Cari Blog Ini

22 Januari 2010

Gamang

Hari-hari ini diisi dengan kebingungan di Amerika Serikat. Pasalnya, di dalam pemilihan wakil senat dari Massachusset, pemenangnya adalah Scott Brown dari Partai Republik. Ini merupakan kejutan, karena sebelumnya Massachusset diwakili oleh Ted Kennedy, basis kuat Partai Demokrat. Ada apa ini? Rupanya rakyat Amerika mulai gerah dengan sepak terjang pemerintahan Obama yang masih sibuk dengan reformasi sistem kesehatan. Sebuah reformasi yang 'ajaib' karena praktis membuat orang membayar pajak lebih besar untuk mendanai asuransi kesehatan yang dilakukan tanpa underwriting.

Prinsip dari asuransi adalah mengambil alih resiko – tapi itu berarti keadaan sakit belum terjadi. Jika sudah terjadi, maka sifatnya bukan lagi asuransi melainkan perlindungan sosial. Berapa banyak dana yang dibutuhkan? Kalau siapa saja tanpa dilihat kondisi sebelumnya dapat memperoleh asuransi kesehatan, maka siapa saja yang sudah sakit akan masuk dan mengambil jatah dari mereka yang masih sehat. Dana asuransi akan dengan cepat tersedot habis, kecuali Pemerintah kemudian menambahkan angkanya dengan mengambil lebih banyak pajak dari rakyat.

Tapi kalau begitu, Amerika dengan cepat berubah dari negara demokrasi individualis terbesar menjadi negara sosialis terbesar – itu sesuatu yang bahkan kaum Demokrat pun tidak menginginkannya. Bagaimana reaksi pemerintahan Obama?

Mereka bereaksi dengan menunjuk pada keadaan ekonomi yang bermasalah akibat perbankan, yang berkinerja buruk namun ada banyak pengurusnya, para CEO, yang mendapatkan gaji setinggi langit. Oleh karena itu, pemerintah Obama membuat penegasan: tidak boleh lagi bank dan lembaga keuangan bekerja tanpa kendali. Dibuatlah serangkaian aturan baru, yang membatasi gerak perbankan sekaligus mengurangi pendapatan bank. Bank Investasi harus terpisah dari Bank Komersial yang menyimpan dana nasabah. Ini akan menghantam bank besar seperti JP Morgan, Bank of America, dan Citigroup Inc.

Akibatnya? Nilai saham perbankan yang kemarin mulai pulih kini kembali menurun. Buum…nilai rata-rata Dow Jones turun 213 poin dan terus tergerus, menghilangkan keuntungan yang menandai tahun 2010. Ini tanda-tanda suram bagi perbaikan ekonomi Amerika, di tengah pidato Presidennya tentang tekad untuk berjuang memulihkan kembali ekonomi negara. Yang kasihan adalah Tim Geithner, yang bersusah payah mengharmoniskan kerja sama antara Pemerintah dengan Perbankan. Tentu saja, kalangan perbankan tidak mendukung rencana pemisahan yang merugikan institusi mereka sedemikian rupa.

Kesulitan muncul dari kenyataan bahwa tidak semua tindakan Pemerintah dilandasi keinginan untuk membawa kebaikan. Beberapa pengamat mulai melihat adanya usaha-usaha populis dari Obama untuk menarik simpati dari para pemilih yang marah terhadap bank. Logikanya: yang penting dalam pemilihan Presiden mendatang Obama kembali populer dan terpilih, karena sekarang ini popularitasnya melorot turun. Politik sudah campur tangan di sini, dan dalam pertarungan mendapatkan simpati pemilih, pihak yang kurang populer dan kurang dipahami rakyat awam bisa dikorbankan – betapapun sebenarnya dalam posisi amat penting untuk memulihkan ekonomi. Biarlah ekonomi runtuh, yang penting jadi penguasa… (MUNGKIN begitu, siapa tahu?)

Secara global, kesimpulan dari keadaan ini adalah kenyataan bahwa pemulihan ekonomi dunia tidak akan bermula dari Amerika Serikat, juga tidak dari Eropa. Pemulihan akan datang dari pertumbuhan ekonomi Asia, dengan pertumbuhan PDB China yang mencapai 8,7% selama 2009. Dalam kerangka ini, ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) mempunyai peran penting karena menghubungkan dua negara dengan pertumbuhan PDB yang positif selama masa krisis. Artinya, kinerja ekonomi yang terbentuk tidak mungkin ditarik balik, ditunda apalagi dibatalkan. Interaksi ekonomi antara negara-negara Asia akan menjadi motor penggerak ekonomi yang besar. Pertanyaannya, seperti apa peran kita di dalam kinerja ekonomi ini?

Masalahnya adalah korupsi dan inefisiensi yang menghantui Asia, baik Indonesia maupun China. Karena besarnya tekanan dan regulasi yang dibutuhkan, ada hambatan besar untuk meningkatkan inovasi dan penemuan-penemuan baru. Nyatanya, sumber teknologi dunia masih dominan berasal dari negara maju, ditambah Jepang, Taiwan, dan Korea – semuanya berafiliasi dekat dengan Amerika. Krisis ekonomi juga berpengaruh dengan pendanaan penelitian dan penemuan teknologi baru, terutama yang lebih ramah lingkungan. Kenyataannya, ekonomi Asia masih berkembang dengan teknologi yang belum ramah lingkungan.

Menjadi ramah dengan lingkungan – menekan pencemaran karbon dan lebih efisien memakai energi – menjadi kata kunci yang penting bagi dunia masa depan. Sayangnya, pertumbuhan tinggi di China membuat negara-negara penghasil minyak bersorak-sorak gembira, mereka meningkatkan prediksi konsumsi minyak di tahun-tahun yang akan datang, disertai dengan peningkatan harga minyak bumi yang kemarin ini sempat tembus US$ 80 per barrel, kemudian turun lagi. Itu menandai belum ada perubahan yang signifikan dari pemakaian bahan bakar minyak, yang berarti belum ada pengurangan emisi karbon yang berarti untuk menjaga kelestarian bumi.

Kalau dalam kuartal ke-IV 2009 PDB China naik lebih dari 10%, bukan berarti Pemerintah China senang dengan kondisi ini. Mereka juga khawatir dengan ekonomi yang meningkat terlalu cepat, karena bisa menimbulkan inflasi yang membesar (disebut juga inflasi spiral) yang bersifat menghancurkan. Mereka khawatir dengan gelembung ekonomi yang bisa meletus dengan banyak korban. Maka, Pemerintah China mengerem pengucuran kredit dan mengurangi jumlah uang yang beredar.

Kembali ke Indonesia: pada kita ada pertumbuhan yang relatif 'sehat', tidak terlalu panas atau tinggi, juga tingkat inflasi yang rendah. Ini adalah peluang bagi rakyat Indonesia untuk berusaha lebih keras lagi, mengambil kesempatan untuk maju dengan lompatan-lompatan. Pertumbuhan bisa mengikuti pola Kaizen – continuous improvement – bisa juga merupakan 'Quantum Leap' yang muncul dari rekayasa bisnis secara total. Lompatan jauh untuk langsung ada di muka, meninggalkan pesaing dalam seketika.

Siapa yang bisa? Biarlah Amerika runtuh…masa depan kita ada di Indonesia, bukan?

20 Januari 2010

Krisis (Lagi)

Hari-hari ini bangsa Indonesia melihat pertunjukkan Pansus Century setiap hari di televisi. Melihat kegairahan – atau kegerahan? – mereka, tidak urung orang bertanya-tanya ada apa ini? Karena, orang cukup pandai untuk membedakan antara pertanyaan yang bermaksud mencari tahu dengan pertanyaan yang menuduh. Orang tahu ketika sang penanya bertanya dengan niat mengungkapkan, atau hanya memaksakan 'kebenaran' menurut apa yang mereka pikirkan. Yang ditanyai juga tidak bodoh, sebaliknya mereka ini sangat pandai – sekelas Pak Boediono dan Ibu Sri – demikian juga dengan pemirsa.

Hanya, tentu saja ada dua macam pemirsa: ada yang pandai dan ada yang kurang pandai. Yang pandai mengkritisi pertanyaan dan jawaban, mereka memikirkan hubungan yang satu dengan yang lain. Yang kurang pandai cenderung lebih melihat sosok penanya serta gegap gempita yang ada di jalanan. Lihat saja, bukankah sekarang ini di mana-mana ada berbagai macam kelompok, entah itu mahasiswa atau LSM, yang "menggugat untuk menuntaskan kasus Century"?

Ajaib benar permintaan itu – memangnya apa yang sedang dilakukan oleh Pansus?

Intinya, bangsa ini mengalami kebingungan yang besar, karena setelah pemilu berlalu masih ada pertunjukkan politik yang rasanya baru sekarang terjadi. Tidak pernah ada sebelumnya, kehebohan begitu besar padahal kalau dipikir kasusnya di jaman dahulu lebih dahsyat. Ingat peristiwa Trisakti? Ingat kerusuhan Mei 1998? Ingat kasus BLBI yang ratusan trilyun? Itu semua hebat, tetapi kalau dilihat dari intensitasnya, semua kalah oleh urusan Century.

Padahal, apa sih urusan Century ini? Kalau orang mengingat bagaimana krisis global menghantui seluruh dunia tahun 2008, mudah dipahami bahwa setiap pemerintahan, termasuk Indonesia, berusaha menampilkan negaranya sebagai tempat yang aman dan bebas dari masalah. Waktu Bank Century mulai bermasalah, tidak ada yang tahu bahwa implikasinya adalah angka 6,7 Trilyun. Talangan yang diperkirakan jumlahnya memang beberapa ratus milyar rupiah – tapi ini tidak seberapa dibandingkan dengan pergerakan investasi yang jumlahnya milyaran dollar. Tahu bedanya rupiah dan dollar saat itu? 10.000 kali!

Jadi, tidak sulit untuk mengerti bahwa waktu itu BI berusaha menyelamatkan pasar modal Indonesia dengan melakukan apa saja, selama bisa dijaga tidak muncul sentimen negatif. Saat itu Bursa Efek Indonesia masih pusing dengan kasus repo BUMI, yang menghancurkan portofolio banyak pihak. Untungnya Bumi adalah urusan tambang batu bara, bukan perbankan. Jangan sampai ada kesan bahwa perbankan di Indonesia juga bermasalah (seperti umumnya perbankan di negara-negara maju saat itu). Jadilah ada talangan buat Century, toh jumlahnya masih di bawah 1 Trilyun.

Yang entah bagaimana, baru belakang berkembang menjadi 6,7 Trilyun. Sayangnya, orang seringkali lupa mengenai kapan angka ini muncul dalam laporan.

Kehebohan ini menjadi berbahaya karena implikasinya kini tanpa disadari telah jauh lebih besar dari angka Rp. 6,7 Trilyun. Dengan ketidak-pekaannya, orang mulai berteriak untuk menurunkan Boediono – yang sampai sekarang tidak jelas apa kelirunya – dan juga Menteri Keuangan, Sri Mulyani. Kalau mereka mendesak-desak, lama-lama ini menjadi pengadilan jalanan yang sama sekali tidak adil, tidak objektif, dan tidak berdasarkan fakta. Mereka kini mendesak Pak Presiden untuk "mengambil alih" – itu kata-katanya Bang Adnan. Dia mungkin ahli hukum, tapi dia tidak mengerti implikasinya.

Saat ini, bangsa Indonesia menghadapi ACFTA – Asean China Free Trade Area. Perdagangan bebas! Di luar dari pengamatan orang-orang yang disibukkan oleh Century, para pengusaha Indonesia menjerit karena dihabisi oleh barang-barang yang lebih murah sekaligus lebih bagus mutunya. Negara ini sebenarnya sedang menghadapi serudukan banteng, bukan banteng tapi naga, yang besar namun orang-orangnya meributkan pakaian sang matador!

Industri tekstil yang berteriak duluan, diikuti oleh meubel. Kemarin, berita keluhan muncul dari industri jamu herbal. Kalau orang tidak tahu, kita ini mengalami masalah dalam tiga hal. Yang pertama adalah ekonomi biaya tinggi, dari segala pungutan dan retribusi dan pungli yang masih terjadi dan membebani pengusaha. Yang kedua adalah disintegrasi industri, karena orang Indonesia suka membuat barang jadi dan tidak menyediakan industri bahan baku yang memadai. Sekarang, semua bahan baku harus diimpor dan harganya menjadi lebih mahal – itulah yang membuat industri di China bisa lebih murah. Yang ketiga adalah tenaga kerja yang tuntutannya tinggi, minta gajinya besar, tetapi produktivitasnya tidak sepadan.

Dengan ancaman seperti ini, yang dibutuhkan adalah kestabilan dan ketenangan, karena orang-orang sudah mulai panik. Ibaratnya, gedung bernama "NKRI" ini sedang ada kebakaran, tetapi di dalamnya para penghuni masih sibuk mendemo manajer gedung – mereka yang mengerti dan harusnya berfokus mengatur untuk menyelamatkan gedung ini dari lautan api. Kalau diteruskan mendemo dan mereka tidak bekerja, siapa yang akan menyelamatkan saat semuanya terbakar? Bagaimana lagi orang bisa menyelamatkan diri?

Kita harus berfokus pada produktivitas. Sekarang ini tidak ada lagi banyak waktu; sekarang juga ekonomi biaya tinggi harus dihentikan, pungutan – resmi maupun liar – distop, pejabat-pejabat bekerja dengan benar, dan infrastruktur serta industri yang dibutuhkan dibangun secepatnya. Orang harus bekerja lebih giat, lebih cerdas – tidak lagi cukup sekedarnya menjahit atau memotong, menjadi sekedar buruh yang melakukan hal yang sama, melakukan hal yang benar dan salah secara terus menerus tanpa peningkatan atau perbaikan.

Kita mengalami krisis yang lebih besar daripada krisis ekonomi, yaitu krisis manajemen-diri. Kita tidak tahu apa yang harus dilakukan, berharap masih bisa sedikit bermalas-malasan, menolak untuk mengambil tanggung jawab yang lebih besar. Bertahun-tahun lamanya banyak orang menganggap masalah ekonomi dan pendapatan adalah sesuatu yang datang begitu saja, kebutuhan sehari bisa dipenuhi oleh kerja sehari, atau paling-paling menabung dua atau tiga tahun saja cukup. Sekarang, semua itu tidak lagi memadai. Kalau tidak meningkatkan diri, orang harus bekerja tiga hari untuk makan satu hari. Untuk sesuatu yang besar dan penting seperti biaya masuk perguruan tinggi atau dana pensiun yang memadai, orang harus menabung sepanjang ia masih bisa bekerja.

Itu pun, kalau menabungnya tanpa pertimbangan yang matang dan tempat menabung yang benar, hasil jerih payah menabung tidak sebanding dengan pengorbanannya. Sekarang ini, orang harus mengerti bahwa tanggung jawab memilih dan menentukan cara yang paling sesuai dalam mengelola keuangan adalah tanggung jawabnya sendiri. Kalaupun ada bantuan, mungkin dari Perencana Keuangan, sifatnya adalah konsultasi – hanya nasehat. Karena, Perencana Keuangan tidak mungkin mengambil alih tanggung jawab dan konsekuensi dari pilihan kliennya.

Hal ini penting, karena sekarang banyak juga orang yang mengaku-aku jadi Perencana Keuangan. Mereka mulainya mendaftar sebagai agen, biasanya agen asuransi, lalu mendapatkan pelatihan beberapa jam, atau yang lebih baik, beberapa hari. Mereka sudah hafal produk untuk mereka jual, hafal bagaimana mengucapkannya dan hafal berapa akan mendapatkan komisinya. Lantas mereka mengenakan baju yang bagus dan bertemu orang serta memperkenalkan diri sebagai Perencana Keuangan dari perusahaan besar... Tetap saja mereka hanyalah agen penjual. Baju dan kartu nama tidak membuat orang lebih pandai, bukan?

Krisis ini menuntut orang Indonesia, kita semua, menjadi lebih sadar bahwa masa depan tidak lagi mudah, atau begitu saja bisa didapatkan. Kita tidak bisa sembarangan lagi mengambil produk keuangan, apalagi yang bernilai besar seperti Asuransi dan Investasi. Kita harus tahu lebih banyak, mengerti lebih dalam – kalau kita memang benar-benar bertanggung jawab. Kita tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan dengan urusan Century, yang sebenarnya tidak mempunyai arti yang penting. Urusan bail-out Bank Century bukan urusan besar! Itu bukan hal yang paling penting! Mengapa menghabiskan waktu begitu lama? Untuk apa semua perdebatan itu?

Sama seperti agen penjual yang mengaku diri Perencana Keuangan, orang yang menjadi Wakil Rakyat di DPR juga mungkin hanya mengubah baju dan kartu namanya. Pertanyaaan bagi rakyat Indonesia, seberapa jauh kita mau menggantungkan diri, masa depan kita, kepada pikiran dan pilihan mereka? Kitalah yang harus menanggung konsekuensi terbesar di masa depan, bukan anggota DPR yang sudah menerima gaji dan tunjangan setinggi langit! Juga bukan menteri-menteri atau pejabat negara yang menerima kemewahan besar dan mobil terbaru itu, walaupun belum menghasilkan sesuatu yang benar-benar penting. Mereka bisa saja menerima semua itu, dan mungkin kita juga tidak keberatan – tapi ingatlah bahwa kelak kita harus menghadapi suatu kondisi yang sudah ditanamkan sejak sekarang.

Lihatlah apa yang kita miliki sekarang. Di mana kita menabung? Apa yang kita dapatkan? Juga, bagaimana perlindungan asuransi kita sekarang? Karena, di hari-hari mendatang akibat dari musibah akan menghantam lebih keras – nanti saat semua orang mengalami kesulitan ekonomi, siapa yang masih mau membantu janda dan anak yang ditinggalkan oleh suami dan ayah, secara tidak terduga? Ada begitu banyak modal ditanamkan dalam bisnis, untuk usaha. Kadang-kadang, semuanya ditaruh di sana sehingga tidak cukup dana tabungan untuk keluarga. Bagaimana dengan resikonya, saat usaha mengalami kemunduran karena gagal bersaing dengan produk buatan China dan Malaysia atau Filipina?

Begitulah: kita perlu berusaha, bersaing, dan menjaga kesejahteraan – untuk masa depan yang lebih baik. Satu hal yang paling penting dari semua ini: jika oleh keadaan sekarang kita mulai merasa khawatir, ingatlah bahwa kita mempunyai PEMELIHARA yang menyediakan, kita digendong oleh TUHAN. Saat kesusahan datang, bahkan untuk berdoa pun mungkin sulit – itulah saat Roh Kudus yang berdoa bagi kita, dengan keluhan yang tidak terucapkan.

Kalau kita berusaha, ini adalah bagian dari tanggung jawab kita. Tetapi untuk kepastiannya, jangan khawatir – itu tidak akan menambah umur, atau menyelesaikan masalah. Inilah saat kita melihat kembali hubungan dengan Tuhan, melihat kembali bagaimana relasi kita mempunyai makna dalam kehidupan yang sebenarnya. Apakah kita lebih bergantung kepada anggota DPR, atau Menteri, atau Agen Asuransi? Atau, kita lebih dahulu menyerahkan masa depan secara sungguh-sungguh dalam tangan Tuhan, setelah itu mulai bertanggung jawab untuk mengerjakan segala sesuatu yang sudah seharusnya kita kerjakan?

Jangan lagi bekerja asal-asalan. Jangan lagi menabung asal-asalan. Jangan lagi mengambil polis asuransi jiwa asal-asalan. Tidak cukup kalau sekarang ini hanya menyerahkan nasib ketangan orang lain – bahkan ke tangan orang yang sudah lama kita kenal. Kalau kita kerja benar, menabung disiplin, dapat perlindungan finansial yang memadai – akhirnya orang melihat hikmat yang benar dan bertanya, "mengapa bisa begitu?"

Saat itu kita tersenyum dan menjawab, "karena Tuhan yang menyediakannya."

03 Januari 2010

Solar Maximum

Pernah lihat yang namanya bintik matahari? Atau mungkin lebih tepat, semburan matahari (solar flares) yang menampilkan pelepasan sebagian massa dari korona matahari (CME = Coronal Mass Ejection)? Ini mungkin tidak kita perhatikan, karena kalau matahari dilihat dengan mata telanjang, yang nampak hanyalah sumber cahaya yang putih terang benderang. Sedikit semburan tentunya tidak akan terlihat begitu saja.

Tetapi sebenarnya, matahari itu permukaannya berubah-ubah, di mana para ahli sekarang menemukan siklus selama 11 tahun antara periode banyak semburan matahari ke banyak semburan matahari lainnya. Para ahli menghitung berapa banyak semburan terjadi – ketika jumlahnya besar, itu disebut dengan Solar Maximum. Ketika jumlahnya sedikit, itu disebut Solar Minimum. Dari Solar Maximum ke Solar Maximum, periodenya adalah 11 tahun, di mana di tengah-tengahnya ada Solar Minimum.

Para ahli juga memberi nomor siklus – Solar Maximum terakhir adalah tahun 2001, siklus 23. Tetapi, keadaannya tidak selalu persis mengikuti aturan atau pola yang pasti, meskipun kita mempunyai beberapa data – faktanya, tahun 2006 adalah tahun Solar Minimum di mana aktivitas semburan Matahari benar-benar sedikit, tapi ini berlanjut bahkan sampai 2009 (data dari NOAA/Space Weather Prediction Center). Hampir tidak terlihat ada semburan matahari, sesuatu yang tidak pernah teramati dalam catatan manusia tentang matahari. Dari sini, perkiraan sementara adalah: tahun 2011 atau 2013 dapat menjadi tahun Solar Maximum berikutnya, dan beberapa ahli memperkirakan, yang muncul berikutnya adalah Solar Maximum yang hebat, yang juga tidak pernah teramati dalam catatan manusia.

Sekali lagi, apa yang terjadi dalam Solar Maximum? Kita perlu mengerti tentang CME; jangan bayangkan hal ini sebagai sesuatu yang 'kecil'. Pertama-tama, pahami bahwa Matahari sangat sangat sangat panas, tetapi disuatu bagian dari permukaannya – seringkali lebih luas dibandingkan diameter planet bumi – muncul sebuah gelembung terdiri dari gas plasma. Ini adalah bagian dari partikel sub-atomik berenergi yang menjadi satu karena panas luar biasa, dan sekarang menjadi lebih panas jutaan derajat. Tiba-tiba gelembung ini meletus dan melepaskan plasma itu ke angkasa, terdiri dari elektron, proton, dan inti atom yang lebih berat (nuclei) dalam jumlah besar. Sebuah CME dapat melepaskan massa sebesar 100 Milyar Kg, yang melaju dengan kecepatan 1000 km per detik. Kekuatannya setara dengan ledakan 1 MILYAR BOM HIDROGEN (http://helios.gsfc.nasa.gov/cme.html).

Bayangkan apa yang terjadi ketika ledakan itu mengarah ke bumi. Untungnya, planet bumi cukup kecil dan jauh, sehingga massa yang besar itu berlalu. Repotnya, di saat Solar Maximum terjadi, ada saja semburan yang mengarah ke planet ini dan menciptakan beberapa fenomena. Apa yang bisa terlihat antara lain adalah munculnya aurora di langit, seperti ada lampu neon raksasa dinyalakan di angkasa. Tetapi, semburan matahari juga menimbulkan dampak yang lebih serius.

Tahun 1859 adalah tahun Solar Maximum. Saat itu seorang astronom amatir dari Inggris, Richard Carrington, mengamati semburan matahari yang mengarah ke bumi, terjadi selama 8 hari. Ini disebut Peristiwa Carrington. Akibat yang dirasakan pertama kali dialami oleh layanan telegraf, yang lumpuh karena partikel elektron dan lainnya memasuki jaringan kawat. Ternyata, sistem perkabelan yang direntang antara satu tempat ke tempat lain dapat berubah menjadi antena yang menangkap gelombang energi dari matahari, serta mengubah energi itu menjadi aliran listrik yang liar. Itu terjadi di masa orang belum tergantung pada kelistrikan seperti sekarang.

Bagaimana jika Peristiwa Carrington terjadi tahun 2009? Dunia sudah jauh lebih terlilit kabel, termasuk jaringan listrik tegangan tinggi, yang dilewatkan melalui tiang-tiang, membentuk Saluran Udara. Di Amerika, Pemerintah dan NASA mendanai proyek di US National Academy of Sciences untuk membuat riset tentang kemungkinan kerusakan yang terjadi saat Solar Maximum terjadi. Jaringan listrik seluruh dunia akan lumpuh karena trafo-trafo terbakar dan orang modern kehilangan listrik selama berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bagi dunia modern yang saat ini sangat bergantung pada listrik, ini adalah malapetaka yang tidak terbayangkan.

Semburan matahari akan berjalan mengikuti medan magnet. Di sekitar bumi, ada 'perisai' medan magnet yang disebut sabuk Van Allen (Van Allen Radiation Belt). Materi plasma yang sampai ke bumi akan 'ditangkap' dan dibelokkan oleh sabuk ini ke kutub-kutub bumi – itulah sebabnya aurora lebih terlihat di kutub utara dan kutub selatan dibandingkan wilayah khatulistiwa. Kita perlu bersyukur kepada Tuhan, berkat perisai ini maka semburan Solar Maximum tidak mendatangkan bencana yang lebih besar terhadap benda-benda lain – jadi mungkin hanya jaringan listrik saja yang terpengaruh seperti di Peristiwa Carrington. Bagaimanapun, sabuk Van Allen sangat penting – ini menjadi perhatian banyak pihak, sehingga dianggap salah satu dari 10 hal penting tahun 2009 oleh majalah TIME (The Top 10 Everything of 2009 http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,863443,00.html).

Yang perlu dikhawatirkan adalah kenyataan lain bahwa di tahun 2012, ada kesejajaran antara matahari dan planet-planetnya. Ini berarti ada tarikan gravitasi yang lebih besar – untuk benda langit, hal ini bukan sesuatu yang sangat ekstrim. Tetapi bagi semburan matahari, tentunya ada pengaruh dari gravitasi planet-planet yang ada dalam posisi satu garis lurus – dan disinilah dapat muncul masalah. Jika materi plasma tertarik gravitasi dan memenuhi sabuk Van Allen, ada kemungkinan partikel-partikel ini terus menembus ke permukaan bumi.

Apa yang terjadi kalau plasma dari CME tembus ke permukaan bumi? Pertama-tama, partikel ini akan meningkatkan suhu bumi – faktanya, penelitian menunjukkan di saat tahun Solar Maximum, suhu permukaan bumi sedikit lebih tinggi. Yang kedua, gangguan partikel ini juga bisa memanaskan bagian dalam bumi, karena energi yang dibawa berubah menjadi panas di bagian dalam kerak bumi. Ini juga bisa mengganggu inti bumi yang kebanyakan mengandung unsur besi – dan ada kemungkinan mengubah atau melemahkan medan magnet bumi. Itu berarti sabuk Van Allen menjadi lebih lemah – dan lebih banyak lagi plasma yang langsung ke permukaan bumi.

Perubahan suhu bumi dapat mengganggu aliran pertukaran panas – itu adalah 'conveyor belt' yang memindahkan panas dari satu samudra ke samudra lainnya, dalam aliran air. Gangguan dapat menghentikan aliran ini, dan hasilnya adalah cuaca yang merusak. Pernah lihat film The Day After Tomorrow? Itu film yang berlebih-lebihan, tetapi ada kebenaran dalam ide dasarnya. Kemudian kerak bumi yang memanas dapat melelehkan bagian-bagian tertentu, sehingga kerak bumi dapat bergerak lebih lancar…bayangkan sebuah jeruk yang bagian dalamnya terpisah dari kulit luarnya, kemudian masing-masing bergerak. Itu adalah bencana, seperti film 2012… juga berlebihan, tetapi ide dasarnya tidak salah total.

Nah, ini bukan ulasan tentang kiamat atau apapun… hanya bayangkan seandainya Peristiwa Carrington dan The Day After Tomorrow dan 2012 terjadi dalam saat yang nyaris bersamaan – mungkin dalam periode 1 atau 2 bulan. Apakah yang tersisa dari kehidupan manusia? Memang bukan kiamat – dalam pengertian teologis – namun pastilah hidup umat manusia tidak akan sama seperti sebelumnya.

Ini hanya pikiran… gitu aja kok repot (mengingat mendiang Gus Dur).

31 Desember 2009

My Life

Di akhir tahun, konon baik untuk mengingat tahun-tahun yang sudah berlalu. Tentang apa yang sudah dikerjakan… apa yang sudah berjalan. Melihat apakah setiap tahun berjalan begitu saja, atau ada sesuatu yang menarik untuk dipelajari. Untuk diingat. Dan tentu saja, dimulainya dari saat mulai memberikan hasil, memberikan produksi – sesuatu yang bernilai.

1993: Waktu itu kuliah sudah selesai, jadi mengerjakan skripsi. Sambil membuat skripsi, juga mulai bekerja jadi desainer grafis di sebuah percetakan. Pemiliknya adalah kakak dari teman baik semasa SMA, juga segereja. Waktu itu masih pakai CorelDraw versi 3, cukup untuk membuat segala macam bon dan formulir.

1994: Akhirnya kuliah selesai! Jadi mulai tahun ini menyandang gelar "Sarjana Teknik Elektro" dengan bidang utama sistem kontrol. Mau bagaimana lagi, memang waktu itu habis-habisan menyukai komputer, sampai membuat skripsinya juga dengan alat mikroprosessor Z80, lengkap dengan memori dan I/O nya. Dengan chip EPROM yang bisa diprogram ulang – waktu itu, untuk menghapusnya pakai lampu UV intensitas tinggi, lalu diprogram ulang dengan alat, hasilnya bisa dibuat untuk apa saja, asal tahu bikin program assemblernya. Untung ada makro assembler untuk Z80, jadi lebih mudah kompilasinya – saya beruntung karena teknologi semacam itu baru ada belakangan. Nah, setelah lulus, tentu saja pertama-tama melamar jadi teknisi. Tetapi kemudian perusahaan yang sama membuka lowongan kerja sebagai Sales Engineer, dan akhirnya saya beralih jadi Sales! Pandai di bidang teknik, tapi bodoh bodoh bodoh sekali di dalam pemasaran. Nyaris tidak bisa jualan apa-apa, tetapi tahun ini adalah tahun pembelajaran pertama di bidang marketing.

1995: Ternyata, menjadi sales itu ada dua cara. Cara pertama adalah cara yang 'lurus'. Cara kedua adalah cara yang 'bengkok', yaitu dengan koneksi dan bujuk dan sogok. Ini tidak menjadi sesuatu yang baik, dan TUHAN menolong dengan begitu saja memberikan sebuah tempat lain untuk bekerja. Ini adalah benar-benar pekerjaan Tuhan, karena bahkan saya sendiri tidak ingat kapan pernah mengirimkan surat lamaran – bukannya karena banyak kirim surat, sebaliknya rasanya saya jarang sekali mengirim! Tidak masuk akal! Bagaimana mungkin saya bisa dipanggil psikotest? Tetapi saya masuk dan lolos. Dan sebulan kemudian, saya dikirimkan ke kota Medan sebagai Representative Officer! Ini adalah masa-masa yang sukar, karena bukan saja harus menangani kota Medan, melainkan juga seluruh provinsi Sumatera Utara, Aceh, Riau, bahkan sampai Sumatera Selatan dan Jambi. Dari seluruh Sumatera, hanya Bengkulu dan Lampung yang tidak disinggahi. Aneh dan gila, tapi nyata… ada rookie yang ditugasi seperti ini.

1996: Sampai pertengahan tahun masih ada di Medan, tapi akhirnya berhasil juga membangun kantor baru plus merekrut Kepala Cabang yang baru. Leganya! Sekembali ke Jakarta, langsung minta untuk mengikuti pelatihan dasar. Jadi ikut batch no 68 dari AMDI, selama satu bulan. Kemudian, juga ditarik untuk masuk ke Direct Sales Department, sebagai Marketing Supervisor. Di sini belajar banyak tentang Total Quality Control, juga mengenai 7 Habits of Highly Effective People. Oh ya, waktu itu juga terlibat (dan masih bodoh juga, masih belajar keluar dari kebodohan) dalam acara ulang tahun korporasi yang besar sekali, yang acaranya diadakan di PRJ Kemayoran, Jakarta. Persiapannya lama, berbulan-bulan. Selama itu juga belajar tentang berjualan. Karena bersentuhan dengan korporasi, jadi belajar banyak hal juga, termasuk belajar Asuransi. Untuk pertama kalinya mengunjungi kantor Asuransi Kerugian, kemudian mendapatkan seminar dan pejelasan dari teman-teman Asuransi Jiwa. Tidak lupa, juga belajar soal perbankan (karena jualan Direct Sales sebagai hadiah Bank), juga pertama kali membuat kartu kredit – masih dipakai sampai sekarang.

1997: Selagi acara ulang tahun korporasi yang luar biasa besar ini berlangsung tanggal 20 Februari 1997, di kantor terjadi perselisihan karena kantor ini dinahkodai oleh dua pihak, yang satu Indonesia lainnya Korea. Kedua pihak melihat usaha ini sudah menjadi produsen televisi terbesar di Indonesia waktu itu, dan pertarungan internal pun memanas. Puncaknya, atasan saya diselamatkan – kata lain dari dipindahkan ke perusahaan lain di korporasi. Saya diajak ikut, sempat mengunjungi kantor yang waktu itu ada di gedung Setiabudi, di Kuningan – Jakarta. Tapi ini adalah perusahaan finance, yang tidak saya sukai. Saya masih terlalu suka dengan teknologi dan komputer, belum bersedia melepaskannya. Jadi, saya berhenti dan berpindah ke perusahaan vendor IT yang besar – saya waktu itu belum tahu, tetapi ternyata TUHAN membawa saya ke sebuah perusahaan lokal yang SANGAT besar, memasok teknologi informasi kepada puluhan bank lokal di Indonesia. Belajar langsung dari seminar-seminarnya IBM, mempelajari workflow system, belajar juga segala aspek tentang perbankan. Sambil jalan juga belajar mengenai Microsoft lebih dalam lagi – baru mengerti ada yang namanya sertifikasi MCSE – Microsoft Certified System Engineer. Ingin punya juga…tetapi waktu itu lebih fokus sebagai Liaison Officer. Sambil bekerja, kami dahulu prihatin dengan krisis moneter yang dimulai dari jatuhnya mata uang Baht Thailand. Oktober 1997, Bank Indonesia melepaskan Rupiah, yang langsung membumbung naik. Devaluasi dahsyat terjadi.

1998: Pekerjaan ini menyenangkan dan hasilnya lumayan. Ini saatnya mengenali dan mendalami IBM AS400, tapi keterampilan untuk membuat data, menjalankan proyek, dan membuat presentasi mengantar saya masuk dalam divisi Govermental Banks, menjadi Account Officer. Di tahun yang sama juga menjadi Internal Quality Auditor untuk ISO 9001, karena memang itulah waktu yang luar biasa ramai dikantor. Memenuhi compliance untuk ISO 9001 sama sekali tidak mudah, sekaligus juga mahal. Sambil menjalankan proyek – waktu itu ada proyek konsultasi bernilai milyaran dengan bank BRI – saya melihat pergolakan politik membawa korban. Berkantor di lantai 19 gedung BRI I, saya melihat anak-anak mahasiswa Atmajaya bergelimpangan. Dan siapa yang bisa lupa tentang begitu banyak orang di luar kantor yang mau menyerbu masuk? Mereka begitu liar, baru saja menghancurkan gerai Makro di Ciputat! Tapi, kami tetap menjalankan proyek. Juga berkesempatan bekerja sama dengan konsultan Ernst & Young Singapore… Ini adalah tahun di mana saya harus mempresentasikan kebutuhan proyek kepada vendor-vendor asing, dari Amerika, Kanada, Singapore, India… belajar presentasi dan meeting dalam bahasa Inggris. In IT world, everything communicated in English. Satu lagi… ini juga tahun kebahagiaan, karena di tahun ini juga saya menikah, walau dalam keprihatinan. Bayangkan, baru saja bulan Mei 1998 ada kerusuhan hebat, kami menikah tanggal 6 Juni.

1999: Ini tahun yang hebat, karena istri sudah hamil dan akan melahirkan di kuartal kedua. Pilihannya, saya tidak mungkin berpisah dari istri dan anak, jadi entah mereka ikut ke Jakarta atau saya pindah ke Bandung. Tetapi melihat situasi Jakarta yang tegang dan penuh isu, tidak mungkin mereka ke Jakarta. Jadi saya keluar kerja dan pindah ke Bandung. Saya bekerja di Cimahi, sebagai Staff Factory Manager, setingkat Kepala Bagian. Ini pengaturan yang aneh, karena waktu itu atasan saya yang jadi Factory Manager juga merangkap jadi General Manager di Distribusi. Alhasil, pabrik ini ada dalam pengaturan saya, mengurusi belasan mesin rajut. Ada Liropol, Malimo, Malipol…yang dibuat adalah kain rajut handuk yang lurus-lurus. Jadi, tahun ini adalah saat membenahi pabrik, membuat sistem komputernya (ternyata pengalaman IT di masa lalu sangat sangat sangat berguna), membuat sistem gudangnya, membuat dokumennya, membuat dokumen kualitas, bahkan membuat rencana penilaian kerja karyawan. Cukup banyak bagi orang yang sebelumnya jadi Account Officer di konsultan IT untuk bank. Tapi, hasilnya lumayan…

2000: Di tahun ini dimulai dengan kekecewaan, karena salah paham. Ini repotnya kerja dengan perusahaan keluarga, yang bukan berdasarkan manajemen, sebab tidak semua orang bisa memahami apa yang sudah dibuat, apalagi mereka tidak punya latar belakang pengalaman manajerial. Waktu itu sempat terpikir, apakah mau berhenti saja? Tetapi Tuhan menunjukkan saya masuk ke Sekolah Tinggi Teologia di Bandung. Saya tidak berhenti, sebaliknya mengambil posisi EDP Department Head, yang kemudian jadi MIS Department Head. Yang pertama-tama dikerjakan adalah mengkaji teknologi yang dipakai, waktu itu masih pakai Clipper, dengan jaringan komputer Novell. Karena itu, rencananya adalah melakukan perubahan, mula-mula mereprogram dengan Clipper 5 dan membuat sistem operasinya bekerja dengan Microsoft Small Business Server 2000. Belinya orisinal! Tetapi, harus mengajarkan dulu staff untuk melakukannya. Jadi tahun ini kami membuat rencana…dimulai dengan desain sistem baru.

2001: Pengkajian dituntaskan dengan dokumen tentang desain, yang mulai diimplementasikan. Waktu itu, ada program di Clipper 5, tetapi kami juga mulai membuat aplikasi dengan Visual Basic. Kami membuat databasenya dengan SQL Server 2000, dengan prinsip Client-Server. Kami membuat sistem informasinya dengan MS Exchange. Kami juga membuat intranet – aplikasi berbasis web yang hanya bisa diakses dari jaringan di dalam kantor. Hasilnya mulai terasa: untuk membuat laporan meeting tahunan yang biasanya butuh waktu bulanan, kini selesai dalam hitungan hari. Dengan SQL, untuk mencari data tinggal memasukkan perintah yang benar – hasilnya keluar dalam hitungan detik. Kami mengumpulkan semua data yang ada sejak tahun 1988, melakukan konversi, dan membuat data repository. Semua diprogram mulai dari tahun ini. Di akhir tahun, saya juga mendapatkan kebahagiaan atas kelahiran anak kedua kami, anak perempuan yang cantik dan lucu.

2002: Ini adalah waktu di mana semua yang dibuat mulai jadi kenyataan. Program mulai berjalan Maret 2002. Ada banyak detil teknis yang sekarang tidak diingat lagi, karena memang proyek ini kompleks. Yang pasti, ada tiga bagian besar yang harus ditangani: orang-orang, pembenahan cara kerja, dan teknologi informasi. Di saat yang sama, di tahun ini juga ada masalah dengan departemen pembelian (Merchandising Department). Jadi waktu ini saya diminta untuk merangkap sebagai MD Dept. Head, pejabat sementara. Karena sebelumnya pernah mengatur pabrik, jadi kurang lebih tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang akan terjadi.

2003: Sistem MIS mulai berjalan, sementara keterlibatan saya dalam MD juga menjadi semakin dalam. Kami mulai mengejar klien-klien besar seperti Alfa, Makro, Carrefour, dan Giant. Kami juga mengerjakan hal-hal baru dalam desain, mengembangkan lini produk bayi dan memasarkan ke outlet Department Store seperti Yogya di Bandung. Untuk produk baru bukan saja dibutuhkan salesman yang baik, melainkan juga program pemasaran – kami membuat foto, desain grafis, kemudian membuat cetakan untuk promosi. Ini berjalan terus di waktu-waktu berikutnya. Tahun ini juga saya lulus dari Teologia sebagai Master of Arts in Urban Ministry. Belajar ini membuka mata dan pikiran tentang teologi, biblika, dan tentang pelayanan bagi masyarakat. Ada banyak sudut pandang dan cara hidup yang tidak tepat dari masyarakat Indonesia, baik di bidang keuangan, pendidikan, maupun kesehatan. Sesuatu yang sangat serius…. Tapi saya waktu itu kan masih bekerja di pabrik. Jadi, apa jalan Tuhan?

2004: Sistem di dalam memang masih kurang di sana-sini, tetapi sekarang lebih diandalkan, lebih cepat, dan memungkinkan untuk melihat lebih banyak hal. Perubahan juga semakin besar dengan pola pemasaran yang lebih terstruktur, dengan promosi yang lebih baik. Sayangnya, hal ini tidak kelihatan selalu bagus, karena pasar juga turun naik, dan sekarang turun lagi, turun lagi. Sebenarnya kalau kami tidak melakukan perubahan, turunnya bisa lebih parah – hanya, di mata Direktur, ya terlihat tidak bagus. Sekali lagi terjadi guncangan, ketidakpuasan, dan kebingungan sampai akhir tahun. Bagi saya, permintaannya adalah untuk bukan hanya melayani satu perusahaan distribusi ini saja, tetapi juga mengerjakan perusahaan lainnya di dalam group. Saya pun pindah lagi, kini mengelola manajemen sistem informasi Group Perusahaan.

2005: Mengelola sesuatu adalah pekerjaan kerja sama – pelajaran pentingnya, tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang benar-benar bermakna hanya dengan kepala dan tangan sendiri. Sekarang saya mengerjakan IT di berbagai perusahaan, sekaligus menyiapkan materi promosi dan desain grafis untuk beragam produk – tetapi saya lihat ini tidak menuju kemana-mana, walaupun hasilnya bagus. Yang tidak paham, tidak bisa memanfaatkan sebagus apapun hasilnya! Jadi, di tahun ini saya berhenti, apalagi waktu itu ada tawaran untuk mengambil posisi manajerial di perusahaan yang lebih besar. Saya pindah kerja ke sana, tetapi yang saya alami selama 3 bulan, sistem yang ada justru lebih kaku, sekalipun berniat untuk menjadi modern. Ada hal-hal seperti budaya dan karakter pemilik yang tidak selalu mendukung sistem dan pola kerja yang modern. Jadi pertemuan ini hanya berlangsung 3 bulan saja… dan saya berhenti, di akhir tahun.

2006: Awalnya, saya berniat untuk bekerja sendiri, berusaha sendiri. Saya bisa fotografi, bisa desain grafis di komputer, juga bisa buat program dan website. Saya tahu bikin proyek seperti apa, buat perencanaan bisnis seperti apa… jadi dimulailah usaha kecil yang kecil-kecilan itu, membuat kartu nama dan foto ini dan itu. Sementara nampak berjalan, tapi jelaslah bahwa hasilnya jauh dari memadai. Istri saya yang baik turut mendukung dengan masuk sebagai agen Asuransi Jiwa – itulah perkenalan pertama saya dengan industri ini secara utuh. Dahulu memang pernah belajar, juga waktu berhubungan dengan perbankan belajar keuangan juga, tetapi tidak seserius ini. Karena di tahun ini, dimulai dari mendukung istri akhirnya saya membuat paket produk Asuransi Jiwa yang diberi nama Life Jacket (saya buat namanya, terus buat brosurnya, mula-mula untuk dipasarkan istri) – dan akhirnya kami membuat apa yang disebut Savingplus, yang diluncurkan September 2006. Programnya adalah suatu network marketing di mana setiap nasabah dapat juga menjadi agen hanya dengan mengundang, untuk memperoleh Life Jacket yang memang menguntungkan.

2007: Saya menjadi presenter dan akhirnya juga memberikan training, untuk jaringan yang dibentuk oleh program Savingplus. Tentu saja, saya juga membuat presentasi pemasaran dan materi promosi yang dibutuhkan – itu keahlian yang berguna, bukan? Kami mempunyai tiga kompetensi inti: ada produk yang hebat, ada jaringan yang hebat, dan ada Business School yang hebat yang tidak dimiliki perusahaan lain atau agensi lain (maafkan kesombongan ini). Sepanjang 2007, saya memberikan training – ada puluhan angkatan dan ratusan orang terlibat, juga memberikan presentasi kepada siapa saja. Agen kami sepanjang 2007 ada lebih dari 800 orang. Kami punya cabang di lebih dari 20 kota. Kami memasarkan ini kepada ribuan orang – bahkan akhirnya Life Jacket dan Savingplus mempunyai nama di pasaran, melebihi nama perusahaan! Ini menurut Mark Plus forum… tetapi masalah terjadi. Agustus 2007, ada masalah Subprime Mortgage di Amerika. Setelah itu, dunia melihat kehancuran mulai terjadi…. Tapi, di Indonesia sendiri hasil investasi masih tetap mengagumkan, dengan imbal hasil setahun lebih dari 50%. Sementara itu, di tahun 2007 juga dimulai sertifikasi AAJI, sebagai pelaksanaan ketentuan pemerintah.

2008: Ini adalah tahun di mana segmen Livingplus di acara Morning Coffee Maestro FM, Bandung, dimulai. Isinya adalah edukasi perencanaan keuangan bagi masyarakat. Sementara itu, Savingplus mengalami masalah serius. Kombinasi ketentuan pemerintah yang mewajibkan sertifikasi plus membuat sikap perusahaan menjadi berbeda: kini agen haruslah profesional. Untuk itu harus ada produksi yang tetap, dan artinya tidak bisa lagi orang hanya sekedar jadi agen dengan mengundang, seperti teori Savingplus. Selain itu, kondisi ekonomi dunia juga dihancurkan oleh meningginya harga minyak. Bank-bank di Amerika dan Eropa bergelimpangan. Laporan kerugian akibat Subprime Mortgage nampak mengerikan. Kami bertahan dengan tetap memasarkan produk Asuransi Jiwa plus perlindungan atas biaya kesehatan rumah sakit, tetapi hasilnya tidak begitu baik. Orang yang kaya banyak yang menjerit, karena kehilangan order dari luar negeri. Orang yang miskin banyak yang menjerit, karena di PHK. Kami mengubah strategi dengan memberikan training yang lebih intensif, bahan-bahan yang lebih lengkap – tapi siapa yang bisa menahan kondisi yang ada? Maka, teman-teman mulai berpisahan dengan jalannya masing-masing.

2009: Apakah perjalanan ini berakhir? Tidak, hubungan tidak pernah terputus tetapi bisnis juga tidak berkembang penuh. Saya membantu orang untuk mengembangkan bisnis dalam bidang keuangan, sambil membantu istri yang juga kerja keras membangun usaha kursus kue. Puji Tuhan, selama masa-masa sukar di awal tahun, Tuhan tetap memelihara dengan memberikan pendapatan yang baik, cukup baik, sehingga keluarga kami tidak sampai jatuh miskin. Tetapi, ini juga menjadi tahun pembelajaran Financial Planning dengan lebih serius, sampai akhirnya saya berhasil mendapatkan sertifikasi Registered Financial Planner Consultant. Ini juga tahun di mana saya bekerja sama memberikan seminar dan edukasi tentang Perencanaan Keuangan, termasuk juga menjadi narasumber untuk Bisnis Indonesia, selain masih tetap siaran Livingplus di radio. Sekitar Agustus-September, saya mulai dihubungi kembali dan membuat rencana untuk menjadi Vice President Agency. Jadi saya harus berani melepaskan diri dari beban lama, dari kenyamanan lama, untuk memulai sesuatu yang baru kembali.

Di akhir tahun ini, kami mulai dengan Januar Hadihardjo & Associate Financial Planner. Ini adalah rencana yang ambisius, tetapi masuk akal, untuk mengambil jalan yang sangat berbeda – menjadi profesional dalam bidang perencanaan keuangan, sesuai kebutuhan masyarakat. Di dalam waktu 5 tahun, kami ingin setiap orang yang sungguh-sungguh menjalankan program ini mendapatkan total penghasilan Rp 5 Milyar. Ini bukan program yang mudah atau jalan yang singkat – tetapi hasilnya jelas jauh lebih besar daripada pekerjaan lain yang dapat dipikirkan manusia. Yang dibutuhkan adalah keyakinan dan komitmen, serta konsistensi untuk berjuang…untuk masa depan yang lebih baik!

2010: – siapa yang tahu apa yang akan terjadi? Ada banyak ketidakpastian. Ada orang-orang yang bisa berubah – ada yang semangat, ada juga yang undur semangatnya. Ada yang positif, ada yang negatif. Tetapi hidup ini memang tidak bisa digantungkan pada manusia, karena ujungnya pasti kekecewaan, kelemahan. Hanya TUHAN yang sungguh-sungguh dapat dipercaya, juga ditaati… Terpujilah TUHAN!

27 Desember 2009

Christmas, The Epilogue

Jelaslah ada yang berkeluh kesah menjelang Natal tahun 2009 ini. Dalam pemantauan singkat, tampak bahwa toko-toko tidak seramai dahulu dikunjungi orang yang berbelanja keperluan Natal. Sepertinya pengunjung tidak terlalu bergairah membeli pohon natal, entah yang plastik atau yang asli, demikian juga dengan segala hiasannya. Tapi bukan itu saja: yang jual baju, mainan anak-anak, sepeda, buku-buku, atau barangkali komputer baru – semua juga tidak mendapatkan peningkatan yang jauh berbeda. Memang masih ada peningkatan jumlah yang berbelanja, tapi hanya peningkatan sedikit, jauh berbeda dari harapan para produsen dan penjual.

Bukan hanya di toko. Dalam gereja-gereja pun, tidak semua bersorak-sorai dalam sukacita Natal. Beberapa topik yang diangkat adalah bahwa "Natal menjadi Harapan Umat-Nya" dan juga "Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Allah" serta "Setialah Melakukan Pelayanan, Sebagaimana Allah telah memberikan Anak-Nya". Ini topik-topik yang menarik, sampai kita melihat bahwa ada benang merah di sana: suatu seruan, bahkan suatu jeritan manusia kepada TUHAN karena hidup sekarang ini terasa sulit.

Jadi, Natal kali ini digunakan untuk mengingat bahwa TUHAN sudah memberikan Anak-Nya ke dalam dunia, dan karena itu seharusnya orang juga tidak perlu terlalu memikirkan kesulitan karena Dia pasti akan buka jalan. Masalahnya, jalan yang diharapkan terbuka secara ajaib itu tidak serta merta terbuka, apalagi dengan jelas dan mudah dapat dilalui oleh anak-anak Allah. Karena itu, siapa yang dapat tetap merasakan keajaiban Natal dengan segala kemeriahan dan hadiah-hadiah yang menyenangkan?

Akhirnya, komentar yang terdengar adalah, "eh, sekarang ini natalannya beda ya? Kok tidak terasa seperti natalan…" Yah, tidak terlalu jelas memang, apalagi sekarang ini nampaknya pemberitaan tentang Yusuf dan Maria dan bayi Yesus, dengan para gembala di padang, dengan orang-orang Majus, semua ini begitu 'rutin' dan biasa dan membosankan. Natal sekarang ini dipenuhi oleh berbagai cerita-cerita yang lebih kontemporer, mengisahkan kehidupan orang jaman sekarang, entah di kota atau di kampung. Dibutuhkan keahlian kotbah untuk menghubungkan cerita drama dan isi lagu dengan kisah kelahirang Yesus serta maknanya – itupun kalau masih ada kesesuaian makna. Dalam beberapa kesempatan, bahkan tidak terasa ada hubungan sama sekali.

Tidak ada bedanya menjelaskan tentang harapan yang diberikan TUHAN, antara hari-hari biasa dengan hari-hari Natal. Masalahnya, kita juga sudah semakin terbiasa dengan perayaan Natal yang tanpa kelahiran Yesus. Lihat saja di mall, atau di televisi, atau di rumah. Semua yang dipasang adalah tradisi: pohon Natal dan hiasannya, Santa Claus (atau Sinterklaas?) dan hadiah-hadiahnya, lengkap dengan Rudolf The Red Nose Reindeer, rusa-rusa kutub yang lucu. Orang bisa menyanyikan lagu Natal dan memasang sosok dengan baju merah itu, asal jangan menyebut Yesus atau Anak Dara Maria yang melahirkan-Nya. Apalagi kemudian membahas makna Natal dari kelahiran itu… Bosan, katanya.

Jujur sajalah, siapa yang mulai bosan mendengarkan lagu "Malam Kudus"? Bagaimana tidak bosan, lagu ini diputar di televisi, di radio, di mall – sepanjang pertokoan yang diberi sound system itu, terdengar melodi malam kudus sementara orang-orang melakukan hal-hal yang tidak kudus. Kalau dipikir-pikir, siapa yang memahami makna dari kata-kata lagu malam kudus, yang dianggap membosankan?

Malam kudus / sunyi senyap / bintang-Mu gemerlap / Juruselamat manusia / ada datang di dunia / Kristus Anak Daud / Kristus Anak Daud

Ayo siapa yang belum hafal lagu ini? Lebih penting lagi, siapa yang mengerti apa yang sedang dinyatakan oleh lagu ini? Kadang-kadang, orang menyanyikannya dengan merdu sekali, kemudian ternyata yang menyanyi itu sama sekali belum percaya kepada Kristus. Dan kalau lagu ini dimainkan di tempat umum, maka syairnya yang terdengar adalah dalam versi bahasa Inggris. Ini lebih-lebih lagi sukar untuk dipahami, jadi orang pada akhirnya memang hanya menikmati melodinya saja sebagai tanda dari Natal.

Menyedihkan ya, tanda dari Natal bukannya Tuhan Yesus, tetapi sebuah lagu. Yang membuat melodi lagu ini adalah Franz Xavier Gruber, dibuat agar terburu-buru karena waktu itu alat musik organ gereja rusak, sehingga musik pengiringnya hanya sebuah gitar. Kata-katanya sendiri adalah sebuah puisi yang dibuat Joseph Mohr tahun 1816. Tidak banyak yang masih menyimpan kata-kata lagu ini – tetapi sudah menjadi kesepakatan dunia bahwa lagu Silent Night diputar hanya di waktu Natal, melengkapi Christmas Tree dan Santa Claus.

Bagi orang bisnis, selama bertahun-tahun Natal adalah ajang penjualan yang ramai, tetapi sejak 2008 lalu krisis global telah membangkrutkan banyak orang dan usaha. Jadi, apalagi makna dari Natal? Seandainya saja di Indonesia orang kapok berbisnis menjelang Natal, sebaliknya hanya mempersiapkan stok dan diskon toko untuk hari raya Lebaran – barangkali, suatu waktu kelak Natal akan dilupakan. Atau hanya sedikit saja dirayakan, seperti perayaan Paskah yang juga tidak begitu meriah atau dipikirkan orang.

Bagi para aktivis gereja, Natal adalah waktu sibuk, yang tidak selalu mendatangkan sukacita. Seperti biasa, persiapan Natal berarti rapat dan rencana dan kadang konflik, yang ini tersinggung dan yang itu merasa terpinggirkan. Yang punya ide tapi tidak diterima idenya, menjadi tawar hati. Ada juga yang berusaha menikmati Natal dengan berkata kepada diri sendiri, "ini kan untuk melayani TUHAN, harus beri pengorbanan sebagai persembahan…" Tapi, kalau boleh memilih tanpa tekanan atau desakan, mungkin memilih untuk tidak melakukan apa-apa di Natal kali ini, karena sekarang pun masih pusing dengan pekerjaan dan usahanya.

Bagi para hamba Tuhan…nah, ini sukar untuk dikatakan. Beberapa hamba Tuhan dan Pendeta merasa perlu menaikkan semangat jemaat, beberapa yang lain memotivasi jemaat untuk memberi lebih banyak kontribusi, tapi barangkali tidak banyak yang masih terpesona dengan keajaiban kelahiran Yesus serta terdorong untuk mengabarkannya kepada jemaat. Soalnya, mereka yang menjadi hamba Tuhan kebanyakan sudah belajar Teologia, tepatnya belajar Kristologi, yang antara lain 'membedah' peristiwa kelahiran Yesus dari Anak Dara Maria itu melalui berbagai pandangan dan tafsiran. Belajar banyak memang penting, tapi mungkin orang dapat kehilangan 'rasa terpesona' atas kejadian itu.

Apalagi, kalau sudah mengkotbahkan Natal berkali-kali… puluhan kali… mungkin ratusan kali, karena setiap ada Natal, seorang Pendeta bisa kotbah berkali-kali selama satu bulan penuh. Masihkah Natal menjadi hal yang mempesona, yang menakjubkan, setelah hal-hal yang sama dibahas selama bertahun-tahun? Masihkah ia berkotbah dengan penuh kekaguman, atas kelahiran Juruselamat manusia yang ajaib?

Lantas, bagaimana dengan aspek-aspek kekristenan lainnya? Bagaimana dengan Paskah? Bagaimana dengan Kenaikan Tuhan Yesus? Bagaimana dengan hari raya Pentakosta? Orang mengingat Natal dari lagunya, dan Paskah dari telur-telurnya, namun tidak banyak tanda dari kenaikan Yesus. Tentang Pentakosta, beberapa orang dari gereja yang merasa diri bukan gereja Pentakosta, merasa hanya perlu membahas peristiwa hari itu secukupnya saja.

Kalau begitu, apa artinya kekristenan? Apa makna dari segala perayaan religius itu, bagi orang-orang Kristen modern? Beberapa melakukannya karena merasa harus melakukannya, lainnya karena jadwal gereja sudah diatur sedemikian rupa, lainnya merasa harusnya kekristenan juga punya hari-hari khusus sebagaimana semua agama lain di dunia. Tetapi, apa yang membuat semua perayaan-perayaan itu mempunyai suatu arti, suatu makna, sehingga penting untuk dirayakan?

Bisakah orang Kristen hidup dalam iman, jika tidak merayakan Natal? Masihkah ada eksekutif Kristen yang sekarang sedang berada di tengah proyek penting, sehingga tidak bisa merayakan Natal? Dan apa katanya? "Oh, ya Natal kali ini absen dululah. Proyek ini tidak bisa ditinggalkan…" Tetapi, bukan saja ia tidak ikut merayakan Natal di gereja, ia juga tidak memikirkan apapun tentang Natal. Ada atau tidak ada Natal, sama saja. Lebih banyak lagi yang sibuk di waktu Paskah (itu karena biasanya hari Natal berkaitan dengan liburan akhir tahun). Lebih banyak lagi yang tidak memperhatikan hari Kenaikan Tuhan Yesus (baca di kalender: Kenaikan Isa Almasih), selain dari tanggal merah untuk berlibur dan melakukan sesuatu yang menyenangkan, sesaat lepas dari tekanan pekerjaan.

Ketika hari-hari perayaan Natal berlalu, apa yang tersisa menunjukkan bagaimana makna Natal itu dipahami. Pemahaman ini bukan sekedar satu potongan yang disebut 'Natal' saja, melainkan suatu keyakinan iman yang bulat tentang karya penyelamatan Allah atas manusia. Jika kita memikirkannya dengan benar, bagaimana mungkin kita dapat berhenti dari kekaguman dan ketakjuban atas segala Rancangan TUHAN? Seumur hidupnya, Daud terpesona dengan Allah. Bagi kita sekarang, Anak Daud adalah Tuhan yang mengagumkan – yang tidak pernah berhenti menjadi sumber inspirasi, menjadi pusat puja puji dan penyembahan.

Kehidupan modern tidak lebih hebat atau lebih tinggi daripada kehidupan masa lampau, atau kehidupan manapun dalam sejarah manusia. Tidak ada apapun dalam hidup manusia yang lebih tinggi atau lebih mulia daripada TUHAN, Allah semesta alam. Jika kita belajar untuk mengenal Tuhan lebih mendalam, lebih berakar dalam Kristus, sesungguhnya hari Natal dari tahun ke tahun menjadi semakin menakjubkan. Semakin dipikirkan, semakin diketahui detil-detilnya, menjadi semakin hebat untuk diberitakan dengan sukacita. Hal ini begitu mulia, sehingga di dalam dunia ini tidak ada apapun yang dapat menyamainya; bagaimana TUHAN mengosongkan diri-Nya dan menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkannya!

Semoga, setelah Natal ini berlalu, hati kita menjadi semakin penuh terisi oleh kasih kepada Tuhan. Terpujilah TUHAN!