Cari Blog Ini

17 Agustus 2016

INDONESIA KERJA NYATA

Apa artinya Kerja Nyata? Dalam perayaan Dirgahayu Indonesia Ke-71, motto yang dengan jelas diangkat adalah Kerja Nyata. Apakah makna yang bisa diperoleh dari sana? Untuk itu, mari sedikit mengulang sejarah.

Indonesia adalah wilayah yang besar dan kaya. Ada berbagai suku yang menempati 13.466 pulau, dengan berbagai hasil yang sangat berharga. Tanah pulau Jawa menjadi pusat peradaban, di sinilah bangsa-bangsa berdatangan. Dari arah barat, datang orang-orang India, membawa budaya dan agama. Candi Borobudur adalah bukti agama Buddha, di abad kesembilan oleh Dinasti Syailendra. Candi Prambanan adalah bukti agama Hindu, juga di abad kesembilan oleh Dinasti Sanjaya.

Bisa dibilang, kedua Dinasti ini berkompetisi. Satu Buddha, lainnya Hindu. Apakah mereka berperang? Tidak, mereka tidak saling bunuh. Yang mereka lakukan adalah kerja nyata, membuat keajaiban dunia. Sayangnya, di abad ke sepuluh terjadi letusan Gunung Merapi yang memaksa penduduk menyelamatkan diri, pindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok yang membangun Dinasti Isyana. Di abad ke-16, gempa bumi kembali meruntuhkan sebagian candi di Prambanan.

Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya berkuasa antara akhir abad ke-13 hingga awal abad ke-16. Dengan pusat di Trowulan, Jawa, Kerajaan Majapahit mempunyai area kurang lebih serupa dengan Indonesia saat ini. Puncak kejayaan Majapahit ada pada masa raja Hayam Wuruk, berkuasa 1350-1389. Banyak hal dalam kebudayaan di seluruh Indonesia, dibangun di dalam Kerajaan Majapahit; ini juga adalah kerja nyata. Majapahit adalah leluhur dari Bangsa Indonesia.

Soal kerja nyata berdirinya Majapahit, itu adalah sejarah yang menakjubkan, melibatkan perang dengan pasukan Kublai Khan dari Mongol, datang dengan 1000 buah kapal... ini mungkin ditulis dalam posting lain. Singkat kata, Indonesia sudah lama menjadi bangsa yang besar. Sayangnya, kita melupakan kebesaran itu, seperti orang-orang yang melupakan masa lalu candi Borobudur dan candi Prambanan. Dibutuhkan ketekunan orang Barat untuk menemukan kembali kebesaran Indonesia!


Mungkin ada keserakahan dan kebodohan yang melanda bangsa ini, sehingga sedikit orang-orang Belanda, Portugis, Inggris dari tempat yang jauh, bisa menguasai dan menjajah. Kebodohan yang membuat orang-orang kehilangan rasa hormat pada diri sendiri, kehilangan rasa hormat pada bangsa sendiri. Kita belajar lagi dari orang Belanda tentang kemanusiaan dan menjadi cerdas. Kita belajar lagi dari orang Jepang tentang kehormatan, tentang lebih baik mati daripada hidup tidak terhormat.

Dari pengetahuan itu, sejak awal abad ke-20, kesadaran untuk merdeka muncul. Bersatu sebagai Indonesia, tanah dan air dan langit menjadi saksi proklamasi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kemerdekaan adalah hak kita, hak segala bangsa. Tidak ada tempat untuk penjajahan, pilihannya hanya dua: Merdeka atau Mati.

Kerja Nyata rakyat Indonesia adalah menyatakan dan mempertahankan kemerdekaan ini, dengan menumpahkan darah dan air mata.


Sayang, ternyata kemanusiaan dan kehormatan tidak cukup. Bangsa Indonesia waktu itu harus belajar untuk menjadi negara merdeka, berubah dari budaya yang terbentuk selama tiga abad. Lepas dari kebiasaan diperintah dan diberi tahu; itu tidak mudah.

Lagipula, negara boleh berdiri namun penguasaan dan penjajahan masih bisa berlangsung terus. Tidak harus jadi pemerintah untuk bisa menguasai. Ada banyak kepentingan yang ingin mengeruk kekayaan Indonesia, sementara orang Indonesia sendiri belum cukup pintar dan terampil untuk mengeksplorasi dan mengolah kekayaan negeri sendiri.

Di utara ada Uni Sovyet, juga ada Cina. Setelah perang dunia kedua, Sovyet berperang dingin melawan Amerika. Kita mengingat sejarah pertempuran dari kedua blok itu di sepanjang sisi timur Pasifik: China vs Taiwan, Korea Utara vs Korea Selatan, Vietnam Selatan vs Vietnam Utara. Hari ini hanya Vietnam yang telah bersatu, Amerika Serikat sudah kalah dan meninggalkannya. Masih ada ketegangan di Korea, juga antara China daratan dengan Taiwan.

Kalau berpikir bahwa Indonesia luput dari perang dingin, mungkin kita keliru. Ketika Presiden Soekarno nampak mendekat ke Sovyet dan China, blok Amerika tidak akan tinggal diam. Eskalasi meningkat, sampai PKI yang merepresentasikan pihak China ingin menegaskan posisi kekuasaan. Terjadilah G30S PKI, yang membuka pintu bagi Amerika bekerja sama dengan Jenderal Soeharto mengambil alih kekuasaan.

Selama orde baru, tidak banyak yang dibangun; Indonesia menjadi pendiri dan penggerak Gerakan Non Blok, namun dari Amerika Serikat datanglah perusahaan-perusahaan besar yang mengeksploitasi di berbagai penjuru, dari Sumatra hingga Papua. Indonesia seperti kembali menjadi dinasti, Dinasti Soeharto, yang keluarganya menguasai banyak sekali hal, membuat tata niaga untuk segala macam hasil bumi.

Kita diajari untuk kagum pada Pemerintah, untuk menjadi Pegawai Negeri, dan sangat kagum pada bangsa Asing. Kita dibuat percaya bahwa produk dari luar negeri lebih baik, karena percuma berharap bisa membuat barang yang kualitasnya setara.


Kita dilatih untuk mempunyai kesetiakawanan sosial, yang berarti jangan jadi orang yang terlalu tinggi atau terlalu maju dibandingkan orang-orang lain. Mereka yang terlalu pandai justru dijauhi, karena bisa bikin susah. Kita belajar untuk taat pada perintah dan hormat setia pada Kepala. Jabatan menjadi kebanggaan dan sumber keuntungan, bukan suatu amanah.

Kita dibuat tidak peduli pada masa depan atau menjaga keluarga, karena bergantung pada nasib dan segala hal yang diberikan atau diijinkan oleh Pemerintah. Kalau Pemerintah bilang bangun pabrik tekstil, maka bangunlah pabrik tekstil. Siapa yang peduli membuat pabrik benang polyester? Kita membuat banyak industri yang membuat barang jadi, tapi tidak membuat industri bahan baku. Semua bahan baku harus diimpor!

Kita belajar disiplin dengan keras untuk mematuhi guru dan kepala sekolah yang membuat kita siap menjadi karyawan, tapi tidak kreatif menjadi pengusaha. Orang asinglah yang datang sebagai pengusaha, anak-anak kita siap menjadi karyawannya.


Ketika era reformasi datang, tidak ada lagi Uni Sovyet, tidak ada lagi perang dingin. Indonesia jatuh ke tangan korporasi-korporasi, jatuh ke bawah paham agama yang membawa gaya dan keyakinan Timur Tengah di Indonesia. Beragama menjadi urusan pakaian, urusan penampilan.

Orang Indonesia bicara moral, tetapi bukan moralitas Indonesia. Mau contoh? Berabad-abad, orang Indonesia biasa melihat payudara perempuan. Dari dahulu orang di Jawa sudah biasa melihat perempuan memakai kemben, belahan payudara adalah hal yang wajar dan biasa. Moralitas agamawi dan budaya serba-tertutup dari Arab yang sekarang membuat semua penampilan belahan dada di televisi harus dibuat buram!


Mungkin, memang orang Indonesia masih harus belajar untuk bangga dengan Indonesia. Islam Nusantara sudah lama, sejak abad ke-14 datang ke Indonesia, dan berabad-abad ada dengan corak Indonesia, dengan kebaya dan kemben dan sanggul. Bangsa ini hidup dalam kesopanan dan penghormatan pada perkawinan. Tetapi sejak era reformasi, orang di bawah pengaruh Timur Tengah itu ingin membuat Islam yang lain, yang asing bagi rakyat negeri ini.

Seberapa besar pengaruh orang asing terhadap bangsa ini? Bagaimana mereka, di belakang layar, melakukan lobi dan pendekatan pada penguasa, pada tokoh-tokoh politik, pada pimpinan dan anggota DPR yang katanya wakil rakyat itu? Mana kerja nyata yang sudah dibuat oleh DPR? Membuat UU Pilkada yang memaksa petahana untuk cuti selama 4 BULAN karena kembali ikut Pilkada? Rasanya, itu saja UU yang benar-benar dikebut oleh DPR. Untuk UU yang lebih penting seperti UU Pengampunan Pajak, mereka begitu lama membahasnya, menunda-nunda, sehingga saat akhirnya diluncurkan, hanya ada sedikit waktu saja untuk membuat semua petunjuk pelaksanaannya.

Apa yang sudah dibuat oleh Partai-Partai Politik yang puluhan tahun sudah merajalela di negeri ini?

Kita bersyukur bahwa hari ini, kita memiliki Presiden Jokowi yang kembali berdiri bagi Indonesia. Ada beban besar untuk kembali bekerja nyata, untuk melakukan apa yang benar, mengatakan apa yang benar, berdiri bagi apa yang benar.

Kerja berat, karena dimulainya dengan UU yang tidak karuan, yang tidak dibuat dalam kebijaksanaan demi kepentingan seluruh bangsa, seluruh penduduk dengan segala suku, agama, budaya. Apa boleh buat, bahkan Presiden pun harus mengikuti UU, apapun situasinya. Butuh waktu panjang dan lama, sebelum kita bisa mempunyai kesadaran untuk kerja nyata. Untuk memberi hasil, bukan cuma gaya.

Mari kita bekerja. Dirgahayu Republik Indonesia Ke-71, Kerja Nyata

Tidak ada komentar: