di sana? Ada
gereja yang berdiri dengan fondasi yang terpancang di atas batu karang
legalisme. Philip Yancey dalam bukunya "Gereja: Mengapa Dirisaukan?"
(terjemahan dari "Church Why Bother?"), menuliskan tentang gereja masa
kecilnya: "Mereka berbicara tentang anugerah tetapi sesungguhnya mereka
hidup dengan hukum, mereka berbicara tentang kasih tetapi sesungguhnya
mereka memperlihatkan tanda-tanda kebencian." Namun, bukankah deskripsi ini
dapat diterapkan juga dalam lingkungan-lingkungan kita? Bukankah kita pun
menemukan bagaimana orang-orang berseteru dalam gereja, bahkan sampai
membawanya ke pengadilan negeri?

Mengapa harus seperti itu? Coba hitung, berapa banyak orang Kristen yang
tidak lagi pergi ke gereja? Mereka di masa mudanya mendapatkan lingkungan
yang penuh disiplin dan aturan, mula-mula terasa baik dan melindungi, tetapi
kemudian menjadi hambar. Menyebalkan. Tidak ada kepemimpinan spiritual di
sana; yang ada hanyalah aturan dan hukuman bagi pelanggarnya. Kalau tidak
dihukum sekarang (dengan misalnya, 'siasat gerejawi'), kelak akan dihukum
masuk neraka. Dengan semua ancaman, tidak ada motivasi lain untuk melakukan
hal ini atau itu selain menghindari hukuman. Apa maknanya bersikap baik,
jika pendorong utamanya adalah agar tidak dicela orang lain?

Betul, orang bisa digerakkan oleh ancaman, tetapi tidak dalam waktu panjang.
Pada akhirnya ancaman itu akan kehilangan taringnya dan orang mulai bersikap
apatis. "Peduli amat!" "Emangnya gua pikirin?" Serta merta melanggar semua
aturan dan kekangan, apalagi jika ternyata "melanggar itu enak euy!"
Dibutuhkan motivasi lain untuk menggerakkan jemaat, untuk membuat orang
dapat melepaskan bajunya dan berkeringat membangun bersama-sama. Itulah
spiritual leadership yang ditunjukkan, yang diikuti dengan seruan "turutilah
teladanku!"

Sekarang, mengapa pula orang harus mengikuti suatu kepemimpinan dalam
bergereja? Pada kenyataannya, ada saja orang yang menyetarakan gereja dengan
hiburan. Apa bedanya pergi ke gereja dengan nonton di bioskop? Orang merasa
perlu terlayani di sana, menjadi penonton dari berbagai acara atau liturgi
gereja. Di gereja protestan, aktor utamanya adalah pendeta di atas mimbar.
Jemaat menjadi penonton dan pendengar; dan kalau pendetanya tidak menarik,
ada saja orang yang mendengkur. Bagi mereka yang hadir sebagai penonton,
tentu saja kepemimpinan tidak terlalu berarti. Toh orang hanya datang,
duduk, memberi duit, lalu pergi lagi.

Coba pikirkan lagi: dalam setiap ibadah, siapa yang sesungguhnya menjadi
pelaku, dan siapa penontonnya? Tuhan tidak menciptakan dunia ini agar Ia
menjadi Aktor sementara manusia-manusia bodoh menjadi penonton. Sebaliknya!
Tuhan mengawasi kita sekalian, dan kitalah yang menjadi pelaku-pelaku
kehidupan. Bisa dikatakan, urusan terpenting yang dihadapi manusia adalah
bagaimana tampil dengan baik di hadapan Sang Penonton, dan untuk itu kita
membutuhkan kepemimpinan. Di Gereja kita hadir untuk menyembah Dia yang
mengawasi kita, dengan sorot mata seperti seorang Bapa memandang
anak-anak-Nya.

Karena itu, urusan kita adalah mendengar Rasul Paulus berkata "Turutilah
teladanku!" maka kita memberkati ketika dimaki, sabar ketika dianiaya, dan
menjawab dengan ramah ketika difitnah. Dan Rasul Paulus sendiri malah
meneladani Tuhan Yesus, yang juga memberikan teladan-Nya bagi kita. Bukankah
tujuan hidup kita di dunia ini adalah untuk menjadi serupa seperti Kristus?
Baiklah kita hidup di dalam Dia yang menghidupkan. Terpujilah TUHAN!

Salam kasih,
Donny

17 Maret 2006

Persembahan Yang Sejati

Rom 12:1 Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.


Apa yang diharapkan dari seseorang yang baru lahir dalam Kristus? Yang pertama, biarlah dia menjadi anggota gereja. Ikut pelajaran, kemudian dibaptis. Yang kedua, biarlah dia boleh ikut dalam berbagai aktivitas gereja. Yang ketiga, biarlah dia boleh setia memberikan persembahan.


Persembahan apa? Tentu saja, uang persembahan. Kolekte di hari Minggu.
Persembahan bulanan. Persepuluhan.


Yang keempat, jika memang dia mau dan mampu, biarlah dia juga mengambil bagian dalam pekerjaan Gereja: jadi aktivis komisi, bagian dari panitia, jadi diaken atau kalau sudah cukup senior, menjadi majelis atau penatua.
Yang kelima, kalau memang dia mendapat panggilan, mungkin dia bisa menjadi penginjil atau jadi hamba Tuhan alias pendeta.


Begini, mungkin ada yang merasa bahwa bukan seperti ini yang diajarkan di Gereja. Dan tentu saja, hal-hal ini pun bukan sesuatu yang diajarkan berdasarkan doktrin tertentu, sama sekali bukan. Tetapi setelah mengamati dan mengalami, rasanya inilah yang terjadi di berbagai gereja dan menjadi seperti yang di atas. Marilah kita merenungkan hal-hal ini untuk sejenak.
Apakah terjadi dalam kehidupan kita dalam berjemaat dan bergereja?


Yang pertama, (hampir) seluruh gereja memikirkan tentang jumlah anggotanya.
Kita kagum dengan gereja yang jumlah anggotanya bertumbuh dengan pesat, dengan pembukaan pos dan bakal jemaat dan cabang di mana-mana. Kita belajar dan bertanya-tanya: bagaimana caranya? Walaupun mungkin kita sendiri tidak memikirkan secara sungguh-sungguh untuk menambahkan anggota gereja, tetap saja kita berpikir bahwa ini adalah hal yang penting. Dan jika ada seorang lahir baru, kita mengharapkannya untuk menjadi anggota gereja KITA.


Rasanya jarang sekali (atau tidak pernah?) kita menemukan ada pelayan Tuhan dari gereja A yang melayani seorang jemaat hingga ia lahir baru, lantas mengajurkannya untuk menjadi anggota gereja B yang letaknya lebih dekat dari rumah jemaat tersebut. Oh tidak, jika pendeta dari gereja A melayani seseorang, ia akan memintanya menjadi anggota jemaat gerejanya, betapa pun jauh jaraknya (dan betapa sukar memelihara hubungan dan pembinaan baginya).
Solusi dari hal ini adalah: bangunlah pos dan cabang di mana-mana, agar siapa pun senantiasa dekat untuk dilayani.


Tak heran, kita bisa menemukan adanya beberapa pos dan cabang dari beberapa gereja di SATU wilayah yang sama. Dan tak jarang pula kita jumpai adanya rasa kesal dan sebal karena jemaat berpindah gereja. "Dasar, pencuri domba orang!" bisik hati yang kesal. Mengapa marah melihat seseorang dapat dilayani dengan lebih baik dan bertumbuh di sana?


Yang kedua, hampir semua gereja juga memikirkan tentang jumlah peserta dari setiap program yang dilaksanakannya. Jika ada program pembinaan atau seminar, pertanyaan yang umum terlontar adalah "berapa pesertanya?" Bahkan tak urung, kesuksesan sebuah program atau acara ditentukan berdasarkan kehadiran. Jika pesertanya banyak, berarti acaranya sukses. Kalau sedikit, ada yang salah dengan kepanitiaan.


Karena hal ini, tak jarang gereja mengalokasikan waktu dan dana serta tenaga untuk publikasi, bahkan sampai memiliki penerbitan sendiri. Ilmu pemasaran bukan saja berguna untuk menjual produk dan jasa sekuler, tetapi juga penting untuk memasarkan suatu acara. Dibutuhkan banyak pemikiran dan upaya yang serius untuk melakukannya; bagaimana pun, ini adalah usaha untuk membagikan berkat dan berita dari Tuhan, bukan?


Tak ada yang salah dengan upaya publikasi yang baik, kecuali ketika jumlah kehadiran peserta menjadi lebih penting dari pesan yang mau disampaikan.
Ketika jumlah peserta sedemikian penting, sehingga acara gereja dengan sengaja di desain untuk menjadi populer, kalau perlu mengorbankan prinsip-prinsip penting. Pernahkah kita dengar ucapan seperti, "oh, kalau mau acaranya sukses, tidak usahlah membahas soal dosa. Bahas saja tentang prinsip-prinsip kemakmuran..."


Apakah gereja sedang mengajar jemaatnya, atau sedang memuaskan telinga mereka dengan memberi apa yang ingin mereka dengar?


Yang ketiga, inilah yang seringkali diharapkan oleh gereja: berikanlah persembahan. "Berikan yang terbaik," kata pengkhotbah dari atas mimbar, yang dapat ditafsirkan dengan "berikanlah lebih banyak uang." Urusan pemberian ini telah menjadi faktor umum di berbagai gereja, dan sepertinya uang telah menjadi alat persembahan yang paling disukai. Sampai ayat yang berbunyi, "siapa yang menabur, dia akan menuai" dikorelasikan secara langsung dengan
uang: siapa yang memberi banyak, akan menerima banyak.


Bukankah hal ini membuat gereja terdengar seperti mesin uang? Tetapi, tak sedikit orang yang 'menanamkan' uangnya di gereja dengan harapan Tuhan akan melimpahkan berkat berlipat kali ganda. Padahal, jika kita sungguh-sungguh mempelajari Alkitab, tak pernah ada bagian yang menyatakan Tuhan menjadi mesin uang bagi umat-Nya. Hidup yang berkelimpahan dalam Tuhan bukan berarti menjadi orang yang kaya raya oleh harta dunia.


Mungkin banyak di antara kita yang akan segera berkata, bahwa bukan begitu yang terjadi di gerejanya. Benar, bukan itu yang diajarkan dalam gereja, karena bukan itu satu-satunya motivasi dalam hal uang persembahan. Tetapi coba perhatikan pokok-pokok doa atas masalah dalam gereja; bukankah ujungnya seringkali mengharapkan dana? Dan lihatlah juga bagaimana upaya ekstra telah dilakukan agar jemaat bisa ikut ambil bagian dalam program misi dan penginjilan, yaitu, dengan cara memberi uang persembahan. Dengan motivasi yang berbeda, bukankah ujung dari berbagai upaya gereja bermuara pada hal yang sama: menerima persembahan berupa uang? Dan betapa pusingnya pengelola gereja jika uang persembahan semakin kecil!


Sekali lagi, tak ada yang salah dengan uang persembahan, kecuali ketika upaya nyata yang bisa dilakukan orang untuk memberi persembahan adalah hanya dengan uangnya. Memberi persembahan uang adalah baik dan benar --tak perlu
diragukan-- kecuali ketika SATU-SATUNYA bentuk persembahan yang diberikan adalah uang, dinilai dari seberapa besar jumlah yang bisa diberikan.


Apakah kita melihat masalahnya? Pokok persembahan yang sejati tidak mungkin uang, karena berapa pun jumlah uang diberikan bagi persembahan, jumlahnya senantiasa KECIL bagi Tuhan. Ia mau kita memberi persembahan yang hidup, yaitu tubuh kita, keberadaan kita, bukan hanya sepersekian uang yang kita miliki. Atau, kalau memang sungguh-sungguh ingin memberi harta kekayaan, maka berikanlah SEMUANYA. Inilah yang diajarkan Tuhan Yesus kepada anak muda yang kaya itu, bukan? Persembahan uang tidak bisa menggantikan persembahan diri kepada Tuhan. Uang hanya menjadi tanda, suatu simbol, dari kehidupan yang dipersembahkan bagi Allah. Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang kudus, yang hidup, dan yang berkenan kepada Allah?


Yang keempat, setelah seorang menjadi senior cukup lama, diharapkan dia juga mulai menjadi pelayan bagi orang lain. Tentang hal ini pun kita bisa merenungkan beberapa hal, antara lain kenyataan yang sering terjadi di mana seseorang menjadi penatua atau aktivis komisi atau jabatan gerejawi lain karena hubungan sosial yang dimilikinya. Ukuran diterimanya seseorang sebagai pejabat gereja bukan lagi berdasarkan seperti apa kekudusan hidupnya, sejauh mana pengenalannya akan Tuhan, seberapa besar ketaatannya dan hatinya bagi Tuhan, serta seberapa jauh keterampilan dan pengetahuannya.


Tak sedikit orang menjadi penatua karena ia supel, karena banyak temannya, atau karena ia senang dan pandai berbicara. Atau, sering juga terjadi, ia adalah seorang yang berpengaruh, menjadi seorang yang kaya sebagai seorang pengusaha... Sampai-sampai pernah ada kesan, bahwa jabatan 'majelis gereja'
adalah bagian eksklusif yang tersedia bagi para pemilik perusahaan besar yang cukup kaya, untuk meluangkan waktu mereka. Jika seseorang tidak punya status sosial yang cukup tinggi, agak malu juga jadi majelis. "Kamu apa, kok jadi majelis?" "Ah, saya hanya seorang guru..." *malu*


Setidaknya, penampilan seorang majelis harus lebih baik: gantilah mobil dan belilah setelan jas yang baru. Dan ubah juga gaya berjalan dan berkata-kata, kini harus tampil lebih 'resmi' dong! (Oops, jangan pakai kata 'dong' kalau jadi mj ya?)


Tentu, tak ada salahnya seorang pemilik perusahaan besar menjadi majelis, apalagi ia sungguh-sungguh punya hati bagi Tuhan. Tak ada yang keliru menerima seorang yang pandai dan kaya dan berpengaruh menjadi majelis, kecuali ketika jabatan itu tidak lagi menjadi pelayan, melainkan posisi yang harus dilayani oleh orang lain, bahkan oleh pendeta. Akan juga menjadi salah jika sikap kepemilikan yang kuat melekat turut ditabur dalam kemajelisan, serta membuat gereja tak ubahnya menjadi salah satu perusahaan lain yang dikelola, dan majelislah tuannya. TUHAN tidak lagi jadi Kepala, melainkan hanya jadi pelanggan yang disuruh duduk saja di kursi empuk dan menunggu layanan disediakan.


Yang kelima, semoga ada orang yang menjadi hamba Tuhan. INILAH yang penting, inilah yang terutama, sehingga seperti kata Paulus, "celakalah aku bila tidak bisa memberitakan Injil!" Inilah bagian yang diamanatkan oleh Kristus, menjadi pokok yang diutamakan oleh jemaat pada gereja awal, hingga berkembang seperti hari ini, dua ribu tahun kemudian.


Tahu masalahnya apa? Masalahnya, yang terpenting ini telah menjadi yang kelima. Dan bukan itu saja, bahkan di banyak gereja, menjadi pemberita Injil dan pengkhotbah bukan lagi sesuatu yang diharapkan untuk dilakukan oleh jemaat, karena itu adalah tugas pendeta. Jemaat diharapkan ambil bagian dalam kepanitiaan, dalam komisi, dalam majelis, dalam persekutan doa, dalam banyak hal, kecuali untuk turut memberitakan Injil kepada dunia. Jangan ambil alih pekerjaan pendeta, yah!


Pemberitaan Injil telah direduksi, menjadi wilayahnya "hamba-hamba Tuhan"
saja, yang ditafsirkan dengan jabatan pendeta. Apakah kita yang lain, yang bukan pendeta, bukanlah "hamba-hamba Tuhan" juga?


"Tidak," kata sebagian orang. Maka, semakin hari semakin banyak orang Kristen berkerumun untuk mendengarkan berita Injil dari pendeta ini atau pendeta itu, dan berbondong-bondong menghadiri kebaktian yang dipimpin pendeta yang besar dan terkenal. Setelah mendapat siraman berkat Firman Tuhan, jemaat lantas pulang dan merasa puas dan menyimpan berita itu sendiri dalam hatinya.


Membagikan berita itu? Yah, ada juga yang melakukannya, tetapi berapa banyak?


SUDAH WAKTUNYA kita memulai persembahan yang sejati, yang benar. Bukan uang yang diharapkan, walau uang memang penting. Bukan aktivitas dalam kepanitiaan yang disebutkan Tuhan, walau menjadi panitia acara juga diperlukan. Tetapi inilah yang diamanatkan oleh Kristus kepada kita:
beritakan dan ajarkan Injil! Jadikan semua bangsa menjadi murid-Nya, dan baptiskanlah mereka! Inilah agenda Tuhan, misi yang diberikan Tuhan, bukan hanya kepada pengurus gereja, bukan hanya pada pendeta, melainkan pada kita SEMUA. Termasuk saya. Termasuk Anda juga.


Seharusnya, hal ini juga menjadi misi kita, agenda kita. Pemberitaan Injil adalah bagian yang KITA semua harus lakukan, harus upayakan. Untuk itu, kita semua harus mau belajar dan berkorban, mau bersusah payah untuk belajar Injil -- karena bila kita sendiri tidak belajar, lantas apa yang mau kita sampaikan? Belajar sekarang, beritakan besok, dan mudah-mudahan lusa kita bisa bersorak sorai karena satu lagi jiwa dimenangkan bagi Tuhan. ITU adalah hal yang penting: tak pernah Sorga bersorak sorai karena ada persembahan uang yang bermilyar-milyar jumlahnya, tetapi seisi Sorga bersukacita karena seseorang tidak lagi celaka.


Tentu, tidak mudah untuk belajar Alkitab. Ada harga yang harus dibayar, ada tubuh yang harus dipersembahkan. Namun bila hal ini memang penting dan berharga di mata Allah, mengapa tidak dilakukan? Seharusnya gereja lebih banyak mengalokasikan waktu dan dana dan tenaganya untuk menyampaikan berita kepada lebih banyak orang. Ini sama sekali tidak mudah, apalagi di tengah kuasa kegelapan yang membenci Kristus dan terang-Nya. Kita sudah lihat bagaimana orang berdemonstrasi menutup gereja, bahkan merusakkannya. Bisa dibayangkan, betapa sulitnya menjangkau orang-orang yang berdemonstrasi itu, untuk memberitahu mereka bahwa jika mereka hari ini tidak bertobat dan percaya kepada Kristus, mereka tidak akan selamat. Aduh sulitnya!


JUSTRU karena sulit, maka dibutuhkan lebih banyak persiapan, lebih banyak pelatihan dan sarana dan waktu dan tenaga. Apakah kita sudah memberi diri kita dipersiapkan, agar kita sendiri memiliki berita dan pengetahuan, serta memiliki hubungan dengan Tuhan? Berapa banyak kita mengalokasikan sumber daya kita untuk penginjilan? Berapa banyak waktu yang telah kita berikan untuk memberitakan kebenaran, dengan cara yang baik dan dapat diterima, kepada teman dan saudara kita yang belum percaya?


Jangan salah paham: jika kita bisa mengambil bagian dalam penginjilan, bahkan jika kita bisa berhasil memberitakan Injil dan mendapatkan seorang lagi saudara dalam iman kepada Kristus, semua itu BUKAN jasa dan hasil pekerjaan kita. Itu adalah karya Roh Kudus yang beranugerah dalam kehidupan kita. Kita menerima anugerah Tuhan bila boleh mengambil bagian dalam pemberitaan Injil, dan teman atau saudara kita menerima anugerah Tuhan karena ia boleh mendengar dan menjadi percaya. Jangan salah mengerti, jika kita memperbaiki fokus kita, hal itu bukan karena pekerjaan Tuhan tergantung pada keputusan dan pekerjaan kita sekarang. Bukan sama sekali.


Kita perlu memperbaiki fokus dalam persembahan yang sejati, agar kita tidak menolak anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan. Ingatkah kita pada perumpamaan tentang talenta yang dikisahkan Kristus? Lihatlah orang yang menerima satu talenta itu: ia tidak berfokus pada talenta yang diterimanya.
Ia berfokus pada pikirannya sendiri, pada kesimpulannya sendiri. Ia memikirkan dirinya sendiri; serta segala 'ketidakadilan' yang dialaminya karena hanya satu talenta saja yang ada di tangannya. Upayanya adalah upaya pemenuhan diri, memuaskan diri, menjadikan diri semakin nyaman, semakin kaya, dan semakin 'diberkati'.


Dengan melakukan hal itu, orang yang menerima talenta itu telah menolak anugerah tuannya, dan ia mengingkari tugas untuk memakai talenta itu demi kepentingan tuan yang telah memberikannya. Kita pun telah menerima talenta itu, berupa berita Injil yang kita miliki, walau pun mungkin kadarnya tidaklah besar. Apakah karena kita hanya memiliki sedikit saja pengetahuan tentang berita Injil, lantas kita berpikir lebih baik hal itu disimpan saja sendiri?


Seperti pagi atau malam ini mungkin, di mana kita telah bersaat teduh dan menerima sesuatu; tidakkah kita menerima sesuatu dari Tuhan? Apakah kita hanya menyimpannya saja sendiri, merasa bahwa hal itu hanya sebuah talenta kecil yang tidak akan mendatangkan hal besar bagi Tuhan, sebaliknya hanya menyusahkan diri sendiri saja? Kita lupa, talenta itu -- walau hanya satu -- adalah anugerah dari Tuhan, kesempatan dari Tuhan. Dia tidak membutuhkan satu talenta kita, tetapi Ia memberi karunia agar kita bisa mengambil bagian di dalam-Nya.


Tidakkah kita sekarang perlu bertanggung jawab kepada Dia yang telah beranugerah? Tuhan memberkati kita dengan berlimpah-limpah.


Terpujilah TUHAN! Amin.